Kategori: Pengumuman

  • SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE 76

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SAMBUTAN KETUA UMUM DPP GUPPI PROF. dr. FASLI JALAL, Ph.D PADA PERINGATAN MILAD GUPPI KE-76, SELASA, 3 MARET 2026.

    Bismillāhirrahmānirrahīm

    Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh,

    Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang atas perkenanNya jualah kita dapat bertemu pada hari yang bersejarah ini bersama-sama memperingati Milad ke-76 GUPPI dalam suasana kebersamaan, keikhlasan, dan semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.

    Shalawat dan salam marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SWA, teladan utama dalam membangun peradaban berbasis ilmu, akhlak, dan keteladanan.

    Yang saya hormati para penasehat, dewan pakar, pengurus DPP, DPW, DPD GUPPI se-Indonesia, para tokoh pendidikan Islam, para mitra strategis, serta seluruh keluarga besar GUPPI yang saya hormati.

    76 tahun lebih perjalanan GUPPI bukanlah waktu yang singkat. Sejak berdiri, GUPPI telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam pembinaan pendidikan berbasis nilai, akhlak, dan keilmuan.

    Milad ke-76 ini bukan sekadar perayaan usia sebuah organisasi, tetapi momentum refleksi sejauh mana kontribusi bagi pendidikan bangsa ? Seberapa besar peran kita dalam membangun generasi berakhlak mulia? Dan bagaimana kesiapan kita menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks?

    Di tengah perubahan global, seperti disrupsi digital, dan tantangan moral generasi muda, maka peran pendidikan Islam justru semakin strategis dan mendesak.

    Sebagaimana kita pahami bersama, pendidikan bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan peradaban.

    Dalam konteks ini, GUPPI memiliki posisi strategis sebagai Penggerak Pendidikan Islam, mitra pemerintah dalam pembangunan SDM dan penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

    Nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah harus menjadi ruh dalam sistem pendidikan yang kita kembangkan, agar lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.

    Bapak Ibu sekalian yang saya muliakan.

    Kita menyaksikan bahwa tantangan pendidikan hari ini tidak hanya berada di sekolah, tetapi juga di keluarga dan masyarakat.

    Beberapa tantangan utama yang kita hadapi antara lain melemahnya ketahanan keluarga, disrupsi digital pada anak dan remaja, krisis karakter dan akhlak, kesenjangan kualitas pendidikan, dan meningkatnya masalah kesehatan mental anak. Bahkan, meningkatnya perceraian dan melemahnya fungsi keluarga berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan anak, termasuk pada jenjang PAUD dan pendidikan dasar.

    Di sinilah peran GUPPI menjadi sangat penting, karena pendidikan Islam harus hadir sebagai solusi peradaban, bukan sekadar sistem pengajaran.

    Pada Milad ke-76 ini, kita perlu meneguhkan kembali arah gerak GUPPI, yaitu melakukan penguatan pendidikan karakter melalui penanaman akhlak mulia, kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Kita juga harus memperkuat ekosistem pendidikan dimana ekolah sebagai pusat ilmu, keluarga sebagai madrasah pertama dan masyarakat sebagai lingkungan pembentuk karakter. Tanpa keluarga yang kuat dan sakinah, pendidikan anak tidak akan optimal.

    Dalam Transformasi Pendidikan di Era Digital, GUPPI harus adaptif terhadap perubahan zaman dengan mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, literasi digital berbasis nilai dan pendidikan Islam yang kontekstual dan aplikatif.

    Bapak Ibu sekalian yang berbahagia

    Indonesia sedang menuju bonus demografi dan memiliki visi Indonesia Emas 2045. Namun, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini. GUPPI harus menjadi bagian dari solusi nasional melalui penguatan PAUD berbasis nilai Islam, peningkatan kompetensi guru pendidikan Islam, kolaborasi dengan Pemerintah dan masyarakat dan pengembangan kurikulum yang integrative, didasari oleh ilmu dan iman.

    Dalam momentum Milad ke-76 ini, saya mengajak seluruh jajaran GUPPI di seluruh Indonesia untuk memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kualitas layanan pendidikan, mengembangkan inovasi pembelajaran dan memperluas kemitraan strategis.

    Kita tidak boleh hanya bertahan, tetapi harus bertransformasi dan berkontribusi lebih besar bagi umat dan bangsa. Di tengah dinamika transformasi pendidikan nasional, GUPPI juga memandang pentingnya penguatan paradigma pembelajaran yang lebih bermakna dan berpusat pada anak.

    Dalam konteks ini, GUPPI mendukung implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang tidak hanya menekankan pada penguasaan pengetahuan yang tidak saja dangkal, tetapi pada pemahaman yang reflektif, kontekstual, dan berkarakter.

    Pembelajaran mendalam mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, memahami makna, serta menginternalisasi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

    Bagi GUPPI, pendidikan Islam yang berkualitas bukan hanya sekadar hafalan, tetapi pemaknaan. Bukan hanya bersifat ilmu, tetapi transformasi akhlak. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran mendalam sangat sejalan dengan filosofi pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Al-Qur’an dan sunnah, yang menekankan pada tadabbur, pemahaman, dan pengamalan ilmu secara utuh.

    Selain itu, GUPPI juga memberikan perhatian besar terhadap penguasaan Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan yang dibangun di atas cinta akan melahirkan suasana belajar yang humanis, inklusif, dan penuh empati. Guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendidik yang menghadirkan kasih sayang, keteladanan, dan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak.

    Kurikulum berbasis cinta menjadi sangat relevan di tengah tantangan kesehatan mental anak, disrupsi sosial, dan meningkatnya kebutuhan akan pendidikan yang memanusiakan manusia.

    Dalam perspektif pendidikan Islam, cinta (mahabbah), rahmah, dan akhlakul karimah, merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan. Sekolah tidak boleh menjadi ruang yang menekan, tetapi harus menjadi ruang yang menumbuhkan, menguatkan, dan memerdekakan potensi anak secara optimal.

    Selanjutnya, GUPPI berkomitmen kuat untuk mendukung pengembangan Sekolah Ramah Anak sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan berkeadilan.

    Sekolah ramah anak, bukan hanya membuat anak bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga bebas dari kekerasan seksual, tekanan psikologis, dan diskriminasi. Anak harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki martabat, potensi, dan hak untuk berkembang secara optimal.

    Melalui jaringan satuan pendidikan dan lembaga pendidikan yang bernaung dalam GUPPI di seluruh Indonesia, kita akan mendorong pembelajaran yang berpusat pada anak, lingkungan sekolah yang aman dan penuh kasih, penguatan pendidikan karakter dan akhlak dan kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

    Dengan demikian, implementasi Pembelajaran Mendalam, Kurikulum Berbasis Cinta, dan Sekolah Ramah Anak, bukan hanya menjadi program teknis pendidikan, tetapi menjadi gerakan moral dan peradaban. GUPPI ingin memastikan bahwa setiap anak Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara emosional, kuat secara spiritual, dan mulia dalam akhlaknya.

    Sebagai organisasi yang konsisten bergerak di bidang pendidikan Islam, GUPPI siap bersinergi dengan pemerintah, para pendidik, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna, berkeadaban, dan berorientasi pada masa depan generasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

    Bapak Ibu sekalian yang terhormat.

    Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para pendiri dan sesepuh GUPPI, para guru dan tenaga kependidikan, seluruh pengurus GUPPI di semua tingkatan, Pemerintah dan mitra masyarakat, atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa dalam memajukan pendidikan Islam di Indonesia.

    Akhirnya, marilah kita jadikan Milad ke-76 ini sebagai titik kebangkitan bagi GUPPI, bangkit dalam kualitas, bangkit dalam kontribusi dan bangkit dalam pengabdian.

    Dengan semangat kebersamaan, keikhlasan, dan istiqamah, Insya Allah GUPPI akan terus menjadi pilar penting dalam membangun generasi unggul, berakhlak mulia, dan berdaya saing global.

    Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dalam mengemban amanah besar di bidang pendidikan dan dakwah.

    Dirgahayu GUPPI ke-76.

    Teruslah mengabdi untuk pendidikan, umat, dan bangsa.

    Wassalāmu’alaikum Wr. Wb.

    Fasli Jalal

    Ketua Umum DPP GUPPI

    Komentar

    © Copyright 2025 – Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    56
  • Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Ketika Hasil TKA Rendah: Apa Respon Pendidikan Guru di LPTK?

    Oleh: Abdul Rozak

    Ilustrasi : Guru-guru MA GUPPI Sragi Lampung Selatan berkunjung ke UIN Raden Fatah Palembang

     

    Rasionalitas

    23 Desember 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMA, SMK, MA, dan Paket C Tahun 2025. Pengumuman hasil TKA tersebut dilakukan melalui mekanisme berjenjang guna menjamin ketepatan data, akuntabilitas, dan ketertiban administrasi dalam penyampaian informasi kepada satuan pendidikan dan murid.

    Untuk jenjang SMA/MA, nilai rata-rata TKA pada mata pelajaran Bahasa Indonesia 57,39, Matematika 37,23, dan Bahasa Inggris 26,71. Sementara pada jenjang SMK, nilai rata -rata hasil TKA mata pelajaran Bahasa Indonesia 53,62, Matematika 34,74, dan Bahasa Inggris 22,55. Rendahnya nilai rata-rata TKA jenjang sekolah menengah dan sederajat tersebut di Indonesia sebenarnya bukan gambaran gejala kemerosotan mendadak atas rendahnya kemampuan akademik siswa kelas 12. Hal itu patut diduga merupakan cerminan dari persoalan struktural sistemik yang lama mengendap dalam penyelenggaraan pendidikan-pembelaajran yang berkualitas rendah seperti sejak pendidikan dasar hingga menengah.

    Ketika hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah (MA) menunjukkan capaian yang relatif rendah pada tiga mata pelajaran wajib dalam TKA yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Bahasa Inggris yang merupakan kompetensi dasar bagi siswa jenjang pendidikan menengah—terutama kompetensi terkait dengan literasi numerik, penalaran akademik, dan kebahasaan—pertanyaan yang muncul tidak cukup dijawab hanya pada level siswa atau sekolah/madrasah semata, melainkan lebih jauh dari itu pada Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai institusi penghasil guru dalam membentuk kualitas pembelajaran-pendidikan nasional apakah sudah benar-benar mampu melahirkan guru dengan kompetensi profesional IDEALIS.

    Secara konseptual, TKA dirancang sebagai asesmen diagnostik, bukan alat penghukuman. Ia mengukur kemampuan esensial berbasis penalaran dan pemahaman konseptual, sejalan dengan kecenderungan asesmen internasional dan gtantangan yang dihadapi memasuki abad 21 dan era digital yang bergerak cepat dan sarat disruptif. Karena itu, ketika TKA hasilnya rendah dan relatif merata lintas satuan pendidikan, persoalannya bukan insidental semata. Ada mata rantai yang perlu ditelusuri dari hulu ke hilir—dari pendidikan guru, praktik pedagogi, iklim dan budaya hingga performa belajar siswa, hingga ekosistem di satuan pendidikan (sekolah/madrasah).

    Hasil TKA hendaknya dibaca oleh LPTK sebagai sinyal struktural-sistemik untuk berbenah, merefleksikan keberadaan dan peran Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam menghasilkan calon guru dan guru profeional idealis yang pada akhirnya berdampak langsung pada pencapaian kualitas pembelajaran- pendidikan nasional. LPTK tidak bisa berdiam diri melihat hasil TKS siswa SMA/SMK/MA/Pendidikan kesetaraan sebagai sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan proses pendidikan-perkuliahan di LPTK, berdiam diri dan melepaskan tanggung jawab moral akademik.

    TKA Sebagai Cermin Sistematik

    Hasil TKA yang telah diumumkan beberapa waktu lalu sebenarnya mencerminkan adanya kondisi relatif konsisten dengan pola lama yang juga terdeteksi oleh pola ujian nasional sebelumnya dan pola asesmen internasional seperti model PISA, dimana posisi dan kondisi Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada literasi numerik dan membaca. Laporan OECD menegaskan bahwa capaian rendah yang berulang biasanya berkaitan dengan praktik pembelajaran di kelas dan kapasitas guru untuk mengembangkan nalar tingkat tinggi (OECD, 2019). Data hasil PISA 2022 Artinya, TKA tidak “menciptakan” masalah baru; ia mempertegas masalah lama dengan bahasa data yang lebih jujur.

    Dalam konteks ini, menyalahkan siswa atau sekolah saja justru mengaburkan akar persoalan. Guru adalah aktor kunci yang menjembatani kurikulum dan hasil belajar. Maka, kualitas pendidikan guru di LPTK menjadi simpul strategis yang layak dievaluasi.

    Dialektika Tanggung Jawab: Apakah Ini Kegagalan LPTK?

    Pertanyaan “apakah hasil TKA rendah mencerminkan kegagalan pendidikan guru di LPTK?” perlu dijawab secara dialektis. Di satu sisi, faktor eksternal—ketimpangan sumber daya, konteks sosial-ekonomi, manajemen sekolah/madrasah—jelas berpengaruh. Namun di sisi lain, guru dibentuk terutama dihasilkan dari proses pendidikan melalui LPTK juga menjadi faktor kunci dalam memahami rendahnya hasil TKA, karena guru inilah yang menjalankan tugas praksis di kelas sehingga hal itu menjadi cermin mutu LPTK dalam gambaran mutu pembelajaran di kelas.

    Rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) pada siswa SMA/SMK/MA—terutama pada numerasi, penalaran, dan Bahasa Inggris—menghadirkan sebuah paradoks yang mengganggu nalar kebijakan: mengapa kualitas pembelajaran masih rendah ketika mayoritas guru telah berstatus pendidik profesional? Sertifikasi, tunjangan profesi, dan beragam pelatihan telah lama digulirkan. Namun data asesmen justru menunjukkan bahwa status profesional belum berbanding lurus dengan mutu pembelajaran di kelas. Hal ini mencerminkan program sertifikasi guru melalui portofolio, PLPG dan PPG dalam jabatan hanya sebatas pemenuhan administratif-formal semata sebagai standar pendidik profesional dan belum proses sertifikasi tersebut belum berdampak substantif pada perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah

    Secara formal, guru Indonesia telah memenuhi syarat profesional: kualifikasi akademik, telah disertifikasi sebagai pendidik profesional, dan mendapatkan tunjangan profesi. Namun profesionalisme guru hingga kini nampaknya masih sering direduksi hanya menjadi kepatuhan administratif: kelengkapan perangkat ajar, jam mengajar, dan laporan. Dampaknya, kompetensi inti profesional—mendiagnosis kesulitan belajar, merancang pembelajaran berbasis masalah (HOTS), dan menggunakan asesmen untuk perbaikan—tidak menjadi pusat.

