Kategori: Artikel

  • Menembus Batas Skor PISA: Apakah Kita BISA?

    Menembus Batas Skor PISA: Apakah Kita BISA?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ilustrasi : Anak-anak belajar dengan antusias

    Menembus Batas Skor PISA: Apakah Kita BISA?

    “Pisa dan asesmen pendidikan bukanlah sekedar perebutan skor atau rangking, melainkan cermin untuk membangun budaya belajar yang berkelanjutan melalui gerakan BISA: Belajar, Inovatif, Sadar dan Adaptif”

    Oleh: Agus Sholeh (Pengurus DPP GUPPI)

    Setiap kali hasil PISA diumumkan, perhatian kita kembali tertuju pada skor dan peringkat. Dimana peringkat Indonesia ?.  Ada yang merasa lega ketika posisi kita membaik, ada pula yang kecewa ketika angka yang diperoleh masih jauh dari harapan.

    PISA memang penting karena memberikan gambaran tentang kemampuan peserta didik dalam membaca, matematika, dan sains, terutama dalam menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan. Namun, apakah pendidikan diarahkan untuk mencapai skor atau peringkat PISA?

    Pertanyaan ini penting diajukan karena ada kecenderungan pembelajaran di ruang-ruang kelas kita hanya diarahkan untuk mendapatkan skor PISA yang tinggi, bukan untuk mempersiapkan anak menjadi pembelajar yang mampu menghadapi persoalan kehidupan.

    Membaca hasil skor PISA memang harus lebih jernih. Peringkat PISA bersifat relatif. Ketika Indonesia naik, belum tentu seluruh kenaikan itu semata-mata karena kemampuan siswa kita meningkat, tetapi bisa jadi karena negara lain mengalami penurunan.

    Sebaliknya, ketika posisi kita turun, bukan berarti kemampuan anak-anak kita pasti memburuk, bisa jadi karena negara lain bergerak lebih cepat. Karena itu, PISA sebaiknya tidak dijadikan arena untuk mencari siapa yang salah atau sekadar bahan perdebatan angka. PISA harus menjadi cermin untuk melihat sejauh mana pendidikan kita berhasil membangun kemampuan berpikir dan menyelesaikan persoalan.

    Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita melihat hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA). Pada jenjang SMP, misalnya, rata-rata Bahasa Indonesia berada pada angka 60,83, sedangkan Matematika 40,34. Pada jenjang SMA, Bahasa Indonesia mencapai 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Pada SMK, Bahasa Indonesia berada pada 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,50. Angka-angka ini tentu bukan vonis terhadap kemampuan anak-anak kita. Justru sebaliknya, ia merupakan alarm agar sekolah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan melihat kembali proses pembelajaran yang berlangsung setiap hari.

    Di sisi lain, perkembangan hasil PISA juga memberi alasan untuk tidak bersikap pesimistis. Skor matematika Indonesia meningkat dari 366 pada 2022 menjadi 389, sementara sains mencapai 389. Data Kemendikdasmen 2023–2024 juga menunjukkan proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum numerasi meningkat dari 45,24 persen menjadi 67,94 persen.

    Ada kemajuan yang patut diapresiasi. Dari tahun ke tahun ada indikasi skor mengalami kenaikan dan peringkat di dunia internasional juga ikut meningkat. Tetapi kenaikan skor tidak boleh membuat kita cepat berpuas diri. Justru ketika ada kenaikan, kita harus terus mawas diri agar perbaikan itu tidak berhenti sebagai kenaikan angka, tetapi menjadi budaya belajar yang berkelanjutan.

    Apakah Kita Bisa?

    Kadang kita merasa ragu apakah kita bisa mendapatkan hasil PISA dan TKA yang positif. Hal ini karena mata pelajaran yang diasesmen dalam PISA dan TKA masih dianggap sebagai momok bagi sebagian siswa.

    Di sinilah tantangan guru dan kepala sekolah untuk meyakinkan bahwa mereka BISA. BISA bukan sekadar keyakinan kosong bahwa “kita pasti bisa”. BISA harus diterjemahkan menjadi sikap dan praktik pendidikan: Belajar, Inovatif, Sadar, dan Adaptif.

    Pertama, Belajar. Pendidikan yang ingin menembus batas tidak boleh berhenti pada apa yang sudah diketahui. Siswa harus dibentuk menjadi pembelajar yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Guru pun harus menjadi pembelajar yang terus memperbarui pengetahuan dan kompetensinya.

    Di sinilah growth mindset menjadi penting. Anak yang mendapatkan nilai rendah dalam matematika tidak semestinya langsung mengatakan, “Saya memang tidak bisa matematika.” Ia perlu belajar mengatakan, “Saya belum bisa, tetapi saya bisa belajar lagi.” Perubahan dari “tidak bisa” menjadi “belum bisa” tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan perubahan cara pandang terhadap kemampuan diri.

    Menariknya, laporan OECD menunjukkan bahwa modal sosial pendidikan Indonesia sebenarnya cukup kuat. Sebagian besar siswa menyatakan bersedia meminta bantuan teman ketika belum memahami materi. Hal ini sejalan dengan kepedulian para guru yang siap memberikan perhatian kepada peserta didiknya dan berkomitmen untuk terus mengajar sampai siswa memahami pelajaran. Ini adalah modal yang tidak boleh dianggap kecil. Tantangannya adalah bagaimana modal sosial tersebut dikembangkan menjadi budaya belajar yang mendorong keberanian bertanya, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan mencoba kembali. Budaya semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher-Order Thinking Skills (HOTS).

    Kedua, Inovatif. Kita tidak mungkin memperoleh hasil pendidikan yang berbeda jika terus menggunakan cara yang sama tanpa keberanian melakukan pembaruan. Inovasi tidak berarti setiap sekolah harus memiliki teknologi paling canggih. Inovasi dapat dimulai dari cara guru mengajukan pertanyaan, merancang tugas, menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, menghubungkan pelajaran dengan persoalan nyata, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan sendiri hubungan antara pengetahuan dan kehidupan.

    Karena itu, dorongan terhadap deep learning atau pembelajaran mendalam memiliki relevansi yang besar. Anak tidak cukup mengetahui apa jawabannya, tetapi perlu memahami mengapa jawabannya demikian. Ia tidak hanya menghafal rumus, tetapi mampu menggunakan matematika untuk membaca persoalan. Ia tidak hanya menghafal konsep sains, tetapi mampu mengamati lingkungan dan mencari solusi. Pendidikan Agama Islam, contohnya, tidak cukup berhenti pada hafalan teks keagamaan, tetapi perlu mengajak peserta didik memahami nilai, menghubungkannya dengan persoalan kehidupan, dan menerjemahkannya menjadi tindakan yang memberi kemaslahatan.

    Ketiga, Sadar. Kita perlu membangun kesadaran bahwa angka asesmen adalah cermin, bukan tujuan akhir. Sekolah harus berani melihat kelemahan tanpa merasa dipermalukan dan mengakui keberhasilan tanpa cepat berpuas diri. Kesadaran semacam ini penting agar hasil TKA dan PISA benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan pembelajaran.

    Guru tidak hanya bertanya, “Berapa nilai siswa saya?”, tetapi, “Mengapa nilainya demikian? Bagian mana yang belum dipahami? Mengapa siswa tertentu cepat menyerah? Apa yang dapat saya ubah dalam cara mengajar?” Dengan kesadaran semacam itu, asesmen tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia berubah menjadi informasi untuk memperbaiki proses belajar.

    Keempat, Adaptif. Dunia yang dihadapi anak-anak hari ini tidak sama dengan dunia ketika sebagian besar sistem pendidikan kita dibangun. Anak hidup dalam lingkungan digital, berhadapan dengan arus informasi yang sangat besar, dan kini memasuki era kecerdasan buatan. Pendidikan yang tidak mampu beradaptasi akan semakin jauh dari kehidupan peserta didik.

    Di zaman Artificial Intelligence (AI), teknologi yang semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia perlu ditempatkan secara proporsional. AI bukan mesin pengganti guru dan bukan pula jalan pintas untuk menggantikan proses berpikir siswa. AI justru dapat menjadi mitra dialog untuk menguji argumentasi, mencari sudut pandang alternatif, menemukan kelemahan sebuah jawaban, atau membantu siswa mengeksplorasi persoalan. Karena itu, teknologi harus digunakan untuk memperdalam proses berpikir, bukan memendekkannya.

    Peran GUPPI

    Pada titik inilah GUPPI memiliki ruang yang sangat strategis. GUPPI tidak cukup hanya berbicara tentang pentingnya pendidikan Islam. Kata “gerakan”, “usaha pembaruan”, dan “pendidikan Islam” menuntut keberanian untuk terus membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam praktik pendidikan. Pembaruan tidak berarti meninggalkan nilai dan tradisi Islam, tetapi menghadirkan nilai-nilai tersebut dengan cara yang relevan, kontekstual, dan mampu menjawab tantangan baru.

    Menembus batas PISA dan TKA karena itu bukan pekerjaan satu pihak saja. Ia membutuhkan gerakan bersama. Kita membutuhkan guru yang mau terus belajar, sekolah yang berani berinovasi, pemimpin pendidikan yang sadar terhadap persoalan, dan sistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan.

    Kita juga membutuhkan pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan anak yang mengetahui ajaran agama, tetapi juga memiliki daya pikir, daya juang, akhlak, kreativitas, dan kemampuan menghadirkan solusi.

    GUPPI harus berada di dalam gerakan tersebut. Bukan sekadar menjadi penonton yang mengomentari skor setelah hasil asesmen diumumkan, tetapi menjadi bagian dari usaha pembaruan yang mendorong sekolah dan madrasah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dari waktu ke waktu.

    Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak sekadar membutuhkan generasi yang mampu menembus batas skor PISA dan TKA. Kita membutuhkan generasi yang mampu menembus batas dirinya sendiri. Dan untuk sampai ke sana, kita harus percaya bahwa pendidikan kita BISA: Belajar, Inovatif, Sadar, dan Adaptif.

    Itulah semangat pembaruan yang tidak boleh berhenti sebagai slogan. BISA harus menjadi gerakan di sekolah dan madrasah GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    26
  • Belajar Kehidupan Dari Pondok Pabelan: Refleksi 61 Tahun Pondok Pesantren Pabelan

    Belajar Kehidupan Dari Pondok Pabelan: Refleksi 61 Tahun Pondok Pesantren Pabelan

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Belajar Kehidupan Dari Pondok Pabelan : Refleksi 61 Tahun Pondok Pesantren Pabelan

    Oleh: Agus Sholeh

    Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dari sebuah tempat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup cukup panjang. Bukan semata-mata karena lingkungannya yang asri, sungainya yang mengalirkan air kehidupan, atau banyaknya orang yang pernah belajar di dalamnya.

    Ternyata, memang ada nilai-nilai yang perlahan tumbuh melalui keseharian, mingguan, bulanan hingga tahunan, baik itu dari cara lingkungan menyapa, orang-orang saling memberi keramahan, cara belajar disiplin, bekerja bersama, praktik hidup sederhana, hingga bagaimana belajar menghargai sesama. Barangkali, di situlah salah satu pengalaman selama mondok di Pondok Pesantren Pabelan Magelang.

    Memasuki usia ke-61 pada 28 Agustus 2026, Pabelan bukan hanya layak dikenang sebagai sebuah pesantren dengan sejarah panjang. Lebih dari itu, perjalanan Pabelan mengajak kita kembali bertanya tentang makna pendidikan. Pendidikan ternyata bukan sekadar membuat seseorang tahu lebih banyak, tetapi juga memberi ruang untuk mengalami, menghayati, dan membiasakan nilai-nilai itu dalam kehidupan. Apa yang dipelajari di ruang kelas menjadi lebih bermakna ketika menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

    Terletak di kabupaten Magelang, tidak jauh dari Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Akademi Militer, Pabelan tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan sejarah, kebudayaan, tradisi pendidikan, dan kehidupan masyarakat. Selama lebih dari enam dekade, pesantren ini menjadi salah satu simpul penting pendidikan Islam yang mempertemukan ilmu, kehidupan, dan kebersamaan. Di Pabelan, belajar tidak berhenti ketika pelajaran di kelas selesai. Kehidupan sehari-hari justru menjadi bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.

    Dari Desa, Lahir Gagasan Besar

    Pondok Pabelan memiliki sejarah yang lebih panjang daripada usia 61 tahun. Cikal bakal tradisi pendidikannya telah tumbuh sejak abad ke-19 melalui pengajian yang dirintis Kiai Raden Muhammad Ali. Setelah mengalami masa kevakuman, tradisi tersebut dibangkitkan kembali oleh K.H. Hamam Dja’far pada 28 Agustus 1965 dengan sistem dan kurikulum yang lebih modern.

    Perjalanan K.H. Hamam Dja’far sendiri memberikan pelajaran tentang keberanian melakukan pembaruan. Setelah belajar di Tebu Ireng, ia menempuh pendidikan sekitar sebelas tahun di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di sana ia berguru kepada tiga pendiri Gontor, yaitu K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainudin Fananie, dan K.H. Imam Zarkasyi. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia memilih kembali ke kampung halaman dan pada usia 25 tahun mendirikan kembali Balai Pendidikan Pondok Pabelan.

    Pilihan untuk pulang ke desa itu mengandung pesan yang relevan hingga hari ini, bahwa Pembaruan pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kota besar. Gagasan besar dapat tumbuh dari desa ketika ada visi, keberanian, ketekunan, dan kesediaan mengabdikan ilmu kepada masyarakat. Pabelan adalah salah satu buktinya.

    Salah satu kekuatan Pabelan terletak pada cara pendidikan ditempatkan sebagai kehidupan. Santri tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi hidup dalam ekosistem pendidikan selama 24 jam: belajar agama dan ilmu pengetahuan, berorganisasi, menjalani disiplin, berlatih kepemimpinan, memikul tanggung jawab, dan belajar hidup bersama.

    Organisasi pelajar, misalnya, memberikan ruang kepada santri untuk belajar mengelola kehidupan pondok secara nyata. Santri senior memperoleh tanggung jawab menjalankan berbagai kegiatan di bawah pengawasan dan bimbingan pimpinan pondok. Dengan cara itu, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kecakapan, dan kreativitas tidak berhenti sebagai teori, tetapi ditempa menjadi kebiasaan.

    Di sinilah salah satu pelajaran penting Pabelan bahwa karakter tidak cukup diajarkan, tetapi harus dialami. Anak tidak akan menjadi mandiri hanya karena mendengar teori tentang kemandirian. Ia harus diberi kesempatan memikul tanggung jawab. Kepemimpinan tidak cukup dibicarakan dalam seminar. Ia harus dilatih melalui pengalaman nyata memimpin.

    Begitu pula kebersamaan dan toleransi. Keduanya tidak akan tumbuh kuat hanya melalui slogan. Ia membutuhkan pengalaman hidup bersama, saling memahami, dan saling bertanggung jawab.Pesantren, pada akhirnya, bukan sekadar sekolah. Ia adalah laboratorium kehidupan.

    Kenangan yang Menjadi Nilai

    Sebagai alumni, saya melihat pendidikan Pabelan bukan hanya sebagai sebuah sistem, tetapi sebagai pengalaman hidup.

    Ada masa ketika kehidupan santri berlangsung sederhana. Tidak banyak fasilitas seperti yang dinikmati generasi sekarang. Namun justru dalam kesederhanaan itu tumbuh banyak pengalaman yang sulit dilupakan, yaitu bagaimana belajar mengatur diri, hidup bersama teman yang berbeda latar belakang, bekerja sama, berbagi, menerima tanggung jawab, dan menikmati alam sekitar.

    Kali Pabelan, misalnya, bukan sekadar aliran air. Bagi santri putra pada masa itu, sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, menjadi tempat mandi pagi dan sore, bermain pasir dan batu kali, sekaligus menikmati alam yang masih hijau. Ruang-ruang kehidupan semacam itulah yang tanpa disadari ikut menjadi ruang pendidikan.

    Hari ini kita sering berbicara tentang experiential learning, pembelajaran berbasis pengalaman, pendidikan karakter, student leadership, dan environmental education. Pabelan sebenarnya telah lama mempraktikkan semangat tersebut melalui kehidupan sehari-hari.

    Keunikan Pabelan semakin terasa ketika ditempatkan dalam lanskap pendidikan Magelang yang harmoni.

    Tidak jauh dari Pabelan terdapat SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, sekolah Katolik berasrama yang mengembangkan karakter, kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan kehidupan komunitas. Ada pula Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo yang memiliki tradisi panjang pendidikan pesantren. Di kawasan yang sama tumbuh SMA Taruna Muhammadiyah Gunungpring Muntilan dengan budaya disiplin, religiusitas, ketarunaan, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan.

    Masing-masing memiliki sejarah, filosofi, identitas keagamaan, dan sistem pendidikan yang berbeda. Namun perbedaan itu justru memperlihatkan kekayaan Magelang.

    Pabelan tidak harus menjadi Van Lith. Van Lith tidak harus menjadi Pabelan. API Tegalrejo tidak harus menjadi sekolah modern. SMA Taruna Muhammadiyah tidak harus kehilangan identitas kemuhammadiyahannya.

    Mereka boleh berbeda. Yang diperlukan adalah kemampuan untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa. Harmoni bukanlah penyeragaman. Harmoni adalah kemampuan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan.

    Dalam konteks Indonesia yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan identitas, pengalaman Pondok Pabelan Magelang menjadi pelajaran penting. Pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang pintar, tetapi manusia yang mampu hidup bersama orang lain yang berbeda. Karena itu, Harmoni Magelang sesungguhnya merupakan pendidikan kebangsaan.

    Pendidikan yang Merawat Bumi

    Warisan Pabelan juga tidak berhenti pada pembentukan manusia. Kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pesantren.

    Pada 1980, Pabelan memperoleh Aga Khan Award for Architecture. Dua tahun kemudian, Pabelan memperoleh penghargaan Kalpataru atas komitmennya terhadap penataan dan pelestarian lingkungan hidup. Jejak tersebut kemudian menemukan relevansinya kembali melalui penghargaan Ekopesantren Award 2024.

    Rangkaian tersebut menunjukkan adanya kesinambungan. Perhatian terhadap lingkungan binaan dan arsitektur berkembang menjadi kepedulian terhadap kelestarian alam dan kemudian semakin relevan dengan gagasan ekopesantren.

    Di tengah krisis ekologis dan perubahan iklim, pesan Pabelan menjadi semakin penting bahwa pendidikan Islam yang paripurna tidak hanya mengajarkan hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa manusia memiliki amanah untuk merawat bumi.

    Menjaga lingkungan bukan tambahan dari pendidikan. Ia adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

    Apa yang Bisa Dipelajari?

    Bagi dunia pendidikan Islam, pengalaman Pabelan memberikan sejumlah pelajaran penting.

    Pertama, pembaruan pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pergantian kurikulum. Ia harus menyentuh budaya lembaga dan cara manusia belajar menjalani kehidupan.

    Kedua, pendidikan karakter tidak akan efektif jika hanya disampaikan sebagai materi. Karakter harus dibangun melalui keteladanan, pembiasaan, tanggung jawab, dan pengalaman nyata.

    Ketiga, kepemimpinan harus diberi ruang untuk tumbuh. Anak-anak perlu dipercaya, diberi tanggung jawab, didampingi, dan belajar dari pengalaman.

    Keempat, pendidikan Islam harus mampu hidup berdampingan dengan keragaman tanpa kehilangan identitasnya.

    Kelima, sekolah dan pesantren tidak boleh tercerabut dari masyarakat dan lingkungan. Pendidikan harus menjadi kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

    Bagi organisasi dan lembaga pendidikan Islam, pengalaman Pabelan mengingatkan bahwa pembaruan pendidikan sejatinya adalah pembaruan manusia dan budaya pendidikan. Kita membutuhkan lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik baik, tetapi juga manusia yang berkarakter, mandiri, mampu memimpin, menghargai perbedaan, peduli kepada masyarakat, dan bertanggung jawab terhadap bumi.

    Menjadi Mata Air

    Enam puluh satu tahun perjalanan Pondok Pabelan menunjukkan bahwa Pondok Pabelan tidak lagi disebut muda, karena sudah melalui begitu banyak lika-liku dan dinamika perkembangan dan tantangan zaman.

    Karena itu, HUT ke-61 Pabelan adalah kesempatan untuk bertanya Apa yang hendak kita wariskan kepada generasi berikutnya?

    Kita perlu mewariskan semangat pembaruan yang telah dirintis oleh Almarhum KH Hamam Dja’far yang telah membangun keberanian mendidik manusia melalui kehidupan nyata, kesediaan hidup dalam keberagaman, kepedulian kepada masyarakat, dan kesadaran menjaga bumi. Itulah warisan yang membuat sebuah lembaga pendidikan tetap hidup melampaui zamannya.

    Selamat ulang tahun ke-61, Pondok Pesantren Pabelan.

    Teruslah menjadi mata air yang menyejukkan, rumah yang menanam nilai, ruang yang mempertemukan perbedaan, dan pesantren yang terus menenun harmoni untuk umat, bangsa, dan negara.

    Pabelan boleh menua. Tetapi nilai-nilainya tidak boleh kehilangan masa depan.

    – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – 

    Agus Sholeh

    Alumni Pondok Pabelan

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    46
  • Rindu Kami Padamu, Ya Rasul: Ketika Pesan Nabi Diuji di Tengah Kerusakan Ekologi

    Rindu Kami Padamu, Ya Rasul: Ketika Pesan Nabi Diuji di Tengah Kerusakan Ekologi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ilustrasi : Kerusakan Lingkungan Akibat Tambang (foto Tempo.co)

    Rindu Kami Padamu, Ya Rasul: Ketika Pesan Nabi Diuji di Tengah Situasi Kerusakan Ekologi

    “Rindu kami padamu, ya Rasul. Rindu tiada terperi. Berabad jarak darimu, ya Rasul, serasa dikau di sini.”

    Lantunan lagu Bimbo itu terasa istimewa ketika kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita bershalawat, mengenang perjuangan Rasulullah, dan mengungkapkan kerinduan kepada manusia agung yang membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

    Di sejumlah sekolah dan madrasah, kadang diawali dengan pembiasaan Apel Pagi, kemudian dilanjutkan dengan penampilan Hardroh dari peserta didik dengan membawakan sholawat-sholawat yang mengagungkan Nabi Muhammad SAW.

    Kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Barzanji atau Marhaba oleh petugas yang telah dipilih dan diikuti oleh seluruh warga sekolah atau madrasah

    Acara inti dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, Tanbih dan Tawassul. Kemudian biasanya dilanjutkan dengan ceramah Maulid Nabi yang isinya tentang Keutamaan Sifat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki sebagai Al Amin.

    Namun, di tengah peringatan Maulid tahun ini, ada pertanyaan yang layak kita ajukan, yaitu benarkah kita rindu kepada Rasulullah? Atau kerinduan itu berhenti pada lantunan lagu, shalawat, dan seremonial?

    Salah satu ujian pesan itu hari ini adalah kerusakan ekologi. Hutan mengering. Kebakaran terjadi. Sumber air semakin sulit di sejumlah wilayah. Sungai tercemar. Tanah kehilangan daya dukung. Petani menghadapi ketidakpastian. Ekonomi masyarakat ikut tertekan.

    Lalu ketika hujan datang, persoalannya berubah. Banjir, longsor, jalan terputus, sawah rusak, dan aktivitas ekonomi terganggu. Kita seperti hidup di antara dua kecemasan, dimana ketika air tidak datang, kita kesulitan, dan saat air datang terlalu banyak, bencana mengancam.

    Tentu tidak semua bencana dapat disederhanakan sebagai akibat ulah manusia. Alam memiliki dinamika sendiri. Tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa perilaku manusia dapat menjadi sumber kerusakan. Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

    Kerusakan ekologis bukan semata-mata persoalan teknis. Ia persoalan moral. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, sungai dipenuhi limbah, kawasan resapan berubah menjadi bangunan, dan alam diperlakukan sebagai komoditas, manusia sedang mempertaruhkan keseimbangan kehidupan.

    Al-Qur’an juga mengingatkan: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki…” (QS. Al-A’raf: 56). Pesan ini menunjukkan bahwa menjaga bumi bukan agenda baru yang muncul karena kesadaran lingkungan modern. Ia memiliki akar kuat dalam ajaran Islam.

    Manusia diberi kedudukan sebagai khalifah di bumi. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, Allah menyampaikan kehendak-Nya menjadikan khalifah di bumi. Menjadi khalifah berarti memikul amanah mengelola kehidupan secara bertanggung jawab.

    Manusia sering lupa diri.

    Kita lupa bahwa air adalah nikmat, hutan menjaga sumber kehidupan, dan tanah menyediakan pangan. Kita sering baru menghargai nikmat setelah terganggu.

    Ketika sumur mengering, kita panik mencari air. Ketika banjir dan longsor datang, kita baru menyadari pentingnya hutan dan daerah resapan.

    Barangkali masalahnya bukan hanya alam yang berubah. Bisa jadi manusia juga berubah dari makhluk yang bersyukur menjadi makhluk yang terlalu banyak mengambil.

    Syukur dalam Islam tidak cukup diucapkan dengan “alhamdulillah”. Syukur juga berarti menjaga nikmat dan menggunakannya secara bertanggung jawab. Jika air adalah nikmat, maka jangan diboroskan. Jika hutan adalah nikmat, maka jangan dihancurkan. Jika bumi adalah amanah, maka jangan diperlakukan seolah-olah tidak akan pernah dimintai pertanggungjawaban.

