Penulis: Agus Sholeh

  • MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MARZUKI ALIE : GERAKAN PEMBARUAN HARUS BERKELANJUTAN

    Jakarta (GUPPI) – Saya terima kasih diajak Prof Fasli Jalal untuk menjadi salah satu pengurus di GUPPI. Saya bersedia di manapun kalau menyangkut Pendidikan, Insya Allah ada sedikit ilmu dan pengalaman yang mungkin bisa berkontribusi untuk kepentingan masa depan anak-anak kita dengan pengalaman di dunia pendidikan sudah lebih 40 tahun.    

    Kehadiran GUPPI saat ini luar biasa. Mungkin ini restorasi, karena dulu di bawah naungan Golkar, sekarang sudah independent. Artinya GUPPI harus mulai menata kembali bagaimana bisa berperan di dalam meningkatkan pendidikan Islam di Indonesia.    

    Gerakan usaha pembaruan itu gerakan tiada berakhir. Berkelanjutan. Kita tidak bisa mengharapkan dalam waktu 5 tahun selesai. Gerakan itu bisa berpuluh-puluh tahun. Jadi kita bergerak terus melakukan pembaruan-pembaruan, menyesuaikan dengan perkembangan zaman.    

    Ada tiga hal yang menjadi tantangan GUPPI saat ini. Ini berdasarkan pada  pengalaman.     

    Pertama,  kita lihat merosotnya moral bangsa kita pada saat ini luar biasa. Di sekolah-sekolah Islam pun terjadi pembulian. Ada teman di Jakarta yang mengelola yayasan pendidikan Islam. Belajarnya banyak juga konten-konten Islam. Tetapi pembulian terjadi.

    Kayaknya seperti sudah hal-hal yang biasa-biasa saja orang korupsi. Tampil di TV ketawa-ketawa. Narkoba juga luar biasa. Juga masalah adab atau etika, bagaimana anak menghormati orang tua, orang tua dengan guru dan lain sebagainya. Ada yang salah di dalam pendidikan kita ini. Yang harus jadi PR kita.     

    Kedua, pendidikan Islam saat ini kelihatannya tidak mengantisipasi tantangan zaman. Kurikulumnya, mindset dosennya, dan rata-rata di pendidikan Islam itu sarana prasarananya sangat minim. Itu yang saya perhatikan. Seolah-olah pendidikan Islam itu sempit, tidak konteks dengan perkembangan kemajuan zaman, padahal harusnya ada nilai tambah agamanya.    

    Sekarang ini media sosial membuat perilaku kita berubah banyak, anak-anak kita berubah perilakunya, industrialisasi mengakibatkan anak-anak kita menjadi materialistis, rasionalitas tumbuh berkembang sehingga membuat jarak dengan pemahaman keyakinan agama. Ini tantangan yang kita hadapi pada saat ini. Harus kita cari solusinya.     

    Ketiga, bagaimana menghadirkan kembali kejayaan Islam yang telah menghasilkan ilmuwan-ilmuwan hebat. Kita mungkin belum sampai di sana. Pendidikan konvensional saja belum pernah Indonesia dapat Nobel, apalagi pendidikan Islam. Namun mungkin nanti tahapan-tahapan berikutnya.    

    Saya pernah diskusi dengan Buya Yahya, pimpinan pesantren al Bahjah. Dia berpesan agar pendidikan Islam di sekolah-sekolah itu tidak perlu menambah jam pelajaran, tetapi cukup tiga aspek ini yang harus ditekankan.  Pertama  akidah, yang  kedua syariat, dan yang ketiga adalah akhlak. Itu saja yang dikemas.    

    Selain itu, pendidikan Islam harus konteks dengan permasalahan yang dihadapi ataupun tantangan masa depan bangsa. Kurikulumnya harus kita lakukan banyak perubahan. Digitalisasi itu sudah merupakan keniscayaan. Dalam sekian tahun ke depan mungkin 90% bisnis semuanya online.    

    Bagi kita umat Islam tentu harus siap dengan kemajuan, kalau kita tidak siap kita akan semakin tertinggal, semakin terbelakang. Karena itu perlu diupayakan bagaimana membenahi kurikulum, menyiapkan para pengajar, dosen, dan sarana prasarana sehingga mampu mengantisipasi perubahan-perubahan.    

    Secara garis besarnya, kita harus membuat program, rencana strategis, program kerja, bagaimana peran kita dan harus bergandengan tangan dengan pengambil keputusan.    

    Kita tidak boleh menjadi oposisi. Sebagai ormas keislaman kita harus selalu bergandengtangan dengan pemerintah. Kita harus terus mengawal pemerintahan, harus bersuara dengan cara yang etis, cara yang beradab, bukan berteriak-teriak di jalan. Itu yang harusnya dilakukan oleh umat Islam supaya perubahan itu terjadi.    

    Hentikanlah berteriak-teriak di jalan. Mengkritik tidak akan ada perubahan, tapi bisa dengan silaturahim, komunikasi, sharing pendapat pengalaman dan sebagainya.

    Saya yakin sekeras-kerasnya orang, dia akan cair, dia akan mendengarkan. Tetapi kalau itu kita bentur-benturkan, maka itu tidak akan menyelesaikan persoalan. (GUZ).

    ** Disarikan dari sambutan Marzuki Alie pada acara Pengukuhan Pengurus DPP GUPPI Periode 2024 – 2029, hari Ahad, 4 Agustus 2024 di Kampus Universitas YARSI Jakarta.

    Komentar

    59
  • KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    Jakarta (GUPPI) – Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D mengukuhkan kepengurusan DPP Wanita GUPPI Periode 2024 – 2029 di Kampus Universitas YARSI Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2024. Pengukuhan ini dilaksanakan setelah dirinya mengukuhkan Pengurus DPP GUPPI Periode 2024 – 2029.

    Dia mengungkapkan kegembiraanya bahwa Wanita GUPPI selama ini aktif dalam meningkatkan peran wanita dalam pendidikan di keluarga.

    “Alhamdulillah acara berjalan lancar. Saya berharap Ibu-ibu Pengurus Wanita GUPPI dapat mengemban amanah ini dengan baik sehingga dapat mendukung upaya pendidikan Islam di lingkungan ibu, anak dan keluarga,“ kata Fasli Jalal.

    Dirinya berharap agar Wanita GUPPI terus aktif untuk melakukan advokasi agar nilai-nilai pendidikan Islam dapat menjadi fondasi moral keluarga untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

    “Selamat menunaikan tugas mulia ibu-ibu sekalian. Moga-moga Wanita GUPPI bisa ikut mengawal usaha pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia melalui penguatan peran wanita dan keluarga,” tambah Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas YARSI Jakarta.

    Sebagai Ketua DPP Wanita GUPPI ditetapkan Prof. Zahrotun Nihayah, didampingi oleh Dr. Tati Hartimah, Dr. Fauziyah Fauzan El Muhammadi, Dra. Media Ekawati, MM, Adelia Noor, M. Pd sebagai Wakil Ketua dan Prof. Maila Dania sebagai Sekretaris.

    Adapun susunan Kepengurusan DPP Wanita GUPPI Periode 2024 – 2029 adalah :

    Penasehat                                               

    Ketua                                                        :  Prof. Dr. Nurhayati Djamas, MA. MSi.

    Wakil Ketua                                             :  Dra. Siti Maryam Thohari, M.Pd.

    Anggota                                                    :  Dr. Gusnawirta Fasli Jalal

       Prof, Dr, Valina Singka Subekti

       Prof . Dr. Azizah Ma’ruf Amin

    Dewan Pakar                                          

    Ketua                                                        :  Prof. Dr. Fadhilah Suralaga, M.Psi

    Anggota                                                  :  Prof. Dr. Kustini Kosasih.M.Si.

       Prof. Dr. Sururin, MA

       Prof. Dr. Nurul Azkiyah, P.hD

       Prof. Dr.  Nur Inayah, M.Si

    Ketua Umum                                          :  Prof. Dr. Zahrotun Nihayah. M.Psi. 

    Wakil Ketua  Umum                               :  Dr. Tati Hatimah, MA 

    Ketua I                                                      :  Dr. Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si

    Ketua II                                                     :  Dra. Media Ekawati .M.M 

    Ketua III                                                    :  Adelia Noor, S.Pd, M.Pd 

    Ketua IV                                                    :  Prof.  Maila Dinia, MA, Ph.D 

    Sekretaris  Umum                                  :  Dra. Lisa’diyah Ma’rifataini, M.Pd 

    Wakil Sekretaris                                      :  Nahayati. M.Pd

    Bendahara  Umum                                :  Dra. Sri Waluyani Mumtahinati, M.Pd

    Wakil Bendahara                                    :  Dra. Widya Martha Rika.

     BIDANG-BIDANG

    1. Bidang Peningkatan Kualitas Pendidikan Wanita 

    Koordinator                                :  Dr. Ida Rosyidah, M.A

    Sekretaris Bidang                      :  Yuliwati M.Pd    

    Anggota                                       : 

    1. Dr. Wiwi Siti Sajarah

    2. Dr. Iyoh Mastiyah, M.Pd

    3. Elis Lisyawati, M.Pd

    4. Khairunisa, MA

    5. Dr. Rizki Handayani

    6. Dr. Hindun. M.Pd..

    1. Bidang perlindungan Anak & Remaja

    Koordinator                                ; Radhiyah Bustan. M.Soc,Sc,Psi.

    Sekretaris Bidang                      : Nila Fitria M.Pd.

    Anggota                                      : 

    1. Dr. Sunarti PhD

    2. Zulfa Indira Wahyuni M.Psi

    3. Dr. Siti Khadijah, MA

    4. Dra. Bahzah. M.Pd.

    5. Sitti Evangeline Imelda Suaidy, M.Si, P.Si.

    6. Eva Delva. M.Pd

    3. Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Keluarga

    Koordinator                                : Dra. Emma Nurmawati Hadian MM

    Sekretaris Bidang                      : Dra. Sumarsih Anwar M.Pd.

