logo

Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

Konflik Palestina dan Israel hingga saat ini masih terus berlangsung. Belum jelas kapan perang akan berhenti. Dewan Keamanan PBB sudah menawarkan Paket Perdamaian kepada kedua pihak, namun Israel masih menentang upaya perdamaian tersebut.

Kebiadaban yang dilakukan Israel terhadap Palestina di wilayah Gaza telah menewaskan lebih dari 38.000 orang. Data yang dihimpun United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Kementerian Kesehatan Gaza juga menunjukkan bahwa serangan Israel telah memakan korban banyak dari wanita dan anak-anak.

Namun di pihak Israel juga tidak sedikit korban yang meninggal, baik dari kalangan sipil maupun militer. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Herzi Halevy, mengatakan bahwa Israel harus membayar mahal dalam agresi ke Jalur Gaza tersebut. Israel kehilangan banyak perwira dan tentara dalam menghadapi gerakan perlawanan Palestina.

Aksi genosida Israel yang sedang terjadi di Gaza adalah salah satu kejahatan pembunuhan massal dan pembersihan etnis (etnis cleansing) terbesar dalam sejarah modern. Dan harus diakui bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini, tidak ada negara yang melakukan perlawanan sekuat yang dilakukan Palestina.

Namun disisi lain, belakangan ini muncul pertanyaan kenapa negara-negara Arab tidak terlihat antusias dalam mendukung Palestina, terutama saat Gaza dibombardir oleh Israel? Ada apa dengan negara-negara Arab ini, apakah karena mereka takut sama Amerika Serikat dan Israel ?

Ini yang menjadi pertanyaan banyak pihak dan menganggap negara-negara Arab itu hanya mempraktekkan solidaritas semu terhadap Palestina. Apalagi belakangan ini sejumlah negara, seperti Qatar, Arab Saudi, Mesir justru mulai membuka akses diplomatic dengan Israel.

Arogansi Barat

Jared Kushner, mantan penasehat Presiden Donald Trum, yang juga mertuanya, pernah mengajari orang-orang Palestina bagaimana cara menangani perjuangan mereka demi kebebasan.

Pada tahun 2019, ia menyarankan warga Palestina untuk berhenti “melakukan terorisme,” dan terjebak karena kepemimpinan yang buruk. Menurutnya, masalah Palestina bukan karena pendudukan Israel atau karena AS mendukung Israel.

Jared juga menjadi bahan cemoohan akibat bualannya yang mengatakan dia telah membaca puluhan buku tentang Timur Tengah, dan mengatakan bahwa orang-orang Palestina bukanlah para “pembawa perdamaian”, namun bangsa yang mempunyai niat buruk dan suka memaksakan diri.

Ia juga menggunakan bahasa yang merendahkan Palestina, seperti yang pernah digunakan oleh mantan Menteri Luar Negeri Israel Abba Eban, dengan mengatakan bahwa Palestina “memiliki rekam jejak sempurna dalam kehilangan peluang.”

Menurut Ramzy Baround dalam Arab News, setiap tahun, orang-orang Amerika, atas perintah Israel, menjajakan ide-ide konyol untuk meruntuhkan mental pejuang rakyat Palestina. Dia mengatakan bahwa perjuangan Palestina sudah selesai, solidaritas dengan rakyat Palestina sudah mati dan rakyat Palestina dan para pemimpin mereka harus menerima apa pun yang menjadi masalah politik atau keuangan. menurutnya, karena semua milik Washington, Tel Aviv dan beberapa sekutu Barat mereka.

Namun, rakyat Palestina membuktikan bahwa mereka salah. Terlepas dari segala tekanan, saling hujatan, sanksi, pengepungan dan kekerasan tanpa henti, tetapi mereka tetap kuat. Meskipun orang-orang Palestina tidak dapat mengendalikan kekejaman Israel, yang didukung oleh AS, namun mereka tetap berjuang untuk Merdeka dan tidak mau menjadi korban sia-sia kebiadaban Israel.

Pemerintahan Biden, seperti pemerintahan AS lainnya, telah merendahkan warga Palestina dan menyatakan mereka bodoh karena tidak menerima kesepakatan paket perdamaian. Warga Palestina memang tetap teguh menginginkan kebebasan total dan tanpa syarat. Mereka menganggap Perjanjian Camp David (1979), Perjanjian Oslo (1993 dan 1995), Road Map (2004) dan setiap “tawaran” lainnya merupakan upaya politik untuk memperpanjang pendudukan Israel dan menyangkal hak-hak rakyat Palestina. Karena itu mereka tolak karena dianggap tidak akan menjamin hak-hak dasar mereka yang telah lama mereka inginkan.