    Dalam hal ini, teladan Rasulullah sangat menarik. Nabi mengajarkan agar manusia tidak berlebihan. Riwayat tentang Nabi menegur sikap berlebihan dalam berwudu, meskipun seseorang berada di dekat sungai yang mengalir, menunjukkan kuatnya prinsip kesederhanaan. Riwayat tersebut terdapat dalam Sunan Ibn Majah, meski dinilai lemah oleh sebagian ahli hadis.

    Ada pula hadis yang kuat. Rasulullah bersabda bahwa seorang Muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, maka hal itu menjadi sedekah baginya (HR. Bukhari).

    Indah cara Nabi memandang kehidupan. Sebatang pohon bukan sekadar kayu. Tanaman bukan hanya komoditas. Ketika makhluk lain mendapatkan manfaat darinya, manusia yang menanam memperoleh nilai ibadah.

    Inilah semangat ekoteologi, yaitu melihat alam bukan sekadar benda yang dapat dieksploitasi, tetapi ciptaan Allah yang harus dihormati dan dirawat.

    Ekoteologi mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam juga memiliki dimensi spiritual. Merawat sungai dapat menjadi bentuk tanggung jawab. Menanam pohon dapat menjadi amal. Menghemat air dapat menjadi wujud syukur. Mengurangi sampah dapat menjadi bagian dari akhlak.

    Karena itu, Maulid Nabi tidak seharusnya berhenti pada kemeriahan perayaannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah Maulid kita menjadi manusia yang lebih baik dalam memperlakukan ciptaan Allah?

    Kita sering mengatakan Rasulullah adalah rahmat bagi semesta alam. Konsep rahmah tidak boleh berhenti pada hubungan antarmanusia, tetapi juga harus mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

    Bagaimana mungkin kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi membiarkan sungai menjadi tempat sampah dan hutan rusak? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang Islam sebagai rahmat, tetapi membiarkan pembangunan mengorbankan masyarakat kecil dan generasi mendatang?

    Kerusakan ekologis juga berkaitan dengan kesulitan ekonomi. Masyarakat miskin sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya. Petani kehilangan hasil panen, warga kehilangan rumah karena banjir atau longsor, dan harga pangan dapat meningkat ketika produksi terganggu.

    Karena itu, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan pohon dan sungai. Menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan manusia.

    Di sinilah pesan Rasulullah kembali menemukan relevansinya. Rahmah berarti menghadirkan kemaslahatan. Amanah berarti tidak mengambil lebih dari yang seharusnya. Keadilan berarti tidak membebankan keuntungan hari ini kepada generasi esok.

    Maka Maulid Nabi tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk mengoreksi cara hidup kita. Kita boleh bershalawat dan mengadakan kegiatan keagamaan. Tetapi semua itu kehilangan sebagian maknanya jika setelah acara selesai kita kembali boros, serakah, membuang sampah sembarangan, dan tidak peduli terhadap lingkungan.

    Untuk itu kita bisa mulai dari hal sederhana dengan menggunakan air secukupnya, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga sungai, tidak membakar lahan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

    Kita juga membutuhkan perubahan cara berpikir. Bumi bukan sekadar bahan baku, melainkan rumah bersama. Pembangunan bukan hanya tentang seberapa banyak yang dapat kita ambil, tetapi seberapa baik kita meninggalkan kehidupan bagi generasi berikutnya.

    Mungkin inilah makna kerinduan kepada Rasulullah yang perlu kita bawa ke Maulid 2026, yaitu rindu kepada akhlaknya, yang rahmah, amanah, kesederhanaan, keadilan, dan kepedulian terhadap kehidupan.

    Manusia sering lupa diri ketika memiliki kekuasaan, ilmu, dan kekayaan. Kita lupa bahwa semua itu titipan dan bumi bukan warisan yang boleh kita habiskan, melainkan amanah yang harus kita teruskan.

    Ketika hutan kering, air sulit, ekonomi tertekan, lalu hujan datang membawa banjir dan longsor, mungkin saatnya kita tidak hanya bertanya, “Mengapa alam berubah?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang telah kita lakukan terhadap alam?”

    Barangkali alam sedang mengingatkan manusia agar sadar. Maka ketika kita menyanyikan, “Rindu kami padamu, ya Rasul,” jangan biarkan kerinduan itu berhenti di bibir.

    Rindu harus menjadi akhlak. Rindu harus menjadi tanggung jawab. Rindu harus menjadi tindakan. Sebab Rasulullah tidak hanya meninggalkan nama untuk dikenang. Beliau meninggalkan jalan untuk ditempuh. Dan di tengah kerusakan ekologi yang nyata, jalan itu sedang diuji.

    Semoga Maulid Nabi 2026 tidak hanya membuat kita semakin banyak bershalawat, tetapi juga menjaga bumi, mensyukuri air, merawat hutan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

    Itulah bentuk kerinduan yang nyata kepada Rasulullah, bukan hanya menyebut namanya dengan cinta, tetapi menjalankan pesan yang beliau bawa.

    (Agus Sholeh)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    15
  • GUPPI Dukung PPPK Penuh Waktu, Dorong Guru Tetap Mengabdi di Sekolah Lama

    GUPPI Dukung PPPK Penuh Waktu, Dorong Guru Tetap Mengabdi di Sekolah Lama

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Dukung PPPK Penuh Waktu, Dorong Guru Tetap Mengabdi di Sekolah Lama

    JAKARTA — Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) menyambut positif kesepakatan pemerintah dan DPR RI terkait penataan status guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), termasuk rencana pengangkatan PPPK paruh waktu menjadi PPPK penuh waktu.

    GUPPI menilai kebijakan tersebut merupakan langkah penting untuk memberikan kepastian status kepegawaian, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus memperkuat profesionalisme guru. Namun, di tengah dukungan tersebut, GUPPI meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap aspek penempatan guru agar kebijakan peningkatan kesejahteraan tidak menimbulkan persoalan baru bagi sekolah dan madrasah.

    Ketua Umum GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D., mengatakan bahwa negara memang perlu memberikan kepastian kepada para guru yang selama bertahun-tahun mengabdi, terutama mereka yang sebelumnya berstatus honorer dan memiliki kesejahteraan yang belum memadai.

    “GUPPI sangat mengapresiasi kebijakan pemerintah ini. Ini merupakan bentuk keberpihakan negara kepada guru. Selama ini banyak guru honorer yang mengabdi puluhan tahun dengan kesejahteraan yang belum layak. Dengan status PPPK penuh waktu, guru akan memiliki kepastian karier dan dapat lebih fokus menjalankan tugas mencerdaskan anak bangsa,” ujar Prof. Fasli, Sabtu (21/8/2026).

    Menurutnya, peningkatan kesejahteraan guru harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pendidikan nasional. Guru yang memperoleh kepastian status dan penghasilan akan memiliki ruang yang lebih baik untuk mengembangkan kompetensi, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memberikan pelayanan pendidikan secara lebih optimal.

    Namun demikian, GUPPI mengingatkan bahwa kebijakan tersebut perlu dilaksanakan secara bertahap, terencana, dan didukung oleh kesiapan anggaran negara.

    “Kami berharap pemerintah menyiapkan anggaran yang diperlukan mulai 2027. Kebutuhan pembiayaan tersebut harus diperhitungkan secara cermat agar tidak mengganggu kondisi fiskal. Karena itu, proses pengalihan PPPK paruh waktu menjadi penuh waktu sebaiknya dilakukan secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.

    Berdasarkan paparan pemerintah dalam rapat bersama DPR RI, jumlah guru yang berstatus PPPK mencapai sekitar 955 ribu orang, sementara sekitar 231 ribu di antaranya merupakan PPPK paruh waktu. Pemerintah juga memproyeksikan kebutuhan pemenuhan guru nasional mencapai 526.689 formasi.

    Kebutuhan tersebut mencakup guru pada berbagai satuan pendidikan, termasuk sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, madrasah di bawah Kementerian Agama, serta program pendidikan baru seperti Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda.

    Jangan Sampai Sekolah Kehilangan Gurunya

    Selain persoalan status dan kesejahteraan, GUPPI memberikan perhatian khusus terhadap penempatan guru PPPK.

    Prof. Fasli menilai, salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah ketika guru yang selama bertahun-tahun mengabdi di sebuah sekolah atau madrasah dinyatakan lulus PPPK, tetapi kemudian ditempatkan di satuan pendidikan lain.

    Menurutnya, penempatan semacam itu perlu dikaji kembali karena guru bukan sekadar tenaga kerja yang dapat dipindahkan berdasarkan kebutuhan administratif. Guru telah membangun relasi dengan peserta didik, memahami karakter lingkungan sekolah, mengenal budaya satuan pendidikan, dan memiliki pengalaman yang tidak mudah digantikan.

    “Kami setuju guru harus sejahtera. Tetapi kami juga berharap penempatannya memperhatikan masa pengabdian. Guru yang sudah lama mengajar di satu sekolah, sudah mengenal murid, orang tua, lingkungan, dan budaya sekolah, sebaiknya tetap dipertahankan di sekolah tersebut,” tegas Prof. Fasli.

    Bagi GUPPI, mempertahankan guru di sekolah asal dapat memberikan dua keuntungan sekaligus. Pertama, guru memperoleh kepastian status dan kesejahteraan. Kedua, sekolah atau madrasah tidak kehilangan tenaga pendidik yang sudah berpengalaman dan memahami karakter peserta didiknya.

    “Prinsip kami sederhana, yaitu guru sejahtera, sekolah kuat. Jangan sampai kebijakan yang pada dasarnya sangat baik justru membuat sekolah kehilangan guru terbaiknya di tengah jalan,” ujarnya.

    Perlu Libatkan Sekolah dan Yayasan

    GUPPI juga mendukung rencana penataan status guru PPPK di bawah pemerintah pusat sebagai bagian dari upaya memperbaiki distribusi guru secara nasional. Namun, proses tersebut harus tetap memperhatikan kondisi riil satuan pendidikan.

    Karena itu, GUPPI meminta pemerintah pusat melakukan sinkronisasi data secara serius dengan pemerintah daerah, kepala sekolah, madrasah, serta yayasan penyelenggara pendidikan.

    Prof. Fasli menilai kepala sekolah, kepala madrasah, dan yayasan merupakan pihak yang paling memahami kebutuhan tenaga pendidik di lapangan. Mereka mengetahui guru mana yang benar-benar dibutuhkan, mata pelajaran yang kekurangan guru, serta kondisi peserta didik yang selama ini dilayani.

    “Data nasional penting, tetapi data nasional harus bertemu dengan realitas sekolah. Jangan sampai keputusan penempatan hanya didasarkan pada data administratif, sementara kebutuhan riil sekolah dan madrasah tidak diperhitungkan,” katanya.

    Persoalan ini menjadi semakin penting bagi sekolah dan madrasah swasta. Tidak sedikit guru di lembaga pendidikan Islam yang selama ini menerima penghasilan jauh dari ideal, tetapi tetap bertahan karena komitmen pengabdian kepada pendidikan.

    Karena itu, GUPPI berharap reformasi status kepegawaian guru tidak hanya menghasilkan perubahan administratif, tetapi benar-benar menjadi bagian dari reformasi mutu pendidikan.

    Guru Sejahtera, Sekolah Berkelanjutan

    GUPPI berpandangan bahwa kebijakan PPPK harus diarahkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat. Kesejahteraan guru, pemerataan distribusi guru, keberlanjutan sekolah, dan peningkatan mutu pembelajaran tidak boleh dipandang sebagai agenda yang terpisah.

    GUPPI juga mendukung langkah pemerintah dan DPR untuk menghentikan praktik perekrutan tenaga honorer baru di luar mekanisme resmi. Kebijakan tersebut penting agar persoalan honorer tidak terus berulang dari tahun ke tahun.

    Pada akhirnya, GUPPI berharap penataan PPPK menjadi momentum untuk membangun sistem kepegawaian pendidikan yang lebih adil, profesional, dan berkelanjutan.

    “Guru membutuhkan kepastian. Sekolah membutuhkan keberlanjutan. Peserta didik membutuhkan guru yang mengenal mereka. Ketiganya harus menjadi pertimbangan dalam setiap kebijakan penataan guru,” pungkas Prof. Fasli Jalal.

    Bagi GUPPI, keberhasilan kebijakan PPPK bukan hanya diukur dari berapa banyak guru yang berubah status menjadi ASN, tetapi juga dari seberapa jauh kebijakan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan guru sekaligus memperkuat sekolah dan madrasah tempat mereka mengabdi.

    Guru sejahtera, sekolah kuat, mutu pendidikan meningkat.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    24
  • Setelah 81 Tahun Merdeka, Apakah Anak Kita Sudah Merdeka Belajar ?

    Setelah 81 Tahun Merdeka, Apakah Anak Kita Sudah Merdeka Belajar ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Setelah 81 Tahun Merdeka, Apakah Anak Kita Sudah Merdeka Belajar ?

     Oleh: Agus Sholeh

    Pengurus DPP GUPPI. Dan  Anggota Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah

     

    www.guppi1950.or.id – Setiap 17 Agustus, kita kembali mengenakan pakaian kebangsaan. Merah putih berkibar di halaman sekolah, kantor, dan rumah. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan, upacara digelar, dan kisah kepahlawanan kembali diceritakan kepada anak-anak. Aneka lomba kemerdekaan pun meriah di mana-mana.

    Semua itu penting. Kemerdekaan layak dirayakan. Apalagi kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan. Tetapi setelah 81 tahun merdeka, masih ada pertanyaan penting yaitu apa yang sesungguhnya berubah dalam cara anak-anak kita belajar setelah kita merdeka ?

    Pertanyaan itu membawa kita pada pertanyaan reflektif tentang pentingnya pendidikan di Indonesia. Sebab kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti kesempatan setiap manusia untuk tumbuh, belajar, mengembangkan kemampuan, dan menentukan masa depannya.

    Ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045, kecerdasan buatan, PISA, STEM, Pembelajaran Mendalam, dan Kurikulum Berbasis Cinta, kita semestinya tidak berhenti pada pertanyaan apakah kebijakannya sudah baru ?

    Kita perlu bertanya lebih jauh yaitu apakah anak-anak kita benar-benar mengalami pendidikan yang lebih baik? Pertanyaan inilah yang terasa penting pada usia 81 tahun kemerdekaan. Kita sudah banyak melakukan pembaruan. Tetapi apakah anak-anak telah merasakan dunia sekolah yang baru?

    Pembaruan Pendidikan

    Indonesia bukan bangsa yang kekurangan gagasan pendidikan. Kita telah melewati berbagai perubahan kurikulum, pendekatan pembelajaran, sistem asesmen, program digitalisasi, dan kebijakan peningkatan mutu.

    Pembaruan tentu diperlukan. Dunia berubah, teknologi berubah, kebutuhan anak berubah. Pendidikan yang tidak mau berubah akan tertinggal. Namun, ada persoalan yang perlu kita waspadai yaitu jangan sampai kita mengira pendidikan berubah hanya karena nama kurikulumnya berubah.

    Kita bisa mengganti istilah-istilah kebijakan, membuat pedoman baru, menyusun perangkat baru maupun mengadakan pelatihan-pelatihan baru. Tetapi jika anak masih belajar dengan cara yang sama, guru masih dibebani persoalan yang sama, dan sekolah masih menghadapi ketimpangan yang sama, maka perubahan itu belum menyentuh jantung pendidikan, yaitu ruang kelas.

    Pembaruan pendidikan bukan pergantian istilah. Pembaruan adalah perubahan pengalaman belajar. Anak yang dahulu takut bertanya menjadi berani bertanya. Anak yang dahulu hanya menghafal mulai mampu memahami. Anak yang pasif menjadi ingin tahu. Anak yang merasa tidak mampu mulai menemukan kepercayaan dirinya.

    Dan guru yang dahulu sibuk mengejar administrasi memperoleh lebih banyak waktu untuk mendampingi peserta didiknya. Di situlah pembaruan menjadi nyata.

    Kita menyambut baik gagasan Pembelajaran Mendalam. Anak tidak cukup menghafal. Mereka perlu memahami, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan, berpikir kritis, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan menemukan makna dari apa yang dipelajari.

    Tetapi justru karena gagasannya penting, kita harus menjaganya dari kemungkinan salah arah. Apa gunanya Pembelajaran Mendalam jika guru justru semakin dalam tenggelam dalam administrasi pembelajaran ?

    Pertanyaan ini bukan penolakan terhadap deep learning. Justru sebaliknya kita ingin memastikan gagasan yang baik benar-benar sampai ke ruang kelas.

    Guru sudah menghadapi kurikulum, asesmen, pelaporan, administrasi, berbagai program, dan tuntutan penguasaan teknologi. Jangan sampai setiap pembaruan justru menambah dokumen, format, dan laporan.

    Jika waktu guru semakin banyak habis untuk mengurus administrasi, sementara waktu bersama anak semakin sedikit, kita perlu berani bertanya apakah pembelajarannya yang semakin mendalam atau administrasinya?

    Pembelajaran Mendalam semestinya menyederhanakan jalan menuju pengalaman belajar yang bermakna, bukan menambah beban yang membuat guru kehilangan energi untuk mendidik.

    Karena itu, keberhasilan Pembelajaran Mendalam kelak tidak semestinya diukur dari seberapa banyak perangkat pembelajaran yang dibuat, tetapi dari perubahan yang terjadi pada peserta didik.

    Coba kita cermati, apakah mereka semakin ingin tahu? Apakah mereka semakin mampu berpikir? Apakah mereka mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan? Apakah mereka menjadi lebih mandiri? Jika iya, pembaruan itu hidup. Jika tidak, kita harus berani memperbaikinya.

    Hal yang sama berlaku pada Kurikulum Berbasis Cinta. Gagasan ini penting karena pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar memindahkan pengetahuan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Anak perlu merasa dihargai, didengar, diterima, dilindungi, dan diperlakukan dengan kasih sayang.

    Tetapi kita perlu bertanya dengan jujur apa gunanya Kurikulum Berbasis Cinta jika anak masih mengalami kekerasan, perundungan, intoleransi, diskriminasi, atau penghinaan di lingkungan pendidikan?

    Kita dapat menulis kata “cinta” berkali-kali dalam dokumen kurikulum. Namun anak tidak belajar cinta terutama dari dokumen. Mereka belajar dari perilaku orang dewasa, terutama guru dan orang tua.

    Cinta hadir ketika guru mau mendengarkan anak yang sedang kesulitan. Cinta hadir ketika sekolah tidak mempermalukan anak yang tertinggal. Cinta hadir ketika perbedaan tidak menjadi alasan untuk merendahkan. Cinta hadir ketika guru dan tenaga kependidikan memperlakukan peserta didik dengan hormat.

    Karena itu, Pembelajaran Mendalam harus menjadi pengalaman, bukan sekadar terminologi. Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi budaya, bukan sekadar nomenklatur.

    Inilah inti pembaruan yaitu bagaimana mengubah gagasan menjadi kebiasaan, kebijakan menjadi praktik, dan dokumen menjadi pengalaman nyata anak.

     Guru Subjek Pembaruan

    Kita ingin menyiapkan generasi emas. Tetapi siapa yang menyiapkannya? Di sinilah guru menjadi aktor utama dalam menjadikan pendidikan sebagai motor perubahan.

    Guru hebat tidak lahir hanya dari seminar atau workshop yang berulang. Mereka tumbuh dari ekosistem pendidikan yang mendukung kreativitas, keberanian mengambil keputusan, dan ruang untuk berinovasi tanpa terus-menerus dibebani administrasi yang tidak perlu.

    Sebaliknya, guru akan sulit menjadi hebat jika setiap hari harus berhadapan dengan birokrasi yang panjang, fasilitas yang tidak memadai, dan tuntutan yang tidak selalu disertai dukungan.

    Guru memang sering menjadi pihak yang paling banyak menerima tuntutan perubahan. Mereka diminta menguasai teknologi, memahami kurikulum, melakukan inovasi, membangun karakter, melakukan asesmen, menyelesaikan administrasi, sekaligus menjadi pendamping perkembangan anak. Karena itu, jangan menjadikan guru sekadar objek pembaruan. Guru harus menjadi subjek pembaruan.

    Mereka perlu dilibatkan dalam merancang perubahan, diberikan ruang untuk berkreasi, memperoleh pengembangan profesional yang relevan, dan dibebaskan dari beban administratif yang tidak perlu.

    Kita tidak mungkin membangun sekolah yang menyenangkan jika guru datang ke kelas dalam keadaan kelelahan dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

    Guru yang bermartabat akan lebih mudah memuliakan peserta didiknya. Maka usaha pembaruan pendidikan harus sekaligus menjadi usaha membangun martabat guru. Guru tetap memiliki posisi penting di tengah perkembangan teknologi. Kecerdasan buatan dapat membantu proses belajar, tetapi teknologi tidak boleh menghilangkan peran guru di mata anak didiknya. Guru tetap menjadi sosok yang layak digugu dan ditiru.

    Ada satu hal lagi yang harus dijaga. Jangan sampai pendidikan masa depan hanya sibuk menyiapkan manusia yang mampu bersaing secara teknis.

    Anak-anak memang perlu menguasai sains dan teknologi. STEM penting. AI penting. Literasi digital penting. Tetapi manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan teknis. Mereka membutuhkan sejarah agar memahami perjalanan bangsanya. Membutuhkan seni dan sastra agar memiliki kepekaan. Membutuhkan agama agar memiliki landasan spiritual. Membutuhkan filsafat agar mampu bertanya tentang makna. Membutuhkan kehidupan sosial agar memahami tanggung jawab terhadap sesama.

    Kita tidak sedang menyiapkan robot yang pandai menghitung. Kita sedang menyiapkan manusia yang mampu menentukan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Teknologi membutuhkan etika. Kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan. Pengetahuan membutuhkan tanggung jawab.

    Karena itu, pendidikan nasional harus tetap diarahkan pada pembentukan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, terampil, serta sehat jasmani dan rohani.

    Kecerdasan buatan dan teknologi digital membuka peluang luar biasa bagi pendidikan. Anak dapat mengakses pengetahuan dari berbagai penjuru dunia. Guru memperoleh sumber belajar yang semakin kaya. Sekolah dapat mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif. Tetapi teknologi bukan obat untuk semua persoalan pendidikan.

    Di kota besar, seorang anak mungkin sudah menggunakan AI untuk belajar. Di tempat lain, seorang anak mungkin masih kesulitan mendapatkan jaringan internet, buku, bahkan ruang belajar yang layak. Karena itu, digitalisasi pendidikan harus disertai pemerataan.

    Pembaruan harus mengurangi kesenjangan, bukan menciptakan kesenjangan baru. Jangan sampai teknologi membuat anak yang sudah maju berlari semakin cepat, sementara anak yang tertinggal bahkan belum memiliki jalan untuk berlari.

    Menjadi Gerakan Pembaruan

    Pada usia 81 tahun kemerdekaan, kita tentu boleh bangga dengan berbagai capaian pendidikan. Tetapi bangsa yang dewasa bukan bangsa yang hanya pandai memuji dirinya sendiri.

    Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani melihat kekurangannya dan mempunyai keberanian untuk memperbaikinya. Karena itu, pertanyaan kita bukan hanya sudah seberapa maju pendidikan Indonesia? Tetapi sudah seberapa meratanya layanan pendidikan kita? Sudah seberapa bermutunya sekolah dan madrasah kita ? Dan yang lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan untuk memperbaikinya?

    Pertanyaan terakhir inilah yang membedakan kritik dengan pembaruan. Kritik berhenti pada kegelisahan. Pembaruan mengubah kegelisahan menjadi tindakan. Karena itu, usaha pembaruan pendidikan setidaknya harus bergerak pada beberapa hal.

    Kita perlu memperbarui cara belajar, dari sekadar mengejar hafalan menuju pembelajaran yang membuat anak memahami, berpikir, mengalami, dan menemukan makna. Kita perlu memperbarui tata kelola, dengan menyederhanakan administrasi dan menghentikan hal-hal yang tidak efektif agar energi guru kembali tertuju kepada peserta didik.

    Kita juga perlu memperbarui posisi guru, dari sekadar pelaksana kebijakan menjadi subjek yang ikut merancang, menjalankan, dan mengevaluasi perubahan. Kita perlu memperbarui pemanfaatan teknologi, agar AI dan digitalisasi bukan sekadar simbol kemajuan, tetapi benar-benar memperluas kesempatan belajar dan mempersempit kesenjangan.

    Dan yang tidak kalah penting kita perlu memperbarui orientasi pendidikan, agar keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari nilai dan prestasi akademik, tetapi dari kemampuan sekolah membentuk manusia yang cerdas, berkarakter, mandiri, beriman, sehat, dan bertanggung jawab.

    Inilah semangat tajdid, yaitu memperbarui cara berpikir, memperbarui cara bekerja, dan memperbarui cara kita memandang pendidikan. Sebab pembaruan bukan berarti selalu membuat sesuatu yang baru. Kadang-kadang pembaruan justru berarti berani meninggalkan sesuatu yang sudah tidak lagi membawa manfaat.

    Pada akhirnya, ukuran pendidikan yang baik tidak serumit yang kita bayangkan. Ukuran yang paling penting adalah apakah setelah bertahun-tahun berada di sekolah, anak-anak Indonesia menjadi lebih cerdas, lebih mandiri, lebih berkarakter, lebih sehat, lebih beriman, dan lebih manusiawi ?.

    Jika jawabannya belum sepenuhnya, kita tidak perlu malu mengakuinya. Justru itulah tanda bahwa pekerjaan pembaruan belum selesai. Dan ini bukan aib. Ini justru tanda kita masih punya Amanah untuk dikerjakan.