    Anggota                                      :  

    1. Prof. Dr. Mesraini. S.H. MAg. 

    2. Dr. Yayah Nurmaliah, M.Psi

    3. Dra. Rachimah Imawati, M.Psi

    4. Ir. Cucun Cunia Komara, S.Pd

    5. Lulu Amna M.Pd.

    6. dr. Lilik Khairiyah

    1. Bidang Kerjasama dan Kemitraan antar Lembaga

    Koordinator                                : Dr. Nurhasanah M.Ag

    Sekretaris Bidang                      : Ratna Fairus

    Anggota                                      :  

    1. Zaitu Asrilla, M.Si

    2. Dr. Siti Drivoka M.Pd.

    3. Khoirotun Nisak

    4. Nia Tresniasari, M.Pd, M,Stat

    5. Evi Muliyah M.Si.

    6. Izun Ni’mah M.Pd.

    Komentar

    71
  • FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    Jakarta – Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), yang juga Ketua Tim Formatur Pemilihan Ketua Umum GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D mengukuhkan kepengurusan DPP GUPPI Periode 2024 – 2029 di Kampus Universitas YARSI Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2024.

    Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Bahrul Hayat Ph. D dikukuhkan sebagai Wakil Ketua Umum, dan Dr. Amich Alhumami MA, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas ditunjuk sebagai Ketua Harian. Sementara itu Drs. Rusydi Zakaria, M, Ed ditugaskan sebagai Sekretaris Jenderal dan Dr. Opik Abdurrahman Taufik sebagai Bendahara Umum GUPPI periode 2024 – 2029.

    Hadir dalam acara ini sejumlah perwakilan ormas-ormas Islam, pemerintah, pimpinan perguruan tinggi, madrasah, pondok pesantren dan sekolah Islam.

    “Alhamdulillah acara pengukuhan berjalan lancar. Sekitar 300 orang memenuhi Aula Ar Rahim Universitas Yarsi Jakarta dan Sebagian lagi para pengurus DPW dan DPD mengikuti secara daring melalui link zoom meeting,” kata Fasli Jalal saat menyampaikan sambutan.

    Fasli Jalal meminta kepada para pengurus agar menjalankan kewajibannya sesuai dengan tugas dan kewajiban yang diamanatkan.

    “Saya berharap Bapak Ibu Pengurus dapat mengemban amanah ini dengan baik sehingga kita kibarkan gerakan pembaruan pendidikan Islam dan membangun citra pendidikan Islam yang bermutu dan bermartabat, “ tambah Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas YARSI Jakarta.

    Dalam kesempatan ini dia mengajak seluruh komponen pendidikan untuk lebih peduli dan memberi perhatian terhadap mutu dan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.

    “Kita tidak mungkin hanya mengandalkan bantuan pemerintah untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Jumlah lembaga pendidikan di Indonesia sebagian besar adalah lembaga swasta, dan sebagian besar adalah sekolah Islam, madrasah dan pondok pesantren. Karena itu mari kita bersama-sama melakukan gerakan pembaruan pendidikan Islam agar pendidikan Islam bisa maju dan kompetitif”, ungkap Fasli Jalal yang pernah menjadi Wakil Mendikbud.

    Dirinya berharap agar GUPPI ini menjadi motor penggerak bagi pembaruan pendidikan Islam di Indonesia sehingga mutu pendidikan kita dapat bersaing di dunia internasional.

    “Dulu orang Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Vietnam datang dan belajar ke Indonesia. Sekarang malah terbalik, kita yang pergi ke mereka dan ketemu dengan murid-murid kita yang sekarang jadi orang-orang penting,” jelas Fasli Jalal.

    Menurut pandangan Fasli Jalal, GUPPI merupakan ormas Islam yang memang dari awalnya memberi perhatian terhadap usaha pembaruan dunia pendidikan Islam di Indonesia.

    “GUPPI yang lahir tahun 1950 ini dari awalnya memang memberi perhatian pada pendidikan Islam, karena para pendiri GUPPI yang merupakan kyai-kyai pondok pesantren prihatin dengan dunia pendidikan Islam. Karena saat itu masih suasana perang, maka orang tidak terlalu peduli dengan mutu madrasah dan pesantren’, kata Fasli.

    Fasli berharap agar acara pengukuhan ini menjadi momentum baru bagi gerakan pembaruan pendidikan Islam sejalan dengan kebijakan Pemerintah yang telah mengesahkan Kurikulum Merdeka untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

    “Setelah acara pengukuhan ini DPP GUPPI akan mencoba memberi masukan kepada Presiden terpilih 2024 dengan Blueprint Peta Jalan Pembaruan Pendidikan Islam dengan melihat model-model best practice yang selama ini sudah dikembangkan oleh ormas-ormas Islam sehingga terlihat jelas peran dan partisipasi dunia pendidikan Islam di Indonesia”, katanya. 

    Dalam acara ini juga dikukuhkan Dewan Penasehat, Desan Pakar, Pengurus Lembag Advokasi Hukum dan Perlindungan HAM, dan Pengurus Wanita GUPPI.

    Prof. Husni Rahim dikukuhkan sebagai Ketua Dwan Penasehat GUPPI, didampingi oleh Marzuki Alie, Ph. D, Dr. Nurhayati Subakat, dan Prof. Ahmad Thib Raya sebagai Wakil Dewan Penasehat. Sedangkan Prof. Amsal Bahctiar ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Penasehat GUPPI.

    Sementara itu Dewan Pakar dipimpin oleh Prof. Imam Tholkhah, didampingi oleh Prof. Nurhayati Djamas, Prof. Dede Rosyada dan Prof. Lydia Freyani Hawadi sebagai Wakil Dewan Pakar. Adapun Prof. Murtadho ditugaskan sebagai Sekretaris Desan Pakar.

    Di Wanita GUPPI, Prof. Zahrotun Nihayah ditetapkan sebagai Ketua, didampingi oleh Dr. Tati Hartimah, Dr. Fauziyah Fauzan El Muhammadi, Dra. Media Ekawati, MM, Adelia Noor, M. Pd sebagai Wakil Ketua dan Prof. Maila Dania sebagai Sekretaris.

    Adapun susunan Kepengurusan DPP GUPPI Periode 2024 – 2029 adalah :

    DEWAN PIMPINAN PUSAT

    KETUA UMUM         Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D.

    Wakil Ketua Umum  Prof. Bahrul Hayat, Ph.D.

    Ketua Harian            Amich Alhumami, MA, M.Ed. Ph.D.

    Ketua Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO)     Drs. Syamsudin, MM

    Ketua Penguatan Layanan Pendidikan (PLP)     Prof. Dr. Muhammad Adlin Sila, MA

    Ketua Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS)        Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP.

    Ketua Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI) Dr. Ahmad Suryadi Nomi, M.Pd.

    Ketua Penguatan Peran Wanita (PPW) Prof. Dr. Zahrotun Nihayah, M.Psi.

    Sekretaris                Dra. Lisa’diyah Ma’rifataini. M.Pd

    SEKRETARIS JENDERAL  Rusydy Zakaria, M.Ed. M.Phil.

    Wakil Sekretaris Jenderal Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO) Drs. Hasan M Noer, MA.

    Wakil Sekretaris Jenderal Penguatan Layanan Pendidikan (PLP) Drs. Agus Sholeh, M.Ed.

    Wakil Sekretaris Jenderal Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS) Dr. Rudi Harisyah Alam.

    Wakil Sekretaris Jenderal Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI) Drs. Subardja, M.Pd.

    Wakil Sekretaris Jenderal  Penguatan peran Wanita (PPW) Dra. Lisa’diyah MF, M.Pd

    Kepala Sekretariat/Kantor   Drs. Aden Daenuri, M.Ed.

    BENDAHARA UMUM          Dr. Opik Abdurrahman Taufik, M.Pd.

    Wakil Bendahara Umum     Dr. Hj. Eniwati Chaidir, M.Ag

    Wakil Bendahara Umum     Endi Suhendi, M.Pd.

    Bendahara                          Sumarni Ch.

    Departemen Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO)

    Ketua             Drs. MHR Shikka Songge. M.AP.

    Wakil Ketua   H. Muhammad Hafizh  El Yusuf, MM

    Anggota        Moh. Harun Al-Rasyid Balaga, Lc. M.Pd.

    Anggota        Muhammad Iqbal, SE

    Anggota        M. Shopiuddin, MA

    Anggota        Abas Jauhari, M. Ag

    Anggota        Saefuddin Anshari. M. Ag

    Departemen Penguatan Layanan Pendidikan (PLP)

    Ketua             Hasan Husen Basri, MA

    Wakil Ketua   Drs. Asril Das

    Anggota        Drs. Abdul Munir, M. Ed

    Anggota        Dr. Suhardi. M. Pd

    Anggota        Dr. Jejen Musfah, MA

    Anggota        Drs. Nuryasin, M. Si

    Anggota        Herry Zakaria, S. Ag. SE

    Angota          Dr. Nur Dewi Afifah

    Departemen Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS)

    Ketua             Dr. Abduk Rozak, M, Si

    Wakil Ketua   Dr. Ahmad Shodiq, MA

    Anggota        Dr. Mahnan Marbawi

    Anggota        Dr. Syafiuddin

    Anggota        Dr. Iin Kandedes, MA

    Anggota        Sofyan Badrie

    Departemen Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI)

    Ketua             Dr. Jaenal Arifin, MA

    Wakil Ketua   Dr. Khamim, M. Pd

    Anggota        Dr. Hanif

    Anggota        Faisal Ghozali, Lc, M. Pd

    Anggota        M. Sholeh

    Anggota        Drs. Ali Syamasuddin

    DEWAN PENASEHAT

    Ketua             Prof. Dr. Husni Rahiem

    Wakil Ketua   Marzuki Alie, Ph.D.

    Wakil Ketua   Dr. (HC) Nurhayati Subakat

    WakilKetua    Prof. Dr. A. Thib Raya, MA

    Sekretaris      Prof. Dr. Amsal Bachtiar, MA

    Anggota        Prof. Hilman Latief, MA, Ph.D

    Anggota        Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Ed, M. Phil.

