Kategori: Berita

  • DPP GUPPI Akan Gelar Serial Diskusi, Kawal Revisi UU Sisdiknas

    DPP GUPPI Akan Gelar Serial Diskusi, Kawal Revisi UU Sisdiknas

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

     

    DPP GUPPI Akan Gelar Serial Diskusi, Kawal Revisi UU Sisdiknas

    Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) akan menggelar serial diskusi untuk membahas sejumlah isu strategis sebagai respons terhadap rencana revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Forum ini diharapkan menjadi ruang bagi GUPPI untuk memberikan kontribusi pemikiran sekaligus menyusun masukan substantif bagi pembentuk kebijakan pendidikan nasional.

    Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Fasli Jalal mengatakan, momentum revisi UU Sisdiknas perlu dimanfaatkan untuk memberikan masukan konstruktif kepada DPR sehingga undang-undang yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab kebutuhan pendidikan nasional.

    “GUPPI ingin mengambil momentum ini untuk memberikan masukan kepada DPR agar Sisdiknas yang baru nanti lebih aktual dan menjadikan pendidikan nasional lebih bermartabat,” kata Prof. Fasli Jalal, Jumat, 4 September 2026.

    Menurut Fasli, pendidikan nasional membutuhkan landasan kebijakan yang tidak hanya kuat secara regulatif, tetapi juga mampu memberikan arah bagi peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Karena itu, berbagai persoalan pendidikan perlu dilihat secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

    “Rencana revisi UU Sisdiknas menjadi momentum penting untuk menata kembali arah pendidikan nasional agar lebih mampu menjawab berbagai perubahan dan tantangan yang berkembang. Persoalan guru dan dosen, tata kelola pendidikan, pembiayaan, pendidikan karakter, pendidikan tinggi, hingga posisi pesantren dan pendidikan keagamaan menjadi bagian penting yang perlu mendapatkan perhatian,” tambah Fasli.

    Melalui serial diskusi tersebut, kata Fasli, GUPPI ingin mengambil bagian dalam proses pembaruan kebijakan pendidikan nasional.

    “Forum tidak sekadar dimaksudkan untuk membahas isi rancangan regulasi, tetapi juga menggali gagasan dan pengalaman dari para pakar serta praktisi pendidikan untuk menghasilkan rekomendasi yang relevan dengan kebutuhan pendidikan Indonesia,” jelasnya.

     Enam Isu Strategis

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP GUPPI Rusydi Zakaria mengatakan, serial diskusi tersebut akan membahas enam isu strategis yang dinilai akan memengaruhi masa depan pendidikan nasional.

    “Serial diskusi akan membahas enam isu strategis, termasuk masalah guru dan dosen, isu yang sangat strategis dalam tatanan pendidikan nasional di masa depan,” ujar Rusydi.

    Rusydi menambahkan, enam isu tersebut telah menjadi perhatian dan pertimbangan DPP GUPPI. Keenamnya dinilai memiliki posisi penting dalam upaya membangun sistem pendidikan nasional yang berkeadilan, bermutu, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

    Pertama, guru dan dosen. Persoalan status, pemerataan, kesejahteraan, kompetensi, serta perlindungan hukum bagi tenaga pendidik akan menjadi salah satu pembahasan utama. Guru dan dosen merupakan aktor kunci dalam peningkatan mutu pendidikan sehingga kebijakan pendidikan nasional harus memberikan kepastian dan dukungan yang memadai bagi mereka.

    Kedua, anggaran dan pembiayaan pendidikan. Pembahasan akan menyoroti pemenuhan amanat 20 persen anggaran pendidikan dalam APBN/APBD, sekaligus melihat efektivitas, transparansi, dan pemerataan pemanfaatannya. GUPPI memandang anggaran pendidikan harus benar-benar memberikan dampak bagi sekolah, madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya.

    Ketiga, tata kelola pendidikan. Isu desentralisasi, akuntabilitas, koordinasi antarlembaga, serta sinergi kementerian yang menangani pendidikan akan menjadi perhatian. Tata kelola yang efektif diperlukan agar penyelenggaraan pendidikan tidak terjebak pada persoalan birokrasi dan tumpang tindih kewenangan.

    Keempat, pendidikan karakter. Di tengah perkembangan teknologi digital dan berbagai tantangan nilai yang dihadapi generasi muda, penguatan karakter menjadi agenda yang tidak dapat diabaikan. Peran guru, keluarga, dan komunitas pendidikan perlu diperkuat dalam membangun peserta didik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki budi pekerti.

    Kelima, pendidikan tinggi. Diskusi akan melihat relevansi kurikulum, penguatan riset, serta kemandirian perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu menghadapi perubahan dan memanfaatkan bonus demografi.

    Keenam, pesantren dan pendidikan keagamaan. Sebagai bagian penting dari sejarah dan ekosistem pendidikan Indonesia, pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan perlu memperoleh perhatian yang proporsional dalam regulasi pendidikan nasional. Penguatan regulasi dan pembiayaan diharapkan dapat mendukung peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, dan peradaban bangsa.

    Para Pakar GUPPI

    Rusydi Zakaria mengatakan, serial diskusi tersebut akan dilaksanakan dalam enam sesi dengan menghadirkan sejumlah pakar dan tokoh pendidikan yang saat ini terlibat di DPP GUPPI maupun memiliki kepakaran pada bidang yang dibahas.

    “Serial diskusi akan kita mulai pada tanggal 9 September 2026 dengan menghadirkan para pakar yang ada di DPP GUPPI dan memang memiliki kepakaran dalam bidangnya. Kita berharap GUPPI dapat memberikan masukan strategis dalam tatanan pendidikan nasional di masa depan,” ujar Rusydi.

    Pada sesi perdana, Rabu, 9 September 2026, diskusi akan membahas isu guru dan dosen dengan menghadirkan Bahrul Hayat, Ph.D., Wakil Ketua DPP GUPPI dan dosen di UIII Depok, serta Dr. Abdul Rozak, Sekretaris Dewan Pakar DPP GUPPI dan dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Sesi kedua akan membahas anggaran dan pembiayaan pendidikan dengan menghadirkan Amich Alhumami, M.Ed., Ph.D., Ketua Harian DPP GUPPI, dan Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP., dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

    Sesi ketiga akan membahas tata kelola pendidikan dengan narasumber Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Dr. Abdul Munir dari INOVASI.

    Sementara sesi keempat akan membahas pendidikan karakter dengan narasumber Prof. Dr. Husni Rahim, Ketua Dewan Penasihat GUPPI, dan Dr. dr. Adian Husaini, M.Si., Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII).

    Pada sesi kelima akan membahas Pendidikan Tinggi dengan pembicara Dr. Marzuki Ali, M. Si, Wakil Ketua Dewan Penasihat GUPPI dan Rektor Universitas Indo Global Mandiri Palembang dan Dr. Ida Zahara Adiba, M.Si, Wakil Ketua Dewan Pakar DPP GUPPI dan Rektor Undaris Ungaran Semarang.

    Pada sesi keenam akan membahas Pesantren dan Pendidikan Keagamaan dengan pembiacara Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, MA., M. Ed., M. Phil, REktor Universitas Darussalam Gontor. dan Dr. Ahmad Jayadi, MA, anggota Dewan Pakar GUPPI.

    DPP GUPPI berharap serial diskusi ini tidak berhenti sebagai forum akademik, tetapi menghasilkan rekomendasi yang dapat menjadi bahan substantif bagi DPR dan pembentuk kebijakan dalam proses revisi UU Sisdiknas.

    “GUPPI ingin memastikan bahwa pembaruan sistem pendidikan nasional tidak hanya menghasilkan regulasi yang bersifat administratif dan regulatif, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang berpihak pada peningkatan mutu, pemerataan, keadilan, dan martabat pendidikan Indonesia,” tambah Rusydi. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    79
  • Muhibbah ke Jawa Tengah,  DPP GUPPI Dorong Penataan Aset dan Revitalisasi Organisasi

    Muhibbah ke Jawa Tengah, DPP GUPPI Dorong Penataan Aset dan Revitalisasi Organisasi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Muhibbah ke Jawa Tengah, DPP GUPPI Dorong Penataan Aset dan Revitalisasi Organisasi

    Semarang – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) mendorong penataan aset dan revitalisasi organisasi GUPPI di Jawa Tengah sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali gerakan pembaruan pendidikan Islam di daerah.

    Dorongan tersebut mengemuka dalam agenda Muhibbah DPP GUPPI ke Undaris dan DPW GUPPI Jawa Tengah yang berlangsung di Semarang, 1–3 September 2026. Kunjungan ini tidak sekadar menjadi forum silaturahmi, tetapi juga menghasilkan sejumlah langkah konkret terkait penyelesaian aset, persiapan Musyawarah Wilayah (Muswil), serta penguatan jejaring kerja sama pendidikan.

    Agenda Muhibbah tersebut merupakan tindak lanjut amanat Rapat Kerja DPP GUPPI pada 18 Juli 2026 di Ciputat, Tangerang Selatan. Tim DPP GUPPI dipimpin Sekretaris Jenderal DPP GUPPI Rusydy Zakaria, bersama Syamsuddin, Agus Sholeh, Hasan M. Noor, dan Aden Daenuri.

    Ada tiga agenda utama yang dibawa dalam kunjungan tersebut. Pertama, melakukan penataan aset GUPPI di Jawa Tengah yang diharapkan dapat menjadi model penyelesaian persoalan aset GUPPI di daerah lain. Kedua, mendorong DPW GUPPI Jawa Tengah mempersiapkan Muswil karena masa kepengurusan akan berakhir pada 31 Maret 2027. Ketiga, membuka kembali komunikasi dan konsolidasi melalui program “Menyapa” dengan DPW GUPPI Jawa Tengah dan Undaris.

    Aset GUPPI Perlu Ditata dan Diselamatkan

    Salah satu agenda strategis Muhibbah adalah rapat gabungan penataan aset yang mempertemukan DPP GUPPI, DPW GUPPI Jawa Tengah, Undaris, dan DPD Golkar Jawa Tengah.

    Dari DPD Golkar Jawa Tengah hadir Mohammad Sholeh, Ketua DPW Golkar Jawa Tengah, Yusuf Hidayat, Catur Agus Saptono, Muhammad Iqbal Wibisono. Sementara dari DPW GUPPI Jawa Tengah hadir Ketua DPW GUPPI Jawa Tengah Hono Sejati, Ida Zahara Adibah, Wakil Ketua DPW GUPPI Jawa Tengah, yang juga Rektor Undaris Semarang.

    Forum tersebut menjadi momentum untuk memotret kondisi aset GUPPI di Jawa Tengah sekaligus membicarakan langkah penyelesaian terhadap aset yang masih menghadapi berbagai persoalan.

    Bagi GUPPI, aset bukan sekadar persoalan administrasi atau kepemilikan. Aset merupakan bagian dari sejarah perjuangan organisasi dan harus dapat dijaga serta dimanfaatkan untuk mendukung keberlanjutan gerakan pendidikan Islam.

    Hasil rapat menyepakati agar DPW GUPPI Jawa Tengah segera menyampaikan surat kepada DPD Golkar Jawa Tengah untuk meminta dukungan penyelesaian aset yang bermasalah, dengan tembusan kepada DPP GUPPI.

    Langkah tersebut akan dilanjutkan dengan penyusunan dan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara DPW GUPPI Jawa Tengah dan DPD Golkar Jawa Tengah sebagai acuan bersama dalam proses penataan aset.

    DPP GUPPI berharap pengalaman Jawa Tengah dapat menjadi pembelajaran sekaligus model penyelesaian aset GUPPI di wilayah lain. Dengan demikian, persoalan aset tidak berlarut-larut, tetapi dapat diselesaikan melalui komunikasi, sinergi, dan langkah kelembagaan yang jelas.

    Menjelang Muswil, Organisasi Perlu Dihidupkan Kembali

    Agenda kedua yang tidak kalah penting adalah revitalisasi organisasi DPW GUPPI Jawa Tengah.

    Masa kepengurusan DPW GUPPI Jawa Tengah akan berakhir pada 31 Maret 2027. Karena itu, persiapan Muswil perlu dilakukan sejak sekarang agar proses regenerasi kepemimpinan berlangsung tertib dan mampu menghasilkan kepengurusan yang lebih aktif, solid, dan responsif terhadap tantangan pendidikan Islam.

    Kunjungan DPP GUPPI sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat kondisi organisasi secara langsung. Dari hasil kunjungan, DPP melihat bahwa aktivitas organisasi di Jawa Tengah masih memerlukan penguatan dan konsolidasi.

    Kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama. GUPPI Jawa Tengah memiliki sejarah dan potensi besar untuk kembali tampil sebagai kekuatan pembaruan pendidikan Islam. Karena itu, revitalisasi organisasi tidak cukup hanya dengan membentuk struktur kepengurusan, tetapi harus diikuti dengan program nyata, komunikasi yang intensif, serta kemampuan membangun jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan.

    Muswil nantinya diharapkan tidak sekadar menjadi agenda rutin pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum kebangkitan kembali GUPPI Jawa Tengah.

    Undaris dan Penguatan Ekosistem Pendidikan

    Muhibbah DPP GUPPI juga menyasar Undaris yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar No. 13, Ungaran, Kabupaten Semarang. Dalam pertemuan tersebut juga tampak Ketua Pembina Siti Farida, Ketua Pengurus Amir Mahmud, dan Rektor Undaris Dr. Ida Zahara Adiba. M. Si.    

    Undaris berdiri pada 1982 atas prakarsa KH M. Mansyur dan Dr. K.H. Mustain Romli di atas lahan sekitar 5,5 hektare. Dalam kunjungan tersebut, Undaris turut memfasilitasi rapat gabungan para pemangku kepentingan dalam membahas penataan aset.

    Di samping persoalan aset, DPP GUPPI melihat bahwa Undaris masih membutuhkan dukungan untuk pengembangan infrastruktur kampus. Hal ini menjadi bagian dari pembicaraan mengenai bagaimana lembaga pendidikan yang memiliki sejarah panjang tersebut dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.

    UNDARIS merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta di bawah Departemen Pendidikan Nasional berdasarkan ijin KOPERTIS Wilayah VI No. 1884 /K/Kop.VI/XI/1982, tertanggal 4 Nopember 1982.

    Pada awal berdirinya, UNDARIS memiliki 3 (tiga) fakultas yaitu: Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Kemudian berdiri Fakultas Agama Islam berdasarkan ijin KOPERTAIS Wilayah X No. 2 Tahun 1986 tertanggal 20 Oktober 1986. Selanjutnya pada Tahun 1995 berdiri Fakultas Peternakan. Dan pada tahun 1998 berdiri Fakultas Ekonomi.

    Status Akreditasi semua Program Studi di lingkungan UNDARIS berdasarkan pada SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional adalah B.

    Jumlah total mahasiswa aktif di Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman (UNDARIS) Ungaran tercatat sekitar 1.200 orang berdasarkan data statistik perguruan tinggi swasta.

    Dalam sambutannya, Rektor Undaris Dr. Ida Zahara Adiba. S. Ag. M. Si, menyatakan pihaknya berkomitmen mencetak wirausahawan muda yang berakhlak mulia dan unggul dalam bidangnya. Dengan dukungan teknologi dan pendekatan Islami, Undaris berusaha menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi. Karena itu para mahasiswa dapat mengembangkan potensi terbaik melalui pendidikan berkualitas dan berdaya saing global.

    Muhibbah yang Berujung pada Aksi

    Kunjungan juga dilanjutkan dengan agenda silaturahmi dan audiensi dengan jajaran Kementerian Agama di Jawa Tengah.

    Rencana pertemuan dengan Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Saiful Mudjab, belum dapat terlaksana karena yang bersangkutan mendapat tugas mendadak ke Banjarnegara. Sebagai gantinya, tim DPP GUPPI bersilaturahmi dengan mantan Kakanwil Kemenag Jawa Tengah, Achmadi.

    Tim kemudian beraudiensi dengan Kepala Balai Diklat Agama Semarang, Suyatno. Pertemuan tersebut membuka peluang kerja sama kolaboratif antara GUPPI dan Balai Diklat Agama Semarang, khususnya dalam pengembangan pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

    Muhibbah ke Jawa Tengah memberikan gambaran langsung kepada DPP GUPPI mengenai kondisi organisasi, aset, dan jejaring pendidikan di daerah. Lebih penting lagi, kunjungan tersebut berhasil membuka kembali ruang komunikasi yang sebelumnya belum berjalan optimal.

    Ada sejumlah agenda yang perlu segera ditindaklanjuti yaitu surat DPW kepada DPD Golkar Jawa Tengah, penyusunan MoU penataan aset, inventarisasi dan pemetaan aset, persiapan Muswil, penguatan Undaris, serta penjajakan program kolaboratif dengan Balai Diklat Agama Semarang.

    Dengan demikian, Muhibbah bukan sekadar kunjungan seremonial. Ia menjadi titik awal konsolidasi dan aksi bersama.

    DPP GUPPI berharap komunikasi yang telah terbangun selama kunjungan tersebut terus dilanjutkan. Aset yang selama ini menjadi persoalan perlu ditata dan diselamatkan. Organisasi yang belum bergerak optimal perlu direvitalisasi. Sementara jejaring pendidikan perlu diperluas agar GUPPI semakin mampu memberikan kontribusi nyata.

    Semangat yang dibawa sederhana yaitu menyapa, mendengar, menyatukan langkah, dan bergerak bersama.

    Dari Jawa Tengah, DPP GUPPI ingin memastikan bahwa gerakan pembaruan pendidikan Islam tidak berhenti sebagai nama dan sejarah, tetapi terus hidup melalui organisasi yang aktif, aset yang produktif, dan program pendidikan yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    14
  • GUPPI Akan Gelar Pelatihan Madrasah Ramah Anak

    GUPPI Akan Gelar Pelatihan Madrasah Ramah Anak

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Akan Gelar Pelatihan Madrasah Ramah Anak

    Mendorong Madrasah menjadi ruang yang aman, inklusif, dan menyenangkan bagi anak

     

    JAKARTA — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menyiapkan langkah konkret untuk mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.

    GUPPI sedang mematangkan akan menyelenggarakan Pelatihan dan Penguatan Implementasi Madrasah Ramah Anak (MRA) bagi sekolah dan madrasah di lingkungan GUPPI.

    Program tersebut merupakan respons atas masih ditemukannya berbagai bentuk kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan, mulai dari perundungan (bullying), kekerasan fisik dan verbal, diskriminasi, hingga praktik disiplin yang belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan terbaik anak.

    Rapat awal persiapan program berlangsung pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung Nurcholis Madjid Training Center (NMTC), Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Rapat dipimpin Sekretaris DPP Wanita GUPPI, Liesa’diyah Ma’rifataini, bersama sejumlah pengurus DPP Wanita GUPPI dan DPP GUPPI.

    Menurut Liesa’diyah, persoalan kekerasan di sekolah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membuat aturan atau memberikan sanksi kepada pelaku. Sekolah dan madrasah perlu membangun budaya yang mampu mencegah kekerasan sejak awal sekaligus memberikan ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.

    “Guru sering pusing saat tugas bukan karena tidak mau mendidik, tetapi karena minimnya ilmu dan pengetahuan tentang pendekatan yang tepat. Disiplin masih sering disamakan dengan bentakan atau hukuman. Padahal anak butuh didengar, dihargai, dan dilindungi,” ujarnya.

    Menurut Liesa’diyah, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Akses informasi yang hampir tanpa batas, penggunaan media sosial, perubahan pola interaksi keluarga, serta beragam persoalan sosial turut memengaruhi karakter dan kebutuhan peserta didik.

    Dalam situasi tersebut, pendekatan pendidikan juga perlu berubah. Sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi lingkungan yang menjamin keamanan, kenyamanan, kesehatan psikologis, serta kesempatan anak untuk berpartisipasi.

    Madrasah Ramah Anak merupakan pendekatan yang menempatkan anak sebagai subjek pendidikan sekaligus pemilik hak. Satuan pendidikan didorong untuk memenuhi dan melindungi hak anak melalui kebijakan, proses pembelajaran, tenaga pendidik dan kependidikan, sarana prasarana, partisipasi anak, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.

    GUPPI mengusung tema “Membangun Budaya Madrasah yang Aman, Inklusif, Bebas Kekerasan, dan Berpihak pada Kepentingan Terbaik Anak.”

    “Implementasi MRA tidak cukup hanya urusan administratif atau melengkapi toilet. Ini soal perubahan cara pandang. Bagaimana kita menempatkan anak sebagai subjek yang punya hak untuk tumbuh, belajar, berpartisipasi, dan bebas dari kekerasan,” tegas Liesa’diyah, yang bertugas di Badan Riset Nasional (BRIN).

    Kegiatan Berbasis Praktik

    Liesa’diyah juga menjelaskan, bahwa pelatihan MRA dirancang selama tiga hari atau 20 jam pelajaran (JP) dengan pendekatan partisipatif. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual, tetapi juga diajak mengidentifikasi persoalan nyata di sekolah masing-masing.

    Metode yang digunakan antara lain diskusi, studi kasus, simulasi, role play, refleksi, serta lokakarya penyusunan rencana aksi.

    Materi pelatihan mencakup landasan hukum dan konsep dasar MRA, hak anak dan enam komponen MRA, pencegahan bullying, kekerasan dan diskriminasi, disiplin positif, pembelajaran yang aman dan menyenangkan, sarana prasarana ramah anak, serta penguatan partisipasi anak dan kemitraan dengan orang tua.

    Bagian penting lainnya adalah praktik pemetaan kondisi sekolah. Peserta akan diajak melihat berbagai potensi risiko kekerasan, hambatan inklusi, pola komunikasi, sistem pengaduan, serta lingkungan fisik sekolah.

    Dari proses tersebut, setiap sekolah peserta diwajibkan menghasilkan Dokumen Rencana Aksi Implementasi MRA. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada penambahan pengetahuan, tetapi menghasilkan langkah konkret yang dapat langsung diterapkan di satuan pendidikan.

    Peserta yang ditargetkan meliputi kepala sekolah atau madrasah, wakil kepala, guru, guru bimbingan dan konseling, tenaga kependidikan, komite sekolah, serta perwakilan orang tua. Setiap angkatan idealnya terdiri atas 30–40 peserta.

    Membangun Ekosistem

    Sementara itu Sekretaris Bidang Penguatan Layanan Pendidikan (PLP) DPPP GUPPI Yayah Nurmalia menambahkan bahwa penerapan MRA akan memberikan manfaat bagi seluruh ekosistem pendidikan.

    Menurutnya, bagi anak, sekolah ramah anak memberikan rasa aman, penghargaan, perlindungan, serta ruang untuk menyampaikan pendapat. Mekanisme pencegahan dan pelaporan yang jelas juga diharapkan mampu menekan risiko bullying dan berbagai bentuk kekerasan.

    Sedangkan bagi guru dan sekolah, MRA memberikan bekal untuk menghadapi persoalan peserta didik secara lebih tepat. Guru tidak harus berjalan sendiri karena sekolah memiliki sistem, mekanisme, dan tim yang mendukung penerapan disiplin positif.

