Kategori: Opini

  • PEMBELAJARAN AUTENTIK Oleh Fuad Fachruddin

    PEMBELAJARAN AUTENTIK Oleh Fuad Fachruddin

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Pembelajaran Autentik

    Oleh : Fuad Fachruddin.

    ABAD ke-21 ditandai dengan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan perubahan yang cepat dalam kehidupan nyata. Keadaan ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam menyelenggarakan pembelajaran, sekolah hendaknya membekali siswa agar mereka siap menghadapi kehidupan dunia nyata sekaligus mentransformasi praktik pembelajaran yang ada.

    Tujuannya agar para guru, pendidik, dan siswa siap menghadapi tantangan abad ke-21 (Cho, Caleon, Kapur, 2015). Menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendorong siswa menjadi pelaku aktif dalam meneliti kehidupan nyata dan terbuka untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta memperoleh kemahiran akademik tinggi merupakan tantangan utama bagi para pendidik (Laur, 2013).

    Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab ialah bagaimana kita sebagai pendidik dapat menyentuh siswa abad ke-21 dan mengajarkan mereka kemampuan yang relevan dengan zamannya?

    ESENSI PEMBELAJARAN AUTENTIK

    Pembelajaran autentik bukanlah konsep yang sama sekali baru, melainkan juga merupakan salah satu pendekatan yang efektif untuk membantu guru dan siswa merespons tantangan abad ke-21. Pelibatan siswa dalam pembelajaran autentik membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Selain itu, pembelajaran autentik membekali siswa dengan kerangka berpikir atau memahami pengalaman belajar mereka secara lebih bermakna.

    Pembelajaran autentik adalah pendekatan yang membimbing pengajaran dan memfasilitasi pembelajaran dengan membawa pengalaman kehidupan nyata ke dalam kelas (Chang, Huang, Kinshuk, 2018). Dalam praktiknya, pembelajaran autentik mengangkat masalah kehidupan nyata sebagai tugas belajar dan evaluasi pembelajaran dilakukan secara efektif selama proses berlangsung. Dengan pendekatan ini, pembelajaran yang bermakna dapat diwujudkan (Tuba Ozkan, Kilicoglum, 2021).

    LANDASAN TEORETIS

    Pembelajaran autentik berakar pada teori konstruktivisme yang menekankan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri tentang dunia berdasarkan pengalaman hidup mereka. Teori ini menegaskan bahwa belajar adalah proses aktif yang mana siswa harus terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Siswa bukanlah penerima pasif informasi, melainkan juga pembuat makna dan pengetahuan (Pritchard & Woollard, 2010; Fosnot, 2005).

    Terdapat dua teori utama yang mendasari pembelajaran autentik. Pertama, pembelajaran situasional (situated learning) yang menekankan pada mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang mencerminkan kegunaan pengetahuan tersebut untuk kehidupan nyata. Pendekatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam konteks kehidupan nyata dan memecahkan masalah yang relevan dengan lingkungan mereka.

    Kedua, magang kognitif (cognitive apprenticeship) dirancang untuk membiasakan siswa dalam praktik otentik melalui kegiatan dan interaksi sosial. Dalam model tradisionalnya, terdapat empat tahap penting: modeling, yang mana guru mendemonstrasikan keterampilan yang perlu dipelajari; scaffolding berupa bantuan dan bimbingan saat siswa menerapkan pengetahuan; coaching dengan memberikan umpan balik untuk perbaikan; dan fading, yaitu pengurangan bantuan seiring dengan meningkatnya kemandirian siswa.

    KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN AUTENTIK

    Pembelajaran autentik memiliki sejumlah karakteristik mendasar yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran konvensional. Inti dari pembelajaran ini terletak pada pemberian kegiatan otentik, yaitu siswa menghadapi tugas-tugas kompleks yang relevan dan kontekstual dengan dunia nyata. Tugas-tugas ini dirancang untuk diselesaikan dalam suatu periode waktu yang berkesinambungan, meniru proyek atau masalah yang sesungguhnya di kehidupan, berbeda dengan serangkaian latihan pendek yang terisolasi dan terlepas dari konteks.

    Untuk membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas kompleks tersebut, pemodelan guru memegang peran krusial. Siswa diberikan akses untuk mengamati bagaimana guru menyelesaikan masalah dalam situasi nyata. Proses pemodelan ini memberikan contoh konkret tentang penerapan pengetahuan dan keterampilan sekaligus memperlihatkan proses berpikir dan strategi yang digunakan.

    Selama proses investigasi, pembelajaran autentik dirancang agar siswa dapat mendekati suatu tugas menggunakan perspektif berganda. Hal ini tidak hanya memperkaya analisis, tetapi juga secara sengaja mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta apresiasi terhadap keragaman sudut pandang yang merupakan keterampilan vital dalam masyarakat yang kompleks.

    Karakteristik lain yang menonjol adalah penekanannya pada kolaborasi. Dalam pembelajaran autentik, kerja sama untuk memecahkan masalah kompleks bukanlah sekadar opsi, melainkan juga keharusan. Setelah melewati proses yang menantang ini, siswa kemudian didorong untuk melakukan refleksi mendalam terhadap pengalaman belajar mereka. Momen refleksi ini memungkinkan mereka mengasimilasi dan mengintegrasikan pengetahuan serta pemahaman baru ke dalam kerangka konseptual yang telah mereka miliki sebelumnya.

    Selanjutnya, lingkungan pembelajaran autentik juga harus menyediakan ruang yang aman dan memadai untuk artikulasi. Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan, memaparkan, dan mempertahankan pemikiran, proses, serta hasil kerja mereka di hadapan orang lain, baik melalui presentasi, diskusi, maupun forum lainnya. Sepanjang perjalanan belajar ini, peran guru bergeser menjadi fasilitator yang memberikan pembimbingan yang tepat waktu dan responsif melalui teknik coaching dan scaffolding. Bimbingan ini bersifat dinamis, diberikan saat dibutuhkan dan dikurangi secara bertahap seiring dengan meningkatnya kemandirian dan kemampuan siswa.