    Di usia 81 tahun merdeka, kita tidak seharusnya berpuas diri. Usia kemerdekaan justru menjadi momentum untuk memperbarui keberanian kita. Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah. Kemerdekaan adalah amanah. Dan pendidikan adalah salah satu cara paling nyata untuk menjaga amanah itu.

    Maka jangan biarkan pembaruan pendidikan berhenti sebagai lip service. Mari kita ubah kebijakan menjadi praktik, praktik menjadi budaya, dan budaya menjadi pengalaman belajar yang benar-benar memerdekakan anak. Sebab pada akhirnya, kemerdekaan pendidikan bukan ketika kita memiliki banyak kebijakan baru.

    Kemerdekaan pendidikan adalah ketika setiap anak Indonesia benar-benar memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menjadi manusia seutuhnya. Itulah usaha pembaruan yang sesungguhnya.

    Dan pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, pekerjaan itu belum selesai. Karena itu, pembaruan pendidikan bukan sekadar pilihan. Ia adalah bagian dari amanah kemerdekaan. (shol)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    12
  • Hari Pramuka Apakah Masih Perlu Diperingati?

    Hari Pramuka Apakah Masih Perlu Diperingati?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Foto Ilustrasi :  Pramuka Gudep 047 MI GUPPI Sumberwulan Wonosobo

    Hari Pramuka Apakah Masih Perlu Diperingati?

    Setiap 14 Agustus, seragam cokelat tua dan muda serta lambang tunas kelapa kembali memenuhi ruang-ruang publik Indonesia. Upacara digelar, barisan dirapikan, yel-yel dikumandangkan. Tahun ini, Gerakan Pramuka genap berusia 65 tahun. Sebuah usia yang matang bagi organisasi kepanduan nasional.

    Namun, di tengah perayaan itu, layak kita mengajukan pertanyaan sederhana: Apakah Hari Pramuka masih perlu diperingati?

    Pertanyaan ini bukan bentuk penolakan terhadap Pramuka. Sebaliknya, justru karena Pramuka terlalu penting bagi pembentukan generasi muda, kita perlu bertanya apakah cara kita menjalankannya masih sesuai dengan zaman.

    Dunia anak dan remaja hari ini telah berubah drastis. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), permainan digital, dan arus informasi yang nyaris tanpa batas. Mereka hidup dalam dunia yang menuntut kemampuan beradaptasi jauh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.

    Di tengah perubahan itu, sebagian kegiatan kepramukaan di sekolah masih menggunakan pola yang terasa sangat lama. Menghafal sandi, semaphore, tali-temali, baris-berbaris, perkemahan, dan berbagai keterampilan tradisional tetap penting sebagai bagian dari sejarah kepanduan. Tetapi persoalannya bukan apakah keterampilan tersebut boleh dipertahankan. Pertanyaannya adalah: apakah semuanya masih diajarkan dengan konteks dan tujuan yang relevan?

    Jika kegiatan hanya berhenti pada hafalan dan seremoni, Pramuka berisiko dipersepsikan anak sebagai kewajiban tambahan dalam kehidupan sekolah. Seragam dikenakan, upacara diikuti, tetapi nilai-nilai yang seharusnya tumbuh justru tidak selalu menetap dalam perilaku.

    Padahal, inti kepanduan sesungguhnya bukan seragam, tenda, sandi, atau tepuk tangan. Intinya adalah pembentukan manusia yang mandiri, disiplin, bertanggung jawab, peduli, mampu bekerja sama, dan siap menghadapi persoalan kehidupan.

    Di sinilah kita perlu membedakan antara tradisi Pramuka dan tujuan Pramuka. Tradisi boleh berubah. Metode boleh diperbarui. Teknologi boleh dimanfaatkan. Tetapi tujuan pembentukan manusia tangguh justru harus semakin diperkuat.

    Pramuka di Tengah Badai AI

    Kehadiran AI membawa paradoks besar. Di satu sisi, AI adalah berkah luar biasa. Ia membantu manusia mencari informasi, menulis, menerjemahkan, menganalisis data, membuat desain, bahkan membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan dalam waktu singkat.

    Namun, kemudahan juga dapat melahirkan ketergantungan. Anak yang terlalu terbiasa memperoleh jawaban secara instan bisa kehilangan kesabaran untuk mencari, mencoba, gagal, dan menemukan sendiri. Kemampuan berpikir dapat melemah jika teknologi selalu mengambil alih proses belajar.

    Karena itu, Pramuka tidak perlu bersaing dengan AI. Pramuka justru harus mengambil wilayah yang tidak dapat digantikan mesin, yaitu  karakter, empati, ketangguhan mental, kepemimpinan, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menghadapi dunia nyata.

    AI dapat membantu membuat rencana evakuasi. Tetapi manusia tetap harus mampu menolong korban ketika bencana benar-benar terjadi. AI dapat memberikan petunjuk pertolongan pertama. Tetapi tangan manusia yang harus bergerak menyelamatkan sesama. AI dapat menghitung risiko. Tetapi manusia harus memiliki keberanian dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan.

    Di sinilah Pramuka menemukan relevansinya.

    Perlu dicatat, bahwa pembaruan Pramuka tidak berarti membuang seluruh warisan kepanduan. Yang dibutuhkan adalah reinterpretasi dan kontekstualisasi.

    Tali-temali, misalnya, dapat dikembangkan menjadi keterampilan konstruksi sederhana, problem solving, dan keselamatan. Perkemahan dapat menjadi laboratorium kemandirian, pengelolaan sampah, konservasi air, energi terbarukan, dan kesiapsiagaan bencana.

    Bahkan, Pramuka dapat mengadopsi prinsip Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) yang dikembangkan dalam dunia kerja. Anak-anak dapat diperkenalkan sejak dini pada identifikasi bahaya, penilaian risiko, penggunaan alat secara aman, prosedur keadaan darurat, pertolongan pertama, dan budaya keselamatan.

    Dengan demikian, Pramuka tidak sekadar mengajarkan anak mendirikan tenda, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjaga keselamatan diri dan orang lain.

    Begitu pula dengan “sandi”. Di era digital, sandi tidak harus selalu dimaknai sebagai kode morse atau semaphore. Ia dapat ditransformasikan menjadi literasi digital, keamanan data, etika bermedia sosial, kemampuan membedakan informasi benar dan palsu, hingga etika menggunakan AI.

    Anak Pramuka masa kini harus mampu bertanya: Bolehkah semua yang bisa dilakukan AI kita lakukan? Apakah informasi yang kita terima benar? Bagaimana menjaga privasi? Bagaimana menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan?

    Itulah sandi-sandi baru zaman kita.

    Cinta Alam Jangan Berhenti pada Dasa Darma

    Ada satu hal yang juga perlu dikoreksi, yaitu bagaimana hubungan Pramuka dengan lingkungan.

    Dasa Darma mengajarkan “cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”. Maka, kegiatan Pramuka seharusnya menjadi salah satu gerakan pendidikan lingkungan yang paling nyata.

    Perkemahan tidak boleh meninggalkan sampah. Kegiatan tidak cukup dengan menanam pohon untuk kemudian difoto. Anak-anak perlu memahami bagaimana mengurangi sampah, mengelola air, menjaga keanekaragaman hayati, menghemat energi, dan menghadapi perubahan iklim.

    Tema HUT Pramuka ke-65 tentang dukungan terhadap swasembada pangan juga semestinya tidak berhenti sebagai slogan. Gugus depan dapat mengembangkan kebun pangan sekolah, urban farming, hidroponik, pengolahan pangan lokal, hingga pembelajaran sederhana tentang rantai pasok pangan.

    Dengan begitu, Pramuka bukan hanya berbicara tentang cinta tanah air, tetapi ikut menyelesaikan persoalan nyata bangsa.

    Hari Pramuka dan 1001 Harapan

    Lalu, apakah Hari Pramuka masih perlu diperingati? Sangat perlu. Tetapi bukan sekadar untuk mengenang masa lalu.

    Hari Pramuka harus menjadi momentum untuk bertanya kembali, yaitu anak seperti apa yang ingin kita lahirkan melalui gerakan kepanduan?

    Kita membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya dengan bijaksana. Bukan hanya cepat memperoleh informasi, tetapi mampu memilah kebenaran. Bukan hanya percaya diri di dunia maya, tetapi juga mampu bekerja sama di dunia nyata.

    Kita membutuhkan anak-anak yang berani memimpin, tetapi tidak kehilangan empati. Mandiri, tetapi tidak individualistis. Cerdas, tetapi tetap rendah hati. Menguasai teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.

    Di sinilah filosofi tunas kelapa menemukan maknanya kembali. Kelapa dapat tumbuh di berbagai tempat, memiliki daya tahan, dan seluruh bagian pohonnya dapat memberi manfaat. Filosofi itu sangat relevan untuk generasi masa depan: mampu beradaptasi, bertahan, tumbuh, dan memberi manfaat.

    Karena itu, pada usia 65 tahun, mungkin yang perlu kita lakukan bukan bertanya apakah Pramuka masih diperlukan. Yang lebih penting adalah memastikan Pramuka tidak kehilangan alasan mengapa ia diperlukan.

    Kita tidak sedang meminta Pramuka meninggalkan sejarah. Kita sedang mengajak Pramuka menjadikan sejarah sebagai pijakan untuk melangkah lebih jauh.

    Seragam cokelat boleh tetap dikenakan. Tunas kelapa boleh tetap menjadi lambang. Dasa Darma boleh tetap menjadi pedoman. Tetapi cara mendidik anak-anak harus berani berubah mengikuti tantangan zaman.

    Hari Pramuka akhirnya bukan sekadar satu hari dalam kalender. Ia adalah pengingat bahwa setiap generasi memiliki tugas untuk menyiapkan generasi berikutnya.

    Maka, mari kita rayakan HUT Pramuka ke-65 bukan dengan nostalgia semata, tetapi dengan 1001 harapan.

    Seribu harapan mungkin sudah terlalu banyak untuk dihitung. Harapan ke-1001 adalah simbol bahwa setelah semua harapan itu tercapai, kita masih harus menyediakan ruang bagi harapan berikutnya.

    Sebab Indonesia Emas 2045 tidak hanya membutuhkan generasi yang cakap dengan AI. Indonesia membutuhkan manusia yang ketika teknologi semakin pintar, justru semakin manusiawi.

    Selamat Hari Pramuka ke-65.

    Berhenti bernostalgia. Saatnya Pramuka bertransformasi.

    (Shol)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    18
  • GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI Apresiasi Kementerian Agama Atas Penerbitan Buku PAI dan Bahasa Arab Madrasah

    Jakarta — Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Kementerian Agama Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, atas terbitnya 90 Buku Teks Utama (BTU) Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).

    Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D. menilai, penyediaan 90 buku digital yang dapat diakses dan diunduh secara gratis melalui laman resmi Kementerian Agama merupakan langkah strategis dalam memperkuat mutu pendidikan Islam sekaligus memperluas akses terhadap sumber belajar yang berkualitas.

    Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyediaan buku pelajaran, tetapi juga menyentuh persoalan pemerataan pendidikan. Ketika buku berkualitas dapat diakses secara gratis, hambatan geografis dan ekonomi dalam memperoleh sumber belajar dapat dikurangi.

    “Penyediaan Buku Teks Utama ini merupakan investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Buku yang bermutu akan mendukung proses pembelajaran yang bermutu dan pada akhirnya membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, serta mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Fasli dalam suratnya kepada Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama.

    Menjamin Mutu Buku

    GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap proses penyusunan BTU yang dilakukan melalui mekanisme profesional dan akuntabel. Kualitas buku, menurut GUPPI, tidak hanya ditentukan oleh materi yang disajikan, tetapi juga oleh proses panjang yang mendahuluinya.

    Proses tersebut mencakup seleksi penulis, telaah akademik oleh reviewer, evaluasi tim penilai, hingga supervisi yang melibatkan Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan (PBAL2K).

    Rangkaian tersebut menunjukkan adanya upaya serius untuk memastikan buku yang digunakan peserta didik memiliki kualitas akademik dan pedagogis yang memadai serta sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di madrasah.

    GUPPI memandang penerbitan BTU juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, terutama terkait tanggung jawab negara dalam menyediakan buku pendidikan yang bermutu.

    Karena itu, penerbitan 90 BTU dinilai bukan sekadar menghadirkan buku pelajaran baru, tetapi merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang berkualitas, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Belajar Sesuai Fase Perkembangan

    Dari sisi pembelajaran, GUPPI menyambut baik pendekatan yang digunakan dalam penyusunan BTU. Materi dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan perkembangan peserta didik pada setiap jenjang.

    Pada jenjang MI dan MTs, materi disajikan secara lebih interaktif dan dekat dengan dunia peserta didik. Sementara pada jenjang MA dan MAPK, pembelajaran diarahkan pada pengembangan kemampuan analitis dan pendalaman keilmuan.

    Pendekatan tersebut penting karena pendidikan agama tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui dan menghafal konsep keagamaan. Pembelajaran perlu membantu mereka memahami makna, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif, serta menghubungkan pengetahuan agama dengan kehidupan nyata.

    “Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan. Pendidikan agama harus membentuk manusia yang bertakwa, berakhlak mulia, mencintai ilmu, menghargai sesama, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” tulis GUPPI dalam surat apresiasinya.

    KBC dan Panca Cinta

    Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus GUPPI adalah integrasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam BTU.

    GUPPI menilai pendekatan tersebut memberikan dimensi penting dalam pembelajaran agama. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membangun kecerdasan intelektual dan pemahaman keagamaan, tetapi juga membentuk sikap, karakter, kepedulian sosial, dan tanggung jawab peserta didik.

    Nilai-nilai Panca Cinta, yakni Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Lingkungan, Cinta Diri dan Sesama Manusia, serta Cinta Tanah Air, dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam yang mampu membentuk manusia secara utuh.

    Dengan pendekatan tersebut, pendidikan agama diharapkan tidak berhenti di ruang kelas. Nilai yang dipelajari peserta didik dapat diterjemahkan menjadi sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Memperkuat Moderasi Beragama

    GUPPI juga memberikan apresiasi terhadap penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam BTU.

    Pendidikan agama, menurut GUPPI, memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang peserta didik terhadap keberagaman. Sikap toleran, menghormati perbedaan, menolak kekerasan, tidak eksklusif dalam memahami kebenaran, serta menghargai budaya lokal merupakan bagian penting dari pendidikan agama dalam konteks Indonesia.

    Nilai-nilai tersebut semakin relevan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Madrasah tidak hanya dituntut melahirkan peserta didik yang memahami agama, tetapi juga generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.

    Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi kekuatan yang memperkuat kerukunan umat beragama sekaligus membangun kehidupan kebangsaan yang harmonis.

    MAPK dan Tradisi Keilmuan Islam

    Perhatian khusus juga diberikan GUPPI terhadap penyediaan buku bagi Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK).

    Buku-buku untuk MAPK memberikan ruang lebih luas bagi penguatan kajian tafsir, hadis, ilmu kalam, ushul fikih, studi perbandingan mazhab, serta penguasaan bahasa Arab tingkat lanjut.

    GUPPI memandang kehadiran bahan ajar tersebut penting untuk menjaga dan mengembangkan tradisi keilmuan Islam di lingkungan madrasah. Peserta didik MAPK diharapkan tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga memiliki kemampuan membaca perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial secara kritis.

    “Penguatan tradisi keilmuan di MAPK penting untuk menyiapkan generasi ulama, cendekiawan, dan pemimpin umat yang memiliki keluasan wawasan keislaman sekaligus mampu berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan global,” ujar Fasli.

    Tugas Guru

    Di balik apresiasi terhadap penerbitan 90 BTU, GUPPI memberikan satu catatan penting, yaitu bahwa buku yang baik tidak akan otomatis menghasilkan pembelajaran yang baik kalau guru tidak mampu menghidupkannya.

    Menurut Fasli Jalal, keberhasilan implementasi BTU sangat bergantung pada kemampuan guru menggunakan buku sebagai sumber belajar yang hidup. Guru perlu mengembangkan pembelajaran yang aktif, dialogis, reflektif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

    Karena itu, penguatan kompetensi guru dan kepemimpinan kepala madrasah menjadi bagian penting dari keberhasilan implementasi BTU.

    “Buku yang bermutu perlu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat. Di situlah buku tidak sekadar menjadi bahan bacaan, tetapi menjadi instrumen perubahan,” tegas Fasli.

    Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa agenda berikutnya setelah penerbitan buku adalah memastikan buku benar-benar digunakan secara optimal dalam proses pembelajaran.

    GUPPI Siap Bersinergi

    Sebagai organisasi yang sejak 1950 berkhidmat dalam pembaruan pendidikan Islam di Indonesia, GUPPI menyatakan kesiapan untuk ikut mendukung implementasi BTU di sekolah dan madrasah.

    Dukungan tersebut dapat dilakukan melalui program peningkatan kapasitas guru, penguatan budaya literasi, pendampingan satuan pendidikan, serta pengembangan pembelajaran PAI yang lebih kontekstual, inspiratif, dan berdampak.

    “GUPPI siap bersinergi dengan Kementerian Agama dalam mendukung implementasi Buku Teks Utama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh peserta didik di seluruh Indonesia,” kata Fasli.

    Bagi GUPPI, terbitnya 90 Buku Teks Utama PAI dan Bahasa Arab merupakan momentum penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan Islam. Namun, pekerjaan berikutnya tidak kalah penting: memastikan buku tersebut hadir dalam praktik pembelajaran, menginspirasi guru, dan membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik.

    Ketika buku yang bermutu bertemu dengan guru yang inspiratif, kepala madrasah yang visioner, dan budaya belajar yang sehat, pendidikan agama diharapkan mampu melahirkan generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, moderat, cinta tanah air, serta mampu menjaga persatuan bangsa.

    GUPPI berharap ikhtiar Kementerian Agama tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang membangun pendidikan Islam Indonesia yang semakin bermutu, inklusif, dan relevan dengan tantangan masa depan. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    23
  • Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi

    Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Geliat GUPPI di Ujung Banten: Menenun Gizi, Merajut Prestasi.

    Di tengah riuhnya dinamika dunia pendidikan modern yang menuntut adaptasi tanpa henti, sebuah oase inspirasi justru lahir dari sudut Kabupaten Pandeglang, Banten. Tepatnya di kompleks pendidikan Sodong, dua institusi yaitu SMK Ar Ridho Sodong dan MTs GUPPI Sodong tengah membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukanlah halangan untuk mencetak prestasi gemilang dan tata kelola institusi yang unggul.

    Kisah kedua sekolah ini bukan sekadar cerita tentang kegiatan belajar-mengajar konvensional. Ini adalah narasi tentang kepemimpinan visioner, keberanian berinovasi di tengah tantangan, serta komitmen mendalam untuk menyejahterakan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa hingga tenaga pendidik.

    Geliat ini kian kokoh seiring langkah Pesantren Ar Ridho yang saat ini tengah giat melakukan pembenahan menyeluruh. Kehadiran pesantren ini diharapkan dapat menjadi pilar strategis dalam menyokong gerakan usaha pembaruan pendidikan Islam di Pandeglang yang dimotori oleh GUPPI.

    Mengubah Stigma Menjadi Multiplier Effect

    Banyak institusi pendidikan di berbagai daerah sempat merasa cemas ketika program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) digulirkan. Isu miring seputar rumitnya administrasi hingga kendala operasional kerap menghantui. Namun, di SMK Ar Ridho Sodong Pandeglang, narasi tersebut diputar balik 180 derajat. Di bawah kepemimpinan TB Dadi Mulyadi, program MBG tidak hanya berjalan mulus, tetapi menjelma menjadi motor penggerak kebugaran siswa sekaligus pilar penguatan finansial lembaga.

    Kesehatan fisik adalah gerbang utama menuju kualitas akademik yang prima. Di SMK Ar Ridho, kepastian asupan gizi harian melalui program MBG langsung dirasakan dampaknya pada tingkat kebugaran para siswa.

    Dengan raga yang sehat, daya tangkap belajar dan tingkat fokus di dalam kelas meningkat secara signifikan. Energi positif ini turut mengalir ke dalam program penguatan karakter siswa, seperti kegiatan Musalima (Murid dan Santri Ta’lim Bersama) yang rutin dilaksanakan setiap malam. Para siswa menunjukkan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa dalam mengikuti rangkaian kegiatan akademik maupun keagamaan yang padat.

    “Asupan makanan yang sehat dan bergizi seimbang terbukti menjadi bahan bakar utama bagi kesiapan mental dan fisik siswa. Ketika raga sehat, daya tangkap belajar dan semangat berprestasi pun ikut meletup,” ungkap pihak sekolah menggambarkan antusiasme para peserta didik.

    Keberhasilan SMK Ar Ridho tidak lepas dari kemampuan sekolah dalam membaca peluang secara luas. TB Dadi Mulyadi, yang juga aktif sebagai koordinator bidang investasi di organisasi IKM UMKM Pandeglang, paham betul bahwa program besar harus melibatkan ekosistem lokal.

    Sekolah ini sukses membangun ekosistem kolaborasi yang terintegrasi antara UMKM, BUMDes, dan Koperasi Investor. Langkah ini menjadikan MBG tidak berhenti pada urusan perut di lingkungan sekolah saja, melainkan memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat sekitar Pandeglang.

    “Sekolah tidak boleh hanya mendidik, tetapi juga harus mampu menggerakkan masyarakat,” begitu kata TB Dadi Mulyadi.

    Kekhawatiran bahwa program berskala besar akan mengganggu jam pelajaran sama sekali tidak terbukti di SMK Ar Ridho. Melalui pembagian tugas yang jelas dan sistem koordinasi yang solid, proses distribusi serta pengawasan MBG dilakukan secara mandiri di luar jam-jam krusial akademik. Ritme Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan sangat kondusif tanpa ada distraksi.

    Dampak finansial dari tata kelola yang transparan ini juga dirasakan langsung oleh para guru dan staf melalui sistem bagi hasil saham MBG. Besaran bagi hasil disesuaikan dengan kepemilikan saham telah memberikan rasa kepemilikan (sense of belonging) yang tinggi. Alhasil, dedikasi dan produktivitas para pengajar melonjak drastis dibanding semester-semester sebelumnya.

    Mercusuar Pendidikan Islam yang Progresif

    Bergeser ke kancah pendidikan menengah pertama, MTs GUPPI Sodong terus menunjukkan semangatnya sebagai lembaga pendidikan Islam yang dinamis, progresif, dan konsisten melahirkan generasi unggul. Di bawah naungan nilai-nilai keagamaan, madrasah ini tidak sekadar berfokus pada transfer ilmu pengetahuan (cognitive domain), melainkan pembentukan mental, spiritual, dan kecerdasan emosional secara holistik.

    MTs GUPPI Sodong merancang kurikulum dan metode pembelajarannya sedemikian rupa untuk merangsang kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Keunggulan intelektual ini disandingkan secara seimbang dengan pembiasaan ibadah harian yang disiplin.

    Suasana KBM dirancang berpusat pada siswa (student-centered learning) yang kontekstual dan menyenangkan. Penilaian yang diterapkan pun bersifat komprehensif, melihat proses perkembangan siswa secara menyeluruh, bukan sekadar hasil akhir ujian.

    “Kami ingin anak-anak pulang tidak hanya membawa nilai, tetapi juga akhlak,” ujar Nita Sujiati.

    Konsistensi pembinaan di MTs GUPPI Sodong terbukti dari deretan piala kejuaraan yang berhasil dibawa pulang oleh para siswanya di berbagai tingkatan:

    1. Bidang Kepramukaan: Meraih Juara Umum dalam kegiatan LPPG Kecamatan Saketi, Juara Umum lomba LASTAPRAMA 2025 tingkat Kabupaten Pandeglang, Juara Lomba Wide Game tingkat Provinsi Banten, hingga dipercaya menjadi utusan daerah dalam ajang bergengsi Jambore Nasional.
    2. Bidang Olahraga: Selalu mendominasi dan meraih Juara Umum dalam Lomba Gerak Jalan tingkat Kecamatan Saketi.
    3. Kompetisi Umum: Aktif dan sukses menjuarai berbagai ajang perlombaan akademik maupun non-akademik di tingkat regional.
    4. Pembiasaan Karakter dan Madrasah Ramah Anak

    Komitmen madrasah dalam membangun lingkungan yang aman dan menyenangkan tercermin dari konsep Madrasah Ramah Anak. Setiap pagi, para guru menyambut siswa di gerbang sekolah dengan senyum dan sapa hangat.

    Agenda pembiasaan harian tertata rapi untuk membentuk karakter disiplin dan religius:

    1. Setiap Hari: Tadarus Al-Qur’an selama 10–15 menit sebelum KBM.
    2. Senin: Upacara bendera khidmat.
    3. Selasa: Senam sehat bersama untuk menjaga kebugaran jasmani.
    4. Rabu: Sholat Dhuha berjamaah 15 menit sebelum KBM.
    5. Kamis: Membaca Hadorot, hafalan surat-surat pendek, serta doa harian.
    6. Tengah Hari: Sholat Dzuhur berjamaah di musolah madrasah.

    Pertumbuhan kuantitatif dan kualitatif di kompleks pendidikan ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang sangat tinggi. Berdasarkan data tahun ajaran ini, MTs GUPPI Sodong mencatatkan penerimaan siswa baru sebanyak 72 orang, sehingga total keseluruhan siswa kini mencapai 195 orang, yang dibimbing oleh 13 orang tenaga pendidik profesional.

    Dukungan finansial melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dimanfaatkan secara optimal untuk membiayai seluruh kebutuhan operasional non-personalia, mulai dari pemeliharaan sarana prasarana, pengadaan buku, hingga honor guru demi menjaga mutu layanan pendidikan. Kehadiran program MBG di madrasah ini juga memberikan dukungan sekunder yang nyata dalam mendongkrak tingkat kehadiran serta semangat siswa datang ke sekolah setiap hari.

