Kiprah Para Perempuan Inspiratif – Pejuang Transformasi Pendidikan Islam
Oleh : Dr. Ida Rosyidah. MA

Saat ini kami di DPP Wanita GUPPI sedang menyelesaikan tulisan tentang Perempuan Inspiratif, Pejuang Transformasi Pendidikan. Buku ini menuliskan ada apa yang sudah dilakukan oleh perempuan-perempuan hebat di pesantren, perguruan tinggi, maupun komunitas yang semuanya mereka adalah guru bagi masyarakat.
Mereka punya imajinasi yang sangat baik, punya kemampuan mengembangkan agensi yang sangat kuat, sehingga kemudian bisa mengelola komunitasnya, mengelola lembaga pendidikannya dengan baik.
Mengapa menulis buku soal perempuan inspiratif dalam bidang pendidikan ini penting ?
Sudah banyak perempuan berkontribusi dalam dunia pendidikan, tetapi seringkali tidak terdengar. Karena tidak ada bukti tertulis, tidak ada fakta sejarah, apalagi kalau kita lihat di zaman Soeharto, sumber data yang sangat kuat itu dihilangkan, terutama misalnya tentang keterlibatan perempuan di gerakan gerwani.
Betapapun buruknya, itu adalah bagian dari sejarah kita yang tentu saja datanya tidak bisa dihilangkan. Itu menjadi penting, karena itu menarasikan dalam bentuk tertulis apa yang sudah dilakukan oleh perempuan, itu menjadi sangat penting.
Di samping juga kemudian ada bias-bias maskulin yang kemudian mengapa sejarah di masyarakat kita itu atau di dunia, bahkan kurang dikenal secara perempuan. Makanya kita kenal hanya his story, tapi kita tidak pernah kenal apa itu her story. Itu bagian dari penting mengapa ini perlu kita perhatikan.
Dari buku yang kami tulis ini ada tiga model pembaharuan yang dilakukan oleh perempuan.
Pertama, pembaharuan pendidikan di universitas, itu dilakukan oleh tiga tokoh yang salah satunya ini sangat kita kenal, yaitu Nurhayati Djamas, yang melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan, terutama beliau mencoba mengintegrasikan keislaman di dalam keilmuan-keilmuan. Yang itu kemudian di praktekkan di Universitas Islam Al-Azhar.
Jadi beliau membuat buku pendoman tentang bagaimana mengintegrasikan Islam atau keislaman, nilai-nilai keislaman ke dalam ilmu pengetahuan. Tentu saja kalau di universitas kita perlu pemahaman tentang epistemologi yang baik, ontologi dan lain-lain. Tetapi apa yang sudah diiniasiasi oleh bu Nurhayati Djamas dan kemudian didukung oleh rektor dan kemudian digunakan untuk seluruh fakultas di universitas Al-Azhar, itu satu bentuk pembaharuan yang sangat baik.
Yang kedua, pembaharuan di bidang akademik dilakukan oleh ibu Siti Ruhaini Dzuhayatin. Beliau adalah dosen di UIN Sunan Kalijaga, kemudian menjadi advokat untuk bidang hak asasi manusia di OKI. Dan sekarang ini beliau sedang menjadi Duta Besar di Uzbekistan.
Beliau salah satu perempuan yang punya visi-misi yang sangat baik, yang salah satu kontribusinya dalam bidang pendidikan adalah bagaimana mengintegrasikan kesetaraan gender atau kemitrasejajaran, itu kata yang biasa beliau sebutkan, ke dalam mata kuliah di UIN Sunan Kalijaga.
Dari situ bukan hanya UIN Sunan Kalijaga punya perspektif gender yang baik, tetapi juga UIN Sunan Kalijaga kemudian bisa memberikan peluang kepada teman-teman PSGA di sana, kalau dulu disebutnya PSW, Pusat Studi Wanita, kalau sekarang disebutnya Pusat Studi Gender dan Anak, itu bisa membuat prodi khusus tentang studi gender.
Itu bentuk pembaruan yang sangat baik karena seringkali bias maskulitas masih sangat kuat di masyarakat kita, sehingga upaya-upaya semacam itu perlu kerja keras dan pertarungan cukup hebat.
Lalu kemudian ada Alimatul Qibtiyah, dia juga dosen di UIN Sunan Kalijaga, dan beliau sempat menjadi komisioner Komnas Perempuan. Cukup banyak upaya-upaya yang dilakukan, yang pertama adalah mempromosikan bagaimana universitas itu punya perspektif inklusif. Jadi kalau dulu misalnya UIN itu yang kuliah itu hanya muslim, tapi belakangan yang kuliah ada juga non-muslim.