    Sebagaimana ditegaskan Nizam, “Jika asesmen nasional menunjukkan masalah yang berulang, maka yang harus dievaluasi pertama bukan siswanya, melainkan sistem pendidikan gurunya.” Pernyataan ini menempatkan LPTK bukan sebagai terdakwa, melainkan subjek utama pembenahan. Karena perlu keberanian dari LPTK dalam mereformasi dirinya secara struktural sistemik agar mutu pendidikn yang masih memprihatinkan ini tidak terus berkepanjangan berjalan. LPTK harus berani mengatakan bahwa mutu pendidikan ditentukan dari aktor utamanya yaitu para guru profesional yang merupakan produk dan output dari LPTK. Komitmen mutu LPTKM harus jadi garda terdepan dalam perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan nasional.

    Reformasi Mendesak di LPTK 

    Pertama, Lakukan perubahan mendasar dari dominasi pedagogi teoretik ke dominasi pedagogi teoretik-praktik . Banyak program kependidikan kuat pada teori belajar dan kebijakan, tetapi relatif lemah pada keterampilan praktis: merancang pembelajaran berbasis masalah, menyusun soal HOTS, dan melakukan asesmen diagnostik. Akibatnya, calon guru memahami konsep “pembelajaran bermakna” tanpa cukup terampil menerapkannya. Artinya tidak cukup pedagogik teoritik melainkan pedagogik praktif secara simultan.

    Kedua, praktik lapangan yang belum berbasis aktivitas klinis. Program PPL atau PLP sering kali berlangsung singkat, administratif, formalistik dan tidak bermakna. Padahal, riset internasional menegaskan bahwa pendidikan guru efektif harus berbasis praktik klinis pembelajaran berkelanjutan—dengan supervisi, umpan balik, dan refleksi yang sistematis. Linda Darling-Hammond menegaskan, “Teacher education fails when theory is separated from sustained clinical practice” (Darling-Hammond, 2017).

    Ketiga, lemahnya assessment literacy. Hasil TKA menuntut guru mampu membaca data, mendiagnosis kesulitan belajar, dan merancang intervensi. Namun kemampuan ini belum menjadi kompetensi lulusan yang terukur di banyak LPTK. Guru akhirnya menjadi pelaksana kurikulum yang robotik, kurang kreatif dan inovatif, dan sering kali tidak memposisikan diri secara meyakinkan sebagai pengambil keputusan pedagogis berbasis data, saintifik, dan standar keprofesian.

    Dalam hal PISA yang memuat indikator outcome jangka panjang (daya nalar generik), sedangkan TKA memuat indikator readiness jangka pendek (standar akademik nasional). Karena itu guru jangan sampai gagal faham terkait dengan instrumen asesmen tersebut dan terjadi kekeliruan serta kesalahan pemahaman pada dua jenis asesmen pendidikan tersebut. Kesalahan umum dalam ruang publik adalah mengejar peringkat PISA tanpa membenahi pembelajaran di kelas atau memperketat pelaksanaan TKA tanpa membenahi pola pendidikan guru. Untuk itu langkah strategis harus dilakukan adalah menjadikan hasil PISA sebagai arah yang menjadi titik fokus pembelajaran dan hasil TKA sebagai alat diagnostik operasional dalam perbaikan mutu pendidikan di sekolah/madrasah.

    Hasil PISA dan hasil TKA menjadi alarm untuk penyelenggaraan pendidikan di LPTK. Jika dua instrumen yang berbeda (PISA instrumen asesmen global–TKA instrumen asesmen nasional) hasilnya menunjuk pada aspek kelemahan yang sama, maka pendidikan guru yang merupakan lembaga penghasil calon guru dan guru profesional harus direformasi pada titik-titik berikut:

    1. Desain model kurikulum LPTK berbasis penalaran & asesmen kinerja holistik dimana wajib mengedepankan numeracy pedagogy, reading-to-learn, dan assessment for learning; calon guru harus dilatih dan dikondisikan untuk membaca data (PISA/TKA/asesmen sekolah/madrasah) → sebagai bahan rancangan intervensi berkelanjutan, pola perkuliahan di LPTK nyaris tidak berbeda jauh dengan di non LPTK, fasilitas pendukung pembelajaran di LPTK masih banyak yang minim;
    2. Perlunya praktik klinis pendidikan-pembelajaran berkelanjutan (continuining clinical practice) dengan skema kemitraan sekolah/madrasah–universitas (LPTK) berjangka panjang dan berkelanjutan, implementasi lesson study, mentoring, observasi kelas dengan rubrik pembelajaran dan penilaian berbasis HOTS;
    3. Diferensiasi jalur pendidikan guru seperti jalur SMA yang menekankan pola nalar konseptual & problem solving, sedangkan SMK dengan skema numerasi fungsional + konteks industri, MA dengan pola integrasi rasionalitas ilmiah dan nilai keislaman (bukan simbolik); d) pelaksaaan riset kelas sebagai tuntutan keprofesian dimana pelaksanaan PTK bagi calon guru dan guru profesional bukan tugas akhir semata, melainkan sebagai kebiasaan dan habit profesional seorang guru.
    4. Jumlah LPTK yang sangat banyak dengan kualitas dan standar yang sangat beragam terkait dengan fasilitas dan daya dukung yang dimilikinya patut bisa jadi salah satu faktor terkait dengan kualitas guru yang ada saat ini. Pertanyaan mendasar, apakah perlu sebanyak itu perguruan tinggi penghasil calon guru/guru profesional. Jumlah LPTK di Indonesia dibanding dengan di berbagai negara memang jumlahnya berbeda jauh. Saat ini dihampir kabupaten/kota ada perguruan tinggi yang memiliki misi sebagai LPTK

    Persoalan pendidikan guru juga terkait dengan ketidakpekaan terhadap keragaman jalur pendidikan. SMA membutuhkan penguatan nalar konseptual; SMK memerlukan integrasi literasi akademik dengan konteks vokasional; MA menuntut integrasi nilai keislaman dan rasionalitas ilmiah. Menurut Azyumardi Azra, tantangan madrasah modern adalah “mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan sains modern secara substantif, bukan simbolik.” Jika LPTK tidak menyiapkan diferensiasi ini, maka kesenjangan hasil TKA menjadi konsekuensi logis.

    Alih-alih menjadi alat stigma, hasil TKA perlu dimanfaatkan sebagai data pembelajaran institusional bagi LPTK. Beberapa langkah strategis yang realistis yang harus dilakukan LPTK adalah:

    1. Reorientasi kurikulum LPTK dari dominasi pedagogik teoritik ke pedagogi integratif, berbasis masalah, berbasis empirik, penguatan numerasi–literasi, dan assessment literacy.
    2. Penguatan praktik klinis pembelajaran secara berkelanjutan melalui kemitraan sekolah/madrasah–universitas, lesson study, dan mentoring dan skema lainnya. Artinya pola perkuliahan di LPTK berbeda dengan prodi non LPTK
    3. Diferensiasi jalur pendidikan guru sesuai dengan jenjang dan muatan satuan pendidikan (seperti SMA, SMK, MA) tuntutan kompetensi inti yang kontekstual berbeda
    4. Integrasi riset dan refleksi melalui pembelajaran dan penelitian tindakan kelas sebagai instrumen profesional, bukan sekadar tugas akademik, tugas seremonial, kegiatan formalistik semata, melainkan sebagai tuntutan kapasitas akademik profesional.

    Belajar dari praktik internasional terkait dengan pendidikan guru hendaknya menjadi bahan yang sangat penting untuk melakukan reformasi pendidikan guru di LPTK. Pengalaman internasional memberi pelajaran penting seperti yang terjadi di Finlandia menempatkan calon guru sebagai peneliti pembelajaran (research-based teacher education), dengan riset kelas dan asesmen formatif sebagai inti. Jepang mengembangkan lesson study sebagai budaya profesional. Amerika Serikat memperkuat clinical practice melalui kemitraan sekolah–universitas.

    Benang merahnya sama: teori, praktik, dan asesmen menyatu dalam praksis pemdidikan dan pembelajaran di pendidikan guru jenjang universitas. Artinya praktik lapangan bukan dilaksanakan insidental, periodik, formalitas dan tidak jelas arah dan asesmennya. Kondisi ini yang terjadi hingga kini di LPTK.

    Penutup

    Ketika hasil TKA rendah, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka, melainkan arah kebijakan pendidikan guru. Membaca TKA sebagai cermin kegagalan semata tidak produktif; membacanya sebagai undangan reformasi jauh lebih bermakna. Jika LPTK berani bertransformasi—menguatkan praktik klinis, assessment literacy, dan diferensiasi konteks—maka TKA dapat menjadi alat navigasi menuju pembelajaran yang lebih bermutu dan berkeadilan, dari hulu ke hilir.

    PISA 2022 dan TKA 2025 konsisten menunjukkan masalah yang sama: lemahnya penalaran, numerasi, dan literasi. Masalah bersifat struktural, lintas jenjang dan jalur, sehingga solusi teknis jangka pendek tidak memadai. Pendidikan guru di LPTK adalah simpul kunci: kurikulum, praktik klinis, dan literasi asesmen harus direformasi. Tanpa reformasi LPTK, PISA berikutnya dan TKA mendatang akan mengulang pola yang sama—angka berubah, masalah tetap. Reformasi LPTK harus mampu melahirkan calon guru dan guru profesional idealis. Saatnya calon guru dan guru yang sudah bersertifikat sebagai pendidik profesional lulusan LPTK secara nyata melaksanakan tugas keprofesian sebagai PENDIDIK PROFESIONAL IDEALIS yaitu pendidik yang berkarakter Intelektual-Integritas, Dinamis-Dedikatif, Empati-Eksploratif, Adaptif-Akuntabel, Lincah-Literasi, Inovatif-Inspiratif dan Solutif-Strategis. Disinilah tantangan untuk LPTK mampukah melahirkan sosok lulusan tersebut.

    Depok, 09 Januari 2025

    Abdul Rozak, Pengajar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Praktisi Pendidikan dan Pengurus  DPP GUPPI.

    Komentar

    40
  • GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI MINTA KEMENAG JAGA KERUKUNAN DAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA

    Jakarta (GUPPI) – Kementerian Agama Republik Indonesia pada tanggal 3 Januari 2026 ini memasuki usia yang ke 80. Usia yang matang dalam mengawal umat, bangsa dan negara dalam kehidupan beragama di Indonesia. Kementerian Agama hampir seusia dengan Republik ini yang lahir pada tanggal 3 Januari tahun 1946.

    Ketua DPP GUPPI Syamsuddin berharap agar di Milad Ke-80 ini Kementerian Agama terus menjaga kerukunan umat beragama dan meningkatkan mutu pendidikan agama untuk masa depan Indonesia yang damai dan maju.

    “Atas nama DPP GUPPI saya mengucapkan Selamat Milad Kementerian Agama yang ke 80. Saya berharap dan mendoakan selalu agar Kementerian Agama senantiasa berhidmat untuk kemaslahatan umat dan kerukunan umat beragama demi kemajuan dan kejayaan bangsa Indonesia yang kita cintai ini.” kata Syamsuddin, Jum’at (2/1/2026).

    Syamsuddin mengapresiasi tema HAB tahun 2026 ini yaitu Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju, yang sejalan dengan visi dan misi Kementerian Agama yang mempunyai peran sangat penting dalam menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Indonesia.

    “Dengan tema tersebut menegaskan akan peran penting Kementerian Agama dalam menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Karena hanya dengan kerukunan dan kerjasamanya yang baik maka akan tercipta perdamaian dan kemajuan bangsa menuju Indonesia yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” tambah Syamsuddin, yang pernah menjabat Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama.

    Dirinya berharap agar Kemenag terus menyuarakan aspirasi umat agar kehidupan beragama yang rukun, damai dan toleran, di tengah situasi zaman yang penuh dinamika.

    “Kemenag harus terus menyuarakan semangat kerukunan umat beragama, sebagaimana yang dulu sering digaungkan dengan Tri Kerukunan, yaitu kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan Pemerintah,” ujarnya.

    Dalam pandangan Syamsuddin, umat beragama di Indonesia merupakan kekuatan dan asset penting untuk mendukung kemajuan bangsa.

    “Umat beragama merupakan kekuatan kolektif bangsa yang memiliki potensi besar dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu tugas Kementerian Agama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian, dan itu tidak bisa dilakukan oleh Kementerian Agama sendiri, namun harus membangun kolaborasi dengan masyarakat, termasuk dengan GUPPI,” tambah Syamsuddin yang juga salah satu Ketua DPP GUPPI. 

    Menurut Syamsuddin, motto Kementerian Agama, yaitu “Ikhlas Beramal”, akan tetap sinkron dengan perubahan zaman, dan tidak perlu diganti, karena ini menjadi ruh dari setiap aktivitas dan tugas di Kementerian Agama. Menurutnya, setiap insan di Kementerian Agama harus berlandaskan niat beribadah dengan tulus dan Ikhlas dalam mengabdi kepada umat, masyarakat, bangsa dan Negara

    “Setiap insan Kementerian Agama harus bisa menjadi pelayan masyarakat (khadimul ummah) yang baik dengan melakukan pelayanan yang optimal kepada Masyarakat, tanpa membeda-bedakan status sosial, suku bangsa, agama, pendidikan dan sebagainya,” ujarnya.

    Menyinggung tentang pertemuan dengan Menteri Agama beberapa waktu lalu, Syamsuddin menyampaikan apresiasinya dan berharap ini akan membuka pintu Kerjasama yang lebih baik di masa depan

    “Kami mengapresiasi kesediaan Menteri Agama menerima Pengurus DPP GUPPI dan memberikan arahan agar GUPPI membantu Kementerian Agama dalam peningkatan mutu Pendidikan Islam dan kehidupan keagamaan di Indonesia,” kata Syamsuddin. 

    Dirinya juga mendukung usaha Menteri Agama Nasaruddin Umar untuk menjadikan madrasah di Indonesia lebih bermutu dan berdaya saing melalui kebijakan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

    “Inilah saatnya bagi Kementerian Agama untuk melakukan penguatan kepada pendidikan agama dan keagamaan, setelah urusan haji tidak lagi menjadi tugas Kementerian Agama. Kami di GUPPI siap membantu Kementerian Agama dalam usaha pembaruan pendidikan Islam di madrasah, sekolah dan pondok pesantren,” ungkap Syamsuddin yang alumni IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

    Menurutnya, dengan adanya kebijakan KBC tersebut maka kita tahu bagaimana harapan dan dukungan dari Menteri Agama kepada madrasah di Indonesia.