    Terakhir ialah penerapan penilaian autentik. Evaluasi dalam pendekatan ini tidak dipandang sebagai aktivitas terpisah yang hanya dilakukan di akhir pembelajaran. Sebaliknya, penilaian terintegrasi secara organik ke dalam seluruh proses belajar dan bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam konteks yang bermakna dan selaras dengan tantangan yang akan mereka hadapi di dunia nyata.

    PENERAPAN DALAM PRAKTIK

    Dalam implementasinya, pembelajaran autentik menekankan pada penyajian materi dalam konteks yang mencerminkan pengetahuan yang bersentuhan dengan kehidupan nyata. Mata pelajaran disajikan dalam bentuk permasalahan realistik yang menjaga kompleksitas kehidupan nyata. Siswa diberikan peluang terbuka untuk mengakses berbagai sumber informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas otentik.

    Penilaian dalam pembelajaran autentik dilakukan melalui rich assessment tasks yang memiliki karakteristik khusus. Menurut Clarke (2003), penilaian semacam ini secara natural terkait dengan apa yang diajarkan, melibatkan siswa secara aktif, menggunakan berbagai metode, dan menyajikan cara-cara autentik dalam mengukur pengetahuan dan keterampilan yang akan digunakan di masa depan.

    Pembelajaran autentik pada dasarnya ialah tentang menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Dengan menerapkan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kemampuan essensial yang diperlukan untuk keberhasilan dalam kehidupan yang kompleks dan terus berubah di abad ke-21. Wallahualam bissawab.

    Fuad Fachruddin Peneliti Utama Indonesian Institute for Society Empowerment (Insep), Jakarta dan Anggota Dewan Pakar DPP GUPPI.

    Ditayangkan di Media Indonesia, 03/11/2025 05:10

    Tulisan ini ditayangkan ulang dengan izin dari Penulis.

    Komentar

    79
  • MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    Jakarta (GUPPI) – Saya terima kasih diajak Prof Fasli Jalal untuk menjadi salah satu pengurus di GUPPI. Saya bersedia di manapun kalau menyangkut Pendidikan, Insya Allah ada sedikit ilmu dan pengalaman yang mungkin bisa berkontribusi untuk kepentingan masa depan anak-anak kita dengan pengalaman di dunia pendidikan sudah lebih 40 tahun.    

    Kehadiran GUPPI saat ini luar biasa. Mungkin ini restorasi, karena dulu di bawah naungan Golkar, sekarang sudah independent. Artinya GUPPI harus mulai menata kembali bagaimana bisa berperan di dalam meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia.    

    Gerakan usaha pembaruan itu gerakan tiada berakhir. Berkelanjutan. Kita tidak bisa mengharapkan dalam waktu 5 tahun selesai. Gerakan itu bisa berpuluh-puluh tahun. Jadi kita bergerak terus melakukan pembaruan-pembaruan, menyesuaikan dengan perkembangan zaman.    

    Ada tiga hal yang menjadi tantangan GUPPI saat ini. Ini berdasarkan pada  pengalaman.     

    Pertama,  kita lihat merosotnya moral bangsa kita pada saat ini luar biasa. Di sekolah-sekolah Islam pun terjadi pembulian. Ada teman di Jakarta yang mengelola yayasan pendidikan Islam. Belajarnya banyak juga konten-konten Islam. Tetapi pembulian terjadi.

    Kayaknya seperti sudah hal-hal yang biasa-biasa saja orang korupsi. Tampil di TV ketawa-ketawa. Narkoba juga luar biasa. Juga masalah adab atau etika, bagaimana anak menghormati orang tua, orang tua dengan guru dan lain sebagainya. Ada yang salah di dalam pendidikan kita ini. Yang harus jadi PR kita.     

    Kedua, pendidikan Islam saat ini kelihatannya tidak mengantisipasi tantangan zaman. Kurikulumnya, mindset dosennya, dan rata-rata di pendidikan Islam itu sarana prasarananya sangat minim. Itu yang saya perhatikan. Seolah-olah pendidikan Islam itu sempit, tidak konteks dengan perkembangan kemajuan zaman, padahal harusnya ada nilai tambah agamanya.    

    Sekarang ini media sosial membuat perilaku kita berubah banyak, anak-anak kita berubah perilakunya, industrialisasi mengakibatkan anak-anak kita menjadi materialistis, rasionalitas tumbuh berkembang sehingga membuat jarak dengan pemahaman keyakinan agama. Ini tantangan yang kita hadapi pada saat ini. Harus kita cari solusinya.     

    Ketiga, bagaimana menghadirkan kembali kejayaan Islam yang telah menghasilkan ilmuwan-ilmuwan hebat. Kita mungkin belum sampai di sana. Pendidikan konvensional saja belum pernah Indonesia dapat Nobel, apalagi pendidikan Islam. Namun mungkin nanti tahapan-tahapan berikutnya.    

    Saya pernah diskusi dengan Buya Yahya, pimpinan pesantren al Bahjah. Dia berpesan agar pendidikan Islam di sekolah-sekolah itu tidak perlu menambah jam pelajaran, tetapi cukup tiga aspek ini yang harus ditekankan.  Pertama  akidah, yang  kedua syariat, dan yang ketiga adalah akhlak. Itu saja yang dikemas.    

    Selain itu, pendidikan Islam harus konteks dengan permasalahan yang dihadapi ataupun tantangan masa depan bangsa. Kurikulumnya harus kita lakukan banyak perubahan. Digitalisasi itu sudah merupakan keniscayaan. Dalam sekian tahun ke depan mungkin 90% bisnis semuanya online.    

    Bagi kita umat Islam tentu harus siap dengan kemajuan, kalau kita tidak siap kita akan semakin tertinggal, semakin terbelakang. Karena itu perlu diupayakan bagaimana membenahi kurikulum, menyiapkan para pengajar, dosen, dan sarana prasarana sehingga mampu mengantisipasi perubahan-perubahan.    

    Secara garis besarnya, kita harus membuat program, rencana strategis, program kerja, bagaimana peran kita dan harus bergandengan tangan dengan pengambil keputusan.    

