Penulis: Agus Sholeh

  • Kebijakan Pagi Ceria di Sekolah Tepat dan Strategis.  Jangan Sekedar Seremonial.

    Kebijakan Pagi Ceria di Sekolah Tepat dan Strategis. Jangan Sekedar Seremonial.

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kebijakan Pagi Ceria di Sekolah Tepat dan Strategis. Jangan Sekedar Seremonial.

    Oleh  Bahrul Hayat

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengeluarkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026, tentang Pelaksanaan Pagi Ceria dan Upacara Bendera Pada Hari Pertama Semester Genap. Penerbitan Surat Edaran (SE) ini dalam rangka untuk menumbuhkan semangat kebangsaan, kebersamaan, dan mengawali kegiatan pembelajaran pada awal semester genap secara positif,

    Melalui SE tersebut Menteri menginstruksikan kepada seluruh Satuan Pendidikan pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar, dan jenjang pendidikan menengah untuk melaksanakan kegiatan Pagi Ceria dan Upacara Bendera yang dilaksanakan secara serantak pada hari pertama efektif masuk sekolah, sesuai kalender pendidikan masing-masing daerah.

    Arahan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini pada prinsipnya tepat dan strategis, sepanjang dimaknai secara pedagogis, bukan sekadar seremonial. Karena dalam perspektif psikologi pendidikan, hari pertama sekolah berfungsi sebagai fase transisi adaptif bagi peserta didik.

    Fase transisi adaptif merupakan penyesuaian psikologis peserta didik terhadap lingkungan sekolah setelah masa libur panjang, yang ditandai dengan rasa aman, penerimaan sosial, serta dukungan emosional dan pedagogis yang memadai.

    Aktivitas hari pertama sekolah dirancang sebagai kegiatan berintensitas rendah ancaman (low threat) dan tinggi keterlibatan (high engagement) yang fokus pada penciptaan rasa aman, penerimaan, dan kenyamanan psikologis peserta didik dalam memasuki lingkungan belajar baru.

    Sementara upacara bendera tetap dilaksanakan sebagai wahana internalisasi nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan kebersamaan, dengan menerapkan pendekatan yang ramah anak melalui pengaturan durasi yang proporsional, suasana yang hangat dan inklusif namun tetap hidmat.

    Bukan pelaksanaan upacara yang terlalu kaku, durasinya panjang, dan menegangkan, ini berpotensi memunculkan kecemasan awal pada peserta didik, yang dapat bersifat kontraproduktif terhadap motivasi dan kesiapan belajar.

    Sekolah bangun suasana benar-benar ceria (joyful)

    Sekolah ceria tidak lahir dari slogan atau kegiatan seremonial semata, melainkan dari sikap kolektif seluruh ekosistem sekolah dalam menyambut dan mendampingi peserta didik. Untuk itu, pada hari pertama sekolah, para pendidik dan tenaga kependidikan memegang peran kunci dengan menampilkan sikap yang hangat, ramah, dan suportif, antara lain melalui ekspresi positif, senyum, serta sapaan personal.

    Sebaliknya, pendekatan yang menakutkan, menghakimi, atau terlalu menekankan aturan perlu dihindari, sehingga guru hadir sebagai figur yang aman dan dapat dipercaya. Bukan sebagai sumber tekanan psikologis bagi peserta didik.

    Maka, secara pedagogis, hari pertama masuk sekolah diposisikan sebagai hari orientasi psikologis, bukan sebagai ajang evaluasi akademik. Kegiatannya difokuskan pada penguatan interaksi sosial, serta aktivitas ringan yang menyenangkan, dengan memberi ruang bagi peserta didik untuk bergerak, bercerita, dan mengekspresikan diri.

    Hal ini perlu didukung oleh iklim sekolah yang benar-benar kondusif, melalui lingkungan fisik yang bersih, rapi, dan menampilkan pesan-pesan positif, serta suasana yang cair dan inklusif. Misalnya dengan memperdengarkan musik ringan, permainan sederhana, atau aktivitas kolaboratif.

    Dengan demikian, sekolah telah membangun budaya bahwa hadir ke sekolah adalah pengalaman yang aman, nyaman, dan dinanti-nanti. Bukan menjadi sesuatu yang menimbulkan kecemasan.

    Sekolah ramah, termasuk ramah akademik

    Sekolah ramah pada dasarnya adalah sekolah yang memanusiakan peserta didik secara utuh, tidak hanya sebagai objek pembelajaran akademik. Tetapi sebagai individu yang memiliki kebutuhan emosional, sosial, kognitif, dan fisik yang saling terkait.

    Dalam perspektif psikologi pendidikan, sekolah yang ramah bertumpu pada psychological safety, yaitu kondisi ketika peserta didik merasa aman untuk bertanya, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan tanpa rasa takut. Rasa aman ini menjadi prasyarat tumbuhnya motivasi intrinsic, yakni belajar karena merasa tertarik dan menemukan makna, bukan karena tekanan atau ancaman hukuman.

    Melalui pendekatan joyful learning yang selaras dengan tahap perkembangan anak (developmentally appropriate practice), sekolah diposisikan sebagai ruang bermain intelektual, tempat peserta didik belajar sambil bermain, membangun relasi sosial dan empati, serta mengeksplorasi ide, lingkungan, dan minatnya secara alami.

    Prinsip tersebut perlu diterjemahkan ke dalam praktik nyata di sekolah. Secara emosional dan sosial, sekolah mengedepankan disiplin positif, relasi guru-murid yang hangat, serta pencegahan perundungan melalui kebijakan yang jelas dan konsisten.

    Sedangkan secara akademik, sekolah menghindari labelisasi, menggunakan asesmen formatif sebagai alat bantu belajar, dan membuka ruang bagi peserta didik untuk bertanya dan salah, tanpa stigma, dengan metode pembelajaran yang bervariasi dan partisipatif.

    Semua itu perlu didukung oleh lingkungan fisik yang nyaman dan sehat, serta ruang terbuka untuk bermain dan bersosialisasi sehingga sekolah benar-benar hadir sebagai tempat yang aman, nyaman, dan menyehatkan, baik secara psikologis maupun fisik.

    Bahrul Hayat, Ph. D

    Wakil Ketua Umum DPP GUPPI/Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (2006/2014).

    Komentar

    42
  • GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    Jakarta (GUPPI) – Kementerian Agama Republik Indonesia pada tanggal 3 Januari 2026 ini memasuki usia yang ke 80. Usia yang matang dalam mengawal umat, bangsa dan negara dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kementerian Agama hampir seusia dengan Republik ini yang lahir pada tanggal 3 Januari tahun 1946.

    Ketua DPP GUPPI Syamsuddin berharap agar di Milad Ke-80 ini Kementerian Agama terus menjaga kerukunan umat beragama dan meningkatkan mutu pendidikan agama untuk masa depan Indonesia yang damai dan maju.

    “Atas nama DPP GUPPI saya mengucapkan Selamat Milad Kementerian Agama yang ke 80. Saya berharap dan mendoakan selalu agar Kementerian Agama senantiasa berhidmat untuk kemaslahatan umat dan kerukunan umat beragama demi kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.” kata Syamsuddin, Jum’at (2/1/2026).

    Syamsuddin mengapresiasi tema HAB tahun 2026 ini yaitu Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju, yang sejalan dengan visi dan misi Kementerian Agama yang mempunyai peran sangat penting dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

    “Dengan tema tersebut menegaskan akan peran penting Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Karena hanya dengan kerukunan dan kerjasamanya yang baik maka akan tercipta perdamaian dan kemajuan bangsa menuju Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” tambah Syamsuddin, yang pernah menjabat Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama.

    Dirinya berharap agar Kemenag terus menyuarakan aspirasi umat agar kehidupan beragama yang rukun, damai dan toleran, di tengah situasi zaman yang penuh dinamika.

    “Kemenag harus terus menyuarakan semangat kerukunan umat beragama, sebagaimana yang dulu sering digaungkan dengan Tri Kerukunan, yaitu kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan Pemerintah,” ujarnya.

    Dalam pandangan Syamsuddin, umat beragama di Indonesia merupakan kekuatan dan asset penting untuk mendukung kemajuan bangsa.

    “Umat beragama merupakan kekuatan kolektif bangsa yang memiliki potensi besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu tugas Kementerian Agama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian, dan itu tidak bisa dilakukan oleh Kementerian Agama sendiri, namun harus membangun kolaborasi dengan masyarakat, termasuk dengan GUPPI,” tambah Syamsuddin yang juga salah satu Ketua DPP GUPPI. 

    Menurut Syamsuddin, motto Kementerian Agama, yaitu “Ikhlas Beramal”, akan tetap sinkron dengan perubahan zaman, dan tidak perlu diganti, karena ini menjadi ruh dari setiap aktivitas dan tugas di Kementerian Agama. Menurutnya, setiap insan di Kementerian Agama harus berlandaskan niat beribadah dengan tulus dan Ikhlas dalam mengabdi kepada umat, masyarakat, bangsa dan Negara

    “Setiap insan Kementerian Agama harus bisa menjadi pelayan masyarakat (khadimul ummah) yang baik dengan melakukan pelayanan yang optimal kepada Masyarakat, tanpa membeda-bedakan status sosial, suku bangsa, agama, pendidikan dan sebagainya,” ujarnya.

    Menyinggung tentang pertemuan dengan Menteri Agama beberapa waktu lalu, Syamsuddin menyampaikan apresiasinya dan berharap ini akan membuka pintu Kerjasama yang lebih baik di masa depan

    “Kami mengapresiasi kesediaan Menteri Agama menerima Pengurus DPP GUPPI dan memberikan arahan agar GUPPI membantu Kementerian Agama dalam peningkatan mutu Pendidikan Islam dan kehidupan keagamaan di Indonesia,” kata Syamsuddin. 

    Dirinya juga mendukung usaha Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menjadikan madrasah di Indonesia lebih bermutu dan berdaya saing melalui kebijakan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

    “Inilah saatnya bagi Kementerian Agama untuk melakukan penguatan kepada pendidikan agama dan keagamaan, setelah urusan haji tidak lagi menjadi tugas Kementerian Agama. Kami di GUPPI siap membantu Kementerian Agama dalam usaha pembaruan pendidikan Islam di madrasah, sekolah dan pondok pesantren,” ungkap Syamsuddin yang alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Menurutnya, dengan adanya kebijakan KBC tersebut maka kita tahu bagaimana harapan dan dukungan dari Menteri Agama kepada madrasah di Indonesia.

    “Tidak ada suatu negara atau bangsa yang bisa mencapai kemajuan tinggi, jika tidak dimulai dengan membangun pendidikan. Pendidikan berkontribusi dalam peningkatan kualitas manusia dan masyarakat suatu negara. Makanya, masa depan madrasah yang menjadi harapan Menteri Agama harus dibangun dengan penuh kebanggan dan kecintaan,” kata Syamsuddin.

    Karena itu, Syamsuddin berharap agar lembaga pendidikan Islam yang ada di GUPPI dapat memberikan kontribusi yang nyata seperti harapan Menteri Agama diatas.

    “DPP GUPPI Insya Allah siap berkolaborasi dengan Kementerian Agama untuk menghadirkan pendidikan Islam yang bermutu, ramah anak dan dan menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin,” kata Syamsuddin. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    54
  • MENTERI AGAMA AKAN BUKA ACARA SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026

    MENTERI AGAMA AKAN BUKA ACARA SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MENTERI AGAMA AKAN BUKA ACARA SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026

    Jakarta (GUPPI) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan kesediaannya untuk menghadiri dan membuka acara Silaturahmi Nasional Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (Silatnas GUPPI) 2026 yang akan dilaksanakan di Kendari pada hari Jum’at, 9 Januari 2026.

    Menteri Agama menyatakan hal ini saat menerima kunjungan Pengurus DPP GUPPI yang dipimpin oleh Ketua Umum Fasli Jalal didampingi oleh sejumlah pengurus yaitu Bahrul Hayat, Syamsuddin, Rusydi Zakaria dan Aden Daenuri di Kantor Kementerian Agama RI, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.

    “Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kontribusi GUPPI selama ini dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Indonesia. Saya merasa bahagia dan terkesan karena para pengurus GUPPI ini adalah orang-orang yang saya kenal baik pengabdiannya dalam dunia pendidikan,” kata Menteri Agama Nasaruddin Umar.

    Menteri Agama menyatakan akan hadir di Kendari dan membuka acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) dan Ummushabri International Expo 2026.

    “Insya Allah saya akan hadir dan membuka acara Silaturahmi Nasional GUPPI dan Ummushabri International Expo 2026. Bagi saya GUPPI itu bukan sesuatu yang baru, karena kiprahnya dalam dunia pendidikan sudah begitu lama. Karena itu kami juga akan terus mendukung GUPPI ke depan,” tambah Menteri Agama yang didampingi oleh Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri Imam Syaukani dan Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu.

    Lebih lanjut, Menag juga mengharap Kementerian Agama bisa meningkatkan kolaborasinya dengan GUPPI dalam peningkatan kualitas pendidikan dan keagamaan. Ia melihat, sementara ini, ada trend positif dari masyarakat untuk mewakafkan assetnya, namun belum tertangani secara baik.

    “Kami berharap Kementerian Agama bisa meningkatkan kolaborasinya dengan GUPPI bukan hanya dalam peningkatan kualitas Pendidikan, namun juga dalam bidang keagamaan. Sebagai contoh, sementara ini, ada trend positif dari masyarakat untuk mewakafkan assetnya, namun hal itu belum tertangani secara baik. Penanganan tersebut, terutama dari sisi regulasi yang belum cukup mumpuni dalam pengelolaan wakaf,” kata Menag.

    Namun dengan komposisi kepengurusan GUPPI saat ini dia optimis GUPPI akan mampu berkolaborasi dengan Kementerian Agama dan berkiprah lebih baik untuk masyarakat.

    “Dengan komposisi pengurus GUPPI saat ini saya optimis GUPPI dapat terus berkolanorasi dengan Kementerian Agama dan akan mampu berkiprah lebih baik untuk masyarakat,” kata Menteri Agama sambil menyebut sejumlah nama seperti Husni Rahim, Thib Raya. Marzuki Ali dan Abudin Nata.

    Pertemuan antara Pengurus DPP GUPPI dengan Menteri Agama diawali dengan penyerahan 3 buah buku oleh Ketua Umum DPP GUPPI, Fasli Jalal, yaitu Rekonstruksi Sejarah GUPPI, Hasil Muktamar GUPPI XI tahun 2024 dan GUPPI Inisiatif : Refeleksi GUPPI tentang Pendidikan di Indonesia tahun 2024.  

    Dalam pertemuan tersebut Fasli Jalal menyampaikan kondisi eksisting GUPPI dimana GUPPI saat ini memiliki pengurus di 26 propinsi di seluruh Indonesia. Semua pengurus membina madrsah, sekolah Islam dan pondok pesantren.

    “GUPPI saat ini tersebar di 26 propinsi dan membina ribuan sekolah, madrasah dan pondok pesantren, termasuk diantaranya adalah Pesantren GUPPI Samata di Kabupaten Goa Sulawesi Selatan dan Ummusshabri di Kendari,” ungkap Fasli Jalal.