    Anggota        Prof. Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi.

    Anggota        H. Adian Husaini, M. Si, Ph. D.

    Anggota        Dr. H. Yusnar Yusuf, MS

    Anggota        Dr. Aab Abdullah, S. IP. M. Ag.

    Anggota        Dra. Siti Maryam Tohari, M.Pd.

    Anggota        Chamdi Pamudji, SH, MM.

    Anggota        Drs. Praptono Zamzam, M. Sc

    Anggota        Drs. H. Nurdin

    Anggota        Drs. Nadjmudin, MM

    Anggota        H. Ahmadie Thaha, M.Si.

    DEWAN PAKAR

    Ketua             Prof. Dr. Imam Tholkhah, MA.

    Wakil Ketua   Prof. Dr. Nurhayati Djamas, MA.

    Wakil Ketua   Prof. Dr. Dede Rosyada, MA.

    Wakil Ketua    Hamid Muhammad, Ph.D.

    Sekretaris      Prof. Dr. Muhamad Murtadlo.

    Anggota        Prof. Dr. Hono Sejati, SH., M. Hum.

    Anggota        Prof. Dr. Syamsuridjal Djauzi, SpPD.

    Anggota        Dr. Supriyanto, MA.

    Anggota        Prof. Muchlas Samani

    Anggota        Prof. Dr. Syawal Gultom

    Anggota        Prof. Dr. Eka Putra Wirman, Lc., MA

    Anggota        Prof. Dr. Amany Lubis, MA

    Anggota        Dr. dr. Endy Muhammad Astiwara, MA., AAAIJ, CPLHI, ACS, FIIS, CRGP, ASPM.

    Anggota        Prof. Dr. Abuddin Nata, MA

    Anggota        Prof. Martin Roestamy, SH, MH.

    Anggota        Prof. Dr. H. Sukro Muhab, M.Si.

    Anggota        Prof.Dr. Armai Arief, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Abdul Fattah, M.Fil.

    Anggota        Prof. Dr. Aan Hasanah, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Budi Sulistiono, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Muhammad Zuhdi, M.Ed.

    Anggota        Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Qowaid, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Choirul Fuad Yusuf

    Anggota        Prof. Bambang Suryadi, Ph.D.

    Anggota        Dr. Taufan Maulamin, Akt.MS.

    Anggota        Dr. Zulfikri Anas

    Anggota        Abdul Malik, Ph.D.

    Anggota        Dr. Ing. Suparno Satira, DEA.

    Anggota        Dr. H. Iskandar Syukur, MA.

    Anggota        Fuad Fachruddin, M.sc. Ph.D.

    Anggota        Dr. Usman Shihab, Lc.

    LEMBAGA ADVOKASI HUKUM & PERLINDUNGAN HAM GUPPI

    Ketua             Dr. Soefyanto Wiryoatmojo, SH, MH

    Wakil Ketua   Mubarok, SH, M.Sc

    Sekretaris      Andi Syafrani, M.Hum

    Anggota        Drs. Yusuf Hidayat.

    Anggota        Dr. Shiyamu Manurung, MA.

    Anggota        Drs. Mustholih Siradj, MH

    Komentar

    63
  • Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Gaza Dan Solidaritas Global Terhadap Palestina

    Konflik Palestina dan Israel hingga saat ini masih terus berlangsung. Belum jelas kapan perang akan berhenti. Dewan Keamanan PBB sudah menawarkan Paket Perdamaian kepada kedua pihak, namun Israel masih menentang upaya perdamaian tersebut.

    Kebiadaban yang dilakukan Israel terhadap Palestina di wilayah Gaza telah menewaskan lebih dari 38.000 orang. Data yang dihimpun United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA) dari Kementerian Kesehatan Gaza juga menunjukkan bahwa serangan Israel telah memakan korban banyak dari wanita dan anak-anak.

    Namun di pihak Israel juga tidak sedikit korban yang meninggal, baik dari kalangan sipil maupun militer. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Herzi Halevy, mengatakan bahwa Israel harus membayar mahal dalam agresi ke Jalur Gaza tersebut. Israel kehilangan banyak perwira dan tentara dalam menghadapi gerakan perlawanan Palestina.

    Aksi genosida Israel yang sedang terjadi di Gaza adalah salah satu kejahatan pembunuhan massal dan pembersihan etnis (etnis cleansing) terbesar dalam sejarah modern. Dan harus diakui bahwa dalam beberapa dekade terakhir ini, tidak ada negara yang melakukan perlawanan sekuat yang dilakukan Palestina.

    Namun disisi lain, belakangan ini muncul pertanyaan kenapa negara-negara Arab tidak terlihat antusias dalam mendukung Palestina, terutama saat Gaza dibombardir oleh Israel? Ada apa dengan negara-negara Arab ini, apakah karena mereka takut sama Amerika Serikat dan Israel ?

    Ini yang menjadi pertanyaan banyak pihak dan menganggap negara-negara Arab itu hanya mempraktekkan solidaritas semu terhadap Palestina. Apalagi belakangan ini sejumlah negara, seperti Qatar, Arab Saudi, Mesir justru mulai membuka akses diplomatic dengan Israel.

    Arogansi Barat

    Jared Kushner, mantan penasehat Presiden Donald Trum, yang juga mertuanya, pernah mengajari orang-orang Palestina bagaimana cara menangani perjuangan mereka demi kebebasan.

    Pada tahun 2019, ia menyarankan warga Palestina untuk berhenti “melakukan terorisme,” dan terjebak karena kepemimpinan yang buruk. Menurutnya, masalah Palestina bukan karena pendudukan Israel atau karena AS mendukung Israel.

    Jared juga menjadi bahan cemoohan akibat bualannya yang mengatakan dia telah membaca puluhan buku tentang Timur Tengah, dan mengatakan bahwa orang-orang Palestina bukanlah para “pembawa perdamaian”, namun bangsa yang mempunyai niat buruk dan suka memaksakan diri.

    Ia juga menggunakan bahasa yang merendahkan Palestina, seperti yang pernah digunakan oleh mantan Menteri Luar Negeri Israel Abba Eban, dengan mengatakan bahwa Palestina “memiliki rekam jejak sempurna dalam kehilangan peluang.”

    Menurut Ramzy Baround dalam Arab News, setiap tahun, orang-orang Amerika, atas perintah Israel, menjajakan ide-ide konyol untuk meruntuhkan mental pejuang rakyat Palestina. Dia mengatakan bahwa perjuangan Palestina sudah selesai, solidaritas dengan rakyat Palestina sudah mati dan rakyat Palestina dan para pemimpin mereka harus menerima apa pun yang menjadi masalah politik atau keuangan. menurutnya, karena semua milik Washington, Tel Aviv dan beberapa sekutu Barat mereka.

    Namun, rakyat Palestina membuktikan bahwa mereka salah. Terlepas dari segala tekanan, saling hujatan, sanksi, pengepungan dan kekerasan tanpa henti, tetapi mereka tetap kuat. Meskipun orang-orang Palestina tidak dapat mengendalikan kekejaman Israel, yang didukung oleh AS, namun mereka tetap berjuang untuk Merdeka dan tidak mau menjadi korban sia-sia kebiadaban Israel.

    Pemerintahan Biden, seperti pemerintahan AS lainnya, telah merendahkan warga Palestina dan menyatakan mereka bodoh karena tidak menerima kesepakatan paket perdamaian. Warga Palestina memang tetap teguh menginginkan kebebasan total dan tanpa syarat. Mereka menganggap Perjanjian Camp David (1979), Perjanjian Oslo (1993 dan 1995), Road Map (2004) dan setiap “tawaran” lainnya merupakan upaya politik untuk memperpanjang pendudukan Israel dan menyangkal hak-hak rakyat Palestina. Karena itu mereka tolak karena dianggap tidak akan menjamin hak-hak dasar mereka yang telah lama mereka inginkan.

    Semua “proposal perdamaian” yang diajukan oleh Amerika dan antek-anteknya jelas tidak adil, karena akan selalu menguntungkan Israel. Semua usulan pro-Israel ini gagal, bukan karena kemampuan komunitas internasional untuk menantang Washington, namun karena kegigihan rakyat Palestina.

    Washington memandang Israel sebagai bagian integral dari pengaruh global Amerika. Bagi AS, Israel adalah masalah kebijakan dalam negeri dan luar negeri. Karena itu, jika Israel tidak lagi menjadi negara dominan yang ada saat ini, maka AS akan kehilangan bentengnya di kawasan yang kaya akan sumber daya yang amat berharga, termasuk jalur perairan strategis. Inilah sebabnya mengapa Biden berulang kali menyatakan bahwa, “jika Israel tidak ada, kita harus menciptakannya.”

    Sikap Biden terhadap Israel memang dianggap ambivalen, karena didalam negeri dianggap membela Israel, tapi di luar negeri dianggap condong ke Palestina. Mungkin karena dia sedang menghadapi Pemilu yang akan dilaksanakan bulan November 2024 dan menghadapi lawan berat, yaitu Donald Trump, yang dikenal sangat vocal dan provokatif.

    Solidaritas Dunia.

    Solidaritas dunia terhadap perjuangan rakyat Gaza telah menjadi salah satu pilar gerakan solidaritas internasional di seluruh dunia selama beberapa dekade. Ungkapan “Bebaskan Palestina” tertulis di dinding-dinding yang tak terhitung jumlahnya, dengan bahasa dan ungkapan masing-masing. Semua mendukung perjuangan rakyat Palestina.

    Dukungan dan solidaritas terhadap perjuangan Palestina terus menggema di antero dunia, termasuk bagaimana bantuan internasional bisa masuk ke wilayah-wilayah terisolir. Perang Gaza telah memunculkan dukungan dan simpati kepada Pelestina, dan antipati terhadap Israel dan Amerika Serikat.