    Kita tidak boleh menjadi oposisi. Sebagai ormas keislaman kita harus selalu bergandengtangan dengan pemerintah. Kita harus terus mengawal pemerintahan, harus bersuara dengan cara yang etis, cara yang beradab, bukan berteriak-teriak di jalan. Itu yang harusnya dilakukan oleh umat Islam supaya perubahan itu terjadi.    

    Hentikanlah berteriak-teriak di jalan. Mengkritik tidak akan ada perubahan, tapi bisa dengan silaturahim, komunikasi, sharing pendapat pengalaman dan sebagainya.

    Saya yakin sekeras-kerasnya orang, dia akan cair, dia akan mendengarkan. Tetapi kalau itu kita bentur-benturkan, maka itu tidak akan menyelesaikan persoalan. (GUZ).

    ** Disarikan dari sambutan Marzuki Alie pada acara Pengukuhan Pengurus DPP GUPPI Periode 2024 – 2029, hari Ahad, 4 Agustus 2024 di Kampus Universitas YARSI Jakarta.

    Komentar

    59
  • Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    Konflik Palestina dan Israel hingga saat ini masih terus berlangsung. Belum jelas kapan perang akan berhenti. Dewan Keamanan PBB sudah menawarkan Paket Perdamaian kepada kedua pihak, namun Israel masih menentang upaya perdamaian tersebut.

    Kebiadaban yang dilakukan Israel terhadap Palestina di wilayah Gaza telah menewaskan lebih dari 38.000 orang. Data yang dihimpun United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Kementerian Kesehatan Gaza juga menunjukkan bahwa serangan Israel telah memakan korban banyak dari wanita dan anak-anak.

    Namun di pihak Israel juga tidak sedikit korban yang meninggal, baik dari kalangan sipil maupun militer. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Herzi Halevy, mengatakan bahwa Israel harus membayar mahal dalam agresi ke Jalur Gaza tersebut. Israel kehilangan banyak perwira dan tentara dalam menghadapi gerakan perlawanan Palestina.

    Aksi genosida Israel yang sedang terjadi di Gaza adalah salah satu kejahatan pembunuhan massal dan pembersihan etnis (etnis cleansing) terbesar dalam sejarah modern. Dan harus diakui bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini, tidak ada negara yang melakukan perlawanan sekuat yang dilakukan Palestina.

    Namun disisi lain, belakangan ini muncul pertanyaan kenapa negara-negara Arab tidak terlihat antusias dalam mendukung Palestina, terutama saat Gaza dibombardir oleh Israel? Ada apa dengan negara-negara Arab ini, apakah karena mereka takut sama Amerika Serikat dan Israel ?

    Ini yang menjadi pertanyaan banyak pihak dan menganggap negara-negara Arab itu hanya mempraktekkan solidaritas semu terhadap Palestina. Apalagi belakangan ini sejumlah negara, seperti Qatar, Arab Saudi, Mesir justru mulai membuka akses diplomatic dengan Israel.

    Arogansi Barat

    Jared Kushner, mantan penasehat Presiden Donald Trum, yang juga mertuanya, pernah mengajari orang-orang Palestina bagaimana cara menangani perjuangan mereka demi kebebasan.

    Pada tahun 2019, ia menyarankan warga Palestina untuk berhenti “melakukan terorisme,” dan terjebak karena kepemimpinan yang buruk. Menurutnya, masalah Palestina bukan karena pendudukan Israel atau karena AS mendukung Israel.

    Jared juga menjadi bahan cemoohan akibat bualannya yang mengatakan dia telah membaca puluhan buku tentang Timur Tengah, dan mengatakan bahwa orang-orang Palestina bukanlah para “pembawa perdamaian”, namun bangsa yang mempunyai niat buruk dan suka memaksakan diri.

    Ia juga menggunakan bahasa yang merendahkan Palestina, seperti yang pernah digunakan oleh mantan Menteri Luar Negeri Israel Abba Eban, dengan mengatakan bahwa Palestina “memiliki rekam jejak sempurna dalam kehilangan peluang.”

    Menurut Ramzy Baround dalam Arab News, setiap tahun, orang-orang Amerika, atas perintah Israel, menjajakan ide-ide konyol untuk meruntuhkan mental pejuang rakyat Palestina. Dia mengatakan bahwa perjuangan Palestina sudah selesai, solidaritas dengan rakyat Palestina sudah mati dan rakyat Palestina dan para pemimpin mereka harus menerima apa pun yang menjadi masalah politik atau keuangan. menurutnya, karena semua milik Washington, Tel Aviv dan beberapa sekutu Barat mereka.

    Namun, rakyat Palestina membuktikan bahwa mereka salah. Terlepas dari segala tekanan, saling hujatan, sanksi, pengepungan dan kekerasan tanpa henti, tetapi mereka tetap kuat. Meskipun orang-orang Palestina tidak dapat mengendalikan kekejaman Israel, yang didukung oleh AS, namun mereka tetap berjuang untuk Merdeka dan tidak mau menjadi korban sia-sia kebiadaban Israel.

    Pemerintahan Biden, seperti pemerintahan AS lainnya, telah merendahkan warga Palestina dan menyatakan mereka bodoh karena tidak menerima kesepakatan paket perdamaian. Warga Palestina memang tetap teguh menginginkan kebebasan total dan tanpa syarat. Mereka menganggap Perjanjian Camp David (1979), Perjanjian Oslo (1993 dan 1995), Road Map (2004) dan setiap “tawaran” lainnya merupakan upaya politik untuk memperpanjang pendudukan Israel dan menyangkal hak-hak rakyat Palestina. Karena itu mereka tolak karena dianggap tidak akan menjamin hak-hak dasar mereka yang telah lama mereka inginkan.

    Semua “proposal perdamaian” yang diajukan oleh Amerika dan antek-anteknya jelas tidak adil, karena akan selalu menguntungkan Israel. Semua usulan pro-Israel ini gagal, bukan karena kemampuan komunitas internasional untuk menantang Washington, namun karena kegigihan rakyat Palestina.