    Kendati dibanjiri prestasi dan apresiasi, kedua lembaga di bawah naungan GUPPI Sodong ini tidak menutup mata terhadap tantangan yang ada. Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung serta mobilitas tenaga pendidik masih menjadi PR bersama yang terus diupayakan solusinya.

    Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah memadamkan semangat juang para pendidik dan siswa. Dengan dukungan penuh dari pemerintah, Kantor Kementerian Agama, masyarakat, serta para pemangku kepentingan, SMK Ar Ridho dan MTs GUPPI Sodong optimis untuk terus melangkah maju.

    Menyokong Gerakan Pembaruan

    Geliat gemilang MTs GUPPI Sodong dan SMK Ar Ridho kini menemukan momentum puncaknya melalui penataan ulang peran strategis Pesantren Ar Ridho. Saat ini, pesantren tersebut tengah berbenah secara intensif untuk memperkuat infrastruktur kelembagaan, kurikulum, serta kapasitas pengasuhannya.

    Pembenahan ini bukan sekadar renovasi fisik, melainkan ikhtiar besar untuk menjadikan Pesantren Ar Ridho sebagai jantung ekosistem yang menyokong gerakan usaha pembaharuan pendidikan Islam di Pandeglang. Dengan berkolaborasi erat bersama jaringan GUPPI, pesantren ini disiapkan untuk melahirkan generasi santri yang tidak hanya matang secara spiritual dan fasih ilmu agama, tetapi juga memiliki ketrampilan adaptif, kemandirian ekonomi, dan daya saing tinggi menghadapi tantangan zaman.

    Menyalakan Harapan dari Banten

    Transformasi yang terjadi di Sodong Pandeglang membuktikan bahwa kemajuan pendidikan tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari kepemimpinan yang berani mengambil peran, dedikasi guru, dukungan masyarakat, serta keterpaduan program pemerintah yang dikelola dengan integritas tinggi.

    Dari Sodong, sebuah kampung kecil, tidak jauh dari pusat Mathlaul Anwar Pandeglang, sebuah pesan kuat bergema ke seluruh penjuru Pandeglang, bahwa ketika pendidikan Islam digerakkan di atas fondasi iman, kolaborasi lintas sektor, dan tata kelola yang bersih, maka madrasah dan pesantren tidak lagi sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan rahim peradaban tempat menumbuhkan harapan dan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, tangguh, dan bermartabat.

    Mungkin Pandeglang bukan kota besar. Mungkin Sodong hanya sebuah titik kecil di peta Banten. Namun sejarah sering lahir dari tempat-tempat sederhana. Di tengah keterbatasan, GUPPI bersama MTs GUPPI Sodong dan SMK Ar Ridho sedang membuktikan bahwa pembaruan pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung megah, melainkan dari gagasan yang dikerjakan dengan konsisten.($)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    31
  • GUPPI, MUI dan Kompas Moral Umat dan Bangsa

    GUPPI, MUI dan Kompas Moral Umat dan Bangsa

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI, MUI dan Kompas Moral Umat dan Bangsa

    Oleh : Agus Sholeh

    Pendahuluan

    Lima puluh tahun lalu GUPPI ikut melahirkan Majelis Ulama Indonesia. Lima puluh tahun kemudian, tantangannya bukan lagi mendirikan lembaga, melainkan memastikan suara moral umat benar-benar hidup di tengah derasnya arus disrupsi digital, krisis integritas, dan perubahan sosial.

    Sejarah panjang organisasi Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam, atau yang dikenal dengan GUPPI. Lahir dari kegelisahan para ulama pasca kemerdekaan untuk membenahi pendidikan agama, GUPPI tidak hanya tumbuh sebagai organisasi pendidikan, tetapi juga menjadi salah satu pilar pendiri Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1975.

    Lima puluh tahun kemudian, di tengah dinamika bangsa, GUPPI kembali dituntut untuk mengawal amanah strategis yaitu bagaimana Taujihat Kongres Umat Islam Indonesia menjadi kompas moral dalam mengawal umat dan bangsa Indonesia.

    Tulisan ini mengulas bagaimana GUPPI bergerak dari ruang kelas sekolah, madrasah dan pesantren menuju ruang kebijakan kebangsaan, dan mengapa perannya hari ini harus relevan untuk menjawab tantangan umat.

    GUPPI dan Akar Sejarahnya

    GUPPI didirikan pada 12 September 1950 di Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat. Inisiasinya datang dari KH Ahmad Sanusi dan lebih dari 350 ulama se-Jawa Barat yang melihat sistem pendidikan Islam, khususnya pesantren, mengalami kekacauan akibat gejolak politik pasca penjajahan.

    Fokus awal GUPPI sederhana namun fundamental, yaitu bagaimana memperbarui dan memperkuat pendidikan agama Islam agar relevan dengan konteks kebangsaan ?

    Di masa-masa awal, GUPPI bekerja dalam keterbatasan. Namun semangatnya tidak padam. Pada Muktamar II tahun 1971, GUPPI menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai kekuatan moral, bukan sekadar organisasi pendidikan.

    Dari sinilah karakter GUPPI terbentuk, yaitu sebagai organisasi yang lahir dari bawah, dekat dengan pesantren dan madrasah, tetapi memiliki visi kebangsaan.

    Tanggal 26 Juli 1975 menjadi tonggak penting bagi GUPPI dan MUI. Pada hari itu, para ulama, zuama, dan cendekiawan muslim se-Indonesia berkumpul dan mendeklarasikan berdirinya Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tujuannya jelas yaitu bagaimana menciptakan wadah musyawarah tertinggi ulama untuk memberikan fatwa, nasihat, dan panduan bagi umat dan pemerintah.

    GUPPI hadir sebagai salah satu organisasi yang menandatangani kelahiran MUI. Kehadiran GUPPI dalam forum pendiri ini bukan kebetulan. Sebagai representasi jaringan pendidikan Islam terbesar di akar rumput, GUPPI membawa suara pesantren dan madrasah ke meja nasional.

    Sejak saat itu, relasi GUPPI dan MUI menjadi relasi organik. Jika MUI adalah majelis fatwa dan pemikir, maka GUPPI adalah salah satu tangan pelaksananya di lapangan pendidikan. Peran ini membuat GUPPI memiliki tanggung jawab ganda, yaitu menjaga marwah keulamaan sekaligus memastikan nilai-nilai itu hidup di ruang kelas.

    Taujihat KUII

    Kongres Umat Islam Indonesia, atau KUII, adalah forum lima tahunan yang mempertemukan MUI dengan puluhan ormas Islam. Pada Juli 2026, KUII ke-VIII digelar dengan melibatkan 87 organisasi Islam. Forum ini tidak hanya mengevaluasi arah pembangunan nasional, tetapi juga merumuskan Taujihat, yaitu arahan strategis umat Islam Indonesia untuk lima tahun ke depan.

    Beberapa isu krusial menjadi sorotan KUII VIII 2026, antara lain terkait dengan penguatan ekonomi umat, penegakan hukum, pemberantasan korupsi, penguatan pendidikan karakter, digitalisasi dakwah, hingga peran umat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Taujihat yang dihasilkan bukan dokumen seremonial. Ia adalah peta jalan moral dan kebijakan. Di sinilah GUPPI juga berperan ikut merumuskan.

    Penting untuk dicatat bahwa Taujihat KUII diharapkan tidak berhenti sekadar sebagai dokumen normatif atau rekomendasi di atas kertas. GUPPI memandang bahwa setiap butir Taujihat memiliki ‘rumah implementasi’ yang nyata di dunia pendidikan. Ini bisa dilakukan melalui penguatan budaya sekolah, madrasah dan pesantren untuk pembentukan akhlak, integrasi pendidikan kewirausahaan guna mendukung ekonomi umat, penanaman karakter toleran untuk merawat moderasi, pengembangan literasi digital Islami dalam menghadapi era digitalisasi, hingga transformasi kepemimpinan demi menyongsong Indonesia Emas. Ini menjadi tugas GUPPI bagaimana seluruh gagasan besar tersebut dapat diterjemahkan menjadi aksi dan denyut nadi nyata di setiap satuan pendidikan.

    GUPPI sebagai “Kompas Moral”

    GUPPI sebagai “Kompas Moral” memegang peran strategis di sektor pendidikan dalam pembentukan karakter bangsa melalui pengawalan Taujihat KUII (Kongres Umat Islam Indonesia). Peran tersebut dijabarkan ke dalam empat fungsi utama berikut.

    Pertama, menentukan arah. GUPPI berfungsi sebagai pemandu utama bagi sekolah, madrasah, dan pesantren dalam membaca peta jalan (roadmap) pendidikan Islam. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, GUPPI memastikan institusi pendidikan tidak kehilangan kompas ideologisnya, melainkan tetap berpijak pada nilai-nilai dasar Islam dan hasil keputusan strategis seperti Taujihat KUII.

    Kedua, menjaga orientasi. Ketika dunia pendidikan modern sering kali tergoda mengejar angka, ranking, dan popularitas semata, GUPPI hadir untuk meluruskan fokus kembali ke tujuan hakiki: membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak. GUPPI memastikan bahwa orientasi pendidikan tidak tereduksi menjadi sekadar pabrik pencetak nilai ujian atau prestise kelembagaan, melainkan tetap berakar pada pembentukan integritas spiritual dan moral peserta didik.

    Ketiga, mengoreksi penyimpangan. Sebagaimana kompas yang secara otomatis menunjukkan ketika arah perjalanan melenceng, GUPPI memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk bertindak sebagai penyeimbang. Melalui jalur pendidikan, dakwah, dan pemikiran, GUPPI harus berani bersuara dan meluruskan setiap kebijakan, tren, atau praktik sosial di bidang pendidikan yang mulai kehilangan dimensi etika, moral, serta nilai-nilai keislaman.

    Keempat, memandu perjalanan masa depan. Kompas bukan hanya menunjukkan posisi saat ini, tetapi mengarahkan ke tujuan. GUPPI harus mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045 yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh secara spiritual.

    Keempat fungsi tersebut menunjukkan bahwa GUPPI tidak sekadar menyelenggarakan pendidikan, tetapi membentuk arah moral pendidikan nasional. Di sinilah letak relevansi historis sekaligus strategis GUPPI dalam mengawal implementasi Taujihat KUII.

    Dari Fatwa Menuju Budaya

    Fatwa mempunyai kekuatan normatif. Taujihat memberikan arah strategis. Namun keduanya baru akan mengubah masyarakat apabila diterjemahkan menjadi budaya. Pendidikan adalah ruang paling efektif untuk mentransformasikan nilai menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi karakter.

    Dalam perspektif itulah GUPPI memegang posisi yang unik. MUI menghasilkan panduan moral, sedangkan GUPPI memastikan panduan tersebut hidup dalam praktik pendidikan melalui kurikulum, kepemimpinan sekolah dan madrasah, budaya belajar, serta keteladanan guru.

    Dalam lanskap perjuangan umat Islam di Indonesia, di sinilah GUPPI memegang posisi yang sangat unik, historis, dan tidak tergantikan.

    Jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) berfungsi sebagai sharia moral guard, pusat perumusan fatwa, panduan keulamaan, dan kompas normatif bagi umat, maka GUPPI adalah garda terdepan yang memastikan panduan moral tersebut tidak berhenti sebagai wacana di menara gading. GUPPI adalah tangan panjang yang menerjemahkan fatwa dan Taujihat agar hidup, bernapas, dan membumi di dalam praktik nyata dunia pendidikan.

    Kehadiran GUPPI memastikan bahwa nilai-nilai keislaman itu termanifestasikan secara utuh melalui:

    • Kurikulum yang Hidup: Muatan nilai moral dan kebangsaan tidak hanya dihafal untuk ujian, melainkan diresapi sebagai panduan hidup.
    • Kepemimpinan Sekolah dan Madrasah: Kepala satuan pendidikan yang digerakkan oleh GUPPI memiliki visi moral, bukan sekadar orientasi administratif birokratis.
    • Budaya Belajar yang Sehat: Lingkungan sekolah yang inklusif, jujur, dan berintegritas tinggi.
    • Keteladanan Guru: Figur pendidik yang menjadi cerminan hidup dari nilai-nilai luhur Taujihat KUII.

    Tanpa peran transformatif GUPPI, fatwa akan tetap menjadi fatwa, dan risalah keumatan akan tertinggal di atas meja birokrasi. Oleh karena itu, menjembatani fatwa menuju budaya melalui dunia pendidikan adalah misi sejarah yang terus diemban GUPPI demi menjaga masa depan moral bangsa.

    Tantangan ke Depan

    Mengawal Taujihat bukan pekerjaan mudah. Ada tiga tantangan besar  yang dihadapi oleh GUPPI, yaitu pertama, Fragmentasi umat. Dengan 87 ormas di KUII, menyatukan langkah butuh komunikasi yang intens. GUPPI harus jadi jembatan. Kedua, Disrupsi digital. Anak-anak hari ini belajar dari TikTok dan YouTube. GUPPI perlu masuk ke ruang itu dengan konten pendidikan Islam yang kreatif dan adaptif. Dan Ketiga, Kualitas SDM. Guru dan kepala madrasah harus terus ditingkatkan kompetensinya agar mampu menjawab tantangan zaman.

    Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sesungguhnya menyediakan ruang yang sangat strategis bagi GUPPI untuk mengintegrasikan nilai-nilai Taujihat ke dalam praktik pembelajaran. Dengan demikian, pembaruan pendidikan tidak berhenti pada aspek metodologi, tetapi juga memperkuat dimensi moral dan karakter peserta didik.

    Pemerintah saat ini mendorong Pembelajaran Bermakna (Deep Learning) dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai motor gerakan pembaruan pendidikan di Indonesia agar pendidikan di Indonesia bisa membangun martabat bangsa Indonesia. Ini sejalan dengan semangat GUPPI.

    Jika ditarik garis lurus, maka peran GUPPI dari 1975 hingga 2026 adalah konsisten, yaitu menjadi kekuatan pendidikan yang menjaga arah. Pada 1975, GUPPI ikut mendirikan MUI agar umat punya rujukan keulamaan. Pada 2026, GUPPI mengawal Taujihat KUII agar rujukan itu tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan.

    Dalam bahasa sederhana, GUPPI adalah pengingat bahwa bangsa ini tidak bisa dibangun hanya dengan infrastruktur dan ekonomi. Ia harus dibangun dengan manusia yang berakhlak. Dan manusia berakhlak itu ditempa di madrasah, sekolah dan pesantren, di ruang kelas yang dijaga oleh GUPPI.

    Karena itu, ketika kita bicara masa depan umat dan bangsa Indonesia, kita tidak bisa mengabaikan GUPPI. GUPPI bukan hanya bagian dari sejarah pendirian MUI. Keberadaanya adalah bagian dari masa depan pendidikan Islam Indonesia. Sebagai moral compass, GUPPI bertugas memastikan jarum kompas itu tidak goyah, mengarah pada nilai, keadilan, dan kemaslahatan.

    Penutup

    MUI melahirkan fatwa, KUII melahirkan Taujihat, tetapi pendidikanlah yang melahirkan peradaban. Di titik itulah GUPPI mengambil perannya: menjadi kompas moral yang memastikan nilai-nilai Islam tidak berhenti sebagai wacana, melainkan tumbuh menjadi karakter bangsa.

    Selama sekolah, madrasah, dan pesantren masih menjadi tempat lahirnya karakter, selama itu pula GUPPI diharapkan akan tetap menjadi penjaga arah moral umat dan bangsa.

    Pundong, 29 Juli 2026

    Agus Sholeh adalah Pengurus DPP GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    34
  • Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Prof. Husni Rahim: Kebangkitan GUPPI Ditentukan oleh Kebangkitan Sekolah dan Madrasah GUPPI

    Jakarta – Masa depan Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) tidak cukup dibangun melalui penguatan organisasi semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana menghadirkan sekolah dan madrasah GUPPI yang tersebar hampir seluruh propinsi di Indonesia itu berkualitas, terjangkau, dan menjadi pilihan masyarakat.

    Pandangan tersebut disampaikan oleh Prof. Husni Rahim, Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI, dalam Rapat Kerja DPP GUPPI yang dilaksanakan di Gedung NMTC Ciputat, Sabtu, 18 Juli 2026 yang dihadiri oleh Pengurus DPP GUPPI, Dewan Penasehat, Dewan Pakar, dan Wanita GUPPI.  

    Menurut Prof. Husni, sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI merupakan wajah organisasi. Oleh karena itu, keberhasilan GUPPI tidak hanya diukur dari aktivitas organisasinya, tetapi terutama dari kualitas lembaga pendidikan yang berada di bawah pembinaannya.

    “Sebelum berbicara jauh tentang berbagai program organisasi, kita harus menjawab satu pertanyaan mendasar, yaitu sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI yang ada sekarang mau diapakan?” ujarnya.

    Ia menegaskan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap seluruh sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI di Indonesia. Data mengenai jumlah lembaga, persebaran wilayah, kondisi kelembagaan, mutu pembelajaran, hingga berbagai tantangan yang dihadapi harus menjadi dasar penyusunan strategi pembinaan.

    Menurutnya, tanpa peta kondisi yang jelas, program pengembangan akan berjalan tanpa arah dan sulit menghasilkan perubahan yang signifikan.

    Prof. Husni juga mengajak GUPPI memfokuskan energi organisasi untuk menghidupkan kembali sekolah dan madrasah GUPPI sehingga dikenal masyarakat sebagai lembaga pendidikan yang bermutu, biayanya terjangkau, memiliki kepedulian sosial, serta mampu menjawab kebutuhan zaman.

    Ia meyakini bahwa sekolah dengan sumber daya yang terbatas tetap dapat berkembang menjadi sekolah unggul apabila dikelola secara profesional dan didukung oleh komitmen seluruh pemangku kepentingan.

    “Dana bukanlah faktor utama. Yang paling penting adalah komitmen kepala sekolah, guru, pengelola, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sekolah,” ujar Prof Husni Rahim, yang baru saja menerbitkan buku Sekolah QMR, yaitu Qualitas, Murah dan Relijius.

    Ia mengingatkan bahwa selama ini perhatian kita sering kali lebih banyak diberikan kepada sekolah-sekolah yang telah maju. Padahal, menurutnya, GUPPI justru harus hadir mendampingi sekolah, madrasah dan pesantren yang masih berkembang agar mampu tumbuh menjadi sekolah yang unggul.

    Sebagai strategi jangka panjang, ia mengusulkan agar GUPPI mengembangkan beberapa Sekolah dan Madrasah Model GUPPI yang dapat menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah, madrasah, dan pesantren lainnya. Sekolah model tersebut dibangun berdasarkan standar mutu yang jelas sehingga praktik-praktik terbaiknya dapat direplikasi ke seluruh jaringan pendidikan GUPPI.

    “GUPPI bisa mengembangkan beberapa Sekolah dan Madrasah Model GUPPI yang menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah-sekolah lainnya. Sekolah dan madrasah model tersebut dikembangkan berdasarkan standar mutu yang jelas sehingga praktik-praktik baiknya dapat direplikasi ke seluruh jaringan GUPPI,” ujar Husni Rahim, yang saat menjabat sebagai Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama mengembangkan Madrasah (Negeri) Model di seluruh propinsi dengan bantuan dan Asian Development Bank (ADB).

    Menurutnya, pengalaman dalam mengembangkan sekolah-sekolah unggulan menunjukkan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kebetulan, melainkan lahir dari standar mutu yang dirancang secara sistematis dan diterapkan secara konsisten.

    Di akhir paparannya, Prof. Husni menegaskan bahwa GUPPI harus mampu menunjukkan peran nyata dalam peningkatan mutu pendidikan Islam.

    “Peran GUPPI harus terlihat. Bukan hanya dikenal sebagai organisasi Islam, tetapi dikenal karena berhasil membina sekolah dan madrasah yang berkualitas dan menjadi rujukan masyarakat,” katanya.

    Gagasan tersebut menjadi penegasan bahwa kekuatan GUPPI sesungguhnya terletak pada kualitas lembaga pendidikan yang dibinanya. Ketika sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI mampu tumbuh menjadi lembaga yang unggul, terjangkau, dan dipercaya masyarakat, maka identitas serta kontribusi GUPPI terhadap pembangunan pendidikan Islam di Indonesia akan semakin kuat.

    Pemikiran Prof. Husni Rahim tersebut diharapkan menjadi salah satu pijakan strategis dalam penyusunan program kerja DPP GUPPI periode 2024–2029, khususnya dalam membangun ekosistem sekolah, madrasah, dan pesantren GUPPI yang unggul, inklusif, dan berkelanjutan. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    66
  • Raker DPP GUPPI : Mengukir Masa Depan Pendidikan Bangsa

    Raker DPP GUPPI : Mengukir Masa Depan Pendidikan Bangsa

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Raker DPP GUPPI : Mengukir Masa Depan Pendidikan Bangsa

    Jakarta – Di tengah dinamika pendidikan nasional yang terus bergerak cepat, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) bersiap melangkah lebih jauh. Pada hari Sabtu, 18 Juli 2026, organisasi yang memiliki akar sejarah panjang dalam dunia pendidikan Islam ini akan menggelar Rapat Kerja (Raker) bertempat di Gedung Nurcholish Madjid Training Center (NMTC), Ciputat Tangerang Selatan Banten.

    Rapat Kerja yang mengambil tema Menyamakan Visi Menuju Kualitas Program dan Tatakelola Organisasi ini bukan sekadar agenda rutin tahunan. Bagi GUPPI, Raker 2026 adalah momentum konsolidasi besar untuk memetakan arah strategis organisasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, terutama dalam sektor pendidikan nasional dan pendidikan berbasis Islam.

    Konsolidasi Kekuatan Organisasi

    Rapat Kerja ini dirancang untuk menghadirkan sinergi lintas elemen di tubuh GUPPI. Ketua Panitia Raker, Aden Daenuri, dalam rapat persiapan yang dilakukan menjelang hari pelaksanaan, memastikan bahwa seluruh jajaran telah siap untuk memberikan kontribusi terbaik.

    “Kegiatan Raker Nasional GUPPI ini akan dihadiri oleh anggota struktur kepengurusan yang lengkap, mulai dari Pengurus DPP, Dewan Penasehat, Dewan Pakar, Wanita GUPPI, hingga seluruh lembaga otonom di bawah naungan GUPPI. Kehadiran berbagai elemen ini penting untuk memastikan bahwa setiap program kerja yang disusun nanti memiliki keberterimaan dan relevansi yang luas,” ungkap Aden Daenuri dengan penuh optimisme.

    Aden mengatakan bahwa salah satu agenda pokok dalam Raker kali ini adalah melakukan refleksi terhadap kinerja DPP GUPPI sepanjang tahun 2026. Menurut Aden, evaluasi ini menjadi landasan untuk membenahi kekurangan dan memperkuat capaian yang telah diraih. Lebih dari sekadar evaluasi internal, GUPPI juga memposisikan dirinya sebagai mitra strategis negara dalam merespons isu-isu pendidikan nasional.

    “Kita tidak bisa menutup mata terhadap perubahan kebijakan pendidikan yang begitu dinamis. Oleh karena itu, di Raker ini, DPP GUPPI akan membahas secara mendalam bagaimana kita merespons isu terkini terkait pendidikan nasional dan pendidikan Islam. Tujuannya jelas, yaitu agar GUPPI terus mampu memainkan peran strategisnya di kancah nasional,” tambah Aden.

    Ia berharap, dari pertemuan di Ciputat ini, lahir sebuah cetak biru program kerja yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi memiliki dampak nyata bagi pengembangan dunia pendidikan di bawah binaan GUPPI yang tersebar luas di seluruh penjuru Indonesia.

    “Kita perlu membangun optimisme baru bahwa dengan kerja keras dan kesungguhan, lembaga pendidikan GUPPI yang berada di hampir seluruh wilayah Indonesia dapat bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang maju, modern, dan kompetitif,” ujarnya.

    Membahas Isu-Isu Strategis

    Sementara itu, Wakil Ketua DPP GUPPI, Syamsuddin, memberikan penekanan khusus pada isu-isu krusial yang akan menjadi bahan diskusi utama dalam Raker. Ia menyebutkan bahwa GUPPI memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kebijakan pendidikan nasional.

    Beberapa isu strategis yang diangkat oleh Syamsuddin meliputi:

    1. Revisi RUU Sisdiknas: Mengingat urgensi regulasi ini bagi masa depan pendidikan nasional, GUPPI merasa perlu memberikan pandangan kritis dan konstruktif.
    2. Masa Depan Pesantren: Mengingat identitas GUPPI yang lekat dengan pendidikan Islam, posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional menjadi prioritas untuk terus dikawal.
    3. Kemitraan dan Kolaborasi: Membangun jejaring yang lebih luas untuk mendukung ekosistem pendidikan GUPPI.
    4. Peningkatan Mutu: Standarisasi mutu sekolah dan madrasah GUPPI agar mampu bersaing di era digital.

    Menurut Syamsuddin,  bahwa revisi UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) adalah isu yang tidak bisa ditawar. Karena itu GUPPI harus ikut terlibat aktif dalam perumusan Rancangan Undang-undang tersebut.

    “Kita punya kepentingan besar agar lembaga pendidikan Islam yang dibina oleh ormas-ormas Islam mendapatkan perhatian serius dari negara. Ini bukan hanya soal regulasi, tetapi menyangkut fasilitas pembelajaran yang memadai untuk para siswa kita,” tegasnya.

