logo

Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

MPLS di Era AI: Masih Orientasi atau Sudah Transformasi?

Oleh : Agus Sholeh

Hari ini, Senin, 13 Juli 2026, jutaan murid baru memulai tahun ajaran baru 2026/2027 dengan ceria dan penuh suka cita. Wajah-wajah baru memenuhi sekolah dan madrasah dengan harapan, cita-cita, dan semangat belajar. Sebagian sekolah bahkan telah menutup penerimaan peserta didik baru karena kuota terpenuhi, sementara yang lain masih membuka pendaftaran untuk memenuhi rombongan belajar.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau kalau di madrasah dikenal dengan nama Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) setiap tahun selalu menjadi panggung teatrikal yang menggema di relung jantung sekolah. Saat gerbang sekolah terbuka, ribuan siswa baru masuk dengan atribut yang terkadang tidak masuk akal, mendengarkan ceramah kepala sekolah dan guru tentang tata tertib, dan berkeliling sekolah untuk mengenal letak kantin atau ruang kepala sekolah.

Kita menyebutnya “pengenalan lingkungan,” Namun bisa juga dimaknai sebagai tour de campus, karena sebagai warga baru mereka belum tahu pojok-pojok sekolah, kantin, mushola dan terutama dimana letak toilet. Ini pojok yang paling urgent. 

Pengenalan lingkungan tetap penting, namun, apakah fungsi MPLS cukup berhenti pada orientasi ruang fisik?”

Di luar gerbang sekolah, para guru dan murid sekolah sedang mengalami gempa tektonik, berupa revolusi Artificial Intelligence (AI), sementara sekolah kita justru masih sibuk berkutat pada MPLS gaya lama, yaitu baris berbaris dan menghafal nama guru dan kakak kelas yang jadi panitia.

Mari kita berani jujur, apakah MPLS hari ini masih relevan? Atau, jangan-jangan kita masih mendidik generasi masa depan dengan pola pikir abad ke-20 untuk menghadapi realitas abad ke-21 yang sudah sepenuhnya terdisrupsi?

Kebijakan Pemerintah

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan MPLS Ramah 2026 sebagai penanda dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui kebijakan ini, pemerintah menegaskan bahwa setiap peserta didik berhak memulai perjalanan belajarnya di lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari praktik perpeloncoan dan senioritas.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa MPLS merupakan tahap awal yang penting dalam membangun pengalaman belajar peserta didik. Karena itu, sekolah harus menjadi rumah kedua yang menumbuhkan rasa aman, saling menghormati, saling menghargai, dan saling menyayangi, sekaligus memberi ruang bagi setiap anak untuk mengenali dan mengembangkan potensi terbaiknya.

Arah kebijakan tersebut patut diapresiasi. Namun, di tengah revolusi kecerdasan buatan (AI), tantangan pendidikan tidak lagi hanya berhenti pada terciptanya lingkungan sekolah yang ramah. MPLS juga perlu menjadi pintu masuk bagi lahirnya budaya belajar baru yang menumbuhkan cara berpikir kritis, kreativ, karakter, dan kemampuan memanfaatkan AI secara bijaksana. Dengan demikian, MPLS tidak hanya menjadi masa orientasi, tetapi juga momentum transformasi pendidikan menuju pembelajaran yang lebih bermakna.

Biar Melek Teknologi

Selama ini, narasi yang dibangun sekolah adalah “kita harus menjadi pengguna teknologi yang mahir.” Kalimat ini terdengar canggih, padahal menyesatkan. Menjadi pengguna teknologi hanyalah keterampilan tingkat rendah. Dalam era AI, menjadi “pengguna” berarti menjadi konsumen pasif yang tunduk pada algoritma. Saat seorang siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, apakah mereka sedang belajar? Atau mereka sedang melakukan outsourcing kemampuan berpikirnya kepada mesin?

Sekolah sering kali terjebak dalam euforia teknologi. Guru-guru dipaksa menggunakan Learning Management System (LMS) terbaru, papan tulis interaktif dibeli, dan materi digital diperbanyak. Namun, di balik kecanggihan alat-alat tersebut, apakah proses berpikir siswa mengalami pendalaman? Atau justru sebaliknya, mereka semakin dimanjakan oleh kemudahan instan yang disediakan AI, yang bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, ringkasan otomatis, dan terjemahan instan?

Jika sekolah hanya berhenti pada “penggunaan teknologi,” maka kita sedang menciptakan generasi yang kehilangan otot kognitifnya sendiri. Kita sedang membesarkan kaum “klik-dan-jadi” yang tidak mampu mengonstruksi argumen, apalagi mempertanyakan kebenaran.

MPLS di era kecerdasan buatan tidak cukup hanya mengenalkan lingkungan sekolah. Ia harus menjadi gerbang transformasi pendidikan yang dibangun di atas empat pilar yang saling menguatkan.