    Di berbagai belahan dunia, di Eropa, Amerika, Asia, dan termasuk di Indonesia, telah terjadi demonstrasi besar-besaran mengecam kekejian Israel. Aksi demonstrasi pro Palestina tidak lagi karena persoalan agama, namun sudah menjadi persoalan kemanusian. Tindakan keji Israel yang telah membunuh ribuan orang Palestina, yang juga dikenal sebagai etnic cleansing, merupakan sebuah kejahatan dan pelanggaran HAM yang serius.

    Berbagai protes muncul dari berbagai belahan dunia, termasuk di AS sendiri. Bukan hanya frekuensi atau besarnya protes yang terjadi saat ini, namun juga sifatnya. Seorang aktivis Palestina pernah mencoba mengambil alih gedung Kongres AS dan seorang tentara Amerika pernah melakukan aksi bakar diri karena marah atas kesalahan pemerintahnya dalam kejahatan yang terjadi di Gaza.

    Dihadapan Sidang Umum di Mahkamah Internasional bulan lalu, perwakilan China Ma Xinmin membela hak rakyat Palestina untuk melakukan perjuangan bersenjata, sambil merujuk pada hukum internasional. Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia juga menyerukan adanya sanksi terhadap “mereka yang menghalangi akses kemanusiaan kepada mereka yang membutuhkan.”

    Negara-negara Selatan juga berada di garis depan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina sebagai perjuangan pembebasan nasional yang paling menginspirasi di dunia. Selain itu, ada banyak negara di Eropa, seperti Spanyol, Irlandia, Norwegia dan Belgia, yang membela habis-habisan kepada Palestina dari kejahatan perang Israel di Gaza.

    Namun, solidaritas tersebut belum cukup untuk membalikkan keadaan, untuk mencapai perubahan paradigma yang didambakan, dan untuk mengglobalkan perjuangan demi kebebasan rakyat Palestina seperti yang dilakukan oleh para pejuang Afrika Selatan untuk mengakhiri sistem apartheid. Memang tidak bisa disamakan antara perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan dan perjuangan kemerdekaan Palestina.

    Rakyat Palestina telah menempatkan diri mereka sebagai penjaga perjuangan mereka sendiri, dan dengan bangga berdiri di garis depan perjuangan global untuk kebebasan dan keadilan. Ini benar-benar menggemparkan dunia.

    Hal inilah yang menunjukkan bahwa Palestina memang beda. Mereka bukan hanya korban, akibat kebiadaban Israel, namun mereka juga adalah pejuang sejati, untuk kebebasan dan kemerdekaan bangsanya.

    Palestina telah mengalahkan Israel yang didukung oleh Amerika, namun hal ini tidak cukup untuk menjamin kebebasan mereka, agar Palestina Merdeka. Apalagi mereka berada dalam pertempuran yang sulit ini sendirian.

    Komentar

    87
  • Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Tati Hartimah Minta GUPPI Peduli Pendidikan Karakter

    Jakarta (GUPPI) — Diskursus pentingnya penguatan mutu pendidikan di Indonesia mengemuka dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei 2024.

     Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei.

     Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

     Menurut Tati Hartimah, dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk memajukan pendidikan nasional, pemerintah seharusnya tidak hanya menggantungkan pada pendidikan formal di sekolah, namun pendidikan keluarga juga perlu mendapat perhatian. Karena keluarga merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter anak mulai dari kandungan hingga dewasa dan kehidupan di masyarakat.

    Saya melihat pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Kualitas pendidikan yang ada tidak sebanding lurus dengan usia negara yang secara historisitas dibangun oleh para tokoh  (funding father)  yang sangat peduli dengan masalah pendidikan, ujar Tati Hartimah dalam kesempatan dialog ringan di Nurkholis Madjid Training Center (NMTC) Ciputat, Jum’at sore (05/05/2024).

     Menurutnya ada banyak factor yang mempengaruhi mutu Pendidikan di Indonesia.

    “Ada banyak faktor yang berimplikasi pada rendahnya mutu pendidikan, terutama pada regulasi atau kebijakan sistem. Pendidikan secara umum kondisi masyarakat masih mentalitas  inlander, sehingga tidakmampu mandiri dan berani melakukan terobosan-terobosan, atau innovasi, sehingga pendididikan kita belum dapat mengacu pada daya saing yang kompetitif di tingkat global. Selain itu konsep dan prinsip pendidikan dalam Islam tidak mejadi kesepahaman seluruh umat karena minimnya pihak yang mampu menterjemahkan materi-materi keislaman dengan baik sehingga dapat diterapkan di dunia pendidikan,” ungkapnya.

     Dirinya berharap agar pemerintah dalam membuat kebijakan di bidang pendidikan menggunakan niat baik untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa, tidak semata-mata faktor politis.

    “Pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang baik dan berkorelasi dengan kebutuhan masyarakat dengan tetap mengacu pada nilai keberagamaan masyarakat, tidak hanya melulu karena politis ganti menteri ganti kurikulum,” ujar Tati yang juga seorang ustadzah di sejumlah majlis ta’lim di daerah Tangerang Selatan, yang lama dia bina sejak masih aktivis Kohati HMI di Ciputat.

     Pendidikan karakter.

     Menurut Tati, pembentukan karakter anak sangatlah penting dan harus dimulai sejak dini di dalam lingkungan keluarga. Tidak semata mengandalkan pendidikan formal di sekolah. Pendidikan karakter itu tidak ada sekolahnya. Sekolah pendidikan karakter itu lewat teladan, dan teladannya ada dalam keluarga.

     “Setiap orang tua harus menjadi contoh teladan dalam mendidik karakter anak-anak. Dan pendidikan karakter tidak lepas dari pendidikan agama, karena nilai-nilai agama dapat menjadi pegangan dalam meniti hidup dan kehidupan,” tutur Tati, yang juga alumni S3 dari Univeristas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

     Menurutnya, pendidikan memegang peranan penting dalam menanamkan disiplin kepada anak sejak kecil.

     “Pendidikan memang pada akhirnya adalah tentang penumbuhan karakter. Itu inti dari pendidikan. Kita ingin pendidikan kita memunculkan generasi baru yang berakhlak mulia, dan itu harus ditanamkan sejak masa kecil” tambahnya.

     Tati mengatakan bahwa rumah tangga merupakan pintu awal dalam pembentuk karakter anak, bukan di tempat lain. Karena itu, orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk disiplin anak.

     “Pendidikan terpenting itu berada di setiap rumah kita. Itu adalah tempat pendidikan yang terpenting. Karena itu, orang tua harus memulai dengan kesadaran bahwa pendidikan karakter itu ada di rumahnya. Bila orang tua tidak menganggap rumahnya sebagai sekolah bagi anaknya, maka mulai dari sekarang kita jadikan rumah kita sebagai sekolah peradaban, dan di situlah pendidikan pertama,” ucapnya.

     Ia juga menegaskan bahwa ibu adalah pendidik pertama bagi anak, yakni sejak anak dalam kandungan. Karena itu menurut Tati, didukung berbagai riset modern, di situlah proses pendidikan pertama dilakukan.

     “Orang tua harus menjadi orang tua yang siap mendidik, karena itu setiap calon orang tua harus menyiapkan diri untuk menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Itu namanya orang tua. Karena itu, saya mendukung program Kementerian Agama yang mensyaratkan kepada calon pengantin untuk mengikuti kursus pembinaan Keluarga Sakinah agar mereka mempunyai bekal yang cukup untuk membina keluarga baru,” jelasnya.

     Tentang trend munculnya sekolah berasrama atau pesantren elit, dalam pandangannya, itu merupakan fenomena dari kebutuhan orang tua untuk mencari tempat pendidikan yang baik bagi anaknya.

    “Para orang tua merasa dunia sekolah saat ini masih menghadapi berbagai kekurangan, dan ini membuat para orang tua gelisah dan ada rasa kekhawatiran, terutama terkait dengan kenakalan remaja dan perundungan. Karena itu, bila sekarang ini banyak bermunculan sekolah-sekolah berkonsep boarding school (sekolah berasrama) itu merupakan solusi dan alternatif bagi para orang tua dalam memilih sekolah untuk anak-anak mereka,” kata Tati.

     Meski demikian, ia mengingatkan soal pentingnya orang tua untuk tetap memberi perhatian dalam mendidik anak.

     “Sebagian orang tua memilih  fullday school, atau model pesantren, untuk menjadi pilihan mereka dalam menjamin mutu pendidikan anaknya. Ini merupakan pilihan yang menarik. Namun saya berharap agar orang tua tidak lepas tangan dan tetap mengikuti perkembangan anak-anaknya. Jangan sampai anak-anak itu kehilangan kasih sayang orang tuanya” jelas Tati yang jebolan Pendidikan Guru Agama (PGA) Bandung.

      Peran GUPPI

     Terkait dengan peran GUPPI di masa depan, Tati meminta agar para pengurus GUPPI harus terus membaca perubahan. GUPPI harus ikut berperan dalam menyiapkan generasi masa depan bangsa, terutama dari kalangan Wanita GUPPI

     “Karena itu, saya berharap agar kawan-kawan pengurus dan anggota GUPPI, terutama Wanita GUPPI, harus bisa menjadi pembaca perubahan zaman, harus terus melakukan pembaruan sebagaimana semangat didirikannya GUPPI, yaitu gerakan pembaruan. Di dalam GUPPI ada kata pendidikan Islam, dan itu artinya kita harus ada di barisan paling depan dalam mengawal masa depan Pendidikan Islam di Indonesia. Kita ini yang harus mempelopori semangat keluarga, terutama kaum perempuan untuk menyiapkan pendidikan yang terbaik untuk masa depan anak-anak kita yang akan memimpin bangsa dan negara kita ini. Dan buat orang tua, mereka semua akan merasakan betapa kelak anak-anaknya akan menjadi generasi baru yang membanggakan dan membawa perubahan bagi umat Islam,” harapnya.

     Dalam pandangannya, pendidikan adalah sebuah gerakan yang membuka ruang kepada masyarakat untuk terlibat dalam pengambilan kebijakan. Masyarakat yang dimaksud adalah para penggiat dunia pendidikan, termasuk GUPPI.