    Fasli menambahkan bahwa saat ini kiprah GUPPI lebih memfokuskan terhadap dunia pendidikan Islam, namun demikian ke depan tidak tertutup kemungkinan untuk menggarap bidang keagamaan.

    “Selama ini sejak kelahirannya GUPPI lebih fokus pada bidang pendidikan Islam, sebagaimana namanya yaitu Gerakan Pembaruan Pendidikan Islam, namun demikian ke depan GUPPI bisa ikut menangani persoalan keagamaan. Dengan kehadiran Menteri Agama, maka ini akan menambah gairah para pengurus GUPPI dalam memajukan bangsa dan negara di bidang keagamaan,” kata Fasli Jalal.

    Fasli Jalal kemudian menjelaskan kepada Menteri Agama bahwa GUPPI yang lahir pada tahun 1950 sudah banyak berkiprah dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia.  Dan saat ini GUPPI merupakan organisasi Islam yang independent, tidak terikat dengan salah satu partai atau kelompok.

    “GUPPI lahir tahun 1950 dan mempunyai ribuan lembaga pendidikan Islam, baik itu sekolah, madrasah dan pondok pesantren, yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Dulu GUPPI memang dekat dengan Partai Golkar, namun setelah Muktamar XI Tahun 1999, posisi GUPPI adalah independent dan terbuka dengan semua partai maupun kelompok dalam melakukan usaha pembaruan pendidikan Islam di Indonesia,” tambah Fasli.

    Ditambahkan, bahwa GUPPI juga salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia tahun 1975, bersama 9 organisasi Islam lainnya.

    “GUPPI merupakan salah satu ormas Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI), karena itu GUPPI akan membangun kolaborasi dengan semua ormas Islam dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Indonesia agar umat Islam itu maju, sejahtera dan berdaya saing tinggi,” kata Fasli Jalal, yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas Yarsi Jakarta. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    69
  • GUPPI AKAN TERBITKAN BUKU PEREMPUAN PENGGERAK PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM

    GUPPI AKAN TERBITKAN BUKU PEREMPUAN PENGGERAK PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN TERBITKAN BUKU PEREMPUAN PENGGERAK PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM

    Jakarta (GUPPI) – DPP Wanita GUPPI akan menerbitkan buku tentang sepak terjang sejumlah tokoh perempuan di Indonesia yang dikenal menjadi penggerak perubahan masyarakat melalui dunia pendidikan Islam. Mereka adalah para pahlawan pendidikan, sosok yang dengan pengabdian dan ketulusan hati telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi masyarakat dan rakyat di sekitarnya.

    Ida Rosyidah, Koordinator penulisan buku Perempuan Penggerak Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia mengatakan beberapa waktu lalu bahwa ide penulisan para tokoh perempuan oleh GUPPI ini agar masyarakat memahami bahwa kaum perempuan juga banyak yang menjadi penggerak pembaruan pendidikan Islam, baik di tingkat lokal, regional maupun internasional.

    ”Ini tugas mulia bagi GUPPI untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan kisah inspiratif para perempuan hebat yang telah berkontribusi langsung dalam pembangunan bangsa dan negara melalui karya nyata di bidang usaha pembaruan pendidikan Islam di Indonesia,” ujarnya.

    Ia mengakui bahwa tidak mudah untuk menarasikan para tokoh tersebut sehingga pengalaman dan perjuangan mereka dapat mudah dipahami.

    ”Kami akui tidak mudah untuk menarasikan pengalaman mereka dalam tulisan yang ringan dan mudah dipahami. Kami mencoba tidak terpaku oleh nama besar para tokoh, karena kami lebih melihat bagaimana mereka menggerakkan masyarakat melalui dunia pendidikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilaksanakan,” tambah Ida.  

    Menurut Ida, tujuan GUPPI melakukan penulisan buku ini adalah untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan kisah inspiratif para tokoh perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda namun punya kontribusi yang sama untuk kemajuan bangsa dan negara.

    “Apa yang dilakukan oleh GUPPI ini adalah untuk mengajak semua kalangan agar lebih mengenal para tokoh perempuan Indonesia yang memiliki rekam jejak sejarah yang kuat dalam memperjuangkan akses pendidikan di tanah air. Sejumlah tokoh perempuan tidak hanya berani bersuara, tetapi juga mengambil langkah nyata agar masyarakat mendapat hak yang sama dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan pendidikan yang lebih baik,” kata Ida Rosyidah.

    Buku ini kata Ida, dipersiapkan sekitar 6 bulan dan akan dipaparkan pada saat Silaturahmi Nsional GUPPI pada awal Januari 2026..

    “Buku ini, Insya Allah, akan kami paparkan pada saat pelaksanaan Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari Sulawesi Tenggara pada hari Sabtu, 10 Januari 2026. Ada sekitar 30 tokoh perempuan yang kami pandang layak untuk dipublikasikan, namun kali ini kami baru mengangkat sebanyak 12 tokoh. Para tokoh itu ada yang sudah meninggal, namun banyak juga yang masih aktif hingga kini,” ujar Ida dengan semangat.

    Ia mengatakan bahwa perempuan merupakan pondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa, karena itu menjadi tugas Wanita GUPPI untuk memberi perhatian yang lebih baik.

    “Perempuan merupakan pondasi utama bagi kemajuan suatu bangsa. Di balik majunya prestasi pendidikan di Indonesia, terdapat sosok-sosok perempuan yang tulus dan tanpa pamrih telah berjuang demi mewujudkan pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tambah Ida Rosyidah.

    Bagi Ida, kaum perempuan telah menunjukkan keberanian, kecerdasan, juga perannya yang luar biasa dalam berbagai peristiwa dan momen penting. Para perempuan tidak hanya menjadi pendukung, namun banyak pula kini yang menjadi pemimpin di tengah masyarakat. 

    “Kaum perempuan dari masa ke masa telah menunjukkan keberanian, kecerdasan, juga perannya yang luar biasa dalam berbagai peristiwa dan momen penting. Saat ini kita lihat bagaimana para perempuan tidak lagi hanya menjadi pendukung, namun banyak pula yang kini memimpin di tengah masyarakat, baik itu politik, sosial maupun ekonomi,” tambah Ida Rosyidah, yang merupakan Dosen di FISIP UIN Jakarta. 

    Ida juga menyebuat bagaimana Raden Ajeng Kartini, merupakan sosok yang paling sering dikenal jika membahas tentang tokoh inspiratif perempuan. R.A Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan di Indonesia, melalui bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

    “RA Kartini menyuarakan keprihatinannya terhadap ketidaksetaraan gender yang terjadi dan terbatasnya akses pendidikan bagi perempuan saat itu. Kartini menjadi sosok yang menginspirasi bagi banyak perempuan untuk maju dan berkembang. Karena itu menjadi tugas Wanita GUPPI untuk melanjutkan perjuangan Kartini tersebut dengan menujukkan karya-karya yang lebih hebat lagi untuk kemajuan masyarakat ,” ungkap Ida yang juga salah satu Pengurus DPP GUPPI.

    Komentar

    42
  • PERGURUAN UMMUSSHABRI KENDARI AKAN ADAKAN INTERNATIONAL EXPO 2026

    PERGURUAN UMMUSSHABRI KENDARI AKAN ADAKAN INTERNATIONAL EXPO 2026

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    PERGURUAN UMMUSSHABRI KENDARI AKAN ADAKAN INTERNATIONAL EXPO 2026

    Kendari (GUPPI) – Perguruan Ummusshabri Kendari kembali akan mengadakan International Expo 2026 yang dilaksanakan pada tanggal 9 – 14 Januari 2026. Sejumlah pejabat tinggi dari Jakarta diperkirakan akan hadir di acara tersebut. Hal ini disampaikan oleh Ketua Yayasan Ummushabri Kendari Suprianto dalam rapat koordinasi persiapan Silatnas GUPPI dan Ummushabri International Expo 2026 secara online, Rabu, 17 Desember 2025.

    “Ummushabri International Expo 2026 merupakan program tahunan kami dalam memperingati ulang tahun Ummushabri yang ke 53 pada tanggal 9 Januari 2026. Ada sejumlah kegiatan yang akan kami lakukan, antara lain Kongres Internasional, Parade Budaya, Lomba Pidato, Perkemahan, Jalan Sehat dan Pelatihan Guru SD/MI se Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan yang akan menghadirkan nara sumber dari Austalia,” ungkap Supriyanto.

    Suprianto menambahkan bahwa kegiatan Ummusshabri International Expo kali ini akan dibarengkan dengan kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI.

    “Insya Allah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah akan hadir di acara International Conggress Ummusabri pada tanggal 10 Januari 2026. Kami berharap Menteri Agama juga bisa hadir dan membuka Silatnas GUPPI dan Ummushabri Internasional Expo 2026 pada hari Jum’at, 10 Januari 2026,” kata Supriyanto.

    Supriyanto menyampaikan apresiasi yang tinggi atas dukungan dari DPP GUPPI, terutama Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Fasli Jalal.

    “Saya ingin ucapkan terima kasih atas dukungan dari Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Fasli Jalal sehingga kegiatan Ummushabri Internasional Expo 2026 terasa lebih meriah dan membanggakan. Apalagi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Menteri Agama dijadwalkan akan hadir,” kata Supriyanto.

    Dia juga menyambut antusias rencana kehadiran para Pengurus DPP dan DPD GUPPI di Kendari untuk mendukung Silaturahmi Nasional GUPPI.  

    ”Ini sebuah kehormatan bagi Uummusshabri Kendari bahwa Rapat Kerja Nasional GUPPI akan dihadiri oleh para peserta dari berbagai propinsi. Sehingga kami dapat mengadakan silaturahmi dengan para pengurus GUPPI dari berbagai daerah di Indonesia,” tambah Supriyanto, yang juga Ketua DPW GUPPI Sulawesi Tenggara.

    Dirinya berharap bahwa ini semua akan memberi keberkahan bagi Ummushabri maupun lembaga pendidikan binaan GUPPI yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

    “Dengan adanya silaturahmi Nasional GUPPI ini moga-moga akan membawa keberkahan bagi peningkatan mutu madrasah, sekolah dan pondok pesantren GUPPI untuk terus maju dan berkembang,” kata Supriyanto, yang menyelesaikan Doktoralnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Supriyanto juga mengatakan bahwa terselenggaranya kegiatan Internasional Expo 2026 ini merupakan wujud dari komitmen warga Ummusshabri untuk terus bergerak maju dan masuk ke dunia internasional.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa madrasah GUPPI bisa menunjukkan karya nyata yang dapat membawa nama baik bangsa dan negara. Kami memiliki jaringan kemitraan yang luas dengan berbagai pihak di Asia, Australia, Jazirah Arab, Eropa dan Amerika. Karena itu di acara International Congress nanti akan tampil sejumlah panelis dari Australia, Pilipina, Malaysia, Singapura, Turki dan Cina,” ungkap Suprianto.

    Dia meminta dukungan agar program Ummushabri Expo terus dapat berjalan dengan lancar setiap tahunnya.

    “Kami memohon dukungan dari semua pihak agar program Ummusshabri Internasional Expo terus terwujud. Kami saat ini sudah memiliki kelas Cambridge dan sudah berjalan tahun keempat, mulai dari semua jenjang PAUD, MI, MTs dan MA. Ini merupakan embrio atau langkah awal untuk menginternasionalisasi Ummushabri,” tambah Supriyanto.

    Komentar

    58
  • MENDIKDASMEN AKAN HADIRI SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026 DAN UMMUSHABRI INTERNATIONAL EXPO

    MENDIKDASMEN AKAN HADIRI SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026 DAN UMMUSHABRI INTERNATIONAL EXPO

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MENDIKDASMEN ABDUL MU’TI AKAN HADIRI SILATURAHMI NASIONAL GUPPI 2026 DAN UMMUSHABRI INTERNATIONAL EXPO

    Jakarta (GUPPI) – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan kesediaannya untuk menghadiri acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) dan Ummushabri International Expo 2026 yang akan dilaksanakan di Kendari, 8 – 14 Januari 2026.

    Hal ini disampaikan oleh Mendikdasmen saat menerima kunjungan Pengurus DPP GUPPI yang dipimpin oleh Ketua Umum Fasli Jalal di Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 4 Desember 2025.

    “Yang pertama, saya ingin mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kedatangan DPP GUPPI di Kemendikdasmen ini. Saya merasa bahagia karena para pengurus GUPPI ini adalah para senior saya, seperti Pak Fasli Jalal, Pak Bahrul Hayat, Pak Amich Alhumami, Pak Syamsuddin, dan Pak Rusydi Zakaria, di Kemendiknas dan Kemenag,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

    Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan akan menghadiri acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) dan Ummushabri International Expo 2026 tersebut.

    “Insya Allah saya akan hadir di acara Silaturahmi Nasional GUPPI dan Ummushabri International Expo 2026. Bagi saya GUPPI itu bukan sesuatu yang baru, karena kiprahnya dalam dunia pendidikan sudah begitu lama, apalagi Ayah saya dulu juga aktif di GUPPI, dan dikenal sebagai Kyai GUPPI di Kudus,” tambah Mu’ti.

    Mendikdasmen meminta agar GUPPI dapat membantu Kemendikdasmen dalam mengembangkan pendidikan nasional yang bermutu dan berdaya saing, terutama generasi muda yang dari keluarga Mukidi.

    “Seiring dengan peningkaan kesejahteraan ekonomi, saya berharap GUPPI bisa membantu kami, terutama dari segment yang saya sering sebut sebagai keluarga mukidi, yaitu generasi muda, kaya, intelek, dermawan, dan idealis, agar mendapat layanan pendidikan yang bermutu dan kompetitif,” ujar Mendikdasmen yang didampingi Direktur Pendidikan Guru PAUD dan Pendidikan Non Formal Suparto.

    Karena itu dirinya berharap agar GUPPI dapat menjadi inkubator atau fasilitator bagi miunculnya sekolah-sekolah unggul.

    “Kalau kita bisa mengembangkan sekolah swasta yang bermutu tinggi 10% saja dari yang ada, maka ini akan sangat membantu Pemerintah dalam peningakatan penopang mutu Pendidikan nasional. Saya yakin sebenarnya masyarakat kita itu mampu. Kita lihat banyak sekolah swasta yang bagus-bagus, dan tanpa banyak bantuan dari Pemerintah. Karena itu saya berharap GUPPI dan yang lain-lain itu bisa menjadi semacam inkubator atau fasilitator,” kata Mu’ti yang menyelesaikan doktoralnya di UIN Jakarta

    Sambil mengutip hasil survey Kompas dan PPIM UIN Jakarta beberapa tahun yang lalu, ia menyebut banyak sekolah yang tutup, terutama SD, tapi disisin lain justru banyak sekolah berbasis agama yang meningkat. Nah segmen ini yang perlu diambil.