Pertama, seluruh kegiatan MPLS harus disusun dengan memahami bahwa peserta didik sedang berada dalam fase perkembangan otak, mental, sosial, emosional, dan spiritual. Mereka bukan “orang dewasa dalam tubuh kecil”, melainkan individu yang sedang bertumbuh. Karena itu, lingkungan belajar harus memberi rasa aman, penghargaan, tantangan yang sesuai, dan kesempatan untuk menemukan jati dirinya. Inilah dasar pedagogis mengapa MPLS harus ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kedua, sekolah tidak boleh alergi terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menyerahkan proses belajar sepenuhnya kepada teknologi. AI harus dipahami sebagai instrumen untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan kreativitas, mempercepat eksplorasi ide, dan memperkaya pengalaman belajar. Teknologi hanyalah alat dan manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

Ketiga, kehadiran AI justru menuntut sekolah mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar menghafal menjadi memahami, dari menerima informasi menjadi membangun pengetahuan, dari menjawab soal menjadi memecahkan persoalan kehidupan. Peserta didik perlu dibiasakan berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, berefleksi, dan menghubungkan ilmu dengan realitas. AI membantu menyediakan informasi, tetapi pembelajaran mendalamlah yang mengubah informasi menjadi kebijaksanaan.

Keempat, pendidikan pada akhirnya adalah proses memanusiakan manusia. Karena itu, sekolah harus menjadi komunitas yang dibangun di atas kasih sayang, penghormatan terhadap martabat setiap peserta didik, kepercayaan, gotong royong, dan keteladanan. Budaya cinta akan melahirkan rasa aman untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan kerendahan hati untuk terus berkembang. Di tengah kecanggihan AI, justru nilai-nilai kemanusiaan inilah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.

Keempat pilar tersebut bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Perkembangan anak menjadi pijakan, AI menjadi instrumen, Pembelajaran Mendalam menjadi strategi, dan Kurikulum Berbasis Cinta menjadi jiwa yang menghidupkan seluruh proses pendidikan. Tanpa memahami perkembangan peserta didik, teknologi mudah disalahgunakan. Tanpa pembelajaran yang mendalam, AI hanya akan melahirkan budaya instan. Tanpa budaya cinta, sekolah kehilangan makna sebagai tempat tumbuhnya manusia seutuhnya.

Apabila keempat pilar ini mulai diperkenalkan sejak MPLS, maka hari-hari pertama peserta didik di sekolah bukan sekadar menjadi masa orientasi, tetapi menjadi awal dari transformasi cara berpikir, cara belajar, cara hidup, dan cara memaknai teknologi. MPLS tidak lagi berhenti pada pengenalan lingkungan sekolah, melainkan menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, berkarakter kuat, dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.

Krisis Kognitif di Balik Kemudahan

Revolusi AI telah mengubah lanskap pengetahuan. Dulu, akses terhadap informasi adalah hak istimewa. Hari ini, informasi adalah sampah yang melimpah ruah dan tersedia secara gratis. Tantangan pendidikan tidak lagi terletak pada “bagaimana cara mendapatkan informasi,” melainkan “bagaimana cara menyaring dan mengonstruksi makna dari informasi tersebut ?.”

Sistem pendidikan kita, dan MPLS sebagai pintu gerbangnya, masih sangat menekankan pada transmisi informasi. Kita masih mendewakan hafalan. Kita masih merayakan nilai hasil asesmen. Padahal, AI mampu melakukan semua itu dengan presisi yang jauh melampaui manusia mana pun. Jika sekolah terus bersikukuh pada pola lama, maka sekolah sedang memposisikan dirinya sebagai institusi yang akan segera usang dan tidak relevan.

MPLS seharusnya menjadi momen untuk melakukan “dekonstruksi” terhadap mentalitas ini. MPLS bisa mengajak siswa untuk menguji AI, menemukan biasnya, mengkritisi kesalahannya, dan menyadari bahwa mesin tidak memiliki “kebenaran,” melainkan hanya “probabilitas statistik.” Inilah yang disebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam. Pembelajaran bukan tentang menimbun data, melainkan tentang membangun kedalaman berpikir yang membuat manusia tetap unik dan tak tergantikan oleh mesin.

Pendidikan Yang Memanusiakan

Ada jargon yang sering terdengar yaitu bagaimana “pendidikan dapat memanusiakan manusia.” Namun, dalam realitas sekolah, sering kali kita justru melakukan dehumanisasi. Kita menuntut standar yang seragam, menekan kreativitas dengan aturan yang kaku, dan mengabaikan kompleksitas psikologis remaja.

Perkembangan neurosains sudah sangat jelas dimana otak remaja adalah medan pertempuran antara emosi (sistem limbik) dan logika (korteks prefrontal). Mereka adalah makhluk yang sedang mencari identitas. Karena itu, sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman untuk bereksperimen, berdebat, dan bahkan gagal. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak sekolah justru menjadi ladang intimidasi atau perundungan yang dibalut dengan kedok “kedisiplinan.” Bagaimana mungkin kita mengharapkan empati dari peserta didik jika lingkungan belajarnya sendiri tidak mempraktikkan kasih sayang?