    Washington memandang Israel sebagai bagian integral dari pengaruh global Amerika. Bagi AS, Israel adalah masalah kebijakan dalam negeri dan luar negeri. Karena itu, jika Israel tidak lagi menjadi negara dominan yang ada saat ini, maka AS akan kehilangan bentengnya di kawasan yang kaya akan sumber daya yang amat berharga, termasuk jalur perairan strategis. Inilah sebabnya mengapa Biden berulang kali menyatakan bahwa, “jika Israel tidak ada, kita harus menciptakannya.”

    Sikap Biden terhadap Israel memang dianggap ambivalen, karena didalam negeri dianggap membela Israel, tapi di luar negeri dianggap condong ke Palestina. Mungkin karena dia sedang menghadapi Pemilu yang akan dilaksanakan bulan November 2024 dan menghadapi lawan berat, yaitu Donald Trump, yang dikenal sangat vocal dan provokatif.

    Solidaritas Dunia.

    Solidaritas dunia terhadap perjuangan rakyat Gaza telah menjadi salah satu pilar gerakan solidaritas internasional di seluruh dunia selama beberapa dekade. Ungkapan “Bebaskan Palestina” tertulis di dinding-dinding yang tak terhitung jumlahnya, dengan bahasa dan ungkapan masing-masing. Semua mendukung perjuangan rakyat Palestina.

    Dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan Palestina terus menggema di antero dunia, termasuk bagaimana bantuan internasional bisa masuk ke wilayah-wilayah terisolir. Perang Gaza telah memunculkan dukungan dan simpati kepada Pelestina, dan antipati terhadap Israel dan Amerika Serikat.

    Di berbagai belahan dunia, di Eropa, Amerika, Asia, dan termasuk di Indonesia, telah terjadi demonstrasi besar-besaran mengecam kekejian Israel. Aksi demonstrasi pro Palestina tidak lagi karena persoalan agama, namun sudah menjadi persoalan kemanusian. Tindakan keji Israel yang telah membunuh ribuan orang Palestina, yang juga dikenal sebagai etnic cleansing, merupakan sebuah kejahatan dan pelanggaran HAM yang serius.

    Berbagai protes muncul dari berbagai belahan dunia, termasuk di AS sendiri. Bukan hanya frekuensi atau besarnya protes yang terjadi saat ini, namun juga sifatnya. Seorang aktivis Palestina pernah mencoba mengambil alih gedung Kongres AS dan seorang tentara Amerika pernah melakukan aksi bakar diri karena marah atas kesalahan pemerintahnya dalam kejahatan yang terjadi di Gaza.

    Dihadapan Sidang Umum di Mahkamah Internasional bulan lalu, perwakilan China Ma Xinmin membela hak rakyat Palestina untuk melakukan perjuangan bersenjata, sambil merujuk pada hukum internasional. Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia juga menyerukan adanya sanksi terhadap “mereka yang menghalangi akses kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan.”

    Negara-negara Selatan juga berada di garis depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagai perjuangan pembebasan nasional yang paling menginspirasi di dunia. Selain itu, ada banyak negara di Eropa, seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia dan Belgia, yang membela habis-habisan kepada Palestina dari kejahatan perang Israel di Gaza.

    Namun, solidaritas tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan, untuk mencapai perubahan paradigma yang didambakan, dan untuk mengglobalkan perjuangan demi kebebasan rakyat Palestina seperti yang dilakukan oleh para pejuang Afrika Selatan untuk mengakhiri sistem apartheid. Memang tidak bisa disamakan antara perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

    Rakyat Palestina telah menempatkan diri mereka sebagai penjaga perjuangan mereka sendiri, dan dengan bangga berdiri di garis depan perjuangan global untuk kebebasan dan keadilan. Ini benar-benar menggemparkan dunia.

    Hal inilah yang menunjukkan bahwa Palestina memang beda. Mereka bukan hanya korban, akibat kebiadaban Israel, namun mereka juga adalah pejuang sejati, untuk kebebasan dan kemerdekaan bangsanya.

    Palestina telah mengalahkan Israel yang didukung oleh Amerika, namun hal ini tidak cukup untuk menjamin kebebasan mereka, agar Palestina Merdeka. Apalagi mereka berada dalam pertempuran yang sulit ini sendirian.

    Komentar

    87
  • Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    Jakarta (GUPPI) — Diskursus pentingnya penguatan mutu pendidikan di Indonesia mengemuka dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2024.

     Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.

     Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

     Menurut Tati Hartimah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk memajukan pendidikan nasional, pemerintah seharusnya tidak hanya menggantungkan pada pendidikan formal di sekolah, namun pendidikan keluarga juga perlu mendapat perhatian. Karena keluarga merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter anak mulai dari kandungan hingga dewasa dan kehidupan di masyarakat.

    Saya melihat pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Kualitas pendidikan yang ada tidak sebanding lurus dengan usia negara yang secara historisitas dibangun oleh para tokoh  (funding father)  yang sangat peduli dengan masalah pendidikan, ujar Tati Hartimah dalam kesempatan dialog ringan di Nurkholis Madjid Training Center (NMTC) Ciputat, Jum’at sore (05/05/2024).

     Menurutnya ada banyak factor yang mempengaruhi mutu Pendidikan di Indonesia.

    “Ada banyak faktor yang berimplikasi pada rendahnya mutu pendidikan, terutama pada regulasi atau kebijakan sistem. Pendidikan secara umum kondisi masyarakat masih mentalitas  inlander, sehingga tidakmampu mandiri dan berani melakukan terobosan-terobosan, atau innovasi, sehingga pendididikan kita belum dapat mengacu pada daya saing yang kompetitif di tingkat global. Selain itu konsep dan prinsip pendidikan dalam Islam tidak mejadi kesepahaman seluruh umat karena minimnya pihak yang mampu menterjemahkan materi-materi keislaman dengan baik sehingga dapat diterapkan di dunia pendidikan,” ungkapnya.

     Dirinya berharap agar pemerintah dalam membuat kebijakan di bidang pendidikan menggunakan niat baik untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa, tidak semata-mata faktor politis.

    “Pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang baik dan berkorelasi dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap mengacu pada nilai keberagamaan masyarakat, tidak hanya melulu karena politis ganti menteri ganti kurikulum,” ujar Tati yang juga seorang ustadzah di sejumlah majlis ta’lim di daerah Tangerang Selatan, yang lama dia bina sejak masih aktivis Kohati HMI di Ciputat.

