
Ilustrasi : Anak-anak belajar dengan antusias
Menembus Batas Skor PISA: Apakah Kita BISA?
“Pisa dan asesmen pendidikan bukanlah sekedar perebutan skor atau rangking, melainkan cermin untuk membangun budaya belajar yang berkelanjutan melalui gerakan BISA: Belajar, Inovatif, Sadar dan Adaptif”
Oleh: Agus Sholeh (Pengurus DPP GUPPI)
Setiap kali hasil PISA diumumkan, perhatian kita kembali tertuju pada skor dan peringkat. Dimana peringkat Indonesia ?. Ada yang merasa lega ketika posisi kita membaik, ada pula yang kecewa ketika angka yang diperoleh masih jauh dari harapan.
PISA memang penting karena memberikan gambaran tentang kemampuan peserta didik dalam membaca, matematika, dan sains, terutama dalam menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan. Namun, apakah pendidikan diarahkan untuk mencapai skor atau peringkat PISA?
Pertanyaan ini penting diajukan karena ada kecenderungan pembelajaran di ruang-ruang kelas kita hanya diarahkan untuk mendapatkan skor PISA yang tinggi, bukan untuk mempersiapkan anak menjadi pembelajar yang mampu menghadapi persoalan kehidupan.
Membaca hasil skor PISA memang harus lebih jernih. Peringkat PISA bersifat relatif. Ketika Indonesia naik, belum tentu seluruh kenaikan itu semata-mata karena kemampuan siswa kita meningkat, tetapi bisa jadi karena negara lain mengalami penurunan.
Sebaliknya, ketika posisi kita turun, bukan berarti kemampuan anak-anak kita pasti memburuk, bisa jadi karena negara lain bergerak lebih cepat. Karena itu, PISA sebaiknya tidak dijadikan arena untuk mencari siapa yang salah atau sekadar bahan perdebatan angka. PISA harus menjadi cermin untuk melihat sejauh mana pendidikan kita berhasil membangun kemampuan berpikir dan menyelesaikan persoalan.
Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita melihat hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Pada jenjang SMP, misalnya, rata-rata Bahasa Indonesia berada pada angka 60,83, sedangkan Matematika 40,34. Pada jenjang SMA, Bahasa Indonesia mencapai 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Pada SMK, Bahasa Indonesia berada pada 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,50. Angka-angka ini tentu bukan vonis terhadap kemampuan anak-anak kita. Justru sebaliknya, ia merupakan alarm agar sekolah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan melihat kembali proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari.
Di sisi lain, perkembangan hasil PISA juga memberi alasan untuk tidak bersikap pesimistis. Skor matematika Indonesia meningkat dari 366 pada 2022 menjadi 389, sementara sains mencapai 389. Data Kemendikdasmen 2023–2024 juga menunjukkan proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum numerasi meningkat dari 45,24 persen menjadi 67,94 persen.
Ada kemajuan yang patut diapresiasi. Dari tahun ke tahun ada indikasi skor mengalami kenaikan dan peringkat di dunia internasional juga ikut meningkat. Tetapi kenaikan skor tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri. Justru ketika ada kenaikan, kita harus terus mawas diri agar perbaikan itu tidak berhenti sebagai kenaikan angka, tetapi menjadi budaya belajar yang berkelanjutan.
Apakah Kita Bisa?
Kadang kita merasa ragu apakah kita bisa mendapatkan hasil PISA dan TKA yang positif. Hal ini karena mata pelajaran yang diasesmen dalam PISA dan TKA masih dianggap sebagai momok bagi sebagian siswa.
Di sinilah tantangan guru dan kepala sekolah untuk meyakinkan bahwa mereka BISA. BISA bukan sekadar keyakinan kosong bahwa “kita pasti bisa”. BISA harus diterjemahkan menjadi sikap dan praktik pendidikan: Belajar, Inovatif, Sadar, dan Adaptif.
Pertama, Belajar. Pendidikan yang ingin menembus batas tidak boleh berhenti pada apa yang sudah diketahui. Siswa harus dibentuk menjadi pembelajar yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Guru pun harus menjadi pembelajar yang terus memperbarui pengetahuan dan kompetensinya.
Di sinilah growth mindset menjadi penting. Anak yang mendapatkan nilai rendah dalam matematika tidak semestinya langsung mengatakan, “Saya memang tidak bisa matematika.” Ia perlu belajar mengatakan, “Saya belum bisa, tetapi saya bisa belajar lagi.” Perubahan dari “tidak bisa” menjadi “belum bisa” tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kemampuan diri.
Menariknya, laporan OECD menunjukkan bahwa modal sosial pendidikan Indonesia sebenarnya cukup kuat. Sebagian besar siswa menyatakan bersedia meminta bantuan teman ketika belum memahami materi. Hal ini sejalan dengan kepedulian para guru yang siap memberikan perhatian kepada peserta didiknya dan berkomitmen untuk terus mengajar sampai siswa memahami pelajaran. Ini adalah modal yang tidak boleh dianggap kecil. Tantangannya adalah bagaimana modal sosial tersebut dikembangkan menjadi budaya belajar yang mendorong keberanian bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba kembali. Budaya semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher-Order Thinking Skills (HOTS).