    “Kalau melihat hasil survey Kompas dan PPIM UIN Jakarta beberapa tahun yang lalu, banyak sekolah yang tutup, terutama SD, tapi yang menarik justru banyak sekolah berbasis agama yang meningkat. Nah segmen ini yang perlu kita ambil. Jadi kelas menengah yang dulu ke sekolah-sekolah umum itu sekarang ke sekolah-sekolah yang berbasis agama. Kita lihat sekarang banyak sekolah-sekolah Islam yang favorit dan biayanyapun mahal,” kata Mu’ti sambil menyebut nama Madrasah Ummushabri di Kendari yang pernah dia kunjungi beberapa waktu.

    Sejalan dengan kebijakan untuk peningkatan mutu Pendidikan nasional melalui Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Mendikdasmen meminta agar GUPPI dapat membantu Pemerintah dalam kegiatan pelatihan kepada guru-guru sekolah dan madrasah yang menajdi binaan GUPPI.

    “Saya berharap GUPPI dapat membantu melakukan pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) kepada sekolah dan madrasah swasta binaan GUPPI agar kebijakan Pemerintah dapat terjangkau oleh semua satuan Pendidikan. Pemerintah tidak mungkin melakukan semua, karena itu perlu bantuan dari yang lain, termasuk GUPPI,” ujar Mendikdasmen.

    Sementara itu Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal melaporkan bahwa GUPPI saat ini tersebar di 24 propinsi dan membina ribuan sekolah, madrasah dan pondok pesantren. Karena itu kehadiran Menteri Dikdasmen di Silatnas GUPPI tersebut akan menambah motivasi para pengurus GUPPI dalam memajukan pendidikan Islam yang tesebar di hampir seluruh Indonesia.

    “Dengan kehadiran Menteri Dikdasmen ini akan menambah gairah para pengurus GUPPI di daerah dalam mengembangkan dan memajukan sekolah, madrasah dan pondok pesantren dan sejalan dengan kebijakan Pemerintah,” kata Fasli Jalal.

    Fasli menambahkan bahwa Mendikdasmen Abdul Mu’ti akan menjadi Pembicara Kunci (Keynote Speaker) pada Seminar Internasional tentang Pendidikan Islam Yang Bermutu dan Berdaya Saing.

    “Mendikdasmen kita jadwalkan akan memberikan arahan pada hari Sabtu, 10 Janauri 2026 dihadapan peserta seminar tentang Pendidikan Yang Bermutu dan Berdaya Saing sejalan dengan kebijakan Mendikdasmen saat ini yaitu Pembelajaran Mendalam (Deep Learning),” tambah Fasli.

    Fasli Jalal juga menjelaskan kepada Mendikdasmen bahwa GUPPI yang lahir pada tahun 1950 sudah banyak berkiprah dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia.  Dan saat ini GUPPI merupakan organisasi Islam yang independent, tidak terikat dengan salah satu partai atau kelompok.

    “GUPPI lahir tahun 1950 dan mempunyai ribuan lembaga pendidikan Islam, baik itu sekolah, madrasah dan pondok pesantren, yang tersebar di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Dulu GUPPI memang dekat dengan Partai Golkar, namun saat ini setelah Muktamar XI Tahun 1999, posisi GUPPI adalah independent dan terbuka dengan semua partai maupun kelompok dalam melakukan usaha pembaruan pendidikan Islam di Indonesia,” tambah Fasli.

    Ditambahkan, bahwa GUPPI juga salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia tahun 1975, bersama 9 organisasi Islam lainnya.

    “Sebagai salah satu ormas Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI), maka GUPPI akan membangun kolaborasi dengan semua ormas Islam dalam memajukan dunia pendidikan Islam di Indonesia agar umat Islam itu maju, sejahtera dan berdaya saing tinggi. Ini sesuai dengan kebijakan GUPPI saat ini yaitu Membangun Kolaborasi Strategis”, kata Fasli Jalal, yang pernah menjadi Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

    Pertemuan kemudian diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari Ketua Umum DPP GUPPI kepada Menteri Abdul Mu’ti, yaitu 3 buah buku yang diterbitkan oleh DPP GUPPI, yaitu buku Rekonstruksi Sejarah GUPPI, Hasil Muktamar GUPPI XI tahun 2024 dan GUPPI Inisiatif, yang merupakan Refeleksi DPP GUPPI tentang Pendidikan di Indonesia tahun 2024. (Tim Media GUPPI). 

    Komentar

    62
  • WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN PACITAN MINTA GUPPI LEBIH AKTIF BINA GURU DAN SISWA

    WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN PACITAN MINTA GUPPI LEBIH AKTIF BINA GURU DAN SISWA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    WAKIL KETUA DPRD KABUPATEN PACITAN MINTA GUPPI LEBIH AKTIF BINA GURU DAN SISWA

    Pacitan (GUPPI) – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pacitan, Lancur Susanto, meminta jajaran Pengurus DPD GUPPI Kabupaten Pacitan agar lebih aktif lagi membina guru dan siswa madrasah GUPPI yang ada di Kabupaten Pacitan.

    Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pacitan itu saat menerima kedatangan Ketua DPD GUPPI Kabupaten Pacitan, Robbayani, di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Pacitan, Selasa, 2/11/2025),

    “Terima kasih atas kunjungan DPD GUPPI Pacitan, semoga kedatangan ini dapat meningkatkan silaturahmi dan kerjasama yang selama ini sudah berjalan dengan baik antara GUPPI dan Partai Golkar. Saya tahu GUPPI di Kabupaten Pacitan memiliki sejarah panjang bersama Golkar dalam membina dunia pendidikan Islam yang lebih bermutu dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Lancur Susanto.

    Dalam pertemuan tersebut, Lancur Susanto meminta agar GUPPI juga membangun kerjasama yang lebih erat dengan Pemerintah maupun kalangan swasta.

    “Saya berharap agar GUPPI di Kabupaten Pacitan ini terus membangun kerja sama yang lebih luas, baik dengan Kantor Kementerian Agama maupun dengan Pemerintah Daerah, agar lembaga-lembaga pendidikan binaan GUPPI makin baik dan makin berkembang. Insya Allah kami di DPRD juga akan terus mendukung usaha-usaha tersebut,” lanjut Lancur Susanto yang belum lama memimpin DPD Golkar Kabupaten Pacitan.

    Bagi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pacitan ini, keberadaan GUPPI merupakan salah satu motor penggerak bagi peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Pacitan.

    “Dengan jumlah lembaga pendidikan GUPPI di Pacitan yang cukup banyak ini GUPPI bisa menjadi motor penggerak mutu pendidikan di Kabupaten Pacitan. Karena itu sekolah, madrasah maupun pondok pesantren GUPPI harus berkualitas dan diminati masyarakat,” lanjutnya.

    Tak hanya itu, dia juga akan ikut memfasilitasi program-program GUPPI untuk peningkatan mutu guru dan siswa madrasah di Pacitan.

    “Kami persilahkan GUPPI untuk memanfaatkan gedung pertemuan yang ada di Kantor Golkar ini untuk kegiatan pelatihan atau pembinaan guru atau siswa, sehingga pengurus GUPPI dapat melakukan kegiatan dengan lebih efisien” tambah Lancur Susanto.

    Sementara itu, Ketua DPD GUPPI Kabupaten Pacitan Robbayani menyampaikan terima kasih atas dukungan dari Partai Golkar selama ini.

    “Kami ingin sampaikan terima kasih atas dukungan dan support dari DPD Partai Golkar Kabupaten Pacitan selama ini, sehingga GUPPI dapat terus berperan aktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat Pacitan dalam bidang pendidikan”, ujar Robbayani.

    Ia juga mengapresiasi tawaran dari Ketua DPD Golkar yang akan mempersilahkan fasilitasnya dipakai untuk kegiatan GUPPI.

    “Kami menyambut dengan baik tawaran untuk menggunakan fasilitas gedung pertemuan Golkar untuk kegiatan-kegiatan GUPPI, baik untuk guru maupun siswa, sehingga kami dapat melakukan pembinaan dan pelatihan dengan lebih baik dan lebih efisien”, tambah Robbayani, yang pernah menjadi Ketua Pokjawas Madrasah Kabupaten Pacitan.

    Robbayani juga melaporkan perkembangan GUPPI saat ini, terutama setelah melewati masa-masa berat akibat Covid 19.

    “Alhamdulillah GUPPI di Kabupaten Pacitan masih eksis, walaupun masih banyak kekurangan, karena belum semua madrasah Terakreditasi A. Karena itu kami berharap agar Partai Golkar dan DPRD Kabupaten Pacitan terus mendukung GUPPI, terutama terkait dengan sarana dan prasarana pembelajaran” ujar Robbayani, yang alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    53
  • Penilaian Teman Sebaya Efektif Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran

    Penilaian Teman Sebaya Efektif Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Penilaian Teman Sebaya Efektif Untuk Peningkatan Kualitas Pembelajaran

    Selama ini, penilaian sikap siswa dalam buku nilai dilakukan oleh wali kelas atau dewan guru. Namun menurut Prof. Dr. dr. Syamsuridjal Djauzi, sebenarnya yang paling lama bergaul dengan siswa adalah teman sekelasnya. Teman-teman sekolahnya punya persepsi apakah dia teman yang baik atau tidak.

    “Selama ini, penilaian sikap siswa dalam buku nilai sekolah dilakukan oleh wali kelas atau dewan guru. Namun, sebenarnya yang paling lama bergaul dengan siswa tentu adalah teman sekelasnya. Teman-teman sekolahnya punya persepsi apakah dia teman yang baik atau tidak,” kata Prof. Syamsuridjal Djauzi, dalam dialog ringan, Ahad, 23 November 2025 .

    Menurut Prof. Samsuridjal, penilaian teman sebaya tidak perlu dilakukan dengan penilaian yang rumit-rumit, namun harus berkelanjutan.

    “Pada tahap awal, penilaian teman sebaya dapat dilakukan dengan cara sederhana. Setiap bulan, seorang siswa akan memberikan nilai dari teman-teman sekelasnya yang disampaikan secara rahasia,” tambahnya, yang merupakan Guru Besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

    Ia kemudian mencontohkan model lembar penilaian yang sederhana sehingga para siswa tidak merasa sulit untuk menilai kawannya.

    “Para siswa cukup dibekali dengan lembar nilai sederhana dengan skala, yaitu Sempurna: 100, Baik sekali: 80, Baik: 60, Sedang: 50, Kurang: 40 dan Kurang sekali: 20,” ujarnya.

    Menurutnya, penilaian dari teman sebayanya itu harus dilakukan secara kontinyu sehingga cukup efektif untuk melihat kemampuan dan semangat para siswa.

    “Setiap bulan, seorang siswa akan menerima nilai dari teman-teman sekelasnya. Nilai ini dapat dibandingkan dengan penilaian guru atau wali kelas. Dengan demikian, siswa dapat memahami bagaimana teman-temannya memandang dirinya dan dapat meningkatkan kualitas dirinya,’ tambah Prof. Samsuridjal yang juga anggota Dewan Pakar DPP GUPPI.

    Bagi Prof. Samsurdijal, penilaian dari teman-temannya dapat meningkatkan semangat perbaikan, karena itu guru perlu memberi apresiasi kepada siswa yang berprestasi

    “Penilaian teman sebaya juga dapat meningkatkan semangat perbaikan. Boleh juga nama siswa yang dapat skor tertinggi diumumkan. Ini dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan kualitas dirinya dan menjadi teman yang lebih baik,’ ujarnya.

    Namun ia juga mengingatkan agar penilaian teman sebaya dilakukan dengan cara yang adil dan objektif.

    “Penilaian teman sebaya harus dilakukan dengan cara yang adil dan objektif. Karena itu guru atau wali kelas harus memantau proses penilaian dan memastikan bahwa siswa tidak melakukan penipuan atau manipulasi,’ ujarnya.

    Prof. Samsulridjal yang pernah menjadi Direktur RS Kanker Dharmais Jakarta ini menilai bahwa penilaian dari temannya, atau penilaian teman sebaaya ini perlu dikembangkan, dan tidak hanya terpaku dari para gurunya.

    “Dengan penilaian teman sebaya, siswa dapat belajar untuk menjadi teman yang lebih baik, meningkatkan kualitas dirinya, dan memahami bagaimana teman-temannya memandang dirinya. Ini dapat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif,” ujarnya.

    Komentar

    55
  • GUPPI HARUS KAWAL MUI PEDULI PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

    GUPPI HARUS KAWAL MUI PEDULI PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Harus Kawal MUI Lebih Peduli Pendidikan Islam Indonesia

    Jakarta (GUPPI) – Majlis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Munas XI pada tanggal 20-23 November 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Munas MUI merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa. Salah satu agendanya juga akan memilih nahkoda baru untuk periode 2025 – 2030.

    Sebagai salah satu ormas Islam yang ikut mendirikan MUI pada tahun 1975, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) diharapkan terus menjaga dan mengawal MUI agar tetap sejalan dengan tujuan awal pendiriannya.

    Hal itu disampaikan oleh salah satu pengurus DPP GUPPI, Agus Sholeh, melihat dinamika MUI akhir-akhir ini yang terasa kurang gregetnya.

    “Atas nama keluarga besar GUPPI saya ingin mengucapkan Selamat Munas MUI XI. Saya berharap dan mendoakan selalu agar MUI senantiasa berhidmat untuk kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.” kata Agus Sholeh, Rabu (19/11/2025).

    Dalam pandangan Agus Sholeh, Munas MUI XI ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa.

    “Saya mendukung tema yang diusung dalam Munas XI kali ini, yaitu Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat. Tema ini menegaskan pentingnya peran ulama dalam membimbing umat, serta mengawal arah pembangunan nasional agar tetap sejalan dengan nilai keislaman, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan yang berkeadilan,” tambah Agus Sholeh, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Peningkatan Layanan Pendidikan (PLP) DPP GUPPI.

    Agus berharap agar MUI sebagai wadah silaturahmi para ulama, dapat melibatkan dan merangkul semua unsur yang ada di Indonesia. 

    “Sebagai wadah strategis para ulama, maka MUI harus merangkul semua pihak, tidak hanya kelompok tertentu. Hal ini karena ulama merupakan waratsatul anbiya, tokoh yang diangap mewarisi keteladanan nabi, yang bisa menyampaikan kebenaran (haq) dan mengingatkan akan yang salah (batil), minimal kepada jamaahnya,” ujar Agus. 

    Menurutnya, peran dan tanggung jawab MUI dalam menjaga kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa harus menjadi kesadaran bersama.

    “Dengan peran MUI seperti itu, kita berharap MUI dapat berperan untuk menjaga bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Apalagi MUI mengemban dua misi utama, yaitu sebagai Pelayan Umat (Khadimul Ummah) dan Mitra Pemerintah (Shadiqul Hukumah). Sebagai pelayan umat, MUI harus berupaya menjaga masyarakat dari hal-hal yang menyimpang agar umat tetap berada pada ajaran Islam yang benar. Sementara itu, pada aspek kebangsaan, MUI turut menjaga komitmen nasional, yaitu dalam memperkuat ukhuwwah wathaniyyah atau persaudaraan kebangsaan,” tambah Agus Sholeh, yang lama bertugas di Kementerian Agama Pusat.

    Agus menyadari bahwa saat ini MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat MUI didirikan pada tahun 1975.