     Pendidikan karakter.

     Menurut Tati, pembentukan karakter anak sangatlah penting dan harus dimulai sejak dini di dalam lingkungan keluarga. Tidak semata mengandalkan pendidikan formal di sekolah. Pendidikan karakter itu tidak ada sekolahnya. Sekolah pendidikan karakter itu lewat teladan, dan teladannya ada dalam keluarga.

     “Setiap orang tua harus menjadi contoh teladan dalam mendidik karakter anak-anak. Dan pendidikan karakter tidak lepas dari pendidikan agama, karena nilai-nilai agama dapat menjadi pegangan dalam meniti hidup dan kehidupan,” tutur Tati, yang juga alumni S3 dari Univeristas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

     Menurutnya, pendidikan memegang peranan penting dalam menanamkan disiplin kepada anak sejak kecil.

     “Pendidikan memang pada akhirnya adalah tentang penumbuhan karakter. Itu inti dari pendidikan. Kita ingin pendidikan kita memunculkan generasi baru yang berakhlak mulia, dan itu harus ditanamkan sejak masa kecil” tambahnya.

     Tati mengatakan bahwa rumah tangga merupakan pintu awal dalam pembentuk karakter anak, bukan di tempat lain. Karena itu, orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk disiplin anak.

     “Pendidikan terpenting itu berada di setiap rumah kita. Itu adalah tempat pendidikan yang terpenting. Karena itu, orang tua harus memulai dengan kesadaran bahwa pendidikan karakter itu ada di rumahnya. Bila orang tua tidak menganggap rumahnya sebagai sekolah bagi anaknya, maka mulai dari sekarang kita jadikan rumah kita sebagai sekolah peradaban, dan di situlah pendidikan pertama,” ucapnya.

     Ia juga menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama bagi anak, yakni sejak anak dalam kandungan. Karena itu menurut Tati, didukung berbagai riset modern, di situlah proses pendidikan pertama dilakukan.

     “Orang tua harus menjadi orang tua yang siap mendidik, karena itu setiap calon orang tua harus menyiapkan diri untuk menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Itu namanya orang tua. Karena itu, saya mendukung program Kementerian Agama yang mensyaratkan kepada calon pengantin untuk mengikuti kursus pembinaan Keluarga Sakinah agar mereka mempunyai bekal yang cukup untuk membina keluarga baru,” jelasnya.

     Tentang trend munculnya sekolah berasrama atau pesantren elit, dalam pandangannya, itu merupakan fenomena dari kebutuhan orang tua untuk mencari tempat pendidikan yang baik bagi anaknya.

    “Para orang tua merasa dunia sekolah saat ini masih menghadapi berbagai kekurangan, dan ini membuat para orang tua gelisah dan ada rasa kekhawatiran, terutama terkait dengan kenakalan remaja dan perundungan. Karena itu, bila sekarang ini banyak bermunculan sekolah-sekolah berkonsep boarding school (sekolah berasrama) itu merupakan solusi dan alternatif bagi para orang tua dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka,” kata Tati.

     Meski demikian, ia mengingatkan soal pentingnya orang tua untuk tetap memberi perhatian dalam mendidik anak.

     “Sebagian orang tua memilih  fullday school, atau model pesantren, untuk menjadi pilihan mereka dalam menjamin mutu pendidikan anaknya. Ini merupakan pilihan yang menarik. Namun saya berharap agar orang tua tidak lepas tangan dan tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak itu kehilangan kasih sayang orang tuanya” jelas Tati yang jebolan Pendidikan Guru Agama (PGA) Bandung.

      Peran GUPPI

     Terkait dengan peran GUPPI di masa depan, Tati meminta agar para pengurus GUPPI harus terus membaca perubahan. GUPPI harus ikut berperan dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa, terutama dari kalangan Wanita GUPPI

     “Karena itu, saya berharap agar kawan-kawan pengurus dan anggota GUPPI, terutama Wanita GUPPI, harus bisa menjadi pembaca perubahan zaman, harus terus melakukan pembaruan sebagaimana semangat didirikannya GUPPI, yaitu gerakan pembaruan. Di dalam GUPPI ada kata pendidikan Islam, dan itu artinya kita harus ada di barisan paling depan dalam mengawal masa depan Pendidikan Islam di Indonesia. Kita ini yang harus mempelopori semangat keluarga, terutama kaum perempuan untuk menyiapkan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anak kita yang akan memimpin bangsa dan negara kita ini. Dan buat orang tua, mereka semua akan merasakan betapa kelak anak-anaknya akan menjadi generasi baru yang membanggakan dan membawa perubahan bagi umat Islam,” harapnya.

     Dalam pandangannya, pendidikan adalah sebuah gerakan yang membuka ruang kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan kebijakan. Masyarakat yang dimaksud adalah para penggiat dunia pendidikan, termasuk GUPPI.

     “Nah ini salah satu yang paling menantang, karena urusan pendidikan jangan hanya diserahkan kepada pemerintah, namun masyarakat juga harus punya partisipasi dan kontribusi yang nyata,” ujarnya.

     “Jadi kita memandang bahwa pendidikan ini sebagai sebuah gerakan, maka pemerintah harus membuka ruang dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dan berkolaborasi. Karena itu saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Pak Fasli Jalal beberapa waktu lalu agar GUPPI berkolaborasi dengan ormas-ormasi Islam untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam,” sambungnya.

     Lebih lanjut, berbicara soal gerakan Merdeka Belajar  yang saat ini digagas oleh Kemendikburistek, menurutnya itu adalah suatu langkah yang strategis untuk melakukan gerakan pembaharuan pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan Islam.

    Komentar

    41
  • SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    Oleh: Muhamad Murtadlo

    Dalam usianya yang ke 74, GUPPI sebentar lagi akan menjalankan muktamar untuk membentuk kepengurusan baru. Ibarat usia orang, angka 74 adalah angka usia yang sudah cukup renta. Secara factual kondisi organisasi GUPPI kebanyakan pengurus adalah generasi yang secara usia sudah di atas 65.

