Kategori: Berita

  • SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    Oleh: Muhamad Murtadlo

    Dalam usianya yang ke 74, GUPPI sebentar lagi akan menjalankan muktamar untuk membentuk kepengurusan baru. Ibarat usia orang, angka 74 adalah angka usia yang sudah cukup renta. Secara factual kondisi organisasi GUPPI kebanyakan pengurus adalah generasi yang secara usia sudah di atas 65.

    Demikian juga, rentang garapan ormas GUPPI yang luas menunjukkan gejala penurunan gairah yang berpotensi menurunnya misi usaha pembaruan Pendidikan GUPPI.  Untuk itu salah satu tagline menjelang muktamar yang akan datang  yang belakangan mulai disebut-sebut adalah GUPPI Reborn atau GUPPI yang terlahir kembali. Hal ini dimaksudkan agar ada semangat baru, pendekatan baru dalam  ;mengelola GUPPI ini ke depan. Dan perlu disadari sesungguhnya GUPPI memiliki asset yang besar seperti  kepengurusan di berbagai daerah dan mempunyai satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan.

     Di samping itu, tantangan dunia Pendidikan belakangan ini mempunyai tantangan yang cukup kompleks seperti Pendidikan di masa disrupsi, Pendidikan era digital, Pendidikan dalam konteks bonus demografi. Keadaan ini menuntut visi layanan Pendidikan yang visioner dan kreatif, agar supaya tidak mati gaya di Tengah banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Sementara kondisi GUPPI dengan kepengurusan yang lebih banyak generasi babyboomer, generasi kelahiran 1945-1965, perlu mengakomodasi generasi X, Y, Z. mengingat sasaran Pendidikan hari ini adalah generasi Z, generasi yang sejak lahir sudah dikenalkan di media digital.

     Beberapa langkah sudah dilakukan kepengurusan GUPPI mengantisipasi tantangan yang kompleks ini misalnya dengan Menyusun blueprint Pendidikan menghadapai perkembangan teknologi Pendidikan, 3 tahun terakhir memasukkan anak-anak muda dalam kepengurusan GUPPI, meningkatkan frekwensi pertemuan melalui diskusi via zoom, mengaktifkan Kembali dengan menunjuk baru atau mengaktifkan orang lama untuk menghidupkan Kembali pengurus wilayah.  

    Demikian juga anak-anak muda yang baru masuk dengan cepat mengusulkan beberapa terobosan untuk menguatkan organisasi GUPPI misalnya untuk meningkatkan layanan satuan Pendidikan dimunculkan divisi khusus Bernama Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI. Disusul kemudian gagasan untuk membina profesi guru di lingkungan GUPPI dengan membentuk asosiasi profesi Gutu Bernama Persatuan Guru GUPPI (PERGUPPI). Organisasi yang terakhir ini baru dilantik di Tingkat pusat pada bulan Maret 2024.

     Beberapa terobosan tersebut tidak lain adalah dalam memaknai tagline ;GUPPI Reborn  di atas. Selama satu decade belakang, focus pemajuan organisasi GUPPI mengalami diversifikasi sesuai tantangan masing-masing jenjang atau kelompok orang GUPPI. Pada satuan pendidikannya, satuan Lembaga Pendidikan berkembang mengandalkan pada pengelola satuan Pendidikan masing-masing. Akibatnya, layanan Pendidikan GUPPI tidak merata. Ada yang berhasil menjadi sekolah unggul seperti Madrasah Ummushabri Kendari, dan kebanyakan berjalan apa adanya dan banyak Lembaga Pendidikan yang belum standar.

     Demikian juga pada keorganisasian GUPPI, dari tatal jumlah provinsi di Indonesia, hanya ada beberapa pengurus GUPPI wilayah yang aktif. Kebanyakan tidak aktif. Untungnya menjelang muktamar ini, terobosan baru pengurus adalah mencoba mengaktifkan Kembali pengurus-pengurus wilayah dan memberi kesempatan Menyusun kepengurusan baru pada wilayah-wilayah yang tidak aktif. Alhasil, muktamar GUPPI ke 7 yang akan dating akan bisa diikuti oleh lebih banyak pengurus wilayah.

     Melihat potensi GUPPI yang terlanjur menjadi organisasi kemasyarakatan, dan konon GUPPI merupakan salah satu dari 10 Ormas Islam pendiri organisasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) selain NU, Muhammadiyah, Al Wasliyah, Matlaul Anwar, DMI, PTDI, Syarikat Islam, Perti, Al Ittihadiyah; maka kita tidak bisa mundur ke belakang misalnya GUPPI hanya menjadi kelompok studi saja. Mau tidak mau, GUPPI perlu melihat kemungkinan menjadi organisasi kemasyarakatan yang mengusung konsep selain pembaruan adalah kemandirian.