Percampuran antara muslim dan non-muslim tidak membuat orang-orang muslim menjadi berpindah agama atau mengurangi perspektif keagamaannya, nilai-nilai keagamaannya yang dianut. Tapi justru memperkuat, karena disana ada dialog yang sangat kuat, mempertanyakan banyak hal tentang keberagamaan, tentang demokrasi, tentang isu-isu sosial lainnya. Bu Almatul Qibtiyah juga mencoba melakukan upaya-upaya untuk advokasi kekerasan seksual di perguruan tinggi.
Yang kita tahu semua, kekerasan seksual di perguruan tinggi makin tahun makin tinggi, tidak hanya kekerasan yang bentuknya formal dan psikologis, tapi juga kekerasan seksual yang berupa sentuhan bahkan lebih jauh dari itu.
Lalu di bagian pembangunan pendidikan pesantren, ini sebetulnya yang paling banyak yang kita temukan. Dan rata-rata itu pemimpin-pemimpin perempuan itu sangat bagus.
Yang pertama kita kenal itu adalah Umi Wahidah. Itu beliau adalah pemimpin pesantren Nurul Iman, atau Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman. Dulu beliau mendampingi suaminya di pesantrennya, saat pesantrennya masih tergantung pada pendanaan orang lain.
Tapi kemudian di bawah pembinaan dan pimpinan dari Umi Wahidah, sekarang ini Umi Wahidah punya 15.000 santri. Saat suaminya meninggal tahun 2010, jumlah santrinya belum sebanyak itu. Dan hebatnya, semua santri yang berjumlah 15.000 orang itu mendapatkan pendidikan gratis, yang semua didanai oleh pesantren.
Nah pesantrennya sendiri sekarang ini di bawah pembinaan Umi Wahidah punya 71 unit usaha. Dari mulai pertanian, terus kemudian mereka juga punya pabrik roti, dan lain-lain. Nah yang bagus dari Umi Wahidah itu, yang mungkin juga bisa dijadikan referensi untuk sistem pendidikan di GUPPI adalah dia punya modern management yang mereka sebut Ketahanan Fiskal Pesantren. Jadi dia menyebutkannya 1 per 3 banding 1 per 3. 1 per 3 dari keuntungan yang diperoleh dari 71 perusahaan yang dikelola, termasuk parfum, pembuatan parfum. Jadi 71 unit usaha itu 1 per 3 dari keuntungan dipakai untuk running pesantren. Jadi misalnya makan, biaya gaji guru, dan lain-lain. Itu 1 per 3 lagi untuk penguatan dan pembinaan pesantren.
Jadi di penguatan pesantren itu misalnya untuk membeli tanah lagi agar pesantrennya lebih luas. Atau untuk menambah sarana pondok. Terus 1 per 3 lagi itu disimpan kalau-kalau ada kondisi krisis ekonomi.
Jadi ini adalah bukti pesantren yang dikelola manajemennya oleh seorang perempuan, dan punya kontribusi besar bagi kemajuan pesantren.
Saya kira ini menjadi bagus untuk kemudian nanti bisa dijadikan insight atau inspirasi buat pesantren-pesantren di bawah GUPPI.
Lalu ada Ibu Nyai Badriah Fayumi, itu dari pondok pesantren Mahasina Darul Qur’an Wal Hadits.
Tentu setiap pesantren, setiap orang tua mau menitipkan anaknya di pesantren, ingin mencari pesantren yang aman, nyaman, dan jauh dari kekerasan. Apakah itu bullying yang dilakukan teman atau kekerasan dari guru dan yang lainnya. Bahkan sampai kekerasan seksual.
Nah Ibu Badriah itu mampu membuat pesantren yang aman, nyaman, dan memberikan juga perspektif yang baik kepada anak untuk karakter. Sehingga cepat sekali, belum sampai 10 tahun, santrinya atau mahasiswanya sudah 2 ribu orang, laki-laki dan perempuan.
Dia menggunakan upaya untuk membuat reinterpretasi terhadap ayat-ayat Al-Quran agar perempuan punya posisi yang sama dengan laki-laki, baik dalam bidang pendidikan, maupun jabatan. Jabatan itu adalah pengambil kebijakan. Termasuk misalnya di jabatan-jabatan sekolah, seperti ketua kelas.
Lalu ada Umi Aini Ainul Mardiyah, itu juga punya pembaruan pendidikan pesantren. Beliau itu punya pesantren yang sangat menekankan tradisi salaf. Dia bilang, tradisi salaf ini sangat baik dan akan saya pertahankan.
Karena punya nilai-nilai kultural yang baik, nilai-nilai jabatan yang baik. Tapi untuk punya perspektif yang baik untuk masa depan siswanya, maka dia mencoba mengkombinasikannya dengan sistem pendidikan modern. Jadi misalnya soal digitalisasi itu sangat kuat ditekankan sehingga siswa santri dan santriwati itu punya skill yang relatif baik dan tidak ketinggalan zaman dari sisi perkembangan modern.