     “Nah ini salah satu yang paling menantang, karena urusan pendidikan jangan hanya diserahkan kepada pemerintah, namun masyarakat juga harus punya partisipasi dan kontribusi yang nyata,” ujarnya.

     “Jadi kita memandang bahwa pendidikan ini sebagai sebuah gerakan, maka pemerintah harus membuka ruang dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dan berkolaborasi. Karena itu saya sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Pak Fasli Jalal beberapa waktu lalu agar GUPPI berkolaborasi dengan ormas-ormasi Islam untuk melakukan pembaharuan pendidikan Islam,” sambungnya.

     Lebih lanjut, berbicara soal gerakan Merdeka Belajar  yang saat ini digagas oleh Kemendikburistek, menurutnya itu adalah suatu langkah yang strategis untuk melakukan gerakan pembaharuan pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan Islam.

    Komentar

    41
  • SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SEKITAR GAGASAN GUPPI REBORN

    Oleh: Muhamad Murtadlo

    Dalam usianya yang ke 74, GUPPI sebentar lagi akan menjalankan muktamar untuk membentuk kepengurusan baru. Ibarat usia orang, angka 74 adalah angka usia yang sudah cukup renta. Secara factual kondisi organisasi GUPPI kebanyakan pengurus adalah generasi yang secara usia sudah di atas 65.

    Demikian juga, rentang garapan ormas GUPPI yang luas menunjukkan gejala penurunan gairah yang berpotensi menurunnya misi usaha pembaruan Pendidikan GUPPI.  Untuk itu salah satu tagline menjelang muktamar yang akan datang  yang belakangan mulai disebut-sebut adalah GUPPI Reborn atau GUPPI yang terlahir kembali. Hal ini dimaksudkan agar ada semangat baru, pendekatan baru dalam  ;mengelola GUPPI ini ke depan. Dan perlu disadari sesungguhnya GUPPI memiliki asset yang besar seperti  kepengurusan di berbagai daerah dan mempunyai satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan.

     Di samping itu, tantangan dunia Pendidikan belakangan ini mempunyai tantangan yang cukup kompleks seperti Pendidikan di masa disrupsi, Pendidikan era digital, Pendidikan dalam konteks bonus demografi. Keadaan ini menuntut visi layanan Pendidikan yang visioner dan kreatif, agar supaya tidak mati gaya di Tengah banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Sementara kondisi GUPPI dengan kepengurusan yang lebih banyak generasi babyboomer, generasi kelahiran 1945-1965, perlu mengakomodasi generasi X, Y, Z. mengingat sasaran Pendidikan hari ini adalah generasi Z, generasi yang sejak lahir sudah dikenalkan di media digital.

     Beberapa langkah sudah dilakukan kepengurusan GUPPI mengantisipasi tantangan yang kompleks ini misalnya dengan Menyusun blueprint Pendidikan menghadapai perkembangan teknologi Pendidikan, 3 tahun terakhir memasukkan anak-anak muda dalam kepengurusan GUPPI, meningkatkan frekwensi pertemuan melalui diskusi via zoom, mengaktifkan Kembali dengan menunjuk baru atau mengaktifkan orang lama untuk menghidupkan Kembali pengurus wilayah.  

    Demikian juga anak-anak muda yang baru masuk dengan cepat mengusulkan beberapa terobosan untuk menguatkan organisasi GUPPI misalnya untuk meningkatkan layanan satuan Pendidikan dimunculkan divisi khusus Bernama Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI. Disusul kemudian gagasan untuk membina profesi guru di lingkungan GUPPI dengan membentuk asosiasi profesi Gutu Bernama Persatuan Guru GUPPI (PERGUPPI). Organisasi yang terakhir ini baru dilantik di Tingkat pusat pada bulan Maret 2024.

     Beberapa terobosan tersebut tidak lain adalah dalam memaknai tagline ;GUPPI Reborn  di atas. Selama satu decade belakang, focus pemajuan organisasi GUPPI mengalami diversifikasi sesuai tantangan masing-masing jenjang atau kelompok orang GUPPI. Pada satuan pendidikannya, satuan Lembaga Pendidikan berkembang mengandalkan pada pengelola satuan Pendidikan masing-masing. Akibatnya, layanan Pendidikan GUPPI tidak merata. Ada yang berhasil menjadi sekolah unggul seperti Madrasah Ummushabri Kendari, dan kebanyakan berjalan apa adanya dan banyak Lembaga Pendidikan yang belum standar.

     Demikian juga pada keorganisasian GUPPI, dari tatal jumlah provinsi di Indonesia, hanya ada beberapa pengurus GUPPI wilayah yang aktif. Kebanyakan tidak aktif. Untungnya menjelang muktamar ini, terobosan baru pengurus adalah mencoba mengaktifkan Kembali pengurus-pengurus wilayah dan memberi kesempatan Menyusun kepengurusan baru pada wilayah-wilayah yang tidak aktif. Alhasil, muktamar GUPPI ke 7 yang akan dating akan bisa diikuti oleh lebih banyak pengurus wilayah.

     Melihat potensi GUPPI yang terlanjur menjadi organisasi kemasyarakatan, dan konon GUPPI merupakan salah satu dari 10 Ormas Islam pendiri organisasi Majlis Ulama Indonesia (MUI) selain NU, Muhammadiyah, Al Wasliyah, Matlaul Anwar, DMI, PTDI, Syarikat Islam, Perti, Al Ittihadiyah; maka kita tidak bisa mundur ke belakang misalnya GUPPI hanya menjadi kelompok studi saja. Mau tidak mau, GUPPI perlu melihat kemungkinan menjadi organisasi kemasyarakatan yang mengusung konsep selain pembaruan adalah kemandirian.

     Ada paling tidak lima potensi yang bisa dimainkan dalam memaknai GUPPI reborn ini. Pertama, potensi GUPPI sebagai ormas dengan didudkung kepengurusan wilayah dan cabang. Kedua, potensi GUPPI yang memiliki jumlah satuan Pendidikan yang jumlahnya ratusan, yang konon pernah mencapai 1200 buah. Ketiga, potensi GUPPI yang memiliki jumlah guru dan tenaga pendidik yang tentunya berjumlah ribuan, dan mereka adalah tenaga inti usaha inovasi Pendidikan. Keempat, potensi GUPPI dengan jumlah aktifis Perempuan yang tentunya juga banyak, dan mereka terlibat tidak saja dalam layanan Pendidikan, organisasi GUPPI, tetapi juga pada Lembaga keluarga masing-masing. Kelima, potensi GUPPI sebagai organisasi pembaharu yang perlu melakukan terobosan lain dalam membangun kemajuan bangsa dalam konteks Pendidikan seperti pemberdayaan Pendidikan nonformal dan informal.

     Melihat lima potensi besar tersebut, GUPPI reborn perlu menindaklanjutinya menjadi kekuatan organisasi GUPPI. Dalam rangka menindaklanjuti tersebut stering Committee (SC) muktamar menyiapkan draft yang disebutnya sebagai Garis Besar Haluan (GBH) GUPPI. GBH GUPPI itu mengemas lima potensi itu menjadi lima horizon atau matra perjuangan GUPPI yang terdiri dari 1) GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Pemberdayaan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal.

     Berikut permasalahan dan agenda strategis GUPPI pada masing-masing horizon perjuangan:

    1. Mitra stategis organisasi kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai mitra strategis usaha pembaruan Pendidikan Islam sejak awal memposisikan sebagai penyambung lidah organisasi kependidikan Islam yang lain di depan pemerintah. Posisi itu tentu bisa dimainkan secara maksimal bila posisi tawar politik GUPPI kuat. Ketika GUPPI menjadi tangan kanan partai penguasa GOlkar di masa orde baru, saat itu peran itu bisa dimainkan oleh GUPPI.

     Saat ini, posisi tawar GUPPI tidak sekuat dahulu, satu-satunya peluang untuk memainkan peran strategi situ adalah perlunya GUPPI merangkul kelompok intelektual dari berbagai Kementerian dan ormas untuk merumuskan tantangan Pendidikan terkini dan mencarikan jawabannya.

     Proses penguatan seperti di atas tentunya diharapkan tidak hanya terjadi di pengurus pusat, tetapi perlu diikuti oleh pengurus GUPPI di wilayah dan daerah. Karena itu, agaenda strategis bidang ini adalah penguatan kepengurusan GUPPI yang melibatkan intelektual, akademis dan praktis Pendidikan secara lintas sectoral.

    1. Mempertajam Keunggulan Layanan Satuan Pendidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan layanan satuan pendidikan, Keberadaan Lembaga Pendidikan GUPPI di berbagai wilayah di Indonesia yang banyak tentu butuh divisi khusus dalam organisasi GUPPI dalam mengembangkannya. Standar layanan satuan Pendidikan GUPPI yang tidak sama dan tidak merata diantara Lembaga-lembaga Pendidikan GUPPI merupakan permasalahan paling mencolok.

     Agenda strategis GUPPI di bidang ini, idealnya di setiap wilayah kepengurusan GUPPI mempunyai minimal satu Lembaga Pendidikan setiap jenjangnya (SD, SMP, SMA) yang menjadi sekolah unggulan yang diakui Masyarakat.  ;

     Keberadaan JSP GUPPI nantinya diharapkan menahkodai usaha GUPPI menuju ke sana.

    1. Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan

      Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan, disadari bahwa  ;sebagai SDM Pendidikan dan tenaga kependidikan GUPPI juga merupakan SDM paling inti dan terdepan dalam melakukan usaha inovasi Pendidikan (visi-misi GUPPI) perlu mendapat perhatian serius.  Rendahnya kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan GUPPI akan menjadi factor kegagalan yang utama juga dalam mengemban misi GUPPI. Karena dari contoh yang diberikan oleh ormasnya, Lembaga Pendidikan GUPPI akan dilihat eksistensinya.