    “Tidak ada suatu negara atau bangsa yang bisa mencapai kemajuan tinggi, jika tidak dimulai dengan membangun pendidikan. Pendidikan berkontribusi dalam peningkatan kualitas manusia dan masyarakat suatu negara. Makanya, masa depan madrasah yang menjadi harapan Menteri Agama harus dibangun dengan penuh kebanggan dan kecintaan,” kata Syamsuddin.

    Karena itu, Syamsuddin berharap agar lembaga pendidikan Islam yang ada di GUPPI dapat memberikan kontribusi yang nyata seperti harapan Menteri Agama diatas.

    “DPP GUPPI Insya Allah siap berkolaborasi dengan Kementerian Agama untuk menghadirkan pendidikan Islam yang bermutu, ramah anak dan dan menghadirkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin,” kata Syamsuddin. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    54
  • DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPP GUPPI LAKUKAN AUDIENSI DENGAN KEMENTERIAN HUKUM DALAM RANGKA PEMBUATAN AKTA PERKUMPULAN

    Jakarta (GUPPI) – DPP GUPPI lakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum RI dalam rangka pembuatan akte perkumpulan di kantor Kementerian Hukum, Jum’at, 21 November 2025.

    Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal langsung memimpin rombongan DPP GUPPI, didampingi Sekretaris Jenderal Rusydi Zakaria, Ketua Dewan Pakar, yang juga mantan Ketua Umum DPP GUPPI Imam Tholkhah, Kepala Sekretariat Aden Daenuri dan Sekretaris Lembaga Hukum dan HAM Andi Safriani.

    Mereka diterima oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Widodo, didampingi Direktur Badan Usaha Andi Talenting Langi dan sejumlah staf di kantor Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.

    Dalam pertemuan tersebut Fasli Jalal menyampaikan tujuan audiensi DPP GUPPI yaitu untuk silaturahmi dan memohon arahan bagaimana GUPPI dapat tercatat di Kementerian Hukum RI sebagai organisasi perkumpulan.

    “Kita melakukan audiensi dengan Dirjen AHU Kemenkum ini untuk memohon arahan dan masukan bagaimana GUPPI dapat segera terdaftar sebagai organisasi perkumpulan. Saat ini GUPPI masih tercatat sebagai yayasan dan kita semua sudah sepakat GUPPI akan menjadi organisasi perkumpulan,” kata Fasli Jalal.

    Fasli Jalal juga menjelaskan bahwa GUPPI merupakan organisasi Islam yang lahir pada tahun 1950 dan sudah banyak berkiprah dalam bidang pendidikan Islam di Indonesia. 

    “GUPPI sudah lahir sejak tahun 1950 dan merupakan organisasi Islam yang fokus pada bagaimana pendidikan Islam di Indonesia itu maju dan bermutu. GUPPI mempunyai ribuan lembaga pendidikan Islam, baik itu sekolah, madrasah dan pondok pesantren, yang tersebar hampir di seluruh propinsi di Indonesaia. Saat ini keberadaan GUPPI menyebar di 23 propinsi, mulai dari Aceh hingga Papua,” tambah Fasli.

    Ketua Umum GUPPI kemudian menambahkan bahwa GUPPI merupakan salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia tahun 1975, bersama 9 organisasi Islam lainnya.

    “Saat ini Majlis Ulama Indonesia (MUI) sedang melakukan Musyawarah Nasional XI di Ancol Jakara. Dan GUPPI merupakan salah satu organisasi Islam yang ikut mendirikan MUI, bersama dengan Muhammadiyah, NU, Mathlaul Anwar dan 7 ormas Islam lainnya”, kata Fasli Jalal, yang juga salah satu anggota Penasehat Ahli Menteri Agama RI.

    Dalam kesempatan yang sama, Imam Tholkhah, Ketua Umum DPP GUPPI 2022 – 2024, menyatakan bahwa keberadaan dari yayasan GUPPI pada waktu itu merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan di daerah dibawah naungan GUPPI.

    “Keberadaan yayasan GUPPI yang didirikan oleh DPP GUPPI merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga pendidikan Islam dibawah naungan GUPPI di daerah yang membutuhkan syarat administratif dalam pengajuan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS),” kata Imam Tholkhah.

    Imam Tokhah juga menambahkan, bahwa DPP GUPPI pernah melakukan komunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM untuk mengurus akta pendirian perkumpulan.

    “Kita dulu juga pernah melakukan komunikasi dengan Kementerian Hukum dan HAM agar GUPPI dapat menjadi organisasi perkumpulan sebagaimana dalam perundang-udangan. Namun upaya kita belum berhasil, karena itu saya mendukung usaha DPP GUPPI saat ini untuk mengupayakan agar GUPPI dapat tercatat di Kemenkum RI sebagai organisasi perkumpulan,” tambah Imam Tolkhah, yang saat ini menjadi Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

    Sementara itu Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Widodo, menyatakan apresisasi dan dukungannya atas upaya yang dilakukan oleh DPP GUPPI agar GUPPI tercatat sebagai organisasi perkumpulan dan menyatakan kesiapannya untuk mendindak lanjuti.

    “Beberapa waktu lalu kami memang menerima permohonan dari DPP GUPPI untuk pembentukan perkumpulan. Permohonan tersebut belum kami lanjutkan mengingat dalam sistem kami terdeteksi telah ada lembaga lain dengan nama serupa, yakni GUPPI.  Karena itu pertemuan kali ini merupakan langkah tepat sebagai dasar dalam melakukan proses lebih lanjut agar GUPPI tercatat sebagai organisasi perkumpulan,” kata Widodo.

    Ditambahkan oleh Widodo, bahwa pihaknya terus melakukan perbaikan agar layanan di Kemenkum, terutama di Ditjen AHU, dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat.

    “Kementerian Hukum RI, dalam hal ini Ditjen AHU, terus melakukan perbaikan sistem dan teknologi, sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan agar masyarakat lebih mudah mengakses layanan dan dari sisi adminstratif lebih profesional,’ tambah Widodo.

    Untuk itu dirinya berharap agar GUPPI terus melakukan komunikasi dengan Ditjen AHU agar usulan ini dapat diproses sesuai dengan ketentuan.

    “Kami berharap agar komunikasi dan koordinasi dengan GUPPI dapat dilakukan lebih intens, terutama untuk hal-hal yang bersifat administratif, sehingga usulan pembentukan perkumpulan GUPPI dapat terus dilanjutkan,” ujar Dirjen AHU.

    Pertemuan kemudian diakhiri dengan penyerahan cendera mata dari Ketua Umum DPP GUPPI kepada Dirjen AHU, yaitu buku Rekonstruksi Sejarah GUPPI dan dilanjutkan dengan foto bersama. (Tim Media).  

    Komentar

    59
  • DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL   DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    DPP GUPPI AKAN ADAKAN SILATURAHMI NASIONAL DI KENDARI SULAWESI TENGGARA JANUARI 2026

    Jakarta. GUPPI – DPP GUPPI akan mengadakan Silaturahmi Nasional (Silatnas GUPPI) di Kampus Perguruan Ummusabri Kendari Sulawesi Tenggara awal tahun 2026. Kegiatan ini akan diikuti lebih dari 10.000, baik dari internasl GUPPI maupun dan masyarakat umum di Sulawesi Tenggara.

    Ketua Umum DPP GUPPI Fasli Jalal dalam rapat koordinasi persiapan Silatnas GUPPI meminta agar kegiatan Silatnas GUPPI ini dipersiapkan dengan sebaik-baiknya karena akan menghadirkan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. 

    “Kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI ini akan dihadiri oleh ribuan peserta, baik dari kalangan GUPPI maupun masyarakat umum di Sulawesi Tenggara. Dan diharapkan dapat dihadiri oleh Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari Rapat Kerja Nasional DPP GUPPI dan Ummusabri International Expo 2026 yang dilaksanakan secara bersamaan di Kendari”, kata Fasli Jalal.

    Fasli Jalal juga menambahkan bahwa pada Silatnas GUPPI juga bersamaan dengan kegiatan intenasional Ummusabri International Expo 2026. 

    “Kegiatan Silaturahmi Nasional GUPPI ini juga sekalian ikut memeriahkan Ummusabri International Expo 2026 yang dilaksanakan secara bersamaan di Kendari. Yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 – 14 Januari 2026”, tambah Fasli Jalal.

    Di acara Silatnas ini, ungkap Fasli Jalal, DPP GUPPI akan mengadakan Rapat Kerja Nasional untuk mengevaluasi program kerja DPP GUPPI tahun 2025 dan rencana kerja 2026.

    “Di Silatnas ini DPP GUPPI akan mengadakan Rapat Kerja Nasional 2026 untuk mengetahui kinerja DPP GUPPI tahun 2025 dan membahas rencana program 2026,” imbuh Fasli Jalal.

    Dia juga menyatakan bahwa Silatnas ini sengaja dilaksanakan di Kendari karena sekaligus juga ikut meramaikan dan mensupporet pelaksanaan Ummusabri Internasional Expo 2026 yang akan dihadiri oleh ribuan peserta, baik dalam negeri maupun luar negeri.

    “Kita mensupport penuh pelaksanaan Ummusabri International Expo 2026 karena ini bukti nyata bagaimana Perguruan Ummusabri telah menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang maju dan menjadi kebanggaan warga Kendari maupun masyarakat Indonesia bagian timur,” ujar Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas Yarsi Jakarta.

    Ia berharap agar Ummusabri International Expo 2026 ini menjadi sumber inspirasi atau benchmarking bagi pengembangan madrasah dan sekolah GUPPI yang tersebar di seantero Indonesia.

    “Kita ingin menunjukkan kepada semua bahwa dengan kerja keras dan kesungguhan maka madrasah, sekolah dan pondok pesantren GUPPI yang tersebar di hampir seluruh Indonesia bisa maju dan berkembang dengan baik. Ummusabri yang ada di Kendari Sulawesi Tenggara ini bisa menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada dunia luar dan menjadi perguruan Islam kebanggan umat Islam dan masyarakat Indonesia bagian timur,” kata Fasli Jalal lagi. 

    Sementara itu Ketua Panitia Silatnas GUPPI 2026 Aden Daenuri mengatakan bahwa kegiatan Silatnas GUPPI 2026 yang dilaksanakan di Kendari ini sengaja disamakan waktunya dengan Ummushabri Internasional Expo.

    “Acara Ummusabri Internastional Expo 2026 ini akan dihadiri lebih dari 10.000 peserta, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti Australia, Singapura, Malaysia, China, Filipina, Mesir dan Jepang,” kata Aden Daenuri.

    Aden menambahkan bahwa Panitia telah menyiapkan sejumlah kegiatan yang merupakan kolaborasi antara DPP GUPPI, DPW GUPPI Sulawesi Seltan dan Yayasan Perguruan Ummusabri Kendari.

    “Kegiatan Silatnas GUPPI ini akan terasa meriah karena DPP GUPPI mengadakan acara Rakernas DPP GUPPI, dan Pelatihan Sekolah Ramah Anak. Sedangkan Yayasan Ummussabri akan menyiapkan acara Ummusabri Intenasional Expo yang berisi kegiatan International Seminar on Islamic Education, International Camp & Cultural Parade dan Ummusabri Eco Wisdom,” tambah Aden.

    Aden menambahkan bahwa untuk menyemarakkan Expo tersebut, DPP GUPPI bekerjasama dengan Daarul Fatwa Islamic High Council Australia akan mengadakan International Training on Tsaqofah Islamiyah bagi guru PAI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

    “Menindaklanjut hasil kerjasama antara DPP GUPPI dengan Darul Fatwa Islamic High Council Australia, DPP GUPPI akan mengadakan Pelatihan Implementasi Buku Tsaqofah Islamiyah bagi guru PAI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh DPP GUPPI di Jakarta bulan September lalu” kata Aden, yang pernah lama berkiprah di Pusdiklat Kementerian Agama.

    Menurut Aden kehadiran Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah juga akan menjadi tambahan daya tarik kegiatan Silatnas ini.

    “Menteri Agama diharapkan bisa hadir memberikan ceramahnya di Ummusabri International Expo dan kemudian dlanjutkan dengan menjadi Khotib dan Imam Sholat Jum’at di Masjid Perguruan Ummussabri Kendari. Sementara itu kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah akan menjadi Pembicara Kunci di Seminar Internasional yang akan dihadiri oleh sejumlah pembicara dari luar negeri,” imbuh Aden Daenuri. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    86
  • Pelatihan Implementasi Pembelajaran Buku Tsaqofah Islamiyah Bagi Guru SD dan Madrasah GUPPI

    Pelatihan Implementasi Pembelajaran Buku Tsaqofah Islamiyah Bagi Guru SD dan Madrasah GUPPI

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

     

    Demi menjawab tantangan zaman terhadap dunia pendidikan yang menuntut lulusan untuk memiliki kompetensi kecerdasan secara kognitif dan spiritual, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (DPP-GUPPI), bekerja sama dengan Darul Fatwa Islamic High Council of Australia mengadakan Pendidikan dan Latihan (Diklat) yang bertempat di Pusdiklat Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Ciputat, Tangerang Selatan.

    Diklat dilaksanakan selama 4 hari, dimulai pada hari Sabtu, 27 September sampai Selasa, 30 September 2025. Dari diklat tersebut, diharapkan para peserta diklat dapat mewarnai dunia pendidikan pada masing-masing satuan pendidikan demi optimalisasi kompetensi lulusan.

    (gambar sambutan)

    Diklat dibuka oleh Bapak Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph. D., selaku ketua umum DPP GUPPI sekaligus memberikan sambutan sebagai awal seremonial diklat. Pada sambutan tersebut, beliau menekankan agar para peserta diklat terus bersemangat dalam mengembangkan sumber daya sebagai seorang pendidik. Beliau juga menyampaikan bahwa pelatihan ini diselenggarakan oleh DPP GUPPI berkolaborasi dengan Darul Fatwa Islamic High Council of Australia.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP GUPPI, Drs. Rusydy Zakaria, M. Ed., M. Phil., juga menambahkan dalam sambutannya terkait sejarah GUPPI, mulai dari orde baru hingga saat ini.

    Dr. Wissam Saad selaku Direktur Darul Fatwa Islamic High Council of Australia menyampaikan sambutan awal dengan mengenalkan lembaganya. Darul Fatwa Islamic High Council of Australia adalah lembaga pendidikan yang berkedudukan di Australia dan diakui secara legal oleh pemerintah Australia, bahkan telah memiliki beberapa cabang di berbagai negara.

    Dr. Wissam Saad membawa 5 paket buku yang berjudul Tsaqofah Islamiyah untuk diperkenalkan kepada peserta diklat. Buku ini diperuntukkan bagi siswa tingkat SD dan SMP, isinya disajikan secara sederhana, baik secara materi maupun konten yang menekankan penggunaannya dengan 3 metode, yaitu pemahaman, hafalan, dan pengulangan. Tiga metode tersebut sangat sederhana, namun efeknya sangat optimal bagi pemahaman siswa sehingga tujuan pembelajaran yakni membentuk siswa cerdas secara kognitif dan spiritual dapat tercapai.