     Ada paling tidak lima potensi yang bisa dimainkan dalam memaknai GUPPI reborn ini. Pertama, potensi GUPPI sebagai ormas dengan didudkung kepengurusan wilayah dan cabang. Kedua, potensi GUPPI yang memiliki jumlah satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan, yang konon pernah mencapai 1200 buah. Ketiga, potensi GUPPI yang memiliki jumlah guru dan tenaga pendidik yang tentunya berjumlah ribuan, dan mereka adalah tenaga inti usaha inovasi Pendidikan. Keempat, potensi GUPPI dengan jumlah aktifis Perempuan yang tentunya juga banyak, dan mereka terlibat tidak saja dalam layanan Pendidikan, organisasi GUPPI, tetapi juga pada Lembaga keluarga masing-masing. Kelima, potensi GUPPI sebagai organisasi pembaharu yang perlu melakukan terobosan lain dalam membangun kemajuan bangsa dalam konteks Pendidikan seperti pemberdayaan Pendidikan nonformal dan informal.

     Melihat lima potensi besar tersebut, GUPPI reborn perlu menindaklanjutinya menjadi kekuatan organisasi GUPPI. Dalam rangka menindaklanjuti tersebut stering Committee (SC) muktamar menyiapkan draft yang disebutnya sebagai Garis Besar Haluan (GBH) GUPPI. GBH GUPPI itu mengemas lima potensi itu menjadi lima horizon atau matra perjuangan GUPPI yang terdiri dari 1) GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Pemberdayaan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal.

     Berikut permasalahan dan agenda strategis GUPPI pada masing-masing horizon perjuangan:

    1. Mitra stategis organisasi kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam sejak awal memposisikan sebagai penyambung lidah organisasi kependidikan Islam yang lain di depan pemerintah. Posisi itu tentu bisa dimainkan secara maksimal bila posisi tawar politik GUPPI kuat. Ketika GUPPI menjadi tangan kanan partai penguasa GOlkar di masa orde baru, saat itu peran itu bisa dimainkan oleh GUPPI.

     Saat ini, posisi tawar GUPPI tidak sekuat dahulu, satu-satunya peluang untuk memainkan peran strategi situ adalah perlunya GUPPI merangkul kelompok intelektual dari berbagai Kementerian dan ormas untuk merumuskan tantangan Pendidikan terkini dan mencarikan jawabannya.

     Proses penguatan seperti di atas tentunya diharapkan tidak hanya terjadi di pengurus pusat, tetapi perlu diikuti oleh pengurus GUPPI di wilayah dan daerah. Karena itu, agaenda strategis bidang ini adalah penguatan kepengurusan GUPPI yang melibatkan intelektual, akademis dan praktis Pendidikan secara lintas sectoral.

    1. Mempertajam Keunggulan Layanan Satuan Pendidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan layanan satuan pendidikan, Keberadaan Lembaga Pendidikan GUPPI di berbagai wilayah di Indonesia yang banyak tentu butuh divisi khusus dalam organisasi GUPPI dalam mengembangkannya. Standar layanan satuan Pendidikan GUPPI yang tidak sama dan tidak merata diantara Lembaga-lembaga Pendidikan GUPPI merupakan permasalahan paling mencolok.

     Agenda strategis GUPPI di bidang ini, idealnya di setiap wilayah kepengurusan GUPPI mempunyai minimal satu Lembaga Pendidikan setiap jenjangnya (SD, SMP, SMA) yang menjadi sekolah unggulan yang diakui Masyarakat.  ;

     Keberadaan JSP GUPPI nantinya diharapkan menahkodai usaha GUPPI menuju ke sana.

    1. Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, disadari bahwa  ;sebagai SDM Pendidikan dan tenaga kependidikan GUPPI juga merupakan SDM paling inti dan terdepan dalam melakukan usaha inovasi Pendidikan (visi-misi GUPPI) perlu mendapat perhatian serius.  Rendahnya kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan GUPPI akan menjadi factor kegagalan yang utama juga dalam mengemban misi GUPPI. Karena dari contoh yang diberikan oleh ormasnya, Lembaga Pendidikan GUPPI akan dilihat eksistensinya.

     Agenda strategis untuk konteks ini, GUPPI perlu mendorong terus menerus agar SDM GUPPI selalu menguatkan kualifikasi dan kompetensi di bidang Pendidikan.  Untuk usaha ini, PERGUPPI sebagai Lembaga asosiasi profesi guru perlu didorong dibuka di semua jenjang kepengurusan GUPPI agar supaya intens mendengar permasalahan di lapangan dan aktif mencari jalan keluar.

