Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Ilustrasi : Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang (foto Tempo.co)
“Rindu kami padamu, ya Rasul. Rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu, ya Rasul, serasa dikau di sini.”
Lantunan lagu Bimbo itu terasa istimewa ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita bershalawat, mengenang perjuangan Rasulullah, dan mengungkapkan kerinduan kepada manusia agung yang membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Di sejumlah sekolah dan madrasah, kadang diawali dengan pembiasaan Apel Pagi, kemudian dilanjutkan dengan penampilan Hardroh dari peserta didik dengan membawakan sholawat-sholawat yang mengagungkan Nabi Muhammad SAW.
Kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Barzanji atau Marhaba oleh petugas yang telah dipilih dan diikuti oleh seluruh warga sekolah atau madrasah
Acara inti dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, Tanbih dan Tawassul. Kemudian biasanya dilanjutkan dengan ceramah Maulid Nabi yang isinya tentang Keutamaan Sifat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki sebagai Al Amin.
Namun, di tengah peringatan Maulid tahun ini, ada pertanyaan yang layak kita ajukan, yaitu benarkah kita rindu kepada Rasulullah? Atau kerinduan itu berhenti pada lantunan lagu, shalawat, dan seremonial?
Salah satu ujian pesan itu hari ini adalah kerusakan ekologi. Hutan mengering. Kebakaran terjadi. Sumber air semakin sulit di sejumlah wilayah. Sungai tercemar. Tanah kehilangan daya dukung. Petani menghadapi ketidakpastian. Ekonomi masyarakat ikut tertekan.
Lalu ketika hujan datang, persoalannya berubah. Banjir, longsor, jalan terputus, sawah rusak, dan aktivitas ekonomi terganggu. Kita seperti hidup di antara dua kecemasan, dimana ketika air tidak datang, kita kesulitan, dan saat air datang terlalu banyak, bencana mengancam.
Tentu tidak semua bencana dapat disederhanakan sebagai akibat ulah manusia. Alam memiliki dinamika sendiri. Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa perilaku manusia dapat menjadi sumber kerusakan. Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).
Kerusakan ekologis bukan semata-mata persoalan teknis. Ia persoalan moral. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai dipenuhi limbah, kawasan resapan berubah menjadi bangunan, dan alam diperlakukan sebagai komoditas, manusia sedang mempertaruhkan keseimbangan kehidupan.
Al-Qur’an juga mengingatkan: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki…” (QS. Al-A’raf: 56). Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga bumi bukan agenda baru yang muncul karena kesadaran lingkungan modern. Ia memiliki akar kuat dalam ajaran Islam.
Manusia diberi kedudukan sebagai khalifah di bumi. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan kehendak-Nya menjadikan khalifah di bumi. Menjadi khalifah berarti memikul amanah mengelola kehidupan secara bertanggung jawab.
Manusia sering lupa diri.
Kita lupa bahwa air adalah nikmat, hutan menjaga sumber kehidupan, dan tanah menyediakan pangan. Kita sering baru menghargai nikmat setelah terganggu.
Ketika sumur mengering, kita panik mencari air. Ketika banjir dan longsor datang, kita baru menyadari pentingnya hutan dan daerah resapan.
Barangkali masalahnya bukan hanya alam yang berubah. Bisa jadi manusia juga berubah dari makhluk yang bersyukur menjadi makhluk yang terlalu banyak mengambil.
Syukur dalam Islam tidak cukup diucapkan dengan “alhamdulillah”. Syukur juga berarti menjaga nikmat dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Jika air adalah nikmat, maka jangan diboroskan. Jika hutan adalah nikmat, maka jangan dihancurkan. Jika bumi adalah amanah, maka jangan diperlakukan seolah-olah tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.
Dalam hal ini, teladan Rasulullah sangat menarik. Nabi mengajarkan agar manusia tidak berlebihan. Riwayat tentang Nabi menegur sikap berlebihan dalam berwudu, meskipun seseorang berada di dekat sungai yang mengalir, menunjukkan kuatnya prinsip kesederhanaan. Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Ibn Majah, meski dinilai lemah oleh sebagian ahli hadis.
Ada pula hadis yang kuat. Rasulullah bersabda bahwa seorang Muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, maka hal itu menjadi sedekah baginya (HR. Bukhari).