    Sementara bagi orang tua, MRA membuka ruang kemitraan yang lebih kuat dengan sekolah. Komunikasi antara rumah dan sekolah diharapkan menjadi lebih terbuka sehingga tumbuh kembang anak dapat dikawal secara bersama.

    “Ketika suasana sekolah itu ramah, guru tenang, anak bahagia, dan orang tua percaya. Itu baru pendidikan yang utuh,” ujar Yayah Nurmalia.

    Yayah juga menegaskan bahwa pelatihan hanyalah tahap awal. Setelah kegiatan, sekolah didorong membentuk Tim Madrasah Ramah Anak, melakukan pemantauan secara berkala, serta mengintegrasikan prinsip-prinsip perlindungan dan pemenuhan hak anak ke dalam kebijakan dan budaya sekolah.

    Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari komitmen GUPPI dalam membangun pendidikan Islam yang tidak hanya berkualitas secara akademik, tetapi juga aman, inklusif, berkarakter, dan berpihak pada kepentingan terbaik anak.

    “Keberhasilan MRA bukan diukur dari terselenggaranya pelatihan. Keberhasilannya terlihat ketika keselamatan, kesejahteraan, dan kepentingan terbaik anak benar-benar menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan,” pungkas Yayah Nurmalia, yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Shol)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    25
  • GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, atas terbitnya 90 Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).

    Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D. menilai, penyediaan 90 buku digital yang dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui laman resmi Kementerian Agama merupakan langkah strategis dalam memperkuat mutu pendidikan Islam sekaligus memperluas akses terhadap sumber belajar yang berkualitas.

    Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan buku pelajaran, tetapi juga menyentuh persoalan pemerataan pendidikan. Ketika buku berkualitas dapat diakses secara gratis, hambatan geografis dan ekonomi dalam memperoleh sumber belajar dapat dikurangi.

    “Penyediaan Buku Teks Utama ini merupakan investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Buku yang bermutu akan mendukung proses pembelajaran yang bermutu dan pada akhirnya membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, serta mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Fasli dalam suratnya kepada Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.

    Menjamin Mutu Buku

    GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap proses penyusunan BTU yang dilakukan melalui mekanisme profesional dan akuntabel. Kualitas buku, menurut GUPPI, tidak hanya ditentukan oleh materi yang disajikan, tetapi juga oleh proses panjang yang mendahuluinya.

    Proses tersebut mencakup seleksi penulis, telaah akademik oleh reviewer, evaluasi tim penilai, hingga supervisi yang melibatkan Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan (PBAL2K).

    Rangkaian tersebut menunjukkan adanya upaya serius untuk memastikan buku yang digunakan peserta didik memiliki kualitas akademik dan pedagogis yang memadai serta sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di madrasah.

    GUPPI memandang penerbitan BTU juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, terutama terkait tanggung jawab negara dalam menyediakan buku pendidikan yang bermutu.

    Karena itu, penerbitan 90 BTU dinilai bukan sekadar menghadirkan buku pelajaran baru, tetapi merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang berkualitas, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Belajar Sesuai Fase Perkembangan

    Dari sisi pembelajaran, GUPPI menyambut baik pendekatan yang digunakan dalam penyusunan BTU. Materi dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan peserta didik pada setiap jenjang.

    Pada jenjang MI dan MTs, materi disajikan secara lebih interaktif dan dekat dengan dunia peserta didik. Sementara pada jenjang MA dan MAPK, pembelajaran diarahkan pada pengembangan kemampuan analitis dan pendalaman keilmuan.

    Pendekatan tersebut penting karena pendidikan agama tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui dan menghafal konsep keagamaan. Pembelajaran perlu membantu mereka memahami makna, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, serta menghubungkan pengetahuan agama dengan kehidupan nyata.

    “Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan agama harus membentuk manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, mencintai ilmu, menghargai sesama, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” tulis GUPPI dalam surat apresiasinya.

    KBC dan Panca Cinta

    Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus GUPPI adalah integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam BTU.

    GUPPI menilai pendekatan tersebut memberikan dimensi penting dalam pembelajaran agama. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membangun kecerdasan intelektual dan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk sikap, karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab peserta didik.

    Nilai-nilai Panca Cinta, yakni Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air, dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam yang mampu membentuk manusia secara utuh.

    Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Nilai yang dipelajari peserta didik dapat diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Memperkuat Moderasi Beragama

    GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam BTU.

    Pendidikan agama, menurut GUPPI, memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang peserta didik terhadap keberagaman. Sikap toleran, menghormati perbedaan, menolak kekerasan, tidak eksklusif dalam memahami kebenaran, serta menghargai budaya lokal merupakan bagian penting dari pendidikan agama dalam konteks Indonesia.

    Nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Madrasah tidak hanya dituntut melahirkan peserta didik yang memahami agama, tetapi juga generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.

    Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi kekuatan yang memperkuat kerukunan umat beragama sekaligus membangun kehidupan kebangsaan yang harmonis.

    MAPK dan Tradisi Keilmuan Islam

    Perhatian khusus juga diberikan GUPPI terhadap penyediaan buku bagi Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).

    Buku-buku untuk MAPK memberikan ruang lebih luas bagi penguatan kajian tafsir, hadis, ilmu kalam, ushul fikih, studi perbandingan mazhab, serta penguasaan bahasa Arab tingkat lanjut.

    GUPPI memandang kehadiran bahan ajar tersebut penting untuk menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam di lingkungan madrasah. Peserta didik MAPK diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial secara kritis.

    “Penguatan tradisi keilmuan di MAPK penting untuk menyiapkan generasi ulama, cendekiawan, dan pemimpin umat yang memiliki keluasan wawasan keislaman sekaligus mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan global,” ujar Fasli.

    Tugas Guru

    Di balik apresiasi terhadap penerbitan 90 BTU, GUPPI memberikan satu catatan penting, yaitu bahwa buku yang baik tidak akan otomatis menghasilkan pembelajaran yang baik kalau guru tidak mampu menghidupkannya.

    Menurut Fasli Jalal, keberhasilan implementasi BTU sangat bergantung pada kemampuan guru menggunakan buku sebagai sumber belajar yang hidup. Guru perlu mengembangkan pembelajaran yang aktif, dialogis, reflektif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

    Karena itu, penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan kepala madrasah menjadi bagian penting dari keberhasilan implementasi BTU.

    “Buku yang bermutu perlu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat. Di situlah buku tidak sekadar menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi instrumen perubahan,” tegas Fasli.

    Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa agenda berikutnya setelah penerbitan buku adalah memastikan buku benar-benar digunakan secara optimal dalam proses pembelajaran.

    GUPPI Siap Bersinergi

    Sebagai organisasi yang sejak 1950 berkhidmat dalam pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, GUPPI menyatakan kesiapan untuk ikut mendukung implementasi BTU di sekolah dan madrasah.

    Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui program peningkatan kapasitas guru, penguatan budaya literasi, pendampingan satuan pendidikan, serta pengembangan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual, inspiratif, dan berdampak.

    “GUPPI siap bersinergi dengan Kementerian Agama dalam mendukung implementasi Buku Teks Utama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peserta didik di seluruh Indonesia,” kata Fasli.

    Bagi GUPPI, terbitnya 90 Buku Teks Utama PAI dan Bahasa Arab merupakan momentum penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan Islam. Namun, pekerjaan berikutnya tidak kalah penting: memastikan buku tersebut hadir dalam praktik pembelajaran, menginspirasi guru, dan membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

    Ketika buku yang bermutu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat, pendidikan agama diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, moderat, cinta tanah air, serta mampu menjaga persatuan bangsa.

    GUPPI berharap ikhtiar Kementerian Agama tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang membangun pendidikan Islam Indonesia yang semakin bermutu, inklusif, dan relevan dengan tantangan masa depan. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    23
  • Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi

    Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi.

    Di tengah riuhnya dinamika dunia pendidikan modern yang menuntut adaptasi tanpa henti, sebuah oase inspirasi justru lahir dari sudut Kabupaten Pandeglang, Banten. Tepatnya di kompleks pendidikan Sodong, dua institusi yaitu SMK Ar Ridho Sodong dan MTs GUPPI Sodong tengah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah halangan untuk mencetak prestasi gemilang dan tata kelola institusi yang unggul.

    Kisah kedua sekolah ini bukan sekadar cerita tentang kegiatan belajar-mengajar konvensional. Ini adalah narasi tentang kepemimpinan visioner, keberanian berinovasi di tengah tantangan, serta komitmen mendalam untuk menyejahterakan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa hingga tenaga pendidik.

    Geliat ini kian kokoh seiring langkah Pesantren Ar Ridho yang saat ini tengah giat melakukan pembenahan menyeluruh. Kehadiran pesantren ini diharapkan dapat menjadi pilar strategis dalam menyokong gerakan usaha pembaruan pendidikan Islam di Pandeglang yang dimotori oleh GUPPI.

    Mengubah Stigma Menjadi Multiplier Effect

    Banyak institusi pendidikan di berbagai daerah sempat merasa cemas ketika program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) digulirkan. Isu miring seputar rumitnya administrasi hingga kendala operasional kerap menghantui. Namun, di SMK Ar Ridho Sodong Pandeglang, narasi tersebut diputar balik 180 derajat. Di bawah kepemimpinan TB Dadi Mulyadi, program MBG tidak hanya berjalan mulus, tetapi menjelma menjadi motor penggerak kebugaran siswa sekaligus pilar penguatan finansial lembaga.

    Kesehatan fisik adalah gerbang utama menuju kualitas akademik yang prima. Di SMK Ar Ridho, kepastian asupan gizi harian melalui program MBG langsung dirasakan dampaknya pada tingkat kebugaran para siswa.

    Dengan raga yang sehat, daya tangkap belajar dan tingkat fokus di dalam kelas meningkat secara signifikan. Energi positif ini turut mengalir ke dalam program penguatan karakter siswa, seperti kegiatan Musalima (Murid dan Santri Ta’lim Bersama) yang rutin dilaksanakan setiap malam. Para siswa menunjukkan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa dalam mengikuti rangkaian kegiatan akademik maupun keagamaan yang padat.

    “Asupan makanan yang sehat dan bergizi seimbang terbukti menjadi bahan bakar utama bagi kesiapan mental dan fisik siswa. Ketika raga sehat, daya tangkap belajar dan semangat berprestasi pun ikut meletup,” ungkap pihak sekolah menggambarkan antusiasme para peserta didik.

    Keberhasilan SMK Ar Ridho tidak lepas dari kemampuan sekolah dalam membaca peluang secara luas. TB Dadi Mulyadi, yang juga aktif sebagai koordinator bidang investasi di organisasi IKM UMKM Pandeglang, paham betul bahwa program besar harus melibatkan ekosistem lokal.

    Sekolah ini sukses membangun ekosistem kolaborasi yang terintegrasi antara UMKM, BUMDes, dan Koperasi Investor. Langkah ini menjadikan MBG tidak berhenti pada urusan perut di lingkungan sekolah saja, melainkan memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat sekitar Pandeglang.

    “Sekolah tidak boleh hanya mendidik, tetapi juga harus mampu menggerakkan masyarakat,” begitu kata TB Dadi Mulyadi.

    Kekhawatiran bahwa program berskala besar akan mengganggu jam pelajaran sama sekali tidak terbukti di SMK Ar Ridho. Melalui pembagian tugas yang jelas dan sistem koordinasi yang solid, proses distribusi serta pengawasan MBG dilakukan secara mandiri di luar jam-jam krusial akademik. Ritme Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan sangat kondusif tanpa ada distraksi.

    Dampak finansial dari tata kelola yang transparan ini juga dirasakan langsung oleh para guru dan staf melalui sistem bagi hasil saham MBG. Besaran bagi hasil disesuaikan dengan kepemilikan saham telah memberikan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi. Alhasil, dedikasi dan produktivitas para pengajar melonjak drastis dibanding semester-semester sebelumnya.

    Mercusuar Pendidikan Islam yang Progresif

    Bergeser ke kancah pendidikan menengah pertama, MTs GUPPI Sodong terus menunjukkan semangatnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang dinamis, progresif, dan konsisten melahirkan generasi unggul. Di bawah naungan nilai-nilai keagamaan, madrasah ini tidak sekadar berfokus pada transfer ilmu pengetahuan (cognitive domain), melainkan pembentukan mental, spiritual, dan kecerdasan emosional secara holistik.

    MTs GUPPI Sodong merancang kurikulum dan metode pembelajarannya sedemikian rupa untuk merangsang kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Keunggulan intelektual ini disandingkan secara seimbang dengan pembiasaan ibadah harian yang disiplin.

    Suasana KBM dirancang berpusat pada siswa (student-centered learning) yang kontekstual dan menyenangkan. Penilaian yang diterapkan pun bersifat komprehensif, melihat proses perkembangan siswa secara menyeluruh, bukan sekadar hasil akhir ujian.

    “Kami ingin anak-anak pulang tidak hanya membawa nilai, tetapi juga akhlak,” ujar Nita Sujiati.

    Konsistensi pembinaan di MTs GUPPI Sodong terbukti dari deretan piala kejuaraan yang berhasil dibawa pulang oleh para siswanya di berbagai tingkatan:

    1. Bidang Kepramukaan: Meraih Juara Umum dalam kegiatan LPPG Kecamatan Saketi, Juara Umum lomba LASTAPRAMA 2025 tingkat Kabupaten Pandeglang, Juara Lomba Wide Game tingkat Provinsi Banten, hingga dipercaya menjadi utusan daerah dalam ajang bergengsi Jambore Nasional.
    2. Bidang Olahraga: Selalu mendominasi dan meraih Juara Umum dalam Lomba Gerak Jalan tingkat Kecamatan Saketi.
    3. Kompetisi Umum: Aktif dan sukses menjuarai berbagai ajang perlombaan akademik maupun non-akademik di tingkat regional.
    4. Pembiasaan Karakter dan Madrasah Ramah Anak

    Komitmen madrasah dalam membangun lingkungan yang aman dan menyenangkan tercermin dari konsep Madrasah Ramah Anak. Setiap pagi, para guru menyambut siswa di gerbang sekolah dengan senyum dan sapa hangat.

    Agenda pembiasaan harian tertata rapi untuk membentuk karakter disiplin dan religius:

    1. Setiap Hari: Tadarus Al-Qur’an selama 10–15 menit sebelum KBM.
    2. Senin: Upacara bendera khidmat.
    3. Selasa: Senam sehat bersama untuk menjaga kebugaran jasmani.
    4. Rabu: Sholat Dhuha berjamaah 15 menit sebelum KBM.
    5. Kamis: Membaca Hadorot, hafalan surat-surat pendek, serta doa harian.
    6. Tengah Hari: Sholat Dzuhur berjamaah di musolah madrasah.

    Pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif di kompleks pendidikan ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi. Berdasarkan data tahun ajaran ini, MTs GUPPI Sodong mencatatkan penerimaan siswa baru sebanyak 72 orang, sehingga total keseluruhan siswa kini mencapai 195 orang, yang dibimbing oleh 13 orang tenaga pendidik profesional.

    Dukungan finansial melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dimanfaatkan secara optimal untuk membiayai seluruh kebutuhan operasional non-personalia, mulai dari pemeliharaan sarana prasarana, pengadaan buku, hingga honor guru demi menjaga mutu layanan pendidikan. Kehadiran program MBG di madrasah ini juga memberikan dukungan sekunder yang nyata dalam mendongkrak tingkat kehadiran serta semangat siswa datang ke sekolah setiap hari.

    Kendati dibanjiri prestasi dan apresiasi, kedua lembaga di bawah naungan GUPPI Sodong ini tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung serta mobilitas tenaga pendidik masih menjadi PR bersama yang terus diupayakan solusinya.

    Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah memadamkan semangat juang para pendidik dan siswa. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, Kantor Kementerian Agama, masyarakat, serta para pemangku kepentingan, SMK Ar Ridho dan MTs GUPPI Sodong optimis untuk terus melangkah maju.

    Menyokong Gerakan Pembaruan

    Geliat gemilang MTs GUPPI Sodong dan SMK Ar Ridho kini menemukan momentum puncaknya melalui penataan ulang peran strategis Pesantren Ar Ridho. Saat ini, pesantren tersebut tengah berbenah secara intensif untuk memperkuat infrastruktur kelembagaan, kurikulum, serta kapasitas pengasuhannya.

    Pembenahan ini bukan sekadar renovasi fisik, melainkan ikhtiar besar untuk menjadikan Pesantren Ar Ridho sebagai jantung ekosistem yang menyokong gerakan usaha pembaharuan pendidikan Islam di Pandeglang. Dengan berkolaborasi erat bersama jaringan GUPPI, pesantren ini disiapkan untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya matang secara spiritual dan fasih ilmu agama, tetapi juga memiliki ketrampilan adaptif, kemandirian ekonomi, dan daya saing tinggi menghadapi tantangan zaman.

    Menyalakan Harapan dari Banten

    Transformasi yang terjadi di Sodong Pandeglang membuktikan bahwa kemajuan pendidikan tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari kepemimpinan yang berani mengambil peran, dedikasi guru, dukungan masyarakat, serta keterpaduan program pemerintah yang dikelola dengan integritas tinggi.

    Dari Sodong, sebuah kampung kecil, tidak jauh dari pusat Mathlaul Anwar Pandeglang, sebuah pesan kuat bergema ke seluruh penjuru Pandeglang, bahwa ketika pendidikan Islam digerakkan di atas fondasi iman, kolaborasi lintas sektor, dan tata kelola yang bersih, maka madrasah dan pesantren tidak lagi sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rahim peradaban tempat menumbuhkan harapan dan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, tangguh, dan bermartabat.

    Mungkin Pandeglang bukan kota besar. Mungkin Sodong hanya sebuah titik kecil di peta Banten. Namun sejarah sering lahir dari tempat-tempat sederhana. Di tengah keterbatasan, GUPPI bersama MTs GUPPI Sodong dan SMK Ar Ridho sedang membuktikan bahwa pembaruan pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung megah, melainkan dari gagasan yang dikerjakan dengan konsisten.($)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    31
  • DPW GUPPI Sulawesi Selatan Akan Dirikan Lembaga Amil Zakat (LAZ)

    DPW GUPPI Sulawesi Selatan Akan Dirikan Lembaga Amil Zakat (LAZ)

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPW GUPPI Sulawesi Selatan Akan Dirikan Lembaga Amil Zakat (LAZ)

    Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) memberikan dukungan penuh terhadap rencana Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) GUPPI Sulawesi Selatan untuk mendirikan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Kehadiran LAZ diharapkan menjadi tonggak lahirnya gerakan filantropi Islam GUPPI yang profesional, amanah, dan berdampak nyata bagi penguatan pendidikan Islam serta pemberdayaan masyarakat.

    Ketua Umum DPP GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D., menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang digagas DPW GUPPI Sulawesi Selatan. Menurutnya, pembentukan LAZ merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian organisasi sekaligus mengoptimalkan potensi zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat.

    “Pembentukan LAZ merupakan ikhtiar yang sangat baik. GUPPI membutuhkan lembaga filantropi yang dikelola secara profesional, transparan, akuntabel, dan amanah sehingga mampu memperkuat pendidikan Islam, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperluas kontribusi organisasi bagi pembangunan bangsa,” ujar Prof. Fasli Jalal.

    Dukungan tersebut disampaikan sebagai tindak lanjut atas permohonan DPW GUPPI Sulawesi Selatan terkait rencana pendirian LAZ. Setelah mempelajari maksud, tujuan, dan arah pengembangannya, DPP GUPPI memberikan persetujuan prinsip sekaligus arahan agar proses pembentukan dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Ketua Harian DPW GUPPI Sulawesi Selatan, Dr. Abdul Hafidz, menjelaskan bahwa rencana pendirian LAZ didorong oleh semangat untuk meningkatkan kiprah dan daya guna GUPPI di Sulawesi Selatan melalui penguatan gerakan filantropi Islam.

    “LAZ ini kami rancang sebagai instrumen untuk menghimpun, mengelola, dan mendistribusikan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara profesional. Dana yang terhimpun nantinya akan diarahkan untuk mendukung operasional serta peningkatan mutu madrasah, sekolah, dan pesantren yang berada di bawah pembinaan DPW GUPPI Sulawesi Selatan,” jelas Dr. Abdul Hafidz.

    Menurutnya, keberadaan LAZ diharapkan mampu memperluas akses masyarakat dalam berzakat sekaligus memperkuat berbagai program pendidikan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi yang dijalankan GUPPI.

    Saat ini, DPW GUPPI Sulawesi Selatan tengah melakukan berbagai persiapan administratif dan koordinasi dengan Kementerian Agama sebagai bagian dari proses pendirian LAZ. Seluruh tahapan dilakukan dengan mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai pengelolaan zakat serta berkoordinasi dengan instansi dan pihak-pihak terkait.

    “Kami memohon dukungan, restu, dan arahan dari Bapak Ketua Umum DPP GUPPI agar proses pendirian LAZ DPW GUPPI Sulawesi Selatan dapat berjalan sesuai rencana, memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku, serta membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi umat, pendidikan Islam, dan bangsa Indonesia,” ujar Dr. Abdul Hafidz.

    Dalam surat persetujuannya, DPP GUPPI juga memberikan sejumlah arahan agar pengelolaan LAZ nantinya menerapkan prinsip good governance, menjunjung tinggi profesionalisme, transparansi, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap syariat Islam. Program-program yang dikembangkan diharapkan memprioritaskan pemberian beasiswa bagi peserta didik kurang mampu, peningkatan mutu sekolah dan madrasah GUPPI, pemberdayaan ekonomi umat, bantuan kemanusiaan, serta pengembangan dakwah dan kegiatan sosial keagamaan.

    Selain itu, DPW GUPPI Sulawesi Selatan didorong membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, antara lain BAZNAS, Kementerian Agama, pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga filantropi lainnya agar manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.

    DPP GUPPI berharap langkah yang dipelopori DPW GUPPI Sulawesi Selatan ini dapat menjadi inspirasi bagi DPW GUPPI di berbagai provinsi untuk mengembangkan gerakan filantropi Islam yang modern, terpercaya, dan berorientasi pada kemajuan pendidikan. Dengan demikian, zakat, infak, dan sedekah tidak hanya menjadi instrumen ibadah, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang mampu meningkatkan mutu madrasah, sekolah, dan pesantren serta memperkuat peran GUPPI dalam membangun masyarakat Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    23
  • Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    Jakarta – Masa depan Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) tidak cukup dibangun melalui penguatan organisasi semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menghadirkan sekolah dan madrasah GUPPI yang tersebar hampir seluruh propinsi di Indonesia itu berkualitas, terjangkau, dan menjadi pilihan masyarakat.

    Pandangan tersebut disampaikan oleh Prof. Husni Rahim, Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI, dalam Rapat Kerja DPP GUPPI yang dilaksanakan di Gedung NMTC Ciputat, Sabtu, 18 Juli 2026 yang dihadiri oleh Pengurus DPP GUPPI, Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan Wanita GUPPI.  

