logo

Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

Belajar Kehidupan Dari Pondok Pabelan : Refleksi 61 Tahun Pondok Pesantren Pabelan

Oleh: Agus Sholeh

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari sebuah tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup cukup panjang. Bukan semata-mata karena lingkungannya yang asri, sungainya yang mengalirkan air kehidupan, atau banyaknya orang yang pernah belajar di dalamnya.

Ternyata, memang ada nilai-nilai yang perlahan tumbuh melalui keseharian, mingguan, bulanan hingga tahunan, baik itu dari cara lingkungan menyapa, orang-orang saling memberi keramahan, cara belajar disiplin, bekerja bersama, praktik hidup sederhana, hingga bagaimana belajar menghargai sesama. Barangkali, di situlah salah satu pengalaman selama mondok di Pondok Pesantren Pabelan Magelang.

Memasuki usia ke-61 pada 28 Agustus 2026, Pabelan bukan hanya layak dikenang sebagai sebuah pesantren dengan sejarah panjang. Lebih dari itu, perjalanan Pabelan mengajak kita kembali bertanya tentang makna pendidikan. Pendidikan ternyata bukan sekadar membuat seseorang tahu lebih banyak, tetapi juga memberi ruang untuk mengalami, menghayati, dan membiasakan nilai-nilai itu dalam kehidupan. Apa yang dipelajari di ruang kelas menjadi lebih bermakna ketika menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

Terletak di kabupaten Magelang, tidak jauh dari Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Akademi Militer, Pabelan tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan sejarah, kebudayaan, tradisi pendidikan, dan kehidupan masyarakat. Selama lebih dari enam dekade, pesantren ini menjadi salah satu simpul penting pendidikan Islam yang mempertemukan ilmu, kehidupan, dan kebersamaan. Di Pabelan, belajar tidak berhenti ketika pelajaran di kelas selesai. Kehidupan sehari-hari justru menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

Dari Desa, Lahir Gagasan Besar

Pondok Pabelan memiliki sejarah yang lebih panjang daripada usia 61 tahun. Cikal bakal tradisi pendidikannya telah tumbuh sejak abad ke-19 melalui pengajian yang dirintis Kiai Raden Muhammad Ali. Setelah mengalami masa kevakuman, tradisi tersebut dibangkitkan kembali oleh K.H. Hamam Dja’far pada 28 Agustus 1965 dengan sistem dan kurikulum yang lebih modern.

Perjalanan K.H. Hamam Dja’far sendiri memberikan pelajaran tentang keberanian melakukan pembaruan. Setelah belajar di Tebu Ireng, ia menempuh pendidikan sekitar sebelas tahun di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di sana ia berguru kepada tiga pendiri Gontor, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih kembali ke kampung halaman dan pada usia 25 tahun mendirikan kembali Balai Pendidikan Pondok Pabelan.

Pilihan untuk pulang ke desa itu mengandung pesan yang relevan hingga hari ini, bahwa Pembaruan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Gagasan besar dapat tumbuh dari desa ketika ada visi, keberanian, ketekunan, dan kesediaan mengabdikan ilmu kepada masyarakat. Pabelan adalah salah satu buktinya.

Salah satu kekuatan Pabelan terletak pada cara pendidikan ditempatkan sebagai kehidupan. Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi hidup dalam ekosistem pendidikan selama 24 jam: belajar agama dan ilmu pengetahuan, berorganisasi, menjalani disiplin, berlatih kepemimpinan, memikul tanggung jawab, dan belajar hidup bersama.

Organisasi pelajar, misalnya, memberikan ruang kepada santri untuk belajar mengelola kehidupan pondok secara nyata. Santri senior memperoleh tanggung jawab menjalankan berbagai kegiatan di bawah pengawasan dan bimbingan pimpinan pondok. Dengan cara itu, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kecakapan, dan kreativitas tidak berhenti sebagai teori, tetapi ditempa menjadi kebiasaan.

Di sinilah salah satu pelajaran penting Pabelan bahwa karakter tidak cukup diajarkan, tetapi harus dialami. Anak tidak akan menjadi mandiri hanya karena mendengar teori tentang kemandirian. Ia harus diberi kesempatan memikul tanggung jawab. Kepemimpinan tidak cukup dibicarakan dalam seminar. Ia harus dilatih melalui pengalaman nyata memimpin.

Begitu pula kebersamaan dan toleransi. Keduanya tidak akan tumbuh kuat hanya melalui slogan. Ia membutuhkan pengalaman hidup bersama, saling memahami, dan saling bertanggung jawab.Pesantren, pada akhirnya, bukan sekadar sekolah. Ia adalah laboratorium kehidupan.

Kenangan yang Menjadi Nilai

Sebagai alumni, saya melihat pendidikan Pabelan bukan hanya sebagai sebuah sistem, tetapi sebagai pengalaman hidup.

Ada masa ketika kehidupan santri berlangsung sederhana. Tidak banyak fasilitas seperti yang dinikmati generasi sekarang. Namun justru dalam kesederhanaan itu tumbuh banyak pengalaman yang sulit dilupakan, yaitu bagaimana belajar mengatur diri, hidup bersama teman yang berbeda latar belakang, bekerja sama, berbagi, menerima tanggung jawab, dan menikmati alam sekitar.

Kali Pabelan, misalnya, bukan sekadar aliran air. Bagi santri putra pada masa itu, sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menjadi tempat mandi pagi dan sore, bermain pasir dan batu kali, sekaligus menikmati alam yang masih hijau. Ruang-ruang kehidupan semacam itulah yang tanpa disadari ikut menjadi ruang pendidikan.

