logo

Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

Jakarta (GUPPI) — Diskursus pentingnya penguatan mutu pendidikan di Indonesia mengemuka dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2024.

 Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.

 Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

 Menurut Tati Hartimah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk memajukan pendidikan nasional, pemerintah seharusnya tidak hanya menggantungkan pada pendidikan formal di sekolah, namun pendidikan keluarga juga perlu mendapat perhatian. Karena keluarga merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter anak mulai dari kandungan hingga dewasa dan kehidupan di masyarakat.

Saya melihat pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Kualitas pendidikan yang ada tidak sebanding lurus dengan usia negara yang secara historisitas dibangun oleh para tokoh  (funding father)  yang sangat peduli dengan masalah pendidikan, ujar Tati Hartimah dalam kesempatan dialog ringan di Nurkholis Madjid Training Center (NMTC) Ciputat, Jum’at sore (05/05/2024).

 Menurutnya ada banyak factor yang mempengaruhi mutu Pendidikan di Indonesia.

“Ada banyak faktor yang berimplikasi pada rendahnya mutu pendidikan, terutama pada regulasi atau kebijakan sistem. Pendidikan secara umum kondisi masyarakat masih mentalitas  inlander, sehingga tidakmampu mandiri dan berani melakukan terobosan-terobosan, atau innovasi, sehingga pendididikan kita belum dapat mengacu pada daya saing yang kompetitif di tingkat global. Selain itu konsep dan prinsip pendidikan dalam Islam tidak mejadi kesepahaman seluruh umat karena minimnya pihak yang mampu menterjemahkan materi-materi keislaman dengan baik sehingga dapat diterapkan di dunia pendidikan,” ungkapnya.

 Dirinya berharap agar pemerintah dalam membuat kebijakan di bidang pendidikan menggunakan niat baik untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa, tidak semata-mata faktor politis.

“Pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang baik dan berkorelasi dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap mengacu pada nilai keberagamaan masyarakat, tidak hanya melulu karena politis ganti menteri ganti kurikulum,” ujar Tati yang juga seorang ustadzah di sejumlah majlis ta’lim di daerah Tangerang Selatan, yang lama dia bina sejak masih aktivis Kohati HMI di Ciputat.

 Pendidikan karakter.

 Menurut Tati, pembentukan karakter anak sangatlah penting dan harus dimulai sejak dini di dalam lingkungan keluarga. Tidak semata mengandalkan pendidikan formal di sekolah. Pendidikan karakter itu tidak ada sekolahnya. Sekolah pendidikan karakter itu lewat teladan, dan teladannya ada dalam keluarga.

 “Setiap orang tua harus menjadi contoh teladan dalam mendidik karakter anak-anak. Dan pendidikan karakter tidak lepas dari pendidikan agama, karena nilai-nilai agama dapat menjadi pegangan dalam meniti hidup dan kehidupan,” tutur Tati, yang juga alumni S3 dari Univeristas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

 Menurutnya, pendidikan memegang peranan penting dalam menanamkan disiplin kepada anak sejak kecil.

 “Pendidikan memang pada akhirnya adalah tentang penumbuhan karakter. Itu inti dari pendidikan. Kita ingin pendidikan kita memunculkan generasi baru yang berakhlak mulia, dan itu harus ditanamkan sejak masa kecil” tambahnya.

 Tati mengatakan bahwa rumah tangga merupakan pintu awal dalam pembentuk karakter anak, bukan di tempat lain. Karena itu, orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk disiplin anak.

 “Pendidikan terpenting itu berada di setiap rumah kita. Itu adalah tempat pendidikan yang terpenting. Karena itu, orang tua harus memulai dengan kesadaran bahwa pendidikan karakter itu ada di rumahnya. Bila orang tua tidak menganggap rumahnya sebagai sekolah bagi anaknya, maka mulai dari sekarang kita jadikan rumah kita sebagai sekolah peradaban, dan di situlah pendidikan pertama,” ucapnya.