    Perbedaan antara metode yang ditawarkan oleh Dr. Wissam Saad dengan sistem pembelajaran yang ada di Indonesia saat ini sangat terlihat. Metode pembelajaran yang dibawa Dr. Wissam saad untuk menggunakan buku Tsaqofah Islamiyah terasa sangat ringkas dan membumi, sehingga buku ini dapat dimaknai sebagai buku ramah ajar baik bagi guru maupun siswa. Sedangkan metode pembelajaran  yang digunakan di Indonesia saat ini dalam kurikulum merdeka bagi guru sangat kompleks untuk diimplementasikan. Indikator kompleksitas tersebut contohnya terdapat banyak capaian pembelajaran yang harus terpenuhi ditengah banyaknya keterbatasan, mulai dari waktu, fasilitas yang kurang memadai, serta guru yang kurang kompeten.

    Komentar

    110
  • GUPPI Milad ke-75. Siap Meneruskan Perjuangan KH Ahmad Sanusi

    GUPPI Milad ke-75. Siap Meneruskan Perjuangan KH Ahmad Sanusi

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    Panduan Pengeditan Postingan Berita

    Selamat datang di template WordPress Anda! Template ini dirancang untuk memudahkan Anda dalam membuat dan mengedit postingan berita. Di bawah ini adalah langkah-langkah mudah untuk mengedit dan menerbitkan berita di website Anda.

    1. Menambahkan Judul Berita

    • Di bagian atas halaman, klik tombol ikon bergerigi, Anda akan melihat kolom untuk mengedit Judul Berita disamping kiri.

    • Ketikkan judul berita yang sesuai dengan topik yang akan Anda tulis. Judul ini akan tampil besar di halaman depan atau halaman arsip berita.

    • Dibawah kolom input judul berita anda juga bisa menambahkan thumbnail gambar untuk halaman berita anda.

    2. Menambahkan Konten Berita

    • Anda dapat mengedit atau menulis berita dengan mengetik langsung di area ini. Gunakan alat penyunting yang disediakan (seperti Bold, Italic, List, Alignment, dll.) untuk menyesuaikan format teks sesuai keinginan Anda.

    3. Menambahkan Gambar atau Media

    • Jika Anda ingin menambahkan gambar, video, atau media lainnya ke dalam berita:

      • Klik ikon Tambahkan Media yang tersedia di editor sebelah kiri.

      • Pilih Gambar atau File yang ingin Anda masukkan ke dalam artikel.

      • Setelah media ditambahkan, Anda bisa menyesuaikan posisinya (misalnya, Rata Kiri, Tengah, atau Kanan).

    4. Menggunakan Widget Elementor untuk Layout

    • Template ini diatur khusus untuk berita/artikel/post saja.

    5. Menambahkan Kategori dan Tag

    • Setelah konten selesai, pastikan untuk mengatur kategori dan tag berita agar artikel Anda mudah ditemukan oleh pembaca, kategori dan tag bisa Anda ubah kapan saja di Daftar Postingan WordPress Anda.

      • Kategori: Pilih kategori yang relevan dari daftar yang ada.

      • Tag: Tambahkan tag terkait dengan topik berita Anda (misalnya, “Teknologi”, “Politik”, “Olahraga”, dll).

    6. Memasukkan Tanggal dan Penulis

    • Di bagian bawah editor, Anda akan menemukan kolom Tanggal dan Penulis.

      • Tanggal akan otomatis diatur berdasarkan waktu saat Anda menyusun artikel, namun Anda bisa mengubahnya jika perlu.

      • Pastikan untuk menambahkan nama penulis atau editor yang bertanggung jawab atas artikel ini.

    7. Pratinjau dan Penerbitan

    • Setelah Anda puas dengan artikel yang telah Anda buat, klik tombol Pratinjau/Ikon “Eye” untuk melihat bagaimana tampilan artikel di situs.

    • Jika semuanya sudah sesuai, klik tombol Terbitkan untuk mempublikasikan artikel berita Anda.

    8. Menyimpan sebagai Draf

    • Jika Anda belum siap untuk menerbitkan artikel, Anda dapat menyimpannya sebagai Draf dengan menekan tombol Simpan Draf yang terletak di ikon “Bottom Arrow” samping tombol “Terbitkan”.

    • Artikel yang disimpan sebagai draf tidak akan dipublikasikan hingga Anda siap melakukannya.

    9. Mengedit Postingan

    • Untuk mengedit berita yang telah diterbitkan, cukup buka Daftar Postingan di dashboard WordPress dan klik Sunting dengan Elementor di artikel yang ingin Anda perbarui.

    Catatan Penting

    • Penting: Pastikan artikel Anda tidak melanggar kebijakan atau pedoman yang berlaku di situs ini.


    Tips Tambahan

    • Anda dapat menambahkan tautan internal ke artikel lain yang relevan di situs Anda untuk memperkaya konten dan memberikan nilai lebih kepada pembaca.

    • Jangan lupa untuk menguji semua elemen (gambar, teks, dll.) sebelum menerbitkan untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik.

    Komentar

    76
  • DPP GUPPI ADAKAN DIKLAT IMPLEMENTASI BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH KERJASAMA DENGAN DARUL FATWA ISLAMIC HIGH COUNCIL AUSTRALIA

    DPP GUPPI ADAKAN DIKLAT IMPLEMENTASI BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH KERJASAMA DENGAN DARUL FATWA ISLAMIC HIGH COUNCIL AUSTRALIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam


    CIPUTAT – GUPPI – Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembaruan Pendidikan Islam (DPP GUPPI) menggelar kegiatan Pelatihan Implementasi Buku Tsaqofah Islamiyah Dalam Konteks Kurikulum Berbais Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Kegiatan tersebut dilaksanakan di kampus Pusdiklat Kementerian Agama Ciputat, Sabtu – Selasa (27-30/9/2025) diikuti oleh 40 kepala dan guru MI/SD dari 6 propinsi, yaitu Lampung, Banten, DKI Jakrta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Pengurus Perguppi dan Pengurus DPP GUPPI.

    Kegiatan yang dibuka oleh Ketua Umum DPP GUPPI Prof. dr. Fasli Jalal, juga menghadirkan nara sumber utama, yaitu Dr. Wissam Saad, Direktur Darul Fatwa Islamic High Council Australia, Ketua DPP GUPPI Drs. Syamsuddin, MM, Wakil Ketua DPP Wanita GUPPI Dr. Tati Hartimah, Praktisi Pendidikan Jetty Mainur. M. Pd dan konsultan Inovasi Dr. Abdul Munir.

    Dalam acara pembukaan, Fasli Jalal menyampaikan apresiasi dan penghargaannya atas kehadiran para peserta di kegiatan pelatihan ini. Tak lupa dia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran Dr. Wissam Saad yang sudah terbang jauh dari Sydney untuk bertemu dengan para guru dan kepala sekolah SD/MI GUPPI di Jakarta.   

    Fasli Jalal mengatakan bahwa Wissam Sa’ad memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam bidang pendidikan karena ia juga memimpin lebih 100 sekolah di Australia dan beberapa negara. Karena itu pengalamannya pantas kita jadikan rujukan bagaimana mengajar anak-anak Muslim di negara sekuler namun tetap memegang nilai-nilai Islam.

    Menurut Fasli, lembaga pendidikan yang dibangun oleh Wissam Saad tidak hanya membentuk anak-anak untuk mendapatkan ilmu agama Islam yang kuat, tetapi juga bagaimana kemampuan ilmu umumnya juga kuat sehingga bisa menembus masuk perguruan tinggi terbaik di dunia.

    “Kita ingin mengetahui bagaimana pengelolaan pendidikan Islam itu dilakukan di Australia dialkukan secara efektif dan efisien sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Karena itu kita bisa belajar bagaimana Darul Fatwa Australia mengelola sekola-sekolah Islam di Australia”, kata Fasli Jalal.

    Fasli menyatakan bahwa bisa jadi Darul Fatwa Islamic High Council maju karena mendapat tantangan dan tekanan yang besar dari masyarakat Australia yang sekuler, maupun dari kalangan anti islam, sehingga sekolah-sekolah Islam justru malah jadi bagus dan disiapkan denan sebagi-baiknya.

    “Pak Wissam Saad ini bisa mengelola pendidikan Islam di tengah masyarakat sekuler, bahkan anti Islam. Dan sekolah-sekolahnya bagus-bagus dan mendapat dukungan dari masyarkat Islam. Bisa jadi karena mereka mendapat tekanan dan tantangan di tengah-tengah masyarakat sekuler itu maka sekolah-sekolah Islam justru dijaga mutunya dan didukung oleh masyarakat Islam disana,” tambah Fasli Jalal.

    Fasli mengungkapkan bahwa dalam pelatihan nanti para peserta akan dikenalkan dengan buku Tsaqofah Islam yang dipakai oleh sekolah-sekolah Darul Fatwa Australia, dan sudah mendapat dukungan dari Unicersitas Al Azhar Kairo Mesir.

    “Para peserta akan diperkenalkan dengan buku Tsaqofah Islamiyah yang digunakan di sekolah-sekolah Islam di Australia. Buku ini adalah buku pegangan siswa dalam pemahami ajaran Islam, semacam buku PAI yang kita pakai di sekolah dan madrasah di Indonesia. Mari kita pelajari buku ini dan bisa memperkaya pembelajaran kita di sekolah-sekolah kita,” tambah Fasli Jalal.

    Sementara itu dalam sambutannya Wissam Saad menyampaikan apresiasi dan kegembiraanya terhadap para peserta yang terlihat antusias mengikuti pelatihan ini. Ia mengungkapkan bawa dirinya sudah beberapa kali ke Indonesia dan dia merasa senang dan nyaman bertemu dengan berbagai kalangan yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan Islam.

    “Saya sudah beberapa kali datang ke Indonesia, dan terasa sangat positif responnya. Karena itu dsaya siap untuk diskusi dan sharing pengalaman tentang bagaimana mengelola pendidikan Islam yang maju dan kompetitif. Saya sudah membuat MOU dengan GUPPI yang dipimpin oleh Prof. Fasli Jalal,” ujar Wissam Saad.

    Ia yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun dalam dunia pendidikan di Australia kemudian memaparkan berbagai strategi dalam membangun lembaga pendidikan Islam modern, termasuk tantangan dalam mendidik anak-anak Muslim di negara sekuler.

    Dalam pemaparannya, pria yang lahir di Lebanon itu menekankan pentingnya pemetaan masalah dan penyamaan persepsi sebelum merancang program pendidikan. Menurutnya, kita harus memahami kondisi lingkungan, memetakan masalah, dan menganalisis faktor eksternal seperti ekonomi dan sosial masyarakat. Ini penting agar strategi yang dibuat benar-benar tepat sasaran.

    Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan guru dalam proses pendidikan. Pertemuan rutin antara pihak sekolah dengan orang tua harus dilakukan untuk membangun sinergi sehingga anak-anak dapat memahami masalah yang sedang dihadapi dan mencarikan solusinya.

    Wissam juga menyampaikan beberapa tantangan besar yang dihadapi anak-anak Muslim saat ini seperti aturan yang membatasi seseorang untuk mengoreksi kesalahan orang lain dengan alasan privasi, kecerdasan buatan (AI) hingga LGBTQ.

    Ia mengatakan lembaga pendidikan yang dibangun tidak hanya membentuk anak-anak mendapatkan ilmu agama Islam yang kuat, tetapi juga ilmu umum yang kuat, sehingga bisa menembus masuk perguruan tinggi terbaik di dunia. Masa kanak-kanak awal memberikan fondasi iman, akhlak, dan kepribadian seseorang. Anak-anak usia dini ibarat spons yang belajar dan menyerap berbagai hal serta pengalaman yang akan membentuk kehidupan mereka di masa depan.

    Menurutnya, pendidikan Islam mengajarkan mereka arahan moral yang baik, yang mengajarkan mereka tentang agama, kasih sayang, dan kejujuran. Pendidikan Islam bukan hanya tentang mempelajari ritual keagamaan, tetapi juga menanamkan pola pikir yang menghasilkan kebaikan, disiplin, dan rasa hormat terhadap makhluk hidup lainnya.

    Dr. Wissam Saad kemudian menjelaskan bab demi bab isi dan kandungan Buku Tsaqofah Islamiyah, yang terdiri dari 5 jilid buku yang dipakai di tingkat dasar (SD/MI). Setiap buku membahas 3 bagian, yaitu Aqidah, Ibadah dan Akhlak.

    Buku 1 bagian Aqidah membahas 14 topik, bagian ibadah membahas 12 topik dan bagian akhlak membahas 5 topik.

    Buku 2 bagian Aqidah membahas 11 topik, bagian ibadah membahas 13 topik dan bagian akhlak membahas 5 topik.

    Buku 3 bagian Aqidah membahas 11 topik, bagian ibadah membahas 13 topik dan bagian akhlak membahas 7 topik.

    Buku 4 bagian Aqidah membahas 10 topik, bagian ibadah membahas 19 topik dan bagian akhlak membahas 7 topik.

    Buku 5 bagian Aqidah membahas 14 topik, bagian ibadah membahas 15 topik dan bagian akhlak membahas 11 topik.

    Para peserta antusias mengikuti sessi ini, yang kalau di Indonesia mirip dengan pengajian. Dr. Wissam Saad menjelaskan jilid demi jilid, bab demi bab, dengan Bahasa Arab yang fasih dan kadang diselingi dengan Bahasa Inggrism yang kemudian diterjemahkan oleh Ustadz Ghundar Najih, alumni Universitas Lebanon, yang selalu mendampingi dan menjadi penterjemah saat Dr. Wissam Saad di Indonesia.

    Dalam sessi ini Dr. Wissam juga membangun komunikasi aktif dengan para peserta, sehingga para peserta dapat bertanya maupun diskusi langsung sehingga sessi terasa hidup dan berkesan.

    Ada beberapa peserta yang mempunyai kemampuan Bahasa Arab yang bagus sehingga langsung melakukan komunikasi dalam Bahasa Arab, namun sebagian besar kemampuan Bahasa Arab rendah dan perlu penterjamahan. (Tim Media GUPPI).

    Komentar

    112
  • SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    SIAPA BILANG SEKOLAH MURAH TIDAK BERKUALITAS ?

    Jakarta (GUPPI)  – Siapa bilang sekolah murah itu tidak bisa berkualitas ? Ternyata banyak sekolah swasta Islam dan madrasah swasta di Indonesia yang bagus dan berkualitas, dan tentu diminati oleh para orang tua untuk meyekolahkan anak-anaknya, dan orang tua tidak mengeluarkan biaya mahal untuk mendapatkan sekolah yang bagus dan nyaman untuk belajar.