    “MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat kita dirikan pada tahun 1975, baik itu kondisi sosial, politik maupun ekonomi. Posisi ulama saat ini jauh lebih kompleks dibanding dengan masa lalu, apalagi dunia digital saat ini yang serba terbuka,” kata Agus.

    Peran GUPPI

    Secara khusus Agus Sholeh berharap agar GUPPI sebagai salah satu ormas Islam yang ikut membidani lahirnya MUI terus mengawal MUI agar lebih peduli tentang pendidikan Islam. Karena selama ini gaung MUI tentang pendidikan Islam tidak begitu terdengar.

    “GUPPI harus mengawal MUI agar MUI peduli terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Lembaga pendidikan Islam, baik itu madrasah, sekolah maupun pondok pesantren merupakan asset umat Islam yang strategis dalam pembangunan nasional,” ujar Agus Sholeh.

    Agus Sholeh berharap agar GUPPI terus vokal dan kritis dalam menyuarakan isu-isu pendidikan Islam melalui MUI Pusat maupun daerah.

    “GUPPI yang memang dari awal menyuarakan mutu pendidikan Islam harus berada di barisan paling depan dalam menyuarakan pendidikan yang lebih adil dan merata, baik di tingkat MUI Pusat maupun Daerah” ungkapnya.

    Karena itu Agus juga meminta agar GUPPI bersama MUI banyak melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pemerintah Daerah.

    “GUPPI bersama MUI harus aktif memberikan masukan yang konstruktif kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini agar lembaga-lembaga pendidikan Islam binaan ormas-ormas Islam di Indonesia ini tambah maju dan berdaya saing,” tambah Agus Sholeh.

    Terkait dengan kepengurusan MUI ke depan, Agus Sholeh berharap agar Ketua Umum GUPPI bisa masuk dalam jajaran pimpinan MUI karena sudah lama tidak ada wakil dalam kepengurusan di MUI.

    “Saya berharap Ketua Umum GUPPI, Pak Fasli Jalal masuk dalam jajaran pimpinan MUI Pusat di periode 2025 – 2030, terutama untuk mengawal dunia pendidikan di Indonesia. Pak Fasli Jalal saat ini merupakan Rektor Universitas Yarsi Jakarta dan mempunyai pengalaman luas di bidang Pendidikan, Apalagi beliau pernah menjadi Wakil Menteri Pendidikan Nasional,” ujar Agus.

    Memang sudah lama GUPPI tidak terlihat dalam jajaran pengurus MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI berperan lebih aktif di MUI, organisasi yang ikut didirikan tahun 1975.

    “Memang sudah lama rasanya tidak ada pengurus GUPPI di MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI aktif kembali di MUI, organisasi yang ikut didirkan tahun 1975, terutama dalam mengawal pendidikan Islam agar menjadi lebih baik, merata dan bermutu. (Tim Media)

    Komentar

    60
  • DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    Jakarta (GUPPI) – DPP GUPPI lakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum RI dalam rangka pembuatan akte perkumpulan di kantor Kementerian Hukum, Jum’at, 21 November 2025.

    Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal langsung memimpin rombongan DPP GUPPI, didampingi Sekretaris Jenderal Rusydi Zakaria, Ketua Dewan Pakar, yang juga mantan Ketua Umum DPP GUPPI Imam Tholkhah, Kepala Sekretariat Aden Daenuri dan Sekretaris Lembaga Hukum dan HAM Andi Safriani.

    Mereka diterima oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Widodo, didampingi Direktur Badan Usaha Andi Talenting Langi dan sejumlah staf di kantor Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.

    Dalam pertemuan tersebut Fasli Jalal menyampaikan tujuan audiensi DPP GUPPI yaitu untuk silaturahmi dan memohon arahan bagaimana GUPPI dapat tercatat di Kementerian Hukum RI sebagai organisasi perkumpulan.

    “Kita melakukan audiensi dengan Dirjen AHU Kemenkum ini untuk memohon arahan dan masukan bagaimana GUPPI dapat segera terdaftar sebagai organisasi perkumpulan. Saat ini GUPPI masih tercatat sebagai yayasan dan kita semua sudah sepakat GUPPI akan menjadi organisasi perkumpulan,” kata Fasli Jalal.

    Fasli Jalal juga menjelaskan bahwa GUPPI merupakan organisasi Islam yang lahir pada tahun 1950 dan sudah banyak berkiprah dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia. 

    “GUPPI sudah lahir sejak tahun 1950 dan merupakan organisasi Islam yang fokus pada bagaimana pendidikan Islam di Indonesia itu maju dan bermutu. GUPPI mempunyai ribuan lembaga pendidikan Islam, baik itu sekolah, madrasah dan pondok pesantren, yang tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesaia. Saat ini keberadaan GUPPI menyebar di 23 propinsi, mulai dari Aceh hingga Papua,” tambah Fasli.

    Ketua Umum GUPPI kemudian menambahkan bahwa GUPPI merupakan salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia tahun 1975, bersama 9 organisasi Islam lainnya.

    “Saat ini Majlis Ulama Indonesia (MUI) sedang melakukan Musyawarah Nasional XI di Ancol Jakara. Dan GUPPI merupakan salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan MUI, bersama dengan Muhammadiyah, NU, Mathlaul Anwar dan 7 ormas Islam lainnya”, kata Fasli Jalal, yang juga salah satu anggota Penasehat Ahli Menteri Agama RI.

    Dalam kesempatan yang sama, Imam Tholkhah, Ketua Umum DPP GUPPI 2022 – 2024, menyatakan bahwa keberadaan dari yayasan GUPPI pada waktu itu merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan di daerah dibawah naungan GUPPI.

    “Keberadaan yayasan GUPPI yang didirikan oleh DPP GUPPI merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam dibawah naungan GUPPI di daerah yang membutuhkan syarat administratif dalam pengajuan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” kata Imam Tholkhah.

    Imam Tokhah juga menambahkan, bahwa DPP GUPPI pernah melakukan komunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk mengurus akta pendirian perkumpulan.

    “Kita dulu juga pernah melakukan komunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM agar GUPPI dapat menjadi organisasi perkumpulan sebagaimana dalam perundang-udangan. Namun upaya kita belum berhasil, karena itu saya mendukung usaha DPP GUPPI saat ini untuk mengupayakan agar GUPPI dapat tercatat di Kemenkum RI sebagai organisasi perkumpulan,” tambah Imam Tolkhah, yang saat ini menjadi Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

    Sementara itu Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Widodo, menyatakan apresisasi dan dukungannya atas upaya yang dilakukan oleh DPP GUPPI agar GUPPI tercatat sebagai organisasi perkumpulan dan menyatakan kesiapannya untuk mendindak lanjuti.

    “Beberapa waktu lalu kami memang menerima permohonan dari DPP GUPPI untuk pembentukan perkumpulan. Permohonan tersebut belum kami lanjutkan mengingat dalam sistem kami terdeteksi telah ada lembaga lain dengan nama serupa, yakni GUPPI.  Karena itu pertemuan kali ini merupakan langkah tepat sebagai dasar dalam melakukan proses lebih lanjut agar GUPPI tercatat sebagai organisasi perkumpulan,” kata Widodo.

    Ditambahkan oleh Widodo, bahwa pihaknya terus melakukan perbaikan agar layanan di Kemenkum, terutama di Ditjen AHU, dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat.

    “Kementerian Hukum RI, dalam hal ini Ditjen AHU, terus melakukan perbaikan sistem dan teknologi, sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan dan dari sisi adminstratif lebih profesional,’ tambah Widodo.

    Untuk itu dirinya berharap agar GUPPI terus melakukan komunikasi dengan Ditjen AHU agar usulan ini dapat diproses sesuai dengan ketentuan.

    “Kami berharap agar komunikasi dan koordinasi dengan GUPPI dapat dilakukan lebih intens, terutama untuk hal-hal yang bersifat administratif, sehingga usulan pembentukan perkumpulan GUPPI dapat terus dilanjutkan,” ujar Dirjen AHU.

    Pertemuan kemudian diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari Ketua Umum DPP GUPPI kepada Dirjen AHU, yaitu buku Rekonstruksi Sejarah GUPPI dan dilanjutkan dengan foto bersama. (Tim Media).  

    Komentar

    59
  • GUPPI HARUS KAWAL MUI LEBIH PEDULI PENDIDIKAN ISLAM

    GUPPI HARUS KAWAL MUI LEBIH PEDULI PENDIDIKAN ISLAM

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Harus Kawal MUI Lebih Peduli Pendidikan Islam  

    Jakarta (GUPPI) – Majlis Ulama Indonesia (MUI) menggelar Munas XI pada tanggal 20-23 November 2025 di Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta. Munas MUI merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa. Salah satu agendanya juga akan memilih nahkoda baru untuk periode 2025 – 2030.

    Sebagai salah satu ormas Islam yang ikut mendirikan MUI pada tahun 1975, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) diharapkan terus menjaga dan mengawal MUI agar tetap sejalan dengan tujuan awal pendiriannya.

    Hal itu disampaikan oleh salah satu pengurus DPP GUPPI, Agus Sholeh, melihat dinamika MUI akhir-akhir ini yang terasa kurang gregetnya.

    “Atas nama keluarga besar GUPPI saya ingin mengucapkan Selamat Munas MUI XI. Saya berharap dan mendoakan selalu agar MUI senantiasa berhidmat untuk kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.” kata Agus Sholeh, Rabu (19/11/2025).

    Dalam pandangan Agus Sholeh, Munas MUI XI ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang digelar secara periodik untuk merumuskan arah kebijakan, memperkuat peran ulama, serta memperkokoh kontribusi MUI bagi kehidupan umat dan bangsa.

    “Saya mendukung tema yang diusung dalam Munas XI kali ini, yaitu Meneguhkan Peran Ulama Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat. Tema ini menegaskan pentingnya peran ulama dalam membimbing umat, serta mengawal arah pembangunan nasional agar tetap sejalan dengan nilai keislaman, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan yang berkeadilan,” tambah Agus Sholeh, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Peningkatan Layanan Pendidikan (PLP) DPP GUPPI.

    Agus berharap agar MUI sebagai wadah silaturahmi para ulama, dapat melibatkan dan merangkul semua unsur yang ada di Indonesia. 

    “Sebagai wadah strategis para ulama, maka MUI harus merangkul semua pihak, tidak hanya kelompok tertentu. Hal ini karena ulama merupakan waratsatul anbiya, tokoh yang diangap mewarisi keteladanan nabi, yang bisa menyampaikan kebenaran (haq) dan mengingatkan akan yang salah (batil), minimal kepada jamaahnya,” ujar Agus. 

    Menurutnya, peran dan tanggung jawab MUI dalam menjaga kemaslahatan umat dan keharmonisan bangsa harus menjadi kesadaran bersama.

    “Dengan peran MUI seperti itu, kita berharap MUI dapat berperan untuk menjaga bangsa Indonesia menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Apalagi MUI mengemban dua misi utama, yaitu sebagai Pelayan Umat (Khadimul Ummah) dan Mitra Pemerintah (Shadiqul Hukumah). Sebagai pelayan umat, MUI harus berupaya menjaga masyarakat dari hal-hal yang menyimpang agar umat tetap berada pada ajaran Islam yang benar. Sementara itu, pada aspek kebangsaan, MUI turut menjaga komitmen nasional, yaitu dalam memperkuat ukhuwwah wathaniyyah atau persaudaraan kebangsaan,” tambah Agus Sholeh, yang lama bertugas di Kementerian Agama Pusat.

    Agus menyadari bahwa saat ini MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat MUI didirikan pada tahun 1975.

    “MUI menghadapi tantangan yang sangat berbeda dengan saat kita dirikan pada tahun 1975, baik itu kondisi sosial, politik maupun ekonomi. Posisi ulama saat ini jauh lebih kompleks dibanding dengan masa lalu, apalagi dunia digital saat ini yang serba terbuka,” kata Agus.

    Peran GUPPI

    Secara khusus Agus Sholeh berharap agar GUPPI sebagai salah satu ormas Islam yang ikut membidani lahirnya MUI terus mengawal MUI agar lebih peduli tentang pendidikan Islam. Karena selama ini gaung MUI tentang pendidikan Islam tidak begitu terdengar.

    “GUPPI harus mengawal MUI agar MUI peduli terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Lembaga pendidikan Islam, baik itu madrasah, sekolah maupun pondok pesantren merupakan asset umat Islam yang strategis dalam pembangunan nasional,” ujar Agus Sholeh.

    Agus Sholeh berharap agar GUPPI terus vokal dan kritis dalam menyuarakan isu-isu pendidikan Islam melalui MUI Pusat maupun daerah.

    “GUPPI yang memang dari awal menyuarakan mutu pendidikan Islam harus berada di barisan paling depan dalam menyuarakan pendidikan yang lebih adil dan merata, baik di tingkat MUI Pusat maupun Daerah” ungkapnya.

    Karena itu Agus juga meminta agar GUPPI bersama MUI banyak melakukan koordinasi dengan Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pemerintah Daerah.

    “GUPPI bersama MUI harus aktif memberikan masukan yang konstruktif kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini agar lembaga-lembaga pendidikan Islam binaan ormas-ormas Islam di Indonesia ini tambah maju dan berdaya saing,” tambah Agus Sholeh.

    Terkait dengan kepengurusan MUI ke depan, Agus Sholeh berharap agar Ketua Umum GUPPI bisa masuk dalam jajaran pimpinan MUI karena sudah lama tidak ada wakil dalam kepengurusan di MUI.

    “Saya berharap Ketua Umum GUPPI, Pak Fasli Jalal masuk dalam jajaran pimpinan MUI Pusat di periode 2025 – 2030, terutama untuk mengawal dunia pendidikan di Indonesia. Pak Fasli Jalal saat ini merupakan Rektor Universitas Yarsi Jakarta dan mempunyai pengalaman luas di bidang Pendidikan, Apalagi beliau pernah menjadi Wakil Menteri Pendidikan Nasional,” ujar Agus.

    Memang sudah lama GUPPI tidak terlihat dalam jajaran pengurus MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI berperan lebih aktif di MUI, organisasi yang ikut didirikan tahun 1975.

    “Memang sudah lama rasanya tidak ada pengurus GUPPI di MUI Pusat. Karena itu saatnya GUPPI aktif kembali di MUI, organisasi yang ikut didirkan tahun 1975, terutama dalam mengawal pendidikan Islam agar menjadi lebih baik, merata dan bermutu.

    Komentar

    67
  • MEMBANGUN WARGA BANGSA BERINTEGRITAS DAN BERJIWA KEPAHLAWANAN DI ERA DIGITAL

    MEMBANGUN WARGA BANGSA BERINTEGRITAS DAN BERJIWA KEPAHLAWANAN DI ERA DIGITAL

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Membangun Warga Bangsa Berintegritas dan Berjiwa Kepahlawanan di Era Digital

    Oleh : Abdul Rozak**

    Bung Karno (Soekarno) :

    “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”

    (Pidato Hari Pahlawan, 10 November 1961). “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu akan lebih berat karena melawan bangsamu sendiri.”