    Menurut Prof. Husni, sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI merupakan wajah organisasi. Oleh karena itu, keberhasilan GUPPI tidak hanya diukur dari aktivitas organisasinya, tetapi terutama dari kualitas lembaga pendidikan yang berada di bawah pembinaannya.

    “Sebelum berbicara jauh tentang berbagai program organisasi, kita harus menjawab satu pertanyaan mendasar, yaitu sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI yang ada sekarang mau diapakan?” ujarnya.

    Ia menegaskan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap seluruh sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI di Indonesia. Data mengenai jumlah lembaga, persebaran wilayah, kondisi kelembagaan, mutu pembelajaran, hingga berbagai tantangan yang dihadapi harus menjadi dasar penyusunan strategi pembinaan.

    Menurutnya, tanpa peta kondisi yang jelas, program pengembangan akan berjalan tanpa arah dan sulit menghasilkan perubahan yang signifikan.

    Prof. Husni juga mengajak GUPPI memfokuskan energi organisasi untuk menghidupkan kembali sekolah dan madrasah GUPPI sehingga dikenal masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang bermutu, biayanya terjangkau, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjawab kebutuhan zaman.

    Ia meyakini bahwa sekolah dengan sumber daya yang terbatas tetap dapat berkembang menjadi sekolah unggul apabila dikelola secara profesional dan didukung oleh komitmen seluruh pemangku kepentingan.

    “Dana bukanlah faktor utama. Yang paling penting adalah komitmen kepala sekolah, guru, pengelola, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sekolah,” ujar Prof Husni Rahim, yang baru saja menerbitkan buku Sekolah QMR, yaitu Qualitas, Murah dan Relijius.

    Ia mengingatkan bahwa selama ini perhatian kita sering kali lebih banyak diberikan kepada sekolah-sekolah yang telah maju. Padahal, menurutnya, GUPPI justru harus hadir mendampingi sekolah, madrasah dan pesantren yang masih berkembang agar mampu tumbuh menjadi sekolah yang unggul.

    Sebagai strategi jangka panjang, ia mengusulkan agar GUPPI mengembangkan beberapa Sekolah dan Madrasah Model GUPPI yang dapat menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah, madrasah, dan pesantren lainnya. Sekolah model tersebut dibangun berdasarkan standar mutu yang jelas sehingga praktik-praktik terbaiknya dapat direplikasi ke seluruh jaringan pendidikan GUPPI.

    “GUPPI bisa mengembangkan beberapa Sekolah dan Madrasah Model GUPPI yang menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah-sekolah lainnya. Sekolah dan madrasah model tersebut dikembangkan berdasarkan standar mutu yang jelas sehingga praktik-praktik baiknya dapat direplikasi ke seluruh jaringan GUPPI,” ujar Husni Rahim, yang saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama mengembangkan Madrasah (Negeri) Model di seluruh propinsi dengan bantuan dan Asian Development Bank (ADB).

    Menurutnya, pengalaman dalam mengembangkan sekolah-sekolah unggulan menunjukkan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kebetulan, melainkan lahir dari standar mutu yang dirancang secara sistematis dan diterapkan secara konsisten.

    Di akhir paparannya, Prof. Husni menegaskan bahwa GUPPI harus mampu menunjukkan peran nyata dalam peningkatan mutu pendidikan Islam.

    “Peran GUPPI harus terlihat. Bukan hanya dikenal sebagai organisasi Islam, tetapi dikenal karena berhasil membina sekolah dan madrasah yang berkualitas dan menjadi rujukan masyarakat,” katanya.

    Gagasan tersebut menjadi penegasan bahwa kekuatan GUPPI sesungguhnya terletak pada kualitas lembaga pendidikan yang dibinanya. Ketika sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI mampu tumbuh menjadi lembaga yang unggul, terjangkau, dan dipercaya masyarakat, maka identitas serta kontribusi GUPPI terhadap pembangunan pendidikan Islam di Indonesia akan semakin kuat.

    Pemikiran Prof. Husni Rahim tersebut diharapkan menjadi salah satu pijakan strategis dalam penyusunan program kerja DPP GUPPI periode 2024–2029, khususnya dalam membangun ekosistem sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    66
  • Ketua Umum DPP GUPPI: GUPPI Harus Menjadi Bagian dari Solusi Pendidikan Islam Indonesia

    Ketua Umum DPP GUPPI: GUPPI Harus Menjadi Bagian dari Solusi Pendidikan Islam Indonesia

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ketua Umum DPP GUPPI: GUPPI Harus Menjadi Bagian dari Solusi Pendidikan Islam Indonesia

    Jakarta – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), Prof. Fasli Jalal, menegaskan bahwa GUPPI harus tampil sebagai bagian dari solusi dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Bukan justru ikut menambah masalah bangsa dan negara. Karena itu GUPPI tidak cukup hanya sibuk menyelenggarakan berbagai kegiatan, tetapi harus menghasilkan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu Pendidikan di Indonesia.

    Penegasan tersebut disampaikan Prof. Fasli Jalal saat membuka Rapat Kerja DPP GUPPI di Nurcholish Madjid Training Center (NMTC), Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (18/7/2026). Kegiatan yang dihadiri oleh Ketua Dewan Penasehat Prof. Husni Rahim, Ketua Dewan Pakar Prof. Imam Tholkhah, Ketua Nurcholis Madjid Training Center Prof. Amsal Bahtiar, Pengurus Harian DPP GUPPI, serta para Ketua Departemen berlangsung serius tapi santai.

    Dalam arahannya, Prof. Fasli mengajak seluruh jajaran pengurus DPP GUPPI memperkuat komitmen pengabdian di tengah kompleksitas tantangan pendidikan saat ini. Menurutnya, GUPPI sebagai organisasi Islam harus hadir sebagai penengah sekaligus pemberi solusi bagi berbagai persoalan bangsa, terutama di bidang pendidikan.

    “We are not part of the problem. We are part of the solution,” tegas Prof. Fasli Jalal.

    Prof. Fasli juga mengapresiasi berbagai inisiatif yang telah dilakukan Pengurus GUPPI, seperti seminar, diskusi, dan program penguatan Pendidikan sekalipun tidak ada bantuan dari pihak lain. Namun, seluruh kegiatan tersebut harus bermuara pada dampak yang nyata dan terukur bagi masyarakat.

    “Kita punya Dewan Pakar yang terdiri dari para tokoh berbagai bidang dan keahlian. Kita minta beliau-beliau ini untuk menyuarakan kritik atau saran terkait dengan kondisi bangsa dan negara saat ini, terutama di bidang Pendidikan. Agar dunia pendidikan kita menjadi lebih baik dan berdaya saing,” kata Fasli Jalal. 

    Prof. Fasli menegaskan bahwa GUPPI memiliki modal sosial yang besar melalui ratusan sekolah dan madrasah yang menjadi bagian dari sejarah organisasi.

    “Kita harus mengembangkan kembali potensi GUPPI yang memiliki ratus madrasah, sekolah dan pesantren yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Kita harus hidupkan kembali melalui konsolidasi organisasi yang lebih kuat serta penguatan jaringan di berbagai daerah dengan melibatkan tokoh pendidikan, pengelola sekolah, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan Islam,” kata Fasli Jalal.

    Empat Fokus Strategis

    Di hadapan para peserta Raker, Prof. Fasli menetapkan empat fokus utama program kerja GUPPI ke depan untuk mengoptimalkan peran GUPPI.

    Pertama, Transformasi Madrasah, GUPPI harus melakukan pendampingan yang berkelanjutan guna meningkatkan mutu pembelajaran dan tata kelola madrasah, dan sekolah binaan GUPPI.

    Kedua, Penguatan Pesantren, GUPPI harus berperan lebih aktif dalam memperkuat peran pesantren sebagai salah satu pilar utama pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing.

    Ketiga, Penguatan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah. GUPPI harus memberikan perhatian lebih besar terhadap kualitas pembelajaran PAI di sekolah mengingat besarnya jumlah peserta didik yang berada pada jalur pendidikan umum.

    Keempat, Kemitraan Strategis dengan Sekolah Umum Berciri Islam. GUPPI harus membangun kolaborasi dengan sekolah-sekolah Islam yang memiliki komitmen kuat dalam penguatan karakter dan nilai-nilai keislaman.

    Menurut Prof. Fasli, keempat fokus tersebut merupakan ruang strategis bagi GUPPI untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan nasional. Karena itu GUPPI harus memperkuat kolaborasi dengan Kementerian dan kolaorasi dengan sekolah dan madrasah yang sudah lebih unggul.

    “GUPPI harus meningkatkan Kerjasama dan kolaorasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama untuk kemajuan sekiolah dan madrasah binaan GUPPI. Selain itu GUPPI juga harus membangun kemitraan dengan sekolah-sekolah Islam unggul yang selama ini sudah menjadi kebanggan Masyarakat,” tambah Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas Yarsi Jakarta.

    Target Terukur dan Evaluasi Berkala

    Selain menetapkan fokus program, Ketua Umum DPP GUPPI meminta agar setiap bidang di lingkungan DPP GUPPI menyusun rencana kerja yang jelas, memiliki indikator keberhasilan yang terukur, serta dievaluasi secara berkala melalui laporan tengah periode (mid-term review).

    Menurutnya, mekanisme tersebut akan mendorong setiap departemen saling memperkuat, saling melengkapi, dan memastikan seluruh program organisasi berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

    “Mari kita budayakan untuk menyiapkan laporan kinerja GUPPI, termasuk rekomendasi hasil Rapat GUPPI, kepada Pemerintah, terutama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian Dalam Negeri dan mitra GUPPI,” ujar Fasli Jalal.

    Menutup arahannya, Prof. Fasli mengajak seluruh pengurus menjadikan rapat kerja sebagai momentum mempererat kolaborasi dan memperkuat semangat pengabdian.

    Ia optimistis, dengan sinergi yang solid dan program kerja yang terukur, GUPPI akan semakin memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    36
  • SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PROF. dr. FASLI JALAL, Ph.D PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE-76, SELASA, 3 MARET 2026.

    Bismillāhirrahmānirrahīm

    Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh,

    Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas perkenanNya jualah kita dapat bertemu pada hari yang bersejarah ini bersama-sama memperingati Milad ke-76 GUPPI dalam suasana kebersamaan, keikhlasan, dan semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.

    Shalawat dan salam marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SWA, teladan utama dalam membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan keteladanan.

    Yang saya hormati para penasehat, dewan pakar, pengurus DPP, DPW, DPD GUPPI se-Indonesia, para tokoh pendidikan Islam, para mitra strategis, serta seluruh keluarga besar GUPPI yang saya hormati.

    76 tahun lebih perjalanan GUPPI bukanlah waktu yang singkat. Sejak berdiri, GUPPI telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam pembinaan pendidikan berbasis nilai, akhlak, dan keilmuan.

    Milad ke-76 ini bukan sekadar perayaan usia sebuah organisasi, tetapi momentum refleksi sejauh mana kontribusi bagi pendidikan bangsa ? Seberapa besar peran kita dalam membangun generasi berakhlak mulia? Dan bagaimana kesiapan kita menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks?

    Di tengah perubahan global, seperti disrupsi digital, dan tantangan moral generasi muda, maka peran pendidikan Islam justru semakin strategis dan mendesak.

    Sebagaimana kita pahami bersama, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan peradaban.

    Dalam konteks ini, GUPPI memiliki posisi strategis sebagai Penggerak Pendidikan Islam, mitra pemerintah dalam pembangunan SDM dan penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    Nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah harus menjadi ruh dalam sistem pendidikan yang kita kembangkan, agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

    Bapak Ibu sekalian yang saya muliakan.

    Kita menyaksikan bahwa tantangan pendidikan hari ini tidak hanya berada di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat.

    Beberapa tantangan utama yang kita hadapi antara lain melemahnya ketahanan keluarga, disrupsi digital pada anak dan remaja, krisis karakter dan akhlak, kesenjangan kualitas pendidikan, dan meningkatnya masalah kesehatan mental anak. Bahkan, meningkatnya perceraian dan melemahnya fungsi keluarga berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan anak, termasuk pada jenjang PAUD dan pendidikan dasar.

    Di sinilah peran GUPPI menjadi sangat penting, karena pendidikan Islam harus hadir sebagai solusi peradaban, bukan sekadar sistem pengajaran.

    Pada Milad ke-76 ini, kita perlu meneguhkan kembali arah gerak GUPPI, yaitu melakukan penguatan pendidikan karakter melalui penanaman akhlak mulia, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Kita juga harus memperkuat ekosistem pendidikan dimana ekolah sebagai pusat ilmu, keluarga sebagai madrasah pertama dan masyarakat sebagai lingkungan pembentuk karakter. Tanpa keluarga yang kuat dan sakinah, pendidikan anak tidak akan optimal.

    Dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital, GUPPI harus adaptif terhadap perubahan zaman dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, literasi digital berbasis nilai dan pendidikan Islam yang kontekstual dan aplikatif.

    Bapak Ibu sekalian yang berbahagia

    Indonesia sedang menuju bonus demografi dan memiliki visi Indonesia Emas 2045. Namun, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini. GUPPI harus menjadi bagian dari solusi nasional melalui penguatan PAUD berbasis nilai Islam, peningkatan kompetensi guru pendidikan Islam, kolaborasi dengan Pemerintah dan masyarakat dan pengembangan kurikulum yang integrative, didasari oleh ilmu dan iman.

    Dalam momentum Milad ke-76 ini, saya mengajak seluruh jajaran GUPPI di seluruh Indonesia untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, mengembangkan inovasi pembelajaran dan memperluas kemitraan strategis.

    Kita tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus bertransformasi dan berkontribusi lebih besar bagi umat dan bangsa. Di tengah dinamika transformasi pendidikan nasional, GUPPI juga memandang pentingnya penguatan paradigma pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada anak.

    Dalam konteks ini, GUPPI mendukung implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tidak hanya menekankan pada penguasaan pengetahuan yang tidak saja dangkal, tetapi pada pemahaman yang reflektif, kontekstual, dan berkarakter.

    Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memahami makna, serta menginternalisasi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi GUPPI, pendidikan Islam yang berkualitas bukan hanya sekadar hafalan, tetapi pemaknaan. Bukan hanya bersifat ilmu, tetapi transformasi akhlak. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran mendalam sangat sejalan dengan filosofi pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah, yang menekankan pada tadabbur, pemahaman, dan pengamalan ilmu secara utuh.

    Selain itu, GUPPI juga memberikan perhatian besar terhadap penguasaan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan yang dibangun di atas cinta akan melahirkan suasana belajar yang humanis, inklusif, dan penuh empati. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendidik yang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak.

    Kurikulum berbasis cinta menjadi sangat relevan di tengah tantangan kesehatan mental anak, disrupsi sosial, dan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Dalam perspektif pendidikan Islam, cinta (mahabbah), rahmah, dan akhlakul karimah, merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan. Sekolah tidak boleh menjadi ruang yang menekan, tetapi harus menjadi ruang yang menumbuhkan, menguatkan, dan memerdekakan potensi anak secara optimal.

    Selanjutnya, GUPPI berkomitmen kuat untuk mendukung pengembangan Sekolah Ramah Anak sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan berkeadilan.

    Sekolah ramah anak, bukan hanya membuat anak bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga bebas dari kekerasan seksual, tekanan psikologis, dan diskriminasi. Anak harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki martabat, potensi, dan hak untuk berkembang secara optimal.

    Melalui jaringan satuan pendidikan dan lembaga pendidikan yang bernaung dalam GUPPI di seluruh Indonesia, kita akan mendorong pembelajaran yang berpusat pada anak, lingkungan sekolah yang aman dan penuh kasih, penguatan pendidikan karakter dan akhlak dan kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

    Dengan demikian, implementasi Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Sekolah Ramah Anak, bukan hanya menjadi program teknis pendidikan, tetapi menjadi gerakan moral dan peradaban. GUPPI ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan mulia dalam akhlaknya.

    Sebagai organisasi yang konsisten bergerak di bidang pendidikan Islam, GUPPI siap bersinergi dengan pemerintah, para pendidik, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkeadaban, dan berorientasi pada masa depan generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

    Bapak Ibu sekalian yang terhormat.

    Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pendiri dan sesepuh GUPPI, para guru dan tenaga kependidikan, seluruh pengurus GUPPI di semua tingkatan, Pemerintah dan mitra masyarakat, atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia.

    Akhirnya, marilah kita jadikan Milad ke-76 ini sebagai titik kebangkitan bagi GUPPI, bangkit dalam kualitas, bangkit dalam kontribusi dan bangkit dalam pengabdian.

    Dengan semangat kebersamaan, keikhlasan, dan istiqamah, Insya Allah GUPPI akan terus menjadi pilar penting dalam membangun generasi unggul, berakhlak mulia, dan berdaya saing global.

    Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam mengemban amanah besar di bidang pendidikan dan dakwah.

    Dirgahayu GUPPI ke-76.

    Teruslah mengabdi untuk pendidikan, umat, dan bangsa.

    Wassalāmu’alaikum Wr. Wb.

    Fasli Jalal

    Ketua Umum DPP GUPPI

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    61
  • PENGURUS DPP GUPPI KUNJUNGI PESANTREN SYAMSUL ULUM GUNUNGPUYUH SUKABUMI UNTUK PERSIAPAN MILAD GUPPI KE 76

    PENGURUS DPP GUPPI KUNJUNGI PESANTREN SYAMSUL ULUM GUNUNGPUYUH SUKABUMI UNTUK PERSIAPAN MILAD GUPPI KE 76

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    PENGURUS DPP GUPPI KUNJUNGI PESANTREN SYAMSUL ULUM GUNUNGPUYUH SUKABUMI UNTUK PERSIAPAN MILAD GUPPI KE 76

    Sukabumi. (guppi.or.id). Pengurus DPP GUPPI melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Sukabumi, Kamis, 26 Februari 2026, untuk menjajagi kemungkinan perayaan Milad GUPPI ke 76 dilakukan di Sukabumi, tempat kelahiran GUPPI pada tahun 1950 lalu.

    Hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Jenderal DPP GUPPI Rusydi Zakaria didampingi sejumlah pengurus, antara lain Syamsuddin, Aden Daenuri dan Agus Sholeh.

    Dari Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Sukabumi tampak hadir Ketua Yayasan Dra. Hj. Neni Fauziah, Wakil Ketua I Dr. Aab Abdullah, Rektor INKHAS  Dr. A. Suganda dan sejumlah pengurus Yayasan dan Pondok Pesantren.

    Rusydi Zakaria dalam sambutannya mengatakan bahwa sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal, Milad GUPPI ke 76 diharapkan dapat diaksanakan di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Sukabumi, tempat dulu GUPPI dilahirkan oleh KH. Ahmad Sanusi

    “Sesuai dengan arahan Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal, Milad GUPPI ke 76 diharapkan dapat dilaksanakan di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh Sukabumi, tempat dimana dulu GUPPI dilahirkan oleh KH. Ahmad Sanusi,’ kata Rusydi Zakaria.

    Rusydi menambahkan, bahwa Milad ke 76 ini adalah Milad GUPPI yang kedua di periode kepengurusan GUPPI dibawah kepemiminan Fasli Jalal.

    “Tahun lalu kita mengadakan Milad GUPPI ke 75 di Universitas Islam Internasional (UIII) Depok. Alhamdulillah dapat terlaksana dengan sangat meriah dan dihadiri oleh ormas-ormas Islam dan warga GUPPI. Karena itu kami berharap Milad GUPPI tahun ini juga dapat dilaksanakan dengan meriah,” tambah Rusydi.

    Rusydi juga menjelaskan bahwa Milad tahun ini tidak bisa dilaksanakan tepat  pada tanggal kelahirannya, tanggal 3 Maret 2026, karena bersamaan dengan puasa Ramadhan 1447 H.

    “Berhubung tanggal 3 Maret 2026 itu bulan Ramadhan, dan kita sedang melaksanakan puasa Ramadhan, maka Milad tahun 2026 ini tidak dilaksanakan tanggal 3 Maret 2026. Kalaupun ada, nanti, kita akan mengadakan tasyakuran sekaligus buka puasa bersama para pengurus DPP GUPPI,” tambah Rusydi.  

    Lebih lanjut, Sekjen DPP GUPPI menjelaskan bahwa ada sejumlah kegiatan yang akan mewarnai Milad GUPPI, baik oleh DPP GUPPI. DPW maupun di lingkungan sekolah dan madrasah GUPPI.

    “Kita akan mengadakan sejumlah pelatihan untuk guru dan kepala sekolah, diantaranya adalah pelatihan bagaimana implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk guru-guru dan kepala sekolah dan GUPPI. Ini sebagai tindak lanjut dari hasil audisensi Pengurus DPP GUPPI dan kerjasama antara GUPPI dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama,” tambah Rusydi yang lama mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Ruysdi Zakaria menambahkan, bahwa DPP GUPPI akan mencoba mengundang Menteri Agama RI untuk hadir di acara Milad GUPPI ke 76 ini.

    “Kita akan mengundang Menteri Agama untuk hadir di Milad GUPPI ke 76 di Sukabumi sehingga beliau bisa bertemu dan silaturahmi dengan para tokoh dan alim ulama yang ada di Sukabumi ini, tempat dimana KH Ahmad Sanusi melahirkan GUPPI tahun 1950 bersama-sama dengan tokoh-tokoh Islam,” ujar Rusydi.  

    Sementara itu Ketua Yayasan Syamsul Ulum Hj. Neni Fauziyah menyambut baik rencana DPP GUPPI untuk mengadakan Milad GUPPI di pondok pesantrennya, terlebih waktu pelaksanaan Milad berdekatan dengan agenda rutin tahunan Pesantren Syamsul Ulum, yakni Haul wafatnya KH. Ahmad Sanusi.

    “Alhamdulillah, kami menyambut baik rencana DPP GUPPI mengadakan Milad ke 76 di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Sukabumi, tempat dulu orang tua kami KH Ahmad Sanusi mendirikan GUPPI tahun 1950 bersama 350 orang ulama se-Jawa Barat. Saat ini kami juga sedang menyiapkan Haul wafatnya orang tua kami yang biasanya dihadiri para pejabat dan tokoh alim ulama, termasuk pada alumni dan santri. Kalau kedua agenda besar ini dapat dilaksanakan sekaligus, tentu akan lebih meriah” kata Neni Fauziyah.

    Neni juga mempersilahkan sarana dan fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh dapat dimanfaatkan untuk mensukseskan Milad GUPPI ke 76 ini.

    “Kami persilahkan sarana dan fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelatihan-pelatihan DPP GUPPI maupun kegiatan lainnya, sehingga membawa syiar bagi Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh dan GUPPI yang dilahirkan oleh KH Ahmad Sanusi,” tahmbahnya.

    Terkait dengan rencana Milad GUPPI di Syamsul Ulum ini, Neni Fauziyah mengibaratkan ini sebagai anak hilang yang telah kembali ke rumahnya orang tuanya setelah lama merantau.