     Prof. Husni Rahim dari Gerakan Guru Berkualitas (Gerutas) menyampaikan hal ini dalam lanjutan Serial Diskusi yang dilaksanakan oleh DPP GUPPI bekerjasama dengan Gerutas secara online, Rabu malam, 24 September 2025.

     “Sekarang ini kita banyak menemukan sekolah maupun madrasah yang berkualitas tinggi dengan biaya murah, ini terutama terjadi di sekolah dan madrasah swasta. Namun tidak sedikit sekolah dan madrasah negeri yang juga bagus, sekalipun hanya mengandalkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dari Pemerintah.” kata Husni Rahim.

     Husni Rahim, yang pernah menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama mengatakan bahwa sekolah memang memerlukan dukungan dana, namun dana ternyata bukan menjadi variable utama untuk sekolah itu bagus atau tidak.

     “Saya setuju dengan pandangan bahwa sekolah yang bermutu memerlukan dukungan anggaran yang tidak kecil, namun itu bukan faktor utama dan segalanya. Kita memerlukan guru yang profesional untuk mendukung mutu sekolah, kemudian manajemen sekolah dan baru sarana dan prasarana. Menurut UNDP, guru memegang peranan 48 %, manajemen sekolah itu 30 % dan sarana prasarana itu 22 %. Jadi sebanyak 78 % faktor mutu itu tidak memerlukan biaya mahal,”  tambah Husni Rahim.

     Husni Rahim kemudian menyodorkan gagasan yang dia namakan dengan Sekul Ber-QMR untuk sekolah berkualtias, murah, dan relijius.

    “Q-MR adalah akronim dari Bermutu, Murah dan Relijius. Sebuah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa kualitas, terjangkau dan relijius sebagai branding karakteristik dan kekhasan program ini. Karena itu Sekul Ber Q-MR adalah sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip QMR dalam seluruh aspeknya, baik itu terkait pembelajaran, manajemen, pembiayaan, budaya, hingga kolaborasi. Prinsip Q adalah simbul Kualitas, melambangkan mutu sejati lahir dari proses, bukan dari fasilitas. Sedangkan M adalah simbul Murah, yang melambangkan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat dan R adalah simbul Relijius; melambangkan pendidikan yang bernafaskan nilai spiritual,”  ungkap Husni Rahim.

     Dirinya mengakui bahwa tidak mudah untuk melakukan transformasi kualitas sekolah dari biasa-biasa saja dan murah menjadi sekolah yang unggul dan berprestasi tinggi, namun hal itu bukan sesuatu yang mustahil.

    “Memang tidak mudah untuk melakukan transformasi dari sekolah biasa menjadi sekolah berkualitas dan relijius. Ada 3 tipe orang dalam menghadapi transformasi itu, yaitu mereka yang mengatakan tidak mungkin (impossible), diam (No Comment) dan Sangat Sulit (Very Dificult),”  tambahnya.

     Menurut Husni Rahim, memang sulit untuk melakukan suatu gerakan perubahan, malah sangat sulit. Namun itu bukan sesuatu yang mustahil. Karena sangat sulit itu berarti sulit sekali, bukan sesuatu yang tidak mungkin (impossible).  

    “Sangat sulit itu bukan berarti mustahil (impossible). Suatu perubahan memang biasanya menghadapi tantangan dan kesulitan, dan untuk mendapat hasil yang tinggi pasti akan menghadapi kesulitan yang tinggi pula,”  katanya.

     Ia mengingatkan agar mitos bahwa sekolah bagus itu pasti mahal dan sekolah murah itu kualitasnya pas-pasan mesti dihilangkan.  

    “Kita bisa menyiapkan sekolah yang bagus yang murah dan relijius. Kita hanya perlu melakukan manajemen pembiayaan yang efisien dan transparan, banyak program dengan “in-kind support”, melibatkan masyarakat, pemerintah, alumni dan dunia usaha, melakukan inovasi pembelajaran berbasis potensi local, dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya,”  imbuh Husni Rahim yang saat ini juga Ketua Dewan Penasehat DPP GUPPI.

     Husni Rahim kemudian menyodorkan trik bagaimana langkah transformasi sekolah dari biasa-biasa menjadi berkualitas, unggul dan relijius.

    “Sekolah harus bisa mengubah mindset bahwa berkualitas itu tidak mahal. Kemudian mempunyai kepemimpinan kepala sekolah yang visoner, menggerakkan dan motor perubahan, manajemen sekolah efisien, transparan dan partisipatif, Berani melakukan inovasi di tengah keterbatasan, mempunyai guru kreatif dan Inovatif, kurikulum kontekstual, pembelajaran aktif, dan siswa belajar dengan harapan dan motivasi tinggi,”  katanya.

     Di akhir paparannya, Husni Rahim menyampaikan sikap optimisne bagaimana GUPPI bisa mewujudkan usaha dan gerakannya agar sekolah di Indonesia itu murah, berkualitas, dan relijius.

    “Sekolah berkualtias, murah dan relijius itu juga merupakan strategi kebangsaan. Karena itu sudah waktunya GUPPI ikut ambil bagian dalam mewujudkan Sekul Ber Q-MR sebagai partisipasi ikut memenuhi janji kemerdekaan negara yang kita cintai ini,” ungkapnya.

     Sementara itu Murtadho dalam tanggapannya menyoroti kurangnya inovasi di sekolah dan madrasah di Indonesia dan kurang mengembangkan potensi yang dimiliki.

    “Mutu sekolah bisa diwujudkan dari berbagai pendekatan, dan kadang tidak mudah dan tidak murah. Ada sekolah yang dianggap bermutu karena para alumninya diterima di perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi elit. Ada juga yang karena sekolahnya banyak menorehkan prestasi berbagai macam lomba,”  kata Murtadho.

     Masalah biaya menurutnya, bisa diatasi dengan membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi yang banyak bermuculan saat ini. Dia menyarankan agar sekolah atau madrasah bisa mengeksplorasi dukungan filantropi dari organisasi keagamaan untuk mendanai inovasi pendidikan dan pelatihan guru maupun fasilitas belajar mengajar di sekolah.

    “Sekolah harus berani melakukan pendekatan dengan lembaga-lembaga amil zakat (Laziz) yang sekarang ini banyak menghimpun dana umat. Bagaimana dana umat itu bisa dikembalikan untuk mendukung pengembangan sumberdaya umat melalui bantuan-bantuan untuk madrasah, sekolah dan pondok pesantren. Baik itu untuk menambah insentif guru yang belum sertifikasi atau membantu operasional sekolah yang dirasa masih kurang,” imbuh Murtadho yang juga seorang peneliti senior di BRIN.

     Pada sesi yang sama, Suhardi berbagi pengalaman contoh sekolah yang sukses menerapkan model pendanaan kreatif, dan tidak tergantung dengan sumbangan dari orang tua.

    “Seorang Kepala sekolah itu harusnya seorang yang Super Kreatif, tidak boleh biasa-biasa saja. Dia harus bisa meyakinkan orang lain bahwa sekolahnya itu akan maju dan anak-anaknya akan belajar dengan nyaman,” ujar Suhardi.

     Dia mencontohkan ada madrasah di Tangerang Selatan yang bisa maju dengan didukung oleh masyarakat, termasuk dari luar negeri.  

    “Di Tangerang Selatan ini ada madrasah yang dulunya kecil dan mutunya tidak bagus, namun kepala madrasahnya sangat kreatif dan komunikasit dengan masyarakat. Dia sukses menerapkan model pendanaan kreatif, yaitu dengan gerakan orang tua asuh, yang telah menarik donor internasional dan memungkinkan pendidikan gratis untuk anak-anak yatim dan siswa kurang mampu,”  tambah Suhardi yang pernah memimpin MTsN 1 Pamulang Tangerang Selatan.

     Diskusi serial kerjasama antara DPP GUPPI dengan Gerutas yang diikuti oleh Pengurus DPP GUPPI, DPW GUPPI, Kepala Madrasah dan sekolah, Pengurus Gerutas dan praktisi pendidikan ini akan dilanjutkan lagi dua minggu ke depan dengan membahas tentang Tujuh Prinsip Sekul Ber Q-MR; Kompas Sekolah Bermakna. (Tim Media GUPPI).

     

    Komentar

    51
  • GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN  BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN ADAKAN PELATIHAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BUKU TSAQOFAH ISLAMIYAH

    Jakarta. GUPPI – Sebagai tindaklanjut dari Nota Kerjasama antara GUPPI dengan Darul Fatwa Islamic High School Council Australia, DPP GUPPI akan mengadakan kegiatan Pelatihan Implementasi Pembelajaran Buku Tsaqofah Islamiyah yang akan dilaksanakan di Kampus Pusdiklat Kementerian Agama Ciputat, 27 – 30 September 2025.

    Kegiatan pelatihan kali ini akan diikuti oleh 40 Kepala Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Dasar dan Pengurus GUPPI dari berbagai daerah.

    Penanggung jawab kegiatan, Rusydi Zakaria, yang juga Sekretaris Jenderal DPP GUPPI mengatakan bahwa kegiatan pelatihan ini dilakukan untuk memberi perspektif baru bagi para kepala madrasah Ibtidayah dan Sekolah Dasar akan cara pandang dan pengalaman mengelola pendidikan Islam kekinian.

    “Kita ingin memberi pengalaman baru bagaimana pengelolaan pendidikan Islam itu dilakukan secara efektif sesuai dengan perkembangan dan tantangan zaman. Karena itu kita bisa belajar bagaimana Darul Fatwa Australia mengelola sekola-sekolah Islam di Australia”, kata Rusydi Zakaria.

    Ia mengungkapkan bahwa dalam pelatihan nanti para peserta akan dikenalkan dengan buku Tsaqofah Islam yang dipakai oleh sekolah-sekolah Darul Fatwa Australia sebagai buku PAI bagi siswanya.

    “Para peserta akan diperkenalkan dengan buku Tsaqofah Islamiyah yang digunakan di sekolah-sekolah Islam di Australia. Buku ini adalah buku pegangan siswa dalam pemahami ajaran Islam, semacam buku PAI yang kita pakai di sekolah dan madrasah di Indonesia,” tambah Rusydi.

    Rusydi mengatakan bahwa buku Tsaqofah Islamiyah yang di gunakan di sekolah-sekolah Islam Australia itu juga sudah mendapat approval dari Universitas Al Azhar Kairo untuk mengetahui dan mendalami tentang akidah, akhlak dan ibadah yang diharapkan dapat memperkokoh keimanan dan keislaman para siswa.

    “Buku Tsaqofah Islamiyah ini sudah mendapat approval dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir dan akan kita kaji bersama sehingga para peserta dapat memahami pembelajaran Pendidikan agama Islam secaa lebih komprehensif,” ujar Rusydi.

    Tentang Tsaqofah Islamiyah Rusydi memberikan penjelasan lebih luas.

    “Tsaqufa dalam bahasa Arab berarti menjadi cerdas, cekatan, cepat mengerti dan mengetahui.  Seorang yang tsaqif berarti seorang yang cepat dalam memahami. Juga berarti cepat dalam mempelajari. Selain pengertian tersebut, kata tsaqofah juga memiliki pengertian mengalahkan dan mendominasi, membentuk dan memperbaiki. Karena itu buku Tsaqofah Islamiyah ini kita kaji bersama untuk mendapat keluasan cara pandang dan cara beragama yang benar di tengah perkembangan dunia saat ini,” ungkap Rusydi.

    Ia berharap para peserta pelatihan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk beriteraksi dengan para peserta lainnya, termasuk dengan naras umber dari Australia.

    “Kita berharap kawan-kawan peserta dapat berdiskusi dan sharing pengalaman tentang dunia Islam di belahan dunia Islam lainnya sehingga pembelajaran PAI di madrasah dan sekolah dapat membangun pemahaman Islam yang progresif, moderat dan rahmatan lil alamin,” ungkap Rusydi yang juga dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.  

    Sementara itu Ketua Panitia Pelatihan Agus Sholeh mengatakan bahwa MOU antara GUPPI dan Darul Fatwa itu menunjukkan adanya kesamaan visi dalam membangun peradaban Islam yang maju dan bermartabat.

    “MOU antara GUPPI dengan Darul Fatwa Australia itu menunjukkan adanya kesamaan visi dan komitmen dalam memajukan dunia pendidikan Islam, terutama pada sekolah-sekolah Islam swasta. Ada dua tujuan penting dari MOU itu yaitu bagaimana kita mereformasi dan memajukan pendidikan Islam dan mengembangkan keterlibatan masyarakat dalam memajukan pendidikan Islam,” kata Agus Sholeh.

    Menurutnya, pelatihan guru dan kepala sekolah merupakan bagian penting dalam MOU tersebut untuk memberikan perspektif baru baru dalam mengelola sekolah-sekolah Islam di Indonesia.

    “Dalam kerjasama ini kita akan melakukan pertukaran materi pendidikan dan praktik terbaik dalam mengelola pendidikan Islam yang berkualitas, terutama dalam pengembangan kurikulum modern yang memadukan ajaran Islam dengan kemajuan sains kontemporer,” tambah Agus Sholeh yang lama berkiprah di Kementerian Agama.

    Agus memandang penting adanya kolaborasi dengan Darul Fatwa Australia ini ini agar dunia pendidikan GUPPI lebih terbuka dan tidak bersifat elitis dan ekslusif.

    “Kita berharap agar kerjasama yang dilakukan GUPPI ini dapat mendukung masa depan pendidikan Islam Indonesia yang yang lebih baik, seperti yang menjadi visi dan misi GUPPI. Karena itu kerjasama GUPPI ini harus didukung oleh semua pihak sehingga sekolah dan madrasah kita dapat menjadi media dakwah yang efektif kepada masyarakat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara,” ujar Agus.

    Agus menambahkan bahwa kegiatan pelatihan GUPPI ini baru dilakukan untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar, sedangkan untuk jenjang RA/TK, MTs/SMP dan MA/SMA sedang disiapkan.

    “Kita sedang menyiapkan rancang pelatihan untuk RA/TK, MTs/SMP dan MA/SMA/SMK. Moga-moga bisa dilaksanakan di tahun 2025 ini,” ungkap Agus. (Tim Media)

     

    Komentar

  • GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI MINTA DPR DAN DPD KAJI MUTU PENDIDIKAN INDONESIA

    Jakarta (GUPPI) – Ketua Umum DPP GUPPI Prof. Fasli Jalal, Ph. D menyampaikan ucapan selamat kepada para anggota DPR dan DPD Periode 2024 -2029 yang telah dilantik sesuai dengan Keputusan KPU Hasil Pemilu 2024 pada Selasa, 1 Oktober 2024.    

