Kategori: Tak Berkategori

  • Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

     

    Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    Penulis: Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI

    Penerbit: INDIPRO

    Cetakan: Pertama, Juli 2026

    Tebal: 68 halaman

    Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru mulai bekerja setelah pembacanya selesai membaca. Ada pula, buku yang enak dibaca dan perlu.

    Buku Keluar dari Kemiskinan karya Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI termasuk dalam kelompok kedua dan ketiga. Ia tidak berhenti sebagai kumpulan gagasan, melainkan mengajak pembaca berdialog tentang salah satu persoalan paling tua sekaligus paling modern dalam sejarah manusia, yaitu kemiskinan.

    Kemiskinan merupakan salah satu persoalan kemanusiaan yang paling kompleks. Ia bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan menyangkut keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, modal, hingga kesempatan untuk mengembangkan diri. Berbagai teori telah lahir untuk menjelaskan kemiskinan, namun, pada akhirnya, semua teori tersebut bermuara pada satu pertanyaan besar: bagaimana manusia dapat keluar dari kemiskinan secara bermartabat?

    Pertanyaan itulah yang dijawab Prof. Samsuridjal Djauzi melalui buku Keluar dari Kemiskinan. Sebagai seorang dokter, akademisi, sekaligus intelektual yang lama berkecimpung dalam pelayanan masyarakat, penulis menghadirkan perspektif yang unik. Ia tidak menulis sebagai ekonom atau politisi, tetapi sebagai seorang humanis yang melihat kemiskinan dari dekat sebagai persoalan kehidupan manusia.

    Buku ini tidak berhenti pada kritik terhadap negara, juga tidak terjebak menyalahkan masyarakat miskin. Penulis berusaha mengambil jalan tengah dengan menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan memerlukan perubahan sistem sekaligus perubahan perilaku individu.

    Dokter dan Terapi Sosial untuk Kemiskinan

    Didalam bukunya Prof. Samsuridjal Djauzi tidak menulis dari “menara gading”. Sebagai dokter, beliau terbiasa melihat bahwa penyakit bukan hanya persoalan biologis, melainkan juga dipengaruhi kemiskinan, pendidikan, gizi, lingkungan, dan akses layanan kesehatan.

    Buku ini tidak ditulis oleh seorang ekonom, bukan pula oleh seorang politikus. Penulisnya adalah seorang dokter yang sepanjang hidupnya bergelut dengan dunia kesehatan. Di sinilah letak keunikan buku ini. Seorang dokter memandang manusia secara utuh. Penyakit tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan gizi, pendidikan, lingkungan, pekerjaan, hingga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan hidup. Cara pandang klinis itu membuat beliau tidak sekadar “mengobati” gejala kemiskinan, tetapi berusaha menjelaskan akar penyebabnya sekaligus menawarkan terapi sosial.

    Gagasannya sederhana tetapi kuat, bahwa dokter yang baik tidak hanya mengobati pasien, melainkan mencegah penyakit; pemimpin yang baik tidak hanya mengurangi kemiskinan, melainkan membangun ekosistem yang membuat masyarakat tidak mudah jatuh miskin.

    Di sinilah letak martabat buku ini. Penulis tidak sedang menyalahkan orang miskin, tidak pula sedang mengobarkan kemarahan kepada negara. Ia mengajak pembaca memahami bahwa keluar dari kemiskinan membutuhkan sinergi antara kebijakan publik, pendidikan, kesehatan, penguatan aset, karakter, dan kerja keras individu.

    Kisah Sandiaga Uno (hal 48-49) menjadi contoh nyata dari prinsip tersebut. Sebelum krisis moneter 1997, kariernya sedang berada di puncak. Ia menjabat sebagai Vice President di sebuah perusahaan asal Kanada yang berkedudukan di Singapura. Dengan gaji yang besar, jabatan yang bergengsi, dan masa depan yang tampak cerah, hampir seluruh asetnya ditempatkan pada investasi saham karena saat itu pasar sedang bertumbuh pesat.

    Namun, ketika krisis moneter melanda Asia, semuanya berubah dalam waktu singkat. Nilai saham anjlok, aset yang dimilikinya merosot drastis, dan perusahaan tempatnya bekerja akhirnya tutup. Dalam sekejap, ia kehilangan pekerjaan sekaligus sebagian besar kekayaannya.

    Sandiaga kembali ke Indonesia tanpa jabatan, tanpa modal yang memadai, dan tanpa kepastian. Banyak orang dalam kondisi seperti itu mungkin memilih mencari pekerjaan baru, menyalahkan keadaan, atau larut dalam penyesalan.

    Namun, ia memilih jalan yang lebih berat, yaitu membangun perusahaan konsultan bisnis dari nol. Perjalanan itu tidak mudah. Klien masih sedikit, kepercayaan pasar belum terbentuk, dan berbagai tantangan datang silih berganti. Salah satu titik terberat adalah ketika istrinya melahirkan, sementara ia belum memiliki cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit.