     Agenda strategis untuk konteks ini, GUPPI perlu mendorong terus menerus agar SDM GUPPI selalu menguatkan kualifikasi dan kompetensi di bidang Pendidikan.  Untuk usaha ini, PERGUPPI sebagai Lembaga asosiasi profesi guru perlu didorong dibuka di semua jenjang kepengurusan GUPPI agar supaya intens mendengar permasalahan di lapangan dan aktif mencari jalan keluar.

    1. Meningkatkan peran serta Perempuan, Anak/remaja dan Lembaga Keluarga dalam Pendidikan.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai Usaha penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, pendidikan Keluarga, GUPPI perlu melibat kaum Perempuan dalam memajukan Pendidikan Indonesia. Keberadaan kaum Perempuan yang sering menjadi korban akumulasi dari banyak masalah sosial, demikian juga Nasib ana-anak atau remaja yang salah didik, salah pergaulan atau terjebak dalam gaming internet, serta Lembaga keluarga yang belum optimal dalam menyiapkan generasi masa depan menjadi permasalahan paling utama dari fungsi GUPPI ini.

     Agenda strategis yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan peran Wanita GUPPI dalam merespon permasalahan-permasalahan tersebut. Kerjasama lintas sectoral sesama organisasi pemerhati Perempuan, anak dan keluarga ; sangat diperlukan untuk misi ini.

    1. Melakukan Langkah-langkah terobosan/alternatif dalam usaha mengedukasi Anak Bangsa.

     Dalam fungsi GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem pendidikan formal, nonformal dan informal, GUPPI menyadari bahwa dalam melahirkan anak didik yang siapa mengisi dan memaknai zaman tidaklah cukup hanya mengandalkan Pendidikan formal. GUPPI perlu juga melibatkan atau menggagas pendekatan melalui usaha Pendidikan nonformal dan informal.

     Agenda strategis yang bisa dimainkan oleh ormas GUPPI di semua wilayah dengan cara merintis rumah-rumah kreasi untuk anak muda.  Terobosan ini juga punya nilai strategis bahwa usaha edukasi tidak saja melalui pendirian atau layanan sekolah, tetapi juga dengan bisa dilakukan dengan menghadirkan rumah-rumah kreasi. 

    Rumah kreasi ini diharapkan bisa menjadi rumah kegiatan bagi anak muda dalam mengenal persoalan hidup dan apa yang harus dimampui anak muda sesuai perkembangan zaman terkini. Rumah kreasi ini selain menjadi ruang kreasi, juga dapat menjadi simpul baru bagi warga GUPPI.

     Semoga bermanfaat.

    Komentar

    59
  • Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Mencermati Wajah Pendidikan Kita di Era Merdeka Belajar

    Oleh : Agus Sholeh

    Setiap tanggal 2 Mei, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, sebuah ritual untuk memperingati kelahiran Ki Hajar Dewantoro, yang ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.  Dia lahir tepatnya tanggal 2 Mei 1989 dan meninggal pada tanggal 26 April 1959.

    Sebenarnya, namanya adalah Suwardi Suryaningrat, namun sejak 1923 namanya berubah menjadi Ki Hajar Dewantara, adalah seorang bangsawan Jawa, aktivis pergerakan kemerdekaan, guru bangsa, kolumnis, politisi dan pelopor Pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda.

    Dia dikenal sebagai pendiri Perguruan Taman Siswa, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti yang dinikmati oleh para priayi maupun orang-orang Belanda.

    Pada 1959, Presiden Soekarno menganugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional atas jasa-jasanya dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Dia juga dikenal dengan semboyan  ciptaannya, yaitu Tut Wuri Handayani, yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah satu nama sebuah kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya juga diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun edisi 1998.

    Untuk tahun 2024, Kemdikbudristek telah menetapkan tema Hardiknas, yaitu “Bergerak Bersama Lanjutkan Merdeka Belajar”. Peringatan Hardiknas dilakukan sehari setelah peringatan Hari Buruh Nasional, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei. Bedanya, kalau tanggal 1 Mei itu adalah peringatan hari buru nasional, sekaligus juga Hari Buruh Internasional. Sedangkan tanggal 2 Mei hanya diperingati Hari Pendidikan Nasional di Indonesia.

    Peringatan Hadiknas menggugah kesadaran kita bahwa pendidikan itu memainkan peran yang sangat penting dan strategis. Pendidikan menjadi salah satu fondasi untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju sebagaimana tertulis di dalam Pembukaan UUD 1945, Dimana pendidikan diperlukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Mengaca pada mutu pendidikan nasional saat ini harus disadari bahwa kualitas pendidikan kita masih rendah, jauh dari kata kompetitif. Mengacu pada data Worldtop20.org peringkat pendidikan Indonesia tahun 2023 berada pada urutan ke-67 dari 203 negara. Peringkat tersebut berdasarkan lima tingkat pendidikan, yaitu tingkat pendaftaran sekolah anak usia dini: 68 %, tingkat penyelesaian Sekolah Dasar: 100 %, tingkat penyelesaian Sekolah Menengah: 91.19 %. tingkat kelulusan SMA: 78 % dan tingkat kelulusan Perguruan Tinggi: 19 %

    Sementara itu hasil penelitian Program for International Students Assesment (PISA) 2022, yang diumumkan pada 5 Desember 2023, Indonesia berada di peringkat 68 dari 203 negara dengan skor ; matematika (379), sains (398) dan membaca (371).

    Kurikulum Merdeka.

    Kondisi pendidikan nasional yang tidak menggembirakan ini tampaknya menjadi alasan Pemerintahan Joko Widodo untuk melakukan perubahan kurikulum nasional. Dan saat ini kita disibukkan dengan kurikulum baru yang baru saja dirilis oleh Mendikbudristem Nadiem Makarim tanggal 26 Mart 2024 lalu, yaitu Kurikulum Merdeka.

    Perubahan kurikulum tentu tidak serta merta dapat berjalan dengan mulus dan diterima semua pihak. Ada banyak kritik dan kontra terhadap kebijakan perubahan kurikulum nasional ini karena Mendikbudristek dianggap tidak konsisten dengan berbagai ucapan dan kritik terahdap kondisi Pendidikan nasional.

    Dalam berbagai kesempatan di awal masa jabatannya, Nadiem mengungkap ada 3 dosa besar di bidang pendidikan, yaitu perundungan/kekerasan, kekerasan seksual dan intoleransi.

    Namun perubahan kurikulum nasional yang baru yang dilakukan Nadiem tampaknya tidak menjawab problema 3 dosa besar di bidang pendidikan nasional tersebut. Kurikulum nasional yang dilaunching pada tanggal 26 Maret 2024 direspon oleh kalangan pendidikan dengan santai saja, bahkan terkesan skeptis. Apalagi juga liputan dari media juga terasa biasa-biasa saja, mungkin masih terkena imbas dari perhelatan Pemilu 2024 yang menghabiskan banyak energi dan emosi.

    Kurikulum baru, yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka, lebih sebagai upaya untuk membangun kesiapan siswa dalam belajar mandiri pasca Covid 19. Yang disebut dengan Merdeka Belajar. Persoalan perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi tidak mendapat jawaban yang memuaskan dalam kurikulum baru tersebut, padahal tahun pelajaran baru sudah nampak di depan pintu dan harus diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.

    Pada dasarnya, perubahan kurikulum menemukan momentumnya  yang tepat saat ini dan akan menjadi legacy seiring dengan akan berakhirnya pemerintahan Jokowi di akhir 2024 ini.

    Bangsa ini membutuhkan suatu terobosan baru dalam bidang pendidikan setelah dua tahun kita dihantam oleh pandemi Covid 19. Kita mengalami pergeseran paradigma (paradigm shift) karena selama pandemi proses belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana mestinya (lost learning).

    Sejak Indonesia merdeka, dari 1945 sampai dengan 2023 ini, kurikulum pendidikan nasional telah berubah sebanyak 11 kali. Jadi, rata-rata hampir setiap enam tahun sekali kurikulum pendidikan nasional kita berubah.

    Akibat dari gonta-ganti kurikulum ini maka terlihat tidak adanya konsistensi kebijakan dalam peningkatan mutu Pendidikan. Karena itu tidak heran apabila output dan outcome pendidikan kita tidak dihargai dalam dunia pendidikan di luar negeri. Lulusan sekolah-sekolah kita dianggap penakut dan punya nyali untuk menembus menembus perguruan tinggi elit yang ada di belahan dunia sana. 

    Mental Penakut

    Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan pernyataan kontoversi Nadiem Makarim yang menyatakan bahwa siswa Indonesia itu penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di luar negeri. Karena itu tidak banyak mahasiswa asal Indonesia yang masuk di kampus top dunia.

    Menurut Nadiem, salah satu alasannya adalah banyak yang merasa takut dan tidak percaya diri untuk mendaftar kuliah atau beasiswa ke luar negeri.

    “Ini alasannya kenapa pada tidak masuk sekolah top. Satu alasannya, karena banyak yang enggak berani apply,” kata Nadiem di Kompas mengutip akun YouTube resmi penyanyi Putri Ariani, Jumat (22/3/2024).

    Pernyataan ini sebenarnya menampar muka Nadiem sendiri karena diucapkan sendiri oleh seseorang yang harusnya bertanggung jawab terhadap mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. Bukan malah menyalahkan pihak lain, tapi seharusnya mencarikan solusi agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih hebat dan membangun kebanggan bangsa Indonesia.

    Dengan rendahnya mutu pendidikan Indonesia, maka lulusan dari Indonesia dianggap rendah dan tidak kompetitif. Maka tidak heran apabila siswa kita menjadi penakut dan tidak percaya diri untuk kuliah di universitas top di luar negeri, seperti ke Oxford di Inggris, ANU di Australia, Al Azhar di Mesir, atau ke Universitas Brown dan Harvard Bussiness School, keduanya di Amerika Serikat, yang merupakan kampusnya Nadiem Makarim.

    Namun demikian, masyarakat masih tetap memberikan harapan agar pemerintah serius dalam melakukan perbaikan di bidang pendidikan. Karena itu perubahan kurikulum harus dibarengi dengan kesadaran dan kejujuran tentang masih lemahnya mutu pendidikan Indonesia. Tidak semata karena semangat ganti Menteri ganti kurikulum, seperti yang dikhwatirkan maasyarakat selama ini.