    “Atas nama DPP GUPPI saya ingin mengucapkan Selamat Mengemban Tugas Baru kepada anggota DPR dan DPD Periode 2024 – 2029. Saya berharap dan mendoakan selalu agar para wakil rakyat dapat mengemban amanah rakyat ini untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat dan bangsa Indonesia.” kata Fasli Jalal.

    Sebanyak 580 orang calon anggota DPR RI terpilih dan 152 orang calon anggota DPD RI terpilih berdasarkan Surat Keputusan KPU RI tentang Hasil Pemilu 2024 Periode 2024 – 2029 dilantik sebagai wakil rakyat pada Sidang Paripurna 2029 di Gedung Nusantara MPR/DPR RI Senayan, Jakarta.

    Salah satu anggota DPR yang dilantik adalah Rudianto Lalo dari Partai Nasdem Sulawesi Selatan.    

    “Saya bangga dan bahagia ada Pak Rudianto Lalo, yang merupakan Ketua Ikatan Alumni Pesantren GUPPI Samata Kabupaten Gowa, ikut dilantik sebagai anggota DPR dari Partai Nasdem Sulawesi Selatan,” ungkap Fasli Jalal.    

    Menurut Fasli Jalal, para anggota DPR dan DPD adalah orang-orang hebat dan terpilih mewakili rakyat, karena itu mereka harus didukung, dikawal dan didoakan agar dapat mengemban harapan dan doa rakyat agar terus menjaga kesatuan dan kemajuan bangsa ini.    

    “Dengan posisi DPR dan DPD yang sangat strategis ini maka kita berharap mereka dapat membawa bangsa Indonesia akan menjadi negara yang maju dan sejahtera seperti doa-doa kita selama ini, yaitu agar Indonesia menuju  baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur,” tambah Fasli Jalal.

    Sama dengan periode DPR dan DPD yaitu 2024 – 2029.  Ia berharap agar sektor pendidikan menjadi perhatian serius bagi para anggota DPR dan DPD yang baru ini.   

    “Sektor pendidikan harus menjadi perhatian serius bagi para anggota DPR dan DPD. Hal ini karena pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia berkualitas sehingga manusia Indonesia mampu mendorong inovasi, mendukung pertumbuhan ekonomi, dan mewujudkan kesejahteraan bangsa,” ungkap Fasli Jalal.    

    Menurutnya, saat ini Indonesia menghadapi tantangan besar yang harus segera direspon oleh para anggota DPR dan DPD yang baru.    

    “Indonesia menghadapi tiga tantangan besar sekaligus peluang untuk mencapai Indonesia yang maju dan sejahtera. Pertama adalah mewujudkan Indonesia Emas pada 2045. Kedua, memastikan Indonesia memperoleh bonus demografi karena berlimpahnya angkatan kerja dibandingkan penduduk yang belum bekerja atau sudah selesai masa tugasnya. Ketiga, komitmen kita untuk mencapai 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” ungkap Fasli Jalal, yang juga merupakan Rektor Universitas YARSI Jakarta.    

    Ia juga meminta agar DPR dan DPD mengkaji berbagai keputusan untuk mendukung iklim pendidikan Indonesia yang sesuai dengan tantangan zaman.    

    “Kita berharap agar DPR dan DPD bisa mengkaji ulang dan merumuskan kembali manusia Indonesia. Untuk mengatasi ketiga tantangan itu, diperlukan SDM unggul, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri; serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab,” katanya.    

    Selanjutnya, ia juga meminta agar anggaran pendidikan ditelaah agar didapat rasa kesetaraan dan keadilan.    

    “Perlu dilakukan penelaahan APBN dan APBD bidang pendidikan guna memastikan perencanaan anggaran pendidikan yang terpadu, satu pintu, untuk memenuhi amanat UUD soal pendidikan yang harus dilaksanakan dalam satu sistem pendidikan nasional. Lalu, dipastikan sinergitas antara perencanaan dan penganggaran pembangunan pendidikan dari tingkat pusat, provinsi, sampai kabupaten/kota,” tambahnya.    

    Tak kalah penting, ia ingin memastikan bahwa anggaran pendidikan digunakan untuk program-program yang memperbaiki hasil belajar siswa dan anggaran pendidikan digunakan secara efektif, efisien, dan akuntabel.    

    “Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah perlu meningkatkan anggaran yang diberikan langsung ke sekolah-sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan sekolah-sekolah yang hasil belajarnya belum baik agar tambahan anggaran ini bisa mendorong kualitas belajar siswa. Karena sekitar 55 persen APBN untuk pendidikan diberikan langsung ke kabupaten/kota dan provinsi di seluruh Indonesia, perlu ada insentif dan disinsentif yang jelas dan penetapan indikator kinerja utama pemda dalam pencapaian peningkatan mutu pendidikan untuk mempertanggungjawabkan dana APBN yang diberikan langsung ke daerah itu,” harap Fasli yang pernah menjadi Pejabat Tinggi di Bappenas.    

    Sebagai Ketua Umum GUPPI ia menegaskan bahwa GUPPI akan mendukung langkah-langkah DPR dan DPD secara kritis dan konstruktif.    

    “Kita akan dukung langkah-langkah DPR dan DPD yang membangun masyarakat Indonesia menjadi lebih cerdas, maju dan sejahtera. Namun kami juga akan kritis apabila ternyata DPR dan DPD tidak sejalan dengan harapan rakyat Indonesia,” ungkapnya. (Tim Media GUPPI)

    Komentar

    48
  • KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    KETUA UMUM DPP GUPPI KUKUHKAN PENGURUS WANITA GUPPI

    Jakarta (GUPPI) – Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D mengukuhkan kepengurusan DPP Wanita GUPPI Periode 2024 – 2029 di Kampus Universitas YARSI Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2024. Pengukuhan ini dilaksanakan setelah dirinya mengukuhkan Pengurus DPP GUPPI Periode 2024 – 2029.

    Dia mengungkapkan kegembiraanya bahwa Wanita GUPPI selama ini aktif dalam meningkatkan peran wanita dalam pendidikan di keluarga.

    “Alhamdulillah acara berjalan lancar. Saya berharap Ibu-ibu Pengurus Wanita GUPPI dapat mengemban amanah ini dengan baik sehingga dapat mendukung upaya pendidikan Islam di lingkungan ibu, anak dan keluarga,“ kata Fasli Jalal.

    Dirinya berharap agar Wanita GUPPI terus aktif untuk melakukan advokasi agar nilai-nilai pendidikan Islam dapat menjadi fondasi moral keluarga untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

    “Selamat menunaikan tugas mulia ibu-ibu sekalian. Moga-moga Wanita GUPPI bisa ikut mengawal usaha pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia melalui penguatan peran wanita dan keluarga,” tambah Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas YARSI Jakarta.

    Sebagai Ketua DPP Wanita GUPPI ditetapkan Prof. Zahrotun Nihayah, didampingi oleh Dr. Tati Hartimah, Dr. Fauziyah Fauzan El Muhammadi, Dra. Media Ekawati, MM, Adelia Noor, M. Pd sebagai Wakil Ketua dan Prof. Maila Dania sebagai Sekretaris.

    Adapun susunan Kepengurusan DPP Wanita GUPPI Periode 2024 – 2029 adalah :

    Penasehat                                               

    Ketua                                                        :  Prof. Dr. Nurhayati Djamas, MA. MSi.

    Wakil Ketua                                             :  Dra. Siti Maryam Thohari, M.Pd.

    Anggota                                                    :  Dr. Gusnawirta Fasli Jalal

       Prof, Dr, Valina Singka Subekti

       Prof . Dr. Azizah Ma’ruf Amin

    Dewan Pakar                                          

    Ketua                                                        :  Prof. Dr. Fadhilah Suralaga, M.Psi

    Anggota                                                  :  Prof. Dr. Kustini Kosasih.M.Si.

       Prof. Dr. Sururin, MA

       Prof. Dr. Nurul Azkiyah, P.hD

       Prof. Dr.  Nur Inayah, M.Si

    Ketua Umum                                          :  Prof. Dr. Zahrotun Nihayah. M.Psi. 

    Wakil Ketua  Umum                               :  Dr. Tati Hatimah, MA 

    Ketua I                                                      :  Dr. Fauziah Fauzan El Muhammady, M.Si

    Ketua II                                                     :  Dra. Media Ekawati .M.M 

    Ketua III                                                    :  Adelia Noor, S.Pd, M.Pd 

    Ketua IV                                                    :  Prof.  Maila Dinia, MA, Ph.D 

    Sekretaris  Umum                                  :  Dra. Lisa’diyah Ma’rifataini, M.Pd 

    Wakil Sekretaris                                      :  Nahayati. M.Pd

    Bendahara  Umum                                :  Dra. Sri Waluyani Mumtahinati, M.Pd

    Wakil Bendahara                                    :  Dra. Widya Martha Rika.

     BIDANG-BIDANG

    1. Bidang Peningkatan Kualitas Pendidikan Wanita 

    Koordinator                                :  Dr. Ida Rosyidah, M.A

    Sekretaris Bidang                      :  Yuliwati M.Pd    

    Anggota                                       : 

    1. Dr. Wiwi Siti Sajarah

    2. Dr. Iyoh Mastiyah, M.Pd

    3. Elis Lisyawati, M.Pd

    4. Khairunisa, MA

    5. Dr. Rizki Handayani

    6. Dr. Hindun. M.Pd..

    1. Bidang perlindungan Anak & Remaja

    Koordinator                                ; Radhiyah Bustan. M.Soc,Sc,Psi.

    Sekretaris Bidang                      : Nila Fitria M.Pd.

    Anggota                                      : 

    1. Dr. Sunarti PhD

    2. Zulfa Indira Wahyuni M.Psi

    3. Dr. Siti Khadijah, MA

    4. Dra. Bahzah. M.Pd.

    5. Sitti Evangeline Imelda Suaidy, M.Si, P.Si.

    6. Eva Delva. M.Pd

    3. Bidang Pendidikan dan Kesejahteraan Keluarga

    Koordinator                                : Dra. Emma Nurmawati Hadian MM

    Sekretaris Bidang                      : Dra. Sumarsih Anwar M.Pd.

    Anggota                                      :  

    1. Prof. Dr. Mesraini. S.H. MAg. 

    2. Dr. Yayah Nurmaliah, M.Psi

    3. Dra. Rachimah Imawati, M.Psi

    4. Ir. Cucun Cunia Komara, S.Pd

    5. Lulu Amna M.Pd.

    6. dr. Lilik Khairiyah

    1. Bidang Kerjasama dan Kemitraan antar Lembaga

    Koordinator                                : Dr. Nurhasanah M.Ag

    Sekretaris Bidang                      : Ratna Fairus

    Anggota                                      :  

    1. Zaitu Asrilla, M.Si

    2. Dr. Siti Drivoka M.Pd.

    3. Khoirotun Nisak

    4. Nia Tresniasari, M.Pd, M,Stat

    5. Evi Muliyah M.Si.

    6. Izun Ni’mah M.Pd.

    Komentar

    71
  • FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    FASLI JALAL KUKUHKAN PENGURUS DPP GUPPI YANG BARU

    Jakarta – Ketua Umum Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI), yang juga Ketua Tim Formatur Pemilihan Ketua Umum GUPPI, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph. D mengukuhkan kepengurusan DPP GUPPI Periode 2024 – 2029 di Kampus Universitas YARSI Jakarta, Ahad, 4 Agustus 2024.

    Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Bahrul Hayat Ph. D dikukuhkan sebagai Wakil Ketua Umum, dan Dr. Amich Alhumami MA, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Bappenas ditunjuk sebagai Ketua Harian. Sementara itu Drs. Rusydi Zakaria, M, Ed ditugaskan sebagai Sekretaris Jenderal dan Dr. Opik Abdurrahman Taufik sebagai Bendahara Umum GUPPI periode 2024 – 2029.

    Hadir dalam acara ini sejumlah perwakilan ormas-ormas Islam, pemerintah, pimpinan perguruan tinggi, madrasah, pondok pesantren dan sekolah Islam.

    “Alhamdulillah acara pengukuhan berjalan lancar. Sekitar 300 orang memenuhi Aula Ar Rahim Universitas Yarsi Jakarta dan Sebagian lagi para pengurus DPW dan DPD mengikuti secara daring melalui link zoom meeting,” kata Fasli Jalal saat menyampaikan sambutan.

    Fasli Jalal meminta kepada para pengurus agar menjalankan kewajibannya sesuai dengan tugas dan kewajiban yang diamanatkan.

    “Saya berharap Bapak Ibu Pengurus dapat mengemban amanah ini dengan baik sehingga kita kibarkan gerakan pembaruan pendidikan Islam dan membangun citra pendidikan Islam yang bermutu dan bermartabat, “ tambah Fasli Jalal, yang juga Rektor Universitas YARSI Jakarta.

    Dalam kesempatan ini dia mengajak seluruh komponen pendidikan untuk lebih peduli dan memberi perhatian terhadap mutu dan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.

    “Kita tidak mungkin hanya mengandalkan bantuan pemerintah untuk memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Jumlah lembaga pendidikan di Indonesia sebagian besar adalah lembaga swasta, dan sebagian besar adalah sekolah Islam, madrasah dan pondok pesantren. Karena itu mari kita bersama-sama melakukan gerakan pembaruan pendidikan Islam agar pendidikan Islam bisa maju dan kompetitif”, ungkap Fasli Jalal yang pernah menjadi Wakil Mendikbud.

    Dirinya berharap agar GUPPI ini menjadi motor penggerak bagi pembaruan pendidikan Islam di Indonesia sehingga mutu pendidikan kita dapat bersaing di dunia internasional.

    “Dulu orang Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Kamboja, Vietnam datang dan belajar ke Indonesia. Sekarang malah terbalik, kita yang pergi ke mereka dan ketemu dengan murid-murid kita yang sekarang jadi orang-orang penting,” jelas Fasli Jalal.

    Menurut pandangan Fasli Jalal, GUPPI merupakan ormas Islam yang memang dari awalnya memberi perhatian terhadap usaha pembaruan dunia pendidikan Islam di Indonesia.

    “GUPPI yang lahir tahun 1950 ini dari awalnya memang memberi perhatian pada pendidikan Islam, karena para pendiri GUPPI yang merupakan kyai-kyai pondok pesantren prihatin dengan dunia pendidikan Islam. Karena saat itu masih suasana perang, maka orang tidak terlalu peduli dengan mutu madrasah dan pesantren’, kata Fasli.