Hari ini kita sering berbicara tentang experiential learning, pembelajaran berbasis pengalaman, pendidikan karakter, student leadership, dan environmental education. Pabelan sebenarnya telah lama mempraktikkan semangat tersebut melalui kehidupan sehari-hari.

Keunikan Pabelan semakin terasa ketika ditempatkan dalam lanskap pendidikan Magelang yang harmoni.

Tidak jauh dari Pabelan terdapat SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, sekolah Katolik berasrama yang mengembangkan karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan kehidupan komunitas. Ada pula Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo yang memiliki tradisi panjang pendidikan pesantren. Di kawasan yang sama tumbuh SMA Taruna Muhammadiyah Gunungpring Muntilan dengan budaya disiplin, religiusitas, ketarunaan, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan.

Masing-masing memiliki sejarah, filosofi, identitas keagamaan, dan sistem pendidikan yang berbeda. Namun perbedaan itu justru memperlihatkan kekayaan Magelang.

Pabelan tidak harus menjadi Van Lith. Van Lith tidak harus menjadi Pabelan. API Tegalrejo tidak harus menjadi sekolah modern. SMA Taruna Muhammadiyah tidak harus kehilangan identitas kemuhammadiyahannya.

Mereka boleh berbeda. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa. Harmoni bukanlah penyeragaman. Harmoni adalah kemampuan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

Dalam konteks Indonesia yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan identitas, pengalaman Pondok Pabelan Magelang menjadi pelajaran penting. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pintar, tetapi manusia yang mampu hidup bersama orang lain yang berbeda. Karena itu, Harmoni Magelang sesungguhnya merupakan pendidikan kebangsaan.

Pendidikan yang Merawat Bumi

Warisan Pabelan juga tidak berhenti pada pembentukan manusia. Kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pesantren.

Pada 1980, Pabelan memperoleh Aga Khan Award for Architecture. Dua tahun kemudian, Pabelan memperoleh penghargaan Kalpataru atas komitmennya terhadap penataan dan pelestarian lingkungan hidup. Jejak tersebut kemudian menemukan relevansinya kembali melalui penghargaan Ekopesantren Award 2024.

Rangkaian tersebut menunjukkan adanya kesinambungan. Perhatian terhadap lingkungan binaan dan arsitektur berkembang menjadi kepedulian terhadap kelestarian alam dan kemudian semakin relevan dengan gagasan ekopesantren.

Di tengah krisis ekologis dan perubahan iklim, pesan Pabelan menjadi semakin penting bahwa pendidikan Islam yang paripurna tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa manusia memiliki amanah untuk merawat bumi.

Menjaga lingkungan bukan tambahan dari pendidikan. Ia adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

Apa yang Bisa Dipelajari?

Bagi dunia pendidikan Islam, pengalaman Pabelan memberikan sejumlah pelajaran penting.

Pertama, pembaruan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pergantian kurikulum. Ia harus menyentuh budaya lembaga dan cara manusia belajar menjalani kehidupan.

Kedua, pendidikan karakter tidak akan efektif jika hanya disampaikan sebagai materi. Karakter harus dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, tanggung jawab, dan pengalaman nyata.

Ketiga, kepemimpinan harus diberi ruang untuk tumbuh. Anak-anak perlu dipercaya, diberi tanggung jawab, didampingi, dan belajar dari pengalaman.

Keempat, pendidikan Islam harus mampu hidup berdampingan dengan keragaman tanpa kehilangan identitasnya.

Kelima, sekolah dan pesantren tidak boleh tercerabut dari masyarakat dan lingkungan. Pendidikan harus menjadi kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

Bagi organisasi dan lembaga pendidikan Islam, pengalaman Pabelan mengingatkan bahwa pembaruan pendidikan sejatinya adalah pembaruan manusia dan budaya pendidikan. Kita membutuhkan lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik baik, tetapi juga manusia yang berkarakter, mandiri, mampu memimpin, menghargai perbedaan, peduli kepada masyarakat, dan bertanggung jawab terhadap bumi.

Menjadi Mata Air

Enam puluh satu tahun perjalanan Pondok Pabelan menunjukkan bahwa Pondok Pabelan tidak lagi disebut muda, karena sudah melalui begitu banyak lika-liku dan dinamika perkembangan dan tantangan zaman.

Karena itu, HUT ke-61 Pabelan adalah kesempatan untuk bertanya Apa yang hendak kita wariskan kepada generasi berikutnya?

Kita perlu mewariskan semangat pembaruan yang telah dirintis oleh Almarhum KH Hamam Dja’far yang telah membangun keberanian mendidik manusia melalui kehidupan nyata, kesediaan hidup dalam keberagaman, kepedulian kepada masyarakat, dan kesadaran menjaga bumi. Itulah warisan yang membuat sebuah lembaga pendidikan tetap hidup melampaui zamannya.

Selamat ulang tahun ke-61, Pondok Pesantren Pabelan.

Teruslah menjadi mata air yang menyejukkan, rumah yang menanam nilai, ruang yang mempertemukan perbedaan, dan pesantren yang terus menenun harmoni untuk umat, bangsa, dan negara.

Pabelan boleh menua. Tetapi nilai-nilainya tidak boleh kehilangan masa depan.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – 

Agus Sholeh

Alumni Pondok Pabelan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Copyright 2025 - Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

46