    Demikian juga, rentang garapan ormas GUPPI yang luas menunjukkan gejala penurunan gairah yang berpotensi menurunnya misi usaha pembaruan Pendidikan GUPPI.  Untuk itu salah satu tagline menjelang muktamar yang akan datang  yang belakangan mulai disebut-sebut adalah GUPPI Reborn atau GUPPI yang terlahir kembali. Hal ini dimaksudkan agar ada semangat baru, pendekatan baru dalam  ;mengelola GUPPI ini ke depan. Dan perlu disadari sesungguhnya GUPPI memiliki asset yang besar seperti  kepengurusan di berbagai daerah dan mempunyai satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan.

     Di samping itu, tantangan dunia Pendidikan belakangan ini mempunyai tantangan yang cukup kompleks seperti Pendidikan di masa disrupsi, Pendidikan era digital, Pendidikan dalam konteks bonus demografi. Keadaan ini menuntut visi layanan Pendidikan yang visioner dan kreatif, agar supaya tidak mati gaya di Tengah banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Sementara kondisi GUPPI dengan kepengurusan yang lebih banyak generasi babyboomer, generasi kelahiran 1945-1965, perlu mengakomodasi generasi X, Y, Z. mengingat sasaran Pendidikan hari ini adalah generasi Z, generasi yang sejak lahir sudah dikenalkan di media digital.

     Beberapa langkah sudah dilakukan kepengurusan GUPPI mengantisipasi tantangan yang kompleks ini misalnya dengan Menyusun blueprint Pendidikan menghadapai perkembangan teknologi Pendidikan, 3 tahun terakhir memasukkan anak-anak muda dalam kepengurusan GUPPI, meningkatkan frekwensi pertemuan melalui diskusi via zoom, mengaktifkan Kembali dengan menunjuk baru atau mengaktifkan orang lama untuk menghidupkan Kembali pengurus wilayah.  

    Demikian juga anak-anak muda yang baru masuk dengan cepat mengusulkan beberapa terobosan untuk menguatkan organisasi GUPPI misalnya untuk meningkatkan layanan satuan Pendidikan dimunculkan divisi khusus Bernama Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI. Disusul kemudian gagasan untuk membina profesi guru di lingkungan GUPPI dengan membentuk asosiasi profesi Gutu Bernama Persatuan Guru GUPPI (PERGUPPI). Organisasi yang terakhir ini baru dilantik di Tingkat pusat pada bulan Maret 2024.

     Beberapa terobosan tersebut tidak lain adalah dalam memaknai tagline ;GUPPI Reborn  di atas. Selama satu decade belakang, focus pemajuan organisasi GUPPI mengalami diversifikasi sesuai tantangan masing-masing jenjang atau kelompok orang GUPPI. Pada satuan pendidikannya, satuan Lembaga Pendidikan berkembang mengandalkan pada pengelola satuan Pendidikan masing-masing. Akibatnya, layanan Pendidikan GUPPI tidak merata. Ada yang berhasil menjadi sekolah unggul seperti Madrasah Ummushabri Kendari, dan kebanyakan berjalan apa adanya dan banyak Lembaga Pendidikan yang belum standar.

     Demikian juga pada keorganisasian GUPPI, dari tatal jumlah provinsi di Indonesia, hanya ada beberapa pengurus GUPPI wilayah yang aktif. Kebanyakan tidak aktif. Untungnya menjelang muktamar ini, terobosan baru pengurus adalah mencoba mengaktifkan Kembali pengurus-pengurus wilayah dan memberi kesempatan Menyusun kepengurusan baru pada wilayah-wilayah yang tidak aktif. Alhasil, muktamar GUPPI ke 7 yang akan dating akan bisa diikuti oleh lebih banyak pengurus wilayah.

     Melihat potensi GUPPI yang terlanjur menjadi organisasi kemasyarakatan, dan konon GUPPI merupakan salah satu dari 10 Ormas Islam pendiri organisasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) selain NU, Muhammadiyah, Al Wasliyah, Matlaul Anwar, DMI, PTDI, Syarikat Islam, Perti, Al Ittihadiyah; maka kita tidak bisa mundur ke belakang misalnya GUPPI hanya menjadi kelompok studi saja. Mau tidak mau, GUPPI perlu melihat kemungkinan menjadi organisasi kemasyarakatan yang mengusung konsep selain pembaruan adalah kemandirian.

     Ada paling tidak lima potensi yang bisa dimainkan dalam memaknai GUPPI reborn ini. Pertama, potensi GUPPI sebagai ormas dengan didudkung kepengurusan wilayah dan cabang. Kedua, potensi GUPPI yang memiliki jumlah satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan, yang konon pernah mencapai 1200 buah. Ketiga, potensi GUPPI yang memiliki jumlah guru dan tenaga pendidik yang tentunya berjumlah ribuan, dan mereka adalah tenaga inti usaha inovasi Pendidikan. Keempat, potensi GUPPI dengan jumlah aktifis Perempuan yang tentunya juga banyak, dan mereka terlibat tidak saja dalam layanan Pendidikan, organisasi GUPPI, tetapi juga pada Lembaga keluarga masing-masing. Kelima, potensi GUPPI sebagai organisasi pembaharu yang perlu melakukan terobosan lain dalam membangun kemajuan bangsa dalam konteks Pendidikan seperti pemberdayaan Pendidikan nonformal dan informal.

     Melihat lima potensi besar tersebut, GUPPI reborn perlu menindaklanjutinya menjadi kekuatan organisasi GUPPI. Dalam rangka menindaklanjuti tersebut stering Committee (SC) muktamar menyiapkan draft yang disebutnya sebagai Garis Besar Haluan (GBH) GUPPI. GBH GUPPI itu mengemas lima potensi itu menjadi lima horizon atau matra perjuangan GUPPI yang terdiri dari 1) GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Pemberdayaan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal.

     Berikut permasalahan dan agenda strategis GUPPI pada masing-masing horizon perjuangan:

    1. Mitra stategis organisasi kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam sejak awal memposisikan sebagai penyambung lidah organisasi kependidikan Islam yang lain di depan pemerintah. Posisi itu tentu bisa dimainkan secara maksimal bila posisi tawar politik GUPPI kuat. Ketika GUPPI menjadi tangan kanan partai penguasa GOlkar di masa orde baru, saat itu peran itu bisa dimainkan oleh GUPPI.