Lalu ada pembaruan pendidikan pesantren yang dilakukan oleh Ibu Nissa Wargadipura dari Pondok Pesantren At Thaariq Garut Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai pimpinan pesantren ekologis, beliau punya konsep yang menarik tentang Islam Hijau.
Jadi bagaimana menjadikan sistem pertanian tradisional. Orang dulu mungkin meninggalkan sistem pertanian tradisional karena dianggap kurang menguntungkan bagi pengembangan secara ekonomi. Lalu dia mencoba membuat pesantren dengan pendekatan yang berbasis nilai-nilai keislaman plus lokal wisdom.
Jadi yang tradisional gitu. Membuat apa yang dia sebut agroekologi. Saya kira itu juga bagus ya untuk pesantren-pesantren di wilayah daerah.
Nilai-nilai yang menjadi wajib ditanamkan kepada santri dan santriwatinya adalah tentang kholifah fil ard dan tentang maqosidus syariah yang lima hifdun. Jadi hifzul mal, hifzul nas, hifzul mal, dan lain-lain.
Satu lagi itu ada Umi Hanisah. Yang dia mendidikan yang namanya Pesantren Diniah Dayah Darussalam di Aceh. Nah yang paling bagus dari apa yang dilakukan oleh Umi Hanisah ini adalah bagaimana merekrut anak dan kemudian membina anak-anak korban perkosaan yang dianggap aib oleh masyarakat sekitarnya.
Jadi saat pesantren pertama didirikan, itu pesantrennya didemo. Bahkan dengan demo yang keras sehingga dia dan anak-anak asuhnya harus keluar dari pesantren, itu pindah ke tempat lain. Tapi karena keteguhan hatinya, dia menganggap bahwa saya akan terus berjalan dengan pesantren ini.
Jadi pesantrennya satu, diorientasikan pada kasus anak-anak korban perkosaan, karena dulu kan korban perkosaan kan sangat banyak. Terus yang kedua, perempuan korban perkosaan. Dia melakukan pembinaan dari sisi keislaman dan lain-lain.
Dia juga kemudian mengembangkan kemandian pesantren melalui penguatan usaha kecil dan menekam. Lalu nilai islam juga menjadi dasar, karena bagi dia khairunas anfauhum linnas itu menjadi sangat penting. Dan itu yang ditanamkan kepada semua santrinya.
Satu lagi, Bu Zizi Fauziyah, salah satu tokoh juga yang dikenal sebagai orang yang mengagas tentang kurikulum Kuba, kurikulum yang bisa mengkombinasikan antara aspek emosional atau kalbu dengan intelektual atau brain, dan perilaku atau education.
Bu Zizi belajar ke Jepang, ke Harvard untuk soal Neurology, Neuroscience. Jadi bukan main-main gitu. Jadi apa yang dilakukan perempuan harusnya juga menjadi perhatian kita semua, karena dulu apa yang kita buang mungkin sangat berguna nantinya untuk masa depan masyarakat Indonesia, khususnya untuk pembaruan pendidikan Islam.
Selain itu dari lingkungan pondok pesantren ada Nyai Hindun Anisah yang menjadi pimpinan pondok pesantren Hasyim Asy’ari di Bangsri Jepara. Dia juga dikenal sebagai salah satu politisi Perempuan yang cukup vocal dai DPR RI.
Buku ini juga menampilkan tokoh pembaharuan pendidikan komunitas, ada Tutty Alawiyah, Aisyah Hamid Bhaidlowi dan Mahariah.
Tuty Alawiyah dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Assyafiiyah Jakarta dan pernah menjadi Menteri Peranan Wanita di periode Presiden BJ Habibie.
Aisyah Hamid Baidowi, dikenal sebagai seorang penggerak kemandirian perempuan Nahdliyyin. Dalam memimpin Muslimat, ia mengutamakan pemberdayaan ekonomi dengan mendorong Muslimat NU agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen.
Sedangkan Mahariah adalah peraih penghargaan lingkungan Kalpataru asal Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Mahariah menjadi salah satu tokoh penyelamat dan penggerak program pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Berkat aksi pedulinya, dia telah menyelamatkan Pulau Pramuka dari krisis sampah dan krisis lingkungan.
Buku ini ditulis dari tokoh-tokoh yang beragam latar belakang. Ada Muhammadiyah, NU, GUPPI, maupun yang tidak tampak ormasnya. Karena itu sekalipun warnanya sangat beragam, tapi tetap kita pertahankan inklusivitas parqa tokoh tersebut.
——————————————–
Disampaikan dalam Acara Dialog Publik Silaturahmi Nasional GUPPI di Kendari, 10 Januari 2026.
Dr. Ida Rosyidah MA adalah Dosen pada Fakultas Ilmu Sosial Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengurus DPP Wanita GUPPI.