Indah cara Nabi memandang kehidupan. Sebatang pohon bukan sekadar kayu. Tanaman bukan hanya komoditas. Ketika makhluk lain mendapatkan manfaat darinya, manusia yang menanam memperoleh nilai ibadah.
Inilah semangat ekoteologi, yaitu melihat alam bukan sekadar benda yang dapat dieksploitasi, tetapi ciptaan Allah yang harus dihormati dan dirawat.
Ekoteologi mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam juga memiliki dimensi spiritual. Merawat sungai dapat menjadi bentuk tanggung jawab. Menanam pohon dapat menjadi amal. Menghemat air dapat menjadi wujud syukur. Mengurangi sampah dapat menjadi bagian dari akhlak.
Karena itu, Maulid Nabi tidak seharusnya berhenti pada kemeriahan perayaannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah Maulid kita menjadi manusia yang lebih baik dalam memperlakukan ciptaan Allah?
Kita sering mengatakan Rasulullah adalah rahmat bagi semesta alam. Konsep rahmah tidak boleh berhenti pada hubungan antarmanusia, tetapi juga harus mendorong kepedulian terhadap lingkungan.
Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi membiarkan sungai menjadi tempat sampah dan hutan rusak? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Islam sebagai rahmat, tetapi membiarkan pembangunan mengorbankan masyarakat kecil dan generasi mendatang?
Kerusakan ekologis juga berkaitan dengan kesulitan ekonomi. Masyarakat miskin sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Petani kehilangan hasil panen, warga kehilangan rumah karena banjir atau longsor, dan harga pangan dapat meningkat ketika produksi terganggu.
Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan pohon dan sungai. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan manusia.
Di sinilah pesan Rasulullah kembali menemukan relevansinya. Rahmah berarti menghadirkan kemaslahatan. Amanah berarti tidak mengambil lebih dari yang seharusnya. Keadilan berarti tidak membebankan keuntungan hari ini kepada generasi esok.
Maka Maulid Nabi tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi cara hidup kita. Kita boleh bershalawat dan mengadakan kegiatan keagamaan. Tetapi semua itu kehilangan sebagian maknanya jika setelah acara selesai kita kembali boros, serakah, membuang sampah sembarangan, dan tidak peduli terhadap lingkungan.
Untuk itu kita bisa mulai dari hal sederhana dengan menggunakan air secukupnya, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga sungai, tidak membakar lahan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kita juga membutuhkan perubahan cara berpikir. Bumi bukan sekadar bahan baku, melainkan rumah bersama. Pembangunan bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat kita ambil, tetapi seberapa baik kita meninggalkan kehidupan bagi generasi berikutnya.
Mungkin inilah makna kerinduan kepada Rasulullah yang perlu kita bawa ke Maulid 2026, yaitu rindu kepada akhlaknya, yang rahmah, amanah, kesederhanaan, keadilan, dan kepedulian terhadap kehidupan.
Manusia sering lupa diri ketika memiliki kekuasaan, ilmu, dan kekayaan. Kita lupa bahwa semua itu titipan dan bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan amanah yang harus kita teruskan.
Ketika hutan kering, air sulit, ekonomi tertekan, lalu hujan datang membawa banjir dan longsor, mungkin saatnya kita tidak hanya bertanya, “Mengapa alam berubah?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang telah kita lakukan terhadap alam?”
Barangkali alam sedang mengingatkan manusia agar sadar. Maka ketika kita menyanyikan, “Rindu kami padamu, ya Rasul,” jangan biarkan kerinduan itu berhenti di bibir.
Rindu harus menjadi akhlak. Rindu harus menjadi tanggung jawab. Rindu harus menjadi tindakan. Sebab Rasulullah tidak hanya meninggalkan nama untuk dikenang. Beliau meninggalkan jalan untuk ditempuh. Dan di tengah kerusakan ekologi yang nyata, jalan itu sedang diuji.
Semoga Maulid Nabi 2026 tidak hanya membuat kita semakin banyak bershalawat, tetapi juga menjaga bumi, mensyukuri air, merawat hutan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Itulah bentuk kerinduan yang nyata kepada Rasulullah, bukan hanya menyebut namanya dengan cinta, tetapi menjalankan pesan yang beliau bawa.
(Agus Sholeh)
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
© Copyright 2025 - Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam
Tinggalkan Balasan