    Bung Hatta (Mohammad Hatta) :

    “Kurang cerdas dapat diperbaiki. Kurang terampil dapat diperbaiki. Tetapi jika seseorang kurang jujur, maka sudah sulit diperbaiki.” (Dari pidato dan catatan dalam Memoir, 1979) “Demokrasi bukan hanya sistem politik, tetapi watak dan akhlak.” Kepahlawanan = menjadi warga negara yang bermoral dan bertanggung jawab.

    KH. Hasyim Asy’ari :

    Dalam Resolusi Jihad (22 Oktober 1945) beliau menegaskan: “Membela tanah air adalah sebagian dari iman.” Esensi kepahlawanan ada pada jihad, keberanian, ketauhidan

    KH. Ahmad Dahlan :

    “Agama itu jangan hanya dihafalkan, tetapi diamalkan. Ngaji ya ngaji sing urip!”

    (Ngaji yang hidup, bukan sekadar teori.). Kepahlawanan tidak harus besar, tetapi hadir dalam tindakan sosial

    KH. Mohammad Natsir :

    “Berjuang itu bukan mencari nama, bukan mencari pangkat. Berjuang itu adalah ibadah.” (Disampaikan dalam berbagai ceramah dakwah pasca 1950-an) “Yang penting bukan banyaknya bicara, tetapi keikhlasan bekerja.”

    Rasionalitas

    Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan para pahlawan bangsa dan negara yang telah berjuang melawan kolonialisme dan membangun Indonesia merdeka. Perjuangan para pahlawan bangsa yang tanpa lelah, tanpa pamrih demi satu tekad dan tujuan Indonesia Merdeka.

    Namun muncul pertanyaan mendasar: apakah jiwa kepahlawanan masih relevan di hari ini? Jawaban pertanyaan tersebut tegas masih sangat relevan.

    Di tengah derasnya arus digital, transformasi sosial yang sangat cepat, serta kompetisi global yang semakin kompleks, Jiwa dan nilai kepahlawanan harus dimaknai tidak lagi sama seperti jaman kolonialisme lalu sebatas keberanian fisik di medan perang, tetapi sebagai keluhuran moral, integritas pribadi, keberanian memperjuangkan kebenaran, memperjuangkan keadilan dan kepedulian tulus terhadap sesama.

    Saat ini kita hidup dalam era penuh paradoks. Sebagian warga bangsa dari kalangan generasi muda memiliki akses pengetahuan luas, kreativitas tak terbatas, dan ruang kolaborasi global yang terbuka. Namun pada saat yang sama, muncul tantangan serius berupa krisis moral, menurunnya empati sosial, lemahnya disiplin diri, hingga dominannya budaya instan dan narsisme digital.

    Kemajuan teknologi memang membuka peluang besar, tetapi juga membawa ancaman terhadap karakter kebangsaan apabila tidak disertai penanaman nilai, orientasi hidup yang benar, dan fondasi spiritual yang kokoh.

    Dalam konteks kekinian, jiwa kepahlawanan bukan lagi identik dengan perjuangan fisik sebagaimana para pahlawan dalam sejarah perjuangan bangsa. Jiwa kepahlawanan kini bermakna dan tercermin dalam kesetiaan pada nilai moral, keteguhan dalam memegang kebenaran, keadilan, karakter unggul, empati sosial, dan komitmen untuk memperjuangkan kebaikan bersama (common good).

    Bung Hatta pernah menyatakan bahwa “pahlawan adalah mereka yang mempertahankan nilai dan cita-cita bagi bangsa, meski harus berkorban.” Hal ini sejalan dengan konsep akhlak dalam Islam, di mana kemuliaan manusia diukur dari keluhuran moral dan keteguhan dalam menjalankan kebaikan (QS. Al-Qalam: 4).

    Fenomena Krisis Integritas dan Menipisnya Jiwa Kepahlawanan

    Salah satu persoalan mendasar bangsa saat ini adalah menguatnya gejala krisis karakter dan pudarnya jiwa kepahlawanan, terutama pada sebagian generasi muda. Krisis ini tampak dari melemahnya orientasi hidup berbasis nilai, menurunnya idealisme, serta kurangnya tanggung jawab sosial.

    Warga bangsa terutama di kalangan generasi masa kini tumbuh dalam kultur digital yang serba cepat, instan, dan pragmatis, namun sering tidak dibarengi kemampuan empatik dan kesediaan menunda kesenangan (delayed gratification). Seperti ditegaskan Lickona (1991), krisis karakter terjadi ketika nilai moral tidak lagi menjadi dasar tindakan, melainkan tergeser oleh kepentingan diri dan dorongan sesaat.

    Gejala ini tercermin dalam meningkatnya perilaku menyimpang, kekerasan verbal, perundungan digital, gaya hidup konsumtif, hingga melemahnya rasa hormat terhadap guru dan orang tua. Zubaedi (2013) menyebut kondisi ini sebagai “arus deras kapitalisme budaya populer” yang membentuk identitas generasi muda melalui citra dan sensasi, bukan melalui nilai dan kedalaman spiritual.

    Dalam konteks ini, pada sebagian bangsa telah mengalami krisis jiwa kepahlawanan berarti hilangnya kemampuan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Bertindak dengan penuh keserahakan dan nirempati sosial, hedonisme, konsumerisme dan materialisme yang ditampilkan sebagian warga bangsa. Nurcholish Madjid (1997) menegaskan bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang “menang atas dirinya sendiri sebelum menang terhadap musuh luar.”

    Hal senada disampaikan Gus Dur menambahkan makna kepahlawanan pada dimensi keberanian moral untuk membela yang lemah. Baginya: “Yang paling penting adalah menjadi manusia yang memanusiakan manusia.” Gus Dur berulang kali memperlihatkan keberanian kemanusiaan, bahkan ketika sikapnya tidak populer. Kepahlawanan baginya adalah kesediaan menanggung risiko demi keadilan.

    Selanjutnya Buya Syafi’i juga menekankan bahwa Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, tetapi dirinya sendiri ketika kehilangan nurani.” (Maarif, Pilar-Pilar Peradaban, 2018).  Jadi kemampuan mengendalikan dan melawan nafsu amarah pada diri sendiri menjadi bagian yang teramat penting dalam kehidupan yang sarat dengan tipu muslihat ini.

    Krisis Integritas-Karakter di Era Digital

    Berbagai survei menunjukkan fenomena ini semakin nyata. Survei Kementerian PPPA (2023) mencatat peningkatan perundungan di sekolah sebesar 38%. Komnas Perlindungan Anak (2024) melaporkan meningkatnya kekerasan antar pelajar serta penghinaan terhadap guru di ruang digital. Survei Puslitbang Kemenag (2022) menunjukkan bahwa paparan media sosial tanpa pendampingan berdampak pada melemahnya empati dan meningkatnya perilaku impulsif. Tindakan korupsi di kalangan sebagian elit dan pejabat publik hingga kini masih menjadi penyakit akut yang belum juga dapat disembuhkan.

    Zimbardo (2007) menyebut fenomena ini sebagai the banality of everyday evil—kejahatan yang tumbuh dari lemahnya kepekaan moral dalam lingkungan sosial yang permisif dan kompetitif. Krisis integritas-karakter telah menjadi problem besar bagi bangsa ini. Krisis integritas tersebut menjadi agenda mendesak untuk diatasi agar bangsa ini tidak berada dalam kondisi bangsa yang gagal.

    Krisis Jiwa Kepahlawanan di Era Digital

    Krisis jiwa kepahlawanan merupakan kondisi ketika nilai-nilai keluhuran moral, keberanian membela kebenaran, empati sosial, dan kesediaan berkorban demi kepentingan bersama mengalami kemerosotan dalam kehidupan masyarakat.

    Krisis tersebut tidak selalu tampak dalam bentuk fisik, tetapi dalam cara berpikir, sikap-pola hidup, dan orientasi nilai sebagian warga bangsa, terutama generasi muda yang tumbuh dalam arus digital. Beberapa krisis jiwa kepahlawanan dalam kontek kekinian sebagai berikut :

    1. Krisis Gaya Hidup Sederhana

    Ruang digital mempromosikan gaya hidup berbasis tampilan, viralitas, dan pengakuan. Padahal jiwa kepahlawanan tumbuh dari kesederhanaan, kejujuran, dan keteguhan nurani.

         2. Merosotnya Keteladanan Publik

    Fenomena korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan skandal etika di berbagai sektor telah membuat generasi muda kehilangan figur yang dapat dijadikan kompas moral. Buya Syafii Maarif (2014) pernah mengingatkan: “Bangsa ini hanya akan maju jika pemimpinnya memiliki moral yang menjadi mercusuar dalam kegelapan.”

         3. Krisis Empati Sosial

    Era digital sering menghasilkan hubungan sosial yang dangkal. Survei menunjukkan menurunnya kepedulian dan meningkatnya agresi verbal terutama di kalangan remaja.

    Rekontekstualisasi Makna Kepahlawanan

    Dalam tradisi Islam, kepahlawanan identik dengan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa. Imam Al-Qusyairi menegaskan bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsunya terlebih dahulu. Jadi menundukkan nafsu amarah (nafsu serakah) pada diri manusia merupakan langkah utama dan sangat penting dalam membangun jiwa kepahlawanan.

    Pandangan Imam Al-Qusyairi diperkuat oleh intelektual neo modernis muslim Indonesia. Cak Nur (1999) menekankan bahwa kewargaan sejati bertumpu pada moralitas sosial (civic virtue). Gus Dur mengajarkan bahwa kepahlawanan adalah keberanian memanusiakan manusia, bahkan dalam kondisi tidak populer. Buya Syafii (2018) menambahkan bahwa musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri ketika kehilangan nurani.

    Dengan demikian, jiwa kepahlawanan di era kekinian adalah keberanian melawan ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, pemujaan diri, dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Jiwa kepahlawanan pada masa kini tidak lagi ditandai oleh perjuangan fisik dengan senjata, tetapi oleh kekuatan moral, keteguhan karakter, kemampuan memikul tanggung jawab sosial, dan keberanian memperjuangkan kebenaran.

    Penutup — Agenda Peradaban

    Membangun generasi berintegritas dan berjiwa kepahlawanan bukan proyek sesaat, melainkan agenda peradaban. Di era digital yang penuh godaan, kepahlawanan adalah kemampuan menjaga nilai, memilih kebaikan, dan berpegang pada keluhuran moral.

    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan dirinya sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

    Bangsa yang akan memasuki Indonesia Emas 2045 memerlukan generasi yang kuat secara moral dan karakter, bukan sekadar cerdas secara intelektual. Masa depan bangsa ini ditentukan oleh kualitas budi, kejujuran, dan keberanian moral.

    Semoga bangsa ini mampu melahirkan pahlawan-pahlawan peradaban—yang berpikir jernih, berhati tulus, bersikap tegas, dan bertindak benar demi keadilan dan kemaslahatan bersama. (Depok, 10 Nopember 2025)

    ** Abdul Rozak (Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengurus DPP GUPPI).

    Komentar

    91
  • MTs GUPPI SODONG JUARA UMUM LOMBA LASTRAPRAMA SE KABUPATEN PANDEGLANG

    MTs GUPPI SODONG JUARA UMUM LOMBA LASTRAPRAMA SE KABUPATEN PANDEGLANG

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MTs GUPPI SODONG JUARA UMUM LOMBA LASTRAPRAMA SE KABUPATEN PANDEGLANG

    Pandeglang (GUPPI) – MTs GUPPI Sodong Pandeglang berhasil meraih prestasi gemilang sebagai Juara Umum dalam Lomba Asah Terampil Pramuka Madrasah (Lastraprama) jenjang MTs se Kabupaten Pandeglang yang diselenggarakan di Saketi Pandeglang pada hari Ahad, tanggal 9 November 2025.

    Mengusung tema “Persaudaraan Dalam Kompetisi, Kemitraan Dalam Prestasi”, kegiatan yang diikuti oleh 288 siswa yang berasal dari 18 MTs yang ada di Kabupaten Pandeglang ini dibuka oleh Kasi Pendidikan Madrasah Kabupaten Pandeglang, Muhammad Isa.

    Dalam sambutannya, Muhammad Isa berharap agar Lastraprama ini dalam menjadi ajang silaturahmi dalam bersama-sama memajukan mutu Pendidikan madrasah di Pandeglang.

    “Mari kita meriahkan Lastraprima ini sebagai wahana untuk bersama-sama meningkatkan mutu madrasah dan terjalinnya tali silaturahmi antar MTs dilingkungan KKM 9 MTs Kabupatennya Pandeglang,” kata Muhamamd Isa.

    Dalam perlombaan tersebut, MTs GUPPI Sodong berhasil membawa pulang 8 piala dan 1 Piala Juara Umum

    Kepala MTs GUPPI Sodong, Nita Sujiati, mengungkapkan rasa bangganya kepada seluruh siswa, guru pendamping, serta pihak-pihak yang telah mendukung kegiatan ini.

    “Kami bersyukur, bangga dan mengucapkan terima kasih atas semangat dan dedikasi siswa-siswi serta guru yang telah berusaha sebaik mungkin untuk menyiapkan mengikuti kegiatan Lastaprama ini. Semoga prestasi ini bisa dipertahankan dan terus ditingkatkan di masa depan, sehingga kita dapat memberikan yang terbaik untuk madrasah,” tuturnya.

    Dengan hasil ini, Nita berharap agar ini menjadi modal semangat dalam mengembangkan potensi siswa MTs GUPPI Sodong sehinga dapat berkiprah di dunia pendidikan di Pandeglang maupun Propinsi Banten.

    “Semoga dengan prestasi ini dapat membangun kebanggaan para guru dan siswa MTs GUPPI Sodong bahwa mereka dapat menunjukkan prestasinya dan membawa nama baik MTs di mata masyarakat”, tambahnya.

    MTs GUPPI Sodong mengirimkan 2 regu sebagai perwakilan, terdiri dari 8 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan, serta 13 guru yang turut mendampingi selama kegiatan lomba.

    Adapun kategori lomba yang berhasil dimenangkan oleh MTs GUPPI Sodong adalah :

    1. Juara Umum
    2. Juara 1 Lomba Pionering tali temali
    3. Juara 1 Lomba Menaksir
    4. Juara 1 Lomba Sandi sandi
    5. Juara 1 Lomba P3K
    6. Juara 1 Lomba LKBB
    7. Juara 1 Lomba Rangking
    8. Juara 1 Lomba Halang rintang
    9. Juara 1 Lomba Tahfiz

    Komentar

    69
  • PEMBELAJARAN AUTENTIK Oleh Fuad Fachruddin

    PEMBELAJARAN AUTENTIK Oleh Fuad Fachruddin

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Pembelajaran Autentik

    Oleh : Fuad Fachruddin.

    ABAD ke-21 ditandai dengan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan dan perubahan yang cepat dalam kehidupan nyata. Keadaan ini menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Dalam menyelenggarakan pembelajaran, sekolah hendaknya membekali siswa agar mereka siap menghadapi kehidupan dunia nyata sekaligus mentransformasi praktik pembelajaran yang ada.

    Tujuannya agar para guru, pendidik, dan siswa siap menghadapi tantangan abad ke-21 (Cho, Caleon, Kapur, 2015). Menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendorong siswa menjadi pelaku aktif dalam meneliti kehidupan nyata dan terbuka untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis serta memperoleh kemahiran akademik tinggi merupakan tantangan utama bagi para pendidik (Laur, 2013).

    Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab ialah bagaimana kita sebagai pendidik dapat menyentuh siswa abad ke-21 dan mengajarkan mereka kemampuan yang relevan dengan zamannya?

    ESENSI PEMBELAJARAN AUTENTIK

    Pembelajaran autentik bukanlah konsep yang sama sekali baru, melainkan juga merupakan salah satu pendekatan yang efektif untuk membantu guru dan siswa merespons tantangan abad ke-21. Pelibatan siswa dalam pembelajaran autentik membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas. Selain itu, pembelajaran autentik membekali siswa dengan kerangka berpikir atau memahami pengalaman belajar mereka secara lebih bermakna.

    Pembelajaran autentik adalah pendekatan yang membimbing pengajaran dan memfasilitasi pembelajaran dengan membawa pengalaman kehidupan nyata ke dalam kelas (Chang, Huang, Kinshuk, 2018). Dalam praktiknya, pembelajaran autentik mengangkat masalah kehidupan nyata sebagai tugas belajar dan evaluasi pembelajaran dilakukan secara efektif selama proses berlangsung. Dengan pendekatan ini, pembelajaran yang bermakna dapat diwujudkan (Tuba Ozkan, Kilicoglum, 2021).

    LANDASAN TEORETIS

    Pembelajaran autentik berakar pada teori konstruktivisme yang menekankan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri tentang dunia berdasarkan pengalaman hidup mereka. Teori ini menegaskan bahwa belajar adalah proses aktif yang mana siswa harus terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Siswa bukanlah penerima pasif informasi, melainkan juga pembuat makna dan pengetahuan (Pritchard & Woollard, 2010; Fosnot, 2005).

    Terdapat dua teori utama yang mendasari pembelajaran autentik. Pertama, pembelajaran situasional (situated learning) yang menekankan pada mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang mencerminkan kegunaan pengetahuan tersebut untuk kehidupan nyata. Pendekatan ini memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat dalam konteks kehidupan nyata dan memecahkan masalah yang relevan dengan lingkungan mereka.

    Kedua, magang kognitif (cognitive apprenticeship) dirancang untuk membiasakan siswa dalam praktik otentik melalui kegiatan dan interaksi sosial. Dalam model tradisionalnya, terdapat empat tahap penting: modeling, yang mana guru mendemonstrasikan keterampilan yang perlu dipelajari; scaffolding berupa bantuan dan bimbingan saat siswa menerapkan pengetahuan; coaching dengan memberikan umpan balik untuk perbaikan; dan fading, yaitu pengurangan bantuan seiring dengan meningkatnya kemandirian siswa.

    KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN AUTENTIK

    Pembelajaran autentik memiliki sejumlah karakteristik mendasar yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran konvensional. Inti dari pembelajaran ini terletak pada pemberian kegiatan otentik, yaitu siswa menghadapi tugas-tugas kompleks yang relevan dan kontekstual dengan dunia nyata. Tugas-tugas ini dirancang untuk diselesaikan dalam suatu periode waktu yang berkesinambungan, meniru proyek atau masalah yang sesungguhnya di kehidupan, berbeda dengan serangkaian latihan pendek yang terisolasi dan terlepas dari konteks.

    Untuk membimbing siswa dalam menyelesaikan tugas kompleks tersebut, pemodelan guru memegang peran krusial. Siswa diberikan akses untuk mengamati bagaimana guru menyelesaikan masalah dalam situasi nyata. Proses pemodelan ini memberikan contoh konkret tentang penerapan pengetahuan dan keterampilan sekaligus memperlihatkan proses berpikir dan strategi yang digunakan.

    Selama proses investigasi, pembelajaran autentik dirancang agar siswa dapat mendekati suatu tugas menggunakan perspektif berganda. Hal ini tidak hanya memperkaya analisis, tetapi juga secara sengaja mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta apresiasi terhadap keragaman sudut pandang yang merupakan keterampilan vital dalam masyarakat yang kompleks.

    Karakteristik lain yang menonjol adalah penekanannya pada kolaborasi. Dalam pembelajaran autentik, kerja sama untuk memecahkan masalah kompleks bukanlah sekadar opsi, melainkan juga keharusan. Setelah melewati proses yang menantang ini, siswa kemudian didorong untuk melakukan refleksi mendalam terhadap pengalaman belajar mereka. Momen refleksi ini memungkinkan mereka mengasimilasi dan mengintegrasikan pengetahuan serta pemahaman baru ke dalam kerangka konseptual yang telah mereka miliki sebelumnya.

    Selanjutnya, lingkungan pembelajaran autentik juga harus menyediakan ruang yang aman dan memadai untuk artikulasi. Siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan, memaparkan, dan mempertahankan pemikiran, proses, serta hasil kerja mereka di hadapan orang lain, baik melalui presentasi, diskusi, maupun forum lainnya. Sepanjang perjalanan belajar ini, peran guru bergeser menjadi fasilitator yang memberikan pembimbingan yang tepat waktu dan responsif melalui teknik coaching dan scaffolding. Bimbingan ini bersifat dinamis, diberikan saat dibutuhkan dan dikurangi secara bertahap seiring dengan meningkatnya kemandirian dan kemampuan siswa.

    Terakhir ialah penerapan penilaian autentik. Evaluasi dalam pendekatan ini tidak dipandang sebagai aktivitas terpisah yang hanya dilakukan di akhir pembelajaran. Sebaliknya, penilaian terintegrasi secara organik ke dalam seluruh proses belajar dan bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam konteks yang bermakna dan selaras dengan tantangan yang akan mereka hadapi di dunia nyata.

    PENERAPAN DALAM PRAKTIK

    Dalam implementasinya, pembelajaran autentik menekankan pada penyajian materi dalam konteks yang mencerminkan pengetahuan yang bersentuhan dengan kehidupan nyata. Mata pelajaran disajikan dalam bentuk permasalahan realistik yang menjaga kompleksitas kehidupan nyata. Siswa diberikan peluang terbuka untuk mengakses berbagai sumber informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas otentik.

    Penilaian dalam pembelajaran autentik dilakukan melalui rich assessment tasks yang memiliki karakteristik khusus. Menurut Clarke (2003), penilaian semacam ini secara natural terkait dengan apa yang diajarkan, melibatkan siswa secara aktif, menggunakan berbagai metode, dan menyajikan cara-cara autentik dalam mengukur pengetahuan dan keterampilan yang akan digunakan di masa depan.

    Pembelajaran autentik pada dasarnya ialah tentang menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan dengan kehidupan siswa. Dengan menerapkan pendekatan ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kemampuan essensial yang diperlukan untuk keberhasilan dalam kehidupan yang kompleks dan terus berubah di abad ke-21. Wallahualam bissawab.

    Fuad Fachruddin Peneliti Utama Indonesian Institute for Society Empowerment (Insep), Jakarta dan Anggota Dewan Pakar DPP GUPPI.

    Ditayangkan di Media Indonesia, 03/11/2025 05:10

    Tulisan ini ditayangkan ulang dengan izin dari Penulis.

    Komentar

    79
  • DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL   DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    Jakarta. GUPPI – DPP GUPPI akan mengadakan Silaturahmi Nasional (Silatnas GUPPI) di Kampus Perguruan Ummusabri Kendari Sulawesi Tenggara awal tahun 2026. Kegiatan ini akan diikuti lebih dari 10.000, baik dari internasl GUPPI maupun dan masyarakat umum di Sulawesi Tenggara.

    Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal dalam rapat koordinasi persiapan Silatnas GUPPI meminta agar kegiatan Silatnas GUPPI ini dipersiapkan dengan sebaik-baiknya karena akan menghadirkan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. 

    “Kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI ini akan dihadiri oleh ribuan peserta, baik dari kalangan GUPPI maupun masyarakat umum di Sulawesi Tenggara. Dan diharapkan dapat dihadiri oleh Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari Rapat Kerja Nasional DPP GUPPI dan Ummusabri International Expo 2026 yang dilaksanakan secara bersamaan di Kendari”, kata Fasli Jalal.

    Fasli Jalal juga menambahkan bahwa pada Silatnas GUPPI juga bersamaan dengan kegiatan intenasional Ummusabri International Expo 2026. 

    “Kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI ini juga sekalian ikut memeriahkan Ummusabri International Expo 2026 yang dilaksanakan secara bersamaan di Kendari. Yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 – 14 Januari 2026”, tambah Fasli Jalal.

    Di acara Silatnas ini, ungkap Fasli Jalal, DPP GUPPI akan mengadakan Rapat Kerja Nasional untuk mengevaluasi program kerja DPP GUPPI tahun 2025 dan rencana kerja 2026.

    “Di Silatnas ini DPP GUPPI akan mengadakan Rapat Kerja Nasional 2026 untuk mengetahui kinerja DPP GUPPI tahun 2025 dan membahas rencana program 2026,” imbuh Fasli Jalal.

    Dia juga menyatakan bahwa Silatnas ini sengaja dilaksanakan di Kendari karena sekaligus juga ikut meramaikan dan mensupporet pelaksanaan Ummusabri Internasional Expo 2026 yang akan dihadiri oleh ribuan peserta, baik dalam negeri maupun luar negeri.

    “Kita mensupport penuh pelaksanaan Ummusabri International Expo 2026 karena ini bukti nyata bagaimana Perguruan Ummusabri telah menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang maju dan menjadi kebanggaan warga Kendari maupun masyarakat Indonesia bagian timur,” ujar Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas Yarsi Jakarta.

    Ia berharap agar Ummusabri International Expo 2026 ini menjadi sumber inspirasi atau benchmarking bagi pengembangan madrasah dan sekolah GUPPI yang tersebar di seantero Indonesia.

    “Kita ingin menunjukkan kepada semua bahwa dengan kerja keras dan kesungguhan maka madrasah, sekolah dan pondok pesantren GUPPI yang tersebar di hampir seluruh Indonesia bisa maju dan berkembang dengan baik. Ummusabri yang ada di Kendari Sulawesi Tenggara ini bisa menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada dunia luar dan menjadi perguruan Islam kebanggan umat Islam dan masyarakat Indonesia bagian timur,” kata Fasli Jalal lagi. 

    Sementara itu Ketua Panitia Silatnas GUPPI 2026 Aden Daenuri mengatakan bahwa kegiatan Silatnas GUPPI 2026 yang dilaksanakan di Kendari ini sengaja disamakan waktunya dengan Ummushabri Internasional Expo.

    “Acara Ummusabri Internastional Expo 2026 ini akan dihadiri lebih dari 10.000 peserta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti Australia, Singapura, Malaysia, China, Filipina, Mesir dan Jepang,” kata Aden Daenuri.

    Aden menambahkan bahwa Panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan yang merupakan kolaborasi antara DPP GUPPI, DPW GUPPI Sulawesi Seltan dan Yayasan Perguruan Ummusabri Kendari.

    “Kegiatan Silatnas GUPPI ini akan terasa meriah karena DPP GUPPI mengadakan acara Rakernas DPP GUPPI, dan Pelatihan Sekolah Ramah Anak. Sedangkan Yayasan Ummussabri akan menyiapkan acara Ummusabri Intenasional Expo yang berisi kegiatan International Seminar on Islamic Education, International Camp & Cultural Parade dan Ummusabri Eco Wisdom,” tambah Aden.

    Aden menambahkan bahwa untuk menyemarakkan Expo tersebut, DPP GUPPI bekerjasama dengan Daarul Fatwa Islamic High Council Australia akan mengadakan International Training on Tsaqofah Islamiyah bagi guru PAI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

    “Menindaklanjut hasil kerjasama antara DPP GUPPI dengan Darul Fatwa Islamic High Council Australia, DPP GUPPI akan mengadakan Pelatihan Implementasi Buku Tsaqofah Islamiyah bagi guru PAI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh DPP GUPPI di Jakarta bulan September lalu” kata Aden, yang pernah lama berkiprah di Pusdiklat Kementerian Agama.

    Menurut Aden kehadiran Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah juga akan menjadi tambahan daya tarik kegiatan Silatnas ini.

    “Menteri Agama diharapkan bisa hadir memberikan ceramahnya di Ummusabri International Expo dan kemudian dlanjutkan dengan menjadi Khotib dan Imam Sholat Jum’at di Masjid Perguruan Ummussabri Kendari. Sementara itu kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah akan menjadi Pembicara Kunci di Seminar Internasional yang akan dihadiri oleh sejumlah pembicara dari luar negeri,” imbuh Aden Daenuri. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    86
  • GUPPI Milad ke-75. Siap Meneruskan Perjuangan KH Ahmad Sanusi

    GUPPI Milad ke-75. Siap Meneruskan Perjuangan KH Ahmad Sanusi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Panduan Pengeditan Postingan Berita

    Selamat datang di template WordPress Anda! Template ini dirancang untuk memudahkan Anda dalam membuat dan mengedit postingan berita. Di bawah ini adalah langkah-langkah mudah untuk mengedit dan menerbitkan berita di website Anda.

    1. Menambahkan Judul Berita

    • Di bagian atas halaman, klik tombol ikon bergerigi, Anda akan melihat kolom untuk mengedit Judul Berita disamping kiri.

    • Ketikkan judul berita yang sesuai dengan topik yang akan Anda tulis. Judul ini akan tampil besar di halaman depan atau halaman arsip berita.

    • Dibawah kolom input judul berita anda juga bisa menambahkan thumbnail gambar untuk halaman berita anda.

    2. Menambahkan Konten Berita

    • Anda dapat mengedit atau menulis berita dengan mengetik langsung di area ini. Gunakan alat penyunting yang disediakan (seperti Bold, Italic, List, Alignment, dll.) untuk menyesuaikan format teks sesuai keinginan Anda.

    3. Menambahkan Gambar atau Media

    • Jika Anda ingin menambahkan gambar, video, atau media lainnya ke dalam berita:

      • Klik ikon Tambahkan Media yang tersedia di editor sebelah kiri.

      • Pilih Gambar atau File yang ingin Anda masukkan ke dalam artikel.

      • Setelah media ditambahkan, Anda bisa menyesuaikan posisinya (misalnya, Rata Kiri, Tengah, atau Kanan).

    4. Menggunakan Widget Elementor untuk Layout

    • Template ini diatur khusus untuk berita/artikel/post saja.

    5. Menambahkan Kategori dan Tag

    • Setelah konten selesai, pastikan untuk mengatur kategori dan tag berita agar artikel Anda mudah ditemukan oleh pembaca, kategori dan tag bisa Anda ubah kapan saja di Daftar Postingan WordPress Anda.

      • Kategori: Pilih kategori yang relevan dari daftar yang ada.

      • Tag: Tambahkan tag terkait dengan topik berita Anda (misalnya, “Teknologi”, “Politik”, “Olahraga”, dll).

    6. Memasukkan Tanggal dan Penulis

    • Di bagian bawah editor, Anda akan menemukan kolom Tanggal dan Penulis.

      • Tanggal akan otomatis diatur berdasarkan waktu saat Anda menyusun artikel, namun Anda bisa mengubahnya jika perlu.