Kedua, Inovatif. Kita tidak mungkin memperoleh hasil pendidikan yang berbeda jika terus menggunakan cara yang sama tanpa keberanian melakukan pembaruan. Inovasi tidak berarti setiap sekolah harus memiliki teknologi paling canggih. Inovasi dapat dimulai dari cara guru mengajukan pertanyaan, merancang tugas, menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, menghubungkan pelajaran dengan persoalan nyata, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri hubungan antara pengetahuan dan kehidupan.
Karena itu, dorongan terhadap deep learning atau pembelajaran mendalam memiliki relevansi yang besar. Anak tidak cukup mengetahui apa jawabannya, tetapi perlu memahami mengapa jawabannya demikian. Ia tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu menggunakan matematika untuk membaca persoalan. Ia tidak hanya menghafal konsep sains, tetapi mampu mengamati lingkungan dan mencari solusi. Pendidikan Agama Islam, contohnya, tidak cukup berhenti pada hafalan teks keagamaan, tetapi perlu mengajak peserta didik memahami nilai, menghubungkannya dengan persoalan kehidupan, dan menerjemahkannya menjadi tindakan yang memberi kemaslahatan.
Ketiga, Sadar. Kita perlu membangun kesadaran bahwa angka asesmen adalah cermin, bukan tujuan akhir. Sekolah harus berani melihat kelemahan tanpa merasa dipermalukan dan mengakui keberhasilan tanpa cepat berpuas diri. Kesadaran semacam ini penting agar hasil TKA dan PISA benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan pembelajaran.
Guru tidak hanya bertanya, “Berapa nilai siswa saya?”, tetapi, “Mengapa nilainya demikian? Bagian mana yang belum dipahami? Mengapa siswa tertentu cepat menyerah? Apa yang dapat saya ubah dalam cara mengajar?” Dengan kesadaran semacam itu, asesmen tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia berubah menjadi informasi untuk memperbaiki proses belajar.
Keempat, Adaptif. Dunia yang dihadapi anak-anak hari ini tidak sama dengan dunia ketika sebagian besar sistem pendidikan kita dibangun. Anak hidup dalam lingkungan digital, berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar, dan kini memasuki era kecerdasan buatan. Pendidikan yang tidak mampu beradaptasi akan semakin jauh dari kehidupan peserta didik.
Di zaman Artificial Intelligence (AI), teknologi yang semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia perlu ditempatkan secara proporsional. AI bukan mesin pengganti guru dan bukan pula jalan pintas untuk menggantikan proses berpikir siswa. AI justru dapat menjadi mitra dialog untuk menguji argumentasi, mencari sudut pandang alternatif, menemukan kelemahan sebuah jawaban, atau membantu siswa mengeksplorasi persoalan. Karena itu, teknologi harus digunakan untuk memperdalam proses berpikir, bukan memendekkannya.
Peran GUPPI
Pada titik inilah GUPPI memiliki ruang yang sangat strategis. GUPPI tidak cukup hanya berbicara tentang pentingnya pendidikan Islam. Kata “gerakan”, “usaha pembaruan”, dan “pendidikan Islam” menuntut keberanian untuk terus membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam praktik pendidikan. Pembaruan tidak berarti meninggalkan nilai dan tradisi Islam, tetapi menghadirkan nilai-nilai tersebut dengan cara yang relevan, kontekstual, dan mampu menjawab tantangan baru.
Menembus batas PISA dan TKA karena itu bukan pekerjaan satu pihak saja. Ia membutuhkan gerakan bersama. Kita membutuhkan guru yang mau terus belajar, sekolah yang berani berinovasi, pemimpin pendidikan yang sadar terhadap persoalan, dan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan.
Kita juga membutuhkan pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan anak yang mengetahui ajaran agama, tetapi juga memiliki daya pikir, daya juang, akhlak, kreativitas, dan kemampuan menghadirkan solusi.
GUPPI harus berada di dalam gerakan tersebut. Bukan sekadar menjadi penonton yang mengomentari skor setelah hasil asesmen diumumkan, tetapi menjadi bagian dari usaha pembaruan yang mendorong sekolah dan madrasah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak sekadar membutuhkan generasi yang mampu menembus batas skor PISA dan TKA. Kita membutuhkan generasi yang mampu menembus batas dirinya sendiri. Dan untuk sampai ke sana, kita harus percaya bahwa pendidikan kita BISA: Belajar, Inovatif, Sadar, dan Adaptif.
Itulah semangat pembaruan yang tidak boleh berhenti sebagai slogan. BISA harus menjadi gerakan di sekolah dan madrasah GUPPI.
Menembus Batas Skor PISA: Apakah
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
Belajar Kehidupan Dari Pondok Pabelan:
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
Rindu Kami Padamu, Ya Rasul:
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
GUPPI Dukung PPPK Penuh Waktu,
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
Setelah 81 Tahun Merdeka, Apakah
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
Geliat GUPPI di Ujung Banten:
Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam Search Beranda Berita Artikel Agenda…
Komentar
© Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam














