    Memperjuangkan Pendidikan untuk Grassroot

    Salah satu poin paling menyentuh yang disampaikan Syamsuddin adalah realita di lapangan mengenai kondisi sarana belajar madrasah dan sekolah GUPPI. Banyak di antara lembaga pendidikan tersebut yang berada di daerah pinggiran, jauh dari pusat perhatian kota besar.

    “Sekolah dan madrasah GUPPI pada umumnya bersentuhan langsung dengan masyarakat grassroot atau akar rumput. Mereka adalah garda terdepan dalam mencerdaskan bangsa di daerah-daerah yang aksesnya terbatas. Kita ingin mereka juga mendapatkan layanan pendidikan yang layak, modern, dan bermartabat,” ujar Syamsuddin.

    Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan cara untuk memanusiakan manusia. Oleh karena itu, GUPPI bertekad untuk menyuarakan perlunya bantuan pemerintah yang lebih merata untuk sekolah-sekolah di pelosok. Jika sarana dan prasarananya tidak diperbaiki, maka kesenjangan mutu pendidikan akan terus melebar.

    “Kita meminta agar Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memberi perhatian yang lebih baik kepada lembaga pendidikan swasta, termasuk yang dibina GUPPI, agar sekolah dan madrasah GUPPI dapat berhidmad lebih baik untuk umat dan bangsa,” tambah Syamsuddin.

    Harapan untuk Masa Depan

    Menjelang Raker pada 18 Juli mendatang, seluruh peserta diharapkan membawa gagasan segar. Raker di NMTC Ciputat ini diharapkan menjadi titik balik bagi GUPPI untuk memperkuat jati diri sebagai organisasi yang berwawasan kebangsaan namun tetap kokoh menjaga akar nilai-nilai Islam.

    Dengan visi yang kuat, kepemimpinan yang solid, dan jejaring yang luas, GUPPI optimis dapat terus berkontribusi dalam membangun generasi emas Indonesia.

    Melalui rapat kerja ini, GUPPI tidak hanya berbicara tentang rencana, tetapi tentang komitmen jangka panjang untuk memastikan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah hak bagi setiap anak bangsa, di mana pun mereka berada, baik di kota besar maupun di pelosok negeri yang terjauh. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    50
    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Panduan Pengeditan Postingan Berita

    Selamat datang di template Anda! Template ini dirancang untuk memudahkan Anda dalam membuat dan mengedit postingan berita. Di bawah ini adalah langkah-langkah mudah untuk mengedit dan menerbitkan berita di website Anda.

    1. Menambahkan Judul Berita

    • Di bagian atas halaman, klik tombol ikon bergerigi/pengaturan, Anda akan melihat kolom untuk mengedit Judul Berita disamping kiri.

    • Ketikkan judul berita yang sesuai dengan topik yang akan Anda tulis. Judul ini akan tampil besar di halaman depan atau halaman arsip berita.

    • Dibawah kolom input judul berita anda juga bisa menambahkan thumbnail gambar untuk halaman berita anda.

    2. Menambahkan Konten Berita

    • Anda dapat mengedit atau menulis berita dengan mengetik langsung di area ini. Gunakan alat penyunting yang disediakan (seperti Bold, Italic, List, Alignment, dll.) untuk menyesuaikan format teks sesuai keinginan Anda.

    3. Menambahkan Gambar atau Media

    • Jika Anda ingin menambahkan gambar, video, atau media lainnya ke dalam berita:

      • Klik ikon Tambahkan Media yang tersedia di editor sebelah kiri.

      • Pilih Gambar atau File yang ingin Anda masukkan ke dalam artikel.

      • Setelah media ditambahkan, Anda bisa menyesuaikan posisinya (misalnya, Rata Kiri, Tengah, atau Kanan).

    4. Menggunakan Widget Elementor untuk Layout

    • Template ini diatur khusus untuk berita/artikel/post saja.

    5. Menambahkan Kategori dan Tag

    • Setelah konten selesai, pastikan untuk mengatur kategori dan tag berita agar artikel Anda mudah ditemukan oleh pembaca, kategori dan tag bisa Anda ubah kapan saja di Daftar Postingan WordPress Anda.

      • Kategori: Pilih kategori yang relevan dari daftar yang ada.

      • Tag: Tambahkan tag terkait dengan topik berita Anda (misalnya, “Teknologi”, “Politik”, “Olahraga”, dll).

    6. Memasukkan Tanggal dan Penulis

    • Di bagian bawah editor, Anda akan menemukan kolom Tanggal dan Penulis.

      • Tanggal akan otomatis diatur berdasarkan waktu saat Anda menyusun artikel, namun Anda bisa mengubahnya jika perlu.

      • Pastikan untuk menambahkan nama penulis atau editor yang bertanggung jawab atas artikel ini.

    7. Pratinjau dan Penerbitan

    • Setelah Anda puas dengan artikel yang telah Anda buat, klik tombol Pratinjau/Ikon “Eye” untuk melihat bagaimana tampilan artikel di situs.

    • Jika semuanya sudah sesuai, klik tombol Terbitkan untuk mempublikasikan artikel berita Anda.

    8. Menyimpan sebagai Draf

    • Jika Anda belum siap untuk menerbitkan artikel, Anda dapat menyimpannya sebagai Draf dengan menekan tombol Simpan Draf yang terletak di ikon “Bottom Arrow” samping tombol “Terbitkan”.

    • Artikel yang disimpan sebagai draf tidak akan dipublikasikan hingga Anda siap melakukannya.

    9. Mengedit Postingan

    • Untuk mengedit berita yang telah diterbitkan, cukup buka Daftar Postingan di dashboard WordPress dan klik Sunting dengan Elementor di artikel yang ingin Anda perbarui.

    Catatan Penting

    • Penting: Pastikan artikel Anda tidak melanggar kebijakan atau pedoman yang berlaku di situs ini.


    Tips Tambahan

    • Anda dapat menambahkan tautan internal ke artikel lain yang relevan di situs Anda untuk memperkaya konten dan memberikan nilai lebih kepada pembaca.

    • Jangan lupa untuk menguji semua elemen (gambar, teks, dll.) sebelum menerbitkan untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    50
  • MPLS di Era AI: Masih Orientasi atau Sudah Transformasi?

    MPLS di Era AI: Masih Orientasi atau Sudah Transformasi?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    MPLS di Era AI: Masih Orientasi atau Sudah Transformasi?

    Oleh : Agus Sholeh

    Hari ini, Senin, 13 Juli 2026, jutaan murid baru memulai tahun ajaran baru 2026/2027 dengan ceria dan penuh suka cita. Wajah-wajah baru memenuhi sekolah dan madrasah dengan harapan, cita-cita, dan semangat belajar. Sebagian sekolah bahkan telah menutup penerimaan peserta didik baru karena kuota terpenuhi, sementara yang lain masih membuka pendaftaran untuk memenuhi rombongan belajar.

    Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) atau kalau di madrasah dikenal dengan nama Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) setiap tahun selalu menjadi panggung teatrikal yang menggema di relung jantung sekolah. Saat gerbang sekolah terbuka, ribuan siswa baru masuk dengan atribut yang terkadang tidak masuk akal, mendengarkan ceramah kepala sekolah dan guru tentang tata tertib, dan berkeliling sekolah untuk mengenal letak kantin atau ruang kepala sekolah.

    Kita menyebutnya “pengenalan lingkungan,” Namun bisa juga dimaknai sebagai tour de campus, karena sebagai warga baru mereka belum tahu pojok-pojok sekolah, kantin, mushola dan terutama dimana letak toilet. Ini pojok yang paling urgent. 

    Pengenalan lingkungan tetap penting, namun, apakah fungsi MPLS cukup berhenti pada orientasi ruang fisik?”

    Di luar gerbang sekolah, para guru dan murid sekolah sedang mengalami gempa tektonik, berupa revolusi Artificial Intelligence (AI), sementara sekolah kita justru masih sibuk berkutat pada MPLS gaya lama, yaitu baris berbaris dan menghafal nama guru dan kakak kelas yang jadi panitia.

    Mari kita berani jujur, apakah MPLS hari ini masih relevan? Atau, jangan-jangan kita masih mendidik generasi masa depan dengan pola pikir abad ke-20 untuk menghadapi realitas abad ke-21 yang sudah sepenuhnya terdisrupsi?

    Kebijakan Pemerintah

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan MPLS Ramah 2026 sebagai penanda dimulainya Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui kebijakan ini, pemerintah menegaskan bahwa setiap peserta didik berhak memulai perjalanan belajarnya di lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, serta bebas dari praktik perpeloncoan dan senioritas.

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa MPLS merupakan tahap awal yang penting dalam membangun pengalaman belajar peserta didik. Karena itu, sekolah harus menjadi rumah kedua yang menumbuhkan rasa aman, saling menghormati, saling menghargai, dan saling menyayangi, sekaligus memberi ruang bagi setiap anak untuk mengenali dan mengembangkan potensi terbaiknya.

    Arah kebijakan tersebut patut diapresiasi. Namun, di tengah revolusi kecerdasan buatan (AI), tantangan pendidikan tidak lagi hanya berhenti pada terciptanya lingkungan sekolah yang ramah. MPLS juga perlu menjadi pintu masuk bagi lahirnya budaya belajar baru yang menumbuhkan cara berpikir kritis, kreativ, karakter, dan kemampuan memanfaatkan AI secara bijaksana. Dengan demikian, MPLS tidak hanya menjadi masa orientasi, tetapi juga momentum transformasi pendidikan menuju pembelajaran yang lebih bermakna.

    Biar Melek Teknologi

    Selama ini, narasi yang dibangun sekolah adalah “kita harus menjadi pengguna teknologi yang mahir.” Kalimat ini terdengar canggih, padahal menyesatkan. Menjadi pengguna teknologi hanyalah keterampilan tingkat rendah. Dalam era AI, menjadi “pengguna” berarti menjadi konsumen pasif yang tunduk pada algoritma. Saat seorang siswa menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, apakah mereka sedang belajar? Atau mereka sedang melakukan outsourcing kemampuan berpikirnya kepada mesin?

    Sekolah sering kali terjebak dalam euforia teknologi. Guru-guru dipaksa menggunakan Learning Management System (LMS) terbaru, papan tulis interaktif dibeli, dan materi digital diperbanyak. Namun, di balik kecanggihan alat-alat tersebut, apakah proses berpikir siswa mengalami pendalaman? Atau justru sebaliknya, mereka semakin dimanjakan oleh kemudahan instan yang disediakan AI, yang bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, ringkasan otomatis, dan terjemahan instan?

    Jika sekolah hanya berhenti pada “penggunaan teknologi,” maka kita sedang menciptakan generasi yang kehilangan otot kognitifnya sendiri. Kita sedang membesarkan kaum “klik-dan-jadi” yang tidak mampu mengonstruksi argumen, apalagi mempertanyakan kebenaran.

    MPLS di era kecerdasan buatan tidak cukup hanya mengenalkan lingkungan sekolah. Ia harus menjadi gerbang transformasi pendidikan yang dibangun di atas empat pilar yang saling menguatkan.

    Pertama, seluruh kegiatan MPLS harus disusun dengan memahami bahwa peserta didik sedang berada dalam fase perkembangan otak, mental, sosial, emosional, dan spiritual. Mereka bukan “orang dewasa dalam tubuh kecil”, melainkan individu yang sedang bertumbuh. Karena itu, lingkungan belajar harus memberi rasa aman, penghargaan, tantangan yang sesuai, dan kesempatan untuk menemukan jati dirinya. Inilah dasar pedagogis mengapa MPLS harus ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

    Kedua, sekolah tidak boleh alergi terhadap AI, tetapi juga tidak boleh menyerahkan proses belajar sepenuhnya kepada teknologi. AI harus dipahami sebagai instrumen untuk memperluas akses pengetahuan, meningkatkan kreativitas, mempercepat eksplorasi ide, dan memperkaya pengalaman belajar. Teknologi hanyalah alat dan manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

    Ketiga, kehadiran AI justru menuntut sekolah mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar menghafal menjadi memahami, dari menerima informasi menjadi membangun pengetahuan, dari menjawab soal menjadi memecahkan persoalan kehidupan. Peserta didik perlu dibiasakan berpikir kritis, bertanya, berdiskusi, berefleksi, dan menghubungkan ilmu dengan realitas. AI membantu menyediakan informasi, tetapi pembelajaran mendalamlah yang mengubah informasi menjadi kebijaksanaan.

    Keempat, pendidikan pada akhirnya adalah proses memanusiakan manusia. Karena itu, sekolah harus menjadi komunitas yang dibangun di atas kasih sayang, penghormatan terhadap martabat setiap peserta didik, kepercayaan, gotong royong, dan keteladanan. Budaya cinta akan melahirkan rasa aman untuk belajar, keberanian untuk mencoba, dan kerendahan hati untuk terus berkembang. Di tengah kecanggihan AI, justru nilai-nilai kemanusiaan inilah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.

    Keempat pilar tersebut bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Perkembangan anak menjadi pijakan, AI menjadi instrumen, Pembelajaran Mendalam menjadi strategi, dan Kurikulum Berbasis Cinta menjadi jiwa yang menghidupkan seluruh proses pendidikan. Tanpa memahami perkembangan peserta didik, teknologi mudah disalahgunakan. Tanpa pembelajaran yang mendalam, AI hanya akan melahirkan budaya instan. Tanpa budaya cinta, sekolah kehilangan makna sebagai tempat tumbuhnya manusia seutuhnya.

    Apabila keempat pilar ini mulai diperkenalkan sejak MPLS, maka hari-hari pertama peserta didik di sekolah bukan sekadar menjadi masa orientasi, tetapi menjadi awal dari transformasi cara berpikir, cara belajar, cara hidup, dan cara memaknai teknologi. MPLS tidak lagi berhenti pada pengenalan lingkungan sekolah, melainkan menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, berkarakter kuat, dan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.

    Krisis Kognitif di Balik Kemudahan

    Revolusi AI telah mengubah lanskap pengetahuan. Dulu, akses terhadap informasi adalah hak istimewa. Hari ini, informasi adalah sampah yang melimpah ruah dan tersedia secara gratis. Tantangan pendidikan tidak lagi terletak pada “bagaimana cara mendapatkan informasi,” melainkan “bagaimana cara menyaring dan mengonstruksi makna dari informasi tersebut ?.”

    Sistem pendidikan kita, dan MPLS sebagai pintu gerbangnya, masih sangat menekankan pada transmisi informasi. Kita masih mendewakan hafalan. Kita masih merayakan nilai hasil asesmen. Padahal, AI mampu melakukan semua itu dengan presisi yang jauh melampaui manusia mana pun. Jika sekolah terus bersikukuh pada pola lama, maka sekolah sedang memposisikan dirinya sebagai institusi yang akan segera usang dan tidak relevan.

    MPLS seharusnya menjadi momen untuk melakukan “dekonstruksi” terhadap mentalitas ini. MPLS bisa mengajak siswa untuk menguji AI, menemukan biasnya, mengkritisi kesalahannya, dan menyadari bahwa mesin tidak memiliki “kebenaran,” melainkan hanya “probabilitas statistik.” Inilah yang disebut dengan Deep Learning atau Pembelajaran Mendalam. Pembelajaran bukan tentang menimbun data, melainkan tentang membangun kedalaman berpikir yang membuat manusia tetap unik dan tak tergantikan oleh mesin.

    Pendidikan Yang Memanusiakan

    Ada jargon yang sering terdengar yaitu bagaimana “pendidikan dapat memanusiakan manusia.” Namun, dalam realitas sekolah, sering kali kita justru melakukan dehumanisasi. Kita menuntut standar yang seragam, menekan kreativitas dengan aturan yang kaku, dan mengabaikan kompleksitas psikologis remaja.

    Perkembangan neurosains sudah sangat jelas dimana otak remaja adalah medan pertempuran antara emosi (sistem limbik) dan logika (korteks prefrontal). Mereka adalah makhluk yang sedang mencari identitas. Karena itu, sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman untuk bereksperimen, berdebat, dan bahkan gagal. Namun, yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak sekolah justru menjadi ladang intimidasi atau perundungan yang dibalut dengan kedok “kedisiplinan.” Bagaimana mungkin kita mengharapkan empati dari peserta didik jika lingkungan belajarnya sendiri tidak mempraktikkan kasih sayang?

    Berbagai penelitian neurosains menunjukkan bahwa korteks prefrontal, bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan berpikir kritis, baru berkembang penuh pada usia dewasa muda. Artinya, peserta didik membutuhkan lingkungan yang aman, penuh keteladanan, dan kaya pengalaman reflektif agar kemampuan berpikirnya tumbuh secara optimal.

    AI tidak punya hati nurani. Ia bisa menulis esai yang sangat humanis, namun ia tidak merasakan beban moral dari kalimat yang ditulisnya. Di sinilah letak superioritas manusia. Kecerdasan intelektual tanpa karakter adalah bencana. Kita tidak butuh AI yang lebih pintar. Kita butuh manusia yang lebih beradab. Inilah esensi “Kurikulum Berbasis Cinta” yang sering didengungkan namun jarang dipraktikkan.

    Pendidikan harus kembali ke akarnya, yaitu menumbuhkan nurani yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh kode pemrograman terumit sekalipun.

    Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar proses ta’lim (transfer ilmu), tetapi juga tarbiyah dan ta’dib, yaitu menumbuhkan kepribadian, akhlak, dan kebijaksanaan. AI dapat membantu manusia memperoleh pengetahuan, tetapi tidak dapat menggantikan pembentukan hikmah dan adab. Karena itu, teknologi harus selalu berada di bawah kendali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

    Menuju MPLS yang Bermakna

    Mungkinkah kita merombak MPLS, agar tidak lagi monoton atau sekedar ritual tahun bagi murid baru dan mengubahnya menjadi sebuah “Ruang Awal Pembelajaran Sepanjang Hayat ?.”

    Bayangkan jika hari pertama MPLS diawali dengan satu pertanyaan sederhana kepada seluruh siswa: “Jika komputer dapat menjawab hampir semua pertanyaanmu, mengapa kamu masih perlu sekolah?” Pertanyaan itu akan memancing diskusi yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar menghafal denah sekolah. Dari sana guru dapat mengajak peserta didik memahami bahwa sekolah bukan tempat mencari jawaban, melainkan tempat belajar mengajukan pertanyaan yang benar.

    Kita harus berani berhenti menjadi “pengguna teknologi” yang patuh. Kita harus menjadi “arsitek masa depan.” MPLS harus menjadi tempat di mana siswa menyadari bahwa mereka bukanlah robot yang sedang diprogram, melainkan individu yang harus mengambil kendali atas hidupnya sendiri.

    Tentu, ini bukan tantangan mudah. Guru-guru kita sendiri sering kali terperangkap dalam sistem birokrasi yang membelenggu. Mereka disibukkan dengan administrasi yang justru menjauhkan mereka dari esensi mendidik. Namun, inilah saatnya untuk melawan arus. Guru tidak boleh lagi menjadi satu-satunya “sumber ilmu”, melainkan menjadi mentor yang baik bagi proses berpikir siswa. Guru harus menjadi provokator ulung yang memotivasi siswa untuk tidak pernah puas dengan jawaban pertama yang mereka temukan di mesin pencari.

    Pendidikan Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Kita bisa memilih untuk tetap menjadi pengekor teknologi, terobsesi dengan gadget dan digitalisasi yang kosong, atau kita bisa memilih untuk kembali ke esensi pendidikan, yaitu membangun manusia yang memiliki martabat, kedalaman berpikir, dan hati nurani.

    Pintu Perubahan.

    Pada akhirnya, keberhasilan MPLS bukan diukur dari seberapa cepat peserta didik mengenal teman sekelasnya, melainkan seberapa jauh mereka mulai mengenal dirinya sendiri sebagai manusia pembelajar. Di era AI, sekolah tidak perlu bersaing dengan mesin dalam menyampaikan informasi. Sekolah justru harus melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan mesin, yaitu menumbuhkan karakter, kebijaksanaan, empati, keberanian moral, dan kecintaan kepada kebenaran.

    Jika MPLS mampu menjadi awal perjalanan itu, maka ia bukan lagi sekadar agenda tahunan, melainkan pintu masuk menuju lahirnya generasi Indonesia yang cerdas, beradab, dan siap memimpin masa depan.

    Namun jika MPLS gagal melakukan ini, maka sekolah bukan lagi menjadi jembatan menuju masa depan, melainkan museum bagi masa lalu yang gagal beradaptasi. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apa yang diajarkan sekolah kepada siswa ?,” melainkan “apakah kita sudah cukup berani untuk mendidik anak-anak agar mereka berani menghadapi masa depan mereka ?”

    Kita harus mulai menjawabnya sekarang, di hari pertama sekolah, agar para murid baru itu siap menghadapi masa depannya dengan penuh optimisme. Transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan kurikulum, namun sering kali justru dimulai dari keberanian mengubah hari pertama sekolah.

    Agus Sholeh. Pengurus DPP GUPPI. Anggota Majelis Dikdasmen PNF PP Muhamadiyah. Lama berkiprah di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    52
  • Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

     

    Keluar dari Kemiskinan: Saat Seorang Dokter Menulis tentang Harapan

    Penulis: Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI

    Penerbit: INDIPRO

    Cetakan: Pertama, Juli 2026

    Tebal: 68 halaman

    Ada buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang justru mulai bekerja setelah pembacanya selesai membaca. Ada pula, buku yang enak dibaca dan perlu.

    Buku Keluar dari Kemiskinan karya Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI termasuk dalam kelompok kedua dan ketiga. Ia tidak berhenti sebagai kumpulan gagasan, melainkan mengajak pembaca berdialog tentang salah satu persoalan paling tua sekaligus paling modern dalam sejarah manusia, yaitu kemiskinan.

    Kemiskinan merupakan salah satu persoalan kemanusiaan yang paling kompleks. Ia bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan menyangkut keterbatasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, modal, hingga kesempatan untuk mengembangkan diri. Berbagai teori telah lahir untuk menjelaskan kemiskinan, namun, pada akhirnya, semua teori tersebut bermuara pada satu pertanyaan besar: bagaimana manusia dapat keluar dari kemiskinan secara bermartabat?

    Pertanyaan itulah yang dijawab Prof. Samsuridjal Djauzi melalui buku Keluar dari Kemiskinan. Sebagai seorang dokter, akademisi, sekaligus intelektual yang lama berkecimpung dalam pelayanan masyarakat, penulis menghadirkan perspektif yang unik. Ia tidak menulis sebagai ekonom atau politisi, tetapi sebagai seorang humanis yang melihat kemiskinan dari dekat sebagai persoalan kehidupan manusia.

    Buku ini tidak berhenti pada kritik terhadap negara, juga tidak terjebak menyalahkan masyarakat miskin. Penulis berusaha mengambil jalan tengah dengan menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan memerlukan perubahan sistem sekaligus perubahan perilaku individu.

    Dokter dan Terapi Sosial untuk Kemiskinan

    Didalam bukunya Prof. Samsuridjal Djauzi tidak menulis dari “menara gading”. Sebagai dokter, beliau terbiasa melihat bahwa penyakit bukan hanya persoalan biologis, melainkan juga dipengaruhi kemiskinan, pendidikan, gizi, lingkungan, dan akses layanan kesehatan.

    Buku ini tidak ditulis oleh seorang ekonom, bukan pula oleh seorang politikus. Penulisnya adalah seorang dokter yang sepanjang hidupnya bergelut dengan dunia kesehatan. Di sinilah letak keunikan buku ini. Seorang dokter memandang manusia secara utuh. Penyakit tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan gizi, pendidikan, lingkungan, pekerjaan, hingga kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan hidup. Cara pandang klinis itu membuat beliau tidak sekadar “mengobati” gejala kemiskinan, tetapi berusaha menjelaskan akar penyebabnya sekaligus menawarkan terapi sosial.

    Gagasannya sederhana tetapi kuat, bahwa dokter yang baik tidak hanya mengobati pasien, melainkan mencegah penyakit; pemimpin yang baik tidak hanya mengurangi kemiskinan, melainkan membangun ekosistem yang membuat masyarakat tidak mudah jatuh miskin.

    Di sinilah letak martabat buku ini. Penulis tidak sedang menyalahkan orang miskin, tidak pula sedang mengobarkan kemarahan kepada negara. Ia mengajak pembaca memahami bahwa keluar dari kemiskinan membutuhkan sinergi antara kebijakan publik, pendidikan, kesehatan, penguatan aset, karakter, dan kerja keras individu.

    Kisah Sandiaga Uno (hal 48-49) menjadi contoh nyata dari prinsip tersebut. Sebelum krisis moneter 1997, kariernya sedang berada di puncak. Ia menjabat sebagai Vice President di sebuah perusahaan asal Kanada yang berkedudukan di Singapura. Dengan gaji yang besar, jabatan yang bergengsi, dan masa depan yang tampak cerah, hampir seluruh asetnya ditempatkan pada investasi saham karena saat itu pasar sedang bertumbuh pesat.

    Namun, ketika krisis moneter melanda Asia, semuanya berubah dalam waktu singkat. Nilai saham anjlok, aset yang dimilikinya merosot drastis, dan perusahaan tempatnya bekerja akhirnya tutup. Dalam sekejap, ia kehilangan pekerjaan sekaligus sebagian besar kekayaannya.

    Sandiaga kembali ke Indonesia tanpa jabatan, tanpa modal yang memadai, dan tanpa kepastian. Banyak orang dalam kondisi seperti itu mungkin memilih mencari pekerjaan baru, menyalahkan keadaan, atau larut dalam penyesalan.