    Bagi banyak orang, keadaan seperti itu bisa menghancurkan semangat. Namun justru pada saat itulah mental untuk bangkit benar benar diuji. Sandiaga tidak berhenti berusaha. Ia terus membangun relasi, menjaga integritas, dan mencari berbagai peluang. Pertemuannya dengan sejumlah tokoh bisnis, termasuk Dahlan Iskan, membuka kesempatan baru. Sedikit demi sedikit, kepercayaan mulai tumbuh, klien berdatangan, dan usahanya berkembang hingga menjadi Saratoga Investama Sedaya, salah satu perusahaan investasi terkemuka di Indonesia

    Buku ini tidak terjebak pada cara pandang yang menyederhanakan masalah. Penulis tidak menyalahkan individu miskin sebagai orang yang malas. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan hasil interaksi berbagai faktor: pendidikan yang rendah, kesehatan yang buruk, kepemilikan aset yang terbatas, hingga kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada kelompok rentan.

    Penulis tidak memperlakukan masyarakat miskin sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek pembangunan. Perspektif tersebut sangat penting karena penghormatan terhadap martabat manusia selalu menjadi fondasi bagi pembangunan yang berkeadilan.

    Gagasannya sederhana tetapi kuat. Seorang dokter yang baik tidak hanya mengobati pasien, melainkan mencegah penyakit. Begitu pula seorang pemimpin yang baik tidak hanya mengurangi kemiskinan, melainkan membangun ekosistem yang membuat masyarakat tidak mudah jatuh miskin.

    Mengapa Buku Ini Enak Dibaca dan Perlu ?

    Kekuatan pertama buku ini terletak pada keberhasilannya memadukan perspektif makro dan mikro. Penulis tidak hanya berbicara tentang kebijakan pemerintah, tetapi juga menyentuh aspek psikologi, karakter, dan perilaku ekonomi masyarakat. Pendekatan ini membuat buku terasa utuh.

    Kedua, bahasa yang digunakan sangat komunikatif. Penulis menghindari istilah-istilah akademik yang rumit sehingga mudah dipahami oleh pelajar, mahasiswa, pendamping masyarakat, maupun masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan tujuan buku sebagai panduan praktis.

    Ketiga, buku ini kaya dengan ilustrasi nyata. Kisah petani, pemulung, mahasiswa penerima beasiswa, hingga pelaku usaha kecil menjadikan konsep-konsep ekonomi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Keempat, penulis menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ini merupakan pesan yang sangat relevan bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi. Pendidikan dipandang bukan sekadar proses memperoleh ijazah, tetapi sarana membangun kemampuan hidup.

    Kelima, buku ini membawa optimisme. Di tengah banyaknya narasi pesimistis mengenai kemiskinan, penulis justru menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi apabila negara menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan masyarakat memiliki kemauan untuk terus belajar.

    Sebagai dokter, penulis tampaknya memahami bahwa harapan merupakan bagian dari proses penyembuhan. Di tengah maraknya budaya instan, buku ini hadir dengan pendekatan yang membumi. Ia tidak menjual mimpi, melainkan menawarkan proses. Ia tidak menjanjikan keajaiban, tetapi mengajarkan ikhtiar.

    Mungkin hanya seorang dokter yang setiap hari bertemu pasien dari berbagai lapisan masyarakat yang benar-benar memahami bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Ia hadir dalam tubuh anak yang kekurangan gizi, ibu yang terlambat memperoleh pertolongan, ayah yang menunda berobat karena tidak memiliki biaya, dan keluarga yang kehilangan masa depan karena pendidikan terhenti. Dari ruang praktik itulah Prof. Samsuridjal tampaknya belajar bahwa mengobati penyakit saja tidak cukup; akar sosial yang melahirkan penyakit juga harus disembuhkan.

    Secara keseluruhan, Keluar dari Kemiskinan adalah buku tentang cara membangun harapan. Pesan utamanya bukan “kasihanilah orang miskin”, melainkan “pahami akar persoalannya, bangun kapasitas manusia, dan ciptakan sistem yang memberi kesempatan”.

    Ia mencontohkan 5 tokoh besar yang pernah mengalami kegagalan namun bisa bangkit dan meraih kesuksesan, antara lain Thomas Alva Edison, Mohamad Gobel, Shoiciro Honda, Kolonel Harland Sanders dan Mooryati Sudibyo. Mereka bisa menunjukkan bahwa kegagalan itu bukan akhir, namun awal dari perubahan besar (54-57).

    Buku ini mengingatkan kita bahwa harapan bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan sesuatu yang dibangun—melalui ilmu, kerja keras, dan keberpihakan kepada sesama.

    Dalam konteks tersebut, pesan utama buku ini menjadi sangat relevan, bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dilakukan melalui bantuan sosial. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan kesempatan agar masyarakat mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kepemilikan aset produktif.

    Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Kemajuan sejati diukur dari seberapa banyak manusia yang berhasil dibebaskan dari kemiskinan dan memperoleh kesempatan hidup yang bermartabat.

    Gagasan ini sejalan dengan paradigma pembangunan manusia yang menempatkan manusia sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek bantuan.

    Ada satu kalimat yang menjadi roh buku ini, yaitu bahwa kemiskinan bukanlah takdir. Kalimat sederhana ini mengandung pesan moral yang sangat kuat. Ia mengajak negara agar tidak membiarkan ketidakadilan berlangsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak menyerah pada keadaan.

    Buku ini mengingatkan bahwa kemiskinan adalah persoalan bersama. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang adil, dunia usaha perlu membuka kesempatan kerja, lembaga pendidikan harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, organisasi masyarakat harus memperkuat pemberdayaan, dan setiap individu perlu terus belajar serta bekerja keras.

     Penutup

    Keluar dari Kemiskinan merupakan buku kecil dengan gagasan yang besar. Nilai utamanya bukan terletak pada banyaknya teori yang dikutip, melainkan pada kemampuannya menghubungkan kebijakan publik dengan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.

    Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, Prof. Samsuridjal Djauzi berhasil menghadirkan sebuah buku yang tidak hanya mengajak pembaca memahami kemiskinan, tetapi juga menggerakkan mereka untuk menjadi bagian dari solusi.

    Pada akhirnya, buku ini mengajarkan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan persoalan kemanusiaan. Karena itu, resep untuk mengatasinya tidak cukup berupa bantuan sosial, tetapi juga pendidikan, kesehatan, kesempatan bekerja, kepemimpinan yang berpihak, dan harapan yang terus dipelihara.

    Seperti seorang dokter yang ingin melihat pasiennya benar-benar pulih, Prof. Samsuridjal mengajak kita membangun masyarakat yang tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu hidup secara bermartabat.  (Agus Sholeh) 

    MPLS di Era AI: Masih

    Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum yang rumit…

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    42
  • Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    Jakarta – GUPPI – Kementerian Agama diharapkan kembali focus memperkuat fungsi utamanya sebagai pembina kehidupan keagamaan setelah tidak lagi menangani urusan haji. Salah satu agenda yang dinilai mendesak adalah memperkuat kerukunan umat beragama sebagai fondasi ketahanan nasional dan persatuan bangsa, terutama dengan meningkatkan mutu pendidikan agama dan keagamaan.

    Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), Syamsuddin, dalam diskusi di NMTC Ciputat, Jumat (3/7/2026), menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto pada Upacara Hari Ulang Tahun ke-80 Bhayangkara di Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7/2026).

    Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keamanan nasional tidak hanya diukur dari rendahnya angka kriminalitas, tetapi juga dari hadirnya rasa aman bagi seluruh warga negara untuk menjalankan aktivitas, termasuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

    “Keamanan berarti rakyat leluasa bekerja, petani berani menanam, nelayan berani melaut, perusahaan berani berinvestasi, guru tenang mengajar, anak-anak tenang belajar, dan masyarakat dapat beribadah dengan damai sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” ujar Presiden.

    Syamsuddin menilai pesan Presiden tersebut sejalan dengan mandat konstitusional Kementerian Agama sebagai institusi yang bertanggung jawab membina kehidupan beragama di Indonesia.

    “Selama ini perhatian publik terhadap Kementerian Agama lebih banyak tersedot pada penyelenggaraan ibadah haji. Padahal tugas kementerian ini jauh lebih luas, mulai dari pembinaan kehidupan beragama, peningkatan mutu pendidikan keagamaan, pelayanan keagamaan, hingga menjaga kerukunan umat beragama,” ujarnya.

    Mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama itu mengatakan, pengalihan pengelolaan haji semestinya dipandang sebagai kesempatan untuk mengembalikan Kementerian Agama pada khittahnya.

    “Dengan berkurangnya beban operasional penyelenggaraan haji, Kementerian Agama memiliki ruang yang lebih besar untuk memperkuat fungsi-fungsi strategis yang selama ini menjadi mandat utamanya,” katanya.

    Kerukunan sebagai Ketahanan Nasional

    Syamsuddin menegaskan bahwa kerukunan umat beragama bukan sekadar isu sosial-keagamaan, melainkan bagian penting dari sistem ketahanan nasional.

    Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi global, meningkatnya kesenjangan ekonomi, tekanan terhadap daya beli masyarakat, hingga dinamika politik yang berpotensi memicu gesekan sosial.

    “Sejarah menunjukkan bahwa konflik sosial sering berawal dari persoalan ekonomi atau politik yang kemudian berkembang menjadi konflik berlatar belakang identitas, termasuk agama. Karena itu negara harus hadir lebih awal membangun kohesi sosial melalui penguatan kerukunan umat beragama,” ujarnya.

    Ia mengingatkan bahwa Kementerian Agama memiliki pengalaman panjang membangun harmoni sosial melalui konsep Trilogi Kerukunan Umat Beragama, yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, serta kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

    Menurutnya, konsep tersebut tetap relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan saat ini dan perlu dihidupkan kembali sebagai gerakan nasional.

    “Kita tidak cukup hanya mencegah konflik. Yang lebih penting adalah membangun budaya dialog, saling menghormati, gotong royong, dan kerja sama antarkomponen bangsa sehingga kerukunan menjadi kekuatan sosial yang menopang stabilitas nasional,” katanya.

    Karena itu dalam upaya memperkuat kerukunan, Syamsuddin meminta agar Kementerian Agama memprioritaskan peningkatan mutu pendidikan keagamaan, baik madrasah, pesantren, sekolah keagamaan, maupun perguruan tinggi keagamaan.

    Menurutnya, lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai moderasi beragama, toleransi, cinta tanah air, dan karakter kebangsaan kepada generasi muda.

    “Investasi terbesar Kementerian Agama adalah membangun generasi yang religius sekaligus memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” ujarnya.

    Sinergi dengan Kementerian Pertahanan

    Syamsuddin juga mengusulkan agar Kementerian Agama membangun kolaborasi yang lebih erat dengan Kementerian Pertahanan dalam memperkuat ketahanan nasional melalui penguatan kohesi sosial.

    Menurutnya, pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kekuatan sosial masyarakat.

    “Kerukunan umat beragama merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu sudah saatnya Kementerian Agama dan Kementerian Pertahanan membangun sinergi sesuai tugas dan kewenangan masing-masing dalam menjaga persatuan bangsa,” katanya.

    Ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama telah memiliki Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) yang selama ini berperan sebagai pusat pengembangan kebijakan dan fasilitasi dialog antarumat beragama.

    Karena itu, Syamsuddin mengusulkan agar PKUB diperkuat menjadi motor Gerakan Nasional Kerukunan Umat Beragama dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat.

    “PKUB harus menjadi pusat inovasi sekaligus pusat koordinasi gerakan kerukunan di Indonesia. Kerukunan tidak boleh berhenti sebagai program seremonial, tetapi harus menjadi gerakan nasional yang hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.

    Di akhir diskusinya, Syamsuddin berharap restrukturisasi kelembagaan Kementerian Agama menjadi momentum untuk memperkuat peran kementerian sebagai penjaga harmoni kehidupan beragama sekaligus perekat persatuan bangsa.

    “Yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah Kementerian Agama yang kembali pada khittahnya, yaitu melayani kehidupan beragama, meningkatkan mutu pendidikan keagamaan, serta merawat kerukunan umat beragama. Jika fungsi-fungsi itu dijalankan secara optimal, Kementerian Agama akan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat Indonesia di tengah berbagai tantangan global maupun domestik,” pungkasnya. (shol)

    MPLS di Era AI: Masih

    Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum yang rumit…

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    29
  • PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Refleksi Jum’at :

    PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    Setiap memasuki tahun ajaran baru, pemandangan yang sama selalu terulang. Spanduk penerimaan peserta didik baru (PPDB) menghiasi jalan-jalan, media sosial dipenuhi promosi sekolah, dan berbagai program unggulan ditawarkan kepada masyarakat.

    Di balik semua itu, para kepala sekolah memantau jumlah pendaftar hampir setiap hari. Angka demi angka menjadi perhatian, bahkan tidak sedikit yang merasa cemas ketika jumlah pendaftar belum sesuai harapan.

    Fenomena ini tidak hanya dialami sekolah yang sedang berkembang. Sekolah-sekolah yang selama ini dikenal unggul pun merasakan kegelisahan yang sama. Mereka khawatir apabila jumlah pendaftar menurun, masyarakat akan menganggap kualitas sekolah ikut menurun. Sebaliknya, sekolah yang masih berjuang membangun kepercayaan publik menghadapi tantangan yang lebih berat karena jumlah peserta didik sangat menentukan keberlangsungan operasional sekolah.

    Di sinilah kita belajar bahwa musim PPDB sesungguhnya bukan hanya persoalan administrasi. PPDB juga merupakan ujian kepemimpinan, etika, bahkan keikhlasan bagi setiap insan pendidikan.

    Setiap kepala sekolah tentu berkewajiban melakukan ikhtiar terbaik. Mutu pembelajaran harus terus ditingkatkan, kompetensi guru dikembangkan, sarana belajar diperbaiki, pelayanan kepada orang tua diperkuat, dan informasi mengenai keunggulan sekolah disampaikan secara jujur kepada masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab profesional yang tidak boleh diabaikan.

    Namun, ikhtiar yang sungguh-sungguh tidak boleh berubah menjadi ambisi yang menghalalkan segala cara. Di tengah persaingan yang semakin ketat, semua tidak boleh tergoda untuk menjatuhkan sekolah lain, menyebarkan informasi yang tidak benar, atau membangun citra secara berlebihan. Pendidikan yang bermartabat dibangun bukan di atas persaingan yang saling melemahkan, melainkan di atas semangat mencerdaskan kehidupan bangsa bersama-sama.

    Kepala sekolah harus bekerja sebaik mungkin, tetapi tidak boleh hanya menggantungkan ketenangan hati pada jumlah murid yang diterima. Doa ke langit tetap harus diangkat untuk mendapat rindho dan berkah dari Allah swt. 

    Keyakinan ini menjadi penting karena rezeki tidak pernah tertukar. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Murid yang akhirnya memilih sebuah sekolah bukan semata-mata karena strategi promosi yang menarik atau gedung yang megah, melainkan karena Allah menggerakkan hati orang tua untuk memilih tempat pendidikan yang telah menjadi bagian dari rezeki sekolah tersebut.

    Kesadaran seperti inilah yang membuat seorang pemimpin pendidikan tetap rendah hati ketika sekolahnya dipenuhi murid, sekaligus tetap optimis ketika jumlah peserta didik belum sesuai harapan. Keberhasilan tidak melahirkan kesombongan, sedangkan keterbatasan tidak melahirkan keputusasaan.

    Musim PPDB juga seharusnya menjadi momentum untuk menguji etika kompetisi antarsekolah. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya semua sekolah memiliki tujuan yang sama, yaitu mendidik generasi bangsa. Perbedaan hanya terletak pada pendekatan, karakter, dan kekhasan masing-masing.

    Karena itu, promosi sekolah seharusnya lebih banyak memperkenalkan keunggulan sendiri daripada sibuk mencari kelemahan pihak lain. Masyarakat akan lebih menghargai sekolah yang percaya diri menunjukkan kualitasnya dibanding sekolah yang membangun citra dengan merendahkan yang lain.

    Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah mewajibkan ihsan dalam setiap pekerjaan. Nilai ihsan berarti bekerja dengan kualitas terbaik karena merasa diawasi oleh Allah, bukan semata-mata karena ingin memperoleh pujian manusia. Semangat inilah yang semestinya menjadi budaya setiap sekolah.