Berbagai penelitian neurosains menunjukkan bahwa korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan berpikir kritis, baru berkembang penuh pada usia dewasa muda. Artinya, peserta didik membutuhkan lingkungan yang aman, penuh keteladanan, dan kaya pengalaman reflektif agar kemampuan berpikirnya tumbuh secara optimal.

AI tidak punya hati nurani. Ia bisa menulis esai yang sangat humanis, namun ia tidak merasakan beban moral dari kalimat yang ditulisnya. Di sinilah letak superioritas manusia. Kecerdasan intelektual tanpa karakter adalah bencana. Kita tidak butuh AI yang lebih pintar. Kita butuh manusia yang lebih beradab. Inilah esensi “Kurikulum Berbasis Cinta” yang sering didengungkan namun jarang dipraktikkan.

Pendidikan harus kembali ke akarnya, yaitu menumbuhkan nurani yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh kode pemrograman terumit sekalipun.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar proses ta’lim (transfer ilmu), tetapi juga tarbiyah dan ta’dib, yaitu menumbuhkan kepribadian, akhlak, dan kebijaksanaan. AI dapat membantu manusia memperoleh pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan pembentukan hikmah dan adab. Karena itu, teknologi harus selalu berada di bawah kendali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Menuju MPLS yang Bermakna

Mungkinkah kita merombak MPLS, agar tidak lagi monoton atau sekedar ritual tahun bagi murid baru dan mengubahnya menjadi sebuah “Ruang Awal Pembelajaran Sepanjang Hayat ?.”

Bayangkan jika hari pertama MPLS diawali dengan satu pertanyaan sederhana kepada seluruh siswa: “Jika komputer dapat menjawab hampir semua pertanyaanmu, mengapa kamu masih perlu sekolah?” Pertanyaan itu akan memancing diskusi yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar menghafal denah sekolah. Dari sana guru dapat mengajak peserta didik memahami bahwa sekolah bukan tempat mencari jawaban, melainkan tempat belajar mengajukan pertanyaan yang benar.

Kita harus berani berhenti menjadi “pengguna teknologi” yang patuh. Kita harus menjadi “arsitek masa depan.” MPLS harus menjadi tempat di mana siswa menyadari bahwa mereka bukanlah robot yang sedang diprogram, melainkan individu yang harus mengambil kendali atas hidupnya sendiri.

Tentu, ini bukan tantangan mudah. Guru-guru kita sendiri sering kali terperangkap dalam sistem birokrasi yang membelenggu. Mereka disibukkan dengan administrasi yang justru menjauhkan mereka dari esensi mendidik. Namun, inilah saatnya untuk melawan arus. Guru tidak boleh lagi menjadi satu-satunya “sumber ilmu”, melainkan menjadi mentor yang baik bagi proses berpikir siswa. Guru harus menjadi provokator ulung yang memotivasi siswa untuk tidak pernah puas dengan jawaban pertama yang mereka temukan di mesin pencari.

Pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih untuk tetap menjadi pengekor teknologi, terobsesi dengan gadget dan digitalisasi yang kosong, atau kita bisa memilih untuk kembali ke esensi pendidikan, yaitu membangun manusia yang memiliki martabat, kedalaman berpikir, dan hati nurani.

Pintu Perubahan.

Pada akhirnya, keberhasilan MPLS bukan diukur dari seberapa cepat peserta didik mengenal teman sekelasnya, melainkan seberapa jauh mereka mulai mengenal dirinya sendiri sebagai manusia pembelajar. Di era AI, sekolah tidak perlu bersaing dengan mesin dalam menyampaikan informasi. Sekolah justru harus melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan mesin, yaitu menumbuhkan karakter, kebijaksanaan, empati, keberanian moral, dan kecintaan kepada kebenaran.

Jika MPLS mampu menjadi awal perjalanan itu, maka ia bukan lagi sekadar agenda tahunan, melainkan pintu masuk menuju lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, beradab, dan siap memimpin masa depan.

Namun jika MPLS gagal melakukan ini, maka sekolah bukan lagi menjadi jembatan menuju masa depan, melainkan museum bagi masa lalu yang gagal beradaptasi. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apa yang diajarkan sekolah kepada siswa ?,” melainkan “apakah kita sudah cukup berani untuk mendidik anak-anak agar mereka berani menghadapi masa depan mereka ?”

Kita harus mulai menjawabnya sekarang, di hari pertama sekolah, agar para murid baru itu siap menghadapi masa depannya dengan penuh optimisme. Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum, namun sering kali justru dimulai dari keberanian mengubah hari pertama sekolah.

Agus Sholeh. Pengurus DPP GUPPI. Anggota Majelis Dikdasmen PNF PP Muhamadiyah. Lama berkiprah di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama

MPLS di Era AI: Masih

Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum yang rumit...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Copyright 2025 - Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

34