      • Pastikan untuk menambahkan nama penulis atau editor yang bertanggung jawab atas artikel ini.

    7. Pratinjau dan Penerbitan

    • Setelah Anda puas dengan artikel yang telah Anda buat, klik tombol Pratinjau/Ikon “Eye” untuk melihat bagaimana tampilan artikel di situs.

    • Jika semuanya sudah sesuai, klik tombol Terbitkan untuk mempublikasikan artikel berita Anda.

    8. Menyimpan sebagai Draf

    • Jika Anda belum siap untuk menerbitkan artikel, Anda dapat menyimpannya sebagai Draf dengan menekan tombol Simpan Draf yang terletak di ikon “Bottom Arrow” samping tombol “Terbitkan”.

    • Artikel yang disimpan sebagai draf tidak akan dipublikasikan hingga Anda siap melakukannya.

    9. Mengedit Postingan

    • Untuk mengedit berita yang telah diterbitkan, cukup buka Daftar Postingan di dashboard WordPress dan klik Sunting dengan Elementor di artikel yang ingin Anda perbarui.

    Catatan Penting

    • Penting: Pastikan artikel Anda tidak melanggar kebijakan atau pedoman yang berlaku di situs ini.


    Tips Tambahan

    • Anda dapat menambahkan tautan internal ke artikel lain yang relevan di situs Anda untuk memperkaya konten dan memberikan nilai lebih kepada pembaca.

    • Jangan lupa untuk menguji semua elemen (gambar, teks, dll.) sebelum menerbitkan untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.

    Komentar

    76
  • DPP GUPPI ADAKAN DIKLAT IMPLEMENTASI BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH KERJASAMA DENGAN DARUL FATWA ISLAMIC HIGH COUNCIL AUSTRALIA

    DPP GUPPI ADAKAN DIKLAT IMPLEMENTASI BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH KERJASAMA DENGAN DARUL FATWA ISLAMIC HIGH COUNCIL AUSTRALIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam


    CIPUTAT – GUPPI – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menggelar kegiatan Pelatihan Implementasi Buku Tsaqofah Islamiyah Dalam Konteks Kurikulum Berbais Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus Pusdiklat Kementerian Agama Ciputat, Sabtu – Selasa (27-30/9/2025) diikuti oleh 40 kepala dan guru MI/SD dari 6 propinsi, yaitu Lampung, Banten, DKI Jakrta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Pengurus Perguppi dan Pengurus DPP GUPPI.

    Kegiatan yang dibuka oleh Ketua Umum DPP GUPPI Prof. dr. Fasli Jalal, juga menghadirkan nara sumber utama, yaitu Dr. Wissam Saad, Direktur Darul Fatwa Islamic High Council Australia, Ketua DPP GUPPI Drs. Syamsuddin, MM, Wakil Ketua DPP Wanita GUPPI Dr. Tati Hartimah, Praktisi Pendidikan Jetty Mainur. M. Pd dan konsultan Inovasi Dr. Abdul Munir.

    Dalam acara pembukaan, Fasli Jalal menyampaikan apresiasi dan penghargaannya atas kehadiran para peserta di kegiatan pelatihan ini. Tak lupa dia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Dr. Wissam Saad yang sudah terbang jauh dari Sydney untuk bertemu dengan para guru dan kepala sekolah SD/MI GUPPI di Jakarta.   

    Fasli Jalal mengatakan bahwa Wissam Sa’ad memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam bidang pendidikan karena ia juga memimpin lebih 100 sekolah di Australia dan beberapa negara. Karena itu pengalamannya pantas kita jadikan rujukan bagaimana mengajar anak-anak Muslim di negara sekuler namun tetap memegang nilai-nilai Islam.

    Menurut Fasli, lembaga pendidikan yang dibangun oleh Wissam Saad tidak hanya membentuk anak-anak untuk mendapatkan ilmu agama Islam yang kuat, tetapi juga bagaimana kemampuan ilmu umumnya juga kuat sehingga bisa menembus masuk perguruan tinggi terbaik di dunia.

    “Kita ingin mengetahui bagaimana pengelolaan pendidikan Islam itu dilakukan di Australia dialkukan secara efektif dan efisien sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Karena itu kita bisa belajar bagaimana Darul Fatwa Australia mengelola sekola-sekolah Islam di Australia”, kata Fasli Jalal.

    Fasli menyatakan bahwa bisa jadi Darul Fatwa Islamic High Council maju karena mendapat tantangan dan tekanan yang besar dari masyarakat Australia yang sekuler, maupun dari kalangan anti islam, sehingga sekolah-sekolah Islam justru malah jadi bagus dan disiapkan denan sebagi-baiknya.

    “Pak Wissam Saad ini bisa mengelola pendidikan Islam di tengah masyarakat sekuler, bahkan anti Islam. Dan sekolah-sekolahnya bagus-bagus dan mendapat dukungan dari masyarkat Islam. Bisa jadi karena mereka mendapat tekanan dan tantangan di tengah-tengah masyarakat sekuler itu maka sekolah-sekolah Islam justru dijaga mutunya dan didukung oleh masyarakat Islam disana,” tambah Fasli Jalal.

    Fasli mengungkapkan bahwa dalam pelatihan nanti para peserta akan dikenalkan dengan buku Tsaqofah Islam yang dipakai oleh sekolah-sekolah Darul Fatwa Australia, dan sudah mendapat dukungan dari Unicersitas Al Azhar Kairo Mesir.

    “Para peserta akan diperkenalkan dengan buku Tsaqofah Islamiyah yang digunakan di sekolah-sekolah Islam di Australia. Buku ini adalah buku pegangan siswa dalam pemahami ajaran Islam, semacam buku PAI yang kita pakai di sekolah dan madrasah di Indonesia. Mari kita pelajari buku ini dan bisa memperkaya pembelajaran kita di sekolah-sekolah kita,” tambah Fasli Jalal.

    Sementara itu dalam sambutannya Wissam Saad menyampaikan apresiasi dan kegembiraanya terhadap para peserta yang terlihat antusias mengikuti pelatihan ini. Ia mengungkapkan bawa dirinya sudah beberapa kali ke Indonesia dan dia merasa senang dan nyaman bertemu dengan berbagai kalangan yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan Islam.

    “Saya sudah beberapa kali datang ke Indonesia, dan terasa sangat positif responnya. Karena itu dsaya siap untuk diskusi dan sharing pengalaman tentang bagaimana mengelola pendidikan Islam yang maju dan kompetitif. Saya sudah membuat MOU dengan GUPPI yang dipimpin oleh Prof. Fasli Jalal,” ujar Wissam Saad.

    Ia yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam dunia pendidikan di Australia kemudian memaparkan berbagai strategi dalam membangun lembaga pendidikan Islam modern, termasuk tantangan dalam mendidik anak-anak Muslim di negara sekuler.

    Dalam pemaparannya, pria yang lahir di Lebanon itu menekankan pentingnya pemetaan masalah dan penyamaan persepsi sebelum merancang program pendidikan. Menurutnya, kita harus memahami kondisi lingkungan, memetakan masalah, dan menganalisis faktor eksternal seperti ekonomi dan sosial masyarakat. Ini penting agar strategi yang dibuat benar-benar tepat sasaran.

    Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan guru dalam proses pendidikan. Pertemuan rutin antara pihak sekolah dengan orang tua harus dilakukan untuk membangun sinergi sehingga anak-anak dapat memahami masalah yang sedang dihadapi dan mencarikan solusinya.

    Wissam juga menyampaikan beberapa tantangan besar yang dihadapi anak-anak Muslim saat ini seperti aturan yang membatasi seseorang untuk mengoreksi kesalahan orang lain dengan alasan privasi, kecerdasan buatan (AI) hingga LGBTQ.

    Ia mengatakan lembaga pendidikan yang dibangun tidak hanya membentuk anak-anak mendapatkan ilmu agama Islam yang kuat, tetapi juga ilmu umum yang kuat, sehingga bisa menembus masuk perguruan tinggi terbaik di dunia. Masa kanak-kanak awal memberikan fondasi iman, akhlak, dan kepribadian seseorang. Anak-anak usia dini ibarat spons yang belajar dan menyerap berbagai hal serta pengalaman yang akan membentuk kehidupan mereka di masa depan.

    Menurutnya, pendidikan Islam mengajarkan mereka arahan moral yang baik, yang mengajarkan mereka tentang agama, kasih sayang, dan kejujuran. Pendidikan Islam bukan hanya tentang mempelajari ritual keagamaan, tetapi juga menanamkan pola pikir yang menghasilkan kebaikan, disiplin, dan rasa hormat terhadap makhluk hidup lainnya.

    Dr. Wissam Saad kemudian menjelaskan bab demi bab isi dan kandungan Buku Tsaqofah Islamiyah, yang terdiri dari 5 jilid buku yang dipakai di tingkat dasar (SD/MI). Setiap buku membahas 3 bagian, yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak.

    Buku 1 bagian Aqidah membahas 14 topik, bagian ibadah membahas 12 topik dan bagian akhlak membahas 5 topik.

    Buku 2 bagian Aqidah membahas 11 topik, bagian ibadah membahas 13 topik dan bagian akhlak membahas 5 topik.

    Buku 3 bagian Aqidah membahas 11 topik, bagian ibadah membahas 13 topik dan bagian akhlak membahas 7 topik.

    Buku 4 bagian Aqidah membahas 10 topik, bagian ibadah membahas 19 topik dan bagian akhlak membahas 7 topik.

    Buku 5 bagian Aqidah membahas 14 topik, bagian ibadah membahas 15 topik dan bagian akhlak membahas 11 topik.

    Para peserta antusias mengikuti sessi ini, yang kalau di Indonesia mirip dengan pengajian. Dr. Wissam Saad menjelaskan jilid demi jilid, bab demi bab, dengan Bahasa Arab yang fasih dan kadang diselingi dengan Bahasa Inggrism yang kemudian diterjemahkan oleh Ustadz Ghundar Najih, alumni Universitas Lebanon, yang selalu mendampingi dan menjadi penterjemah saat Dr. Wissam Saad di Indonesia.

    Dalam sessi ini Dr. Wissam juga membangun komunikasi aktif dengan para peserta, sehingga para peserta dapat bertanya maupun diskusi langsung sehingga sessi terasa hidup dan berkesan.

    Ada beberapa peserta yang mempunyai kemampuan Bahasa Arab yang bagus sehingga langsung melakukan komunikasi dalam Bahasa Arab, namun sebagian besar kemampuan Bahasa Arab rendah dan perlu penterjamahan. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    112
  • SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    Jakarta (GUPPI)  – Siapa bilang sekolah murah itu tidak bisa berkualitas ? Ternyata banyak sekolah swasta Islam dan madrasah swasta di Indonesia yang bagus dan berkualitas, dan tentu diminati oleh para orang tua untuk meyekolahkan anak-anaknya, dan orang tua tidak mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan sekolah yang bagus dan nyaman untuk belajar.

     Prof. Husni Rahim dari Gerakan Guru Berkualitas (Gerutas) menyampaikan hal ini dalam lanjutan Serial Diskusi yang dilaksanakan oleh DPP GUPPI bekerjasama dengan Gerutas secara online, Rabu malam, 24 September 2025.

     “Sekarang ini kita banyak menemukan sekolah maupun madrasah yang berkualitas tinggi dengan biaya murah, ini terutama terjadi di sekolah dan madrasah swasta. Namun tidak sedikit sekolah dan madrasah negeri yang juga bagus, sekalipun hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari Pemerintah.” kata Husni Rahim.

     Husni Rahim, yang pernah menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama mengatakan bahwa sekolah memang memerlukan dukungan dana, namun dana ternyata bukan menjadi variable utama untuk sekolah itu bagus atau tidak.

     “Saya setuju dengan pandangan bahwa sekolah yang bermutu memerlukan dukungan anggaran yang tidak kecil, namun itu bukan faktor utama dan segalanya. Kita memerlukan guru yang profesional untuk mendukung mutu sekolah, kemudian manajemen sekolah dan baru sarana dan prasarana. Menurut UNDP, guru memegang peranan 48 %, manajemen sekolah itu 30 % dan sarana prasarana itu 22 %. Jadi sebanyak 78 % faktor mutu itu tidak memerlukan biaya mahal,”  tambah Husni Rahim.

     Husni Rahim kemudian menyodorkan gagasan yang dia namakan dengan Sekul Ber-QMR untuk sekolah berkualtias, murah, dan relijius.

    “Q-MR adalah akronim dari Bermutu, Murah dan Relijius. Sebuah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa kualitas, terjangkau dan relijius sebagai branding karakteristik dan kekhasan program ini. Karena itu Sekul Ber Q-MR adalah sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip QMR dalam seluruh aspeknya, baik itu terkait pembelajaran, manajemen, pembiayaan, budaya, hingga kolaborasi. Prinsip Q adalah simbul Kualitas, melambangkan mutu sejati lahir dari proses, bukan dari fasilitas. Sedangkan M adalah simbul Murah, yang melambangkan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat dan R adalah simbul Relijius; melambangkan pendidikan yang bernafaskan nilai spiritual,”  ungkap Husni Rahim.

     Dirinya mengakui bahwa tidak mudah untuk melakukan transformasi kualitas sekolah dari biasa-biasa saja dan murah menjadi sekolah yang unggul dan berprestasi tinggi, namun hal itu bukan sesuatu yang mustahil.

    “Memang tidak mudah untuk melakukan transformasi dari sekolah biasa menjadi sekolah berkualitas dan relijius. Ada 3 tipe orang dalam menghadapi transformasi itu, yaitu mereka yang mengatakan tidak mungkin (impossible), diam (No Comment) dan Sangat Sulit (Very Dificult),”  tambahnya.

     Menurut Husni Rahim, memang sulit untuk melakukan suatu gerakan perubahan, malah sangat sulit. Namun itu bukan sesuatu yang mustahil. Karena sangat sulit itu berarti sulit sekali, bukan sesuatu yang tidak mungkin (impossible).  

    “Sangat sulit itu bukan berarti mustahil (impossible). Suatu perubahan memang biasanya menghadapi tantangan dan kesulitan, dan untuk mendapat hasil yang tinggi pasti akan menghadapi kesulitan yang tinggi pula,”  katanya.

     Ia mengingatkan agar mitos bahwa sekolah bagus itu pasti mahal dan sekolah murah itu kualitasnya pas-pasan mesti dihilangkan.  

    “Kita bisa menyiapkan sekolah yang bagus yang murah dan relijius. Kita hanya perlu melakukan manajemen pembiayaan yang efisien dan transparan, banyak program dengan “in-kind support”, melibatkan masyarakat, pemerintah, alumni dan dunia usaha, melakukan inovasi pembelajaran berbasis potensi local, dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya,”  imbuh Husni Rahim yang saat ini juga Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

     Husni Rahim kemudian menyodorkan trik bagaimana langkah transformasi sekolah dari biasa-biasa menjadi berkualitas, unggul dan relijius.