    Lebih dari itu, PPDB mengingatkan kita untuk kembali pada hakikat pendidikan. Terlalu sering sekolah dipandang sebagai tempat menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi semata. Padahal setiap anak diciptakan Allah dengan potensi yang berbeda.

    Ada anak yang unggul dalam ilmu pengetahuan, ada yang berbakat di bidang seni, olahraga, kepemimpinan, teknologi, bahasa, maupun keterampilan sosial. Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang belum menemukan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

    Karena itu sekolah tidak boleh diibaratkan sebagai pabrik yang menghasilkan produk seragam. Sekolah lebih tepat dipandang sebagai sebuah taman. Di dalam taman terdapat beragam jenis tanaman. Mawar tidak dipaksa menjadi melati, begitu pula melati tidak dituntut menyerupai anggrek. Setiap tanaman dirawat sesuai karakter dan kebutuhannya hingga tumbuh menjadi yang terbaik.

    Begitu pula sekolah. Tugas guru bukan membuat seluruh murid memiliki kemampuan yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan anugerah yang telah Allah titipkan kepadanya. Dari proses itulah akan lahir ilmuwan, guru, pengusaha, seniman, atlet, teknolog, ulama, maupun pemimpin yang semuanya memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Oleh sebab itu, keberhasilan sekolah tidak cukup diukur dari banyaknya murid atau tingginya nilai ujian. Ukuran yang jauh lebih penting adalah sejauh mana sekolah mampu menumbuhkan karakter, akhlak, kemampuan berpikir, kreativitas, dan kecintaan belajar sepanjang hayat.

    Dalam tradisi Islam, semangat belajar tidak pernah berhenti. Allah bahkan mengajarkan Nabi Muhammad SAW untuk berdoa, “Rabbi zidni ‘ilma”—”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS. Taha: 114). Jika Rasulullah saja masih diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu, maka guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik tentu lebih pantas lagi untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

    Budaya belajar inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama sekolah menghadapi perubahan zaman. Dunia pendidikan akan terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat, kebutuhan masyarakat bergeser, dan tantangan generasi muda semakin kompleks. Sekolah yang mampu bertahan bukanlah sekolah yang memiliki gedung paling megah, melainkan sekolah yang terus belajar, terus berbenah, dan tidak pernah merasa selesai meningkatkan kualitasnya.

    Ketika proses PPDB berakhir, sesungguhnya setiap sekolah sedang diajak melakukan muhasabah. Bukan hanya menghitung jumlah murid yang diterima, tetapi juga mengevaluasi cara-cara yang ditempuh selama proses penerimaan. Apakah pelayanan kepada masyarakat sudah ramah? Apakah promosi dilakukan secara jujur? Apakah persaingan dijalankan dengan tetap menjaga adab? Dan yang lebih penting, apakah seluruh ikhtiar tersebut benar-benar diniatkan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT?

    Sekolah yang memperoleh banyak murid patut bersyukur sekaligus menyadari bahwa semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya. Sebaliknya, sekolah yang menerima murid lebih sedikit tidak perlu berkecil hati. Bisa jadi Allah sedang memberikan kesempatan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, membangun kedekatan dengan peserta didik, dan menata fondasi sekolah agar lebih kokoh pada masa mendatang.

    Pada akhirnya, tugas seorang kepala sekolah bukan sekadar memenuhi bangku-bangku kelas. Tugas utamanya adalah menghadirkan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan penuh keberkahan. Jumlah murid memang penting, tetapi keikhlasan dalam mendidik jauh lebih menentukan nilai sebuah perjuangan di hadapan Allah SWT.

    Semoga setiap musim PPDB tidak hanya melahirkan ruang-ruang kelas yang terisi, tetapi juga menghadirkan sekolah-sekolah yang semakin jujur dalam berkompetisi, semakin tulus dalam melayani, dan semakin istiqamah membimbing setiap anak menemukan jalan terbaik menuju masa depannya.

    Sekolah yang dipenuhi keikhlasan akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Dan dari generasi seperti itulah masa depan bangsa akan dibangun.

    Oleh : Agus Sholeh. Pengurus DPP GUPPI

    Lama berkiprah di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama

    MPLS di Era AI: Masih

    Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum yang rumit…

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    48
  • SMP Mataram Kasihan Kini Menjadi Sekolah Favorit di Bantul. Dulu Dipandang Sebelah Mata.

    SMP Mataram Kasihan Kini Menjadi Sekolah Favorit di Bantul. Dulu Dipandang Sebelah Mata.

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SMP Mataram Kasihan Kini Menjadi Sekolah Favorit di Bantul. Dulu Dipandang Sebelah Mata.

    Bantul – Perjalanan SMP Mataram Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi bukti bahwa perubahan besar dalam dunia pendidikan dapat diwujudkan melalui kepemimpinan yang kuat, budaya kerja yang positif, serta komitmen untuk terus meningkatkan mutu secara berkelanjutan.

    Dua dekade lalu, sekolah ini pernah dipandang sebelah mata. Bahkan, pada awal tahun 2000-an SMP Mataram Kasihan dikenal sebagai sekolah yang banyak menerima anak-anak yang dianggap bermasalah. Namun, kondisi tersebut kini berubah drastis. SMP Mataram Kasihan menjelma menjadi salah satu SMP swasta favorit di Kabupaten Bantul yang dipercaya masyarakat karena kualitas layanan pendidikannya.