 Ia juga menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama bagi anak, yakni sejak anak dalam kandungan. Karena itu menurut Tati, didukung berbagai riset modern, di situlah proses pendidikan pertama dilakukan.

 “Orang tua harus menjadi orang tua yang siap mendidik, karena itu setiap calon orang tua harus menyiapkan diri untuk menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Itu namanya orang tua. Karena itu, saya mendukung program Kementerian Agama yang mensyaratkan kepada calon pengantin untuk mengikuti kursus pembinaan Keluarga Sakinah agar mereka mempunyai bekal yang cukup untuk membina keluarga baru,” jelasnya.

 Tentang trend munculnya sekolah berasrama atau pesantren elit, dalam pandangannya, itu merupakan fenomena dari kebutuhan orang tua untuk mencari tempat pendidikan yang baik bagi anaknya.

“Para orang tua merasa dunia sekolah saat ini masih menghadapi berbagai kekurangan, dan ini membuat para orang tua gelisah dan ada rasa kekhawatiran, terutama terkait dengan kenakalan remaja dan perundungan. Karena itu, bila sekarang ini banyak bermunculan sekolah-sekolah berkonsep boarding school (sekolah berasrama) itu merupakan solusi dan alternatif bagi para orang tua dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka,” kata Tati.

 Meski demikian, ia mengingatkan soal pentingnya orang tua untuk tetap memberi perhatian dalam mendidik anak.

 “Sebagian orang tua memilih  fullday school, atau model pesantren, untuk menjadi pilihan mereka dalam menjamin mutu pendidikan anaknya. Ini merupakan pilihan yang menarik. Namun saya berharap agar orang tua tidak lepas tangan dan tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak itu kehilangan kasih sayang orang tuanya” jelas Tati yang jebolan Pendidikan Guru Agama (PGA) Bandung.

  Peran GUPPI

 Terkait dengan peran GUPPI di masa depan, Tati meminta agar para pengurus GUPPI harus terus membaca perubahan. GUPPI harus ikut berperan dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa, terutama dari kalangan Wanita GUPPI

 “Karena itu, saya berharap agar kawan-kawan pengurus dan anggota GUPPI, terutama Wanita GUPPI, harus bisa menjadi pembaca perubahan zaman, harus terus melakukan pembaruan sebagaimana semangat didirikannya GUPPI, yaitu gerakan pembaruan. Di dalam GUPPI ada kata pendidikan Islam, dan itu artinya kita harus ada di barisan paling depan dalam mengawal masa depan Pendidikan Islam di Indonesia. Kita ini yang harus mempelopori semangat keluarga, terutama kaum perempuan untuk menyiapkan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anak kita yang akan memimpin bangsa dan negara kita ini. Dan buat orang tua, mereka semua akan merasakan betapa kelak anak-anaknya akan menjadi generasi baru yang membanggakan dan membawa perubahan bagi umat Islam,” harapnya.

 Dalam pandangannya, pendidikan adalah sebuah gerakan yang membuka ruang kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan kebijakan. Masyarakat yang dimaksud adalah para penggiat dunia pendidikan, termasuk GUPPI.

 “Nah ini salah satu yang paling menantang, karena urusan pendidikan jangan hanya diserahkan kepada pemerintah, namun masyarakat juga harus punya partisipasi dan kontribusi yang nyata,” ujarnya.

 “Jadi kita memandang bahwa pendidikan ini sebagai sebuah gerakan, maka pemerintah harus membuka ruang dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dan berkolaborasi. Karena itu saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Pak Fasli Jalal beberapa waktu lalu agar GUPPI berkolaborasi dengan ormas-ormasi Islam untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam,” sambungnya.

 Lebih lanjut, berbicara soal gerakan Merdeka Belajar  yang saat ini digagas oleh Kemendikburistek, menurutnya itu adalah suatu langkah yang strategis untuk melakukan gerakan pembaharuan pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan Islam.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

41