Semua “proposal perdamaian” yang diajukan oleh Amerika dan antek-anteknya jelas tidak adil, karena akan selalu menguntungkan Israel. Semua usulan pro-Israel ini gagal, bukan karena kemampuan komunitas internasional untuk menantang Washington, namun karena kegigihan rakyat Palestina.

Washington memandang Israel sebagai bagian integral dari pengaruh global Amerika. Bagi AS, Israel adalah masalah kebijakan dalam negeri dan luar negeri. Karena itu, jika Israel tidak lagi menjadi negara dominan yang ada saat ini, maka AS akan kehilangan bentengnya di kawasan yang kaya akan sumber daya yang amat berharga, termasuk jalur perairan strategis. Inilah sebabnya mengapa Biden berulang kali menyatakan bahwa, “jika Israel tidak ada, kita harus menciptakannya.”

Sikap Biden terhadap Israel memang dianggap ambivalen, karena didalam negeri dianggap membela Israel, tapi di luar negeri dianggap condong ke Palestina. Mungkin karena dia sedang menghadapi Pemilu yang akan dilaksanakan bulan November 2024 dan menghadapi lawan berat, yaitu Donald Trump, yang dikenal sangat vocal dan provokatif.

Solidaritas Dunia.

Solidaritas dunia terhadap perjuangan rakyat Gaza telah menjadi salah satu pilar gerakan solidaritas internasional di seluruh dunia selama beberapa dekade. Ungkapan “Bebaskan Palestina” tertulis di dinding-dinding yang tak terhitung jumlahnya, dengan bahasa dan ungkapan masing-masing. Semua mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan Palestina terus menggema di antero dunia, termasuk bagaimana bantuan internasional bisa masuk ke wilayah-wilayah terisolir. Perang Gaza telah memunculkan dukungan dan simpati kepada Pelestina, dan antipati terhadap Israel dan Amerika Serikat.

Di berbagai belahan dunia, di Eropa, Amerika, Asia, dan termasuk di Indonesia, telah terjadi demonstrasi besar-besaran mengecam kekejian Israel. Aksi demonstrasi pro Palestina tidak lagi karena persoalan agama, namun sudah menjadi persoalan kemanusian. Tindakan keji Israel yang telah membunuh ribuan orang Palestina, yang juga dikenal sebagai etnic cleansing, merupakan sebuah kejahatan dan pelanggaran HAM yang serius.

Berbagai protes muncul dari berbagai belahan dunia, termasuk di AS sendiri. Bukan hanya frekuensi atau besarnya protes yang terjadi saat ini, namun juga sifatnya. Seorang aktivis Palestina pernah mencoba mengambil alih gedung Kongres AS dan seorang tentara Amerika pernah melakukan aksi bakar diri karena marah atas kesalahan pemerintahnya dalam kejahatan yang terjadi di Gaza.

Dihadapan Sidang Umum di Mahkamah Internasional bulan lalu, perwakilan China Ma Xinmin membela hak rakyat Palestina untuk melakukan perjuangan bersenjata, sambil merujuk pada hukum internasional. Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia juga menyerukan adanya sanksi terhadap “mereka yang menghalangi akses kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan.”

Negara-negara Selatan juga berada di garis depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagai perjuangan pembebasan nasional yang paling menginspirasi di dunia. Selain itu, ada banyak negara di Eropa, seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia dan Belgia, yang membela habis-habisan kepada Palestina dari kejahatan perang Israel di Gaza.

Namun, solidaritas tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan, untuk mencapai perubahan paradigma yang didambakan, dan untuk mengglobalkan perjuangan demi kebebasan rakyat Palestina seperti yang dilakukan oleh para pejuang Afrika Selatan untuk mengakhiri sistem apartheid. Memang tidak bisa disamakan antara perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

Rakyat Palestina telah menempatkan diri mereka sebagai penjaga perjuangan mereka sendiri, dan dengan bangga berdiri di garis depan perjuangan global untuk kebebasan dan keadilan. Ini benar-benar menggemparkan dunia.

Hal inilah yang menunjukkan bahwa Palestina memang beda. Mereka bukan hanya korban, akibat kebiadaban Israel, namun mereka juga adalah pejuang sejati, untuk kebebasan dan kemerdekaan bangsanya.

Palestina telah mengalahkan Israel yang didukung oleh Amerika, namun hal ini tidak cukup untuk menjamin kebebasan mereka, agar Palestina Merdeka. Apalagi mereka berada dalam pertempuran yang sulit ini sendirian.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

86