    Kepercayaan masyarakat terlihat dari tingginya minat pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2025/2026. Setiap tahun sekolah mampu memenuhi kuota penerimaan sebanyak lima rombongan belajar atau sekitar 160 siswa. Bahkan, pada tahun ini jumlah pendaftar melebihi daya tampung sehingga sekolah terpaksa menolak calon peserta didik yang jumlahnya setara dengan lebih dari dua rombongan belajar.

    Saat ini SMP Mataram Kasihan memiliki 459 peserta didik, sebuah capaian yang menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut.

    Kepala SMP Mataram Kasihan, Laila Salsabila, mengatakan bahwa pembatasan jumlah peserta didik dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sekolah dalam menjaga mutu layanan pendidikan.

    “Kami memilih menerima siswa sesuai kapasitas sarana, prasarana, dan tenaga pendidik yang kami miliki. Kami tidak ingin mengecewakan kepercayaan orang tua maupun mengurangi kualitas pembelajaran yang selama ini kami bangun,” ujar Laila Salsabila, (Kamis, 25/6/2026).

    Menurutnya, salah satu momentum penting yang semakin memotivasi seluruh warga sekolah adalah diraihnya GUPPI Award 2025 dari Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI).

    “Setelah memperoleh GUPPI Award 2025, seluruh warga sekolah merasa semakin terpacu untuk bekerja lebih baik. Kami menyadari bahwa tanpa kami sadari, masyarakat dan DPP GUPPI memperhatikan kesungguhan kami dalam mendidik dan membina peserta didik. Penghargaan ini menjadi amanah sekaligus motivasi untuk terus menjaga bahkan meningkatkan kualitas sekolah,” katanya.

    Salsabila juga mengungkapkan bahwa pada tahun lalu Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul sempat mengusulkan agar SMP Mataram ditetapkan sebagai sekolah unggulan. Namun, usulan tersebut belum diambil karena sekolah memilih fokus memperkuat fondasi mutu.

    “Kami sangat menghargai kepercayaan itu, tetapi kami merasa belum cukup siap berada pada level tersebut. Bagi kami, yang lebih penting adalah membangun kualitas secara bertahap dan berkelanjutan daripada terburu-buru menyandang predikat unggulan,” jelasnya.

    Prestasi Akademik Terus Meningkat

    Selain meningkatnya jumlah peserta didik, kualitas akademik SMP Mataram Kasihan juga menunjukkan perkembangan yang membanggakan.

    Berdasarkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), SMP Mataram Kasihan berhasil menempati peringkat ke-12 dari 47 SMP swasta se-Kabupaten Bantul. Sementara jika digabungkan dengan SMP negeri dan swasta, sekolah ini berada pada peringkat ke-48 dari 94 SMP se-Kabupaten Bantul.

    Capaian tersebut menjadi indikator bahwa sekolah dengan biaya pendidikan yang terjangkau mampu bersaing secara akademik dengan sekolah-sekolah lain.

    Mengusung slogan “Murah Tapi Berkualitas”, SMP Mataram Kasihan tetap menjaga kualitas input peserta didik melalui sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru berbasis pemeringkatan nilai sehingga mutu akademik sekolah dapat terus dipertahankan.

    Memasuki Tahun Pelajaran 2025/2026, Salsabila selaku Kepala Sekolah menetapkan sejumlah target strategis. Target pertama adalah mempertahankan keterpenuhan kuota lima rombongan belajar atau sekitar 160 peserta didik baru setiap tahun, di tengah persaingan yang semakin ketat antar sekolah swasta di Kabupaten Bantul.

    “Tahun lalu masih banyak sekolah swasta yang belum mampu memenuhi kuota penerimaan murid baru. Alhamdulillah, kami tetap mendapatkan kepercayaan masyarakat,” ujar Salsabila.

    Selain mempertahankan jumlah peserta didik, sekolah juga memprioritaskan peningkatan kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi utama pembelajaran.

    Untuk memperkuat prestasi akademik, tahun ini SMP Mataram Kasihan juga menambah kegiatan ekstrakurikuler khusus pembinaan Olimpiade Sains Nasional (OSN).

    “Kami berharap pembinaan yang lebih terstruktur mampu menghasilkan prestasi yang lebih maksimal pada berbagai ajang kompetisi, khususnya OSN,” tambahnya.

    Hasil Kerja Keras Bertahun-tahun

    Sementara itu, Ketua DPD GUPPI Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs. H. Slamet, yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina SMP Mataram GUPPI, menegaskan bahwa keberhasilan sekolah saat ini bukanlah hasil yang diperoleh secara instan.

    “Perlu perjuangan dan kerja keras yang panjang untuk menjadikan SMP Mataram seperti sekarang. Tidak ada keberhasilan yang datang secara tiba-tiba. Semua lahir dari komitmen, kesabaran, dan kerja bersama seluruh warga sekolah.”

    Ia memberikan apresiasi kepada para guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, alumni, serta seluruh pihak yang telah menjaga semangat perubahan selama bertahun-tahun.

    “Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, seluruh warga sekolah, serta para alumni yang telah ikut membangun nama baik SMP Mataram. Keberhasilan hari ini merupakan buah dari kerja kolektif yang dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun.”

    Menurut Slamet, penghargaan maupun meningkatnya kepercayaan masyarakat bukanlah tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari budaya mutu yang terus dipelihara.