    “Sekolah harus bisa mengubah mindset bahwa berkualitas itu tidak mahal. Kemudian mempunyai kepemimpinan kepala sekolah yang visoner, menggerakkan dan motor perubahan, manajemen sekolah efisien, transparan dan partisipatif, Berani melakukan inovasi di tengah keterbatasan, mempunyai guru kreatif dan Inovatif, kurikulum kontekstual, pembelajaran aktif, dan siswa belajar dengan harapan dan motivasi tinggi,”  katanya.

     Di akhir paparannya, Husni Rahim menyampaikan sikap optimisne bagaimana GUPPI bisa mewujudkan usaha dan gerakannya agar sekolah di Indonesia itu murah, berkualitas, dan relijius.

    “Sekolah berkualtias, murah dan relijius itu juga merupakan strategi kebangsaan. Karena itu sudah waktunya GUPPI ikut ambil bagian dalam mewujudkan Sekul Ber Q-MR sebagai partisipasi ikut memenuhi janji kemerdekaan negara yang kita cintai ini,” ungkapnya.

     Sementara itu Murtadho dalam tanggapannya menyoroti kurangnya inovasi di sekolah dan madrasah di Indonesia dan kurang mengembangkan potensi yang dimiliki.

    “Mutu sekolah bisa diwujudkan dari berbagai pendekatan, dan kadang tidak mudah dan tidak murah. Ada sekolah yang dianggap bermutu karena para alumninya diterima di perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi elit. Ada juga yang karena sekolahnya banyak menorehkan prestasi berbagai macam lomba,”  kata Murtadho.

     Masalah biaya menurutnya, bisa diatasi dengan membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi yang banyak bermuculan saat ini. Dia menyarankan agar sekolah atau madrasah bisa mengeksplorasi dukungan filantropi dari organisasi keagamaan untuk mendanai inovasi pendidikan dan pelatihan guru maupun fasilitas belajar mengajar di sekolah.

    “Sekolah harus berani melakukan pendekatan dengan lembaga-lembaga amil zakat (Laziz) yang sekarang ini banyak menghimpun dana umat. Bagaimana dana umat itu bisa dikembalikan untuk mendukung pengembangan sumberdaya umat melalui bantuan-bantuan untuk madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Baik itu untuk menambah insentif guru yang belum sertifikasi atau membantu operasional sekolah yang dirasa masih kurang,” imbuh Murtadho yang juga seorang peneliti senior di BRIN.

     Pada sesi yang sama, Suhardi berbagi pengalaman contoh sekolah yang sukses menerapkan model pendanaan kreatif, dan tidak tergantung dengan sumbangan dari orang tua.

    “Seorang Kepala sekolah itu harusnya seorang yang Super Kreatif, tidak boleh biasa-biasa saja. Dia harus bisa meyakinkan orang lain bahwa sekolahnya itu akan maju dan anak-anaknya akan belajar dengan nyaman,” ujar Suhardi.

     Dia mencontohkan ada madrasah di Tangerang Selatan yang bisa maju dengan didukung oleh masyarakat, termasuk dari luar negeri.  

    “Di Tangerang Selatan ini ada madrasah yang dulunya kecil dan mutunya tidak bagus, namun kepala madrasahnya sangat kreatif dan komunikasit dengan masyarakat. Dia sukses menerapkan model pendanaan kreatif, yaitu dengan gerakan orang tua asuh, yang telah menarik donor internasional dan memungkinkan pendidikan gratis untuk anak-anak yatim dan siswa kurang mampu,”  tambah Suhardi yang pernah memimpin MTsN 1 Pamulang Tangerang Selatan.

     Diskusi serial kerjasama antara DPP GUPPI dengan Gerutas yang diikuti oleh Pengurus DPP GUPPI, DPW GUPPI, Kepala Madrasah dan sekolah, Pengurus Gerutas dan praktisi pendidikan ini akan dilanjutkan lagi dua minggu ke depan dengan membahas tentang Tujuh Prinsip Sekul Ber Q-MR; Kompas Sekolah Bermakna. (Tim Media GUPPI).

     

    Komentar

    51
  • GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN  BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    Jakarta. GUPPI – Sebagai tindaklanjut dari Nota Kerjasama antara GUPPI dengan Darul Fatwa Islamic High School Council Australia, DPP GUPPI akan mengadakan kegiatan Pelatihan Implementasi Pembelajaran Buku Tsaqofah Islamiyah yang akan dilaksanakan di Kampus Pusdiklat Kementerian Agama Ciputat, 27 – 30 September 2025.

    Kegiatan pelatihan kali ini akan diikuti oleh 40 Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Dasar dan Pengurus GUPPI dari berbagai daerah.

    Penanggung jawab kegiatan, Rusydi Zakaria, yang juga Sekretaris Jenderal DPP GUPPI mengatakan bahwa kegiatan pelatihan ini dilakukan untuk memberi perspektif baru bagi para kepala madrasah Ibtidayah dan Sekolah Dasar akan cara pandang dan pengalaman mengelola pendidikan Islam kekinian.

    “Kita ingin memberi pengalaman baru bagaimana pengelolaan pendidikan Islam itu dilakukan secara efektif sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Karena itu kita bisa belajar bagaimana Darul Fatwa Australia mengelola sekola-sekolah Islam di Australia”, kata Rusydi Zakaria.

    Ia mengungkapkan bahwa dalam pelatihan nanti para peserta akan dikenalkan dengan buku Tsaqofah Islam yang dipakai oleh sekolah-sekolah Darul Fatwa Australia sebagai buku PAI bagi siswanya.

    “Para peserta akan diperkenalkan dengan buku Tsaqofah Islamiyah yang digunakan di sekolah-sekolah Islam di Australia. Buku ini adalah buku pegangan siswa dalam pemahami ajaran Islam, semacam buku PAI yang kita pakai di sekolah dan madrasah di Indonesia,” tambah Rusydi.

    Rusydi mengatakan bahwa buku Tsaqofah Islamiyah yang di gunakan di sekolah-sekolah Islam Australia itu juga sudah mendapat approval dari Universitas Al Azhar Kairo untuk mengetahui dan mendalami tentang akidah, akhlak dan ibadah yang diharapkan dapat memperkokoh keimanan dan keislaman para siswa.

    “Buku Tsaqofah Islamiyah ini sudah mendapat approval dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir dan akan kita kaji bersama sehingga para peserta dapat memahami pembelajaran Pendidikan agama Islam secaa lebih komprehensif,” ujar Rusydi.

    Tentang Tsaqofah Islamiyah Rusydi memberikan penjelasan lebih luas.

    “Tsaqufa dalam bahasa Arab berarti menjadi cerdas, cekatan, cepat mengerti dan mengetahui.  Seorang yang tsaqif berarti seorang yang cepat dalam memahami. Juga berarti cepat dalam mempelajari. Selain pengertian tersebut, kata tsaqofah juga memiliki pengertian mengalahkan dan mendominasi, membentuk dan memperbaiki. Karena itu buku Tsaqofah Islamiyah ini kita kaji bersama untuk mendapat keluasan cara pandang dan cara beragama yang benar di tengah perkembangan dunia saat ini,” ungkap Rusydi.

    Ia berharap para peserta pelatihan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk beriteraksi dengan para peserta lainnya, termasuk dengan naras umber dari Australia.

    “Kita berharap kawan-kawan peserta dapat berdiskusi dan sharing pengalaman tentang dunia Islam di belahan dunia Islam lainnya sehingga pembelajaran PAI di madrasah dan sekolah dapat membangun pemahaman Islam yang progresif, moderat dan rahmatan lil alamin,” ungkap Rusydi yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

    Sementara itu Ketua Panitia Pelatihan Agus Sholeh mengatakan bahwa MOU antara GUPPI dan Darul Fatwa itu menunjukkan adanya kesamaan visi dalam membangun peradaban Islam yang maju dan bermartabat.

    “MOU antara GUPPI dengan Darul Fatwa Australia itu menunjukkan adanya kesamaan visi dan komitmen dalam memajukan dunia pendidikan Islam, terutama pada sekolah-sekolah Islam swasta. Ada dua tujuan penting dari MOU itu yaitu bagaimana kita mereformasi dan memajukan pendidikan Islam dan mengembangkan keterlibatan masyarakat dalam memajukan pendidikan Islam,” kata Agus Sholeh.

    Menurutnya, pelatihan guru dan kepala sekolah merupakan bagian penting dalam MOU tersebut untuk memberikan perspektif baru baru dalam mengelola sekolah-sekolah Islam di Indonesia.

    “Dalam kerjasama ini kita akan melakukan pertukaran materi pendidikan dan praktik terbaik dalam mengelola pendidikan Islam yang berkualitas, terutama dalam pengembangan kurikulum modern yang memadukan ajaran Islam dengan kemajuan sains kontemporer,” tambah Agus Sholeh yang lama berkiprah di Kementerian Agama.

    Agus memandang penting adanya kolaborasi dengan Darul Fatwa Australia ini ini agar dunia pendidikan GUPPI lebih terbuka dan tidak bersifat elitis dan ekslusif.

    “Kita berharap agar kerjasama yang dilakukan GUPPI ini dapat mendukung masa depan pendidikan Islam Indonesia yang yang lebih baik, seperti yang menjadi visi dan misi GUPPI. Karena itu kerjasama GUPPI ini harus didukung oleh semua pihak sehingga sekolah dan madrasah kita dapat menjadi media dakwah yang efektif kepada masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara,” ujar Agus.

    Agus menambahkan bahwa kegiatan pelatihan GUPPI ini baru dilakukan untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar, sedangkan untuk jenjang RA/TK, MTs/SMP dan MA/SMA sedang disiapkan.

    “Kita sedang menyiapkan rancang pelatihan untuk RA/TK, MTs/SMP dan MA/SMA/SMK. Moga-moga bisa dilaksanakan di tahun 2025 ini,” ungkap Agus. (Tim Media)

     

    Komentar

  • GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    Jakarta (GUPPI) – Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Fasli Jalal, Ph. D menyampaikan ucapan selamat kepada para anggota DPR dan DPD Periode 2024 -2029 yang telah dilantik sesuai dengan Keputusan KPU Hasil Pemilu 2024 pada Selasa, 1 Oktober 2024.    

    “Atas nama DPP GUPPI saya ingin mengucapkan Selamat Mengemban Tugas Baru kepada anggota DPR dan DPD Periode 2024 – 2029. Saya berharap dan mendoakan selalu agar para wakil rakyat dapat mengemban amanah rakyat ini untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia.” kata Fasli Jalal.

    Sebanyak 580 orang calon anggota DPR RI terpilih dan 152 orang calon anggota DPD RI terpilih berdasarkan Surat Keputusan KPU RI tentang Hasil Pemilu 2024 Periode 2024 – 2029 dilantik sebagai wakil rakyat pada Sidang Paripurna 2029 di Gedung Nusantara MPR/DPR RI Senayan, Jakarta.

    Salah satu anggota DPR yang dilantik adalah Rudianto Lalo dari Partai Nasdem Sulawesi Selatan.    

    “Saya bangga dan bahagia ada Pak Rudianto Lalo, yang merupakan Ketua Ikatan Alumni Pesantren GUPPI Samata Kabupaten Gowa, ikut dilantik sebagai anggota DPR dari Partai Nasdem Sulawesi Selatan,” ungkap Fasli Jalal.    

    Menurut Fasli Jalal, para anggota DPR dan DPD adalah orang-orang hebat dan terpilih mewakili rakyat, karena itu mereka harus didukung, dikawal dan didoakan agar dapat mengemban harapan dan doa rakyat agar terus menjaga kesatuan dan kemajuan bangsa ini.    

    “Dengan posisi DPR dan DPD yang sangat strategis ini maka kita berharap mereka dapat membawa bangsa Indonesia akan menjadi negara yang maju dan sejahtera seperti doa-doa kita selama ini, yaitu agar Indonesia menuju  baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” tambah Fasli Jalal.

    Sama dengan periode DPR dan DPD yaitu 2024 – 2029.  Ia berharap agar sektor pendidikan menjadi perhatian serius bagi para anggota DPR dan DPD yang baru ini.   

    “Sektor pendidikan harus menjadi perhatian serius bagi para anggota DPR dan DPD. Hal ini karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas sehingga manusia Indonesia mampu mendorong inovasi, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mewujudkan kesejahteraan bangsa,” ungkap Fasli Jalal.    

    Menurutnya, saat ini Indonesia menghadapi tantangan besar yang harus segera direspon oleh para anggota DPR dan DPD yang baru.    

    “Indonesia menghadapi tiga tantangan besar sekaligus peluang untuk mencapai Indonesia yang maju dan sejahtera. Pertama adalah mewujudkan Indonesia Emas pada 2045. Kedua, memastikan Indonesia memperoleh bonus demografi karena berlimpahnya angkatan kerja dibandingkan penduduk yang belum bekerja atau sudah selesai masa tugasnya. Ketiga, komitmen kita untuk mencapai 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” ungkap Fasli Jalal, yang juga merupakan Rektor Universitas YARSI Jakarta.    

    Ia juga meminta agar DPR dan DPD mengkaji berbagai keputusan untuk mendukung iklim pendidikan Indonesia yang sesuai dengan tantangan zaman.    

    “Kita berharap agar DPR dan DPD bisa mengkaji ulang dan merumuskan kembali manusia Indonesia. Untuk mengatasi ketiga tantangan itu, diperlukan SDM unggul, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab,” katanya.    

    Selanjutnya, ia juga meminta agar anggaran pendidikan ditelaah agar didapat rasa kesetaraan dan keadilan.    

    “Perlu dilakukan penelaahan APBN dan APBD bidang pendidikan guna memastikan perencanaan anggaran pendidikan yang terpadu, satu pintu, untuk memenuhi amanat UUD soal pendidikan yang harus dilaksanakan dalam satu sistem pendidikan nasional. Lalu, dipastikan sinergitas antara perencanaan dan penganggaran pembangunan pendidikan dari tingkat pusat, provinsi, sampai kabupaten/kota,” tambahnya.    

    Tak kalah penting, ia ingin memastikan bahwa anggaran pendidikan digunakan untuk program-program yang memperbaiki hasil belajar siswa dan anggaran pendidikan digunakan secara efektif, efisien, dan akuntabel.    

    “Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu meningkatkan anggaran yang diberikan langsung ke sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan sekolah-sekolah yang hasil belajarnya belum baik agar tambahan anggaran ini bisa mendorong kualitas belajar siswa. Karena sekitar 55 persen APBN untuk pendidikan diberikan langsung ke kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia, perlu ada insentif dan disinsentif yang jelas dan penetapan indikator kinerja utama pemda dalam pencapaian peningkatan mutu pendidikan untuk mempertanggungjawabkan dana APBN yang diberikan langsung ke daerah itu,” harap Fasli yang pernah menjadi Pejabat Tinggi di Bappenas.    

    Sebagai Ketua Umum GUPPI ia menegaskan bahwa GUPPI akan mendukung langkah-langkah DPR dan DPD secara kritis dan konstruktif.    

    “Kita akan dukung langkah-langkah DPR dan DPD yang membangun masyarakat Indonesia menjadi lebih cerdas, maju dan sejahtera. Namun kami juga akan kritis apabila ternyata DPR dan DPD tidak sejalan dengan harapan rakyat Indonesia,” ungkapnya. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    48