    “Kami senang rencana Milad ke 76 ini dilaksanakan di Sukabumi, karena ini ibarat anak hilang yang kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan membawa oleh-oleh yang sangat berharga. Karena itu kami akan mendukung apabila ada kegiatan pelatihan, lomba-lomba maupun santunan untuk para guru, santri dan masyarakat di Sukabumi ini,” tambah Neni.

    Menjelang dzuhur, pertemuan diakhiri dengan beberapa catatan, salah satunya adalah perlunya pertemuan lanjutan setelah lebaran 1447 H untuk membahas lebih teknis pelaksanaan Milad GUPPI ke 76 di Pondok Pesantren Syamsul Ulum Gunungpuyuh. (Tim Media GUPPI). 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    73
  • KETUA UMUM DPP GUPPI HADIRI KHOTMUL QUR’AN TPQ AL INAYAH

    KETUA UMUM DPP GUPPI HADIRI KHOTMUL QUR’AN TPQ AL INAYAH

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ketua Umum DPP GUPPI Hadiri Khotmul Qur’an TPQ Al Inayah

    Tangerang Selatan (GUPPI) – Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal menghadiri acara Khotmul Qur’an dan Imtihan TPQ Al Inayah yang ke 20, yang diikuti oleh 27 santri, yang mengambil tema Merayakan ikhtiar, dan Menghargai proses. Kegiatan  dilaksanakan di Adia Convention UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026.

    Kegiatan khotmul Qur’an juga dihadiri oleh Kepala Kemenag Kota Tangerang Selatan Abdul Rojak, Sekretaris Jenderal DPP GUPPI Rusydi Zakaria, Wakil Ketua DPP Wanita GUPPI Tati Hartimah, Pengurus Forsipur Pendis Bambang Setiawan, Pengurus Qiroati Tangerang Selatan Nelty Khaeriyah, Ahmad Zaenuri dan Ikhwan Rizky, Perangkat Kelurahan Pisangan, para orang tua santri dan Kepala TPQ se Tangerang Selatan.

    Dalam sambutannya, Fasli Jalal mengapresiasi kerja keras TPQ Al Inayah dalam mendukung keberhasilan para santri hingga mampu mengkhatamkan Al-Qur’an dengan sangat baik. Menurutnya pelaksanaan Khotmil Qur’an ini memiliki nilai yang sangat penting, selain untuk syiar Islam juga untuk pembentukan karakter anak.

    “Saya mengapresiasi kerja keras TPQ Al Inayah yang telah mengadakan acara Khotmul Qur’an yang ke 20 ini. Momentum Khotmil Qur’an ini tidak hanya menjadi bukti kemampuan para santri dalam membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi juga merupakan langkah awal untuk mempelajari, memahami, dan mentadaburi isi kandungan Al-Qur’an sehingga mampu membentuk karakter anak,” ujar Fasli Jalal.

    Fasli Jalal berharap melalui kegiatan ini dapat lahir generasi-generasi Qur’ani yang tidak hanya mencintai Al-Qur’an tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

    “Saya mengajak kepada kita semua untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, mencintai, dan melaksanakan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan kita sehari-hari. Membaca dan mempelajari Al-Qur’an merupakan hal penting dalam kehidupan. Nilai–nilai Al-Qur’an ini dapat kita jadikan sebagai pedoman hidup dan dijunjung tinggi. Karena itu kita yakin bahwa setiap langkah hidup kita akan membawa kearah yang lebih baik,” tambah Fasli Jalal.

    Dalam sambutannya Fasli Jalal menyampaikan bahwa mempelajarai Al-Qur’an tidak terjadi secara instan, dibutuhkan pengenalan, pembiasaan dan keteladanan serta menumbuhkan kecintaan pada Al-Qur’an itu sendiri, sehingga benar-benar mampu menjiwai dan mengamalkan Al-Qur’an.

    “Tagline kita khataman ini adalah merayakan ikhtiar, dan menghargai proses. Ini adalah sesuatu hal yang sangat perlu kita terapkan dan kita jaga dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada sebuah hasil itu yang instan, semuanya melalui proses, dan semua mesti didasarkan oleh niat yang tulus, ikhtiar yang luar biasa, cerdas, dan bekerja keras. Kita bekerja sama bahu-membahu dalam sebuah ekosistem,” ungkap Fasli Jalal yang saat ini merupakan Rektor Universitas Yarsi Jakarta.

    Fasli Jalal mengingatkan bahwa kegiatan khataman ini bukanlah akhir dari sebuah proses pembelajaran, akan tetapi justru menjadi awal untuk mentrasnferkan nilai-nilai luhur Al-Qur’an.

    “Hari ini kita melihat bahwa anak-anak kita menyiapkan dirinya dengan baik, dan itu butuh pekerjaan yang kerja cerdas dan kerja ikhlas. Saya melihat modal ini nanti 20 tahun dari sekarang, dia akan menjaga dan mempertahankan bahwa Indonesia emas yang kita harapkan dapat dibangun dengan ilmu, keterampilan, profesionalisme yang didasari oleh iman, takwa, dan akhlak mulia,’ tambahnya.

    Mengakhiri sambutannya, Fasli Jalal berharap agar pengalaman TPQ Al Inayah ini dapat ditularkan kepada sekolah dan madrasah GUPPI sehinnga anak-anak kita terus cinta Al-Qur’an dan tamat dari SD sudah bisa baca tulis Al Qur’an dengan baik.

    “Alhamdulllah kita memiliki calon-calon generasi Qur’ani yang mampu menjaga dan memelihara Al-Qur’an. Mudah-mudahan pengalaman ini dapat direplikasi di madrasah dan sekolah GUPPI, sehingga lulusan sekolah atau madrasah GUPPI dijamin bisa baca tulis Al Qur’an dengan baik” ujar Fasli.

    Di akhir acara, didampingi oleh Kepala Kemenag Kota Tangerang Selatan Abdul Rojak dan Pembinana Yayasan Al Inayah Agus Sholeh, Fasli Jalal menyerahkan medali, Syahadah dan rapot kepada 27 santri yang telah dinyatakan lulus setelah melalui Evaluasi Belajar Tahap Akhir Qiroati (EBTAQ) yang dilakukan oleh Manajemen Qiroati Tangerang Selatan.

    Sementara itu Kepala TPQ Al Inayah Yeti Munjiawati menyatakan rasa gembira dan harunya bahwa pelaksanaan Khotmul Qur’an TPQ Al Inayah ke 20 ini dapat terlaksana dengan baik dan meriah. Apalagi dihadiri oleh Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal, yang juga mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

    Dia berharap dengan kehadiran para tokoh ini dapat menyemangati TPQ Al Inayah dalam membimbing anak-anak ke depan dengan lebih baik lagi.

    “TPQ Al Inayah ini didirikan tahun 1998 dan saat ini membimbing sekitar 270 santri untuk belajar Baca Tulis Al Qur’an. Saat ini kami menggunakan Metode Qiroati yang efektif untuk membimbing dan mengajari anak-anak belajar Baca Tulis Al Qur’an,” ujar Yeti.

    Menurutnya, saat ini semangat anak-anak untuk mengaji di TPQ Al Inayah tetap tinggi. Namun ini juga menjadi tantangan bagi TPQ Al Inayah bagaimana anak-anak tetap semangat mengaji di era generasi Z dan perkembangan Artivicial Intelejen.

    “Inilah yang menjadi tantangan kami di TPQ Al Inayah bagaimana membimbing anak-anak itu bisa belajar ngaji di era AI saat ini. Karena itu kami mendisain iklim belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan. Kita gunakan metode Joyfull Learning dan Active Learnig, sehingga anak-anak tidak bosan untuk ngaji,” ujar Yeti.

    Dirinya juga menyatakan apresiasinya kepada para orang tua dan masyarakat yang terus mendorong anak-anaknya untuk terus belajar ngaji di TPQ Al Inayah.

    “Kami ucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan dari para orang tua santri dan Masyarakat sehingga kegiatan Khotmul Qur’an ini dapat dilaksanakan dengan baik. Kami juga ikut senang melihat para orang tua bangga dan bahagia anak-anaknya telah khatam ngajinya,” ujar Yeti yang alumni IAIN Jakarta. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    52
  • DPD GUPPI BANJARNEGARA ADAKAN RAKOR UNTUK PERKUAT SINERGI DAN MUTU MADRASAH

    DPD GUPPI BANJARNEGARA ADAKAN RAKOR UNTUK PERKUAT SINERGI DAN MUTU MADRASAH

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPD GUPPI BANJARNEGARA ADAKAN RAKOR UNTUK PERKUAT SINERGI DAN MUTU MADRASAH

    Banjarnegara – GUPPI – DPD GUPPI Kabupaten Banjarnegara menggelar Rapat Koordinasi dengan para Kepala Madrasah GUPPI pada Kamis, 29 Januari 2026, bertempat di Joglo Karaharjan Rejasa untuk menyamakan langkah dalam meningkatkan mutu madrasah GUPPI yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

    Kegiatan ini dihadiri oleh Pembina GUPPI Banjarnegara, Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Banjarnegara, serta 32 Kepala RA, MI, dan MA di bawah naungan GUPPI Banjarnegara. Rapat ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi kelembagaan sekaligus mengevaluasi capaian program kerja tahun 2025/2026.

    Dalam sambutannya, Pengawas Madrasah Kemenag Banjarnegara, Amron, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada lembaga pendidikan di bawah naungan GUPPI yang ada di Banjarnegara yang mampu menunjukkan prestasi yang membenggakan meskipun jumlahnya tidak sebanyak organisasi pendidikan yang lain.

    “Lembaga GUPPI di Banjarnegara walupun jumlahnya lebih sedikit di banding dengan lembaga pendidikan organisasi lainnya seperti Ma’arif, Muhammdiyah, dan Cokroaminoto, namun tetap mampu menunjukkan prestasi di tingkat Kabupaten maupun Provinsi” kata Amron.

    Ia juga menegaskan untuk terus kerja keras dan meraih prestasi yang lebih baik dari sebelumnya.

    “Madrasah-madrasah GUPPI yang ada di Kabupaten Banjarnegara harus terus mampu bersaing dan menjadi lebih baik di tahun-tahun yang akan datang” pinta Amron.

    Sementara itu, Pembina GUPPI Banjarnegara, Sultoni, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada seluruh kepala madrasah yang secara konsisten melaksanakan forum rapat kerja kepala sekolah yang dimana ini menjadi sarana koordinasi dan penguatan kelembagaan.

    “Terima kasih dan apresiasi kepada segenap kepala Sekolah dan Madrasah di bawah naungan yayasan GUPPI Banjarnegara yang secara rutin mengadakan rapat kerja kepala setiap triwulan” ucap Sultoni dalam sambutannya.

    Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian Surat Keputusan (SK) bagi kepala madrasah yang telah habis masa jabatan serta pemberian tali asih kepada kepala madrasah yang purnatugas sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan pengabdian mereka.

    Rapat kerja kemudian dipimpin oleh Ketua DPD GUPPI Kabupaten Banjarnegara, Umu Rosidah. Dalam arahannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran atas kerja sama yang baik sehingga berbagai program kerja organisasi dapat terlaksana sesuai dengan rencana yang telah disepakati dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) tahun 2025.

    “Kami mengucapkan terima kasih atas kerja samanya sehingga program kerja yang telah disepakati saat Rakerda bulan Juni 2025 dapat terselenggara dengan baik. Salah satu indikator organisasi yang baik dan sehat adalah ketika organisasi dapat menjalankan program kerja dengan baik serta menyajikan laporan pertanggungjawaban secara transparan.” Ujar Umu Rosidah.

    Ia mengajak seluruh jajaran untuk terus melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan instansi terkait serta para pemangku kebijakan agar tidak tertinggal dari lembaga lain, baik dari segi pembelajaran maupun sarana dan prasarana serta tidak berkecil hati meskipun jumlah lembaga relatif sedikit.

    “Mari kita bersama-sama untuk terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan instansi terkait dan para pemangku kebijakan agar kita tidak tertinggal dengan lembaga lain, baik dari segi pembelajaran maupun sarpras. Jangan berkecil hati meskipun kita jumlahnya kecil, bukan menjadi penghalang untuk terus berkontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa. Kecil akan menjadi besar manakala kita bersatu” tambah Umu Rosidah.

    Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan program kerja GUPPI Banjarnegara tahun 2025/2026 telah mencapai sekitar 85 persen dan akan dipertanggungjawabkan serta dievaluasi pada Rapat Kerja Daerah yang direncanakan akan dilaksanakan pada 19–20 Juni 2026.

    “Program kerja tahun 2025/2026 saat ini telah terlaksana sekitar 85 persen. Seluruh capaian tersebut akan kita pertanggungjawabkan dan evaluasi bersama dalam Rapat Kerja Daerah yang Insya Allah akan dilaksanakan pada 19–20 Juni 2026 sekaligus untuk menyusun program kerja satu tahun ke depan.” papar Umu Rosidah.

    Selain evaluasi program kerja, rapat koordinasi tersebut juga membahas berbagai upaya pembenahan kelembagaan di lingkungan DPD GUPPI Banjarnegara. Salah satunya adalah penyesuaian stempel lembaga yang mengacu pada kebijakan GUPPI nasional, yaitu perubahan makna singkatan GUPPI dari “Gabungan” menjadi “Gerakan”. Dalam forum tersebut juga disepakati sistem pengkodean surat keluar guna memperkuat tertib administrasi organisasi.

    Seluruh kepala RA, MI, dan MA GUPPI Banjarnegara juga telah menyusun kalender pendidikan sebagai acuan bagi para pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

    “Kalender pendidikan tersebut kita susun dengan mengacu pada kalender pendidikan dari Kementerian Agama yang kemudian diperkaya dengan berbagai kegiatan serta karakteristik khas GUPPI Banjarnegara,” imbuh Umu Rosidah yang juga Ketua IGRA Kabupaten Banjarnegara.

    Melalui rapat koordinasi ini diharapkan DPD GUPPI Kabupaten Banjarnegara semakin memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kualitas lembaga pendidikan, serta terus berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Banjarnegara. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    39
  • Kemendikdasmen dan GUPPI Tandatangani Nota Kesepahaman untuk Kerjasama Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

    Kemendikdasmen dan GUPPI Tandatangani Nota Kesepahaman untuk Kerjasama Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kemendikdasmen dan GUPPI Tandatangani Nota Kesepahaman untuk Kerjasama Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah

    Kendari (GUPPI) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI), Fasli Jalal, terkait dengan Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah di Indonesia.

    Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilaksanakan di Kendari, Sulawesi Tenggara, Sabtu (10/1/2026), setelah Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjadi Keynote Speakar dalam acara Silaturahmi Nasional GUPPI dan Ummushabri International Expo 2026.

    Di awal sambutannya, Menteri Abdul Mu’ti mengatakan bahwa kehadirannya ke Kendari ini dalam rangka menghadiri Silaturahmi Nasional GUPPI. Karena dirinya juga merasa menjadi bagian dari GUPPI.

    “Saya hadir di Kendari ini karena diundang oleh GUPPI untuk menghadiri Silaturahmi Nasional GUPPI. Bagi saya GUPPI itu bukan sesuatu yang baru, kiprahnya di dunia pendidikan sudah begitu lama, apalagi Ayah saya dulu juga aktif di GUPPI, dan dikenal sebagai Kyai GUPPI di Kudus,” kata Abdul Mu’ti.  

    Mu’ti meminta agar GUPPI dapat membantu Kemendikdasmen dalam mengembangkan pendidikan nasional yang bermutu dan berdaya saing, terutama di tingkat dasar dan menengah.

    Dia menyebut bahwa ribuan lembaga pendidikan di bawah naungan GUPPI sebagai aset penting bangsa yang telah memberikan kontribusi besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sekalipun banyak di antaranya berkembang tanpa dukungan dari pemerintah.

    “Kalau semua sekolah di Indonesia seperti Ummusshabri ini, Menteri tinggal tidur nyenyak dan meresmikan saja. Sayangnya, kondisi itu belum sepenuhnya terwujud,” ujarnya.

    Dalam sambutannya, Menteri Abdul Mu’ti menyoroti tiga tantangan besar yang harus diselesaikan secara cepat dan kolaboratif, yaitu akses dan mutu pendidikan, penguatan karakter generasi muda, serta pemanfaatan teknologi digital.  

    Dia menegaskan bahwa amanat Pasal 31 UUD 1945 dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional mewajibkan negara menjamin pendidikan yang bermutu bagi seluruh warga negara.  Karena itu, Kemendikdasmen mengusung visi “Pendidikan Bermutu untuk Semua” sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya cita keempat.

    Mendikdasmen juga mendorong penerapan deep learning di sekolah yang menekankan deep reading, deep thinking, dan refleksi, bukan sekadar kemampuan berpikir tingkat tinggi. Ia menegaskan pentingnya membangun sekolah yang aman dan nyaman, agar anak-anak dapat belajar dengan gembira, bermakna, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.  

    “Karena itu kehadiran GUPPI dapat membantu Pemerintah dalam melakukan pelatihan-pelatihan bagaimana implementasi deep learning di sekolah, madrasah dan pondok pesantren binaan GUPPI agar lembaga-lembaga pendidikan Islam itu bermutu dan maju,” tambah Mu’ti.

    Sementara itu Ketua Umum DPP GUPPI, Fasli Jalal, menyatakan apresiasinya atas kesediaan Mendikdasmen Abdul Mu’ti hadir di acara Silaturahmi Nasional GUPPI dan menandatangani Nota Kesepahaman dengan GUPPI dalam peningkatan mutu Pendidikan Dasar dan Menengah .

    Fasli Jalal menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 2.300 lembaga pendidikan dalam jaringan GUPPI dengan berbagai karakteristik dan pendekatan. Oleh karena itu pihaknya akan mengoptimalkan peran GUPPI di daerah, baik DPW maupun DPD untuk membantu Pemerintah.

    “Saat ini GUPPI berada di 24 propinsi dan Insya Allah akan berperan aktif untuk dalam mendukung kebijakan Kemendikdasmen dengan kebijakannya pembelajaran mendalam (deep learning) agar pembelajaran itu kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi kehidupan peserta didik,” ujar Fasli Jalal.

    Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal DPP GUPPI, Rusydi Zakaria, menjelaskan bahwa nota kesepahaman ini akan mencakup beberapa area utama, seperti:

    1. Penguatan mutu penyelenggaraan dan tata kelola satuan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan;
    2. Pengembangan dan penguatan kualitas pembelajaran, termasuk sosialisasi, advokasi, dan pelatihan pembelajaran mendalam (deep learning) melalui prinsip berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful), yang berpusat pada peserta didik,
    3. Peningkatan kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusia pendidikan dasar dan menengah, meliputi kepala satuan pendidikan, pendidik, dan tenaga kependidikan; dan
    4. Kajian, penelitian, serta pengembangan kurikulum, kebijakan dan praktik pendidikan dasar dan menengah.

    Rusydi juga mengatakan bahwa Nota Kesepahaman yang ditandatangani ini adalah langkah awal dari kerjasama yang lebih konkret. Selanjutnya, Kemendikdasmen dan GUPPI akan menyusun perjanjian kerja sama lebih rinci untuk kemajuan sekolah, madrasah dan pondok pesantren. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    83
  • Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    Oleh : Dr. Marzuki Alie

    Pendahuluan.

    WMO (World Meteorological Organization) mengkonfirmasi bahwa tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global 1.60°C di atas level pra industry, > 1,50 C dalam kesepakatan perjanjian Paris.

    Menurut WHO, polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian prematur per tahun secara global. Dan 80% polusi udara karena pembakaran bahan bakar fosil.

    Kemudian populasi satwa liar global (mamalia, burung, ikan, dll.) telah menurun rata- rata 68% sejak 1970. Lebih dari 500 spesies hewan darat kini di ambang kepunahan.

    Sekitar 14 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun. Sebanyak 91% plastik yang pernah diproduksi tidak didaur ulang dan akan bertahan selama berabad-abad. Itu fakta di dunia global.

    Di Indonesia deforestasi dan kerusakan hutan itu sudah terjadi sejak tahun 2000. Jutaan hektar hutan hilang. Sudah lebih dari 9 juta hektar hutan yang hilang. Lebih dari 60 persen sungai besar tercemar.

    Suhu rata-rata Indonesia diproyeksikan naik lebih dari 1,3 derajat sejak tahun 2020 sampai nanti tahun 2049. Kenaikan permukaan laut juga mengancam, dengan laju sekitar 0,3 sampai 0,5 cm per tahun di perairan Indonesia. Itu fakta yang dunia baik global maupun Indonesia yang kita hadapi bersama.

    Peran Strategis Pendidikan Islam

    No

    Poin Strategis Pendidikan Islam

    Implementasi Dalam Pendidikan Islam

    1

    Menanamkan Kesadaran sebagai Khalifah

    Mengajarkan bahwa menjaga alam adalah ibadah dan bentuk ketakwaan, bukan sekadar aktivitas sekuler.

    2

    Mengintegrasikan Spiritualitas dengan Etika Lingkungan

    Membangun etika ekologis berbasis spiritual, menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab pada alam

    3

    Menjawab Krisis Lingkungan sebagai Krisis Spiritual

    Pendidikan sebagai sarana restorasi spiritual dan koreksi pandangan dunia (worldview) yang antroposentris menjadi teosentris

    4

    Merevitalisasi dan Mengkontekstualisasikan Warisan Ilmu Islam

    Menggali dan menghidupkan kembali ajaran ulama klasik tentang lingkungan dalam kurikulum modern

    5

    Mentransformasi Kurikulum dan Metode Pembelajaran

    Integrasi isu lingkungan ke dalam mata pelajaran agama (tafsir, fiqih, akhlak, sejarah). Metode pembelajaran kontekstual dan aksi nyata (seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah)

    6

    Membangun Ketahanan dan Solusi Komunitas Religius

    Memberdayakan komunitas (pesantren, majelis taklim) sebagai model dan agen perubahan lingkungan di tingkat lokal

    Dalam pendidikan Islam kalau soal bicara firman, bicara hadith, semuanya sahih. Semuanya pasti paham betul di luar kepala. Kalau ada terjadi kerusakan semuanya bisa bersuara vokal.

    Tapi di dalam kenyataan, di dalam pendidikan Islam bahwa kurikulum kita itu belum mengintegrasikan, yang namanya pesan-pesan Al-Qur’an dan Al-Hadith dengan bagaimana kita menyelamatkan lingkungan itu, belum terintegrasikan.

    Sudah banyak yang bicara tentang pesan-pesan dalam Al Qur’an dan hadits ini, tinggal bagaimana kita mengimplementasikan bahwa kurikulum kita itu sudah harus lebih maju. Harus kita reformasi supaya betul-betul memberikan pemahaman yang utuh kepada anak-anak kita.

    Kita tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Quran tetapi bagaimana ikut berkontribusi di dalam menyelamatkan lingkungan, baik dalam bentuk pemberian pemahaman maupun dalam bentuk praktek yang nyata. Itu yang penting.

    Relevansi Dengan Nilai-Nilai Islam

    Penerbitan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi: Membangun Kesadaran Ekoteologis Berbasis Al Qur’an oleh Kementerian Agama tahun 2025 perlu disambut dengan positif. Karena ini relevan dengan permasalahan yang kita hadapi, yaitu masalah ekologi dan kemanusiaan.