    Fasli berharap agar acara pengukuhan ini menjadi momentum baru bagi gerakan pembaruan pendidikan Islam sejalan dengan kebijakan Pemerintah yang telah mengesahkan Kurikulum Merdeka untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

    “Setelah acara pengukuhan ini DPP GUPPI akan mencoba memberi masukan kepada Presiden terpilih 2024 dengan Blueprint Peta Jalan Pembaruan Pendidikan Islam dengan melihat model-model best practice yang selama ini sudah dikembangkan oleh ormas-ormas Islam sehingga terlihat jelas peran dan partisipasi dunia pendidikan Islam di Indonesia”, katanya. 

    Dalam acara ini juga dikukuhkan Dewan Penasehat, Desan Pakar, Pengurus Lembag Advokasi Hukum dan Perlindungan HAM, dan Pengurus Wanita GUPPI.

    Prof. Husni Rahim dikukuhkan sebagai Ketua Dwan Penasehat GUPPI, didampingi oleh Marzuki Alie, Ph. D, Dr. Nurhayati Subakat, dan Prof. Ahmad Thib Raya sebagai Wakil Dewan Penasehat. Sedangkan Prof. Amsal Bahctiar ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Penasehat GUPPI.

    Sementara itu Dewan Pakar dipimpin oleh Prof. Imam Tholkhah, didampingi oleh Prof. Nurhayati Djamas, Prof. Dede Rosyada dan Prof. Lydia Freyani Hawadi sebagai Wakil Dewan Pakar. Adapun Prof. Murtadho ditugaskan sebagai Sekretaris Desan Pakar.

    Di Wanita GUPPI, Prof. Zahrotun Nihayah ditetapkan sebagai Ketua, didampingi oleh Dr. Tati Hartimah, Dr. Fauziyah Fauzan El Muhammadi, Dra. Media Ekawati, MM, Adelia Noor, M. Pd sebagai Wakil Ketua dan Prof. Maila Dania sebagai Sekretaris.

    Adapun susunan Kepengurusan DPP GUPPI Periode 2024 – 2029 adalah :

    DEWAN PIMPINAN PUSAT

    KETUA UMUM         Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D.

    Wakil Ketua Umum  Prof. Bahrul Hayat, Ph.D.

    Ketua Harian            Amich Alhumami, MA, M.Ed. Ph.D.

    Ketua Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO)     Drs. Syamsudin, MM

    Ketua Penguatan Layanan Pendidikan (PLP)     Prof. Dr. Muhammad Adlin Sila, MA

    Ketua Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS)        Dr. Ir. Taufik Hanafi, MUP.

    Ketua Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI) Dr. Ahmad Suryadi Nomi, M.Pd.

    Ketua Penguatan Peran Wanita (PPW) Prof. Dr. Zahrotun Nihayah, M.Psi.

    Sekretaris                Dra. Lisa’diyah Ma’rifataini. M.Pd

    SEKRETARIS JENDERAL  Rusydy Zakaria, M.Ed. M.Phil.

    Wakil Sekretaris Jenderal Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO) Drs. Hasan M Noer, MA.

    Wakil Sekretaris Jenderal Penguatan Layanan Pendidikan (PLP) Drs. Agus Sholeh, M.Ed.

    Wakil Sekretaris Jenderal Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS) Dr. Rudi Harisyah Alam.

    Wakil Sekretaris Jenderal Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI) Drs. Subardja, M.Pd.

    Wakil Sekretaris Jenderal  Penguatan peran Wanita (PPW) Dra. Lisa’diyah MF, M.Pd

    Kepala Sekretariat/Kantor   Drs. Aden Daenuri, M.Ed.

    BENDAHARA UMUM          Dr. Opik Abdurrahman Taufik, M.Pd.

    Wakil Bendahara Umum     Dr. Hj. Eniwati Chaidir, M.Ag

    Wakil Bendahara Umum     Endi Suhendi, M.Pd.

    Bendahara                          Sumarni Ch.

    Departemen Pembinaan Kelembagaan Organisasi (PKO)

    Ketua             Drs. MHR Shikka Songge. M.AP.

    Wakil Ketua   H. Muhammad Hafizh  El Yusuf, MM

    Anggota        Moh. Harun Al-Rasyid Balaga, Lc. M.Pd.

    Anggota        Muhammad Iqbal, SE

    Anggota        M. Shopiuddin, MA

    Anggota        Abas Jauhari, M. Ag

    Anggota        Saefuddin Anshari. M. Ag

    Departemen Penguatan Layanan Pendidikan (PLP)

    Ketua             Hasan Husen Basri, MA

    Wakil Ketua   Drs. Asril Das

    Anggota        Drs. Abdul Munir, M. Ed

    Anggota        Dr. Suhardi. M. Pd

    Anggota        Dr. Jejen Musfah, MA

    Anggota        Drs. Nuryasin, M. Si

    Anggota        Herry Zakaria, S. Ag. SE

    Angota          Dr. Nur Dewi Afifah

    Departemen Kerjasama Kemitraan Strategis (KKS)

    Ketua             Dr. Abduk Rozak, M, Si

    Wakil Ketua   Dr. Ahmad Shodiq, MA

    Anggota        Dr. Mahnan Marbawi

    Anggota        Dr. Syafiuddin

    Anggota        Dr. Iin Kandedes, MA

    Anggota        Sofyan Badrie

    Departemen Penguatan Kemandirian Pendidikan Islam (PKPI)

    Ketua             Dr. Jaenal Arifin, MA

    Wakil Ketua   Dr. Khamim, M. Pd

    Anggota        Dr. Hanif

    Anggota        Faisal Ghozali, Lc, M. Pd

    Anggota        M. Sholeh

    Anggota        Drs. Ali Syamasuddin

    DEWAN PENASEHAT

    Ketua             Prof. Dr. Husni Rahiem

    Wakil Ketua   Marzuki Alie, Ph.D.

    Wakil Ketua   Dr. (HC) Nurhayati Subakat

    WakilKetua    Prof. Dr. A. Thib Raya, MA

    Sekretaris      Prof. Dr. Amsal Bachtiar, MA

    Anggota        Prof. Hilman Latief, MA, Ph.D

    Anggota        Prof. Hamid Fahmi Zarkasyi, M. Ed, M. Phil.

    Anggota        Prof. Dr. H. Rohmat Mulyana Sapdi.

    Anggota        H. Adian Husaini, M. Si, Ph. D.

    Anggota        Dr. H. Yusnar Yusuf, MS

    Anggota        Dr. Aab Abdullah, S. IP. M. Ag.

    Anggota        Dra. Siti Maryam Tohari, M.Pd.

    Anggota        Chamdi Pamudji, SH, MM.

    Anggota        Drs. Praptono Zamzam, M. Sc

    Anggota        Drs. H. Nurdin

    Anggota        Drs. Nadjmudin, MM

    Anggota        H. Ahmadie Thaha, M.Si.

    DEWAN PAKAR

    Ketua             Prof. Dr. Imam Tholkhah, MA.

    Wakil Ketua   Prof. Dr. Nurhayati Djamas, MA.

    Wakil Ketua   Prof. Dr. Dede Rosyada, MA.

    Wakil Ketua    Hamid Muhammad, Ph.D.

    Sekretaris      Prof. Dr. Muhamad Murtadlo.

    Anggota        Prof. Dr. Hono Sejati, SH., M. Hum.

    Anggota        Prof. Dr. Syamsuridjal Djauzi, SpPD.

    Anggota        Dr. Supriyanto, MA.

    Anggota        Prof. Muchlas Samani

    Anggota        Prof. Dr. Syawal Gultom

    Anggota        Prof. Dr. Eka Putra Wirman, Lc., MA

    Anggota        Prof. Dr. Amany Lubis, MA

    Anggota        Dr. dr. Endy Muhammad Astiwara, MA., AAAIJ, CPLHI, ACS, FIIS, CRGP, ASPM.

    Anggota        Prof. Dr. Abuddin Nata, MA

    Anggota        Prof. Martin Roestamy, SH, MH.

    Anggota        Prof. Dr. H. Sukro Muhab, M.Si.

    Anggota        Prof.Dr. Armai Arief, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Abdul Fattah, M.Fil.

    Anggota        Prof. Dr. Aan Hasanah, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Budi Sulistiono, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Muhammad Zuhdi, M.Ed.

    Anggota        Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Qowaid, MA.

    Anggota        Prof. Dr. Choirul Fuad Yusuf

    Anggota        Prof. Bambang Suryadi, Ph.D.

    Anggota        Dr. Taufan Maulamin, Akt.MS.

    Anggota        Dr. Zulfikri Anas

    Anggota        Abdul Malik, Ph.D.

    Anggota        Dr. Ing. Suparno Satira, DEA.

    Anggota        Dr. H. Iskandar Syukur, MA.

    Anggota        Fuad Fachruddin, M.sc. Ph.D.

    Anggota        Dr. Usman Shihab, Lc.

    LEMBAGA ADVOKASI HUKUM & PERLINDUNGAN HAM GUPPI

    Ketua             Dr. Soefyanto Wiryoatmojo, SH, MH

    Wakil Ketua   Mubarok, SH, M.Sc

    Sekretaris      Andi Syafrani, M.Hum

    Anggota        Drs. Yusuf Hidayat.

    Anggota        Dr. Shiyamu Manurung, MA.

    Anggota        Drs. Mustholih Siradj, MH

    Komentar

    63
  • FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI  DENGAN ORMAS ISLAM

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    FASLI JALAL : GUPPI HARUS MEMBANGUN KOLABORASI DENGAN ORMAS ISLAM

    Jakarta (GUPPI) – Salah satu kandidat Ketua Umum GUPPI, Faisal Jalal mengatakan bahwa GUPPI harus membangun kolaborasi dengan ormas-ormas Islam untuk kemajuan pendidika di Indonesia.

    Hal itu dinyatakan oleh Fasli Jalal dalam diskusi dengan para pengurus DPP dan DPD GUPPI untuk mendapat masukan menjelang Muktamar GUPPI ke 10 yang akan dilaksanakan pada bulan Mei 2024, Jum’at, 26 April 2024.

    “GUPPI ke depan harus menjadi “Mitra Strategis” bagi lembaga dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Melalui strategi kemitraan ini diharapkan GUPPI dapat kembali mengambil peran dalam meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan Islam baik di tingkat daerah, nasional maupun global,” kata Fasli Jalal.

    Hal ini disampaikan oleh Fasli Jalal karena GUPPI merupakan salah satu dari 10 ormas Islam yang ikut mendirikan Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Juli tahun 1975.

    Menurutnya, GUPPI harus melakukan pembenahan, baik kedalam maupun keluar, agar GUPPI dapat tampil kembali ke permukaan.

    “Manajemen dan SDM pendukung roda organisasi GUPPI harus dibenahi, termasuk dengan melibatkan melibatkan tenaga-tenaga muda, sekurang-kurangnya dengan tiga latar belakang akademik, yaitu manajemen, teknologi IT dan agama”, jelas Fasli Jalal.

    Ia juga berharap agar kantor Pusat GUPPI juga berada di tempat yang strategis sehingga dapat membangun komunikasi lebih mudah. 

    “Kalau perlu juga kantor pusat GUPPI ditata ulang lagi, baik manajemen maupun tampilan fisiknya sehingga dapat mendukung gerak organisasi’, tambah Fasli Jalal, yang saat ini menjabat sebagai Rektor Universitas YARSI Jakarta, yang dikenal sebagai salah satu universitas Islam swasta papan atas di Indonesia, terutama dalam bidang kedokteran.

    Sebagaimana diketahui, GUPPI akan mengadakan Muktamar yang ke 10 pada tanggal 18-19 Mei 2024 di Jakarta setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Dalam Muktamar ini akan didakan pemilihan Ketua Umum GUPPI yang baru periode 2024 – 2029. Dan salah satu calon Ketua Umum GUPPI yang cukup popoler adalah Fasli Jalal.

    GUPPI merupakan organisasi masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi Jawa Barat dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya kemudian dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

     

    Biodata Fasli Jalal

    Fasli Jalal,  lahir di Padang, 1 September 1953 adalah seorang akademisi Indonesia, tokoh/praktisi pendidikan Indonesia, ahli gizi, pertumbuhan dan perkembangan anak dan birokrat Indonesia.

    Pada saat ini, Fasli Jalal menjabat sebagai Rektor Universitas Yarsi Jakarta setelah dilantik oleh Yayasan YARSI pada tahun 2019. Universitas Yarsi merupakan sedikit dari perguruan tinggi swasta Islam yang mempunyai reputasi tinggi dan dikenal sebagai universitas Islam yang top, termasuk kampus mahal. Salah satu kebanggaan dari universitas Islam ini adalah adanya fakultas kedokteran dan fakultas kedokteran gigi yang tearkreditas Unggul.

    Fasli Jalal pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (BKKBN) untuk periode 2013 – 2015, Wakil Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk periode 2010-2011, mendampingi Muhamad Nuh, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia pada periode 2007-2010.

    Dia memulai pendidikan tingginya di Fakultas Kedokteran Universitas AndalasPadang, setelah menyelesaikan sekolah menengah atas di SMA Negeri Padang Panjang. Pada tahun 1981, Fasli menyelesaikan pendidikan profesi kedokterannya di Universitas Andalas. Kemudian, pada tahun 1991 mendapatkan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D) dalam bidang Ilmu Gizi Masyarakat (dengan Minor di bidang Epidemiologi dan Program Studi Asia Tenggara) dari Universtas CornellIthacaNew York.

    Selamat bermuktamar GUPPI yang ke 10.

    Moga-moga lancar dan penuh keberkahan. (Gus).

    Komentar

    48
  • GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI SUSUN LIMA MATRA GERAKAN

    Jakarta – Menjawab tantangan dan dinamika perubahan zaman yang semakin komplek, Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI) perlu menajamkan langkah gerakan ke depan.

    Demikian salah satu point penting yang merupakan hasil diskusi GUPPI yang bertempat di Universitas Yarsi Jakarta yang dihadiri beberapa tokoh Pendidikan seperti Fasli Jalal (Rektor Univ Yarsi), Amich Alhumami (Deputi Bappenas), Adlin Sila dan Tatang Muttaqin (Staf Ahli Kemendikbud). Mereka diundang dalam kapasitasnya untuk memberi masukan apa yang sebaiknya dilakukan oleh GUPPI sebagai salah satu organisasi kependidikan dan mitra pemerintah memajukan dunia Pendidikan.

    Hadir dalam forum konsultasi itu Imam Tolkhah (Ketua GUPPI), Nurhayati Djamas (Ketua Wanita GUPPI), Murtadlo (Peneliti Senior BRIN), Syamsudin (Mantan Karocan Kemenag), Suryadi nomi (Dosen UMJ), Rusdy Zakaria (Dosen UIN Jakarta) dan banyak tokoh lain serta para pengurus GUPPI dan Wanita GUPPI di ibukota Jakarta dan sekitarnya.