    Momentum Hari Pendidikan Nasional agar kita Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar, seperti Motto Hardiknas 2024, benar-benar berangakt dari suatu keinginan tulus agar dunia pendidikan kita dapat meningkatkan harkat hidup bangsa Indonesia menjadi manusia merdeka, merdeka dari kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

    Karena itu penting bagi semua pihak untuk mentauladani semboyan Ki Hajar Dewantoro yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan).

    Semboyan ini masih tetap aktual, terlebih di tengah situasi masyarakat yang masih terbelah setelah Pemilu 2024.

    Wassalam. 

    Penulis : Agus Sholeh (Pengurus DPP GUPPI dan Pembina Pesantren Al Ihsan Anyer Banten).

    Komentar

    58
  • FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI  DENGAN ORMAS ISLAM

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    Jakarta (GUPPI) – Salah satu kandidat Ketua Umum GUPPI, Faisal Jalal mengatakan bahwa GUPPI harus membangun kolaborasi dengan ormas-ormas Islam untuk kemajuan pendidika di Indonesia.

    Hal itu dinyatakan oleh Fasli Jalal dalam diskusi dengan para pengurus DPP dan DPD GUPPI untuk mendapat masukan menjelang Muktamar GUPPI ke 10 yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2024, Jum’at, 26 April 2024.

    “GUPPI ke depan harus menjadi “Mitra Strategis” bagi lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Melalui strategi kemitraan ini diharapkan GUPPI dapat kembali mengambil peran dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Islam baik di tingkat daerah, nasional maupun global,” kata Fasli Jalal.

    Hal ini disampaikan oleh Fasli Jalal karena GUPPI merupakan salah satu dari 10 ormas Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Juli tahun 1975.

    Menurutnya, GUPPI harus melakukan pembenahan, baik kedalam maupun keluar, agar GUPPI dapat tampil kembali ke permukaan.

    “Manajemen dan SDM pendukung roda organisasi GUPPI harus dibenahi, termasuk dengan melibatkan melibatkan tenaga-tenaga muda, sekurang-kurangnya dengan tiga latar belakang akademik, yaitu manajemen, teknologi IT dan agama”, jelas Fasli Jalal.

    Ia juga berharap agar kantor Pusat GUPPI juga berada di tempat yang strategis sehingga dapat membangun komunikasi lebih mudah. 

    “Kalau perlu juga kantor pusat GUPPI ditata ulang lagi, baik manajemen maupun tampilan fisiknya sehingga dapat mendukung gerak organisasi’, tambah Fasli Jalal, yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas YARSI Jakarta, yang dikenal sebagai salah satu universitas Islam swasta papan atas di Indonesia, terutama dalam bidang kedokteran.

    Sebagaimana diketahui, GUPPI akan mengadakan Muktamar yang ke 10 pada tanggal 18-19 Mei 2024 di Jakarta setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Dalam Muktamar ini akan didakan pemilihan Ketua Umum GUPPI yang baru periode 2024 – 2029. Dan salah satu calon Ketua Umum GUPPI yang cukup popoler adalah Fasli Jalal.

    GUPPI merupakan organisasi masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi Jawa Barat dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya kemudian dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

     

    Biodata Fasli Jalal

    Fasli Jalal,  lahir di Padang, 1 September 1953 adalah seorang akademisi Indonesia, tokoh/praktisi pendidikan Indonesia, ahli gizi, pertumbuhan dan perkembangan anak dan birokrat Indonesia.

    Pada saat ini, Fasli Jalal menjabat sebagai Rektor Universitas Yarsi Jakarta setelah dilantik oleh Yayasan YARSI pada tahun 2019. Universitas Yarsi merupakan sedikit dari perguruan tinggi swasta Islam yang mempunyai reputasi tinggi dan dikenal sebagai universitas Islam yang top, termasuk kampus mahal. Salah satu kebanggaan dari universitas Islam ini adalah adanya fakultas kedokteran dan fakultas kedokteran gigi yang tearkreditas Unggul.

    Fasli Jalal pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (BKKBN) untuk periode 2013 – 2015, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk periode 2010-2011, mendampingi Muhamad Nuh, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada periode 2007-2010.

    Dia memulai pendidikan tingginya di Fakultas Kedokteran Universitas AndalasPadang, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA Negeri Padang Panjang. Pada tahun 1981, Fasli menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya di Universitas Andalas. Kemudian, pada tahun 1991 mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam bidang Ilmu Gizi Masyarakat (dengan Minor di bidang Epidemiologi dan Program Studi Asia Tenggara) dari Universtas CornellIthacaNew York.

    Selamat bermuktamar GUPPI yang ke 10.

    Moga-moga lancar dan penuh keberkahan. (Gus).

    Komentar

    48
  • GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    Jakarta – Menjawab tantangan dan dinamika perubahan zaman yang semakin komplek, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) perlu menajamkan langkah gerakan ke depan.

    Demikian salah satu point penting yang merupakan hasil diskusi GUPPI yang bertempat di Universitas Yarsi Jakarta yang dihadiri beberapa tokoh Pendidikan seperti Fasli Jalal (Rektor Univ Yarsi), Amich Alhumami (Deputi Bappenas), Adlin Sila dan Tatang Muttaqin (Staf Ahli Kemendikbud). Mereka diundang dalam kapasitasnya untuk memberi masukan apa yang sebaiknya dilakukan oleh GUPPI sebagai salah satu organisasi kependidikan dan mitra pemerintah memajukan dunia Pendidikan.

    Hadir dalam forum konsultasi itu Imam Tolkhah (Ketua GUPPI), Nurhayati Djamas (Ketua Wanita GUPPI), Murtadlo (Peneliti Senior BRIN), Syamsudin (Mantan Karocan Kemenag), Suryadi nomi (Dosen UMJ), Rusdy Zakaria (Dosen UIN Jakarta) dan banyak tokoh lain serta para pengurus GUPPI dan Wanita GUPPI di ibukota Jakarta dan sekitarnya.

     Dalam masukannya, Fasli Jalal memandang bahwa GUPPI perlu mengoptimalkan peran keluarga dalam penguatan Pendidikan karakter anak. Dalam perubahan sosial yang cepat, lembaga keluarga perlu mendapatkan perhatian organisasi kependidikan seperti GUPPI untuk aktif mengantisipasi dan memperkuat karakter anak. GUPPI tidak cukup hanya mengurususi lembaga pendidikan formal saja, tetapi lembaga pendidikan informal dan nonformal seperti keluarga penting mendapat perhatian.

     Sementara itu, Amich Alhumami memberikan evaluasi, sebagai organisasi yang pernah dibesarkan partai pemerintah di masa orde baru, kebanyakan organisasi seperti itu memang ketika lepas atau tidak lagi menjadi organisasi sayap biasanya melemah. Seperti hidup segan tapi tidak mati. Namun di lapangan, sesungguhnya terdapat salah satu organisasi sipil yang pernah menjadi organisasi sayap partai penguasa dan ketika terlepas dari pemerintah akhirnya mampu menjadi organisasi mandiri. Terlepas dari segala catatan bahwa kelompok ini maasih dalam tahapan pembinaan MUI, LDII berhasil menjadi komunitas yang mandiri dengan kekuatan ekonomi yang dibangunnya. Mungkinkah GUPPI dari aspek kemandirian bisa punya kemampuan yang sama, mengingat core bisnis GUPPI adalah dunia pendidikan yang didukung adanya asset lembaga pendidikan.

     Adlin Sila, Staf Ahli Kemendikbud, menyatakan bahwa sesungguhnya kebijakan kurikulum Merdeka yang digulirkan Kemendikbud saat ini lebih membuka fleksibelitas dalam menggunakan metode pembelajaran dalam mewujudkan  karakter diinginkan. Dengan kurikulum Merdeka, tujuan GUPPI membangun pendidikan untuk membangun peserta didik lebih berkarakter lebih leluasa, tuturnya.

     Menjawab arah layanan lembaga pendidikan GUPPI, Suryadi Nomi yang dipercaya mengkoordinasikan Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI  menjelaskan tentang belakangan ini mendiskusikan kegagalan pendidikan formal yang ada saat ini tidak maksimal menemukan talent masing-masing anak didik. Karena itu, Pendidikan dengan terobosan pendidikan yang menghasilkan talent semua peserta didik perlu dikembangkan. Sekolah multi talent menjadi salah satu jawabannya, Suryadi Mengaris bawahi.

     Menanggapi ke arah mana GUPPI ke depan berperan, Murtadlo yang merupakan salah satu kontributor penyusunan Blueprint, mencoba menawarkan dari berbagai potensi yang ada dalam keormasan GUPPI, sebaiknya organisasi ini menyusun beberapa matra perjuangan. Ada yang sifatnya menjadikan GUPPI sebagai organisasi atau media komunikasi konsultasi usaha pembaruan pendidikan, ada yang focus pada penguatan layanan satuan pendidikan, ada juga focus pada penguatan kompetensi pendidikan dan tenaga kependidikan dan termasuk kemungkinan pendidikan yang memberi ruang. Menurutnya, Pengurus GUPPI perlu mempertajam hal itu dalam beberapa matra agar focus masing-masing matranya.

     Lima Matra Haluan GUPPI

     Dari hasil konsultasi tersebut, Tim SC Muktamar GUPPI segera menindaklanjutinya dengan menyusun matra perjuangan GUPPI ke depan. Bahan dari Blueprint yang pernah disusun sebelumnya, dikembangkan menjadi Garis Besar Perjuangan GUPPI. Namun supaya garis besar ini khas GUPPI, diskusi menyepakatinya menjadi Garis Besar Haluan GUPPI. Buku ini semacam arahan perjuangan GUPPI ke depan yang dipertajam dalam focus, program, startegi dan indicator untuk mengukur keberhasilannya.