    1. Meningkatkan peran serta Perempuan, Anak/remaja dan Lembaga Keluarga dalam Pendidikan.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga, GUPPI perlu melibat kaum Perempuan dalam memajukan Pendidikan Indonesia. Keberadaan kaum Perempuan yang sering menjadi korban akumulasi dari banyak masalah sosial, demikian juga Nasib ana-anak atau remaja yang salah didik, salah pergaulan atau terjebak dalam gaming internet, serta Lembaga keluarga yang belum optimal dalam menyiapkan generasi masa depan menjadi permasalahan paling utama dari fungsi GUPPI ini.

     Agenda strategis yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan peran Wanita GUPPI dalam merespon permasalahan-permasalahan tersebut. Kerjasama lintas sectoral sesama organisasi pemerhati Perempuan, anak dan keluarga ; sangat diperlukan untuk misi ini.

    1. Melakukan Langkah-langkah terobosan/alternatif dalam usaha mengedukasi Anak Bangsa.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal, GUPPI menyadari bahwa dalam melahirkan anak didik yang siapa mengisi dan memaknai zaman tidaklah cukup hanya mengandalkan Pendidikan formal. GUPPI perlu juga melibatkan atau menggagas pendekatan melalui usaha Pendidikan nonformal dan informal.

     Agenda strategis yang bisa dimainkan oleh ormas GUPPI di semua wilayah dengan cara merintis rumah-rumah kreasi untuk anak muda.  Terobosan ini juga punya nilai strategis bahwa usaha edukasi tidak saja melalui pendirian atau layanan sekolah, tetapi juga dengan bisa dilakukan dengan menghadirkan rumah-rumah kreasi. 

    Rumah kreasi ini diharapkan bisa menjadi rumah kegiatan bagi anak muda dalam mengenal persoalan hidup dan apa yang harus dimampui anak muda sesuai perkembangan zaman terkini. Rumah kreasi ini selain menjadi ruang kreasi, juga dapat menjadi simpul baru bagi warga GUPPI.

     Semoga bermanfaat.

    Komentar

    59
  • Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Oleh : Agus Sholeh

    Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah ritual untuk memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantoro, yang ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.  Dia lahir tepatnya tanggal 2 Mei 1989 dan meninggal pada tanggal 26 April 1959.

    Sebenarnya, namanya adalah Suwardi Suryaningrat, namun sejak 1923 namanya berubah menjadi Ki Hajar Dewantara, adalah seorang bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan, guru bangsa, kolumnis, politisi dan pelopor Pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

    Dia dikenal sebagai pendiri Perguruan Taman Siswa, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti yang dinikmati oleh para priayi maupun orang-orang Belanda.

    Pada 1959, Presiden Soekarno menganugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Dia juga dikenal dengan semboyan  ciptaannya, yaitu Tut Wuri Handayani, yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

    Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu “Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar”. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei. Bedanya, kalau tanggal 1 Mei itu adalah peringatan hari buru nasional, sekaligus juga Hari Buruh Internasional. Sedangkan tanggal 2 Mei hanya diperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

    Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan itu memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, Dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Mengaca pada mutu pendidikan nasional saat ini harus disadari bahwa kualitas pendidikan kita masih rendah, jauh dari kata kompetitif. Mengacu pada data Worldtop20.org peringkat pendidikan Indonesia tahun 2023 berada pada urutan ke-67 dari 203 negara. Peringkat tersebut berdasarkan lima tingkat pendidikan, yaitu tingkat pendaftaran sekolah anak usia dini: 68 %, tingkat penyelesaian Sekolah Dasar: 100 %, tingkat penyelesaian Sekolah Menengah: 91.19 %. tingkat kelulusan SMA: 78 % dan tingkat kelulusan Perguruan Tinggi: 19 %

    Sementara itu hasil penelitian Program for International Students Assesment (PISA) 2022, yang diumumkan pada 5 Desember 2023, Indonesia berada di peringkat 68 dari 203 negara dengan skor ; matematika (379), sains (398) dan membaca (371).

    Kurikulum Merdeka.

    Kondisi pendidikan nasional yang tidak menggembirakan ini tampaknya menjadi alasan Pemerintahan Joko Widodo untuk melakukan perubahan kurikulum nasional. Dan saat ini kita disibukkan dengan kurikulum baru yang baru saja dirilis oleh Mendikbudristem Nadiem Makarim tanggal 26 Mart 2024 lalu, yaitu Kurikulum Merdeka.

    Perubahan kurikulum tentu tidak serta merta dapat berjalan dengan mulus dan diterima semua pihak. Ada banyak kritik dan kontra terhadap kebijakan perubahan kurikulum nasional ini karena Mendikbudristek dianggap tidak konsisten dengan berbagai ucapan dan kritik terahdap kondisi Pendidikan nasional.

    Dalam berbagai kesempatan di awal masa jabatannya, Nadiem mengungkap ada 3 dosa besar di bidang pendidikan, yaitu perundungan/kekerasan, kekerasan seksual dan intoleransi.