     Dalam masukannya, Fasli Jalal memandang bahwa GUPPI perlu mengoptimalkan peran keluarga dalam penguatan Pendidikan karakter anak. Dalam perubahan sosial yang cepat, lembaga keluarga perlu mendapatkan perhatian organisasi kependidikan seperti GUPPI untuk aktif mengantisipasi dan memperkuat karakter anak. GUPPI tidak cukup hanya mengurususi lembaga pendidikan formal saja, tetapi lembaga pendidikan informal dan nonformal seperti keluarga penting mendapat perhatian.

     Sementara itu, Amich Alhumami memberikan evaluasi, sebagai organisasi yang pernah dibesarkan partai pemerintah di masa orde baru, kebanyakan organisasi seperti itu memang ketika lepas atau tidak lagi menjadi organisasi sayap biasanya melemah. Seperti hidup segan tapi tidak mati. Namun di lapangan, sesungguhnya terdapat salah satu organisasi sipil yang pernah menjadi organisasi sayap partai penguasa dan ketika terlepas dari pemerintah akhirnya mampu menjadi organisasi mandiri. Terlepas dari segala catatan bahwa kelompok ini maasih dalam tahapan pembinaan MUI, LDII berhasil menjadi komunitas yang mandiri dengan kekuatan ekonomi yang dibangunnya. Mungkinkah GUPPI dari aspek kemandirian bisa punya kemampuan yang sama, mengingat core bisnis GUPPI adalah dunia pendidikan yang didukung adanya asset lembaga pendidikan.

     Adlin Sila, Staf Ahli Kemendikbud, menyatakan bahwa sesungguhnya kebijakan kurikulum Merdeka yang digulirkan Kemendikbud saat ini lebih membuka fleksibelitas dalam menggunakan metode pembelajaran dalam mewujudkan  karakter diinginkan. Dengan kurikulum Merdeka, tujuan GUPPI membangun pendidikan untuk membangun peserta didik lebih berkarakter lebih leluasa, tuturnya.

     Menjawab arah layanan lembaga pendidikan GUPPI, Suryadi Nomi yang dipercaya mengkoordinasikan Jaringan Satuan Pendidikan (JSP) GUPPI  menjelaskan tentang belakangan ini mendiskusikan kegagalan pendidikan formal yang ada saat ini tidak maksimal menemukan talent masing-masing anak didik. Karena itu, Pendidikan dengan terobosan pendidikan yang menghasilkan talent semua peserta didik perlu dikembangkan. Sekolah multi talent menjadi salah satu jawabannya, Suryadi Mengaris bawahi.

     Menanggapi ke arah mana GUPPI ke depan berperan, Murtadlo yang merupakan salah satu kontributor penyusunan Blueprint, mencoba menawarkan dari berbagai potensi yang ada dalam keormasan GUPPI, sebaiknya organisasi ini menyusun beberapa matra perjuangan. Ada yang sifatnya menjadikan GUPPI sebagai organisasi atau media komunikasi konsultasi usaha pembaruan pendidikan, ada yang focus pada penguatan layanan satuan pendidikan, ada juga focus pada penguatan kompetensi pendidikan dan tenaga kependidikan dan termasuk kemungkinan pendidikan yang memberi ruang. Menurutnya, Pengurus GUPPI perlu mempertajam hal itu dalam beberapa matra agar focus masing-masing matranya.

     Lima Matra Haluan GUPPI

     Dari hasil konsultasi tersebut, Tim SC Muktamar GUPPI segera menindaklanjutinya dengan menyusun matra perjuangan GUPPI ke depan. Bahan dari Blueprint yang pernah disusun sebelumnya, dikembangkan menjadi Garis Besar Perjuangan GUPPI. Namun supaya garis besar ini khas GUPPI, diskusi menyepakatinya menjadi Garis Besar Haluan GUPPI. Buku ini semacam arahan perjuangan GUPPI ke depan yang dipertajam dalam focus, program, startegi dan indicator untuk mengukur keberhasilannya.

     Dalam usianya yang ke 74 (1950-2024), GUPPI menghadapi tantangan dunia pendidikan yang mengalami disrupsi dengan tantangan lokal maupun global yang semakin kompleks. Dalam perkembangannya, GUPPI telah mengalami beberapa fase perjuangan yang dinamikanya sangat ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal GUPPI. Sejauh ini, keberhasilan GUPPI diakui belum semaju ormas Muhammadiyah, NU atau organisasi kependidikan yang datang kemudian seperti Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT).

     Hal itu disebabkan karena GUPPI masih sebatas potensi terserak yang belum ditata sedemikian rupa. Pada masa awal (1950-1965), GUPPI masih sebatas semangat para ulama dan praktisi pendidikan yang masih terbatas pada wilayah penyangga Ibukota negara Indonesia (Jawa Barat). Misi perjuangan saat itu, adalah memperjuangkan agar lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren mendapatkan layanan dan pembinaan langsung dari negara. Usaha itu berhasil diwujudkan di masa berikutnya. ;

     Pada masa orde Baru (1965-1998), GUPPI berjaya menjadi ormas yang bersifat nasional, karena diakomodasi oleh kekuatan partai politik yaitu Golkar. Pada masa ini keberhasilan GUPPI ditandai dengan berkembangnya pengurus wilayah dan cabang GUPPI di hampir seluruh wilayah Indonesia. Tanda yang lain, di masing-masing daerah berdiri lembaga pendidikan atas nama GUPPI yang saat itu mencapai sekitar 1200 lembaga pendidikan GUPPI.

     Pada masa Reformasi (1998-2023), bersamaan dengan turunnya pamor partai berkuasa Golkar, GUPPI ingin kembali ke gerakan pendidikan dan menyatakan diri sebagai organisasi non partisan. Pilihan ini dilakukan untuk mengembalikan organisasi GUPPI untuk fokus pada penguatan layanan pendidikan.

    Implikasi lain, dengan berpisahnya GUPPI dari Golkar menyebabkan satuan pendidikan GUPPI yang jumlahnya ratusan ini harus melakukan usaha survival sendiri-sendiri dengan daya dukung masing-masing. Sebagian kecil berhasil menjadi sekolah unggulan seperti Yayasan Pendidikan Ummushabri di Kendari, namun kebanyakan masih seperti sekolah swasta lainnya yang dengan sumber daya yang terbatas.

    Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan GUPPI yang tutup atau mengalami akuisisi oleh pihak lain, menjadi yayasan yang sifatnya personal dan ada juga yang berhasil dinegerikan.

     Saat ini setelah dunia mengalami disrupsi, khususnya semenjak dunia mengalami pandemi global Covid 19, dan tantangan pendidikan yang semakin kompleks serta tantangan bonus demografi di Indonesia yang menuntut kompetensi lulusan lembaga pendidikan harus mempunyai skills lebih, maka GUPPI Merasa perlu menata kembali gerakannya dengan menyusun Garis Besar Haluan (GBH-GUPPI).

     Naskah GBH GUPPI ini menjadi bahasa penjelas beberapa amal usaha yang akan dilakukan GUPPI ke depan. GUPPI ke depan akan tampil dengan 5 matra haluan gerakan yang terdiri dari: 1) GUPPI sebagai organisasi Komunikasi dan Konsultasi Pembaruan Pendidikan Islam; 2) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Layanan Satuan Pendidikan; 3) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan; 4) GUPPI sebagai Usaha Penguatan Perempuan, perlindungan anak/remaja, penguatan pendidikan Keluarga; 5) GUPPI sebagai usaha penguatan komunitas/ekosistem lembaga pendidikan.

     Kehadiran GBH GUPPI ini disusun yang semula semacam blueprint yang kemudian dikembangkan menjadi Garis Besar Haluan Gerakan. GBH GUPPI akan menjadi salah satu dokumen penting yang akan dihasilkan dan ditetapkan dalam Muktamar ke 7 GUPPI yang diselenggarakan pada tahun 2024 di Jakarta.

    Komentar

  • GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    logo

    Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam

    GUPPI AKAN ADAKAN MUKTAMAR – SIAPA KANDIDAT KETUA UMUM ?

    Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) akan mengadakan Muktamar yang ke 10 yang akan dilaksanakan pada pertengahan Mei 2024 setelah beberapa kali tertunda akibat pandemi Covid 19. Muktamar GUPPI ke 10 akan dilaksanakan di Jakarta selama dua hari, yaitu pada 18 – 19 Mei 2024.

    GUPPI merupakan organisasi Masyarakat Islam yang lahir tanggal 3 Maret 1950 di Sukabumi dengan nama “Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam” disingkat GUPPI. Dalam Muktamarnya pada penghujung tahun 90-an, namanya dirubah menjadi “Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam” dengan singkatan tetap GUPPI.

    Perubahan kata “Gabungan” dengan “Gerakan” dan kata “Perbaikan” dengan “Pembaruan” pada dasarnya tidak bersifat substantif dalam arti tidak merubah tujuan dan cita-cita dasar GUPPI untuk melakukan revitalisasi, perbaikan dan pembaruan pendidikan Islam.

    Muktamar mempunyai tugas dan kewewenangan sebagai wahana untuk penyampaian  laporan pertanggungjawaban  DPP GUPPI, periode  2011 – 2016, diperpanjang  dengan periode  2016 – 2021, diperpanjang kembali  2021 – 2024, melalui Rapat Pleno DPP GUPPI; Penyusunan Program Kerja DPP GUPPI  masa jabatan 2024 – 2029; Penyempurnakan  Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GUPPI; dan Pengesahan  konsep Blueprint Pembaruan Pendidikan Islam  GUPPI.

    Yang juga sangat penting dalam Muktamar ini adalah pemilihan Ketua GUPPI dan para pimpinan untuk kepengurusan DPP GUPPI periode 2024 – 2029 dan Penetapan Ketua Umum dan Sekretaris Umum DPP GUPPI masa Jabatan  2024 – 2029.  

    Di Muktamar ini, akan hadir para utusan DPD GUPPI dari 34 propinsi, utusan Wanita GUPPI, utusan Badan Otonomo dan undangan.

    Untuk agenda Muktamar sendiri, dimulai dengan pembukaan Muktamar pada Sabtu malam (18/5/2024) dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib, penetapan pimpinan sidang, penetapan peserta dan laporan Ketua Umum GUPPI periode 2021 – 2024.

    Pada hari Ahad (19/5/2024) akan dilanjutkan dengan pembahasan AD/ART, Pembahasan Blue Print/Program Kerja dan Pemilihan Calon Ketua Umum GUPPI periode 2024 -2029.

    Penutupan Muktamar sendiri akan dilaksanakan dengan pembacaan keputusan Muktamar ke-10 oleh presidium sidang. Selain itu ada sambutan-sambutan antara lain Ketua Umum Demisioner, Ketua Umum Terpilih, dan amanat Dewan Pembina GUPPI sekaligus menutup Muktamar.

    Calon Ketua Umum

    Bursa calon Ketua Umum yang baru mulai menjadi bahan pembicaraan siapa calon pengganti Imam Tholkhah, yang sudah memimpin GUPPI selama dua periode.

    Beberapa Pengurus DPP GUPPI menyebut sudah mengantongi sejumlah nama yang siap memegang tampuk kepemimpinan GUPPI dalam Muktamar GUPPI ke 10 nanti. 

    Syamsuddin, mantan Kepala Biro Perencanaan Kementerian Agama sudah mengantongi sejumlah nama calon Ketua Umum GUPPI Periode 2024 – 2028.

    “Ada sejumlah nama yang mengemuka dalam diskusi-diskusi pengurus DPP GUPPI, namun belum terkonfirmasi dengan jelas. Ada birokrat, akademisi dan pengusaha. Tapi masih terbuka dengan nama-nama lain yang akan muncul”, kata Syamsuddin.

    Apakah ada tokoh politik dalam bursa calon Ketua Umum GUPPI ? Syamsuddin mengaku akan lebih baik kalau GUPPI dipimpin oleh kalangan birokrat atau pengusaha, bukan politisi.

    “Saya lebih sreg saja kalau ketuanya itu kalangan birokrat, akademisi atau pengusaha yang concern dengan upaya pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. Biar GUPPI tidak masuk lagi ke wilayah politik seperti dulu”, tambah Syamsuddin yang sekarang produktif menerbitkan buku-buku motivasi.

    Dirinya juga mengatakan tidak akan mencalonkan diri dalam muktamar yang akan datang, dan berharap ada tokoh yang lebih mumpuni.

    “Melihat kondisi dan tantangan GUPPI saat ini kita perlu pemimpin yang sesuai dengan tuntutan masa depan pendidikan Islam dan pendidikan nasional kita. Kita berharap GUPPI dipimpin oleh tokoh yang dapat mewarnai dunia pendidikan nasional”, tambah Syamsuddin.

    Sementara itu Rusydi Zakaria, dosen UIN Jakarta yang juga Ketua Pengarah Muktamar mengatakan bahwa Muktamar GUPPI X akan diadakan di Jakarta pada bulan Mei 2024. Muktamar ini tertunda sehubungan dengan adanya wabah Covid 19 yang melanda dunia tahun 2020.

    “Muktamar GUPPI ke 10 seharusnya dilaksanakan tahun 2023 kemarin, namun karena adanya wabah Covid 19, maka baru akan dilaksanakan pada bulan Mei tahun 2024 ini”, kata Rusydi.

    Rusydi juga mengatakan bahwa saat ini belum muncul satu figure yang paling menonjol untuk memimpin GUPPI yang akan datang.

    “GUPPI ke depan menghadapi tantangan yang berat, selain karena kita baru lepas dari musibah Covid 19, namun kita juga menghadapi realitas mutu pendidikan kita yang masih rendah”, tambah Rusydi.

    Karena itu dia berharap bahwa GUPPI akan dipimpin oleh seorang figure yang kuat, baik kompetensi leadershipnya maupun jaringannya.

    “Kita memerlukan Ketua GUPPI yang sudah selesai dengan urusan dirinya, sehingga bisa membawa GUPPI ke arah usaha pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia yang lebih terarah”, harapnya. 

    Senada dengan itu, Hasan M Noer, peneliti pendidikan alumni IAIN Jogjakarta mengatakan bahwa tidak mudah untuk mengembalikan GUPPI sebagai organisasi pembaharu Pendidikan di Indonesia.

    “Kita menghadapi sikap skeptis masyarakat terhadap mutu lembaga pendidikan Islam, lemahnya visi dan misi kelembagaan, dan rendahnya daya saing lulusan lembaga pendidikan”, kata Hasan M Noer.

    Karena itu menurutnya, harus ada upaya yang serius dan konstruktif dari pengurus GUPPI yang akan datang untuk terus melakukan pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia.

    “Kita perlu Ketua Umum GUPPI yang bisa membangun kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan Islam, menentukan visi dan misi pendidikan Islam yang progresif, menyiapkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan mencetak lulusan yang memiliki daya saing tinggi”, tambahnya. (gus)

    Komentar