    Buku ini relevan dengan nilai-nilai Islam karena buku ini menyatukan Teks Ilahi dan Kesadaran Ekologis adalah pendekatan penafsiran ajaran Islam yang menempatkan isu lingkungan hidup sebagai bagian integral dari pesan ketuhanan.

    1. Kerusakan alam sebagai krisis spiritual. Krisis ekologis yang melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia, tidak hanya merupakan masalah teknis, politik, atau ekonomi, melainkan juga cerminan krisis spiritual manusia. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rūm/30: 41
    2. Konsep ekoteologi dalam Al Qur’an sudah jelas yaitu bagaimana memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta secara integrative. Dalam perspektif Islam, hubungan ini terjalin dalam kerangka tauhid, yakni pengesaan Tuhan yang mencakup keesaan penciptaan (al-Khalq), kepemilikan (al-Mālik) dan pengaturan (at Tadbīr). Ekoteologi berdiri di atas tiga pilar, yaitu Tauhid (kesatuan Tuhan dan penciptaan), Khalīfah (kepemimpinan etis manusia), dan ‘Adālah (keadilan lingkungan). Ketiganya membentuk landasan moral yang kuat untuk mengatasi kerusakan ekologis yang melanda dunia. Konsep ini diperkuat oleh prinsip mizān (keseimbangan)
    1. Penerapan ekoteologis dalam tafsir Al Qur’an menempatkan ayat-ayat tentang ciptaan Tuhan dalam kerangka tanggungjawab manusia sebagai khalifah di bumi, yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, bukan merusaknya. Karena itu solusi terhadap krisis ekologis, tidak cukup hanya dengan pendekatan teknokratik atau regulasi, tetapi harus menyentuh akar spiritual dan moral manusia.

    Dunia pendidikan harus ikut berkontribusi untuk menyelamatkan bumi ini, antara lain yang paling sederhana Adalah dengan mengajak anak-anak kita mencintai alam ini dengan menanam. Siswa di sekolah, madrasah dan pesantren disuruh tanam satu pohon.

    Itu hal-hal yang sederhana kalau sekian ribu santri, sekian juta santri di Indonesia setiap tahun itu akan ada tanaman pohon-pohon baru yang ikut menyelamatkan bumi ini.

    Itu salah satu contoh peran kita umat Islam di dalam dunia pendidikan itu langsung berkorelasi positif terhadap menyelamatkan bumi. Itu yang paling penting.

    Oleh karenanya ini tidak hanya dilakukan oleh Ummusshabari Kendari, tetapi juga harus dilakukan oleh semua madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Lembaga-lembaga pendidikan, baik itu pendidikan umum, maupun pendidikan agama, harus mau melakukan ini. Ini mau gak mau, suka gak suka harus menanam. Kita berharap agar GUPPI bisa menjadi motor Gerakan ini. Karena itu perlu disiapkan contoh seratus madrasah, sekolah dan pondok pesantren di GUPPI.

    Bagaimana kita mengintegrasikan kurikulum itu dengan menyiapkan guru-guru yang sudah punya ilmu yang terkait dengan substansi untuk melestarikan lingkungan. Jadi tidak hanya menghapal ayat saja.

    Kita ini terlalu banyak pesantren hafal Al Qur’an, tapi tidak ada tahu bagaimana mengimplementasikan isi Al-Qur’an itu. Jadi banyak yang hafal, tapi soal adab pun kadang-kadang kita tidak kita berikan contoh yang bagus.

    Dulu, kita dengan orang tua, kita dengan guru, kalau gurunya duduk di atas, kita duduk di bawah. Kalau sekarang gurunya duduk di bawah, muridnya duduk di kursi. Jadi artinya apa? Keteladanan sudah tidak ada, pendidikan karakter sudah hilang.

    Urgensi Pembaruan Pendidikan Islam Dalam Konteks Ekologis

    ANTROPOSENTRISME

    TEO-ANTROPO-EKOSENTRIS

    HIFZH AL –BI’AH

    Dalam konteks krisis ekologi global, pendidikan Islam dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk meninggalkan paradigma antroposentrisme (yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam untuk dieksploitasi)

    Dunia Pendidikan Islam perlu berubah kepada paradigma yang integrative (teo-antropo ekosentris): yaitu paradigma memulihkan konsep “Khalifah” yang otentik, di mana manusia adalah wakil Tuhan dengan amanah mulia untuk memakmurkan dan memelihara bumi (istikhlaf), bukan mengeksploitasinya.

    Pergeseran ini menjadikan perlindungan lingkungan (hifzhal bi’ah) sebagai tujuan syariah yang setara dengan perlindungan jiwa, agama, dan akal, sehingga merespons krisis ekologi menjadi bagian dari komitmen keimanan

    Ada dua tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga harmoni alam :

    1.Dualisme Kurikulum dan Metode Pengajaran.

    a. Pemisahan Disiplin Ilmu: Kurikulum pendidikan Islam tradisional memisahkan ilmu agama dan sains lingkungan.

    b.Kurangnya Integrasi: Konsep ekologi Islam tidak terstruktur dalam pembelajaran sistematis.

    c. Kurikulum Madrasah: Madrasah belum mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kurikulum inti.

    d. Implikasi: Lulusan memiliki pengetahuan agama kuat tetapi kesadaran ekologis lemah.

    e. Pendekatan Dogmatis: Pengajaran nilai-nilai lingkungan, masih bersifat teoritis dan normatif, tanpa konteks aplikatif.

    f.  Kurang Experiential Learning: Minim pembelajaran lapangan, observasi ekosistem, dan proyek lingkungan.

    g. Gap Generasi: Metode ceramah konvensional tidak efektif bagi generasi digital native.

    2. Disorientasi Nilai dan Keterbatasan Infrastruktur/SDM

    a. Dominasi Paradigma Antroposentris: Manusia sebagai pusat vs. konsep khalifah sebagai pemelihara.

    b. Konsumerisme vs. Kesederhanaan: Budaya israf (berlebihan) bertentangan dengan prinsip zuhud dan keberlanjutan.

    c. Krisis Spiritual-Ekologis: Degradasi lingkungan sebagai manifestasi krisis spiritual (QS Ar-Rum: 41).

    d. Keterbatasan Fasilitas: Madrasah/pesantren dengan akses terbatas ke sumber daya pendidikan lingkungan.

    e. Kapasitas Pendidik: Guru agama dengan kompetensi ekologis terbatas.

    f. Minimnya Kolaborasi: Keterpisahan antara lembaga pendidikan Islam dan organisasi lingkungan

    Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai teologis dan nilai-niai ekologis ?

    STUDI KASUS INTERNASIONAL

    Beberapa negara dapat dijadikan contoh bagaimana mereka menjaga ekologi dengan baik.

    Maroko membuat program “Madrasah Hijau” dengan kurikulum integratif dan infrastruktur ramah lingkungan.

    Turki membuat Program “Eco-Madrasahs” dengan sertifikasi nasional untuk sekolah Islam ramah lingkungan.

    Malaysia melakukan integrasi konsep maqasid syariah (tujuan syariah) dalam pendidikan lingkungan di universitas Islam.

    ROADMAP 5 TAHUN PENDIDIKAN EKOLOGI ISLAM

    Untuk mendapatkan lingkungan alam yang hijau, aman dan damai tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Diperlukan perencanaan yang matang dan konsistensi dalam menjaga progam tersebut agar tetap berjalan dengan baik.  

    TAHUN

    AGENDA

    TH.1 – 2026

    1. Penyusunan Kurikulum Nasional – pilot Project 10 Madrasah

    2. Pelatihan Guru Inti

    TH. 2-3 (2027-2028)

    1. Replikasi ke 100 Madrasah. Sertifikasi “Madrasah Hijau”

    2. Pengembangan Materi Digital

    TH. 4 – 2029

    1. Evaluasi Nasional (Perbaikan Kurikulum)

    2. Ekspansi ke Pesantren

    TH. 5 – 2030

    1.  Ekspansi Nasional (Kerjasama Internasional)

    2. Sistem Monitoring Berkelanjutan

    KESIMPULAN

    1. Telah terjadi kerusakan lingkungan baik secara global maupun lokal yang berdampak serius pada krisis iklim, bencana ekologis, menurunnya kualitas hidup manusia, serta terancamnya keberlanjutan generasi mendatang.
    2. Pendidikan Islam memiliki relevansi kuat dalam memelihara ekologi dan lingkungan melalui nilai-nilai tauhid, amanah, khalifah, keadilan, dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.
    3. Pendidikan Islam perlu diperbarui agar tetap kontekstual dan responsif terhadap persoalan ekologis, meskipun menghadapi tantangan kurikulum, kapasitas pendidik, dan integrasi ilmu keislaman dengan sains lingkungan.
    4. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan roadmap pendidikan ekologi Islam yang terarah dan terukur untuk lima tahun ke depan guna membangun kesadaran, kompetensi, dan aksi nyata pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Marzuki Alie adalah Rektor Universitas Indo Global Mandiri Palembang. Wakil Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    46
  • Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    Oleh : Dr. Ida Zahara Adibah

    Pendahuluan

    Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman GUPPI, yang dikenal dengan nama Undaris, itu memang unik dan menarik. Nama perguruan tingginya panjang banget ? Ini memang ada sejarahnya, terkait dengan 3 gerbong.

    Yang pertama dari nama Universitas Darul Ulum Jombang. Itu pendirinya Kyai Haji Musain Romli. Beliau dulu itu tokoh torikot Nahdhatul Ulama. Kemudian bergandengan dengan Yayasan Islamic Center Sudirman Ambarawa, Jawa Tengah.

    Jadi Jawa Timur dengan Jawa Tengah berkumpul dua sahabat kemudian karena sama-sama aktif di GUPPI, pada waktu itu di Golkar, maka kemudian nama Yayasan Islamic Center Sudirman itu ditambah dengan GUPPI, sehingga Undaris itu adalah Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman GUPPI di Semarang.

    Persoalan Perguruan Tinggi Swasta.

    Ada berbagai persoalan yang dihadapi oleh perguruan tinggi Islam swasta di Indonesia. Jumlah lembaga perguruan tinggi Islam swasta ini, yang ada di Kemenang, kurang lebih ada 870. Di Jawa Tengah, yang di bawah Kopertais, ada sekitar 50-an. Menurut data Kementerian Agama, jumlah lembaga perguruan tinggi Islam swasta saat ini ada 870. Muhammadiyah punya 170 perguruan tinggi. Kemudian milik Nahdhatul Ulama kurang lebih 183. Berarti kira-kira ada sekitar 1200an perguruan tinggi Islam.

    Pertanyaannya kemudian, bagaimana mutu perguruan tinggi Islam ? Apakah banyak sudah Terakreditasi Unggul ? Ternyata belum ada 20% perguruan tinggi Islam swasta yang Terakreditasi Unggul.

    Ini juga yang dirasakan di Undaris. Karena itu kita menargetkan agar Undaris dapat segera Terakreditasi Uggul. Hari ini akreditasi institusinya masih Baik Sekali.

    Nah persoalan perguruan tinggi Islam swasta pada umumnya ada 3, yaitu dana, mutu dan minat calon mahasiswa.

    Yang pertama tidak punya dana. Ketika tidak punya dana, maka kurang berkualitas. Ketika kurang berkualitas, maka akan mati. Banyak perguruan tinggi Islam yang punya mahasiswanya sekitar 10-15 orang saja. Kemudian karena tidak laku, dia decline atau mati.

    Maka bagaimana 3 persoalan itu kita atasi ?. Ini kayak lingkaran setan. Karena itu bagaimana kita upayakan agar menjadi lingkaran malaikat ?. Apa itu ? Nah istilah lingkaran malaikat itu yaitu bagaimana kualitasnya yang didahulukan. Ketika kualitasnya didahulukan, maka otomatis akan diminati oleh masyarakat. Ketika diminati oleh masyarakat, maka disitulah ada uang yang mengalir. Walaupun niatnya tidak bisnis, tetapi secara mandiri itu bisa mencukupi kebutuhan sendiri.

    Yang namanya yayasan tidak bergantung kepada pemerintah. Dan hampir semua lembaga pendidikan Islam di Indonesia itu swasta. Kira-kira 90 %. Ini termasuk juga madrasah, yang sebagian besar itu swasta.

    Memang perguruan tinggi Islam memiliki peran historis dalam perjuangan bangsa dan pengembangan pendidikan di Indonesia. Tidak bisa kita pungkiri bahwa perguruan tinggi Islam sangat membantu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Maka dari itu tantangan di era globalisasi dan modernisasi menuntut perguruan tinggi Islam untuk terus berinovasi.

    Bagaimana GUPPI sekarang ?

    GUPPI sebagai organisasi pembaruan pendidikan Islam harus melakukan langkah strategis dalam pengoptimalan perguruan tinggi Islam. Maka ada 5 langkah yang perlu dilakukan. Ini juga yang sedang saya rintis di Undaris.

    Pertama, Internalisasi nilai dan karakter. Perguruan tinggi Islam harus bisa menanamkan rasa takwa dan akhlak mulia sebagai landasan pengembangan kepribadian mahasiswa.

    Pendidikan Islam difungsikan sebagai filter untuk memilah budaya global yang baik dan buruk. Bagaimana perguruan tinggi Islam dapat membangun kesadaran etis dan moral yang kuat, menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang utuh dan bermoral. Dan yang juga penting adalah bagaimana melakukan integrasi nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum dan kehidupan kampus secara holistik.

    Karena kita basisnya Islam, maka penguatan karakter dan nilai spiritual itu yang menjadi ruh kita. Siapa lagi yang akan memperjuangkan anak-anak kita kalau tidak lewat pergurun tinggi kita ? Maka perguruan tinggi kita itu tidak boleh mencetak pengangguran, Tetapi bagaimana perguruan tinggi kita bisa mencetak para intelektual yang bisa memecahkan persoalan masyarakat.

    Kedua, yaitu mutu akademik dan riset inovatif berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalisme dan mutu tenaga pendidik. Karena itu dosen harus bergelar doktor atau Profesor. Mampu mengembangkan budaya riset multidisipliner yang berfokus pada isu-isu sosial, ekonomi, dan lingkungan, kemudian menyediakan solusi akademis yang integral. Perguruan tinggi Islam harus bisa memastikan bahwa kurikulum yang digunakan itu relevan dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Nah ini memang bedanya lembaga pendidikan dasar menengah dengan pendidikan tinggi adalah dalam bidang riset sehingga perguruan tinggi bukan sebatas menara gading tetapi justru memberikan solusi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

    Ketiga yaitu peran sosial dan kemasyarakatan. Jangan sampai kehadiran perguruan tinggi itu tidak dikenal oleh masyarakat, karena tidak pernah melakukan pengabdian kepada masyarakat.

    Nah kontribusi sosial dan agen perubahan Ini mendorong kampus untuk punya Social Responsibility. Jadi fungsi perguruan tinggi adalah sebagai solusi umat dalam beragama dan berbangsa. Ketika ada kasus-kasus yang terjadi di masyarakat itu bisa dilakukan riset oleh perguruan tinggi sesuai dengan semangatnya.

    Jadi bagaimana memperkuat kontribusi institusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dengan pendekatan berbasis nilai-nilai Islam.

    Keempat adalah jaringan dan internasionalisasi. Saat ini Undaris sudah mulai menjalin kerjasama dengan berbagai jaringan internasional, termasuk KKN internasional di Malaysia.

    Kegiatan mahasiswa praktek mengajar di Malaysia yaitu mengajar anak-anak Indonesia yang tidak mendapat pendidikan di sekolah formal di Malaysia. Undaris memberangkatkan mahasiswa ke sana untuk mengajar di sanggar-sanggar yang ada.

    Jadi ini memang persoalan pelik. Orang tuanya itu warganegara Indonesia yang bekerja di Malaysia, tapi tidak punya status warganegaraan sehingga anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang formal di sana. Kehadiran kampus disana diharapkan menjadi agen perubahan bagi masyarakat.

    Program KKN Internasional ini dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan mencoba membangun kredibilitas institusi di tingkat nasional dan internasional agar perguruan tinggi Islam Indonesia dapat bermain di tingkat dunia.

    Dan terakhir yaitu Strategi Politik Pendidikan. Hubungan antara pendidikan dan politik Ini bukan sekedar hubungan saling memengaruhi,  tetapi adalah hubungan fungsional. Ketika perguruan tinggi dekat dengan pemerintah, maka itu bisa menjadi partner yang ideal, seperti juga ormas-ormas yang lain. Sehingga perjalanan arah bangsa ini salah satunya juga digawangi oleh Perguruan Tinggi Islam milik GUPPI. Ini adalah bukti bagaimana kontribusi yang nyata dari perguruan tinggi Islam.

    Hubungan timbal balik antara pendidikan dan kebijakan politik dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (un-employment), dan peranan politik kaum cendekia  (the political role of intellectual).

    Kata Akhir

    Perguruan Tinggi Islam diharapkan tidak menjadi menara gading intelektual, tetapi justru bisa menjadi mercusuar moral dan agen bagi solusi permasalahan umat dan bangsa.

    Dengan strategi yang tepat maka perguruan tinggi Islam dapat menguatkan misi Islam sebagai Islam Rahmatan lil alamin. Ini yang kita idam-idamkan, baik dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan dan juga peradaban di Indonesia.

    GUPPI diharapkan terus mendorong perguruan tinggi Islam untuk menguatkan peran transformatifnya melalui 5 pilar strategis, yaitu penguatan karakter, mutu akademik, kontribusi sosial, jaringan global dan strategi politik pendidikan.

    – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Ida Zahara Adibah. M. Si adalah Rektor Undaris GUPPI Semarang dan Wakil Ketua DPW GUPPI Jawa Tengah. 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    48
  • PERAN GUPPI DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM (DEEP LEARNING)

    PERAN GUPPI DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM (DEEP LEARNING)

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Peran GUPPI Dalam Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

    Oleh : Bambang Suryadi

    Pendahuluan.

    Hingga saat ini masih muncul tiga pertanyaan yaitu why, what, and how terkait dengan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Masyarakat ingin tahu lebih dalam lagi mengapa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membuat kebijakan ini dan bagaimana implementasinya ?.

    Sebagaimana kita ketahui, kita menghadapi yang namanya krisis pembelajaran secara global. Global learning crisis, bahkan massive learning crisis. Apa indikatornya?

    Laporan Bank Dunia 2018 menyebutkan terjadinya schooling without learning. Anak-anak kita itu pergi ke sekolah, menghabiskan waktu dari pagi sampai sore hari, membawa buku pelajaran, tapi at the end of the day they didn’t learn anything.

    Fakta dari OECD dari hasil PISA tahun 2018-2022 menggambarkan bahwa lebih dari 99 persen siswa Indonesia itu memiliki kemampuan berpikirnya pada low order thinking skill dan kurang dari 1 persen yang kemampuan berpikirnya itu pada high order thinking skill.

    Belum lagi temuan OECD menyebutkan bahwa 2 dari 3 siswa di Indonesia ini memiliki yang namanya fixed mindset, pola berpikir tetap, yang bukan growth mindset, Sulit untuk berubah, sulit untuk beradaptasi kepada lingkungan, sulit untuk menerima perubahan dan hal-hal yang baru.

    Secara nasional, kita juga mengalami learning loss seperti yang disampaikan oleh Menteri Dikdasmen kita Prof. Abdul Mu’ti terjadinya generasi strawberry, bahkan dari Malaysia menyebut terjadinya Brain Rot.

    Kita lihat anak SMP kasus di Bali, kelas 3 SMP belum bisa membaca, anak SD bunuh diri. Belum lagi kasus bullying yang ada di media sosial. Yang ini menggambarkan lemahnya karakter siswa-siswa kita. Jadi tantangan global begitu berat, tantangan nasional juga begitu hebat. Sementara anak-anak belajar hanya pada service learning.

    Pertanyaannya adalah solusi terhadap tantangan ini apa? Karena itu ijtihad Menteri Dikdasmen memperkenalkan yang namanya deep learning ataupun pembelajaran mendalam, yang ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru di dunia pendidikan. Di Indonesia tahun 70-an sudah memperkenalkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

    Kemudian dengan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ada lagi PAIKEM Gembrot (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot). Itu sebenarnya ada unsur-unsur yang ada di dalam deep learning. Namun ini semua belum menghasilkan kualitas pembelajaran yang baik.

    Karena itu melihat tren global yang saat ini sudah ada kurang lebih 21 negara yang menerapkan deep learning, maka Indonesia adalah negara yang kedua puluh dua, dimana negara-negara ini ada yang sifatnya memang kebijakan nasional. Seperti Norwegia, adalah kebijakan masing-masing satuan pendidikan. Di Australia, meskipun tidak eksplisit menyatakan deep learning, tapi sekolah itu menerapkan. Mereka juga ada explicit teaching, explicit learning.

    Nah kita di Indonesia ini kebijakan yang diambil dari kebijakan secara nasional, yang berarti akan diperlakukan seluruh satuan pendidikan, baik pada sekolah maupun madrasah. Inilah why sebagai jawaban terhadap tantangan-tantangan baik global maupun nasional itu tadi.

    Sekarang, apa itu deep learning?

    Deep learning yang kita terapkan di Indonesia ini bukan deep learning sebagaimana yang ada di negara-negara lain yang diperkenalkan oleh Michael Fullan sebagai pakar ataupun figur yang memperkenalkan ini.

    Kalau kita amati secara detail dalam definisinya Michael Fullan, secara sederhana bisa kita pahami deep learning juga proses untuk mencapai enam C untuk kemampuan global itu. Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity dan Critical thinking.

    Tapi di Indonesia, kalau bahasanya anak muda, bahwa pembelajaran mendalam sangat Indonesia banget. Berarti dia mengakar kepada local wisdom. Dia berbasis pada nilai-nilai lokal tapi juga mengadaptasi pada nilai global.

    Karena itulah kata kunci penting dalam definisi ini yang langsung oleh Menteri Dikdasmen yaitu adalah pendekatan pembelajaran yang memuliakan. Maka kita juga, sebagaimana juga Allah sangat memuliakan manusia. Seperti firman Allah wa laqot karramna bani Adam.

    Pertanyaanya, apakah guru-guru tidak akan memuliakan muridnya meskipun mereka punya keterbatasan? Apakah murid-murid tidak akan memuliakan guru-gurunya? Tapi fakta yang ada sekarang guru tidak berani bertindak karena mereka tidak memiliki perlindungan hukum, tidak punya proteksi sehingga mereka dipidanakan dan seterusnya.

    Setelah ini memuliakan, maka dibingkai dalam tiga nilai yang sangat penting yaitu nilai yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan mengembirakan (joyful).

    Mengapa diambil setelah menggembirakan bukan yang menyenangkan? Selama ini terjadi miskonsepsi. Fun learning hanya diartikan pada pembelajaran yang perlu dengan ice breaking, anak bisa tertawa gembira, tapi at the end of the process they got nothing. Karena itulah mengembirakan dalam konteks ini adalah ketika anak bisa menginternalisasi dan memahami dan mengaplikasikan apa yang mereka terapkan.