    Namun perubahan kurikulum nasional yang baru yang dilakukan Nadiem tampaknya tidak menjawab problema 3 dosa besar di bidang pendidikan nasional tersebut. Kurikulum nasional yang dilaunching pada tanggal 26 Maret 2024 direspon oleh kalangan pendidikan dengan santai saja, bahkan terkesan skeptis. Apalagi juga liputan dari media juga terasa biasa-biasa saja, mungkin masih terkena imbas dari perhelatan Pemilu 2024 yang menghabiskan banyak energi dan emosi.

    Kurikulum baru, yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka, lebih sebagai upaya untuk membangun kesiapan siswa dalam belajar mandiri pasca Covid 19. Yang disebut dengan Merdeka Belajar. Persoalan perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi tidak mendapat jawaban yang memuaskan dalam kurikulum baru tersebut, padahal tahun pelajaran baru sudah nampak di depan pintu dan harus diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Pada dasarnya, perubahan kurikulum menemukan momentumnya  yang tepat saat ini dan akan menjadi legacy seiring dengan akan berakhirnya pemerintahan Jokowi di akhir 2024 ini.

    Bangsa ini membutuhkan suatu terobosan baru dalam bidang pendidikan setelah dua tahun kita dihantam oleh pandemi Covid 19. Kita mengalami pergeseran paradigma (paradigm shift) karena selama pandemi proses belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana mestinya (lost learning).

    Sejak Indonesia merdeka, dari 1945 sampai dengan 2023 ini, kurikulum pendidikan nasional telah berubah sebanyak 11 kali. Jadi, rata-rata hampir setiap enam tahun sekali kurikulum pendidikan nasional kita berubah.

    Akibat dari gonta-ganti kurikulum ini maka terlihat tidak adanya konsistensi kebijakan dalam peningkatan mutu Pendidikan. Karena itu tidak heran apabila output dan outcome pendidikan kita tidak dihargai dalam dunia pendidikan di luar negeri. Lulusan sekolah-sekolah kita dianggap penakut dan punya nyali untuk menembus menembus perguruan tinggi elit yang ada di belahan dunia sana. 

    Mental Penakut

    Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan pernyataan kontoversi Nadiem Makarim yang menyatakan bahwa siswa Indonesia itu penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di luar negeri. Karena itu tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang masuk di kampus top dunia.

    Menurut Nadiem, salah satu alasannya adalah banyak yang merasa takut dan tidak percaya diri untuk mendaftar kuliah atau beasiswa ke luar negeri.

    “Ini alasannya kenapa pada tidak masuk sekolah top. Satu alasannya, karena banyak yang enggak berani apply,” kata Nadiem di Kompas mengutip akun YouTube resmi penyanyi Putri Ariani, Jumat (22/3/2024).

    Pernyataan ini sebenarnya menampar muka Nadiem sendiri karena diucapkan sendiri oleh seseorang yang harusnya bertanggung jawab terhadap mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Bukan malah menyalahkan pihak lain, tapi seharusnya mencarikan solusi agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih hebat dan membangun kebanggan bangsa Indonesia.

    Dengan rendahnya mutu pendidikan Indonesia, maka lulusan dari Indonesia dianggap rendah dan tidak kompetitif. Maka tidak heran apabila siswa kita menjadi penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di universitas top di luar negeri, seperti ke Oxford di Inggris, ANU di Australia, Al Azhar di Mesir, atau ke Universitas Brown dan Harvard Bussiness School, keduanya di Amerika Serikat, yang merupakan kampusnya Nadiem Makarim.

    Namun demikian, masyarakat masih tetap memberikan harapan agar pemerintah serius dalam melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Karena itu perubahan kurikulum harus dibarengi dengan kesadaran dan kejujuran tentang masih lemahnya mutu pendidikan Indonesia. Tidak semata karena semangat ganti Menteri ganti kurikulum, seperti yang dikhwatirkan maasyarakat selama ini.

    Momentum Hari Pendidikan Nasional agar kita Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar, seperti Motto Hardiknas 2024, benar-benar berangakt dari suatu keinginan tulus agar dunia pendidikan kita dapat meningkatkan harkat hidup bangsa Indonesia menjadi manusia merdeka, merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

    Karena itu penting bagi semua pihak untuk mentauladani semboyan Ki Hajar Dewantoro yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan).

    Semboyan ini masih tetap aktual, terlebih di tengah situasi masyarakat yang masih terbelah setelah Pemilu 2024.

    Wassalam. 

    Penulis : Agus Sholeh (Pengurus DPP GUPPI dan Pembina Pesantren Al Ihsan Anyer Banten).

    Komentar

    58
  • FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI  DENGAN ORMAS ISLAM

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    Jakarta (GUPPI) – Salah satu kandidat Ketua Umum GUPPI, Faisal Jalal mengatakan bahwa GUPPI harus membangun kolaborasi dengan ormas-ormas Islam untuk kemajuan pendidika di Indonesia.