     Dalam usianya yang ke 74 (1950-2024), GUPPI menghadapi tantangan dunia pendidikan yang mengalami disrupsi dengan tantangan lokal maupun global yang semakin kompleks. Dalam perkembangannya, GUPPI telah mengalami beberapa fase perjuangan yang dinamikanya sangat ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal GUPPI. Sejauh ini, keberhasilan GUPPI diakui belum semaju ormas Muhammadiyah, NU atau organisasi kependidikan yang datang kemudian seperti Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

     Hal itu disebabkan karena GUPPI masih sebatas potensi terserak yang belum ditata sedemikian rupa. Pada masa awal (1950-1965), GUPPI masih sebatas semangat para ulama dan praktisi pendidikan yang masih terbatas pada wilayah penyangga Ibukota negara Indonesia (Jawa Barat). Misi perjuangan saat itu, adalah memperjuangkan agar lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren mendapatkan layanan dan pembinaan langsung dari negara. Usaha itu berhasil diwujudkan di masa berikutnya. ;

     Pada masa orde Baru (1965-1998), GUPPI berjaya menjadi ormas yang bersifat nasional, karena diakomodasi oleh kekuatan partai politik yaitu Golkar. Pada masa ini keberhasilan GUPPI ditandai dengan berkembangnya pengurus wilayah dan cabang GUPPI di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanda yang lain, di masing-masing daerah berdiri lembaga pendidikan atas nama GUPPI yang saat itu mencapai sekitar 1200 lembaga pendidikan GUPPI.

     Pada masa Reformasi (1998-2023), bersamaan dengan turunnya pamor partai berkuasa Golkar, GUPPI ingin kembali ke gerakan pendidikan dan menyatakan diri sebagai organisasi non partisan. Pilihan ini dilakukan untuk mengembalikan organisasi GUPPI untuk fokus pada penguatan layanan pendidikan.

    Implikasi lain, dengan berpisahnya GUPPI dari Golkar menyebabkan satuan pendidikan GUPPI yang jumlahnya ratusan ini harus melakukan usaha survival sendiri-sendiri dengan daya dukung masing-masing. Sebagian kecil berhasil menjadi sekolah unggulan seperti Yayasan Pendidikan Ummushabri di Kendari, namun kebanyakan masih seperti sekolah swasta lainnya yang dengan sumber daya yang terbatas.

    Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan GUPPI yang tutup atau mengalami akuisisi oleh pihak lain, menjadi yayasan yang sifatnya personal dan ada juga yang berhasil dinegerikan.

     Saat ini setelah dunia mengalami disrupsi, khususnya semenjak dunia mengalami pandemi global Covid 19, dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks serta tantangan bonus demografi di Indonesia yang menuntut kompetensi lulusan lembaga pendidikan harus mempunyai skills lebih, maka GUPPI Merasa perlu menata kembali gerakannya dengan menyusun Garis Besar Haluan (GBH-GUPPI).

     Naskah GBH GUPPI ini menjadi bahasa penjelas beberapa amal usaha yang akan dilakukan GUPPI ke depan. GUPPI ke depan akan tampil dengan 5 matra haluan gerakan yang terdiri dari: 1) GUPPI sebagai organisasi Komunikasi dan Konsultasi Pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, penguatan pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem lembaga pendidikan.

     Kehadiran GBH GUPPI ini disusun yang semula semacam blueprint yang kemudian dikembangkan menjadi Garis Besar Haluan Gerakan. GBH GUPPI akan menjadi salah satu dokumen penting yang akan dihasilkan dan ditetapkan dalam Muktamar ke 7 GUPPI yang diselenggarakan pada tahun 2024 di Jakarta.

    Komentar

  • GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) akan mengadakan Muktamar yang ke 10 yang akan dilaksanakan pada pertengahan Mei 2024 setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Muktamar GUPPI ke 10 akan dilaksanakan di Jakarta selama dua hari, yaitu pada 18 – 19 Mei 2024.

    GUPPI merupakan organisasi Masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

    Perubahan kata “Gabungan” dengan “Gerakan” dan kata “Perbaikan” dengan “Pembaruan” pada dasarnya tidak bersifat substantif dalam arti tidak merubah tujuan dan cita-cita dasar GUPPI untuk melakukan revitalisasi, perbaikan dan pembaruan pendidikan Islam.

    Muktamar mempunyai tugas dan kewewenangan sebagai wahana untuk penyampaian  laporan pertanggungjawaban  DPP GUPPI, periode  2011 – 2016, diperpanjang  dengan periode  2016 – 2021, diperpanjang kembali  2021 – 2024, melalui Rapat Pleno DPP GUPPI; Penyusunan Program Kerja DPP GUPPI  masa jabatan 2024 – 2029; Penyempurnakan  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GUPPI; dan Pengesahan  konsep Blueprint Pembaruan Pendidikan Islam  GUPPI.

    Yang juga sangat penting dalam Muktamar ini adalah pemilihan Ketua GUPPI dan para pimpinan untuk kepengurusan DPP GUPPI periode 2024 – 2029 dan Penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum DPP GUPPI masa Jabatan  2024 – 2029.  

    Di Muktamar ini, akan hadir para utusan DPD GUPPI dari 34 propinsi, utusan Wanita GUPPI, utusan Badan Otonomo dan undangan.

    Untuk agenda Muktamar sendiri, dimulai dengan pembukaan Muktamar pada Sabtu malam (18/5/2024) dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib, penetapan pimpinan sidang, penetapan peserta dan laporan Ketua Umum GUPPI periode 2021 – 2024.

    Pada hari Ahad (19/5/2024) akan dilanjutkan dengan pembahasan AD/ART, Pembahasan Blue Print/Program Kerja dan Pemilihan Calon Ketua Umum GUPPI periode 2024 -2029.

    Penutupan Muktamar sendiri akan dilaksanakan dengan pembacaan keputusan Muktamar ke-10 oleh presidium sidang. Selain itu ada sambutan-sambutan antara lain Ketua Umum Demisioner, Ketua Umum Terpilih, dan amanat Dewan Pembina GUPPI sekaligus menutup Muktamar.

    Calon Ketua Umum

    Bursa calon Ketua Umum yang baru mulai menjadi bahan pembicaraan siapa calon pengganti Imam Tholkhah, yang sudah memimpin GUPPI selama dua periode.

    Beberapa Pengurus DPP GUPPI menyebut sudah mengantongi sejumlah nama yang siap memegang tampuk kepemimpinan GUPPI dalam Muktamar GUPPI ke 10 nanti. 

    Syamsuddin, mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama sudah mengantongi sejumlah nama calon Ketua Umum GUPPI Periode 2024 – 2028.

    “Ada sejumlah nama yang mengemuka dalam diskusi-diskusi pengurus DPP GUPPI, namun belum terkonfirmasi dengan jelas. Ada birokrat, akademisi dan pengusaha. Tapi masih terbuka dengan nama-nama lain yang akan muncul”, kata Syamsuddin.

    Apakah ada tokoh politik dalam bursa calon Ketua Umum GUPPI ? Syamsuddin mengaku akan lebih baik kalau GUPPI dipimpin oleh kalangan birokrat atau pengusaha, bukan politisi.

    “Saya lebih sreg saja kalau ketuanya itu kalangan birokrat, akademisi atau pengusaha yang concern dengan upaya pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Biar GUPPI tidak masuk lagi ke wilayah politik seperti dulu”, tambah Syamsuddin yang sekarang produktif menerbitkan buku-buku motivasi.

    Dirinya juga mengatakan tidak akan mencalonkan diri dalam muktamar yang akan datang, dan berharap ada tokoh yang lebih mumpuni.

    “Melihat kondisi dan tantangan GUPPI saat ini kita perlu pemimpin yang sesuai dengan tuntutan masa depan pendidikan Islam dan pendidikan nasional kita. Kita berharap GUPPI dipimpin oleh tokoh yang dapat mewarnai dunia pendidikan nasional”, tambah Syamsuddin.

    Sementara itu Rusydi Zakaria, dosen UIN Jakarta yang juga Ketua Pengarah Muktamar mengatakan bahwa Muktamar GUPPI X akan diadakan di Jakarta pada bulan Mei 2024. Muktamar ini tertunda sehubungan dengan adanya wabah Covid 19 yang melanda dunia tahun 2020.

    “Muktamar GUPPI ke 10 seharusnya dilaksanakan tahun 2023 kemarin, namun karena adanya wabah Covid 19, maka baru akan dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2024 ini”, kata Rusydi.

    Rusydi juga mengatakan bahwa saat ini belum muncul satu figure yang paling menonjol untuk memimpin GUPPI yang akan datang.

    “GUPPI ke depan menghadapi tantangan yang berat, selain karena kita baru lepas dari musibah Covid 19, namun kita juga menghadapi realitas mutu pendidikan kita yang masih rendah”, tambah Rusydi.

    Karena itu dia berharap bahwa GUPPI akan dipimpin oleh seorang figure yang kuat, baik kompetensi leadershipnya maupun jaringannya.

    “Kita memerlukan Ketua GUPPI yang sudah selesai dengan urusan dirinya, sehingga bisa membawa GUPPI ke arah usaha pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia yang lebih terarah”, harapnya. 

    Senada dengan itu, Hasan M Noer, peneliti pendidikan alumni IAIN Jogjakarta mengatakan bahwa tidak mudah untuk mengembalikan GUPPI sebagai organisasi pembaharu Pendidikan di Indonesia.

    “Kita menghadapi sikap skeptis masyarakat terhadap mutu lembaga pendidikan Islam, lemahnya visi dan misi kelembagaan, dan rendahnya daya saing lulusan lembaga pendidikan”, kata Hasan M Noer.

    Karena itu menurutnya, harus ada upaya yang serius dan konstruktif dari pengurus GUPPI yang akan datang untuk terus melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.

    “Kita perlu Ketua Umum GUPPI yang bisa membangun kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan Islam, menentukan visi dan misi pendidikan Islam yang progresif, menyiapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan mencetak lulusan yang memiliki daya saing tinggi”, tambahnya. (gus)

    Komentar