    Tidak cukup dengan tiga prinsip ini, tapi ini harus dalam proses yang menyeimbangkan antara olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah fisik. Inilah konsep tawazun ataupun keseimbangan. Dalam keseimbangan ini perlu dilakukan secara holistik dan integratif. Inilah kata kunci penting dalam definisi deep learning yang Indonesia. Ada integratif, holistik, olah pikir, olah rasa, olah hati, olah fisik. Kemudian berkesadaran, bermakna, dan mengembirakan. Tapi paling utama nilai adalah memuliakan.

    Yang kedua, dalam konteks implementasi telah terjadi miskonsepsi dan mispersepsi terhadap pembelajaran mendalam. Dipahami seolah-olah pembelajaran adalah sebuah kurikulum baru. Bukan, dia sebuah pendekatan. Ibarat iklan Teh Sosro,  apapun makanannya, minumannya tetap Teh Sosro.

    Apapun kurikulumnya, sekarang kita masih menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Karena sebuah pendekatan, maka dalam istilah agama kita, deep learning ini solihun likuli zaman wa makan. Solihun likuli manhaj dirosi.

    Tapi di Kementerian Agama yang diterapkan sekarang itu Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Maka perlu dipadukan antara dua kebijakan ini sehingga perpaduan antara Pembelajaran Mendalam (PM) dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ini akan menghasilkan pendidikan bermutu dan berkualitas untuk semuanya.

    Peran penting dalam implementasi Pembelajaran Mendalam ada tiga aktor utama.

    Pertama adalah siswa yang belajar, guru yang mengajar, ketika ada kepala sekolah yang melakukan kepemimpinan ataupun manajemen. Karena itulah dalam implementasinya, kita telah menetapkan bahwa karakteristik sekolah yang berhasil dan penerapan ini adalah excellent in learning, excellent in teaching, dan excellent in leading. Tiga faktor utama ini harus diawali dengan tadi perubahan mindset untuk berubah.

    Namun tantangan kita, meskipun saat ini sudah ada kurang lebih 62 ribu sekolah yang dilatih, begitu guru-guru selesai dilatih, mereka kembali kepada praktek yang lama. Karena itulah kita memerlukan backstopping program supaya mereka itu adaptif terhadap perubahan yang baru.

    Hal yang lain adalah yang penting dalam konteks implementasi pada assessment ataupun penilaian. Di mana kelemahan-kelemahan selama ini adalah guru-guru ataupun juga dinas pendidikan, dan satuan pendidikan, tidak melakukan tindak lanjut terhadap penilaian. Karena itu penelitian John Heide yang mengatakan bahwa feedback ataupun umpan balik guru terhadap hasil kerja siswa, itulah yang membuat siswa belajar. Karena umpan balik itu sifatnya low cost tapi high impact.

    Assesmen harusnya tidak memerlukan biaya yang tinggi sebagaimana kalau kita membangun kelas, membangun sekolah baru, ataupun membeli teknologi. Makanya low cost, tapi impactnya sangat tinggi karena bisa membuat siswa belajar.

    Sama dengan konteks PR, bukan banyaknya PR. Ini seperti temuan Almahum Yahya Umar, yang mengatakan bahwa yang membuat siswa belajar bukan banyaknya PR yang diberikan guru, tapi adalah kualitas PR yang diberikan oleh guru terhadap muridnya.

    Kalau PR-PR ini berkualitas, diikuti dengan feedback, maka akan terjadi learning dari siswa kita. Praktek baik yang sudah ada, seperti pengalaman dari Ummusshabri Kendari, begitu, ada penampilan dari siswa yang menggambarkan keragaman nasional, sebenarnya saya amati ada nilai-nilai, ada unsur-unsur pembelajaran mendalam diterapkan di situ.

    Yang pertama adalah engagement, yaitu keterlibatan antara siswa, guru, orang tua. Saya tanya kepada panitia, siapa yang membangun stand-stand itu? mereka mengatakan bahwa itu adalah kolaborasi siswa, orang tua, guru. Bahkan biayanya pun juga dari orang tua, tidak dibebankan kepada sekolah atau Yayasan Ummusshabri, karena mereka sanggup mengeluarkan biaya yang tinggi untuk kesuksesan anaknya.

    Kemitraan, juga menjadi satu kata kunci dalam rapat kerja nasional DPP GUPPI di Kendari ini. GUPPI perlu bermitra dengan banyak pihak, demikian juga sekolah perlu bermitra dengan banyak pihak, baik antar lintas mata pelajaran, bahkan lintas sekolah, bahkan tidak hanya lintas sekolah juga lintas negara. Guru-guru kita bisa belajar dari guru-guru yang ada di Malaysia dengan teknologi yang canggih seperti sekarang ini.

    Peran GUPPI.

    Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam implementasi Pembelajaran Mendalam.

    Pertama, apa peran GUPPI? Dalam konteks kemitraan, GUPPI memiliki posisi yang sangat strategis untuk bermitra dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama. GUPPI bisa menghadirkan model-model pelatihan yang lebih segar sehingga para guru tidak kembali ke pola lama.

    Yang kedua adalah peluang untuk melakukan pelatihan-pelatihan dengan aset GUPPI sendiri. GUPPI mempunyai sekian banyak sekolah dan madrasah yang tersebar di seluruh provinsi. Ini bisa menjadi peluang GUPPI untuk menjadi kepanjangan tangan dari kementerian untuk melatih dalam konteks pemahaman pembelajaran mendalam sehingga tidak terjadi miskonsepsi di lapangan.

    Sekarang ini masih ada miskonsep dalam konteks dimensi 8 profil yang merupakan pengembangan dari 6 dimensi profil Pelajar Pancasila. Ada kritik terhadap Kementerian, katanya cuma mengganti istilah gotong royong diganti kolaborasi, istilah kewargaan global diganti kewargaan negaraan, kemudian ditambah dua.

    Sebenarnya kita tidak hanya mengganti istilah, tapi punya makna filosofis. Justru hal yang missing sebelumnya adalah tentang sehat dan juga komunikasi. Sehat itu adalah amanat dalam undang-undang.

    Inilah konsep-konsep yang perlu kita bangun. Karena itu saya yakin GUPPI memiliki peran yang strategis dalam implementasi pembelajaran mendalam. Peluang ini perlu kita wujudkan bersama.

    – – – – – – – – – – – – – 

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Prof. Dr. Bambang Suryadi adalah Anggota Tim Pengembangan Pembelajaran Mendalam Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pakar DPP GUPPI. 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    63
  • Kiprah Para Perempuan Inspiratif –  Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    Kiprah Para Perempuan Inspiratif – Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kiprah Para Perempuan Inspiratif –  Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    Oleh : Dr. Ida Rosyidah. MA

    Saat ini kami di DPP Wanita GUPPI sedang menyelesaikan tulisan tentang Perempuan Inspiratif, Pejuang Transformasi Pendidikan. Buku ini menuliskan ada apa yang sudah dilakukan oleh perempuan-perempuan hebat di pesantren, perguruan tinggi, maupun komunitas yang semuanya mereka adalah guru bagi masyarakat.

    Mereka punya imajinasi yang sangat baik, punya kemampuan mengembangkan agensi yang sangat kuat, sehingga kemudian bisa mengelola komunitasnya, mengelola lembaga pendidikannya dengan baik.

    Mengapa menulis buku soal perempuan inspiratif dalam bidang pendidikan ini penting ?

    Sudah banyak perempuan berkontribusi dalam dunia pendidikan, tetapi seringkali tidak terdengar. Karena tidak ada bukti tertulis, tidak ada fakta sejarah, apalagi kalau kita lihat di zaman Soeharto, sumber data yang sangat kuat itu dihilangkan, terutama misalnya tentang keterlibatan perempuan di gerakan gerwani.

    Betapapun buruknya, itu adalah bagian dari sejarah kita yang tentu saja datanya tidak bisa dihilangkan. Itu menjadi penting, karena itu menarasikan dalam bentuk tertulis apa yang sudah dilakukan oleh perempuan, itu menjadi sangat penting.

    Di samping juga kemudian ada bias-bias maskulin yang kemudian mengapa sejarah di masyarakat kita itu atau di dunia, bahkan kurang dikenal secara perempuan. Makanya kita kenal hanya his story, tapi kita tidak pernah kenal apa itu her story. Itu bagian dari penting mengapa ini perlu kita perhatikan.

    Dari buku yang kami tulis ini ada tiga model pembaharuan yang dilakukan oleh perempuan.

    Pertama, pembaharuan pendidikan di universitas, itu dilakukan oleh tiga tokoh yang salah satunya ini sangat kita kenal, yaitu Nurhayati Djamas, yang melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan, terutama beliau mencoba mengintegrasikan keislaman di dalam keilmuan-keilmuan. Yang itu kemudian di praktekkan di Universitas Islam Al-Azhar.

    Jadi beliau membuat buku pendoman tentang bagaimana mengintegrasikan Islam atau keislaman, nilai-nilai keislaman ke dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja kalau di universitas kita perlu pemahaman tentang epistemologi yang baik, ontologi dan lain-lain. Tetapi apa yang sudah diiniasiasi oleh bu Nurhayati Djamas dan kemudian didukung oleh rektor dan kemudian digunakan untuk seluruh fakultas di universitas Al-Azhar, itu satu bentuk pembaharuan yang sangat baik.

    Yang kedua, pembaharuan di bidang akademik dilakukan oleh ibu Siti Ruhaini Dzuhayatin. Beliau adalah dosen di UIN Sunan Kalijaga, kemudian menjadi advokat untuk bidang hak asasi manusia di OKI. Dan sekarang ini beliau sedang menjadi Duta Besar di Uzbekistan.

    Beliau salah satu perempuan yang punya visi-misi yang sangat baik, yang salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah bagaimana mengintegrasikan kesetaraan gender atau kemitrasejajaran, itu kata yang biasa beliau sebutkan, ke dalam mata kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

    Dari situ bukan hanya UIN Sunan Kalijaga punya perspektif gender yang baik, tetapi juga UIN Sunan Kalijaga kemudian bisa memberikan peluang kepada teman-teman PSGA di sana, kalau dulu disebutnya PSW, Pusat Studi Wanita, kalau sekarang disebutnya Pusat Studi Gender dan Anak, itu bisa membuat prodi khusus tentang studi gender.

    Itu bentuk pembaruan yang sangat baik karena seringkali bias maskulitas masih sangat kuat di masyarakat kita, sehingga upaya-upaya semacam itu perlu kerja keras dan pertarungan cukup hebat.

    Lalu kemudian ada Alimatul Qibtiyah, dia juga dosen di UIN Sunan Kalijaga, dan beliau sempat menjadi komisioner Komnas Perempuan. Cukup banyak upaya-upaya yang dilakukan, yang pertama adalah mempromosikan bagaimana universitas itu punya perspektif inklusif. Jadi kalau dulu misalnya UIN itu yang kuliah itu hanya muslim, tapi belakangan yang kuliah ada juga non-muslim.

    Percampuran antara muslim dan non-muslim tidak membuat orang-orang muslim menjadi berpindah agama atau mengurangi perspektif keagamaannya, nilai-nilai keagamaannya yang dianut. Tapi justru memperkuat, karena disana ada dialog yang sangat kuat, mempertanyakan banyak hal tentang keberagamaan, tentang demokrasi, tentang isu-isu sosial lainnya. Bu Almatul Qibtiyah juga mencoba melakukan upaya-upaya untuk advokasi kekerasan seksual di perguruan tinggi.

    Yang kita tahu semua, kekerasan seksual di perguruan tinggi makin tahun makin tinggi, tidak hanya kekerasan yang bentuknya formal dan psikologis, tapi juga kekerasan seksual yang berupa sentuhan bahkan lebih jauh dari itu.

    Lalu di bagian pembangunan pendidikan pesantren, ini sebetulnya yang paling banyak yang kita temukan. Dan rata-rata itu pemimpin-pemimpin perempuan itu sangat bagus.

    Yang pertama kita kenal itu adalah Umi Wahidah. Itu beliau adalah pemimpin pesantren Nurul Iman, atau Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman. Dulu beliau mendampingi suaminya di pesantrennya, saat pesantrennya masih tergantung pada pendanaan orang lain.

    Tapi kemudian di bawah pembinaan dan pimpinan dari Umi Wahidah, sekarang ini Umi Wahidah punya 15.000 santri. Saat suaminya meninggal tahun 2010, jumlah santrinya belum sebanyak itu. Dan hebatnya, semua santri yang berjumlah 15.000 orang itu mendapatkan pendidikan gratis, yang semua didanai oleh pesantren.

    Nah pesantrennya sendiri sekarang ini di bawah pembinaan Umi Wahidah punya 71 unit usaha. Dari mulai pertanian, terus kemudian mereka juga punya pabrik roti, dan lain-lain. Nah yang bagus dari Umi Wahidah itu, yang mungkin juga bisa dijadikan referensi untuk sistem pendidikan di GUPPI adalah dia punya modern management yang mereka sebut Ketahanan Fiskal Pesantren. Jadi dia menyebutkannya 1 per 3 banding 1 per 3. 1 per 3 dari keuntungan yang diperoleh dari 71 perusahaan yang dikelola, termasuk parfum, pembuatan parfum. Jadi 71 unit usaha itu 1 per 3 dari keuntungan dipakai untuk running pesantren. Jadi misalnya makan, biaya gaji guru, dan lain-lain. Itu 1 per 3 lagi untuk penguatan dan pembinaan pesantren.

    Jadi di penguatan pesantren itu misalnya untuk membeli tanah lagi agar pesantrennya lebih luas. Atau untuk menambah sarana pondok. Terus 1 per 3 lagi itu disimpan kalau-kalau ada kondisi krisis ekonomi.

    Jadi ini adalah bukti pesantren yang dikelola manajemennya oleh seorang perempuan, dan punya kontribusi besar bagi kemajuan pesantren.

    Saya kira ini menjadi bagus untuk kemudian nanti bisa dijadikan insight atau inspirasi buat pesantren-pesantren di bawah GUPPI.

    Lalu ada Ibu Nyai Badriah Fayumi, itu dari pondok pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits.

    Tentu setiap pesantren, setiap orang tua mau menitipkan anaknya di pesantren, ingin mencari pesantren yang aman, nyaman, dan jauh dari kekerasan. Apakah itu bullying yang dilakukan teman atau kekerasan dari guru dan yang lainnya. Bahkan sampai kekerasan seksual.

    Nah Ibu Badriah itu mampu membuat pesantren yang aman, nyaman, dan memberikan juga perspektif yang baik kepada anak untuk karakter. Sehingga cepat sekali, belum sampai 10 tahun, santrinya atau mahasiswanya sudah 2 ribu orang, laki-laki dan perempuan.

    Dia menggunakan upaya untuk membuat reinterpretasi terhadap ayat-ayat Al-Quran agar perempuan punya posisi yang sama dengan laki-laki, baik dalam bidang pendidikan, maupun jabatan. Jabatan itu adalah pengambil kebijakan. Termasuk misalnya di jabatan-jabatan sekolah, seperti ketua kelas.

    Lalu ada Umi Aini Ainul Mardiyah, itu juga punya pembaruan pendidikan pesantren. Beliau itu punya pesantren yang sangat menekankan tradisi salaf. Dia bilang, tradisi salaf ini sangat baik dan akan saya pertahankan.

    Karena punya nilai-nilai kultural yang baik, nilai-nilai jabatan yang baik. Tapi untuk punya perspektif yang baik untuk masa depan siswanya, maka dia mencoba mengkombinasikannya dengan sistem pendidikan modern. Jadi misalnya soal digitalisasi itu sangat kuat ditekankan sehingga siswa santri dan santriwati itu punya skill yang relatif baik dan tidak ketinggalan zaman dari sisi perkembangan modern.

    Lalu ada pembaruan pendidikan pesantren yang dilakukan oleh Ibu Nissa Wargadipura dari Pondok Pesantren At Thaariq Garut Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai pimpinan pesantren ekologis, beliau punya konsep yang menarik tentang Islam Hijau.

    Jadi bagaimana menjadikan sistem pertanian tradisional. Orang dulu mungkin meninggalkan sistem pertanian tradisional karena dianggap kurang menguntungkan bagi pengembangan secara ekonomi. Lalu dia mencoba membuat pesantren dengan pendekatan yang berbasis nilai-nilai keislaman plus lokal wisdom.

    Jadi yang tradisional gitu. Membuat apa yang dia sebut agroekologi. Saya kira itu juga bagus ya untuk pesantren-pesantren di wilayah daerah.

    Nilai-nilai yang menjadi wajib ditanamkan kepada santri dan santriwatinya adalah tentang kholifah fil ard dan tentang maqosidus syariah yang lima hifdun. Jadi hifzul mal, hifzul nas, hifzul mal, dan lain-lain.

    Satu lagi itu ada Umi Hanisah. Yang dia mendidikan yang namanya Pesantren Diniah Dayah Darussalam di Aceh. Nah yang paling bagus dari apa yang dilakukan oleh Umi Hanisah ini adalah bagaimana merekrut anak dan kemudian membina anak-anak korban perkosaan yang dianggap aib oleh masyarakat sekitarnya.

    Jadi saat pesantren pertama didirikan, itu pesantrennya didemo. Bahkan dengan demo yang keras sehingga dia dan anak-anak asuhnya harus keluar dari pesantren, itu pindah ke tempat lain. Tapi karena keteguhan hatinya, dia menganggap bahwa saya akan terus berjalan dengan pesantren ini.

    Jadi pesantrennya satu, diorientasikan pada kasus anak-anak korban perkosaan, karena dulu kan korban perkosaan kan sangat banyak. Terus yang kedua, perempuan korban perkosaan. Dia melakukan pembinaan dari sisi keislaman dan lain-lain.

    Dia juga kemudian mengembangkan kemandian pesantren melalui penguatan usaha kecil dan menekam. Lalu nilai islam juga menjadi dasar, karena bagi dia khairunas anfauhum linnas itu menjadi sangat penting. Dan itu yang ditanamkan kepada semua santrinya.

    Satu lagi, Bu Zizi Fauziyah, salah satu tokoh juga yang dikenal sebagai orang yang mengagas tentang kurikulum Kuba, kurikulum yang bisa mengkombinasikan antara aspek emosional atau kalbu dengan intelektual atau brain, dan perilaku atau education.

    Bu Zizi belajar ke Jepang, ke Harvard untuk soal Neurology, Neuroscience. Jadi bukan main-main gitu. Jadi apa yang dilakukan perempuan harusnya juga menjadi perhatian kita semua, karena dulu apa yang kita buang mungkin sangat berguna nantinya untuk masa depan masyarakat Indonesia, khususnya untuk pembaruan pendidikan Islam.

    Selain itu dari lingkungan pondok pesantren ada Nyai Hindun Anisah yang menjadi pimpinan pondok pesantren Hasyim Asy’ari di Bangsri Jepara. Dia juga dikenal sebagai salah satu politisi Perempuan yang cukup vocal dai DPR RI.

    Buku ini juga menampilkan tokoh pembaharuan pendidikan komunitas, ada Tutty Alawiyah, Aisyah Hamid Bhaidlowi dan Mahariah.

    Tuty Alawiyah dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Assyafiiyah Jakarta dan pernah menjadi Menteri Peranan Wanita di periode Presiden BJ Habibie.

    Aisyah Hamid Baidowi, dikenal sebagai seorang penggerak kemandirian perempuan Nahdliyyin. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat NU agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

    Sedangkan Mahariah adalah peraih penghargaan lingkungan Kalpataru asal Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Mahariah menjadi salah satu tokoh penyelamat dan penggerak program pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Berkat aksi pedulinya, dia telah menyelamatkan Pulau Pramuka dari krisis sampah dan krisis lingkungan.

    Buku ini ditulis dari tokoh-tokoh yang beragam latar belakang. Ada Muhammadiyah, NU, GUPPI, maupun yang tidak tampak ormasnya. Karena itu sekalipun warnanya sangat beragam, tapi tetap kita pertahankan inklusivitas parqa tokoh tersebut.

    ——————————————–

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Ida Rosyidah MA adalah Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengurus DPP Wanita GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    33
  • Membangun Sinergi Dalam Mengembangkan Pendidikan Islam Yang Bermutu.

    Membangun Sinergi Dalam Mengembangkan Pendidikan Islam Yang Bermutu.

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Membangun Sinergi Dalam Mengembangkan Pendidikan Islam Yang Bermutu.

    Oleh : Bahrul Hayat

    Saya menyimak pernyataan Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti dan beberapa catatannya tentang AI dan kaitannya dengan dunia pendidikan saat ini yang sedang dalam guncangan Artificial Intelligence.

    Pernyataan ini penting bagi GUPPI dan semua lembaga yang berkiprah di dunia pendidikan Islam.

    Yang pertama, kita ingin menyampaikan rasa syukur, per hari ini, Alhamdulillah, persentase pendidikan agama Islam, terutama di madrasah, mengalami kenaikan yang terus-menerus signifikan dari angka partisipasi kasar.

    Jadi, catatan kami sekitar 10% jumlah lembaga pendidikan Islam bertambah dalam per lima tahunan dan jumlah siswanya bertambah 15%. Itu artinya ada keinginan dan keyakinan orang tua untuk memasukkan putra-putrinya ke pendidikan Islam, baik bentuknya madrasah maupun sekolah Islam. Dan itu berbanding terbalik dengan data yang dimiliki pada persekolahan.

    Dunia persekolahan mengalami stagnan dan sedikit penurunan pada saat madrasah mengalami kenaikan. Akan tetapi, data juga menunjukkan bahwa anak-anak yang di madrasah datang sebagian dari kelompok masyarakat ekonomi lemah. Ini tidak bisa dipungkiri. Dan Ummusshabri berjuang sebelum 2013, berarti di papan bawah, tapi sekarang Ummusshabri sudah berada di papan tengah dan atas.

    Nah ini yang harus dilakukan untuk mendorong agar 95% madrasah swasta menjadi lebih baik. Jadi memang ini PR yang bersama-sama GUPPI dan pemerintah harus mendorong penguatan ini.

    Catatan Pak Menteri Dikdasmen adalah akan terjadi seperti dehumanisasi pendidikan di era IAI. Dan catatan di beberapa literatur yang ditulis oleh John Ethan Haight, ini psikolog sosial, tentang generasi cemas.

    Generasi cemas ini memang datanya real, dan ini yang harus ditangkap oleh GUPPI dan juga lembaga-lembaga pendidikan Islam. Rasa cemas, depresi, dan resiliensi, mengalami penurunan.

    Rumah sakit jiwa, data di Amerika menunjukkan sangat tinggi. Dan ini mencemaskan. Jadi the anxious generation ini real di depan kita.

    Yang kedua, buku yang baru diterbitkan tahun lalu, belum lama ini yang ditulis R. Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, mantan Dekan bidang IT di MIT. Ini AI akan memungkinkan risk of loss of meaning, makna dari kehidupan bisa berkurang. Ini juga menjadi tantangan apa yang bisa dilakukan oleh kita. Jadi meaningful life, ini menjadi perhatian.