    Hal itu dinyatakan oleh Fasli Jalal dalam diskusi dengan para pengurus DPP dan DPD GUPPI untuk mendapat masukan menjelang Muktamar GUPPI ke 10 yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2024, Jum’at, 26 April 2024.

    “GUPPI ke depan harus menjadi “Mitra Strategis” bagi lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Melalui strategi kemitraan ini diharapkan GUPPI dapat kembali mengambil peran dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Islam baik di tingkat daerah, nasional maupun global,” kata Fasli Jalal.

    Hal ini disampaikan oleh Fasli Jalal karena GUPPI merupakan salah satu dari 10 ormas Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Juli tahun 1975.

    Menurutnya, GUPPI harus melakukan pembenahan, baik kedalam maupun keluar, agar GUPPI dapat tampil kembali ke permukaan.

    “Manajemen dan SDM pendukung roda organisasi GUPPI harus dibenahi, termasuk dengan melibatkan melibatkan tenaga-tenaga muda, sekurang-kurangnya dengan tiga latar belakang akademik, yaitu manajemen, teknologi IT dan agama”, jelas Fasli Jalal.

    Ia juga berharap agar kantor Pusat GUPPI juga berada di tempat yang strategis sehingga dapat membangun komunikasi lebih mudah. 

    “Kalau perlu juga kantor pusat GUPPI ditata ulang lagi, baik manajemen maupun tampilan fisiknya sehingga dapat mendukung gerak organisasi’, tambah Fasli Jalal, yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas YARSI Jakarta, yang dikenal sebagai salah satu universitas Islam swasta papan atas di Indonesia, terutama dalam bidang kedokteran.

    Sebagaimana diketahui, GUPPI akan mengadakan Muktamar yang ke 10 pada tanggal 18-19 Mei 2024 di Jakarta setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Dalam Muktamar ini akan didakan pemilihan Ketua Umum GUPPI yang baru periode 2024 – 2029. Dan salah satu calon Ketua Umum GUPPI yang cukup popoler adalah Fasli Jalal.

    GUPPI merupakan organisasi masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi Jawa Barat dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya kemudian dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

     

    Biodata Fasli Jalal

    Fasli Jalal,  lahir di Padang, 1 September 1953 adalah seorang akademisi Indonesia, tokoh/praktisi pendidikan Indonesia, ahli gizi, pertumbuhan dan perkembangan anak dan birokrat Indonesia.

    Pada saat ini, Fasli Jalal menjabat sebagai Rektor Universitas Yarsi Jakarta setelah dilantik oleh Yayasan YARSI pada tahun 2019. Universitas Yarsi merupakan sedikit dari perguruan tinggi swasta Islam yang mempunyai reputasi tinggi dan dikenal sebagai universitas Islam yang top, termasuk kampus mahal. Salah satu kebanggaan dari universitas Islam ini adalah adanya fakultas kedokteran dan fakultas kedokteran gigi yang tearkreditas Unggul.

    Fasli Jalal pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (BKKBN) untuk periode 2013 – 2015, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk periode 2010-2011, mendampingi Muhamad Nuh, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada periode 2007-2010.

    Dia memulai pendidikan tingginya di Fakultas Kedokteran Universitas AndalasPadang, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA Negeri Padang Panjang. Pada tahun 1981, Fasli menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya di Universitas Andalas. Kemudian, pada tahun 1991 mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam bidang Ilmu Gizi Masyarakat (dengan Minor di bidang Epidemiologi dan Program Studi Asia Tenggara) dari Universtas CornellIthacaNew York.

    Selamat bermuktamar GUPPI yang ke 10.

    Moga-moga lancar dan penuh keberkahan. (Gus).

    Komentar

    48
  • GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    Jakarta – Menjawab tantangan dan dinamika perubahan zaman yang semakin komplek, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) perlu menajamkan langkah gerakan ke depan.

    Demikian salah satu point penting yang merupakan hasil diskusi GUPPI yang bertempat di Universitas Yarsi Jakarta yang dihadiri beberapa tokoh Pendidikan seperti Fasli Jalal (Rektor Univ Yarsi), Amich Alhumami (Deputi Bappenas), Adlin Sila dan Tatang Muttaqin (Staf Ahli Kemendikbud). Mereka diundang dalam kapasitasnya untuk memberi masukan apa yang sebaiknya dilakukan oleh GUPPI sebagai salah satu organisasi kependidikan dan mitra pemerintah memajukan dunia Pendidikan.

