Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...

Oleh Bahrul Hayat
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026, tentang Pelaksanaan Pagi Ceria dan Upacara Bendera Pada Hari Pertama Semester Genap. Penerbitan Surat Edaran (SE) ini dalam rangka untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, dan mengawali kegiatan pembelajaran pada awal semester genap secara positif,
Melalui SE tersebut Menteri menginstruksikan kepada seluruh Satuan Pendidikan pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah untuk melaksanakan kegiatan Pagi Ceria dan Upacara Bendera yang dilaksanakan secara serantak pada hari pertama efektif masuk sekolah, sesuai kalender pendidikan masing-masing daerah.
Arahan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini pada prinsipnya tepat dan strategis, sepanjang dimaknai secara pedagogis, bukan sekadar seremonial. Karena dalam perspektif psikologi pendidikan, hari pertama sekolah berfungsi sebagai fase transisi adaptif bagi peserta didik.
Fase transisi adaptif merupakan penyesuaian psikologis peserta didik terhadap lingkungan sekolah setelah masa libur panjang, yang ditandai dengan rasa aman, penerimaan sosial, serta dukungan emosional dan pedagogis yang memadai.
Aktivitas hari pertama sekolah dirancang sebagai kegiatan berintensitas rendah ancaman (low threat) dan tinggi keterlibatan (high engagement) yang fokus pada penciptaan rasa aman, penerimaan, dan kenyamanan psikologis peserta didik dalam memasuki lingkungan belajar baru.
Sementara upacara bendera tetap dilaksanakan sebagai wahana internalisasi nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan kebersamaan, dengan menerapkan pendekatan yang ramah anak melalui pengaturan durasi yang proporsional, suasana yang hangat dan inklusif namun tetap hidmat.
Bukan pelaksanaan upacara yang terlalu kaku, durasinya panjang, dan menegangkan, ini berpotensi memunculkan kecemasan awal pada peserta didik, yang dapat bersifat kontraproduktif terhadap motivasi dan kesiapan belajar.
Sekolah bangun suasana benar-benar ceria (joyful)
Sekolah ceria tidak lahir dari slogan atau kegiatan seremonial semata, melainkan dari sikap kolektif seluruh ekosistem sekolah dalam menyambut dan mendampingi peserta didik. Untuk itu, pada hari pertama sekolah, para pendidik dan tenaga kependidikan memegang peran kunci dengan menampilkan sikap yang hangat, ramah, dan suportif, antara lain melalui ekspresi positif, senyum, serta sapaan personal.
Sebaliknya, pendekatan yang menakutkan, menghakimi, atau terlalu menekankan aturan perlu dihindari, sehingga guru hadir sebagai figur yang aman dan dapat dipercaya. Bukan sebagai sumber tekanan psikologis bagi peserta didik.
Maka, secara pedagogis, hari pertama masuk sekolah diposisikan sebagai hari orientasi psikologis, bukan sebagai ajang evaluasi akademik. Kegiatannya difokuskan pada penguatan interaksi sosial, serta aktivitas ringan yang menyenangkan, dengan memberi ruang bagi peserta didik untuk bergerak, bercerita, dan mengekspresikan diri.
Hal ini perlu didukung oleh iklim sekolah yang benar-benar kondusif, melalui lingkungan fisik yang bersih, rapi, dan menampilkan pesan-pesan positif, serta suasana yang cair dan inklusif. Misalnya dengan memperdengarkan musik ringan, permainan sederhana, atau aktivitas kolaboratif.
Dengan demikian, sekolah telah membangun budaya bahwa hadir ke sekolah adalah pengalaman yang aman, nyaman, dan dinanti-nanti. Bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan kecemasan.

Sekolah ramah, termasuk ramah akademik
Sekolah ramah pada dasarnya adalah sekolah yang memanusiakan peserta didik secara utuh, tidak hanya sebagai objek pembelajaran akademik. Tetapi sebagai individu yang memiliki kebutuhan emosional, sosial, kognitif, dan fisik yang saling terkait.
Dalam perspektif psikologi pendidikan, sekolah yang ramah bertumpu pada psychological safety, yaitu kondisi ketika peserta didik merasa aman untuk bertanya, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan tanpa rasa takut. Rasa aman ini menjadi prasyarat tumbuhnya motivasi intrinsic, yakni belajar karena merasa tertarik dan menemukan makna, bukan karena tekanan atau ancaman hukuman.
Melalui pendekatan joyful learning yang selaras dengan tahap perkembangan anak (developmentally appropriate practice), sekolah diposisikan sebagai ruang bermain intelektual, tempat peserta didik belajar sambil bermain, membangun relasi sosial dan empati, serta mengeksplorasi ide, lingkungan, dan minatnya secara alami.
Prinsip tersebut perlu diterjemahkan ke dalam praktik nyata di sekolah. Secara emosional dan sosial, sekolah mengedepankan disiplin positif, relasi guru-murid yang hangat, serta pencegahan perundungan melalui kebijakan yang jelas dan konsisten.
Sedangkan secara akademik, sekolah menghindari labelisasi, menggunakan asesmen formatif sebagai alat bantu belajar, dan membuka ruang bagi peserta didik untuk bertanya dan salah, tanpa stigma, dengan metode pembelajaran yang bervariasi dan partisipatif.
Semua itu perlu didukung oleh lingkungan fisik yang nyaman dan sehat, serta ruang terbuka untuk bermain dan bersosialisasi sehingga sekolah benar-benar hadir sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menyehatkan, baik secara psikologis maupun fisik.
Bahrul Hayat, Ph. D
Wakil Ketua Umum DPP GUPPI/Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (2006/2014).
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum yang rumit...
Buku Keluar dari Kemiskinan karya Prof. Samsuridjal Djauzi, tidak berhenti...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
WMO (World Meteorological Organization) mengkonfirmasi bahwa tahun 2024 sebagai tahun...
© Copyright 2025 - Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam
Tinggalkan Balasan