    Transformasi SMP Mataram Kasihan menjadi bukti bahwa sekolah yang dahulu pernah dipandang sebelah mata mampu bangkit menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat.

    “Dengan kepemimpinan yang visioner, budaya kerja yang sehat, serta semangat untuk terus belajar dan berbenah, SMP Mataram Kasihan kini tidak hanya menjadi salah satu SMP swasta favorit di Bantul, tetapi juga menjadi inspirasi bahwa perubahan besar selalu berawal dari komitmen dan kerja keras yang dilakukan secara konsisten,” ungkap Slamet didampingi Ketua Komite Sekolah dan Pengurus Yayasan GUPPI lainnya. (shol)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    90
  • DPP GUPPI Apresiasi Bantuan Sapi Kurban Dari Presiden Prabowo Subianto

    DPP GUPPI Apresiasi Bantuan Sapi Kurban Dari Presiden Prabowo Subianto

    DPP GUPPI Apresiasi Bantuan Sapi Kurban Dari Presiden Prabowo Subianto

    Jakarta – Pengurus DPP GUPPI, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas bantuan dua ekor sapi kurban yang disalurkan kepada keluarga besar GUPPI dan masyarakat binaan GUPPI pada momentum Iduladha 1447 Hijriah.

    Menurut Sekjen DPP GUPPI Rusydi Zakaria, bantuan tersebut merupakan bentuk perhatian dan kepedulian Presiden Prabowo kepada masyarakat, khususnya komunitas pendidikan Islam serta warga yang selama ini menjadi bagian dari program pengabdian dan pembinaan GUPPI di berbagai daerah.

    “Atas nama keluarga besar GUPPI, kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto atas bantuan sapi kurban yang diberikan kepada masyarakat binaan GUPPI. Bantuan ini memiliki makna yang sangat besar, bukan hanya sebagai ibadah kurban, tetapi juga sebagai wujud kepedulian dan kebersamaan dalam membangun masyarakat,” ujar Rusydi, (27/5/2026)

    Dua ekor sapi kurban bantuan Presiden tersebut disalurkan melalui GUPPI. Satu ekor disembelih di Nurcholis Madjid Training Center (NMTC), Pisangan, Ciputat Timur, dan dibagikan kepada masyarakat sekitar serta keluarga besar GUPPI. Sementara satu ekor lainnya melalui Wanita GUPPI dan dagingnya kemudian didistribusikan melalui Yayasan Baitul Hikmah Pasar Rebo Jakarta Timur untuk warga yang membutuhkan.

    Rusydi Zakaria menjelaskan bahwa antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan kurban tersebut sangat tinggi. Warga menyambut dengan penuh rasa syukur karena bantuan itu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong.

    Ia mengungkapkan bahwa nilai utama dari ibadah kurban bukan semata-mata pada jumlah atau besarnya hewan yang disembelih, melainkan pada semangat berbagi, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.

    “Idul Adha mengajarkan kita tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai inilah yang terus kami tanamkan dalam gerakan pendidikan GUPPI. Pendidikan tidak hanya membentuk manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki empati, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama,” tambahnya.

    Rusydi yang juga Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membangun manusia Indonesia yang berilmu, beriman, dan bertakwa. Karena itu, kegiatan sosial seperti pembagian daging kurban kepada masyarakat merupakan bagian dari pendidikan karakter yang perlu terus dikembangkan.

    Menurutnya, perhatian Presiden Prabowo kepada masyarakat melalui program bantuan kurban menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas sosial tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    “Kami mendoakan semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam memimpin bangsa Indonesia. Semoga semangat berbagi dan kepedulian seperti ini terus menginspirasi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun Indonesia yang maju, berkarakter, dan berkeadaban,” tutup Rusydi.

    Bantuan dua ekor sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat binaan GUPPI. Selain memberikan manfaat nyata bagi penerima, bantuan tersebut juga memperkuat semangat persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang menjadi nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

    Wakil Ketua Dewan Penasehat Pimpinan Pusat Wanita GUPPI menghaturkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Presiden Republik Indonesia atas kepercayaan dan bantuan hewan qurban yang telah diberikan.

    “Bantuan sapi dari Presiden untuk GUPPI dan Wanita GUPPI ini merupakan wujud nyata perhatian negara terhadap kemaslahatan umat Islam dan penguatan peran organisasi perempuan dalam syiar keagamaan serta sosial,” kata Siti Maryam Thohari.

    Dia berharap agar bantuan tahun ini dapat dilanjutkan di tahun-tahun yang akan datang untuk syoar dan edukasi kepada masyarakat binaan GUPPI selama ini.

    “Warga menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan karena sudah cukup lama tidak menerima bantuan sapi kurban dari Presiden Republik Indonesia. Kehadiran bantuan tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat penerima, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan pada Hari Raya Idul Adha,’ tambah Siti Maryam..

  • GUPPI HARUS KAWAL MUI PEDULI PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

    GUPPI HARUS KAWAL MUI PEDULI PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Harus Kawal MUI Lebih Peduli Pendidikan Islam Indonesia

    Jakarta (GUPPI) – Majlis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Munas XI pada tanggal 20-23 November 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Munas MUI merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa. Salah satu agendanya juga akan memilih nahkoda baru untuk periode 2025 – 2030.

