logo

Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

Jakarta (GUPPI)  – Siapa bilang sekolah murah itu tidak bisa berkualitas ? Ternyata banyak sekolah swasta Islam dan madrasah swasta di Indonesia yang bagus dan berkualitas, dan tentu diminati oleh para orang tua untuk meyekolahkan anak-anaknya, dan orang tua tidak mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan sekolah yang bagus dan nyaman untuk belajar.

 Prof. Husni Rahim dari Gerakan Guru Berkualitas (Gerutas) menyampaikan hal ini dalam lanjutan Serial Diskusi yang dilaksanakan oleh DPP GUPPI bekerjasama dengan Gerutas secara online, Rabu malam, 24 September 2025.

 “Sekarang ini kita banyak menemukan sekolah maupun madrasah yang berkualitas tinggi dengan biaya murah, ini terutama terjadi di sekolah dan madrasah swasta. Namun tidak sedikit sekolah dan madrasah negeri yang juga bagus, sekalipun hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari Pemerintah.” kata Husni Rahim.

 Husni Rahim, yang pernah menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama mengatakan bahwa sekolah memang memerlukan dukungan dana, namun dana ternyata bukan menjadi variable utama untuk sekolah itu bagus atau tidak.

 “Saya setuju dengan pandangan bahwa sekolah yang bermutu memerlukan dukungan anggaran yang tidak kecil, namun itu bukan faktor utama dan segalanya. Kita memerlukan guru yang profesional untuk mendukung mutu sekolah, kemudian manajemen sekolah dan baru sarana dan prasarana. Menurut UNDP, guru memegang peranan 48 %, manajemen sekolah itu 30 % dan sarana prasarana itu 22 %. Jadi sebanyak 78 % faktor mutu itu tidak memerlukan biaya mahal,”  tambah Husni Rahim.

 Husni Rahim kemudian menyodorkan gagasan yang dia namakan dengan Sekul Ber-QMR untuk sekolah berkualtias, murah, dan relijius.

“Q-MR adalah akronim dari Bermutu, Murah dan Relijius. Sebuah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa kualitas, terjangkau dan relijius sebagai branding karakteristik dan kekhasan program ini. Karena itu Sekul Ber Q-MR adalah sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip QMR dalam seluruh aspeknya, baik itu terkait pembelajaran, manajemen, pembiayaan, budaya, hingga kolaborasi. Prinsip Q adalah simbul Kualitas, melambangkan mutu sejati lahir dari proses, bukan dari fasilitas. Sedangkan M adalah simbul Murah, yang melambangkan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat dan R adalah simbul Relijius; melambangkan pendidikan yang bernafaskan nilai spiritual,”  ungkap Husni Rahim.

 Dirinya mengakui bahwa tidak mudah untuk melakukan transformasi kualitas sekolah dari biasa-biasa saja dan murah menjadi sekolah yang unggul dan berprestasi tinggi, namun hal itu bukan sesuatu yang mustahil.

“Memang tidak mudah untuk melakukan transformasi dari sekolah biasa menjadi sekolah berkualitas dan relijius. Ada 3 tipe orang dalam menghadapi transformasi itu, yaitu mereka yang mengatakan tidak mungkin (impossible), diam (No Comment) dan Sangat Sulit (Very Dificult),”  tambahnya.

 Menurut Husni Rahim, memang sulit untuk melakukan suatu gerakan perubahan, malah sangat sulit. Namun itu bukan sesuatu yang mustahil. Karena sangat sulit itu berarti sulit sekali, bukan sesuatu yang tidak mungkin (impossible).  

“Sangat sulit itu bukan berarti mustahil (impossible). Suatu perubahan memang biasanya menghadapi tantangan dan kesulitan, dan untuk mendapat hasil yang tinggi pasti akan menghadapi kesulitan yang tinggi pula,”  katanya.

 Ia mengingatkan agar mitos bahwa sekolah bagus itu pasti mahal dan sekolah murah itu kualitasnya pas-pasan mesti dihilangkan.  

“Kita bisa menyiapkan sekolah yang bagus yang murah dan relijius. Kita hanya perlu melakukan manajemen pembiayaan yang efisien dan transparan, banyak program dengan “in-kind support”, melibatkan masyarakat, pemerintah, alumni dan dunia usaha, melakukan inovasi pembelajaran berbasis potensi local, dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya,”  imbuh Husni Rahim yang saat ini juga Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

 Husni Rahim kemudian menyodorkan trik bagaimana langkah transformasi sekolah dari biasa-biasa menjadi berkualitas, unggul dan relijius.