    Nah terkait dengan ini, informasi akan masuk kepada HP kita. Dan anak-anak juga akan masuk ke cognitive bias. Anak-anak kita akan terus disungguhi informasi yang dia sukai. Kalau kita sekarang buka HP, tiba-tiba muncul yang disukai. Dan ini akan terus menerus dan membuat cognitive dia bias.

    Ini juga yang kita sangat khawatirkan. Jadi kalau anak buka terus menerus yang sesuai dengan dirinya, dan AI tahu, dia akan terus dicekoki itu, dan ini membahayakan kalau tidak diberikan informasi yang seimbang.

    Nah yang berikutnya, ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan bagi GUPPI, yang disebut dengan Convertative Advantage of Islam Education, ini menurut saya menjadi peluang.

    Mari kita bergandengan tangan, jadikan kesempatan ini untuk justru pendidikan Islam masuk disini. Untuk values-nya dan bagaimana reframing kembali pendidikan Islam di bawah GUPPI dan mitra-mitra GUPPI bersama-sama. Agar kita hadapi era AI ini dengan tenang. Tetapi dengan meyakinkan bahwa pendidikan Islam, Islamic values-nya akan menjadi benang merah dari seluruh proses pendidikan. Bukan hanya dalam pembelajaran, tetapi pembudayaan di masing-masing satuan pendidikan. Jadi sinergi menjadi sangat penting sebagai dasar untuk membuat ekosistem ini. Dan, ekosistem bukan hanya koordinasi, tetapi benar-benar kita menyatukan langkah, bertukar pikiran.

    Kalau tidak saling mereplikasi, replikasi tidak haram, tetapi saling belajar dan saling mengisi bagaimana Islamic values menjadi alternatif dalam kurikulum seluruh satuan pendidikan Islam. Ini yang paling utama.

    Hampir semua pembicaraan mengaitkan ini. Sekaligus AI harus kita taklukan untuk menjadi alat belajar. Tapi pada saat yang sama, sekolah akan menjadi tempat, satu-satunya yang paling kuat untuk membangun karakter, kalau istilah Jonathan Hide, karena sudah beralih dari play base.

    Dulu kita main sejak kecil bersama teman, sekarang ke phone base. Dan ini kehilangan besar bagi anak-anak kita. Dan mudah-mudahan lembaga-lembaga pendidikan Islam bisa menangkap ini menjadi peluang.

    Mari kita kembalikan sekolah, madrasah kita menjadi play place untuk anak-anak kita belajar dan menanamkan karakter.

    – – – – – – – – – – – – – –

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Bahrul Hayat, Ph. D adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (2006 – 2014). Saat ini ada Wakil Ketua Umum DPP GUPPI

    Komentar

    34
  • Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    Oleh: Abdul Rozak

    Ilustrasi : Guru-guru MA GUPPI Sragi Lampung Selatan berkunjung ke UIN Raden Fatah Palembang

     

    Rasionalitas

    23 Desember 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMA, SMK, MA, dan Paket C Tahun 2025. Pengumuman hasil TKA tersebut dilakukan melalui mekanisme berjenjang guna menjamin ketepatan data, akuntabilitas, dan ketertiban administrasi dalam penyampaian informasi kepada satuan pendidikan dan murid.

    Untuk jenjang SMA/MA, nilai rata-rata TKA pada mata pelajaran Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Sementara pada jenjang SMK, nilai rata -rata hasil TKA mata pelajaran Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55. Rendahnya nilai rata-rata TKA jenjang sekolah menengah dan sederajat tersebut di Indonesia sebenarnya bukan gambaran gejala kemerosotan mendadak atas rendahnya kemampuan akademik siswa kelas 12. Hal itu patut diduga merupakan cerminan dari persoalan struktural sistemik yang lama mengendap dalam penyelenggaraan pendidikan-pembelaajran yang berkualitas rendah seperti sejak pendidikan dasar hingga menengah.

    Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) menunjukkan capaian yang relatif rendah pada tiga mata pelajaran wajib dalam TKA yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris yang merupakan kompetensi dasar bagi siswa jenjang pendidikan menengah—terutama kompetensi terkait dengan literasi numerik, penalaran akademik, dan kebahasaan—pertanyaan yang muncul tidak cukup dijawab hanya pada level siswa atau sekolah/madrasah semata, melainkan lebih jauh dari itu pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai institusi penghasil guru dalam membentuk kualitas pembelajaran-pendidikan nasional apakah sudah benar-benar mampu melahirkan guru dengan kompetensi profesional IDEALIS.

    Secara konseptual, TKA dirancang sebagai asesmen diagnostik, bukan alat penghukuman. Ia mengukur kemampuan esensial berbasis penalaran dan pemahaman konseptual, sejalan dengan kecenderungan asesmen internasional dan gtantangan yang dihadapi memasuki abad 21 dan era digital yang bergerak cepat dan sarat disruptif. Karena itu, ketika TKA hasilnya rendah dan relatif merata lintas satuan pendidikan, persoalannya bukan insidental semata. Ada mata rantai yang perlu ditelusuri dari hulu ke hilir—dari pendidikan guru, praktik pedagogi, iklim dan budaya hingga performa belajar siswa, hingga ekosistem di satuan pendidikan (sekolah/madrasah).

    Hasil TKA hendaknya dibaca oleh LPTK sebagai sinyal struktural-sistemik untuk berbenah, merefleksikan keberadaan dan peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam menghasilkan calon guru dan guru profeional idealis yang pada akhirnya berdampak langsung pada pencapaian kualitas pembelajaran- pendidikan nasional. LPTK tidak bisa berdiam diri melihat hasil TKS siswa SMA/SMK/MA/Pendidikan kesetaraan sebagai sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan proses pendidikan-perkuliahan di LPTK, berdiam diri dan melepaskan tanggung jawab moral akademik.

    TKA Sebagai Cermin Sistematik

    Hasil TKA yang telah diumumkan beberapa waktu lalu sebenarnya mencerminkan adanya kondisi relatif konsisten dengan pola lama yang juga terdeteksi oleh pola ujian nasional sebelumnya dan pola asesmen internasional seperti model PISA, dimana posisi dan kondisi Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada literasi numerik dan membaca. Laporan OECD menegaskan bahwa capaian rendah yang berulang biasanya berkaitan dengan praktik pembelajaran di kelas dan kapasitas guru untuk mengembangkan nalar tingkat tinggi (OECD, 2019). Data hasil PISA 2022 Artinya, TKA tidak “menciptakan” masalah baru; ia mempertegas masalah lama dengan bahasa data yang lebih jujur.

    Dalam konteks ini, menyalahkan siswa atau sekolah saja justru mengaburkan akar persoalan. Guru adalah aktor kunci yang menjembatani kurikulum dan hasil belajar. Maka, kualitas pendidikan guru di LPTK menjadi simpul strategis yang layak dievaluasi.

    Dialektika Tanggung Jawab: Apakah Ini Kegagalan LPTK?

    Pertanyaan “apakah hasil TKA rendah mencerminkan kegagalan pendidikan guru di LPTK?” perlu dijawab secara dialektis. Di satu sisi, faktor eksternal—ketimpangan sumber daya, konteks sosial-ekonomi, manajemen sekolah/madrasah—jelas berpengaruh. Namun di sisi lain, guru dibentuk terutama dihasilkan dari proses pendidikan melalui LPTK juga menjadi faktor kunci dalam memahami rendahnya hasil TKA, karena guru inilah yang menjalankan tugas praksis di kelas sehingga hal itu menjadi cermin mutu LPTK dalam gambaran mutu pembelajaran di kelas.

    Rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada siswa SMA/SMK/MA—terutama pada numerasi, penalaran, dan Bahasa Inggris—menghadirkan sebuah paradoks yang mengganggu nalar kebijakan: mengapa kualitas pembelajaran masih rendah ketika mayoritas guru telah berstatus pendidik profesional? Sertifikasi, tunjangan profesi, dan beragam pelatihan telah lama digulirkan. Namun data asesmen justru menunjukkan bahwa status profesional belum berbanding lurus dengan mutu pembelajaran di kelas. Hal ini mencerminkan program sertifikasi guru melalui portofolio, PLPG dan PPG dalam jabatan hanya sebatas pemenuhan administratif-formal semata sebagai standar pendidik profesional dan belum proses sertifikasi tersebut belum berdampak substantif pada perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah

    Secara formal, guru Indonesia telah memenuhi syarat profesional: kualifikasi akademik, telah disertifikasi sebagai pendidik profesional, dan mendapatkan tunjangan profesi. Namun profesionalisme guru hingga kini nampaknya masih sering direduksi hanya menjadi kepatuhan administratif: kelengkapan perangkat ajar, jam mengajar, dan laporan. Dampaknya, kompetensi inti profesional—mendiagnosis kesulitan belajar, merancang pembelajaran berbasis masalah (HOTS), dan menggunakan asesmen untuk perbaikan—tidak menjadi pusat.

    Sebagaimana ditegaskan Nizam, “Jika asesmen nasional menunjukkan masalah yang berulang, maka yang harus dievaluasi pertama bukan siswanya, melainkan sistem pendidikan gurunya.” Pernyataan ini menempatkan LPTK bukan sebagai terdakwa, melainkan subjek utama pembenahan. Karena perlu keberanian dari LPTK dalam mereformasi dirinya secara struktural sistemik agar mutu pendidikn yang masih memprihatinkan ini tidak terus berkepanjangan berjalan. LPTK harus berani mengatakan bahwa mutu pendidikan ditentukan dari aktor utamanya yaitu para guru profesional yang merupakan produk dan output dari LPTK. Komitmen mutu LPTKM harus jadi garda terdepan dalam perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan nasional.

    Reformasi Mendesak di LPTK 

    Pertama, Lakukan perubahan mendasar dari dominasi pedagogi teoretik ke dominasi pedagogi teoretik-praktik . Banyak program kependidikan kuat pada teori belajar dan kebijakan, tetapi relatif lemah pada keterampilan praktis: merancang pembelajaran berbasis masalah, menyusun soal HOTS, dan melakukan asesmen diagnostik. Akibatnya, calon guru memahami konsep “pembelajaran bermakna” tanpa cukup terampil menerapkannya. Artinya tidak cukup pedagogik teoritik melainkan pedagogik praktif secara simultan.

    Kedua, praktik lapangan yang belum berbasis aktivitas klinis. Program PPL atau PLP sering kali berlangsung singkat, administratif, formalistik dan tidak bermakna. Padahal, riset internasional menegaskan bahwa pendidikan guru efektif harus berbasis praktik klinis pembelajaran berkelanjutan—dengan supervisi, umpan balik, dan refleksi yang sistematis. Linda Darling-Hammond menegaskan, “Teacher education fails when theory is separated from sustained clinical practice” (Darling-Hammond, 2017).

    Ketiga, lemahnya assessment literacy. Hasil TKA menuntut guru mampu membaca data, mendiagnosis kesulitan belajar, dan merancang intervensi. Namun kemampuan ini belum menjadi kompetensi lulusan yang terukur di banyak LPTK. Guru akhirnya menjadi pelaksana kurikulum yang robotik, kurang kreatif dan inovatif, dan sering kali tidak memposisikan diri secara meyakinkan sebagai pengambil keputusan pedagogis berbasis data, saintifik, dan standar keprofesian.

    Dalam hal PISA yang memuat indikator outcome jangka panjang (daya nalar generik), sedangkan TKA memuat indikator readiness jangka pendek (standar akademik nasional). Karena itu guru jangan sampai gagal faham terkait dengan instrumen asesmen tersebut dan terjadi kekeliruan serta kesalahan pemahaman pada dua jenis asesmen pendidikan tersebut. Kesalahan umum dalam ruang publik adalah mengejar peringkat PISA tanpa membenahi pembelajaran di kelas atau memperketat pelaksanaan TKA tanpa membenahi pola pendidikan guru. Untuk itu langkah strategis harus dilakukan adalah menjadikan hasil PISA sebagai arah yang menjadi titik fokus pembelajaran dan hasil TKA sebagai alat diagnostik operasional dalam perbaikan mutu pendidikan di sekolah/madrasah.

    Hasil PISA dan hasil TKA menjadi alarm untuk penyelenggaraan pendidikan di LPTK. Jika dua instrumen yang berbeda (PISA instrumen asesmen global–TKA instrumen asesmen nasional) hasilnya menunjuk pada aspek kelemahan yang sama, maka pendidikan guru yang merupakan lembaga penghasil calon guru dan guru profesional harus direformasi pada titik-titik berikut:

    1. Desain model kurikulum LPTK berbasis penalaran & asesmen kinerja holistik dimana wajib mengedepankan numeracy pedagogy, reading-to-learn, dan assessment for learning; calon guru harus dilatih dan dikondisikan untuk membaca data (PISA/TKA/asesmen sekolah/madrasah) → sebagai bahan rancangan intervensi berkelanjutan, pola perkuliahan di LPTK nyaris tidak berbeda jauh dengan di non LPTK, fasilitas pendukung pembelajaran di LPTK masih banyak yang minim;
    2. Perlunya praktik klinis pendidikan-pembelajaran berkelanjutan (continuining clinical practice) dengan skema kemitraan sekolah/madrasah–universitas (LPTK) berjangka panjang dan berkelanjutan, implementasi lesson study, mentoring, observasi kelas dengan rubrik pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS;
    3. Diferensiasi jalur pendidikan guru seperti jalur SMA yang menekankan pola nalar konseptual & problem solving, sedangkan SMK dengan skema numerasi fungsional + konteks industri, MA dengan pola integrasi rasionalitas ilmiah dan nilai keislaman (bukan simbolik); d) pelaksaaan riset kelas sebagai tuntutan keprofesian dimana pelaksanaan PTK bagi calon guru dan guru profesional bukan tugas akhir semata, melainkan sebagai kebiasaan dan habit profesional seorang guru.
    4. Jumlah LPTK yang sangat banyak dengan kualitas dan standar yang sangat beragam terkait dengan fasilitas dan daya dukung yang dimilikinya patut bisa jadi salah satu faktor terkait dengan kualitas guru yang ada saat ini. Pertanyaan mendasar, apakah perlu sebanyak itu perguruan tinggi penghasil calon guru/guru profesional. Jumlah LPTK di Indonesia dibanding dengan di berbagai negara memang jumlahnya berbeda jauh. Saat ini dihampir kabupaten/kota ada perguruan tinggi yang memiliki misi sebagai LPTK

    Persoalan pendidikan guru juga terkait dengan ketidakpekaan terhadap keragaman jalur pendidikan. SMA membutuhkan penguatan nalar konseptual; SMK memerlukan integrasi literasi akademik dengan konteks vokasional; MA menuntut integrasi nilai keislaman dan rasionalitas ilmiah. Menurut Azyumardi Azra, tantangan madrasah modern adalah “mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan sains modern secara substantif, bukan simbolik.” Jika LPTK tidak menyiapkan diferensiasi ini, maka kesenjangan hasil TKA menjadi konsekuensi logis.

    Alih-alih menjadi alat stigma, hasil TKA perlu dimanfaatkan sebagai data pembelajaran institusional bagi LPTK. Beberapa langkah strategis yang realistis yang harus dilakukan LPTK adalah:

    1. Reorientasi kurikulum LPTK dari dominasi pedagogik teoritik ke pedagogi integratif, berbasis masalah, berbasis empirik, penguatan numerasi–literasi, dan assessment literacy.
    2. Penguatan praktik klinis pembelajaran secara berkelanjutan melalui kemitraan sekolah/madrasah–universitas, lesson study, dan mentoring dan skema lainnya. Artinya pola perkuliahan di LPTK berbeda dengan prodi non LPTK
    3. Diferensiasi jalur pendidikan guru sesuai dengan jenjang dan muatan satuan pendidikan (seperti SMA, SMK, MA) tuntutan kompetensi inti yang kontekstual berbeda
    4. Integrasi riset dan refleksi melalui pembelajaran dan penelitian tindakan kelas sebagai instrumen profesional, bukan sekadar tugas akademik, tugas seremonial, kegiatan formalistik semata, melainkan sebagai tuntutan kapasitas akademik profesional.

    Belajar dari praktik internasional terkait dengan pendidikan guru hendaknya menjadi bahan yang sangat penting untuk melakukan reformasi pendidikan guru di LPTK. Pengalaman internasional memberi pelajaran penting seperti yang terjadi di Finlandia menempatkan calon guru sebagai peneliti pembelajaran (research-based teacher education), dengan riset kelas dan asesmen formatif sebagai inti. Jepang mengembangkan lesson study sebagai budaya profesional. Amerika Serikat memperkuat clinical practice melalui kemitraan sekolah–universitas.

    Benang merahnya sama: teori, praktik, dan asesmen menyatu dalam praksis pemdidikan dan pembelajaran di pendidikan guru jenjang universitas. Artinya praktik lapangan bukan dilaksanakan insidental, periodik, formalitas dan tidak jelas arah dan asesmennya. Kondisi ini yang terjadi hingga kini di LPTK.

    Penutup

    Ketika hasil TKA rendah, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka, melainkan arah kebijakan pendidikan guru. Membaca TKA sebagai cermin kegagalan semata tidak produktif; membacanya sebagai undangan reformasi jauh lebih bermakna. Jika LPTK berani bertransformasi—menguatkan praktik klinis, assessment literacy, dan diferensiasi konteks—maka TKA dapat menjadi alat navigasi menuju pembelajaran yang lebih bermutu dan berkeadilan, dari hulu ke hilir.

    PISA 2022 dan TKA 2025 konsisten menunjukkan masalah yang sama: lemahnya penalaran, numerasi, dan literasi. Masalah bersifat struktural, lintas jenjang dan jalur, sehingga solusi teknis jangka pendek tidak memadai. Pendidikan guru di LPTK adalah simpul kunci: kurikulum, praktik klinis, dan literasi asesmen harus direformasi. Tanpa reformasi LPTK, PISA berikutnya dan TKA mendatang akan mengulang pola yang sama—angka berubah, masalah tetap. Reformasi LPTK harus mampu melahirkan calon guru dan guru profesional idealis. Saatnya calon guru dan guru yang sudah bersertifikat sebagai pendidik profesional lulusan LPTK secara nyata melaksanakan tugas keprofesian sebagai PENDIDIK PROFESIONAL IDEALIS yaitu pendidik yang berkarakter Intelektual-Integritas, Dinamis-Dedikatif, Empati-Eksploratif, Adaptif-Akuntabel, Lincah-Literasi, Inovatif-Inspiratif dan Solutif-Strategis. Disinilah tantangan untuk LPTK mampukah melahirkan sosok lulusan tersebut.

    Depok, 09 Januari 2025

    Abdul Rozak, Pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Praktisi Pendidikan dan Pengurus  DPP GUPPI.

    Komentar

    43
  • CATATAN DARI RAPAT KERJA NASIONAL DPP GUPPI TAHUN 2026

    CATATAN DARI RAPAT KERJA NASIONAL DPP GUPPI TAHUN 2026

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

     

    RAPAT KERJA NASIONAL DPP GUPPI TAHUN KERJA 2026

    Catatan Redaksi :

    DPP GUPPI mengadakan kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI (Silatnas GUPPI) yang dilaksanakan di Kendari Sulawesi Tenggara pada tanggal 9-11 Januari 2026. Salah satu agendanya adalah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GUPPI.

    Berikut ini kami tampilkan Catatan Hasan M Noer terkait dengan kegiatan Rakernas GUPPI 2026.

     

    Pendahuluan.

    Di tengah arus perubahan global yang kian cepat dan kompleks, pendidikan Islam dituntut untuk tidak sekadar bertahan, tetapi mampu menegaskan peran historis dan transformatifnya. Pendidikan Islam bukan hanya ruang transmisi pengetahuan ke-agamaan, melainkan juga medan pembentukan akal, etika, dan peradaban.

    Dalam konteks inilah Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) menempatkan dirinya sebagai salah satu lokomotif pembaruan yang berusaha menjahit kembali tradisi dan modernitas dalam satu tenunan visi.

    Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GUPPI Tahun Kerja 2026 yang diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada tanggal 9–11 Januari 2026 ini, hadir sebagai momentum strategis untuk merumuskan arah gerak organisasi ke depan. Rakernas ini tidak hanya menjadi forum administratif, tetapi juga ruang kontemplatif—tempat gagasan bersemi, pengalaman bertumbuh, dan harapan terbersit dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka dipertemukan dalam satu ikhtiar kolektif yang menggugah.

    Dengan mengusung tiga agenda utama, yakni: pembahasan tata kerja organisasi, penyusunan program kerja, dan perumusan rekomendasi, Rakernas ini diikuti oleh peserta dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), serta Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GUPPI seluruh Indonesia.

    Rakernas dibuka secara resmi oleh Ketua Umum GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D., didampingi Wakil Ketua Umum, Bahrul Hayat, Ph.D, dan Ketua Harian, Amich Al-Humam, M.Ed., Ph.D.

    Kendari: Ruang Simbolik Rakernas

    Pemilihan Kendari sebagai lokasi Rakernas bukanlah keputusan tanpa makna. Kota ini merepresentasikan wajah Indonesia timur yang terus bertumbuh, dengan semangat keterbukaan dan keberagaman yang terpelihara. Kendari, dengan lautnya yang tenang dan perbukitannya yang bersahaja, seolah menjadi metafora perjalanan GUPPI: bergerak maju dengan kesabaran, namun tetap kokoh dalam prinsip.

    Dalam lanskap seperti inilah para peserta Rakernas berkumpul—para pendidik, pengelola lembaga pendidikan, akademisi, dan penggerak organisasi—membawa suara daerahnya masing-masing, sekaligus menitipkan harapan kolektif akan masa depan pendidikan Islam yang lebih berdaya dan bermartabat.

    Dalam kajian sosiologi ruang, tempat bukan sekadar lokasi geografis, melainkan ruang makna yang membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Henri Lefebvre menegaskan bahwa ruang sosial diproduksi oleh interaksi sejarah, budaya, dan relasi kuasa (Lefebvre, The Production of Space, 1974). Kendari, dalam konteks Rakernas GUPPI, menjadi ruang produksi makna tersebut—tempat nilai-nilai pendidikan Islam didialogkan dengan realitas Indonesia timur yang kaya akan kearifan lokal dan semangat kebersamaan.

    Lebih dari itu, kehadiran GUPPI di Kendari menegaskan tentang pesan keadilan geografis dalam pembangunan pendidikan Islam. Ibn Khaldun (1332-1406) secara berulang-ulang mengingatkan bahwa peradaban akan rapuh bila pusat-pusat ilmu hanya bertumpu pada wilayah tertentu, sementara daerah lain dibiarkan tertinggal (left behind). Rakernas ini menjadi simbol keberpihakan moral: bahwa suara pinggiran adalah bagian sah dari pusat, dan bahwa pembaruan pendidikan Islam harus tumbuh serempak dari barat hingga timur Nusantara.