    Hadir dalam forum konsultasi itu Imam Tolkhah (Ketua GUPPI), Nurhayati Djamas (Ketua Wanita GUPPI), Murtadlo (Peneliti Senior BRIN), Syamsudin (Mantan Karocan Kemenag), Suryadi nomi (Dosen UMJ), Rusdy Zakaria (Dosen UIN Jakarta) dan banyak tokoh lain serta para pengurus GUPPI dan Wanita GUPPI di ibukota Jakarta dan sekitarnya.

     Dalam masukannya, Fasli Jalal memandang bahwa GUPPI perlu mengoptimalkan peran keluarga dalam penguatan Pendidikan karakter anak. Dalam perubahan sosial yang cepat, lembaga keluarga perlu mendapatkan perhatian organisasi kependidikan seperti GUPPI untuk aktif mengantisipasi dan memperkuat karakter anak. GUPPI tidak cukup hanya mengurususi lembaga pendidikan formal saja, tetapi lembaga pendidikan informal dan nonformal seperti keluarga penting mendapat perhatian.

     Sementara itu, Amich Alhumami memberikan evaluasi, sebagai organisasi yang pernah dibesarkan partai pemerintah di masa orde baru, kebanyakan organisasi seperti itu memang ketika lepas atau tidak lagi menjadi organisasi sayap biasanya melemah. Seperti hidup segan tapi tidak mati. Namun di lapangan, sesungguhnya terdapat salah satu organisasi sipil yang pernah menjadi organisasi sayap partai penguasa dan ketika terlepas dari pemerintah akhirnya mampu menjadi organisasi mandiri. Terlepas dari segala catatan bahwa kelompok ini maasih dalam tahapan pembinaan MUI, LDII berhasil menjadi komunitas yang mandiri dengan kekuatan ekonomi yang dibangunnya. Mungkinkah GUPPI dari aspek kemandirian bisa punya kemampuan yang sama, mengingat core bisnis GUPPI adalah dunia pendidikan yang didukung adanya asset lembaga pendidikan.

     Adlin Sila, Staf Ahli Kemendikbud, menyatakan bahwa sesungguhnya kebijakan kurikulum Merdeka yang digulirkan Kemendikbud saat ini lebih membuka fleksibelitas dalam menggunakan metode pembelajaran dalam mewujudkan  karakter diinginkan. Dengan kurikulum Merdeka, tujuan GUPPI membangun pendidikan untuk membangun peserta didik lebih berkarakter lebih leluasa, tuturnya.

     Menjawab arah layanan lembaga pendidikan GUPPI, Suryadi Nomi yang dipercaya mengkoordinasikan Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI  menjelaskan tentang belakangan ini mendiskusikan kegagalan pendidikan formal yang ada saat ini tidak maksimal menemukan talent masing-masing anak didik. Karena itu, Pendidikan dengan terobosan pendidikan yang menghasilkan talent semua peserta didik perlu dikembangkan. Sekolah multi talent menjadi salah satu jawabannya, Suryadi Mengaris bawahi.

     Menanggapi ke arah mana GUPPI ke depan berperan, Murtadlo yang merupakan salah satu kontributor penyusunan Blueprint, mencoba menawarkan dari berbagai potensi yang ada dalam keormasan GUPPI, sebaiknya organisasi ini menyusun beberapa matra perjuangan. Ada yang sifatnya menjadikan GUPPI sebagai organisasi atau media komunikasi konsultasi usaha pembaruan pendidikan, ada yang focus pada penguatan layanan satuan pendidikan, ada juga focus pada penguatan kompetensi pendidikan dan tenaga kependidikan dan termasuk kemungkinan pendidikan yang memberi ruang. Menurutnya, Pengurus GUPPI perlu mempertajam hal itu dalam beberapa matra agar focus masing-masing matranya.

     Lima Matra Haluan GUPPI

     Dari hasil konsultasi tersebut, Tim SC Muktamar GUPPI segera menindaklanjutinya dengan menyusun matra perjuangan GUPPI ke depan. Bahan dari Blueprint yang pernah disusun sebelumnya, dikembangkan menjadi Garis Besar Perjuangan GUPPI. Namun supaya garis besar ini khas GUPPI, diskusi menyepakatinya menjadi Garis Besar Haluan GUPPI. Buku ini semacam arahan perjuangan GUPPI ke depan yang dipertajam dalam focus, program, startegi dan indicator untuk mengukur keberhasilannya.