    Sebagai salah satu ormas Islam yang ikut mendirikan MUI pada tahun 1975, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) diharapkan terus menjaga dan mengawal MUI agar tetap sejalan dengan tujuan awal pendiriannya.

    Hal itu disampaikan oleh salah satu pengurus DPP GUPPI, Agus Sholeh, melihat dinamika MUI akhir-akhir ini yang terasa kurang gregetnya.

    “Atas nama keluarga besar GUPPI saya ingin mengucapkan Selamat Munas MUI XI. Saya berharap dan mendoakan selalu agar MUI senantiasa berhidmat untuk kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.” kata Agus Sholeh, Rabu (19/11/2025).

    Dalam pandangan Agus Sholeh, Munas MUI XI ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa.

    “Saya mendukung tema yang diusung dalam Munas XI kali ini, yaitu Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat. Tema ini menegaskan pentingnya peran ulama dalam membimbing umat, serta mengawal arah pembangunan nasional agar tetap sejalan dengan nilai keislaman, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan yang berkeadilan,” tambah Agus Sholeh, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Peningkatan Layanan Pendidikan (PLP) DPP GUPPI.

    Agus berharap agar MUI sebagai wadah silaturahmi para ulama, dapat melibatkan dan merangkul semua unsur yang ada di Indonesia. 

    “Sebagai wadah strategis para ulama, maka MUI harus merangkul semua pihak, tidak hanya kelompok tertentu. Hal ini karena ulama merupakan waratsatul anbiya, tokoh yang diangap mewarisi keteladanan nabi, yang bisa menyampaikan kebenaran (haq) dan mengingatkan akan yang salah (batil), minimal kepada jamaahnya,” ujar Agus. 

    Menurutnya, peran dan tanggung jawab MUI dalam menjaga kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa harus menjadi kesadaran bersama.

    “Dengan peran MUI seperti itu, kita berharap MUI dapat berperan untuk menjaga bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Apalagi MUI mengemban dua misi utama, yaitu sebagai Pelayan Umat (Khadimul Ummah) dan Mitra Pemerintah (Shadiqul Hukumah). Sebagai pelayan umat, MUI harus berupaya menjaga masyarakat dari hal-hal yang menyimpang agar umat tetap berada pada ajaran Islam yang benar. Sementara itu, pada aspek kebangsaan, MUI turut menjaga komitmen nasional, yaitu dalam memperkuat ukhuwwah wathaniyyah atau persaudaraan kebangsaan,” tambah Agus Sholeh, yang lama bertugas di Kementerian Agama Pusat.

    Agus menyadari bahwa saat ini MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat MUI didirikan pada tahun 1975.

    “MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat kita dirikan pada tahun 1975, baik itu kondisi sosial, politik maupun ekonomi. Posisi ulama saat ini jauh lebih kompleks dibanding dengan masa lalu, apalagi dunia digital saat ini yang serba terbuka,” kata Agus.

    Peran GUPPI

    Secara khusus Agus Sholeh berharap agar GUPPI sebagai salah satu ormas Islam yang ikut membidani lahirnya MUI terus mengawal MUI agar lebih peduli tentang pendidikan Islam. Karena selama ini gaung MUI tentang pendidikan Islam tidak begitu terdengar.

    “GUPPI harus mengawal MUI agar MUI peduli terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Lembaga pendidikan Islam, baik itu madrasah, sekolah maupun pondok pesantren merupakan asset umat Islam yang strategis dalam pembangunan nasional,” ujar Agus Sholeh.

    Agus Sholeh berharap agar GUPPI terus vokal dan kritis dalam menyuarakan isu-isu pendidikan Islam melalui MUI Pusat maupun daerah.

    “GUPPI yang memang dari awal menyuarakan mutu pendidikan Islam harus berada di barisan paling depan dalam menyuarakan pendidikan yang lebih adil dan merata, baik di tingkat MUI Pusat maupun Daerah” ungkapnya.

    Karena itu Agus juga meminta agar GUPPI bersama MUI banyak melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pemerintah Daerah.

    “GUPPI bersama MUI harus aktif memberikan masukan yang konstruktif kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini agar lembaga-lembaga pendidikan Islam binaan ormas-ormas Islam di Indonesia ini tambah maju dan berdaya saing,” tambah Agus Sholeh.

    Terkait dengan kepengurusan MUI ke depan, Agus Sholeh berharap agar Ketua Umum GUPPI bisa masuk dalam jajaran pimpinan MUI karena sudah lama tidak ada wakil dalam kepengurusan di MUI.

    “Saya berharap Ketua Umum GUPPI, Pak Fasli Jalal masuk dalam jajaran pimpinan MUI Pusat di periode 2025 – 2030, terutama untuk mengawal dunia pendidikan di Indonesia. Pak Fasli Jalal saat ini merupakan Rektor Universitas Yarsi Jakarta dan mempunyai pengalaman luas di bidang Pendidikan, Apalagi beliau pernah menjadi Wakil Menteri Pendidikan Nasional,” ujar Agus.

    Memang sudah lama GUPPI tidak terlihat dalam jajaran pengurus MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI berperan lebih aktif di MUI, organisasi yang ikut didirikan tahun 1975.

    “Memang sudah lama rasanya tidak ada pengurus GUPPI di MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI aktif kembali di MUI, organisasi yang ikut didirkan tahun 1975, terutama dalam mengawal pendidikan Islam agar menjadi lebih baik, merata dan bermutu. (Tim Media)

    Komentar

    60