     Saat ini, posisi tawar GUPPI tidak sekuat dahulu, satu-satunya peluang untuk memainkan peran strategi situ adalah perlunya GUPPI merangkul kelompok intelektual dari berbagai Kementerian dan ormas untuk merumuskan tantangan Pendidikan terkini dan mencarikan jawabannya.

     Proses penguatan seperti di atas tentunya diharapkan tidak hanya terjadi di pengurus pusat, tetapi perlu diikuti oleh pengurus GUPPI di wilayah dan daerah. Karena itu, agaenda strategis bidang ini adalah penguatan kepengurusan GUPPI yang melibatkan intelektual, akademis dan praktis Pendidikan secara lintas sectoral.

    1. Mempertajam Keunggulan Layanan Satuan Pendidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan layanan satuan pendidikan, Keberadaan Lembaga Pendidikan GUPPI di berbagai wilayah di Indonesia yang banyak tentu butuh divisi khusus dalam organisasi GUPPI dalam mengembangkannya. Standar layanan satuan Pendidikan GUPPI yang tidak sama dan tidak merata diantara Lembaga-lembaga Pendidikan GUPPI merupakan permasalahan paling mencolok.

     Agenda strategis GUPPI di bidang ini, idealnya di setiap wilayah kepengurusan GUPPI mempunyai minimal satu Lembaga Pendidikan setiap jenjangnya (SD, SMP, SMA) yang menjadi sekolah unggulan yang diakui Masyarakat.  ;

     Keberadaan JSP GUPPI nantinya diharapkan menahkodai usaha GUPPI menuju ke sana.

    1. Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, disadari bahwa  ;sebagai SDM Pendidikan dan tenaga kependidikan GUPPI juga merupakan SDM paling inti dan terdepan dalam melakukan usaha inovasi Pendidikan (visi-misi GUPPI) perlu mendapat perhatian serius.  Rendahnya kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan GUPPI akan menjadi factor kegagalan yang utama juga dalam mengemban misi GUPPI. Karena dari contoh yang diberikan oleh ormasnya, Lembaga Pendidikan GUPPI akan dilihat eksistensinya.

     Agenda strategis untuk konteks ini, GUPPI perlu mendorong terus menerus agar SDM GUPPI selalu menguatkan kualifikasi dan kompetensi di bidang Pendidikan.  Untuk usaha ini, PERGUPPI sebagai Lembaga asosiasi profesi guru perlu didorong dibuka di semua jenjang kepengurusan GUPPI agar supaya intens mendengar permasalahan di lapangan dan aktif mencari jalan keluar.

    1. Meningkatkan peran serta Perempuan, Anak/remaja dan Lembaga Keluarga dalam Pendidikan.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga, GUPPI perlu melibat kaum Perempuan dalam memajukan Pendidikan Indonesia. Keberadaan kaum Perempuan yang sering menjadi korban akumulasi dari banyak masalah sosial, demikian juga Nasib ana-anak atau remaja yang salah didik, salah pergaulan atau terjebak dalam gaming internet, serta Lembaga keluarga yang belum optimal dalam menyiapkan generasi masa depan menjadi permasalahan paling utama dari fungsi GUPPI ini.

     Agenda strategis yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan peran Wanita GUPPI dalam merespon permasalahan-permasalahan tersebut. Kerjasama lintas sectoral sesama organisasi pemerhati Perempuan, anak dan keluarga ; sangat diperlukan untuk misi ini.

    1. Melakukan Langkah-langkah terobosan/alternatif dalam usaha mengedukasi Anak Bangsa.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal, GUPPI menyadari bahwa dalam melahirkan anak didik yang siapa mengisi dan memaknai zaman tidaklah cukup hanya mengandalkan Pendidikan formal. GUPPI perlu juga melibatkan atau menggagas pendekatan melalui usaha Pendidikan nonformal dan informal.

     Agenda strategis yang bisa dimainkan oleh ormas GUPPI di semua wilayah dengan cara merintis rumah-rumah kreasi untuk anak muda.  Terobosan ini juga punya nilai strategis bahwa usaha edukasi tidak saja melalui pendirian atau layanan sekolah, tetapi juga dengan bisa dilakukan dengan menghadirkan rumah-rumah kreasi. 

    Rumah kreasi ini diharapkan bisa menjadi rumah kegiatan bagi anak muda dalam mengenal persoalan hidup dan apa yang harus dimampui anak muda sesuai perkembangan zaman terkini. Rumah kreasi ini selain menjadi ruang kreasi, juga dapat menjadi simpul baru bagi warga GUPPI.

     Semoga bermanfaat.

    Komentar

    59
  • Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Oleh : Agus Sholeh

    Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah ritual untuk memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantoro, yang ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.  Dia lahir tepatnya tanggal 2 Mei 1989 dan meninggal pada tanggal 26 April 1959.

    Sebenarnya, namanya adalah Suwardi Suryaningrat, namun sejak 1923 namanya berubah menjadi Ki Hajar Dewantara, adalah seorang bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan, guru bangsa, kolumnis, politisi dan pelopor Pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

    Dia dikenal sebagai pendiri Perguruan Taman Siswa, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti yang dinikmati oleh para priayi maupun orang-orang Belanda.

    Pada 1959, Presiden Soekarno menganugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Dia juga dikenal dengan semboyan  ciptaannya, yaitu Tut Wuri Handayani, yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

    Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu “Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar”. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei. Bedanya, kalau tanggal 1 Mei itu adalah peringatan hari buru nasional, sekaligus juga Hari Buruh Internasional. Sedangkan tanggal 2 Mei hanya diperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

    Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan itu memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, Dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Mengaca pada mutu pendidikan nasional saat ini harus disadari bahwa kualitas pendidikan kita masih rendah, jauh dari kata kompetitif. Mengacu pada data Worldtop20.org peringkat pendidikan Indonesia tahun 2023 berada pada urutan ke-67 dari 203 negara. Peringkat tersebut berdasarkan lima tingkat pendidikan, yaitu tingkat pendaftaran sekolah anak usia dini: 68 %, tingkat penyelesaian Sekolah Dasar: 100 %, tingkat penyelesaian Sekolah Menengah: 91.19 %. tingkat kelulusan SMA: 78 % dan tingkat kelulusan Perguruan Tinggi: 19 %

    Sementara itu hasil penelitian Program for International Students Assesment (PISA) 2022, yang diumumkan pada 5 Desember 2023, Indonesia berada di peringkat 68 dari 203 negara dengan skor ; matematika (379), sains (398) dan membaca (371).