    Namun, ia memilih jalan yang lebih berat, yaitu membangun perusahaan konsultan bisnis dari nol. Perjalanan itu tidak mudah. Klien masih sedikit, kepercayaan pasar belum terbentuk, dan berbagai tantangan datang silih berganti. Salah satu titik terberat adalah ketika istrinya melahirkan, sementara ia belum memiliki cukup uang untuk membayar biaya rumah sakit.

    Bagi banyak orang, keadaan seperti itu bisa menghancurkan semangat. Namun justru pada saat itulah mental untuk bangkit benar benar diuji. Sandiaga tidak berhenti berusaha. Ia terus membangun relasi, menjaga integritas, dan mencari berbagai peluang. Pertemuannya dengan sejumlah tokoh bisnis, termasuk Dahlan Iskan, membuka kesempatan baru. Sedikit demi sedikit, kepercayaan mulai tumbuh, klien berdatangan, dan usahanya berkembang hingga menjadi Saratoga Investama Sedaya, salah satu perusahaan investasi terkemuka di Indonesia

    Buku ini tidak terjebak pada cara pandang yang menyederhanakan masalah. Penulis tidak menyalahkan individu miskin sebagai orang yang malas. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan hasil interaksi berbagai faktor: pendidikan yang rendah, kesehatan yang buruk, kepemilikan aset yang terbatas, hingga kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada kelompok rentan.

    Penulis tidak memperlakukan masyarakat miskin sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai subjek pembangunan. Perspektif tersebut sangat penting karena penghormatan terhadap martabat manusia selalu menjadi fondasi bagi pembangunan yang berkeadilan.

    Gagasannya sederhana tetapi kuat. Seorang dokter yang baik tidak hanya mengobati pasien, melainkan mencegah penyakit. Begitu pula seorang pemimpin yang baik tidak hanya mengurangi kemiskinan, melainkan membangun ekosistem yang membuat masyarakat tidak mudah jatuh miskin.

    Mengapa Buku Ini Enak Dibaca dan Perlu ?

    Kekuatan pertama buku ini terletak pada keberhasilannya memadukan perspektif makro dan mikro. Penulis tidak hanya berbicara tentang kebijakan pemerintah, tetapi juga menyentuh aspek psikologi, karakter, dan perilaku ekonomi masyarakat. Pendekatan ini membuat buku terasa utuh.

    Kedua, bahasa yang digunakan sangat komunikatif. Penulis menghindari istilah-istilah akademik yang rumit sehingga mudah dipahami oleh pelajar, mahasiswa, pendamping masyarakat, maupun masyarakat umum. Hal ini sejalan dengan tujuan buku sebagai panduan praktis.

    Ketiga, buku ini kaya dengan ilustrasi nyata. Kisah petani, pemulung, mahasiswa penerima beasiswa, hingga pelaku usaha kecil menjadikan konsep-konsep ekonomi terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Keempat, penulis menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang. Ini merupakan pesan yang sangat relevan bagi Indonesia yang sedang menikmati bonus demografi. Pendidikan dipandang bukan sekadar proses memperoleh ijazah, tetapi sarana membangun kemampuan hidup.

    Kelima, buku ini membawa optimisme. Di tengah banyaknya narasi pesimistis mengenai kemiskinan, penulis justru menunjukkan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi apabila negara menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan masyarakat memiliki kemauan untuk terus belajar.

    Sebagai dokter, penulis tampaknya memahami bahwa harapan merupakan bagian dari proses penyembuhan. Di tengah maraknya budaya instan, buku ini hadir dengan pendekatan yang membumi. Ia tidak menjual mimpi, melainkan menawarkan proses. Ia tidak menjanjikan keajaiban, tetapi mengajarkan ikhtiar.

    Mungkin hanya seorang dokter yang setiap hari bertemu pasien dari berbagai lapisan masyarakat yang benar-benar memahami bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Ia hadir dalam tubuh anak yang kekurangan gizi, ibu yang terlambat memperoleh pertolongan, ayah yang menunda berobat karena tidak memiliki biaya, dan keluarga yang kehilangan masa depan karena pendidikan terhenti. Dari ruang praktik itulah Prof. Samsuridjal tampaknya belajar bahwa mengobati penyakit saja tidak cukup; akar sosial yang melahirkan penyakit juga harus disembuhkan.

    Secara keseluruhan, Keluar dari Kemiskinan adalah buku tentang cara membangun harapan. Pesan utamanya bukan “kasihanilah orang miskin”, melainkan “pahami akar persoalannya, bangun kapasitas manusia, dan ciptakan sistem yang memberi kesempatan”.

    Ia mencontohkan 5 tokoh besar yang pernah mengalami kegagalan namun bisa bangkit dan meraih kesuksesan, antara lain Thomas Alva Edison, Mohamad Gobel, Shoiciro Honda, Kolonel Harland Sanders dan Mooryati Sudibyo. Mereka bisa menunjukkan bahwa kegagalan itu bukan akhir, namun awal dari perubahan besar (54-57).

    Buku ini mengingatkan kita bahwa harapan bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan sesuatu yang dibangun—melalui ilmu, kerja keras, dan keberpihakan kepada sesama.

    Dalam konteks tersebut, pesan utama buku ini menjadi sangat relevan, bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dilakukan melalui bantuan sosial. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan kesempatan agar masyarakat mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan kepemilikan aset produktif.

    Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa besar pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Kemajuan sejati diukur dari seberapa banyak manusia yang berhasil dibebaskan dari kemiskinan dan memperoleh kesempatan hidup yang bermartabat.

    Gagasan ini sejalan dengan paradigma pembangunan manusia yang menempatkan manusia sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek bantuan.

    Ada satu kalimat yang menjadi roh buku ini, yaitu bahwa kemiskinan bukanlah takdir. Kalimat sederhana ini mengandung pesan moral yang sangat kuat. Ia mengajak negara agar tidak membiarkan ketidakadilan berlangsung, sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak menyerah pada keadaan.

    Buku ini mengingatkan bahwa kemiskinan adalah persoalan bersama. Pemerintah harus menghadirkan kebijakan yang adil, dunia usaha perlu membuka kesempatan kerja, lembaga pendidikan harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, organisasi masyarakat harus memperkuat pemberdayaan, dan setiap individu perlu terus belajar serta bekerja keras.

     Penutup

    Keluar dari Kemiskinan merupakan buku kecil dengan gagasan yang besar. Nilai utamanya bukan terletak pada banyaknya teori yang dikutip, melainkan pada kemampuannya menghubungkan kebijakan publik dengan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.

    Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna, Prof. Samsuridjal Djauzi berhasil menghadirkan sebuah buku yang tidak hanya mengajak pembaca memahami kemiskinan, tetapi juga menggerakkan mereka untuk menjadi bagian dari solusi.

    Pada akhirnya, buku ini mengajarkan bahwa kemiskinan bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan persoalan kemanusiaan. Karena itu, resep untuk mengatasinya tidak cukup berupa bantuan sosial, tetapi juga pendidikan, kesehatan, kesempatan bekerja, kepemimpinan yang berpihak, dan harapan yang terus dipelihara.

    Seperti seorang dokter yang ingin melihat pasiennya benar-benar pulih, Prof. Samsuridjal mengajak kita membangun masyarakat yang tidak sekadar bertahan hidup, tetapi mampu hidup secara bermartabat.  (Agus Sholeh) 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    65
  • Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kementerian Agama Harus Perkuat Kerukunan Umat Beragama sebagai Pilar Ketahanan Nasional

    Jakarta – GUPPI – Kementerian Agama diharapkan kembali focus memperkuat fungsi utamanya sebagai pembina kehidupan keagamaan setelah tidak lagi menangani urusan haji. Salah satu agenda yang dinilai mendesak adalah memperkuat kerukunan umat beragama sebagai fondasi ketahanan nasional dan persatuan bangsa, terutama dengan meningkatkan mutu pendidikan agama dan keagamaan.

    Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), Syamsuddin, dalam diskusi di NMTC Ciputat, Jumat (3/7/2026), menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto pada Upacara Hari Ulang Tahun ke-80 Bhayangkara di Cikeas, Kabupaten Bogor, Rabu (1/7/2026).

    Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keamanan nasional tidak hanya diukur dari rendahnya angka kriminalitas, tetapi juga dari hadirnya rasa aman bagi seluruh warga negara untuk menjalankan aktivitas, termasuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

    “Keamanan berarti rakyat leluasa bekerja, petani berani menanam, nelayan berani melaut, perusahaan berani berinvestasi, guru tenang mengajar, anak-anak tenang belajar, dan masyarakat dapat beribadah dengan damai sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” ujar Presiden.

    Syamsuddin menilai pesan Presiden tersebut sejalan dengan mandat konstitusional Kementerian Agama sebagai institusi yang bertanggung jawab membina kehidupan beragama di Indonesia.

    “Selama ini perhatian publik terhadap Kementerian Agama lebih banyak tersedot pada penyelenggaraan ibadah haji. Padahal tugas kementerian ini jauh lebih luas, mulai dari pembinaan kehidupan beragama, peningkatan mutu pendidikan keagamaan, pelayanan keagamaan, hingga menjaga kerukunan umat beragama,” ujarnya.

    Mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama itu mengatakan, pengalihan pengelolaan haji semestinya dipandang sebagai kesempatan untuk mengembalikan Kementerian Agama pada khittahnya.

    “Dengan berkurangnya beban operasional penyelenggaraan haji, Kementerian Agama memiliki ruang yang lebih besar untuk memperkuat fungsi-fungsi strategis yang selama ini menjadi mandat utamanya,” katanya.

    Kerukunan sebagai Ketahanan Nasional

    Syamsuddin menegaskan bahwa kerukunan umat beragama bukan sekadar isu sosial-keagamaan, melainkan bagian penting dari sistem ketahanan nasional.

    Menurutnya, Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perlambatan ekonomi global, meningkatnya kesenjangan ekonomi, tekanan terhadap daya beli masyarakat, hingga dinamika politik yang berpotensi memicu gesekan sosial.

    “Sejarah menunjukkan bahwa konflik sosial sering berawal dari persoalan ekonomi atau politik yang kemudian berkembang menjadi konflik berlatar belakang identitas, termasuk agama. Karena itu negara harus hadir lebih awal membangun kohesi sosial melalui penguatan kerukunan umat beragama,” ujarnya.

    Ia mengingatkan bahwa Kementerian Agama memiliki pengalaman panjang membangun harmoni sosial melalui konsep Trilogi Kerukunan Umat Beragama, yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antarumat beragama, serta kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

    Menurutnya, konsep tersebut tetap relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan saat ini dan perlu dihidupkan kembali sebagai gerakan nasional.

    “Kita tidak cukup hanya mencegah konflik. Yang lebih penting adalah membangun budaya dialog, saling menghormati, gotong royong, dan kerja sama antarkomponen bangsa sehingga kerukunan menjadi kekuatan sosial yang menopang stabilitas nasional,” katanya.

    Karena itu dalam upaya memperkuat kerukunan, Syamsuddin meminta agar Kementerian Agama memprioritaskan peningkatan mutu pendidikan keagamaan, baik madrasah, pesantren, sekolah keagamaan, maupun perguruan tinggi keagamaan.

    Menurutnya, lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai moderasi beragama, toleransi, cinta tanah air, dan karakter kebangsaan kepada generasi muda.

    “Investasi terbesar Kementerian Agama adalah membangun generasi yang religius sekaligus memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” ujarnya.

    Sinergi dengan Kementerian Pertahanan

    Syamsuddin juga mengusulkan agar Kementerian Agama membangun kolaborasi yang lebih erat dengan Kementerian Pertahanan dalam memperkuat ketahanan nasional melalui penguatan kohesi sosial.

    Menurutnya, pertahanan negara tidak hanya dibangun melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kekuatan sosial masyarakat.

    “Kerukunan umat beragama merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Karena itu sudah saatnya Kementerian Agama dan Kementerian Pertahanan membangun sinergi sesuai tugas dan kewenangan masing-masing dalam menjaga persatuan bangsa,” katanya.

    Ia menjelaskan bahwa Kementerian Agama telah memiliki Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) yang selama ini berperan sebagai pusat pengembangan kebijakan dan fasilitasi dialog antarumat beragama.

    Karena itu, Syamsuddin mengusulkan agar PKUB diperkuat menjadi motor Gerakan Nasional Kerukunan Umat Beragama dengan melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat.

    “PKUB harus menjadi pusat inovasi sekaligus pusat koordinasi gerakan kerukunan di Indonesia. Kerukunan tidak boleh berhenti sebagai program seremonial, tetapi harus menjadi gerakan nasional yang hidup di tengah masyarakat,” tegasnya.

    Di akhir diskusinya, Syamsuddin berharap restrukturisasi kelembagaan Kementerian Agama menjadi momentum untuk memperkuat peran kementerian sebagai penjaga harmoni kehidupan beragama sekaligus perekat persatuan bangsa.

    “Yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah Kementerian Agama yang kembali pada khittahnya, yaitu melayani kehidupan beragama, meningkatkan mutu pendidikan keagamaan, serta merawat kerukunan umat beragama. Jika fungsi-fungsi itu dijalankan secara optimal, Kementerian Agama akan menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat Indonesia di tengah berbagai tantangan global maupun domestik,” pungkasnya. (shol)

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    35
  • PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Refleksi Jum’at :

    PPDB Bukan Sekedar Mencari Murid Baru

    Setiap memasuki tahun ajaran baru, pemandangan yang sama selalu terulang. Spanduk penerimaan peserta didik baru (PPDB) menghiasi jalan-jalan, media sosial dipenuhi promosi sekolah, dan berbagai program unggulan ditawarkan kepada masyarakat.

    Di balik semua itu, para kepala sekolah memantau jumlah pendaftar hampir setiap hari. Angka demi angka menjadi perhatian, bahkan tidak sedikit yang merasa cemas ketika jumlah pendaftar belum sesuai harapan.

    Fenomena ini tidak hanya dialami sekolah yang sedang berkembang. Sekolah-sekolah yang selama ini dikenal unggul pun merasakan kegelisahan yang sama. Mereka khawatir apabila jumlah pendaftar menurun, masyarakat akan menganggap kualitas sekolah ikut menurun. Sebaliknya, sekolah yang masih berjuang membangun kepercayaan publik menghadapi tantangan yang lebih berat karena jumlah peserta didik sangat menentukan keberlangsungan operasional sekolah.

    Di sinilah kita belajar bahwa musim PPDB sesungguhnya bukan hanya persoalan administrasi. PPDB juga merupakan ujian kepemimpinan, etika, bahkan keikhlasan bagi setiap insan pendidikan.

    Setiap kepala sekolah tentu berkewajiban melakukan ikhtiar terbaik. Mutu pembelajaran harus terus ditingkatkan, kompetensi guru dikembangkan, sarana belajar diperbaiki, pelayanan kepada orang tua diperkuat, dan informasi mengenai keunggulan sekolah disampaikan secara jujur kepada masyarakat. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab profesional yang tidak boleh diabaikan.

    Namun, ikhtiar yang sungguh-sungguh tidak boleh berubah menjadi ambisi yang menghalalkan segala cara. Di tengah persaingan yang semakin ketat, semua tidak boleh tergoda untuk menjatuhkan sekolah lain, menyebarkan informasi yang tidak benar, atau membangun citra secara berlebihan. Pendidikan yang bermartabat dibangun bukan di atas persaingan yang saling melemahkan, melainkan di atas semangat mencerdaskan kehidupan bangsa bersama-sama.

    Kepala sekolah harus bekerja sebaik mungkin, tetapi tidak boleh hanya menggantungkan ketenangan hati pada jumlah murid yang diterima. Doa ke langit tetap harus diangkat untuk mendapat rindho dan berkah dari Allah swt. 

    Keyakinan ini menjadi penting karena rezeki tidak pernah tertukar. Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Murid yang akhirnya memilih sebuah sekolah bukan semata-mata karena strategi promosi yang menarik atau gedung yang megah, melainkan karena Allah menggerakkan hati orang tua untuk memilih tempat pendidikan yang telah menjadi bagian dari rezeki sekolah tersebut.

    Kesadaran seperti inilah yang membuat seorang pemimpin pendidikan tetap rendah hati ketika sekolahnya dipenuhi murid, sekaligus tetap optimis ketika jumlah peserta didik belum sesuai harapan. Keberhasilan tidak melahirkan kesombongan, sedangkan keterbatasan tidak melahirkan keputusasaan.

    Musim PPDB juga seharusnya menjadi momentum untuk menguji etika kompetisi antarsekolah. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya semua sekolah memiliki tujuan yang sama, yaitu mendidik generasi bangsa. Perbedaan hanya terletak pada pendekatan, karakter, dan kekhasan masing-masing.

    Karena itu, promosi sekolah seharusnya lebih banyak memperkenalkan keunggulan sendiri daripada sibuk mencari kelemahan pihak lain. Masyarakat akan lebih menghargai sekolah yang percaya diri menunjukkan kualitasnya dibanding sekolah yang membangun citra dengan merendahkan yang lain.

    Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Allah mewajibkan ihsan dalam setiap pekerjaan. Nilai ihsan berarti bekerja dengan kualitas terbaik karena merasa diawasi oleh Allah, bukan semata-mata karena ingin memperoleh pujian manusia. Semangat inilah yang semestinya menjadi budaya setiap sekolah.

    Lebih dari itu, PPDB mengingatkan kita untuk kembali pada hakikat pendidikan. Terlalu sering sekolah dipandang sebagai tempat menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi semata. Padahal setiap anak diciptakan Allah dengan potensi yang berbeda.

    Ada anak yang unggul dalam ilmu pengetahuan, ada yang berbakat di bidang seni, olahraga, kepemimpinan, teknologi, bahasa, maupun keterampilan sosial. Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang belum menemukan lingkungan belajar yang mampu mengembangkan potensi terbaiknya.

    Karena itu sekolah tidak boleh diibaratkan sebagai pabrik yang menghasilkan produk seragam. Sekolah lebih tepat dipandang sebagai sebuah taman. Di dalam taman terdapat beragam jenis tanaman. Mawar tidak dipaksa menjadi melati, begitu pula melati tidak dituntut menyerupai anggrek. Setiap tanaman dirawat sesuai karakter dan kebutuhannya hingga tumbuh menjadi yang terbaik.

    Begitu pula sekolah. Tugas guru bukan membuat seluruh murid memiliki kemampuan yang sama, melainkan membantu setiap anak menemukan dan mengembangkan anugerah yang telah Allah titipkan kepadanya. Dari proses itulah akan lahir ilmuwan, guru, pengusaha, seniman, atlet, teknolog, ulama, maupun pemimpin yang semuanya memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Oleh sebab itu, keberhasilan sekolah tidak cukup diukur dari banyaknya murid atau tingginya nilai ujian. Ukuran yang jauh lebih penting adalah sejauh mana sekolah mampu menumbuhkan karakter, akhlak, kemampuan berpikir, kreativitas, dan kecintaan belajar sepanjang hayat.

    Dalam tradisi Islam, semangat belajar tidak pernah berhenti. Allah bahkan mengajarkan Nabi Muhammad SAW untuk berdoa, “Rabbi zidni ‘ilma”—”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu” (QS. Taha: 114). Jika Rasulullah saja masih diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu, maka guru, kepala sekolah, orang tua, dan peserta didik tentu lebih pantas lagi untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

    Budaya belajar inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama sekolah menghadapi perubahan zaman. Dunia pendidikan akan terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat, kebutuhan masyarakat bergeser, dan tantangan generasi muda semakin kompleks. Sekolah yang mampu bertahan bukanlah sekolah yang memiliki gedung paling megah, melainkan sekolah yang terus belajar, terus berbenah, dan tidak pernah merasa selesai meningkatkan kualitasnya.

    Ketika proses PPDB berakhir, sesungguhnya setiap sekolah sedang diajak melakukan muhasabah. Bukan hanya menghitung jumlah murid yang diterima, tetapi juga mengevaluasi cara-cara yang ditempuh selama proses penerimaan. Apakah pelayanan kepada masyarakat sudah ramah? Apakah promosi dilakukan secara jujur? Apakah persaingan dijalankan dengan tetap menjaga adab? Dan yang lebih penting, apakah seluruh ikhtiar tersebut benar-benar diniatkan sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT?

    Sekolah yang memperoleh banyak murid patut bersyukur sekaligus menyadari bahwa semakin besar amanah, semakin besar pula tanggung jawabnya. Sebaliknya, sekolah yang menerima murid lebih sedikit tidak perlu berkecil hati. Bisa jadi Allah sedang memberikan kesempatan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, membangun kedekatan dengan peserta didik, dan menata fondasi sekolah agar lebih kokoh pada masa mendatang.

    Pada akhirnya, tugas seorang kepala sekolah bukan sekadar memenuhi bangku-bangku kelas. Tugas utamanya adalah menghadirkan pendidikan yang bermutu, berkarakter, dan penuh keberkahan. Jumlah murid memang penting, tetapi keikhlasan dalam mendidik jauh lebih menentukan nilai sebuah perjuangan di hadapan Allah SWT.

    Semoga setiap musim PPDB tidak hanya melahirkan ruang-ruang kelas yang terisi, tetapi juga menghadirkan sekolah-sekolah yang semakin jujur dalam berkompetisi, semakin tulus dalam melayani, dan semakin istiqamah membimbing setiap anak menemukan jalan terbaik menuju masa depannya.

    Sekolah yang dipenuhi keikhlasan akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Dan dari generasi seperti itulah masa depan bangsa akan dibangun.

    Oleh : Agus Sholeh. Pengurus DPP GUPPI

    Lama berkiprah di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    60
  • SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PROF. dr. FASLI JALAL, Ph.D PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE-76, SELASA, 3 MARET 2026.

    Bismillāhirrahmānirrahīm

    Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh,

    Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas perkenanNya jualah kita dapat bertemu pada hari yang bersejarah ini bersama-sama memperingati Milad ke-76 GUPPI dalam suasana kebersamaan, keikhlasan, dan semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.

    Shalawat dan salam marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SWA, teladan utama dalam membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan keteladanan.

    Yang saya hormati para penasehat, dewan pakar, pengurus DPP, DPW, DPD GUPPI se-Indonesia, para tokoh pendidikan Islam, para mitra strategis, serta seluruh keluarga besar GUPPI yang saya hormati.

    76 tahun lebih perjalanan GUPPI bukanlah waktu yang singkat. Sejak berdiri, GUPPI telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam pembinaan pendidikan berbasis nilai, akhlak, dan keilmuan.

    Milad ke-76 ini bukan sekadar perayaan usia sebuah organisasi, tetapi momentum refleksi sejauh mana kontribusi bagi pendidikan bangsa ? Seberapa besar peran kita dalam membangun generasi berakhlak mulia? Dan bagaimana kesiapan kita menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks?

    Di tengah perubahan global, seperti disrupsi digital, dan tantangan moral generasi muda, maka peran pendidikan Islam justru semakin strategis dan mendesak.

    Sebagaimana kita pahami bersama, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan peradaban.

    Dalam konteks ini, GUPPI memiliki posisi strategis sebagai Penggerak Pendidikan Islam, mitra pemerintah dalam pembangunan SDM dan penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    Nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah harus menjadi ruh dalam sistem pendidikan yang kita kembangkan, agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

    Bapak Ibu sekalian yang saya muliakan.

    Kita menyaksikan bahwa tantangan pendidikan hari ini tidak hanya berada di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat.

    Beberapa tantangan utama yang kita hadapi antara lain melemahnya ketahanan keluarga, disrupsi digital pada anak dan remaja, krisis karakter dan akhlak, kesenjangan kualitas pendidikan, dan meningkatnya masalah kesehatan mental anak. Bahkan, meningkatnya perceraian dan melemahnya fungsi keluarga berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan anak, termasuk pada jenjang PAUD dan pendidikan dasar.

    Di sinilah peran GUPPI menjadi sangat penting, karena pendidikan Islam harus hadir sebagai solusi peradaban, bukan sekadar sistem pengajaran.

    Pada Milad ke-76 ini, kita perlu meneguhkan kembali arah gerak GUPPI, yaitu melakukan penguatan pendidikan karakter melalui penanaman akhlak mulia, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Kita juga harus memperkuat ekosistem pendidikan dimana ekolah sebagai pusat ilmu, keluarga sebagai madrasah pertama dan masyarakat sebagai lingkungan pembentuk karakter. Tanpa keluarga yang kuat dan sakinah, pendidikan anak tidak akan optimal.

    Dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital, GUPPI harus adaptif terhadap perubahan zaman dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, literasi digital berbasis nilai dan pendidikan Islam yang kontekstual dan aplikatif.

    Bapak Ibu sekalian yang berbahagia

    Indonesia sedang menuju bonus demografi dan memiliki visi Indonesia Emas 2045. Namun, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini. GUPPI harus menjadi bagian dari solusi nasional melalui penguatan PAUD berbasis nilai Islam, peningkatan kompetensi guru pendidikan Islam, kolaborasi dengan Pemerintah dan masyarakat dan pengembangan kurikulum yang integrative, didasari oleh ilmu dan iman.

    Dalam momentum Milad ke-76 ini, saya mengajak seluruh jajaran GUPPI di seluruh Indonesia untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, mengembangkan inovasi pembelajaran dan memperluas kemitraan strategis.

    Kita tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus bertransformasi dan berkontribusi lebih besar bagi umat dan bangsa. Di tengah dinamika transformasi pendidikan nasional, GUPPI juga memandang pentingnya penguatan paradigma pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada anak.

    Dalam konteks ini, GUPPI mendukung implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tidak hanya menekankan pada penguasaan pengetahuan yang tidak saja dangkal, tetapi pada pemahaman yang reflektif, kontekstual, dan berkarakter.

    Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memahami makna, serta menginternalisasi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi GUPPI, pendidikan Islam yang berkualitas bukan hanya sekadar hafalan, tetapi pemaknaan. Bukan hanya bersifat ilmu, tetapi transformasi akhlak. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran mendalam sangat sejalan dengan filosofi pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah, yang menekankan pada tadabbur, pemahaman, dan pengamalan ilmu secara utuh.

    Selain itu, GUPPI juga memberikan perhatian besar terhadap penguasaan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan yang dibangun di atas cinta akan melahirkan suasana belajar yang humanis, inklusif, dan penuh empati. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendidik yang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak.

    Kurikulum berbasis cinta menjadi sangat relevan di tengah tantangan kesehatan mental anak, disrupsi sosial, dan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Dalam perspektif pendidikan Islam, cinta (mahabbah), rahmah, dan akhlakul karimah, merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan. Sekolah tidak boleh menjadi ruang yang menekan, tetapi harus menjadi ruang yang menumbuhkan, menguatkan, dan memerdekakan potensi anak secara optimal.

    Selanjutnya, GUPPI berkomitmen kuat untuk mendukung pengembangan Sekolah Ramah Anak sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan berkeadilan.

    Sekolah ramah anak, bukan hanya membuat anak bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga bebas dari kekerasan seksual, tekanan psikologis, dan diskriminasi. Anak harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki martabat, potensi, dan hak untuk berkembang secara optimal.

    Melalui jaringan satuan pendidikan dan lembaga pendidikan yang bernaung dalam GUPPI di seluruh Indonesia, kita akan mendorong pembelajaran yang berpusat pada anak, lingkungan sekolah yang aman dan penuh kasih, penguatan pendidikan karakter dan akhlak dan kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

    Dengan demikian, implementasi Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Sekolah Ramah Anak, bukan hanya menjadi program teknis pendidikan, tetapi menjadi gerakan moral dan peradaban. GUPPI ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan mulia dalam akhlaknya.

    Sebagai organisasi yang konsisten bergerak di bidang pendidikan Islam, GUPPI siap bersinergi dengan pemerintah, para pendidik, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkeadaban, dan berorientasi pada masa depan generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

    Bapak Ibu sekalian yang terhormat.

    Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pendiri dan sesepuh GUPPI, para guru dan tenaga kependidikan, seluruh pengurus GUPPI di semua tingkatan, Pemerintah dan mitra masyarakat, atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia.

    Akhirnya, marilah kita jadikan Milad ke-76 ini sebagai titik kebangkitan bagi GUPPI, bangkit dalam kualitas, bangkit dalam kontribusi dan bangkit dalam pengabdian.

    Dengan semangat kebersamaan, keikhlasan, dan istiqamah, Insya Allah GUPPI akan terus menjadi pilar penting dalam membangun generasi unggul, berakhlak mulia, dan berdaya saing global.

    Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam mengemban amanah besar di bidang pendidikan dan dakwah.

    Dirgahayu GUPPI ke-76.

    Teruslah mengabdi untuk pendidikan, umat, dan bangsa.

    Wassalāmu’alaikum Wr. Wb.

    Fasli Jalal

    Ketua Umum DPP GUPPI

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    61
  • Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Tantangan Pendidikan Islam Dalam Membangun Kesadaran Ekologis

    Oleh : Dr. Marzuki Alie

    Pendahuluan.

    WMO (World Meteorological Organization) mengkonfirmasi bahwa tahun 2024 sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu global 1.60°C di atas level pra industry, > 1,50 C dalam kesepakatan perjanjian Paris.

    Menurut WHO, polusi udara menyebabkan sekitar 7 juta kematian prematur per tahun secara global. Dan 80% polusi udara karena pembakaran bahan bakar fosil.

    Kemudian populasi satwa liar global (mamalia, burung, ikan, dll.) telah menurun rata- rata 68% sejak 1970. Lebih dari 500 spesies hewan darat kini di ambang kepunahan.

    Sekitar 14 juta ton plastik masuk ke lautan setiap tahun. Sebanyak 91% plastik yang pernah diproduksi tidak didaur ulang dan akan bertahan selama berabad-abad. Itu fakta di dunia global.

    Di Indonesia deforestasi dan kerusakan hutan itu sudah terjadi sejak tahun 2000. Jutaan hektar hutan hilang. Sudah lebih dari 9 juta hektar hutan yang hilang. Lebih dari 60 persen sungai besar tercemar.

    Suhu rata-rata Indonesia diproyeksikan naik lebih dari 1,3 derajat sejak tahun 2020 sampai nanti tahun 2049. Kenaikan permukaan laut juga mengancam, dengan laju sekitar 0,3 sampai 0,5 cm per tahun di perairan Indonesia. Itu fakta yang dunia baik global maupun Indonesia yang kita hadapi bersama.

    Peran Strategis Pendidikan Islam

    No

    Poin Strategis Pendidikan Islam

    Implementasi Dalam Pendidikan Islam

    1

    Menanamkan Kesadaran sebagai Khalifah

    Mengajarkan bahwa menjaga alam adalah ibadah dan bentuk ketakwaan, bukan sekadar aktivitas sekuler.

    2

    Mengintegrasikan Spiritualitas dengan Etika Lingkungan

    Membangun etika ekologis berbasis spiritual, menghubungkan kesalehan pribadi dengan tanggung jawab pada alam

    3

    Menjawab Krisis Lingkungan sebagai Krisis Spiritual

    Pendidikan sebagai sarana restorasi spiritual dan koreksi pandangan dunia (worldview) yang antroposentris menjadi teosentris

    4

    Merevitalisasi dan Mengkontekstualisasikan Warisan Ilmu Islam

    Menggali dan menghidupkan kembali ajaran ulama klasik tentang lingkungan dalam kurikulum modern

    5

    Mentransformasi Kurikulum dan Metode Pembelajaran

    Integrasi isu lingkungan ke dalam mata pelajaran agama (tafsir, fiqih, akhlak, sejarah). Metode pembelajaran kontekstual dan aksi nyata (seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah)

    6

    Membangun Ketahanan dan Solusi Komunitas Religius

    Memberdayakan komunitas (pesantren, majelis taklim) sebagai model dan agen perubahan lingkungan di tingkat lokal

    Dalam pendidikan Islam kalau soal bicara firman, bicara hadith, semuanya sahih. Semuanya pasti paham betul di luar kepala. Kalau ada terjadi kerusakan semuanya bisa bersuara vokal.

    Tapi di dalam kenyataan, di dalam pendidikan Islam bahwa kurikulum kita itu belum mengintegrasikan, yang namanya pesan-pesan Al-Qur’an dan Al-Hadith dengan bagaimana kita menyelamatkan lingkungan itu, belum terintegrasikan.

    Sudah banyak yang bicara tentang pesan-pesan dalam Al Qur’an dan hadits ini, tinggal bagaimana kita mengimplementasikan bahwa kurikulum kita itu sudah harus lebih maju. Harus kita reformasi supaya betul-betul memberikan pemahaman yang utuh kepada anak-anak kita.

    Kita tidak hanya menghafal ayat-ayat Al-Quran tetapi bagaimana ikut berkontribusi di dalam menyelamatkan lingkungan, baik dalam bentuk pemberian pemahaman maupun dalam bentuk praktek yang nyata. Itu yang penting.

    Relevansi Dengan Nilai-Nilai Islam

    Penerbitan buku Tafsir Ayat-Ayat Ekologi: Membangun Kesadaran Ekoteologis Berbasis Al Qur’an oleh Kementerian Agama tahun 2025 perlu disambut dengan positif. Karena ini relevan dengan permasalahan yang kita hadapi, yaitu masalah ekologi dan kemanusiaan.

    Buku ini relevan dengan nilai-nilai Islam karena buku ini menyatukan Teks Ilahi dan Kesadaran Ekologis adalah pendekatan penafsiran ajaran Islam yang menempatkan isu lingkungan hidup sebagai bagian integral dari pesan ketuhanan.

    1. Kerusakan alam sebagai krisis spiritual. Krisis ekologis yang melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia, tidak hanya merupakan masalah teknis, politik, atau ekonomi, melainkan juga cerminan krisis spiritual manusia. Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (ar-Rūm/30: 41
    2. Konsep ekoteologi dalam Al Qur’an sudah jelas yaitu bagaimana memahami hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam semesta secara integrative. Dalam perspektif Islam, hubungan ini terjalin dalam kerangka tauhid, yakni pengesaan Tuhan yang mencakup keesaan penciptaan (al-Khalq), kepemilikan (al-Mālik) dan pengaturan (at Tadbīr). Ekoteologi berdiri di atas tiga pilar, yaitu Tauhid (kesatuan Tuhan dan penciptaan), Khalīfah (kepemimpinan etis manusia), dan ‘Adālah (keadilan lingkungan). Ketiganya membentuk landasan moral yang kuat untuk mengatasi kerusakan ekologis yang melanda dunia. Konsep ini diperkuat oleh prinsip mizān (keseimbangan)
    1. Penerapan ekoteologis dalam tafsir Al Qur’an menempatkan ayat-ayat tentang ciptaan Tuhan dalam kerangka tanggungjawab manusia sebagai khalifah di bumi, yang berkewajiban menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, bukan merusaknya. Karena itu solusi terhadap krisis ekologis, tidak cukup hanya dengan pendekatan teknokratik atau regulasi, tetapi harus menyentuh akar spiritual dan moral manusia.

    Dunia pendidikan harus ikut berkontribusi untuk menyelamatkan bumi ini, antara lain yang paling sederhana Adalah dengan mengajak anak-anak kita mencintai alam ini dengan menanam. Siswa di sekolah, madrasah dan pesantren disuruh tanam satu pohon.

    Itu hal-hal yang sederhana kalau sekian ribu santri, sekian juta santri di Indonesia setiap tahun itu akan ada tanaman pohon-pohon baru yang ikut menyelamatkan bumi ini.

    Itu salah satu contoh peran kita umat Islam di dalam dunia pendidikan itu langsung berkorelasi positif terhadap menyelamatkan bumi. Itu yang paling penting.

    Oleh karenanya ini tidak hanya dilakukan oleh Ummusshabari Kendari, tetapi juga harus dilakukan oleh semua madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Lembaga-lembaga pendidikan, baik itu pendidikan umum, maupun pendidikan agama, harus mau melakukan ini. Ini mau gak mau, suka gak suka harus menanam. Kita berharap agar GUPPI bisa menjadi motor Gerakan ini. Karena itu perlu disiapkan contoh seratus madrasah, sekolah dan pondok pesantren di GUPPI.

    Bagaimana kita mengintegrasikan kurikulum itu dengan menyiapkan guru-guru yang sudah punya ilmu yang terkait dengan substansi untuk melestarikan lingkungan. Jadi tidak hanya menghapal ayat saja.

    Kita ini terlalu banyak pesantren hafal Al Qur’an, tapi tidak ada tahu bagaimana mengimplementasikan isi Al-Qur’an itu. Jadi banyak yang hafal, tapi soal adab pun kadang-kadang kita tidak kita berikan contoh yang bagus.

    Dulu, kita dengan orang tua, kita dengan guru, kalau gurunya duduk di atas, kita duduk di bawah. Kalau sekarang gurunya duduk di bawah, muridnya duduk di kursi. Jadi artinya apa? Keteladanan sudah tidak ada, pendidikan karakter sudah hilang.

    Urgensi Pembaruan Pendidikan Islam Dalam Konteks Ekologis

    ANTROPOSENTRISME

    TEO-ANTROPO-EKOSENTRIS

    HIFZH AL –BI’AH

    Dalam konteks krisis ekologi global, pendidikan Islam dihadapkan pada kebutuhan mendesak untuk meninggalkan paradigma antroposentrisme (yang menempatkan manusia sebagai penguasa alam untuk dieksploitasi)

    Dunia Pendidikan Islam perlu berubah kepada paradigma yang integrative (teo-antropo ekosentris): yaitu paradigma memulihkan konsep “Khalifah” yang otentik, di mana manusia adalah wakil Tuhan dengan amanah mulia untuk memakmurkan dan memelihara bumi (istikhlaf), bukan mengeksploitasinya.

    Pergeseran ini menjadikan perlindungan lingkungan (hifzhal bi’ah) sebagai tujuan syariah yang setara dengan perlindungan jiwa, agama, dan akal, sehingga merespons krisis ekologi menjadi bagian dari komitmen keimanan

    Ada dua tantangan yang harus dihadapi dalam menjaga harmoni alam :

    1.Dualisme Kurikulum dan Metode Pengajaran.

    a. Pemisahan Disiplin Ilmu: Kurikulum pendidikan Islam tradisional memisahkan ilmu agama dan sains lingkungan.

    b.Kurangnya Integrasi: Konsep ekologi Islam tidak terstruktur dalam pembelajaran sistematis.

    c. Kurikulum Madrasah: Madrasah belum mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam kurikulum inti.

    d. Implikasi: Lulusan memiliki pengetahuan agama kuat tetapi kesadaran ekologis lemah.

    e. Pendekatan Dogmatis: Pengajaran nilai-nilai lingkungan, masih bersifat teoritis dan normatif, tanpa konteks aplikatif.

    f.  Kurang Experiential Learning: Minim pembelajaran lapangan, observasi ekosistem, dan proyek lingkungan.

    g. Gap Generasi: Metode ceramah konvensional tidak efektif bagi generasi digital native.

    2. Disorientasi Nilai dan Keterbatasan Infrastruktur/SDM

    a. Dominasi Paradigma Antroposentris: Manusia sebagai pusat vs. konsep khalifah sebagai pemelihara.

    b. Konsumerisme vs. Kesederhanaan: Budaya israf (berlebihan) bertentangan dengan prinsip zuhud dan keberlanjutan.

    c. Krisis Spiritual-Ekologis: Degradasi lingkungan sebagai manifestasi krisis spiritual (QS Ar-Rum: 41).

    d. Keterbatasan Fasilitas: Madrasah/pesantren dengan akses terbatas ke sumber daya pendidikan lingkungan.

    e. Kapasitas Pendidik: Guru agama dengan kompetensi ekologis terbatas.

    f. Minimnya Kolaborasi: Keterpisahan antara lembaga pendidikan Islam dan organisasi lingkungan

    Bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai teologis dan nilai-niai ekologis ?

    STUDI KASUS INTERNASIONAL

    Beberapa negara dapat dijadikan contoh bagaimana mereka menjaga ekologi dengan baik.

    Maroko membuat program “Madrasah Hijau” dengan kurikulum integratif dan infrastruktur ramah lingkungan.

    Turki membuat Program “Eco-Madrasahs” dengan sertifikasi nasional untuk sekolah Islam ramah lingkungan.

    Malaysia melakukan integrasi konsep maqasid syariah (tujuan syariah) dalam pendidikan lingkungan di universitas Islam.

    ROADMAP 5 TAHUN PENDIDIKAN EKOLOGI ISLAM

    Untuk mendapatkan lingkungan alam yang hijau, aman dan damai tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Diperlukan perencanaan yang matang dan konsistensi dalam menjaga progam tersebut agar tetap berjalan dengan baik.  

    TAHUN

    AGENDA

    TH.1 – 2026

    1. Penyusunan Kurikulum Nasional – pilot Project 10 Madrasah

    2. Pelatihan Guru Inti

    TH. 2-3 (2027-2028)

    1. Replikasi ke 100 Madrasah. Sertifikasi “Madrasah Hijau”

    2. Pengembangan Materi Digital

    TH. 4 – 2029

    1. Evaluasi Nasional (Perbaikan Kurikulum)

    2. Ekspansi ke Pesantren

    TH. 5 – 2030

    1.  Ekspansi Nasional (Kerjasama Internasional)

    2. Sistem Monitoring Berkelanjutan

    KESIMPULAN

    1. Telah terjadi kerusakan lingkungan baik secara global maupun lokal yang berdampak serius pada krisis iklim, bencana ekologis, menurunnya kualitas hidup manusia, serta terancamnya keberlanjutan generasi mendatang.
    2. Pendidikan Islam memiliki relevansi kuat dalam memelihara ekologi dan lingkungan melalui nilai-nilai tauhid, amanah, khalifah, keadilan, dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.
    3. Pendidikan Islam perlu diperbarui agar tetap kontekstual dan responsif terhadap persoalan ekologis, meskipun menghadapi tantangan kurikulum, kapasitas pendidik, dan integrasi ilmu keislaman dengan sains lingkungan.
    4. Oleh karena itu, diperlukan penyusunan roadmap pendidikan ekologi Islam yang terarah dan terukur untuk lima tahun ke depan guna membangun kesadaran, kompetensi, dan aksi nyata pelestarian lingkungan berbasis nilai-nilai Islam

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Marzuki Alie adalah Rektor Universitas Indo Global Mandiri Palembang. Wakil Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    46
  • Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Strategi Penguatan Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

    Oleh : Dr. Ida Zahara Adibah

    Pendahuluan

    Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman GUPPI, yang dikenal dengan nama Undaris, itu memang unik dan menarik. Nama perguruan tingginya panjang banget ? Ini memang ada sejarahnya, terkait dengan 3 gerbong.

    Yang pertama dari nama Universitas Darul Ulum Jombang. Itu pendirinya Kyai Haji Musain Romli. Beliau dulu itu tokoh torikot Nahdhatul Ulama. Kemudian bergandengan dengan Yayasan Islamic Center Sudirman Ambarawa, Jawa Tengah.

    Jadi Jawa Timur dengan Jawa Tengah berkumpul dua sahabat kemudian karena sama-sama aktif di GUPPI, pada waktu itu di Golkar, maka kemudian nama Yayasan Islamic Center Sudirman itu ditambah dengan GUPPI, sehingga Undaris itu adalah Universitas Darul Ulum Islamic Center Sudirman GUPPI di Semarang.

    Persoalan Perguruan Tinggi Swasta.

    Ada berbagai persoalan yang dihadapi oleh perguruan tinggi Islam swasta di Indonesia. Jumlah lembaga perguruan tinggi Islam swasta ini, yang ada di Kemenang, kurang lebih ada 870. Di Jawa Tengah, yang di bawah Kopertais, ada sekitar 50-an. Menurut data Kementerian Agama, jumlah lembaga perguruan tinggi Islam swasta saat ini ada 870. Muhammadiyah punya 170 perguruan tinggi. Kemudian milik Nahdhatul Ulama kurang lebih 183. Berarti kira-kira ada sekitar 1200an perguruan tinggi Islam.

    Pertanyaannya kemudian, bagaimana mutu perguruan tinggi Islam ? Apakah banyak sudah Terakreditasi Unggul ? Ternyata belum ada 20% perguruan tinggi Islam swasta yang Terakreditasi Unggul.

    Ini juga yang dirasakan di Undaris. Karena itu kita menargetkan agar Undaris dapat segera Terakreditasi Uggul. Hari ini akreditasi institusinya masih Baik Sekali.

    Nah persoalan perguruan tinggi Islam swasta pada umumnya ada 3, yaitu dana, mutu dan minat calon mahasiswa.

    Yang pertama tidak punya dana. Ketika tidak punya dana, maka kurang berkualitas. Ketika kurang berkualitas, maka akan mati. Banyak perguruan tinggi Islam yang punya mahasiswanya sekitar 10-15 orang saja. Kemudian karena tidak laku, dia decline atau mati.

    Maka bagaimana 3 persoalan itu kita atasi ?. Ini kayak lingkaran setan. Karena itu bagaimana kita upayakan agar menjadi lingkaran malaikat ?. Apa itu ? Nah istilah lingkaran malaikat itu yaitu bagaimana kualitasnya yang didahulukan. Ketika kualitasnya didahulukan, maka otomatis akan diminati oleh masyarakat. Ketika diminati oleh masyarakat, maka disitulah ada uang yang mengalir. Walaupun niatnya tidak bisnis, tetapi secara mandiri itu bisa mencukupi kebutuhan sendiri.

    Yang namanya yayasan tidak bergantung kepada pemerintah. Dan hampir semua lembaga pendidikan Islam di Indonesia itu swasta. Kira-kira 90 %. Ini termasuk juga madrasah, yang sebagian besar itu swasta.

    Memang perguruan tinggi Islam memiliki peran historis dalam perjuangan bangsa dan pengembangan pendidikan di Indonesia. Tidak bisa kita pungkiri bahwa perguruan tinggi Islam sangat membantu perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Maka dari itu tantangan di era globalisasi dan modernisasi menuntut perguruan tinggi Islam untuk terus berinovasi.

    Bagaimana GUPPI sekarang ?

    GUPPI sebagai organisasi pembaruan pendidikan Islam harus melakukan langkah strategis dalam pengoptimalan perguruan tinggi Islam. Maka ada 5 langkah yang perlu dilakukan. Ini juga yang sedang saya rintis di Undaris.

    Pertama, Internalisasi nilai dan karakter. Perguruan tinggi Islam harus bisa menanamkan rasa takwa dan akhlak mulia sebagai landasan pengembangan kepribadian mahasiswa.

    Pendidikan Islam difungsikan sebagai filter untuk memilah budaya global yang baik dan buruk. Bagaimana perguruan tinggi Islam dapat membangun kesadaran etis dan moral yang kuat, menjadikan mahasiswa sebagai manusia yang utuh dan bermoral. Dan yang juga penting adalah bagaimana melakukan integrasi nilai-nilai Islam ke dalam kurikulum dan kehidupan kampus secara holistik.

    Karena kita basisnya Islam, maka penguatan karakter dan nilai spiritual itu yang menjadi ruh kita. Siapa lagi yang akan memperjuangkan anak-anak kita kalau tidak lewat pergurun tinggi kita ? Maka perguruan tinggi kita itu tidak boleh mencetak pengangguran, Tetapi bagaimana perguruan tinggi kita bisa mencetak para intelektual yang bisa memecahkan persoalan masyarakat.

    Kedua, yaitu mutu akademik dan riset inovatif berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalisme dan mutu tenaga pendidik. Karena itu dosen harus bergelar doktor atau Profesor. Mampu mengembangkan budaya riset multidisipliner yang berfokus pada isu-isu sosial, ekonomi, dan lingkungan, kemudian menyediakan solusi akademis yang integral. Perguruan tinggi Islam harus bisa memastikan bahwa kurikulum yang digunakan itu relevan dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Nah ini memang bedanya lembaga pendidikan dasar menengah dengan pendidikan tinggi adalah dalam bidang riset sehingga perguruan tinggi bukan sebatas menara gading tetapi justru memberikan solusi persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

    Ketiga yaitu peran sosial dan kemasyarakatan. Jangan sampai kehadiran perguruan tinggi itu tidak dikenal oleh masyarakat, karena tidak pernah melakukan pengabdian kepada masyarakat.

    Nah kontribusi sosial dan agen perubahan Ini mendorong kampus untuk punya Social Responsibility. Jadi fungsi perguruan tinggi adalah sebagai solusi umat dalam beragama dan berbangsa. Ketika ada kasus-kasus yang terjadi di masyarakat itu bisa dilakukan riset oleh perguruan tinggi sesuai dengan semangatnya.

    Jadi bagaimana memperkuat kontribusi institusi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dengan pendekatan berbasis nilai-nilai Islam.

    Keempat adalah jaringan dan internasionalisasi. Saat ini Undaris sudah mulai menjalin kerjasama dengan berbagai jaringan internasional, termasuk KKN internasional di Malaysia.

    Kegiatan mahasiswa praktek mengajar di Malaysia yaitu mengajar anak-anak Indonesia yang tidak mendapat pendidikan di sekolah formal di Malaysia. Undaris memberangkatkan mahasiswa ke sana untuk mengajar di sanggar-sanggar yang ada.

    Jadi ini memang persoalan pelik. Orang tuanya itu warganegara Indonesia yang bekerja di Malaysia, tapi tidak punya status warganegaraan sehingga anak-anaknya tidak mendapatkan pendidikan yang formal di sana. Kehadiran kampus disana diharapkan menjadi agen perubahan bagi masyarakat.

    Program KKN Internasional ini dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan mencoba membangun kredibilitas institusi di tingkat nasional dan internasional agar perguruan tinggi Islam Indonesia dapat bermain di tingkat dunia.

    Dan terakhir yaitu Strategi Politik Pendidikan. Hubungan antara pendidikan dan politik Ini bukan sekedar hubungan saling memengaruhi,  tetapi adalah hubungan fungsional. Ketika perguruan tinggi dekat dengan pemerintah, maka itu bisa menjadi partner yang ideal, seperti juga ormas-ormas yang lain. Sehingga perjalanan arah bangsa ini salah satunya juga digawangi oleh Perguruan Tinggi Islam milik GUPPI. Ini adalah bukti bagaimana kontribusi yang nyata dari perguruan tinggi Islam.

    Hubungan timbal balik antara pendidikan dan kebijakan politik dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (un-employment), dan peranan politik kaum cendekia  (the political role of intellectual).

    Kata Akhir

    Perguruan Tinggi Islam diharapkan tidak menjadi menara gading intelektual, tetapi justru bisa menjadi mercusuar moral dan agen bagi solusi permasalahan umat dan bangsa.

    Dengan strategi yang tepat maka perguruan tinggi Islam dapat menguatkan misi Islam sebagai Islam Rahmatan lil alamin. Ini yang kita idam-idamkan, baik dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan dan juga peradaban di Indonesia.

    GUPPI diharapkan terus mendorong perguruan tinggi Islam untuk menguatkan peran transformatifnya melalui 5 pilar strategis, yaitu penguatan karakter, mutu akademik, kontribusi sosial, jaringan global dan strategi politik pendidikan.

    – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – –

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Ida Zahara Adibah. M. Si adalah Rektor Undaris GUPPI Semarang dan Wakil Ketua DPW GUPPI Jawa Tengah. 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    48
  • PERAN GUPPI DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM (DEEP LEARNING)

    PERAN GUPPI DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MENDALAM (DEEP LEARNING)

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Peran GUPPI Dalam Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

    Oleh : Bambang Suryadi

    Pendahuluan.

    Hingga saat ini masih muncul tiga pertanyaan yaitu why, what, and how terkait dengan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Masyarakat ingin tahu lebih dalam lagi mengapa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah membuat kebijakan ini dan bagaimana implementasinya ?.

    Sebagaimana kita ketahui, kita menghadapi yang namanya krisis pembelajaran secara global. Global learning crisis, bahkan massive learning crisis. Apa indikatornya?

    Laporan Bank Dunia 2018 menyebutkan terjadinya schooling without learning. Anak-anak kita itu pergi ke sekolah, menghabiskan waktu dari pagi sampai sore hari, membawa buku pelajaran, tapi at the end of the day they didn’t learn anything.

    Fakta dari OECD dari hasil PISA tahun 2018-2022 menggambarkan bahwa lebih dari 99 persen siswa Indonesia itu memiliki kemampuan berpikirnya pada low order thinking skill dan kurang dari 1 persen yang kemampuan berpikirnya itu pada high order thinking skill.

    Belum lagi temuan OECD menyebutkan bahwa 2 dari 3 siswa di Indonesia ini memiliki yang namanya fixed mindset, pola berpikir tetap, yang bukan growth mindset, Sulit untuk berubah, sulit untuk beradaptasi kepada lingkungan, sulit untuk menerima perubahan dan hal-hal yang baru.

    Secara nasional, kita juga mengalami learning loss seperti yang disampaikan oleh Menteri Dikdasmen kita Prof. Abdul Mu’ti terjadinya generasi strawberry, bahkan dari Malaysia menyebut terjadinya Brain Rot.

    Kita lihat anak SMP kasus di Bali, kelas 3 SMP belum bisa membaca, anak SD bunuh diri. Belum lagi kasus bullying yang ada di media sosial. Yang ini menggambarkan lemahnya karakter siswa-siswa kita. Jadi tantangan global begitu berat, tantangan nasional juga begitu hebat. Sementara anak-anak belajar hanya pada service learning.

    Pertanyaannya adalah solusi terhadap tantangan ini apa? Karena itu ijtihad Menteri Dikdasmen memperkenalkan yang namanya deep learning ataupun pembelajaran mendalam, yang ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru di dunia pendidikan. Di Indonesia tahun 70-an sudah memperkenalkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

    Kemudian dengan PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ada lagi PAIKEM Gembrot (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot). Itu sebenarnya ada unsur-unsur yang ada di dalam deep learning. Namun ini semua belum menghasilkan kualitas pembelajaran yang baik.

    Karena itu melihat tren global yang saat ini sudah ada kurang lebih 21 negara yang menerapkan deep learning, maka Indonesia adalah negara yang kedua puluh dua, dimana negara-negara ini ada yang sifatnya memang kebijakan nasional. Seperti Norwegia, adalah kebijakan masing-masing satuan pendidikan. Di Australia, meskipun tidak eksplisit menyatakan deep learning, tapi sekolah itu menerapkan. Mereka juga ada explicit teaching, explicit learning.

    Nah kita di Indonesia ini kebijakan yang diambil dari kebijakan secara nasional, yang berarti akan diperlakukan seluruh satuan pendidikan, baik pada sekolah maupun madrasah. Inilah why sebagai jawaban terhadap tantangan-tantangan baik global maupun nasional itu tadi.

    Sekarang, apa itu deep learning?

    Deep learning yang kita terapkan di Indonesia ini bukan deep learning sebagaimana yang ada di negara-negara lain yang diperkenalkan oleh Michael Fullan sebagai pakar ataupun figur yang memperkenalkan ini.

    Kalau kita amati secara detail dalam definisinya Michael Fullan, secara sederhana bisa kita pahami deep learning juga proses untuk mencapai enam C untuk kemampuan global itu. Character, Citizenship, Collaboration, Communication, Creativity dan Critical thinking.

    Tapi di Indonesia, kalau bahasanya anak muda, bahwa pembelajaran mendalam sangat Indonesia banget. Berarti dia mengakar kepada local wisdom. Dia berbasis pada nilai-nilai lokal tapi juga mengadaptasi pada nilai global.

    Karena itulah kata kunci penting dalam definisi ini yang langsung oleh Menteri Dikdasmen yaitu adalah pendekatan pembelajaran yang memuliakan. Maka kita juga, sebagaimana juga Allah sangat memuliakan manusia. Seperti firman Allah wa laqot karramna bani Adam.

    Pertanyaanya, apakah guru-guru tidak akan memuliakan muridnya meskipun mereka punya keterbatasan? Apakah murid-murid tidak akan memuliakan guru-gurunya? Tapi fakta yang ada sekarang guru tidak berani bertindak karena mereka tidak memiliki perlindungan hukum, tidak punya proteksi sehingga mereka dipidanakan dan seterusnya.

    Setelah ini memuliakan, maka dibingkai dalam tiga nilai yang sangat penting yaitu nilai yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan mengembirakan (joyful).

    Mengapa diambil setelah menggembirakan bukan yang menyenangkan? Selama ini terjadi miskonsepsi. Fun learning hanya diartikan pada pembelajaran yang perlu dengan ice breaking, anak bisa tertawa gembira, tapi at the end of the process they got nothing. Karena itulah mengembirakan dalam konteks ini adalah ketika anak bisa menginternalisasi dan memahami dan mengaplikasikan apa yang mereka terapkan.

    Tidak cukup dengan tiga prinsip ini, tapi ini harus dalam proses yang menyeimbangkan antara olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah fisik. Inilah konsep tawazun ataupun keseimbangan. Dalam keseimbangan ini perlu dilakukan secara holistik dan integratif. Inilah kata kunci penting dalam definisi deep learning yang Indonesia. Ada integratif, holistik, olah pikir, olah rasa, olah hati, olah fisik. Kemudian berkesadaran, bermakna, dan mengembirakan. Tapi paling utama nilai adalah memuliakan.

    Yang kedua, dalam konteks implementasi telah terjadi miskonsepsi dan mispersepsi terhadap pembelajaran mendalam. Dipahami seolah-olah pembelajaran adalah sebuah kurikulum baru. Bukan, dia sebuah pendekatan. Ibarat iklan Teh Sosro,  apapun makanannya, minumannya tetap Teh Sosro.

    Apapun kurikulumnya, sekarang kita masih menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Karena sebuah pendekatan, maka dalam istilah agama kita, deep learning ini solihun likuli zaman wa makan. Solihun likuli manhaj dirosi.

    Tapi di Kementerian Agama yang diterapkan sekarang itu Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Maka perlu dipadukan antara dua kebijakan ini sehingga perpaduan antara Pembelajaran Mendalam (PM) dengan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ini akan menghasilkan pendidikan bermutu dan berkualitas untuk semuanya.

    Peran penting dalam implementasi Pembelajaran Mendalam ada tiga aktor utama.

    Pertama adalah siswa yang belajar, guru yang mengajar, ketika ada kepala sekolah yang melakukan kepemimpinan ataupun manajemen. Karena itulah dalam implementasinya, kita telah menetapkan bahwa karakteristik sekolah yang berhasil dan penerapan ini adalah excellent in learning, excellent in teaching, dan excellent in leading. Tiga faktor utama ini harus diawali dengan tadi perubahan mindset untuk berubah.

    Namun tantangan kita, meskipun saat ini sudah ada kurang lebih 62 ribu sekolah yang dilatih, begitu guru-guru selesai dilatih, mereka kembali kepada praktek yang lama. Karena itulah kita memerlukan backstopping program supaya mereka itu adaptif terhadap perubahan yang baru.

    Hal yang lain adalah yang penting dalam konteks implementasi pada assessment ataupun penilaian. Di mana kelemahan-kelemahan selama ini adalah guru-guru ataupun juga dinas pendidikan, dan satuan pendidikan, tidak melakukan tindak lanjut terhadap penilaian. Karena itu penelitian John Heide yang mengatakan bahwa feedback ataupun umpan balik guru terhadap hasil kerja siswa, itulah yang membuat siswa belajar. Karena umpan balik itu sifatnya low cost tapi high impact.

    Assesmen harusnya tidak memerlukan biaya yang tinggi sebagaimana kalau kita membangun kelas, membangun sekolah baru, ataupun membeli teknologi. Makanya low cost, tapi impactnya sangat tinggi karena bisa membuat siswa belajar.

    Sama dengan konteks PR, bukan banyaknya PR. Ini seperti temuan Almahum Yahya Umar, yang mengatakan bahwa yang membuat siswa belajar bukan banyaknya PR yang diberikan guru, tapi adalah kualitas PR yang diberikan oleh guru terhadap muridnya.

    Kalau PR-PR ini berkualitas, diikuti dengan feedback, maka akan terjadi learning dari siswa kita. Praktek baik yang sudah ada, seperti pengalaman dari Ummusshabri Kendari, begitu, ada penampilan dari siswa yang menggambarkan keragaman nasional, sebenarnya saya amati ada nilai-nilai, ada unsur-unsur pembelajaran mendalam diterapkan di situ.

    Yang pertama adalah engagement, yaitu keterlibatan antara siswa, guru, orang tua. Saya tanya kepada panitia, siapa yang membangun stand-stand itu? mereka mengatakan bahwa itu adalah kolaborasi siswa, orang tua, guru. Bahkan biayanya pun juga dari orang tua, tidak dibebankan kepada sekolah atau Yayasan Ummusshabri, karena mereka sanggup mengeluarkan biaya yang tinggi untuk kesuksesan anaknya.

    Kemitraan, juga menjadi satu kata kunci dalam rapat kerja nasional DPP GUPPI di Kendari ini. GUPPI perlu bermitra dengan banyak pihak, demikian juga sekolah perlu bermitra dengan banyak pihak, baik antar lintas mata pelajaran, bahkan lintas sekolah, bahkan tidak hanya lintas sekolah juga lintas negara. Guru-guru kita bisa belajar dari guru-guru yang ada di Malaysia dengan teknologi yang canggih seperti sekarang ini.

    Peran GUPPI.

    Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam implementasi Pembelajaran Mendalam.

    Pertama, apa peran GUPPI? Dalam konteks kemitraan, GUPPI memiliki posisi yang sangat strategis untuk bermitra dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Agama. GUPPI bisa menghadirkan model-model pelatihan yang lebih segar sehingga para guru tidak kembali ke pola lama.

    Yang kedua adalah peluang untuk melakukan pelatihan-pelatihan dengan aset GUPPI sendiri. GUPPI mempunyai sekian banyak sekolah dan madrasah yang tersebar di seluruh provinsi. Ini bisa menjadi peluang GUPPI untuk menjadi kepanjangan tangan dari kementerian untuk melatih dalam konteks pemahaman pembelajaran mendalam sehingga tidak terjadi miskonsepsi di lapangan.

    Sekarang ini masih ada miskonsep dalam konteks dimensi 8 profil yang merupakan pengembangan dari 6 dimensi profil Pelajar Pancasila. Ada kritik terhadap Kementerian, katanya cuma mengganti istilah gotong royong diganti kolaborasi, istilah kewargaan global diganti kewargaan negaraan, kemudian ditambah dua.

    Sebenarnya kita tidak hanya mengganti istilah, tapi punya makna filosofis. Justru hal yang missing sebelumnya adalah tentang sehat dan juga komunikasi. Sehat itu adalah amanat dalam undang-undang.

    Inilah konsep-konsep yang perlu kita bangun. Karena itu saya yakin GUPPI memiliki peran yang strategis dalam implementasi pembelajaran mendalam. Peluang ini perlu kita wujudkan bersama.

    – – – – – – – – – – – – – 

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Prof. Dr. Bambang Suryadi adalah Anggota Tim Pengembangan Pembelajaran Mendalam Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Anggota Dewan Pakar DPP GUPPI. 

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    63
  • Kiprah Para Perempuan Inspiratif –  Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    Kiprah Para Perempuan Inspiratif – Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Kiprah Para Perempuan Inspiratif –  Pejuang Transformasi Pendidikan Islam

    Oleh : Dr. Ida Rosyidah. MA

    Saat ini kami di DPP Wanita GUPPI sedang menyelesaikan tulisan tentang Perempuan Inspiratif, Pejuang Transformasi Pendidikan. Buku ini menuliskan ada apa yang sudah dilakukan oleh perempuan-perempuan hebat di pesantren, perguruan tinggi, maupun komunitas yang semuanya mereka adalah guru bagi masyarakat.

    Mereka punya imajinasi yang sangat baik, punya kemampuan mengembangkan agensi yang sangat kuat, sehingga kemudian bisa mengelola komunitasnya, mengelola lembaga pendidikannya dengan baik.

    Mengapa menulis buku soal perempuan inspiratif dalam bidang pendidikan ini penting ?

    Sudah banyak perempuan berkontribusi dalam dunia pendidikan, tetapi seringkali tidak terdengar. Karena tidak ada bukti tertulis, tidak ada fakta sejarah, apalagi kalau kita lihat di zaman Soeharto, sumber data yang sangat kuat itu dihilangkan, terutama misalnya tentang keterlibatan perempuan di gerakan gerwani.

    Betapapun buruknya, itu adalah bagian dari sejarah kita yang tentu saja datanya tidak bisa dihilangkan. Itu menjadi penting, karena itu menarasikan dalam bentuk tertulis apa yang sudah dilakukan oleh perempuan, itu menjadi sangat penting.

    Di samping juga kemudian ada bias-bias maskulin yang kemudian mengapa sejarah di masyarakat kita itu atau di dunia, bahkan kurang dikenal secara perempuan. Makanya kita kenal hanya his story, tapi kita tidak pernah kenal apa itu her story. Itu bagian dari penting mengapa ini perlu kita perhatikan.

    Dari buku yang kami tulis ini ada tiga model pembaharuan yang dilakukan oleh perempuan.

    Pertama, pembaharuan pendidikan di universitas, itu dilakukan oleh tiga tokoh yang salah satunya ini sangat kita kenal, yaitu Nurhayati Djamas, yang melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan, terutama beliau mencoba mengintegrasikan keislaman di dalam keilmuan-keilmuan. Yang itu kemudian di praktekkan di Universitas Islam Al-Azhar.

    Jadi beliau membuat buku pendoman tentang bagaimana mengintegrasikan Islam atau keislaman, nilai-nilai keislaman ke dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja kalau di universitas kita perlu pemahaman tentang epistemologi yang baik, ontologi dan lain-lain. Tetapi apa yang sudah diiniasiasi oleh bu Nurhayati Djamas dan kemudian didukung oleh rektor dan kemudian digunakan untuk seluruh fakultas di universitas Al-Azhar, itu satu bentuk pembaharuan yang sangat baik.

    Yang kedua, pembaharuan di bidang akademik dilakukan oleh ibu Siti Ruhaini Dzuhayatin. Beliau adalah dosen di UIN Sunan Kalijaga, kemudian menjadi advokat untuk bidang hak asasi manusia di OKI. Dan sekarang ini beliau sedang menjadi Duta Besar di Uzbekistan.

    Beliau salah satu perempuan yang punya visi-misi yang sangat baik, yang salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah bagaimana mengintegrasikan kesetaraan gender atau kemitrasejajaran, itu kata yang biasa beliau sebutkan, ke dalam mata kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

    Dari situ bukan hanya UIN Sunan Kalijaga punya perspektif gender yang baik, tetapi juga UIN Sunan Kalijaga kemudian bisa memberikan peluang kepada teman-teman PSGA di sana, kalau dulu disebutnya PSW, Pusat Studi Wanita, kalau sekarang disebutnya Pusat Studi Gender dan Anak, itu bisa membuat prodi khusus tentang studi gender.

    Itu bentuk pembaruan yang sangat baik karena seringkali bias maskulitas masih sangat kuat di masyarakat kita, sehingga upaya-upaya semacam itu perlu kerja keras dan pertarungan cukup hebat.

    Lalu kemudian ada Alimatul Qibtiyah, dia juga dosen di UIN Sunan Kalijaga, dan beliau sempat menjadi komisioner Komnas Perempuan. Cukup banyak upaya-upaya yang dilakukan, yang pertama adalah mempromosikan bagaimana universitas itu punya perspektif inklusif. Jadi kalau dulu misalnya UIN itu yang kuliah itu hanya muslim, tapi belakangan yang kuliah ada juga non-muslim.

    Percampuran antara muslim dan non-muslim tidak membuat orang-orang muslim menjadi berpindah agama atau mengurangi perspektif keagamaannya, nilai-nilai keagamaannya yang dianut. Tapi justru memperkuat, karena disana ada dialog yang sangat kuat, mempertanyakan banyak hal tentang keberagamaan, tentang demokrasi, tentang isu-isu sosial lainnya. Bu Almatul Qibtiyah juga mencoba melakukan upaya-upaya untuk advokasi kekerasan seksual di perguruan tinggi.

    Yang kita tahu semua, kekerasan seksual di perguruan tinggi makin tahun makin tinggi, tidak hanya kekerasan yang bentuknya formal dan psikologis, tapi juga kekerasan seksual yang berupa sentuhan bahkan lebih jauh dari itu.

    Lalu di bagian pembangunan pendidikan pesantren, ini sebetulnya yang paling banyak yang kita temukan. Dan rata-rata itu pemimpin-pemimpin perempuan itu sangat bagus.

    Yang pertama kita kenal itu adalah Umi Wahidah. Itu beliau adalah pemimpin pesantren Nurul Iman, atau Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman. Dulu beliau mendampingi suaminya di pesantrennya, saat pesantrennya masih tergantung pada pendanaan orang lain.

    Tapi kemudian di bawah pembinaan dan pimpinan dari Umi Wahidah, sekarang ini Umi Wahidah punya 15.000 santri. Saat suaminya meninggal tahun 2010, jumlah santrinya belum sebanyak itu. Dan hebatnya, semua santri yang berjumlah 15.000 orang itu mendapatkan pendidikan gratis, yang semua didanai oleh pesantren.

    Nah pesantrennya sendiri sekarang ini di bawah pembinaan Umi Wahidah punya 71 unit usaha. Dari mulai pertanian, terus kemudian mereka juga punya pabrik roti, dan lain-lain. Nah yang bagus dari Umi Wahidah itu, yang mungkin juga bisa dijadikan referensi untuk sistem pendidikan di GUPPI adalah dia punya modern management yang mereka sebut Ketahanan Fiskal Pesantren. Jadi dia menyebutkannya 1 per 3 banding 1 per 3. 1 per 3 dari keuntungan yang diperoleh dari 71 perusahaan yang dikelola, termasuk parfum, pembuatan parfum. Jadi 71 unit usaha itu 1 per 3 dari keuntungan dipakai untuk running pesantren. Jadi misalnya makan, biaya gaji guru, dan lain-lain. Itu 1 per 3 lagi untuk penguatan dan pembinaan pesantren.

    Jadi di penguatan pesantren itu misalnya untuk membeli tanah lagi agar pesantrennya lebih luas. Atau untuk menambah sarana pondok. Terus 1 per 3 lagi itu disimpan kalau-kalau ada kondisi krisis ekonomi.

    Jadi ini adalah bukti pesantren yang dikelola manajemennya oleh seorang perempuan, dan punya kontribusi besar bagi kemajuan pesantren.

    Saya kira ini menjadi bagus untuk kemudian nanti bisa dijadikan insight atau inspirasi buat pesantren-pesantren di bawah GUPPI.

    Lalu ada Ibu Nyai Badriah Fayumi, itu dari pondok pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits.

    Tentu setiap pesantren, setiap orang tua mau menitipkan anaknya di pesantren, ingin mencari pesantren yang aman, nyaman, dan jauh dari kekerasan. Apakah itu bullying yang dilakukan teman atau kekerasan dari guru dan yang lainnya. Bahkan sampai kekerasan seksual.

    Nah Ibu Badriah itu mampu membuat pesantren yang aman, nyaman, dan memberikan juga perspektif yang baik kepada anak untuk karakter. Sehingga cepat sekali, belum sampai 10 tahun, santrinya atau mahasiswanya sudah 2 ribu orang, laki-laki dan perempuan.

    Dia menggunakan upaya untuk membuat reinterpretasi terhadap ayat-ayat Al-Quran agar perempuan punya posisi yang sama dengan laki-laki, baik dalam bidang pendidikan, maupun jabatan. Jabatan itu adalah pengambil kebijakan. Termasuk misalnya di jabatan-jabatan sekolah, seperti ketua kelas.

    Lalu ada Umi Aini Ainul Mardiyah, itu juga punya pembaruan pendidikan pesantren. Beliau itu punya pesantren yang sangat menekankan tradisi salaf. Dia bilang, tradisi salaf ini sangat baik dan akan saya pertahankan.

    Karena punya nilai-nilai kultural yang baik, nilai-nilai jabatan yang baik. Tapi untuk punya perspektif yang baik untuk masa depan siswanya, maka dia mencoba mengkombinasikannya dengan sistem pendidikan modern. Jadi misalnya soal digitalisasi itu sangat kuat ditekankan sehingga siswa santri dan santriwati itu punya skill yang relatif baik dan tidak ketinggalan zaman dari sisi perkembangan modern.

    Lalu ada pembaruan pendidikan pesantren yang dilakukan oleh Ibu Nissa Wargadipura dari Pondok Pesantren At Thaariq Garut Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai pimpinan pesantren ekologis, beliau punya konsep yang menarik tentang Islam Hijau.

    Jadi bagaimana menjadikan sistem pertanian tradisional. Orang dulu mungkin meninggalkan sistem pertanian tradisional karena dianggap kurang menguntungkan bagi pengembangan secara ekonomi. Lalu dia mencoba membuat pesantren dengan pendekatan yang berbasis nilai-nilai keislaman plus lokal wisdom.

    Jadi yang tradisional gitu. Membuat apa yang dia sebut agroekologi. Saya kira itu juga bagus ya untuk pesantren-pesantren di wilayah daerah.

    Nilai-nilai yang menjadi wajib ditanamkan kepada santri dan santriwatinya adalah tentang kholifah fil ard dan tentang maqosidus syariah yang lima hifdun. Jadi hifzul mal, hifzul nas, hifzul mal, dan lain-lain.

    Satu lagi itu ada Umi Hanisah. Yang dia mendidikan yang namanya Pesantren Diniah Dayah Darussalam di Aceh. Nah yang paling bagus dari apa yang dilakukan oleh Umi Hanisah ini adalah bagaimana merekrut anak dan kemudian membina anak-anak korban perkosaan yang dianggap aib oleh masyarakat sekitarnya.

    Jadi saat pesantren pertama didirikan, itu pesantrennya didemo. Bahkan dengan demo yang keras sehingga dia dan anak-anak asuhnya harus keluar dari pesantren, itu pindah ke tempat lain. Tapi karena keteguhan hatinya, dia menganggap bahwa saya akan terus berjalan dengan pesantren ini.

    Jadi pesantrennya satu, diorientasikan pada kasus anak-anak korban perkosaan, karena dulu kan korban perkosaan kan sangat banyak. Terus yang kedua, perempuan korban perkosaan. Dia melakukan pembinaan dari sisi keislaman dan lain-lain.

    Dia juga kemudian mengembangkan kemandian pesantren melalui penguatan usaha kecil dan menekam. Lalu nilai islam juga menjadi dasar, karena bagi dia khairunas anfauhum linnas itu menjadi sangat penting. Dan itu yang ditanamkan kepada semua santrinya.

    Satu lagi, Bu Zizi Fauziyah, salah satu tokoh juga yang dikenal sebagai orang yang mengagas tentang kurikulum Kuba, kurikulum yang bisa mengkombinasikan antara aspek emosional atau kalbu dengan intelektual atau brain, dan perilaku atau education.

    Bu Zizi belajar ke Jepang, ke Harvard untuk soal Neurology, Neuroscience. Jadi bukan main-main gitu. Jadi apa yang dilakukan perempuan harusnya juga menjadi perhatian kita semua, karena dulu apa yang kita buang mungkin sangat berguna nantinya untuk masa depan masyarakat Indonesia, khususnya untuk pembaruan pendidikan Islam.

    Selain itu dari lingkungan pondok pesantren ada Nyai Hindun Anisah yang menjadi pimpinan pondok pesantren Hasyim Asy’ari di Bangsri Jepara. Dia juga dikenal sebagai salah satu politisi Perempuan yang cukup vocal dai DPR RI.

    Buku ini juga menampilkan tokoh pembaharuan pendidikan komunitas, ada Tutty Alawiyah, Aisyah Hamid Bhaidlowi dan Mahariah.

    Tuty Alawiyah dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Assyafiiyah Jakarta dan pernah menjadi Menteri Peranan Wanita di periode Presiden BJ Habibie.

    Aisyah Hamid Baidowi, dikenal sebagai seorang penggerak kemandirian perempuan Nahdliyyin. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat NU agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.

    Sedangkan Mahariah adalah peraih penghargaan lingkungan Kalpataru asal Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Mahariah menjadi salah satu tokoh penyelamat dan penggerak program pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Berkat aksi pedulinya, dia telah menyelamatkan Pulau Pramuka dari krisis sampah dan krisis lingkungan.

    Buku ini ditulis dari tokoh-tokoh yang beragam latar belakang. Ada Muhammadiyah, NU, GUPPI, maupun yang tidak tampak ormasnya. Karena itu sekalipun warnanya sangat beragam, tapi tetap kita pertahankan inklusivitas parqa tokoh tersebut.

    ——————————————–

    Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.

    Dr. Ida Rosyidah MA adalah Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengurus DPP Wanita GUPPI.

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    33