     Dalam usianya yang ke 74 (1950-2024), GUPPI menghadapi tantangan dunia pendidikan yang mengalami disrupsi dengan tantangan lokal maupun global yang semakin kompleks. Dalam perkembangannya, GUPPI telah mengalami beberapa fase perjuangan yang dinamikanya sangat ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal GUPPI. Sejauh ini, keberhasilan GUPPI diakui belum semaju ormas Muhammadiyah, NU atau organisasi kependidikan yang datang kemudian seperti Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

     Hal itu disebabkan karena GUPPI masih sebatas potensi terserak yang belum ditata sedemikian rupa. Pada masa awal (1950-1965), GUPPI masih sebatas semangat para ulama dan praktisi pendidikan yang masih terbatas pada wilayah penyangga Ibukota negara Indonesia (Jawa Barat). Misi perjuangan saat itu, adalah memperjuangkan agar lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren mendapatkan layanan dan pembinaan langsung dari negara. Usaha itu berhasil diwujudkan di masa berikutnya. ;

     Pada masa orde Baru (1965-1998), GUPPI berjaya menjadi ormas yang bersifat nasional, karena diakomodasi oleh kekuatan partai politik yaitu Golkar. Pada masa ini keberhasilan GUPPI ditandai dengan berkembangnya pengurus wilayah dan cabang GUPPI di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanda yang lain, di masing-masing daerah berdiri lembaga pendidikan atas nama GUPPI yang saat itu mencapai sekitar 1200 lembaga pendidikan GUPPI.

     Pada masa Reformasi (1998-2023), bersamaan dengan turunnya pamor partai berkuasa Golkar, GUPPI ingin kembali ke gerakan pendidikan dan menyatakan diri sebagai organisasi non partisan. Pilihan ini dilakukan untuk mengembalikan organisasi GUPPI untuk fokus pada penguatan layanan pendidikan.

    Implikasi lain, dengan berpisahnya GUPPI dari Golkar menyebabkan satuan pendidikan GUPPI yang jumlahnya ratusan ini harus melakukan usaha survival sendiri-sendiri dengan daya dukung masing-masing. Sebagian kecil berhasil menjadi sekolah unggulan seperti Yayasan Pendidikan Ummushabri di Kendari, namun kebanyakan masih seperti sekolah swasta lainnya yang dengan sumber daya yang terbatas.

    Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan GUPPI yang tutup atau mengalami akuisisi oleh pihak lain, menjadi yayasan yang sifatnya personal dan ada juga yang berhasil dinegerikan.

     Saat ini setelah dunia mengalami disrupsi, khususnya semenjak dunia mengalami pandemi global Covid 19, dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks serta tantangan bonus demografi di Indonesia yang menuntut kompetensi lulusan lembaga pendidikan harus mempunyai skills lebih, maka GUPPI Merasa perlu menata kembali gerakannya dengan menyusun Garis Besar Haluan (GBH-GUPPI).

     Naskah GBH GUPPI ini menjadi bahasa penjelas beberapa amal usaha yang akan dilakukan GUPPI ke depan. GUPPI ke depan akan tampil dengan 5 matra haluan gerakan yang terdiri dari: 1) GUPPI sebagai organisasi Komunikasi dan Konsultasi Pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, penguatan pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem lembaga pendidikan.

     Kehadiran GBH GUPPI ini disusun yang semula semacam blueprint yang kemudian dikembangkan menjadi Garis Besar Haluan Gerakan. GBH GUPPI akan menjadi salah satu dokumen penting yang akan dihasilkan dan ditetapkan dalam Muktamar ke 7 GUPPI yang diselenggarakan pada tahun 2024 di Jakarta.

    Komentar

  • GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) akan mengadakan Muktamar yang ke 10 yang akan dilaksanakan pada pertengahan Mei 2024 setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Muktamar GUPPI ke 10 akan dilaksanakan di Jakarta selama dua hari, yaitu pada 18 – 19 Mei 2024.

    GUPPI merupakan organisasi Masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

    Perubahan kata “Gabungan” dengan “Gerakan” dan kata “Perbaikan” dengan “Pembaruan” pada dasarnya tidak bersifat substantif dalam arti tidak merubah tujuan dan cita-cita dasar GUPPI untuk melakukan revitalisasi, perbaikan dan pembaruan pendidikan Islam.

    Muktamar mempunyai tugas dan kewewenangan sebagai wahana untuk penyampaian  laporan pertanggungjawaban  DPP GUPPI, periode  2011 – 2016, diperpanjang  dengan periode  2016 – 2021, diperpanjang kembali  2021 – 2024, melalui Rapat Pleno DPP GUPPI; Penyusunan Program Kerja DPP GUPPI  masa jabatan 2024 – 2029; Penyempurnakan  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GUPPI; dan Pengesahan  konsep Blueprint Pembaruan Pendidikan Islam  GUPPI.

    Yang juga sangat penting dalam Muktamar ini adalah pemilihan Ketua GUPPI dan para pimpinan untuk kepengurusan DPP GUPPI periode 2024 – 2029 dan Penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum DPP GUPPI masa Jabatan  2024 – 2029.  

    Di Muktamar ini, akan hadir para utusan DPD GUPPI dari 34 propinsi, utusan Wanita GUPPI, utusan Badan Otonomo dan undangan.

