Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...

Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, atas terbitnya 90 Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).
Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D. menilai, penyediaan 90 buku digital yang dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui laman resmi Kementerian Agama merupakan langkah strategis dalam memperkuat mutu pendidikan Islam sekaligus memperluas akses terhadap sumber belajar yang berkualitas.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan buku pelajaran, tetapi juga menyentuh persoalan pemerataan pendidikan. Ketika buku berkualitas dapat diakses secara gratis, hambatan geografis dan ekonomi dalam memperoleh sumber belajar dapat dikurangi.
“Penyediaan Buku Teks Utama ini merupakan investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Buku yang bermutu akan mendukung proses pembelajaran yang bermutu dan pada akhirnya membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, serta mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Fasli dalam suratnya kepada Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.
Menjamin Mutu Buku
GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap proses penyusunan BTU yang dilakukan melalui mekanisme profesional dan akuntabel. Kualitas buku, menurut GUPPI, tidak hanya ditentukan oleh materi yang disajikan, tetapi juga oleh proses panjang yang mendahuluinya.
Proses tersebut mencakup seleksi penulis, telaah akademik oleh reviewer, evaluasi tim penilai, hingga supervisi yang melibatkan Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan (PBAL2K).
Rangkaian tersebut menunjukkan adanya upaya serius untuk memastikan buku yang digunakan peserta didik memiliki kualitas akademik dan pedagogis yang memadai serta sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di madrasah.
GUPPI memandang penerbitan BTU juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, terutama terkait tanggung jawab negara dalam menyediakan buku pendidikan yang bermutu.
Karena itu, penerbitan 90 BTU dinilai bukan sekadar menghadirkan buku pelajaran baru, tetapi merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang berkualitas, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Belajar Sesuai Fase Perkembangan
Dari sisi pembelajaran, GUPPI menyambut baik pendekatan yang digunakan dalam penyusunan BTU. Materi dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan peserta didik pada setiap jenjang.
Pada jenjang MI dan MTs, materi disajikan secara lebih interaktif dan dekat dengan dunia peserta didik. Sementara pada jenjang MA dan MAPK, pembelajaran diarahkan pada pengembangan kemampuan analitis dan pendalaman keilmuan.
Pendekatan tersebut penting karena pendidikan agama tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui dan menghafal konsep keagamaan. Pembelajaran perlu membantu mereka memahami makna, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, serta menghubungkan pengetahuan agama dengan kehidupan nyata.
“Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan agama harus membentuk manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, mencintai ilmu, menghargai sesama, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” tulis GUPPI dalam surat apresiasinya.
KBC dan Panca Cinta
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus GUPPI adalah integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam BTU.
GUPPI menilai pendekatan tersebut memberikan dimensi penting dalam pembelajaran agama. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membangun kecerdasan intelektual dan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk sikap, karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab peserta didik.
Nilai-nilai Panca Cinta, yakni Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air, dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam yang mampu membentuk manusia secara utuh.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Nilai yang dipelajari peserta didik dapat diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Memperkuat Moderasi Beragama
GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam BTU.
Pendidikan agama, menurut GUPPI, memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang peserta didik terhadap keberagaman. Sikap toleran, menghormati perbedaan, menolak kekerasan, tidak eksklusif dalam memahami kebenaran, serta menghargai budaya lokal merupakan bagian penting dari pendidikan agama dalam konteks Indonesia.
Nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Madrasah tidak hanya dituntut melahirkan peserta didik yang memahami agama, tetapi juga generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.
Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi kekuatan yang memperkuat kerukunan umat beragama sekaligus membangun kehidupan kebangsaan yang harmonis.
MAPK dan Tradisi Keilmuan Islam
Perhatian khusus juga diberikan GUPPI terhadap penyediaan buku bagi Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).
Buku-buku untuk MAPK memberikan ruang lebih luas bagi penguatan kajian tafsir, hadis, ilmu kalam, ushul fikih, studi perbandingan mazhab, serta penguasaan bahasa Arab tingkat lanjut.
GUPPI memandang kehadiran bahan ajar tersebut penting untuk menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam di lingkungan madrasah. Peserta didik MAPK diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial secara kritis.
“Penguatan tradisi keilmuan di MAPK penting untuk menyiapkan generasi ulama, cendekiawan, dan pemimpin umat yang memiliki keluasan wawasan keislaman sekaligus mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan global,” ujar Fasli.
Tugas Guru
Di balik apresiasi terhadap penerbitan 90 BTU, GUPPI memberikan satu catatan penting, yaitu bahwa buku yang baik tidak akan otomatis menghasilkan pembelajaran yang baik kalau guru tidak mampu menghidupkannya.
Menurut Fasli Jalal, keberhasilan implementasi BTU sangat bergantung pada kemampuan guru menggunakan buku sebagai sumber belajar yang hidup. Guru perlu mengembangkan pembelajaran yang aktif, dialogis, reflektif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.
Karena itu, penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan kepala madrasah menjadi bagian penting dari keberhasilan implementasi BTU.
“Buku yang bermutu perlu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat. Di situlah buku tidak sekadar menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi instrumen perubahan,” tegas Fasli.
Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa agenda berikutnya setelah penerbitan buku adalah memastikan buku benar-benar digunakan secara optimal dalam proses pembelajaran.
GUPPI Siap Bersinergi
Sebagai organisasi yang sejak 1950 berkhidmat dalam pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, GUPPI menyatakan kesiapan untuk ikut mendukung implementasi BTU di sekolah dan madrasah.
Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui program peningkatan kapasitas guru, penguatan budaya literasi, pendampingan satuan pendidikan, serta pengembangan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual, inspiratif, dan berdampak.
“GUPPI siap bersinergi dengan Kementerian Agama dalam mendukung implementasi Buku Teks Utama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peserta didik di seluruh Indonesia,” kata Fasli.
Bagi GUPPI, terbitnya 90 Buku Teks Utama PAI dan Bahasa Arab merupakan momentum penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan Islam. Namun, pekerjaan berikutnya tidak kalah penting: memastikan buku tersebut hadir dalam praktik pembelajaran, menginspirasi guru, dan membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.
Ketika buku yang bermutu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat, pendidikan agama diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, moderat, cinta tanah air, serta mampu menjaga persatuan bangsa.
GUPPI berharap ikhtiar Kementerian Agama tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang membangun pendidikan Islam Indonesia yang semakin bermutu, inklusif, dan relevan dengan tantangan masa depan. (Tim Media GUPPI)
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
DPP GUPPI mendorong sekolah dan Madrasah GUPPI menjadi ruang yang...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI)...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda...
© Copyright 2025 - Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam
Tinggalkan Balasan