    Dalam suasana Kendari yang terbuka dan bersahaja, perjumpaan para peserta Rakernas menjelma menjadi perjumpaan batin. Bukan hanya bertukar gagasan, tetapi juga berbagi pengalaman, kegelisahan, dan harapan. Seperti pelaut yang membaca angin dan arus sebelum berlayar, GUPPI membaca tanda-tanda zaman dari ruang ini—lalu menyusun arah, dengan keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang berangkat dari niat tulus dan musyawarah yang jujur akan menemukan jalannya sendiri dalam sejarah pendidikan Islam Indonesia.

    Agenda Pertama:

    Pembahasan Tata Kerja Organisasi

    Agenda pembahasan tata kerja organisasi menjadi fondasi utama Rakernas. Disadari bahwa kekuatan gagasan hanya akan bermakna apabila ditopang oleh sistem organisasi yang tertata, transparan, dan adaptif. Dalam forum ini, peserta Rakernas secara kritis mengevaluasi mekanisme kerja GUPPI di berbagai level kepengurusan, mulai dari pusat hingga daerah.

    Diskusi mengemuka pada temuan atas realitas kinerja fungsionaris GUPPI bahwa perlunya penegasan fungsi dan kewenangan masing-masing struktur organisasi, penguatan koordinasi vertikal dan horizontal, serta peningkatan profesionalisme pengelolaan organisasi. Tata kerja tidak lagi dipahami sebatas prosedur administratif, melainkan sebagai etika kolektif dalam bekerja—bagaimana amanah dijalankan, keputusan diambil, dan konflik diselesaikan secara beradab.

    Dalam suasana diskusi yang hidup, muncul kesadaran bersama bahwa organisasi pendidikan Islam harus menjadi teladan dalam tata kelola yang baik (good governance), karena dari situlah lahir kepercayaan publik dan legitimasi moral.

    Dalam perspektif teori organisasi modern, tata kerja bukan sekadar soal struktur dan pembagian tugas, melainkan jantung dari keberlangsungan sebuah gerakan. Peter F. Drucker mengingatkan bahwa organisasi nirlaba—termasuk organisasi pendidikan—akan kehilangan maknanya bila tidak memiliki kejelasan misi yang diterjemahkan ke dalam sistem kerja yang disiplin dan terukur (Drucker, Managing the Nonprofit Organization, 1990).

    Kesadaran ini mengemuka dalam forum Rakernas GUPPI, bahwa pembaruan pendidikan Islam harus dimulai dari pembaruan cara bekerja: dari yang bersifat personalistik menuju sistemik, dari kebiasaan individu menuju tata kelola yang bersifat kolektif, sejalan dengan konstruksi budaya organisasi.

    Lebih jauh, pembahasan tata kerja juga menyentuh dimensi kepemimpinan kolektif. Henry Mintzberg menegaskan bahwa organisasi yang sehat bukanlah yang bertumpu pada satu figur terkuat, melainkan organisasi yang mampu membangun jejaring peran dan tanggung jawab secara seimbang (Mintzberg, Structure in Fives, 1983). Dalam konteks GUPPI, pandangan ini diterjemahkan sebagai kebutuhan untuk memperkuat sinergi antara DPP, DPW, DPD, dan DPC, agar setiap level kepengu-rusan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menopang dalam satu irama gerakan pembaruan pendidikan Islam.

    Dari sudut pandang etika organisasi, tata kerja juga merupakan cerminan nilai. Amitai Etzioni menyebut organisasi normatif sebagai organisasi yang digerakkan oleh komitmen moral para anggotanya, bukan semata oleh insentif atau tekanan struktural (Etzioni, Modern Organizations, 1964). Melalui forum Rakernas, GUPPI harus menjaga watak normatif ini: bekerja bukan hanya demi target program, tetapi demi amanah umat. Tata kerja organisasi, dengan demikian, seharusnya meman-carkan nilai-nilai organisasi, seperti: kejujuran, akuntabilitas, dan keikhlasan—nilai-nilai yang menjadi ruh pendidikan Islam itu sendiri.

    Dalam khazanah pemikiran Islam, tata kerja organisasi sejatinya sejalan dengan konsep tanzhim (keteraturan) dan amanah (kejujuran). Al-Mawardi menegaskan bahwa keteraturan dalam urusan bersama adalah syarat tegaknya kemaslahatan umat (Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Sulthaniyyah, t.th.). Rakernas GUPPI menangkap pesan klasik ini sebagai pengingat bahwa modernisasi tata kerja bukanlah wester-nisasi nilai, melainkan ikhtiar untuk menghadirkan kembali prinsip-prinsip keadaban Islam dalam wajah organisasi yang relevan dengan zaman. Dari sinilah tata kerja GUPPI diharapkan tidak hanya efektif, tetapi juga bermartabat.

    Dalam tradisi pemikiran Islam klasik, tata kerja organisasi tidak pernah dilepaskan dari konsep nizhām (keteraturan) dan syūrā (musyawarah). Ibn Khaldun (1332-1406) kembali menegaskan bahwa setiap ‘kerja kolektif’ (‘amal jamā‘ī) hanya akan bertahan bila ditopang oleh keteraturan peran dan kepemimpinan yang ditaati secara sadar (Khaldun, Muqaddimah, 1986). Dalam Rakernas GUPPI, pandangan ini menemukan relevansinya ketika para peserta menyadari bahwa semangat pengabdian yang tinggi harus dibingkai oleh sistem kerja yang jelas, agar energi organisasi tidak tercecer dan kepercayaan publik tetap terjaga.

    Sementara itu, Al-Mawardi (974-1058) memberikan fondasi normatif yang kuat terkait tata kelola lembaga dan pembagian kewenangan. Dalam Al-Ahkam al-Sulthaniyyah, ia menegaskan bahwa pembagian tugas bukanlah bentuk fragmentasi kekuasaan, me-lainkan ikhtiar menjaga amanah agar tidak terpusat secara berlebihan dan rawan disalahgunakan. Rakernas GUPPI memaknai gagasan ini sebagai dorongan untuk mem-perjelas relasi kerja antara DPP, DPW, DPD, dan DPC—bukan dalam logika hierarki kaku, melainkan dalam semangat tanggung jawab yang saling menguatkan.

    Pemikir Muslim kontemporer seperti Syed Muhammad Naquib Al-Attas juga mene-kankan bahwa krisis lembaga pendidikan Islam, sering kali berakar pada kekacauan adab, bukan semata kekurangan sumber daya (Al-Attas, The Concept of Education in Islam, 1980). Dalam konteks organisasi, kekacauan adab itu tampak ketika tata kerja diabaikan, keputusan diambil tanpa musyawarah, dan amanah diperlakukan sebagai formalitas. Oleh karena itu, Rakernas GUPPI harus menegaskan kembali bahwa komitmen pembaruan tata kerja organisasi, sejatinya adalah proses “ta’dīb organi-sasi”—pendisiplinan etika sebelum pendisiplinan prosedur.

    Pandangan serupa disuarakan oleh Nurcholish Madjid, yang melihat organisasi Islam modern harus mampu menggabungkan rasionalitas manajemen dengan spiritualitas nilai. Menurutnya, organisasi keislaman akan kehilangan daya ubah bila terjebak pada simbol dan rutinitas tanpa refleksi (Madjid, Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, 1992). Kesadaran inilah yang mengemuka dalam Rakernas: bahwa tata kerja GUPPI harus menjadi sarana pembelajaran kolektif—tempat para pengurus belajar bersikap dewasa, terbuka pada kritik, dan istiqamah pada tujuan besar pendidikan Islam.

    Dengan demikian, pembahasan tata kerja organisasi dalam Rakernas GUPPI Tahun Kerja 2026 tidak berhenti pada perumusan mekanisme teknis, tetapi bergerak ke wilayah yang lebih dalam: membangun budaya kerja yang beradab, amanah, dan berorientasi pada maslahat. Dari sinilah diharapkan lahir organisasi yang tidak hanya efektif secara struktural, tetapi juga matang secara moral—sebuah prasyarat penting bagi gerakan pembaruan pendidikan Islam yang berkelanjutan.

    Agenda Kedua:

    Penyusunan Program Kerja 2026

    Agenda kedua Rakernas berfokus pada penyusunan program kerja GUPPI untuk Tahun Kerja 2026. Program kerja dirancang tidak hanya sebagai ikhtiar kolektif untuk merespons kebutuhan internal organisasi, tetapi juga menjawab tantangan eksternal yang dihadapi dunia pendidikan Islam, seperti digitalisasi pendidikan, ketimpangan mutu antarwilayah, serta krisis nilai di tengah masyarakat modern.

    Program-program yang dirumuskan mencakup penguatan kapasitas pendidik, peningkatan mutu lembaga pendidikan di bawah naungan GUPPI, pengembangan kurikulum yang integratif, serta pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana dakwah dan pembelajaran. Dalam diskusi ini, pendekatan partisipatif menjadi ciri utama, di mana pengalaman daerah dijadikan sumber inspirasi nasional.

    Di sinilah memontum organisasi menemukan bentuknya: dari cerita kecil tentang madrasah di pelosok, hingga gagasan besar tentang masa depan pendidikan Islam Indonesia. Program kerja bukan sekadar daftar kegiatan, tetapi peta jalan yang menghubungkan cita-cita dengan kerja nyata.

    Dalam kerangka teori perencanaan organisasi, program kerja sejatinya merupakan jembatan antara visi dan realitas. John M. Bryson menegaskan bahwa perencanaan strategis yang baik bukanlah sekadar menentukan apa yang ingin dilakukan organisasi, melainkan juga memahami secara jujur kapasitas dan konteks sosial tempat organisasi itu bekerja (Bryson, Strategic Planning for Public and Nonprofit Organizations, 2018). Kesadaran ini tampak dalam Rakernas GUPPI, ketika penyu-sunan program kerja tidak dibangun dari asumsi seragam, tetapi dari pengakuan atas keragaman kondisi pendidikan Islam di berbagai daerah Indonesia.

    Dari perspektif pendidikan Islam, penyusunan program kerja tidak dapat dilepaskan dari tujuan luhur “tahdzīb al-insān—pembinaan manusia seutuhnya.” Al-Ghazali menegaskan bahwa pendidikan yang kehilangan orientasi akhlak akan melahirkan kecerdasan yang kering dari hikmah (Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, t.th.). Oleh karena itu, program kerja GUPPI dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kom-petensi teknis pendidik, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran etis dan spiri-tual, agar proses pendidikan tetap berpijak pada nilai adab dan kemaslahatan.

    Dalam diskursus modern, Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan sejati harus bersifat membebaskan dan dialogis, bukan menindas atau menutup ruang partisipasi (Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970). Prinsip ini menemukan relevansinya dalam pendekatan partisipatif yang dipilih Rakernas, di mana suara daerah—termasuk dari madrasah kecil di pelosok—diangkat sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar objek kebijakan. Program kerja GUPPI dengan demikian disusun sebagai ruang dialog nasional, bukan instruksi sepihak dari pusat.

    Tantangan digitalisasi pendidikan juga menjadi perhatian serius dalam penyusunan program kerja. Manuel Castells menyebut bahwa “masyarakat jaringan” (network society) menuntut lembaga pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitas (Castells, The Rise of the Network Society, 1996). Rakernas GUPPI merespons tantangan ini dengan menempatkan teknologi informasi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai alat. Teknologi dipandang sebagai wasilah untuk memperluas jangkauan dakwah dan pembelajaran, sekaligus sarana menjaga keberlanjutan pendidikan Islam di tengah perubahan zaman.

    Dalam konteks ketimpangan mutu pendidikan antarwilayah, pemikiran Ibn Khaldun (1332-1406) menjadi relevan untuk direnungkan. Ia menegaskan bahwa kemajuan peradaban sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang merata, bukan terpusat pada kota-kota besar saja. Kesadaran historis ini mendorong GUPPI merumuskan program afirmatif bagi daerah tertinggal, sebagai wujud keadilan pendidikan. Prog-ram kerja tidak dimaknai sebagai perlombaan prestasi, melainkan sebagai ikhtiar kolektif untuk saling mengangkat dan menguatkan.

    Cendekiawan Muslim Indonesia, Azyumardi Azra (1955-2022), juga menekankan bahwa pembaruan pendidikan Islam harus bersifat inklusif dan kontekstual, agar tidak terjebak dalam eksklusivisme yang mempersempit peran sosialnya (Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi, 1999). Pandangan ini tercermin dalam program kerja GUPPI yang membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, dan dunia akademik, tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

    Dengan demikian, penyusunan program kerja dalam Rakernas GUPPI Tahun Kerja 2026 ini, seharsunya tidak berhenti pada perencanaan administratif, tetapi juga bergerak sebagai proses intelektual dan spiritual. Ia adalah ikhtiar membaca zaman dengan mata ilmu dan mata batin, menyusun langkah dengan kesadaran sejarah, serta menautkan cita-cita besar pendidikan Islam dengan kerja-kerja nyata di lapangan. Dari sinilah program kerja GUPPI diharapkan menjadi napas panjang pembaruan—tenang, terarah, dan penuh makna.

    Agenda Ketiga:

    Perumusan Rekomendasi Strategis

    Agenda ketiga Rakernas adalah perumusan rekomendasi strategis, baik untuk internal organisasi maupun sebagai masukan bagi pemangku kebijakan pendidikan nasional. Rekomendasi ini lahir dari refleksi mendalam atas realitas pendidikan Islam, serta dialog antara idealitas normatif dan keterbatasan faktual.

    Rekomendasi internal menekankan pentingnya konsolidasi organisasi, peningkatan kualitas kepemimpinan, serta penguatan budaya evaluasi dan inovasi. Sementara itu, rekomendasi eksternal diarahkan pada perlunya dukungan kebijakan yang lebih berpihak kepada pendidikan Islam, baik dari sisi regulasi, pendanaan, maupun pengembangan sumber daya manusia.

    Dalam suasana musyawarah yang sarat nilai, rekomendasi tidak diposisikan sebagai tuntutan, melainkan sebagai tawaran etik—sebuah ikhtiar untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui pendidikan yang berkeadilan dan berkeadaban.

    Dalam khazanah teori kebijakan publik, rekomendasi dipahami sebagai jembatan antara pengetahuan dan keputusan. Harold D. Lasswell menyebut kebijakan sebagai hasil interaksi antara nilai, kekuasaan, dan pengetahuan (Lasswell, The Policy Orientation, 1951). Rakernas GUPPI menempatkan rekomendasi bukan sebagai produk teknokratis semata, melainkan sebagai artikulasi nilai pendidikan Islam yang diharapkan dapat memberi arah moral bagi kebijakan pendidikan nasional.

    Dari sudut pandang Islam klasik, rekomendasi merupakan bagian dari praktik nashīhah—nasihat yang disampaikan dengan adab dan tanggung jawab. Imam Al-Nawawi (1233-1277) menegaskan bahwa nashīhah bagi umat dan pemimpin adalah fondasi keberlangsungan kehidupan bersama (Al-Nawawi, Syar Shaī Muslim, abad ke-13). Dalam semangat ini, rekomendasi Rakernas GUPPI dirumuskan bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan dan menawarkan jalan tengah antara idealitas syariat dan kompleksitas realitas kebangsaan.

    Rekomendasi internal yang menekankan konsolidasi organisasi juga sejalan dengan pandangan Peter Senge tentang learning organization, yakni organisasi yang mampu belajar dari pengalaman, kesalahan, dan perubahan lingkungan (Senge, The Fifth Discipline, 1990). Rakernas memandang bahwa tanpa budaya evaluasi yang jujur dan inovasi yang berkelanjutan, GUPPI akan sulit menjalankan peran strategisnya. Oleh karena itu, rekomendasi internal diarahkan untuk membangun mekanisme refleksi kolektif yang terlembagakan secara ajeg, sehingga bukan sekadar bergantung pada kemauan figur atau momentum tertentu.

    Pada ranah kepemimpinan, rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) GUPPI hendak menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berkarakter dan berwawasan. Dalam perspektif Ibnu Taimiyah (1263-1328), pemimpin ideal adalah mereka yang menggabungkan quwwah [kapasitas] dan amānah [integritas]—(Ibnu Taimiyah, Al-Siyāsah Al-Shar‘iyyah, abad ke-14). Prinsip ini menjadi dasar rekomendasi penguatan kaderisasi dan peningkatan kualitas kepemimpinan di lingkungan GUPPI, agar estafet perjuangan organisasi berjalan dengan matang dan berkelanjutan.

    Sementara itu, rekomendasi eksternal kepada pemangku kebijakan nasional juga berangkat dari kesadaran sosiologis. Émile Durkheim (1858-1817) mengingatkan bahwa pendidikan adalah instrumen utama dalam membentuk solidaritas sosial dan integrasi masyarakat (Durkheim, Education and Sociology, 1922). Dalam konteks Indonesia yang majemuk, Rakernas GUPPI memandang pendidikan Islam sebagai aset kebangsaan yang harus didukung secara adil, bukan diposisikan sebagai entitas pinggiran dalam sistem pendidikan nasional.

    Pemikir Muslim kontemporer seperti Fazlur Rahman (1919-1988) menekankan bahwa pembaruan pendidikan Islam menuntut keberanian merumuskan kebijakan yang kontekstual tanpa mengkhianati prinsip moral Al-Qur’an (Rahman, Islam and Modernity, 1982). Semangat inilah yang tercermin dalam rekomendasi Rakernas, yang mendorong negara untuk melihat pendidikan Islam sebagai mitra strategis dalam pembangunan manusia Indonesia, bukan sekadar objek regulasi administratif.

    Dengan demikian, rekomendasi strategis yang dihasilkan Rakernas GUPPI 2026 merupakan ikhtiar intelektual dan moral yang berpijak pada dialog antara tradisi dan modernitas. Ia hadir sebagai suara yang tenang namun tegas, menawarkan arah kebijakan yang berkeadilan, sekaligus mengingatkan bahwa masa depan pendidikan Islam—dan masa depan bangsa—tidak dapat dilepaskan dari keberanian menautkan nilai, ilmu, dan kebijakan dalam satu napas peradaban.

    Kesadaran Historis:

    Arahan Ketua Umum GUPPI

    Rakernas GUPPI 2026 ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D. Dalam sambutannya, Prof Fasli Jalal menegaskan bahwa pembaruan pendidikan Islam harus berangkat dari kesadaran historis dan visi masa depan. Pendidikan Islam. Karena itu, GUPPI tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tidak tercerabut dari akar sejarah dan nilai-nilai asasi yang telah menghidupi GUPPI selama 75 tahun itu.

    Dia juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan hanya soal infrastruktur dan teknologi, melainkan juga krisis makna. Oleh karena itu, GUPPI harus hadir sebagai gerakan yang tidak hanya mengelola lembaga pendidikan, tetapi juga merawat ruh pendidikan itu sendiri.

    Arahan Ketua Umum ini tentu saja akan menjadi penanda arah: bahwa kerja organisasi adalah ibadah sosial, dan paradigma pembaruan adalah amanah peradaban.

    Dalam perspektif pemikiran pendidikan Islam, kesadaran historis yang disinggung Ketua Umum menemukan akarnya pada gagasan tawāruts al-qiyam—pewarisan nilai lintas generasi. Syed Muhammad Naquib Al-Attas menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah proses menanamkan adab, yakni pengenalan akan tempat yang tepat bagi segala sesuatu dalam tatanan wujud (Al-Attas, Islam and Secularism, 1978). Arahan Ketua Umum GUPPI mencerminkan pandangan ini, bahwa pembaruan bukanlah pemutusan mata rantai sejarah, melainkan penyambungan nilai masa lalu dalam bentuk yang lebih relevan dengan tuntutan ruang dan waktu kekinian.

    Lebih jauh, Fasli Jalal ingin menekankan pada krisis makna, karena ia mengingatkan kita pada kritik Fazlur Rahman (1919-1988) terhadap pendidikan modern yang terlalu menekankan aspek kognitif, tetapi mengabaikan dimensi moral dan tujuan hidup (Rahman, Islam and Modernity, 1982).

    Dalam konteks ini, GUPPI dipanggil untuk menjadi ruang pemaknaan, tempat ilmu tidak berhenti sebagai informasi, tetapi tumbuh menjadi hikmah. Pendidikan Islam, sebagaimana ditegaskan dalam sambutan tersebut, harus mampu menjawab kegelisahan manusia modern yang kehi-langan orientasi di tengah limpahan pengetahuan dan teknologi.

    Dengan demikian, arahan Ketua Umum tidak hanya berfungsi sebagai sambutan seremonial, melainkan sebagai seruan etik dan intelektual. Ia mengingatkan bahwa kerja-kerja organisasi, betapapun teknisnya, harus selalu ditautkan dengan niat ibadah dan tanggung jawab peradaban.

    Dari kesadaran inilah Rakernas GUPPI 2026 ini menemukan ruhnya: sebuah pertemuan yang tidak hanya merumuskan program dan rekomendasi, tetapi juga meneguhkan kembali makna pendidikan Islam sebagai jalan pengabdian kepada Tuhan dan kemanusiaan.

    Penutup

    Rakernas GUPPI 2026 di Kendari bukanlah titik akhir, melainkan titik tolak. Ia adalah peristiwa kolektif yang meneguhkan kembali komitmen GUPPI untuk terus bergerak di jalur pembaruan pendidikan Islam yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    Seperti laut Kendari yang tak henti beriak, kerja-kerja GUPPI ke depan akan terus bergulir, membawa harapan dan tanggung jawab. Dari ruang-ruang musyawarah Rakernas ini, lahir tekad untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai cahaya—yang menerangi, menghangatkan, dan menuntun generasi muda menuju masa depan yang lebih bermakna.

    Berangkat dari kesadaran itu, Rakernas ini menegaskan bahwa pembaruan bukan sekadar agenda struktural, melainkan ikhtiar kultural yang menuntut kesabaran dan konsistensi. Pendidikan Islam harus terus dirawat sebagai ruang pembentukan akal dan akhlak, tempat nilai-nilai keilmuan bertemu dengan kebajikan sosial. Di tengah arus zaman yang sering menggoda untuk tergesa dan instan, GUPPI memilih jalan yang teduh: memperkuat fondasi, menata langkah, dan menanam benih perubahan yang mungkin baru berbuah di musim mendatang.

    Dengan demikian, kerja-kerja pasca-Rakernas menuntut kehadiran nyata di tengah umat—mendampingi madrasah, memperkuat guru, dan membuka jejaring kolaborasi yang saling menghidupi. Pembaruan yang diikrarkan bukanlah gaung kata-kata, melainkan kesanggupan untuk berjalan bersama realitas, mendengar denyut kebutuhan, dan meresponsnya dengan kebijakan yang adil dan visioner.

    Dari kesadaran inilah tiga penegasan penutup itu menemukan pijakannya: bahwa gerak GUPPI adalah gerak panjang, setia pada nilai, dan bersandar pada harapan yang dipanjatkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui arah setiap langkah.

    Semoga setiap keputusan yang dirumuskan menjadi amal jariyah, dan setiap langkah pembaruan mendapat ridla Allah SWT, demi pendidikan Islam yang memuliakan manusia dan memajukan peradaban.

    Hasan M. Noer  (Pengurus DPP GUPPI dan Direktur Penerbit Penamadani Jakarta)

    Komentar

    42