    Kurikulum Merdeka.

    Kondisi pendidikan nasional yang tidak menggembirakan ini tampaknya menjadi alasan Pemerintahan Joko Widodo untuk melakukan perubahan kurikulum nasional. Dan saat ini kita disibukkan dengan kurikulum baru yang baru saja dirilis oleh Mendikbudristem Nadiem Makarim tanggal 26 Mart 2024 lalu, yaitu Kurikulum Merdeka.

    Perubahan kurikulum tentu tidak serta merta dapat berjalan dengan mulus dan diterima semua pihak. Ada banyak kritik dan kontra terhadap kebijakan perubahan kurikulum nasional ini karena Mendikbudristek dianggap tidak konsisten dengan berbagai ucapan dan kritik terahdap kondisi Pendidikan nasional.

    Dalam berbagai kesempatan di awal masa jabatannya, Nadiem mengungkap ada 3 dosa besar di bidang pendidikan, yaitu perundungan/kekerasan, kekerasan seksual dan intoleransi.

    Namun perubahan kurikulum nasional yang baru yang dilakukan Nadiem tampaknya tidak menjawab problema 3 dosa besar di bidang pendidikan nasional tersebut. Kurikulum nasional yang dilaunching pada tanggal 26 Maret 2024 direspon oleh kalangan pendidikan dengan santai saja, bahkan terkesan skeptis. Apalagi juga liputan dari media juga terasa biasa-biasa saja, mungkin masih terkena imbas dari perhelatan Pemilu 2024 yang menghabiskan banyak energi dan emosi.

    Kurikulum baru, yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka, lebih sebagai upaya untuk membangun kesiapan siswa dalam belajar mandiri pasca Covid 19. Yang disebut dengan Merdeka Belajar. Persoalan perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi tidak mendapat jawaban yang memuaskan dalam kurikulum baru tersebut, padahal tahun pelajaran baru sudah nampak di depan pintu dan harus diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Pada dasarnya, perubahan kurikulum menemukan momentumnya  yang tepat saat ini dan akan menjadi legacy seiring dengan akan berakhirnya pemerintahan Jokowi di akhir 2024 ini.

    Bangsa ini membutuhkan suatu terobosan baru dalam bidang pendidikan setelah dua tahun kita dihantam oleh pandemi Covid 19. Kita mengalami pergeseran paradigma (paradigm shift) karena selama pandemi proses belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana mestinya (lost learning).

    Sejak Indonesia merdeka, dari 1945 sampai dengan 2023 ini, kurikulum pendidikan nasional telah berubah sebanyak 11 kali. Jadi, rata-rata hampir setiap enam tahun sekali kurikulum pendidikan nasional kita berubah.

    Akibat dari gonta-ganti kurikulum ini maka terlihat tidak adanya konsistensi kebijakan dalam peningkatan mutu Pendidikan. Karena itu tidak heran apabila output dan outcome pendidikan kita tidak dihargai dalam dunia pendidikan di luar negeri. Lulusan sekolah-sekolah kita dianggap penakut dan punya nyali untuk menembus menembus perguruan tinggi elit yang ada di belahan dunia sana. 

    Mental Penakut

    Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan pernyataan kontoversi Nadiem Makarim yang menyatakan bahwa siswa Indonesia itu penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di luar negeri. Karena itu tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang masuk di kampus top dunia.

    Menurut Nadiem, salah satu alasannya adalah banyak yang merasa takut dan tidak percaya diri untuk mendaftar kuliah atau beasiswa ke luar negeri.

    “Ini alasannya kenapa pada tidak masuk sekolah top. Satu alasannya, karena banyak yang enggak berani apply,” kata Nadiem di Kompas mengutip akun YouTube resmi penyanyi Putri Ariani, Jumat (22/3/2024).

    Pernyataan ini sebenarnya menampar muka Nadiem sendiri karena diucapkan sendiri oleh seseorang yang harusnya bertanggung jawab terhadap mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Bukan malah menyalahkan pihak lain, tapi seharusnya mencarikan solusi agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih hebat dan membangun kebanggan bangsa Indonesia.

    Dengan rendahnya mutu pendidikan Indonesia, maka lulusan dari Indonesia dianggap rendah dan tidak kompetitif. Maka tidak heran apabila siswa kita menjadi penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di universitas top di luar negeri, seperti ke Oxford di Inggris, ANU di Australia, Al Azhar di Mesir, atau ke Universitas Brown dan Harvard Bussiness School, keduanya di Amerika Serikat, yang merupakan kampusnya Nadiem Makarim.

    Namun demikian, masyarakat masih tetap memberikan harapan agar pemerintah serius dalam melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Karena itu perubahan kurikulum harus dibarengi dengan kesadaran dan kejujuran tentang masih lemahnya mutu pendidikan Indonesia. Tidak semata karena semangat ganti Menteri ganti kurikulum, seperti yang dikhwatirkan maasyarakat selama ini.

    Momentum Hari Pendidikan Nasional agar kita Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar, seperti Motto Hardiknas 2024, benar-benar berangakt dari suatu keinginan tulus agar dunia pendidikan kita dapat meningkatkan harkat hidup bangsa Indonesia menjadi manusia merdeka, merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

    Karena itu penting bagi semua pihak untuk mentauladani semboyan Ki Hajar Dewantoro yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan).

    Semboyan ini masih tetap aktual, terlebih di tengah situasi masyarakat yang masih terbelah setelah Pemilu 2024.

    Wassalam. 

    Penulis : Agus Sholeh (Pengurus DPP GUPPI dan Pembina Pesantren Al Ihsan Anyer Banten).

    Komentar

    58