    Untuk agenda Muktamar sendiri, dimulai dengan pembukaan Muktamar pada Sabtu malam (18/5/2024) dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib, penetapan pimpinan sidang, penetapan peserta dan laporan Ketua Umum GUPPI periode 2021 – 2024.

    Pada hari Ahad (19/5/2024) akan dilanjutkan dengan pembahasan AD/ART, Pembahasan Blue Print/Program Kerja dan Pemilihan Calon Ketua Umum GUPPI periode 2024 -2029.

    Penutupan Muktamar sendiri akan dilaksanakan dengan pembacaan keputusan Muktamar ke-10 oleh presidium sidang. Selain itu ada sambutan-sambutan antara lain Ketua Umum Demisioner, Ketua Umum Terpilih, dan amanat Dewan Pembina GUPPI sekaligus menutup Muktamar.

    Calon Ketua Umum

    Bursa calon Ketua Umum yang baru mulai menjadi bahan pembicaraan siapa calon pengganti Imam Tholkhah, yang sudah memimpin GUPPI selama dua periode.

    Beberapa Pengurus DPP GUPPI menyebut sudah mengantongi sejumlah nama yang siap memegang tampuk kepemimpinan GUPPI dalam Muktamar GUPPI ke 10 nanti. 

    Syamsuddin, mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama sudah mengantongi sejumlah nama calon Ketua Umum GUPPI Periode 2024 – 2028.

    “Ada sejumlah nama yang mengemuka dalam diskusi-diskusi pengurus DPP GUPPI, namun belum terkonfirmasi dengan jelas. Ada birokrat, akademisi dan pengusaha. Tapi masih terbuka dengan nama-nama lain yang akan muncul”, kata Syamsuddin.

    Apakah ada tokoh politik dalam bursa calon Ketua Umum GUPPI ? Syamsuddin mengaku akan lebih baik kalau GUPPI dipimpin oleh kalangan birokrat atau pengusaha, bukan politisi.

    “Saya lebih sreg saja kalau ketuanya itu kalangan birokrat, akademisi atau pengusaha yang concern dengan upaya pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Biar GUPPI tidak masuk lagi ke wilayah politik seperti dulu”, tambah Syamsuddin yang sekarang produktif menerbitkan buku-buku motivasi.

    Dirinya juga mengatakan tidak akan mencalonkan diri dalam muktamar yang akan datang, dan berharap ada tokoh yang lebih mumpuni.

    “Melihat kondisi dan tantangan GUPPI saat ini kita perlu pemimpin yang sesuai dengan tuntutan masa depan pendidikan Islam dan pendidikan nasional kita. Kita berharap GUPPI dipimpin oleh tokoh yang dapat mewarnai dunia pendidikan nasional”, tambah Syamsuddin.

    Sementara itu Rusydi Zakaria, dosen UIN Jakarta yang juga Ketua Pengarah Muktamar mengatakan bahwa Muktamar GUPPI X akan diadakan di Jakarta pada bulan Mei 2024. Muktamar ini tertunda sehubungan dengan adanya wabah Covid 19 yang melanda dunia tahun 2020.

    “Muktamar GUPPI ke 10 seharusnya dilaksanakan tahun 2023 kemarin, namun karena adanya wabah Covid 19, maka baru akan dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2024 ini”, kata Rusydi.

    Rusydi juga mengatakan bahwa saat ini belum muncul satu figure yang paling menonjol untuk memimpin GUPPI yang akan datang.

    “GUPPI ke depan menghadapi tantangan yang berat, selain karena kita baru lepas dari musibah Covid 19, namun kita juga menghadapi realitas mutu pendidikan kita yang masih rendah”, tambah Rusydi.

    Karena itu dia berharap bahwa GUPPI akan dipimpin oleh seorang figure yang kuat, baik kompetensi leadershipnya maupun jaringannya.

    “Kita memerlukan Ketua GUPPI yang sudah selesai dengan urusan dirinya, sehingga bisa membawa GUPPI ke arah usaha pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia yang lebih terarah”, harapnya. 

    Senada dengan itu, Hasan M Noer, peneliti pendidikan alumni IAIN Jogjakarta mengatakan bahwa tidak mudah untuk mengembalikan GUPPI sebagai organisasi pembaharu Pendidikan di Indonesia.

    “Kita menghadapi sikap skeptis masyarakat terhadap mutu lembaga pendidikan Islam, lemahnya visi dan misi kelembagaan, dan rendahnya daya saing lulusan lembaga pendidikan”, kata Hasan M Noer.

    Karena itu menurutnya, harus ada upaya yang serius dan konstruktif dari pengurus GUPPI yang akan datang untuk terus melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.

    “Kita perlu Ketua Umum GUPPI yang bisa membangun kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan Islam, menentukan visi dan misi pendidikan Islam yang progresif, menyiapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan mencetak lulusan yang memiliki daya saing tinggi”, tambahnya. (gus)

    Komentar