“Sekolah harus bisa mengubah mindset bahwa berkualitas itu tidak mahal. Kemudian mempunyai kepemimpinan kepala sekolah yang visoner, menggerakkan dan motor perubahan, manajemen sekolah efisien, transparan dan partisipatif, Berani melakukan inovasi di tengah keterbatasan, mempunyai guru kreatif dan Inovatif, kurikulum kontekstual, pembelajaran aktif, dan siswa belajar dengan harapan dan motivasi tinggi,”  katanya.

 Di akhir paparannya, Husni Rahim menyampaikan sikap optimisne bagaimana GUPPI bisa mewujudkan usaha dan gerakannya agar sekolah di Indonesia itu murah, berkualitas, dan relijius.

“Sekolah berkualtias, murah dan relijius itu juga merupakan strategi kebangsaan. Karena itu sudah waktunya GUPPI ikut ambil bagian dalam mewujudkan Sekul Ber Q-MR sebagai partisipasi ikut memenuhi janji kemerdekaan negara yang kita cintai ini,” ungkapnya.

 Sementara itu Murtadho dalam tanggapannya menyoroti kurangnya inovasi di sekolah dan madrasah di Indonesia dan kurang mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Mutu sekolah bisa diwujudkan dari berbagai pendekatan, dan kadang tidak mudah dan tidak murah. Ada sekolah yang dianggap bermutu karena para alumninya diterima di perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi elit. Ada juga yang karena sekolahnya banyak menorehkan prestasi berbagai macam lomba,”  kata Murtadho.

 Masalah biaya menurutnya, bisa diatasi dengan membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi yang banyak bermuculan saat ini. Dia menyarankan agar sekolah atau madrasah bisa mengeksplorasi dukungan filantropi dari organisasi keagamaan untuk mendanai inovasi pendidikan dan pelatihan guru maupun fasilitas belajar mengajar di sekolah.

“Sekolah harus berani melakukan pendekatan dengan lembaga-lembaga amil zakat (Laziz) yang sekarang ini banyak menghimpun dana umat. Bagaimana dana umat itu bisa dikembalikan untuk mendukung pengembangan sumberdaya umat melalui bantuan-bantuan untuk madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Baik itu untuk menambah insentif guru yang belum sertifikasi atau membantu operasional sekolah yang dirasa masih kurang,” imbuh Murtadho yang juga seorang peneliti senior di BRIN.

 Pada sesi yang sama, Suhardi berbagi pengalaman contoh sekolah yang sukses menerapkan model pendanaan kreatif, dan tidak tergantung dengan sumbangan dari orang tua.

“Seorang Kepala sekolah itu harusnya seorang yang Super Kreatif, tidak boleh biasa-biasa saja. Dia harus bisa meyakinkan orang lain bahwa sekolahnya itu akan maju dan anak-anaknya akan belajar dengan nyaman,” ujar Suhardi.

 Dia mencontohkan ada madrasah di Tangerang Selatan yang bisa maju dengan didukung oleh masyarakat, termasuk dari luar negeri.  

“Di Tangerang Selatan ini ada madrasah yang dulunya kecil dan mutunya tidak bagus, namun kepala madrasahnya sangat kreatif dan komunikasit dengan masyarakat. Dia sukses menerapkan model pendanaan kreatif, yaitu dengan gerakan orang tua asuh, yang telah menarik donor internasional dan memungkinkan pendidikan gratis untuk anak-anak yatim dan siswa kurang mampu,”  tambah Suhardi yang pernah memimpin MTsN 1 Pamulang Tangerang Selatan.

 Diskusi serial kerjasama antara DPP GUPPI dengan Gerutas yang diikuti oleh Pengurus DPP GUPPI, DPW GUPPI, Kepala Madrasah dan sekolah, Pengurus Gerutas dan praktisi pendidikan ini akan dilanjutkan lagi dua minggu ke depan dengan membahas tentang Tujuh Prinsip Sekul Ber Q-MR; Kompas Sekolah Bermakna. (Tim Media GUPPI).

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

51